Perkembangan Ajaran Tarekat di Indonesia - ABHISEVA.ID

Perkembangan Ajaran Tarekat di Indonesia

Perkembangan Ajaran Tarekat di Indonesia

Perkembangan Ajaran Tarekat di Indonesia - Ajaran tasawuf berhubungan erat dengan tarekat yang berasal dari thariqah, yaitu jalan yang ditempuh oleh kaum sufi dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Thariqh kemudian mengandung arti organisasi (tarekat). Setiap tarekat mempunyai syekh, upacara ritual, dan bentuk zikir sendiri. Di bawah ini akan dijelaskan secara singkat perkembangan ajaran tarekat di Indonesia.

Pada mulanya tempat tinggal syekh bersangkutanlah yang menjadi pusat kegiatan tarekat, tetapi kemudian didirikan perumahan tersendiri yang disebut ribat. Anggota tarekat terdiri dari dua kelompok, yaitu murid dan pengikut yang tinggal dalam ribat serta memusatkan perhatian pada ibadah, dan pengikut awam yang tinggal di luar serta tetap bekerja dalam pekerjaan mereka sehari-hari, tetapi dalam waktu-waktu tertentu berkumpul di ribat untuk mengadakan latihan spiritual.

Perkembangan Ajaran Tarekat di Indonesia


Murid yang telah sampai tingkat tertinggi diberi ijazah, lalu keluar dari ribat dan kemudian mengadakan ribat yang serupa di tempat lain. Dengan cara demikian meluaslah pengikut tarekat bersangkutan, mulanya pada satu kota atau daerah, kemudian dalam satu negara dan akhirnya meluas ke berbagai dunia Islam lainnya.

Beberapa sumber setempat secara tegas mengemukakan bahwa di Indonesia tarekat-tarekat mendapatkan pengikutnya, pertama-tama di lingkungan istana dan lama kemudian barulah masuk ke kalangan masyarakat awam. 

Para pengarang sufi dari Sumatra seperti Nuruddin ar-raniri, Hamzah Fansuri atau pun Syamsuddin as-samartani bekerja di bawah lindungan pihak Kerajaan Aceh. Kronik berbahasa Jawa dari Kerajaan Cirebon dan Kerajaan Banten menceritakan bagaimana pendiri dinasti raja sendiri mengunjungi Tanah Arab dan berbai’at menjadi pengikut sejumlah tarekat. Tarekat dipandang sebagai sumber kekuatan spiritual, sekaligus melegitimasi dan mengkukuhkan posisi raja.

Tarekat-tarekat yang memiliki pengaruh di Indonesia adalah taraekat Qadariyah, Rifa’iyah, Naqsyabandiyah, Sammaniyah Qusyasyiyah, Syattariyah, Syaziliyah, Khalwatiyah, dan Tijaniyah

Tarekat Qadariyah tidak mendapat pengaruh yang banyak, tetapi pendiri tarekat itu sendiri tentunya telah mendapat kehornatan yang sanga tinggi, sebab, ternyata dalam kalimat-kalimat pembukaan naskah-naskah pengakuan pemangku-pemangku jabatan-jabatan terpenting yang turun-temurun dan gelar-gelar kebangsawanan, jika memohon berkat-berkat Allah SWT, Rasulullah SAW, dan para wali, maka dengan sengaja disebutkan nama Abdul Qadir Jailani, pendiri tarekat Qadariyah.

Hamzah Fansuri dan pembesar-pembesar Kerajaan Aceh mendapat pengaruh tarekat Qadariyah. Dari Kerajaan Banten, Sultan Abdulkadir mungkin mendapat pengaruh tarekat Qadariyah pula. Sementara itu, tarekat Rifa’iyah yang terkenal dengan amalannya yang berupa penyiksaan diri, berhubung dengan kegiatan yang mereka lakukan, mempunyai pengaruh pula di Banten. 

Pengikut tarekat ini mendapat julukan tukang debus, sebab setelah sampai puncak kegairahan yang dilakukan dengan jalan zikir dan membuat berbagai gerakan badan di bawah pimpinan seorang syekh atau guru, mereka mencoba menikam diri mereka di dada atau di bahu dengan debus, sebilah belati besi. Apabila ada yang luka, gurunya dapat menyembuhkan kembali dengan air liurnya sambil menyebut nama dirinya. 

