Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Indonesia - ABHISEVA.ID

Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Indonesia

Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Indonesia


Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Indonesia - Perkembangan kolonialisme dan imperialisme Barat di Indonesia yang terjadi sejak abad ke-16 hingga abad ke-20 tidak terlepas dari berbagai peristiwa yang telah terjadi di Eropa. Peristiwa penting yang telah terjadi di Eropa telah menyebabkan kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia untuk kemudian menerapkan kolonialisme di Indonesia. 


Kolonialisme di Indonesia ini lambat laun berubah menjadi praktik imperialisme di Indonesia. Meskipun begitu, bukan berarti praktik kolonialisme di Indonesia serta-merta menghilang ketika praktik imperialisme di Indonesia itu diberlakukan. Melainkan praktik itu menjadi suatu penerapan yang saling berketerkaitan sehingga dipahami dengan praktik kolonialisme dan imperialisme di Indonesia. 


Di bawah ini akan dijelaskan secara singkat proses perkembangan kolonialisme dan imperialisme Barat di Indonesia yang mana diawali dengan penyebab kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia akibat dari situasi politik yang terjadi di Eropa. 


Latar Belakang Kolonialisme dan Imperialisme Barat

Abad Pertengahan di Eropa telah menyebabkan terjadinya perubahan besar di dalam berbagai aspek kehidupan setelah sebelumnya didahului oleh kejatuhan imperium Romawi Barat pada tahun 476. Kejatuhan Romawi Barat membuat bangsa Eropa memulai kehidupannya yang baru di mana para sejarawan menyebutnya dengan periode Abad Pertengahan (Middle Age) yang diperkirakan berlangsung sejak awal abad ke-6 sampai dengan abad ke-15. 


perkembangan kolonialisme dan imperialisme, kolonialisme dan imperialisme, kolonialisme, imperialisme, kolonialisme barat di indonesia, kolonialisme barat, imperialisme barat, imperialisme barat di indonesia, penjajahan bangsa barat di indonesia, penjajahan bangsa barat


Abad Pertengahan (Middle Age) atau terkadang juga disebut dengan Abad Kegelapan (Dark Age) merupakan masa di mana semakin kuatnya kekuasaan gereja di dalam berbagai aspek kehidupan manusia yang cenderung membuat kehidupan menjadi stagnan. Pada periode ini tidak banyak terjadi inovasi di berbagai bidang, terutama dalam bidang intelektual. 


Selama periode Abad Pertengahan di Eropa, Gereja melalui doktrinnya dan atas nama Tuhan menekan perkembangan pemikiran manusia agar tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran gereja. Hal ini dilakukan oleh gereja untuk dapat mempertahankan dominasinya dipelbagai bidang kehidupan terutama di bidang politik dan ekonomi.


perkembangan kolonialisme dan imperialisme, kolonialisme dan imperialisme, kolonialisme, imperialisme, kolonialisme barat di indonesia, kolonialisme barat, imperialisme barat, imperialisme barat di indonesia, penjajahan bangsa barat di indonesia, penjajahan bangsa barat


Perang Salib (Crusade atau Crusader) dalam sudut pandang Barat yang terjadi sekitar tahun 1095-1492 dan telah menguras banyak biaya, ternyata berakhir dengan kerugian bagi bangsa Eropa terutama kerugian dalam bidang Ekonomi. Kerugian itu terutama setelah dikuasainya Konstantinopel oleh Kekaisaran Turki Utsmani. Konstantinopel yang merupakan salah kota pelabuhan tersibuk dan terbesar itu setelah berhasil dikuasai oleh Kekaisaran Turki Utsmani menyebabkan berbagai kebutuhan mendasar bangsa Eropa terutama rempah-rempah tidak dapat lagi terpenuhi.


Ketidakmampuan menghasilkan barang-barang yang dibutuhkan dan dikuasainya Konstantinopel oleh Kekaisaran Turki Utsmani pada tahun 1453 yang merupakan denyut nadi bagi perdagangan bangsa Eropa telah membuat bangsa Eropa terisolasi dari perdagangan dunia. Situasi ini membawa bangsa Eropa pada desakan ekonomi yang sangat kuat dan menjadi problematika utama bagi bangsa Eropa untuk sesegera mungkin memecahkan permasalahan tentang semakin sulitnya melakukan aktivitas perdagangan dengan dunia Timur pasca-1453. 


