Perkembangan Ajaran Tasawuf di Indonesia - ABHISEVA.ID

Perkembangan Ajaran Tasawuf di Indonesia

Perkembangan Ajaran Tasawuf di Indonesia

Perkembangan Ajaran Tasawuf di Indonesia - Apabila membicarakan tentang Perkembangan ajaran tasawuf di Indonesia perlu kiranya diketahui terlebih dahulu arti kata tasawuf adalah bentuk masdar dari kata dasar suf yang artinya wol yang biasanya dipakai sebagai jubah oleh orang-orang yang menjalani kehidupan mistik atau yang disebut sufi. Selain itu, tasawuf sering dihubungkan dengan pengertian suluk yang berasal dari bahasa Arab yang berarti perjalanan.  Di bawah ini akan dijelaskan secara singkat tentang perkembangan ajaran tasawuf di Indonesia.


Perkembangan Ajaran Tasawuf di Indonesia

Oleh ahli-ahli tasawuf pengertian suluk dipergunakan untuk menggambarkan perjalanan mistik, yaitu perjalanan menuju Tuhan yang dimulai dengan memasuki tarika atau perjalanan di bawah pimpinan seorang syekh dan akhirnya dengan usaha mencapai tingkat kejiwaan yang tertinggi menurut kemampuannya.

Di Indonesia istilah suluk banyak dipakai untuk menyebutkan beberapa karangan tertntu yang berisi uraian mistik yang dibentuk dalam tembang dan pada umumnya berupa tanya jawab antara suami dan istri. Dalam bagian awal Buku Bonang, isitilah suluk dipakai untuk menunjukkan orang-orang yang mempunyai pengetahuan mistik Islam. Hamzah Fansuri menyebut ajaran-ajarannya ilm as-Suluk

Hal itu mungkin sekali ada hubungannya dengan apa yang disebut kini di Aceh dengan eleumee sale bagi mistik Islam yang heterodoks. Demikian pula istilah suluk banyak dihubungkan dengan perbuatan-perbuatn zikir dan tarikat sendiri.

Kedatangan ahli-ahli tasawuf ke Indonesia diperkirakan terutama sejak abad ke-13, yaitu masa perkembangan dan persebaran ahli-ahli tasawuf dari Persia dan India. Meskipun demikian, di Indonesia perkembangan ahli-ahli tasawuf dengan ajarannya tampak dengan nyata sekitar abad ke-16 dan ke-17, terutama di Sumatra dan Jawa. 

Pada abad-abad itu di Kerajaan Aceh hidup beberapa ahli tasawuf seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-samatrani, ar-Raniri, dan Abdurauff dari Singkel. Di Jawa pada abad ke-16 dikenal beberapa ahli tasawuf seperti Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang, Sunan Bonang, Sunan Panggung, dan lain-lain.

Jika didasarkan pada kitab-kitab karangan ahli-ahli tasawuf serta tradisi-tradisinya, ajaran tersebut dapat dibagi menjadi dua aliran, yang heterodoks dan ortodoks. Ajaran Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Samatrani dimasukkan ke dalam aliran yang heterodoks. Keduanya mengajarkan paham yang disebut wujudiyya, karena memandang bahwa wujud makhluk-makhluk yang disebarkan sebenarnya tidak ada, yang ada hanyalah wujud penciptanya. 

Nama yang lebih populer dari ajaran keduanya adalah “Martabat Tujuh”, yaitu suatu ajaran tentang emanasi yang erat sekali dengan ajaran Ibn al-‘Arabi. Ibn al-‘Arabi telah mengajarkan bahwa semua benda di alam semesta ini harus terpancar (emanasi) dari pra-pengetahuan ke-ilahi-an: mereka telah ada terlebih dahulu di dalam bentuk ide dan pancaran itu berlangsung sebagai aliran yang berkembang dalam lima tahap. 

