Kausalitas Interpretasi dan Periodesasi dalam Sejarah - ABHISEVA.ID

Kausalitas Interpretasi dan Periodesasi dalam Sejarah

Kausalitas Interpretasi dan Periodesasi dalam Sejarah


kausalitas, interpretasi dan periodesasi - Di dalam memahami suatu peristiwa sejarah, terdapat beberapa prinsip yang harus dipahami oleh seorang pembaca maupun peneliti sejarah. Prinsip-prinsip yang harus dipahami yaitu; kausalitas, interpretasi dan periodesasi. Di bawah ini akan dijelaskan apa yang dimaksud dengan kausalitas, interpretasi dan periodesasi.

kausalitas, interpretasi dan periodesasi dalam sejarah

Kausalitas merupakan prinsip sebab-akibat dalam suatu peristiwa. Kausalitas itu dibangun atau dibentuk dari keterkaitan (hubungan) antara suatu peristiwa pertama (sebab) dan peristiwa kedua (akibat atau dampak), yang mana peristiwa kedua dipahami sebagai konsekuensi dari adanya peristiwa yang pertama. Prinsip kausalitas sebenarnya merupakan asumsi dasar yang berkembang di dalam ilmu sains.

Di dalam kaidah metode ilmiah, ilmuwan merancang suatu eksperimen untuk menentukan kausalitas dari kehidupan nyata. Di sini yang tertanam dalam metode ilmiah adalah hipotesis tentang hubungan kausal. Tujuan dari metode ilmiah ini adalah untuk menguji kebenaran dari hipotesis tersebut. Di bawah ini adalah penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan konsep 
kausalitas, interpretasi dan periodesasi dalam sejarah beserta contohnya.

Kausalitas dalam Sejarah

Di dalam melakukan penelitian, seorang sejarawan tidak hanya mencari jawaban pertanyaan siapa, apa, kapan, dan di mana tentang peristiwa sejarah. Menurut Kuntowijoyo yang menjadi prioritas di dalam sejarah adalah mencari tahu mengapa peristiwa sejarah itu terjadi. Pertanyaan mengapa peristiwa sejarah itu terjadi untuk memperjelas sebab akibat. Kausalitas sangat berpengaruh di dalam sejarah akan menjadi ilmu yang memuat hal-hal kronologis saja.

Pertanyaan mengapa memberi penjelasan di dalam menarik hubungan sebab akibat terhadap suatu permasalahan. Sehingga dapatlah disimpulkan bahwa kausalitas sejarah selayaknya juga kausalitas ilmu sosial adalah sebab akibat terjadinya peristiwa. Teori Kausalitas (sebab-akibat) sudah berkembang sejak lama di mana manusia selalu berupaya mencari sebab-sebab terjadinya suatu peristiwa, suatu kejadian. Dengan mengetahui sebabnya, manusia akan memahami akar dan sumber dari akibat dari kejadian itu.

Hukum dasar kehidupan pertama kali dikemukakan oleh Socrates kira-kira sekitar tahun 400-an SM yang disebut dengan Kausalitas atau Hukum sebab-akibat. Selain Sokrates juga terdapat diktum yang dikeluarkan oleh Leopold von Ranke. Di mana Ranke mengeluarkan diktum itu pada abad ke-19 tatkala pengaruh filsafat positivisme masih sangat dominan. Ranke menyatakan bahwa hendaknya sejarawan menulis sebagaimana yang terjadi sebenarnya. Artinya, sejarawan harus tunduk kepada fakta ,sejarawan harus punya integritas, dan sejarawan harus objektif (tidak boleh memihak).

Hubungan kausalitas dalam sejarah dapat diteliti dengan pengamatan, rekonstruksi fakta-fakta sejarah, analisis sumber primer maupun sekunder, dan merumuskan sebab-sebab umum terjadinya suatu peristiwa. Di dalam prinsip-prinsip kausalitas sejarawan harus menganalisis dua hal, yaitu peristiwa dan  perubahan. Keduanya berbeda dalam akibat yang ditimbulkan: kasus bersifat prosesual tanpa perubahan, sedangkan dalam perubahan terjadi perubahan kausalitas, yaitu perubahan struktural dan perubahan sistem.

Prinsip kausalitas adalah adanya regularity (keajekan). Detail prinsip itu diantaranya berbunyi demikian “kekosongan otoritas mengakibatkan anarki”; “rezim politik yang mengahadapi kesulitan selalu mencari kambing hitam”; “untuk menghalang solidaritas, pemerintah menunjuk musuh-musuh maya atau nyata”; “ketidakadilan menimbulkan perlawanan”; krisis politik mengundang militerisme”. Kausalitas adalah tema ,jadi tidak perlu eksplisit.

