Kebudayaan Pacitan - ABHISEVA.ID

Kebudayaan Pacitan

Kebudayaan Pacitan

Kebudayaan PacitanGoa Song Terus yang terletak di Desa Wareng, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, kini telah menjadi sorotan para arkeolog baik dalam maupun luar negeri. Keberadaan goa ini menjadi bukti dan sebagai saksi bisu kehidupan pertama di Jawa, atau bahkan di dunia yang berkaitan dengan manusia purba atau yang terkadang disebut dengan hominidae. 


Di bawah ini adalah penjelasan tentang kebudayaan pacitan sebagai kebudayaan tertua yang ada di Pulau Jawa dan didukung oleh salah satu jenis hominidae tertua di dunia yakni dari jenis pithecantrophus.


Situs kebudayaan pacitan

Goa Song Terus memiliki kedalaman sepanjang 150 meter dengan lebar 10-20 meter dan tinggi sekitar 10 meter itu menarik perhatian sejak ditemukannya rangka manusia purba pada 1999. Diperkirakan, rangka manusia purba itu berusia 10.000 tahun. 


Saat ditemukan, posisi manusia purba tersebut berada dalam posisi sedang berbaring dengan kedua tangan menggenggam alat dari batu dan tulang. Beberapa kepala monyet ekor panjang atau yang biasa disebut dengan makaka tersebar di sekelilingnya. Sedang kuburannya sendiri ditutupi dengan daun pakis, yang di atasnya diletakkan sepotong besar daging sapi bakar.


Goa Song Terus sendiri diperkirakan pertama kali di ekskavasi berbarengan dengan situs Goa Tabuhan pada tahun 1953 yang berjarak tidak jauh dari Goa Song Terus, kira-kira ± 250 meter. Penelitian yang secara intensif dilakukan di daerah Punung sejak 1972 dan 1973 menghasilkan bahwa jenis alat kapak perimbas adalah alat yang paling banyak ditemukan di Pacitan yang merupakan unsur pokok budaya Paleolitik di Asia Tenggara dan Asia Timur. 


Artefak-artefak yang ditemukan di daerah Pacitan kemudian lebih dikenal dengan Kebudayaan Pacitan. Pada umumnya, kapak genggam ini adalah alat yang dipahat secara kasar memanjang, yaitu suatu teknik yang umum pada budaya kapak perimbas, tetapi ada juga beberapa buah yang diserpih dengan teliti dan dibentuk teratur (lonjong, bundar). 


Kelompok-kelompok lain di lingkungan kapak perimbas Asia Tenggara dan Asia Timur yang menghasilkan beragam kapak genggam yang masih sederhana adalah Budaya Soan dan Budaya Tampan. Melihat karakteristik serta temuan-temuannya, goa-goa di Pacitan itu diyakini sebagai rumah, tempat tidur dan berbagai aktivitas lainnya termasuk memasak. 


Berdasarkan keterangan ini, dapat dikatakan bahwa goa-goa tempat tinggal di Pacitan telah menjadi bukti nyata penggunaan api di dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan salah satu kehidupan tertua di Pulau Jawa dan bahkan Asia Tenggara yang telah cukup maju, di mana telah memanfaatkan api yang telah ditemukan sejak 450.000 tahun lalu.


Sejak Ekskavasi pada tahun 1994, di situs Goa Song Terus telah ditemukan lebih dari 70.000 artefak. Selama 10 tahun terakhir, penggalian dilakukan secara intensif oleh tim gabungan Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional dan Museum National d’Histoire NaturAlle Paris, Perancis, dipimpin oleh Truman Simanjuntak dan Francois Semah. Ekskavasi ini melakukan penggalian di pintu masuk goa, dengan dua buah lubang uji yang digali hingga kedalaman 16 meter. 


Situs ini memiliki lapisan arkeologi yang panjang. Di dalam situs Kebudayaan Pacitan ini terdapat Lapisan Terus dengan bukti peninggalan peradaban sekitar 300.000-80.000 tahun lalu, Kemudian terdapat Lapisan Tabuhan (60.000-18.000 tahun lalu), dan Lapisan Keplek (12.000-6.500 tahun lalu). Di dalam situs Goa Song Terus disebutkan, bahwa terdapat tiga lapisan lapisan budaya, yaitu budaya paleolitik di dua lapisan pertama dan budaya pra-neolitik pada Lapisan Keplek. Sedangkan penemuan alat-alat serpih, kapak perimbas, dan penetak dari batu rijang atau batu gamping tersebar di dua lapisan terbawah.


Berdasarkan “kekayaan” artefak yang terdapat di situs Goa Song Terus, dalam beberapa tahun belakangan ini pemerintah pusat membangun museum prasejarah di kawasan situs Song Terus yang posisinya bersebrangan dengan situs. Semoga saja museum tersebut dapat segera selesai dan dibuka bagi masyarakat yang ingin mengetahui lebih mendalam tentang masa pra-aksara tertua di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Itulah penjelasan singkat tentang kebudayaan Pacitan sebagai salah satu kebudayaan tertua yang ada di Indonesia.