Di dalam diri manusia yang merupakan tahap keenam, evolusi dapat terlepas, karena jiwa dapat bersatu kembali dengan esensi ke-ilahi-an dengan melihat tembus bentuk luar pluralitas yang palsu ini. Manusia telah menyadari kebenaran asasi bahwa wujud semua makhluk tidak lain adalah sebenar-benarnya esensi Khaliknya, maka itu doktrin ini dinamai wujudiyah.

Kemiripan ajaran antara Hamzah Fansuri dan Ibn al-‘Arabi tampak dari pentamsilan Yang Mutlak dengan laut. Pentamsilan ini bukan pikiran asli Hamzah Fansuri melainkan pentamsilan tradisional yang didapat pada ajaran Ibn al-‘Arabi. 

Di dalam semua penjelasannya ia berkali-kali kembali menggunakan istilah-istilah umum untuk menggambarkan tingkatan-tingkatan emanasi Yang Mutlak, yaitu Ahadiyah yang dinyatakan sebagai tingkat yang tanpa perbedaan yaitu la ta’ayyun, tingkat ini merupakan peningkatan yang abstrak. 

Kemudian wahda, tingkat pembeda awal, yaitu ta ‘ayyun awwal, yaitu ta’yyun tsani, di mana kesatuan dalam keserbaan; kemudian alam arwah, yaitu tingkat semua ruh, alam mitsal, tingkat semua bentuk atau duni semua atau asjaam, tingkat semua badan atau dunia kausal, dan akhirnya alam insan, yaitu tingkat manusia atau dunia manusia sempurna atau ‘alamal-insanal-kamil'.

Hamzah fansuri juga menggunakan istilah-istilah tersebut tetapi tidak dengan cara yang sistematis. Ringkasnya Hamzah Fansuri dan Syamsuddin mengajarkan bahwa Allah adalah Yang Mutlak. Yang Mutlak ini juga dipandang sebagai emanasi atau berada di dalam semua makhluk. Ia adalah batin dari segala yang tampak. 

Emanasi ini juga terjadi karena pengejawantahan dalam tujuh tingkatan yang dapat digabungkan menjadi tiga, yaitu la ta’ayyun (tanpa perbedaan), ta’yyun awwal dan tsani (perbedaan pertama dan kedua) yang kemudian melahirkan a’yan tsabita atau realitas-realitas yang terpendam. Akhirnya terdapat tingkatan a’yan kharija, yaitu realitas-realitas yang mengalir ke luar sesudah sabda kun fa yakun.

Manusia dipandang sebagai pengejewantahan sehingga manusia dipandang sebagai pengejewantahan terlengkap. Ia menjadi tempat pernyataan segala sifat dan nama Allah. Ia adalah mikrokosmos yang di dalamnya mengandung makrokosmos. Karenanya manusia dianggap gambar-bayang Allah yang sempurna. 

Manusia sebagai pengejawantahan tingkat terakhir dipandang sebagai permulaan jalan kembali ke Allah (taraqqi). Karena sembrono (ghaflat) manusia terikat oleh dunia fana sehingga tidak dapat melihat segala yang ada dalam keadaan yang sebenarnya. Ia mengira jasmani dan rohani adalah beranekaragam, sebenarnya tidak demikian. Segala yang tampak beranka ragam ini sebenarnya tutup yang menutupi keadaan Allah yang sebenarnya. 

Pengenalan diri-Nya pada manusia akan menghapuskan tutup atau dinding tersebut sehingga menyadari dan melihat bahwa dunia ini adalah wahina. Manusia sempurna harus dapat fana atau hapus dari keduaniawian, dalam arti bahwa junanga harus sampai kepada fana’al-fana, yaitu hapus dari segala bukan Yang Mutlak, juga hapus yang menyembah dan disembah.

Ajaran wujudiyya yang heterodoks jelas: mengapa segala sesuatu serba Tuhan, bersifat panteistis-monistis seperti halnya pada agama Siwa dan Buddha Mahayana yang telah dikenal di Indonesia sebelum kedatangan Islam. Oleh karena itu emanasi dalam tujuh tingkatan itu dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu la ta’ayun (tanpa pembedaan) yang sejajar dengan niskala dalam agama Siwa dan dharmakaya dalam agama Buddha Mahayana. 