Berdasarkan diktum yang diberikan oleh Leopold von Ranke bahwa hendaknya sejarawan menulis sebagaimana yang terjadi sebenarnya dan sejarawan harus objektif (tidak boleh memihak), tentu menjadi hal yang sangat sulit. Sebab dalam hal ini seorang sejarawan terkendala pada unsur subjektivitas sehingga pendapat atau kesimpulan dari satu orang dan orang lain cenderung berbeda-beda. Unsur subjektivitas ini menyebabkan sebab-sebab itu menjadi beraneka ragam dan sulit untuk digenarilisasikan. Unsur subjektivitas dapat diminimalkan dengan keakuratan fakta-fakta sejarah dan sumber primer yang akan dijadikantitk berat di dalam penelitian.

Dalam studi kasus dapat ditemukan adanya kasus tunggal yang kompleks. Kasus tunggal disebut sederhana bila sejarawan menemukan bahwa penyebabnya hanya satu (monokausal), sedangkan kasus tunggal disebut kompleks kalau penyebabnya banyak (multikausal).

1. Monokausalitas

Monokausalitas adalah suatu teori hubungan sebab-akibat yang pertama kali muncul di dalam ilmu sejarah. Teori ini bersifat deterministik (ketergantungan), yakni mengembalikan kausalitas (hubungan sebab-akibat) dari suatu peristiwa, keadaan, atau perkembangan kepada satu faktor tertentu saja. Faktor itu dianggap sebagai faktor tunggal atau faktor satu-satunya yang menjadi faktor kausal.

Prinsip deterministik di dalam monokausalitas terdiri dari determinstik geografi, deterministik rasial, deterministik teknologi dan deterministik ekonomi. Menurut teori determinisme geografi bahwa faktor geografi atau lokasi tempat tinggal merupakan penyebab tunggal dari terjadinya sebuah peistiwa, keadaan ataupun perkembangan suatu bangsa atau penduduk di wilayah tertentu.

Sebagai contoh, perkembangan peradaban yang disebabkan oleh kondisi geografinya yang ekstrim (panas atau dingin) menuntut masyarakat yang mampu menyesuaikan diri dan mengatasi kondisi alam yang berat. Sebaliknya, di negeri tropis, faktor-faktor alam sangat memudahkan kehidupan sehingga tidak menimbulkan banyak tantangan. Oleh karena itu perkembangan peradaban di daerah yang beriklim tropis cenderung lebih lambat jika dibandingkan dengan daerah yang kondisi alamnya ekstrim dan mengalami keterbatasan alam.

Sejalan dengan pemikiran faktor tunggal, contoh menyoal deterministik ekonomi menganggap bahwa faktor ekonomi sebagai penyebab tunggal terjadinya perkembangan masyarakat. Menurut deterministik ekonomi bahwa seluruh lembaga sosial, politik dan kultural (budaya) ditentukan oleh proses ekonomi, khususnya sistem produksi. Sebagai contoh, masyarakat yang berkembang dalam peradaban Jawa menggunakan sistem produksi agraris dengan teknologi tradisional telah menciptakan struktur politik dan sosial yang bersifat feodalistik. Di mana dari sifat feodalistik itu, keduanya hanya berkisar sekitar hubungan antara tuan tanah dan penggarap atau buruh tani.

2. Multikausalitas   

Multikausalitas tidak seperti monokausalitas yang terpusat pada satu faktor tunggal. Multikausalitas memberikan penjelasan dengan memperhatikan berbagai penyebab (faktor) terjadinya suatu peristiwa. Prinsip dari multikausalitas didasarkan pada perspektivisme, yaitu cara pandang terhadap permasalahan dengan melakukan pendekatan dari berbagai segi atau aspek dan perspektif.

Maksud dari perspektivisme di sini berkaitan dengan konsep dan pendekatan sistem. Pendekatan ini beranggapan bahwa antar unsur-unsur adanya saling keterkaitan, ketergantungan serta saling berhubungan satu sama lain. Dalam kaitannya dengan mencari kausalitas, maka dalam hal ini lebih ditekankan adanya berbagai kausalitas dan bukan monokausalitas. Disinilah letak perbedaan antara perspektivisme dengan determinisme.

Kemunculan multikausalitas disebabkan oleh ketidakmampuan prinsip-prinsip monokausalitas di dalam menjelaskan peristiwa, keadaan atau perkembangan. Sebagai contoh, penjelasan tentang penerapan kebijakan Cultuur Stelsel pada tahun 1830. Dalam teori monokausalitas, penerapan kebijakan ini dijelaskan sebagai akibat dari berakhirnya Perang Diponegoro (1825-1830). Multikausalitas tidak puas dengan penjelasan yang menempatkan berakhirnya Perang Diponegoro itu sebagai penyebab tunggal diterapkannya kebijakan Cultuur Stelsel tersebut. Menurut teori multikausalitas bahwa kebijakan Cultuur Stelsel disebabkan berbagai faktor menyangkut situasi hubungan internasional pada saat itu.