Di Banten lama, senjata untuk melukai diri itu disebut gedebus, dan masih trsimpan di bagian luar bangunan Masjid Agung Banten, yaitu di dalam tiamah. Pada perayaan-perayaan, misalnya khitan dan kesempatan keramaian lainnya gedebus digunakan dalam pertunjukan. Di Aceh, bahkan di daerah Maluku, permainan debus juga masih dikenal orang. Di Bali, yang masyarakatnya masih menganut kepercayaan Hindu-Buddha juga dikenal permainan semacam debus, yaitu permainan dengan mempergunakan keris besar sebagai alat penusuknya.

Tarekat Sammaniyah dapat dibedakan dari aliran lainnya karena zikirnya dibacakan dengan suara nyaring oleh para peserta dalam pertemuan mereka. Pendiri tarekat Sammaniyah adalah Syekh Muhammad Samman, seorang penjaga kuburan Nabi dan pengarang beberapa kitab mengenai metafisika sufi, tetapi dia dikenal terutama sebagai pendiri tarekat Sammaniyah sehingga ia menjadi orang yang berpengaruh. 

Syekh Samman sangat terkenal dengan kemampuannya melakukan hal-hal yang mengandung keajaiban, yang pastilah sangat menunjang penyebaran tarekat ini dalam waktu singkat ke Indonesia. Sebuah kitab kumpulan berbagai cerita penuh keajaiban (manaqib) diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu tidak lama setelah wafatnya Syekh Samman dan menjadi sangat populer di seluruh Kepulauan Nusantara.

Tarekat Sattariyah yang dianggap sebagai tarekat yang paling awal di Jawa percaya akan ajaran kejawen mengenai tujuh tingkat keadaan Allah, yakni ilmu hakikat. Ilmu hakikat ini juga dikenal sebagai ilmu martabat tujuh. 

Kaum mistik Jawa mempunyai keyakinan bahwa semua manusia mempunyai benih-benih untuk menjadi manusia sempurna, dan oleh karena itu manusia harus berusaha untuk melaksanakan kesempurnaan itu. Bertalian dengan hal ini terdapat perenungan tentang hubungan manusia dengan Allah seperti hubungan antara seorang pelayan dengan majikan.

Di antara ahli-ahli tasawuf yang mengenal tarekat Sattariyah adalah Abd ar-Rauf dari Singkil dan Syekh Yusuf dari Banten. Kedua nama ini sering disebut-sebut oleh Ibrahim al-kurani, murid Ahmad Qusyasyi pendiri tarekat Sattariyah itu. 

Syekh Yusuf adalah seorang ulama dari Sulawesi Selatan dan pernah menjadi penasihat agama Sultan Ageng Tirtayasa dari Kerajaan Banten. Setelah ditangkap dari gerilya di daerah Padaherang, Priangan Timur, ia kemudian dibawa ke Jakarta dan selanjutnya diasingkan ke Srilangka dan akhirnya ke Tanjung Harapan Baik sampai meninggal di Zand Vliet.

Syekh Abdul Muhyi dari Saparua, Pamijahan di Tasikmalaya juga melakukan zikir Sattariyah. Abdul Muhyi ini di daerah Priangan terkenal sebagai pelopor yang menyebarkan dan mendalamkan agama Islam. 

Tarekat Naqsabandiyah yang masuk ke daerah Minangkabau dari Mekkah menaikkan derajat kelompok ortodoks. Antara kelompok Naqsabandiyah dan kelompok Sattariyah terjadi pertentangan mengenai pengucapan bahasa Arab dalam upacara-upacara ibadah, penempatan kiblat, tentang penentuan permulaan dan akhir Ramadhan.

Pada masa berikutnya, tasawuf dan tarekat-tarekatnya masih terus dipraktekan oleh umat Islam di Indonesia. Pertikaian antara golongan ortodoks dan heterodoks juga masih dapat ditemukan dengan gambaran yang diberikan di dalam Serat Centhini.