Karena persoalan itu bangsa Eropa akhirnya berhasil mendobrak tatanan lama yang telah terjadi selama Abad Pertengahan yaitu dengan menggemakan Renaissans di berbagai penjuru negeri. Renaissans itu sendiri nampaknya mulai membawa dampak positif bagi bangsa Eropa setelah berhasil ditemukannya berbagai inovasi terutama di bidang sains dan teknologi, seperti ilmu kartografi, teknologi perkapalan dan juga perkembangan di bidang persenjataan.


Setelah berhasil menggaungkan Renaissans, maka akibat dari penemuan-penemuan di bidang sains dan teknologi bangsa Eropa mulai dapat mengakhiri permasalahan yang menyelimuti kehidupan mereka selama ini, yaitu untuk memenuhi salah satu kebutuhan utama, yaitu rempah-rempah. 


Sebelum kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia, bangsa Eropa sebenarnya telah mengetahui bahwa rempah-rempah berasal dari Dunia Timur yang belum pernah mereka temukan dan mereka kunjungi. Namun, bangsa Eropa hanya mengetahui keberadaan Dunia Timur berdasarkan informasi-informasi yang didapatkan dari para pedagang yang berinteraksi dengan mereka ketika Konstantinopel belum dikuasai oleh Kekaisaran Turki Utsmani pada 1453.


Bermodalkan niat, keberanian, inovasi dan informasi yang mereka dapatkan, bangsa Eropa mulai memberanikan diri untuk melakukan penjelajahan samudra. Suatu hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan dengan tujuan mencari Dunia Timur khususnya adalah mencari letak keberadaan India. India adalah tempat yang selalu disebutkan oleh para pedagang yang ada di Konstantinopel sebagai tempat penghasil rempah-rempah. 


Setelah melakukan beberapa kali penjelajahan dan petualangan, bangsa Eropa telah berhasil menemukan jalur menuju India. Setibanya bangsa Eropa di India, mereka menemukan banyak sekali rempah, namun India sendiri bukanlah penghasil dari rempah-rempah yang mereka butuhkan. 


Dengan kenyataan bahwa India bukanlah penghasil rempah, Bangsa Eropa pun merasa tidak puas dengan ditemukannya India oleh mereka. Hal ini disebabkan bahwa harga rempah-rempah yang mereka dapatkan di India tetaplah tinggi, meskipun tidak setinggi harga yang mereka dapatkan dahulu di Konstantinopel. Bangsa Eropa kemudian mulai mencari dan menelusuri letak dari penghasil rempah-rempah dari berbagi informasi yang mereka dapatkan dari para pedagang yang singgah baik untuk kegiatan jual maupun beli di India.


Dari informasi inilah, bangsa Eropa dapat menemukan penghasil rempah-rempah, yaitu Kepulauan Nusantara (Indonesia). Dengan ditemukannya jalur menuju Kepulauan Nusantara, pada gilirannya kemudian secara tidak langsung telah membuka pintu gerbang bagi kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia untuk kemudian di dalam perkembangannya menerapkan praktik Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia. Kedatangan bangsa Barat ke Indonesia juga disebabkan oleh adanya semangat 3 G (gold, glory dan gospel). Tujuan bangsa Eropa ke Nusantara  adalah memburu kejayaan superioritas dan kekuasaan atau dikenal dengan nama glory.


Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Indonesia


Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Indonesia: Masuknya Armada Dagang Portugis


Kolonialisme dan imperialisme Barat yang dilakukan oleh Portugis diawali ketika Portugis mulai masuk ke Kepulauan Nusantara di bawah pimpinan Alfonso d’Albuquerque. Setelah menaklukan Malaka 1511, Portugis menguasai perdagangan rempah-rempah dari Asia ke Eropa. Selain itu pada tahun 1522, Portugis menandatangani perjanjian dagang, khususnya lada dengan Kerajaan Sunda Pajajaran.



Persekutuan antara Portugis dan Kerajaan Sunda ini, ternyata dianggap mengancam kerajaan-kerajaan Islam, terutama Kerajaan Demak. Akhirnya Kerajaan Demak menyerang Kerajaan Sunda Pajajaran pada tahun 1526 dan 1527 terutama untuk merebut Pelabuhan Sunda Kelapa. Ekspedisi Demak berhasil menguasai Sunda Kelapa dipimpin oleh Fatahillah. Oleh karena mendapat perlawanan dan semakin terdesak, Portugis lebih banyak beroperasi di daerah Maluku.