Tingkatan kedua adalah ta’ayyun awwal dan tsani (pembedaan pertama dan kedua) yang melahirkan a’yan tsabita atau realitas-realitas terpendam yang hakikatnya disebut bukan Khalik dan bukan makhluk sehingga dapat dipandang sejajar dengan sakala-niskala di dalam agama Siwa serta Sambhogakaya dalam agama Buddha Mahayana; akhirnya tingkatan a’yan kharija, yaitu realitas-realitas yang mengalir ke luar sesudah sabda kun fa yakun, yang dapat disamakan dengan Sakala dalam agama Siwa dan Nirmanakaya dalam agama Buddha Mahayana. 

Hal itulah yang menyebabkan Islam melalui ajaran tasawuf lebih mudah diterima oleh orang-orang di Indonesia terutama di Sumatra dan Jawa.

Di Kerajaan Aceh ajaran Hamzah Fansuri dan Syamsuddin mendapat perlindungan dari Sultan Iskandar Muda. Dengan adanya dukungan penguasa yang tertinggi, Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Samatrani, banyak menghasilkan karangan. Hamzah Fansuri menuliskan ajaran-ajarannya dalam bentuk prosa dan syair dalam bahasa Arab dan Melayu. 

Karangan-karangan Hamzah Fansuri antara lain: Syarab al-‘syigina, Asrar al- ‘arifina fi bayan ‘ilm asssuluk wa at-tauhid; dalam bentuk syair yang terkenal: Rubba al-muhaqqiqina, Kasyfssir at-tajalli as-subhani, Muntahi pada merajanakan sabda Nabi Allah, Man ‘arafa nafsahu ‘arafa rabbahu, Miftah al-asrar, Syair si Burung Pingai, Syair Perahu, Syair Sidang Fakir, Syair Dagang. Karangan-karangan Syamsuddin ibn Abdullah as-Samatrani, antara lain Mir’at al-mu’min, Mir’at al-muhaqqiqina, Syahr ruba’ Hamzah al-Fansuri, Jauhar al-Haq’aiq, Tambih al-Tullab fi ma’rifat al-Malik al-Wahhab.

Ajaran-ajaran Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Samatrani mendapat tantangan dari Nur ad-Din ar-Raniri, yang berasal dari keluarga Hadramaut-India. Nur ad-Din ar-Raniri ketika sampai di Kerajaan Aceh masih berusia muda, namun karna mendapat perhatian dari Sultan Iskandar Muda, setelah sultan itu diganti oleh Sultan Iskandar Tsani, Nur ad-Din kembali ke Kerajaan Aceh pada tahun 1637 sampai tahun 1644 di mana ia banyak menulis kitab-kitabnya. 

Nur ad-Din bertentangan dengan ajaran heterodoks dari Hamzah Fansuri dan Syamsuddin, kerap kali Nur ad-Din berdebat melawan ajaran Syamsuddin di hadapan Sultan Iskandar Tsani. Syamsuddin seperti halnya Hamzah menurut Nur ad-Din berpendapat bahwa Allah itu ruh dan wujud Tuhan. Menurut Nur ad-Din bahwa mereka yang mengajarkan demikian adalah orang kafir. Nur ad-Din menganjurkan kepada sultan supaya orang-orang tersebut dihukum dan buku-bukunya dibakar.

Di dalam Asrar al-Insan fi ma’rifat ar-ruh wa ar-Rahman, Nur ad-Din dengan tegas melawan pendapat bahwa ruh itu kadim. Menurut dia, ruh itu diciptakan oleh Tuhan. Ia membandingkan ruh dengan Tuhan. Ruh tidak dapat diketahui tempat tinggalnya, tetapi terang Ia ada. Demikian juga Tuhan, Ia terang ada, tetapi tidak dapat diketahui di mana Ia. Di dalam kitab tersebut dikatakan bahwa ruh itu dicipta dan orang tidak dapat mengetahui bagaimana keadaannya, karena ini hanya Tuhan yang tahu. 