Pada tahun 1512, Bangsa Portugis tiba di Ternate. Di Ternate, Portugis menjalin persahabatan dan persekutuan dengan Kerajaan Ternate yang bercorak Islam. Portugis menjalin hubungan dagang, khususnya rempah-rempah berupa cengkeh dan pala. Bahkan, Kerajaan Ternate mengizinkan Portugis untuk mendirikan benteng, yaitu Benteng Sao Paulo.




Ketika Portugis tiba di Ternate, Kerajaan Ternate sedang berperang dengan Kerajaan Tidore. Oleh karena kedatangan Portugis di Ternate mendapat sambutan baik oleh raja setempat. Hal itu dilakukan dengan tujuan agar bangsa Portugis dapat dijadikan sekutu dalam menghadapi Kerajaan TidoreKerajaan Tidore kemudian memperoleh bantuan dari Spanyol. Oleh karena itu, di samping perang yang terjadi antar-kerajaan (Ternate–Tidore) juga terjadi perang antara Portugis dengan Spanyol di Maluku.


Untuk menyelesaikan pertikaian antara Portugis dengan Spanyol, Paus turun tangan dan pada tahun 1529 dilakukan Perjanjian Saragosa yang berisi;


(1)    Bumi dibagi atas dua kekuasaan, yaitu kekuasaan bangsa Spanyol dan Portugis;


(2)    Wilayah kekuasaan bangsa Spanyol membentang dari meksiko ke arah barat sampai Kepulauan Filipina. Sedangkan wilayah bangsa Portugis membentang dari Brasil ke arah timur sampai ke Kepulauan Maluku.


Berdasarkan perjanjian tersebut maka  bangsa Spanyol harus meninggalkan Maluku dan kembali ke Filipina.


Puncak konflik antara Kerajaan Ternate dengan Portugis berakhir dengan terusirnya Portugis dari wilayah Kerajaan Ternate pada tahun 1575. Pengusiran terhadap Portugis dilakukan oleh Sultan Baabullah bersama dengan anaknya, Sultan Said. Setelah kalah dan disingkirkan oleh Belanda dari Ambon pada tahun 1599, Portugis kemudian menduduki Timor, Solor, dan Flores. Pada tahun 1859 melalui Kesepakatan Lisbon, Portugis menyerahkan daerah yang dikuasainya di Hindia-Belanda kecuali Timor kepada Belanda.


Zaman kekuasaan Portugis di Indonesia telah meninggalkan bekas-bekasnya dalam kebudayaan Indonesia. Salah satu tujuan dari penjelajahan bangsa Portugis adalah berusaha untuk menyebarkan ajaran Katolik di daerah-daerah yang dikuasainya. Orang yang memelopori penyebaran ajaran katolik di Indonesia bernama Fransiscus Xaverius. Banyak orang Ambon yang akhirnya memeluk ajaran Katolik. Pengaruh lain seperti bahasa Portugis turut memperkaya Bahasa Indonesia, seperti gereja, mentega dan sebagainya.


Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Indonesia: Masuknya bangsa Spanyol


Tahun 1521 adalah tahun ketika bangsa Spanyol mulai mendarat di Kepulauan Maluku. Kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia ini tentu saja untuk menerapkan praktik kolonialisme dan imperialisme Barat di Indonesia yang terutama sekali adalah praktik kolonialisme dan imperialisme Barat di Kepulaun Maluku. Dikarenakan wilayah Ternate telah dikuasai oleh Portugis, maka Spanyol lebih memilih Tidore sebagai tempat untuk berlabuh. Bangsa Spanyol yang datang itu disambut dengan baik oleh sultan Tidore yang pada saat itu sedang membutuhkan bantuan untuk menghadapi Kerajaan Ternate yang dibantu oleh kekuatan Portugis.



Kedatangan bangsa Spanyol bagi Portugis dapat menimbulkan ancaman sebagai pesaing di dalam perdagangan rempah-rempah. Oleh karena itu, terjadilah persaingan tidak sehat di antara keduanya yang menjurus pada peperangan. Di sisi lain juga terjadi pertentangan antara Kerajaan Ternate dan Kerajaan Tidore. Sehingga hubungan antara kedua kubu semakin memanas akibat kedatangan bangsa Portugis dan bangsa Spanyol.