Nama Nur ad-Din juga tersiar sampai di luar Kerajaan Aceh. Beberapa karangan dari Nur ad-Din antara lain: Asrar al-Insan fi ma’rifat ar-Ruh wa ar-Rahman, Sirat al-Mustakim, Durrat al-Faraid bi syahr al-‘aqaid, Hidayat al-Habib fi at-Taghrib wa at-Tahrib, Bustan as-Salatin fi dzikr al-awwalin wa al-akhirin, Nubdza kiyama, Hill al-zill, Ma’ al-hayat li ahl almamat, Jawahir al-‘ulum fi kasyf al- ma’um, ‘Umdat al-I’tigad, Syifa’ al-qulub, Hujjat al-shiddiq ihl ahl al-zindiq, Fath al-mubin ‘ala al-muhlidin, Kitab al-salat dan Al-Lam ‘u bi takfiri man qala bi khalq al-Qur’an.

Setelah Sultan Iskandar Tsani wafat tahun 1641, Nur ad-Din kembali ke India dengan menulis buku Jawahir ‘ulum fi kasyf al-ma’lum, dan kembali lagi pada masa pemerintahan Sultanah Shafiatuddin. Pada masa pemerintahan Sultanah Taj al-‘alam Shafi ad-din ia mendapat perintah untuk menulis buku tentang agama dan tarekat. Buku itu berjudul Tibyan fi Ma’rifa al-Adyan, yang selesai pada 27 Mei 1654.

Abd ar-Rauf dari Singkel yang terkenal dengan nama Syekh Kuala dan gurunya yang terkenal adalah Ahmad Kusyasyi. Setelah kembali pada tahun 1661 ke Kerajaan Aceh, ia mendirikan pesantren atau rangkang dekat muara Sungai Aceh. Ajaran tasawuf dari tarekat Syattariyah menjadi pusat prhatiannya serta tersebar ke berbagai tempat di Indonesia dan Malaya. Di antara muridnya yang terkenal adalah Syekh Burhanuddin dari Ulakan Minangkabau yang di daerahnya dianggap sebagai pelopor Islam dan mengajarkan Islam dengan intensif ke daerah pedalaman.

Abd ar-Rauf yang bermazhab Syafi’i dengan ajaran tasawufnya dan aliran Syatariyah termasuk golongan yang menganut paham yang dinamakan wandat as-Syuhud, yang tidak berbeda dengan aliran Nurur ad-Din ar-Raniri. Dimana ia menentang paham aliran wujudiyya yang heterodoks.

Kegiatan Abd ar-Rauf sebagaian besar terjadi pada masa pemerintahan Sultanah Shafiatuddin. Di antara karangannya yang terkenal adalah Mi’rat at-Tullab fi Tashi/Ma’rifat al-Ahkam as-Syar ‘iyah li Malik al-Wahab. Buku tersebut merupakan pengantar ilmu fiqh berdasarkan mazhab Syafi’i. Ajaran-ajarannya di bidang tasawuf dimuat di dalam karangannya yang berjudul: Kifayat al-Muhtajin, Daqaiq alhuruf, Bayan Tajalli dan Umdat al-Muhtadin. Juga Abd ar-Rauf telah menyusun tafsir Qur’an dalam bahasa Melayu dan menerjemahkan kitab Mawa’iz al-Badi’a yang berisi 32 hadist qudsi. Karangannya dalam bidang puisi adalah Syair Ma’rifat.

Ajaran Hamzah Fansuri dan Syamsudin as-Samatrani juga mempunyai pengaruh di Jawa. Demikian pula aliran tasawuf yang bersifat ortodoks dari ar-Raniri, pengaruhnya juga sampai ke Jawa. Di pesisir Pulau Jawa pada masa perkembangan agama Islam dikenal ajaran-ajaran Islam dari orang-orang yang dinamakan wali.

Dari Jawa ada dua naskah yang menggambarkan alam pikiran umat Islam pada abad ke-16 adalah karangan Sunan Bonang yang dikenal dengan nama Buku Bonang. Kegiatan-kegiatan Sunan Bonang dapat ditentukan antara tahun 1475-1525. 

Naskah tadi dibuatnya sebagai tandingan ajaran-ajaran “kesufian sesat” atau heterodoks yang misalnya menyatakan bahwa apa yang ada adalah Allah, dan apa yang tidak ada adalah Allah; bahwa ketidakadaan Allah adalah tak menciptakan dan hal itu menjelaskan kemahasucian Allah, sebab Allah itu sendirian dan kesepian; dan hanya dapat diketahui oleh ketidakadaan yang mengitarinya. 

Sunan Bonang menentang dan menyatakan bahwa Allah lebih dari gambaran sedemikian itu. Allah itu Mahatinggi dan Mahaluhur, Sukma Mahasuci yang tidak didahului oleh ketidakadaan, tidak diiringi oleh ketidakadaan dan tidak pula dikelilingi oleh ketidakadaan. Dari keterangan ini dapatlah diketahui bahwa sejak permulaan Islam di Pulau Jawa renungan mistik itu sudah hidup, baik dalam bentuk-bentuk paham serba Tuhan yang ortodoks maupun yang heterodoks.

Naskah Islam dari abad ke-16 lainnya yang ditulis dalam bahasa Jawa, akan tetapi tidak diketahui pengarangnya adalah naskah yang kemudian disebut primbon, yaitu naskah yang berupa suatu kumpulan serbaneka mengenai agama, doa-doa, jampi-jampi ilmu-ilmu, firasat, tafsir mimpi, ramalan tentang tanda-tanda dan sebagainya. 

Naskah abad ke-16 itu terutama berisikan catatan mengenai catatan mengenai soal keagamaan, kecuali halaman-halaman akhir yang membicarakan denyutan urat yang dianggap sebagai alamat. Catatan mengenai soal keagamaan itu treutama menyangkut soal ibadah, misalnya ditekankan lafal niat sebelum mengambil air Wudlu atau Salat. 

Dalam penjelasannya mengenai paham mistik yang ortodoks mengenai bid’ah serta peringatan-peringatan terhadapnya menimbulkan kesan bahwa naskah tersbut ditulis untuk menentang kesufian yang bersifat serba Tuhan dalam masyarakat. Naskah itu pun menyebutkan pula seorang yang bernama Syekh Ibrahim Maulana dan petuah-petuahnya. Beliau ini kemungkinan adalah Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 yang dimakamkan di Gresik.

Dalam suluk dan primbon seringkali didapatkan paham mistik yang disebut kawula gusti. Di kalangan orang-orang Jawa, paham itu sudah dikenal sebelum kedatangan Islam, misalnya dalam kitab Kunjarakunja dan pada upacara dalam agama Buddha Mahayana seperti tat twam asi. Istilah-istilah mistik dari lingkungan keagamaan lainnya banyak persamaannya. Karena Islamlah di Jawa pikiran serta plaksanaan ke arah kesatuan antara Tuhan dan manusia diperbarui. 

Menurut beberapa naskah, diskusi-diskusi antara wali-wali mengenai iman, tauhid, dan makrifat adalah kritik-kritik terhadap mistik yang membicarakan mengenai siapa dan apakah wujud Allah itu. Beberapa wali menganggap bahwa pernyataan seorang wali yang bernama Syekh Lemah Abang tentang ajaran kawula gusti yang dianggap sesat, sehingga Syekh Lemah Abang dihukum mati. Akan tetapi, sesungguhnya kesalahan dia adalah membuka tabir miakwerana tentang hakikat yang tertinggi. Oleh karena masih banyak penduduk Jawa yang belum memahami ajaran ma’rifat, sehingga ajaran Syekh Lemah Abang, banyak disalah tafsirkan.