Pertempuran antara kedua kubu pun tidak dapat dihindarkan lagi, bangsa Spanyol bersama dengan Kerajaan Tidore menyerang bangsa Portugis yang juga bersekutu dengan Kerajaan Ternate. Pertempuran antara kedua kubu ini berakhir setelah disepakatinya Perjanjian Saragosa di Spanyol pada tahun 1529. Untuk selanjutnya, bangsa Spanyol membuka koloni-koloni mereka di Filipina dengan Manilla sebagai pusatnya.


Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Indonesia: Masuknya Belanda ke Kepulauan Indonesia


Kolonialisme dan imperialisme Barat yang dilakukan oleh Belanda dimulai ketika akhir abad ke-16 bangsa Belanda pun mulai mengadakan penjelajahan samudra mengikuti jejak negara-negara Eropa pendahulunya. Penjelajahan yang dilakukan oleh bangsa Belanda ini didorong oleh ditutupnya Pelabuhan Lisabon oleh Spanyol bagi kapal-kapal Belanda. Sebelumnya Belanda hanya merupakan pedagang perantara yang membeli rempah-rempah di Lisabon untuk dijual kembali. 




Sebelumnya Belanda pada masa itu masih sebagai daerah jajahan Spanyol, yang mengakibatkan bangsa Belanda tidak dapat membeli rempah-rempah di Portugis. Dengan demikian, situasi tersebut telah menyebabkan bangsa Belanda berusaha untuk datang sendiri ke Kepulauan rempah-rempah, yaitu Indonesia.


Pada bulan April 1595, Belanda memulai pelayaran menuju Kepulauan Nusantara dengan empat buah kapal. Keberangkatan ekspedisi Belanda ini berpedoman kepada buku Itinerario karya Jan Huygen van Linschosten. Di dalam pelayarannya menuju ke Dunia Timur, bangsa Belanda menempuh rute melalui Pantai Barat Afrika – Tanjung Harapan – Samudra Hindia – Selat Sunda – Banten. 


Belanda tiba di Pelabuhan Banten pada tahun 1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman, dengan tujuan untuk mendapatkan rempah-rempah. Pada saat itu Kerajaan Banten berada di bawah pemerintahan Mangkubumi Jayanegara, yang memerintah atas nama Sultan Abdulmafakhir Mahmud Abdulkadir yang masih belia.


Kedatangan bangsa Belanda di Pelabuhan Banten pada awalnya disambut dengan baik karena memberikan keuntungan perdagangan bagi Kerajaan Banten. Namun, beberapa waktu kemudian pedagang-pedagang Belanda mulai menunjukkan sikap-sikap yang tidak menyenangkan seperti  melakukan penekanan-penekanan agar mendapatkan rempah-rempah dengan jumlah yang lebih besar dan dengan harga yang lebih murah. 


Belanda juga pernah merompak dua buah kapal dari Jawa yang penuh dengan lada serta memindahkan semua isinya ke kapal-kapal Belanda. Di mata Kerajaan Banten, orang Belanda adalah orang yang kasar dan angkuh. Bersama dengan Portugis, Kerajaan Banten pun mengusir Belanda. Setelah diusir di Banten, Belanda kemudian berlayar menuju Bali dan kembali ke Belanda dengan hanya membawa sedikit rempah-rempah.


Pada pelayaran Belanda yang kedua dipimpin oleh Jacob van Neck yang tiba di Banten pada 1598. Rombongan ini berhasil mendapatkan rempah-rempah, khususnya lada dari Banten, kemudian Belanda melanjutkan perjalanan ke Tuban dan Maluku. Di Kepulauan Maluku, bangsa Belanda berhasil membawa rempah-rempah untuk dibawa pulang ke negerinya. Dengan keberhasilan tersebut, sehingga Kepulauan Nusantara kemudian hari banyak didatangi oleh orang-orang Belanda.


Demikianlah uraian singkat tentang perkembangan kolonialisme dan imperialisme Barat di Indonesia. Di mana kesulitan akibat pemenuhan kebutuhan akan rempah-rempah di Eropa telah menyebabkan kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia dan menerapkan praktik kolonialisme dan imperialisme Barat.