Multikausalitas sangat berguna untuk memahami peubahan sosial. Penjelasan tentang konsep perubahan sosial bertolak dari prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Dinamika masyarakat menunjukkan pergerakan dari tingkat perkembangannya yang terdahulu ke yang kemudian, lazimnya dari yang sederhana ke yang lebih maju. Unsur-unsur mana yang berubah dan faktor-faktor apakah yang menyebabkan perubahan.

2. Dalam berbagai teori senantiasa perubahan social mempunyai arah, yaitu dari yang sederhana bentuknya ke yang kompleks, berarti yang lebih baik fungsinya untuk menyelenggarakan proses hidupnya. Ada teori evolusi, teori kemajuan, teori Darwinisme sosial, teori positivis, dan lain sebagainya. Teori-teori ini masuk ke dalam filsafat sejarah atau filsafat sosial.

3. Dalam studi sejarah tentang perubahan sosial yang dikaji masalah pola-pola, struktur, dan tendensi dalam proses perubahan itu. Fokus perhatian ada pada transformasi struktural serta faktor-faktor yang menyebabkannya. Apakah struktur yang sama berasal dari struktur lain yang sama pula dan apakah faktor kausalnya?, Apakah suatu struktur yang sama berasal dari suatu kausalitas yang sama dan begitu pula sebaliknya apakah suatu kausalitas yang sama selalu menghasilkan suatu struktur yang sama pula?.

Sehubungan dengan tiga prinsip di atas maka perlu dilakukan suatu studi sejarah komparatif, yaitu dengan melakukan perbandingan antar-peristiwa. Perlu ditekankan bahwa yang diperbandingkan bukan fakta sejarah tetapi berbagai pola, tendensi, dan strukturnya. Sejarah dengan menggunakan pendekatan ilmu sosial memiliki kemampuan untuk melakukan perbandingan antar-peristiwa. Ada beberapa kemungkinan membuat perbandingan:

1. Antara dua wilayah dengan periode yang sama
2. Persamaan tema atau jenis gejala peristiwa
3. Kombinasi butir pertama dan kedua.
4. Antara dua periode yang berbeda dari satu wilayah.
5. Antara dua periode yang berbeda dari dua wilayah.

Sebagai contohnya adalah dengan mencoba untuk melakukan perbandingan antara politik kolonial Belanda di Indonesia dengan politik kolonial Inggris di India. Dalam analisisnya akan dapat diekstrapolasikan antara lain:

1. Proses modernisasi lewat edukasi
2. Sistem sosial ekonomi
3. Komersialistik fiskal
4. Agraris feodal
5. Struktur organisasi aliran inovatif
6. Perananan golongan inteligensia
7. Kendala dari struktur sosial
8. Kasta etnisitas

Perbandingan antara Indonesia dan Indonesia juga dapat dilakukan pada tingkat keberhasilan modernisasi yang diperolehnya. Perbandingan derajat modernisasi menggunakan kriteria sebagai berikut:

1. Mobilitas sosial
2. Integrasi horizontal dan vertikal
3. Produktivitas sumber daya alamiah dan sosial-budaya
4. Sistem teknologi
5. Struktur kekuasaan demokrasi
6. Tingkat kesejahteraan rakyat.

Interprestasi dalam Sejarah

Cara berpikir sejarah Interpretasi atau penafsiran adalah proses komunikasi melalui lisan atau gerakan antara dua atau lebih pembicara yang tak dapat menggunakan simbol-simbol yang sama, baik secara simultan (dikenal sebagai interpretasi simultan) atau berurutan (dikenal sebagai interpretasi berurutan). Menurut definisi, interpretasi hanya digunakan sebagai suatu metode jika dibutuhkan. Jika suatu objek (karya seni, ujaran, dll) cukup jelas maknanya, objek tersebut tidak akan mengundang suatu interpretasi. Istilah interpretasi sendiri dapat merujuk pada proses penafsiran yang sedang berlangsung atau hasilnya.



Suatu interpretasi dapat merupakan bagian dari suatu presentasi, penjelasan atau penggambaran informasi yang diubah untuk menyesuaikan dengan suatu kumpulan simbol yang spesifik. Informasi itu dapat berupa lisan, tulisan, gambar, matematika, atau berbagai bentuk bahasa lainnya. Makna yang kompleks dapat timbul sewaktu seorang penafsir baik secara sadar ataupun tidak melakukan rujukan silang terhadap suatu objek dengan menempatkannya pada kerangka pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas.

Peristiwa sejarah hanya terjadi satu kali, sifatnya objektif dan sudah terjadi di masa lalu. Banyak orang menceritakan kisah tersebut baik secara lisan maupun tertulis sehingga kisah itu disebut dengan kisah sejarah. Kisah sejarah merupakan hasil interpretasi. Di dalam interpretasi, terlihat adanya unsur subjektivitas. Subjektivitas membuat interpretasi terhadap sebuah topik penelitian sejarah yang sama menjadi berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh latar belakang dan sudut pandang orang yang melakukan interpretasi.

Sebagai contoh perbedaan sudut pandang adalah seorang penulis sejarah Indonesia menganggap bahwa Pangeran Diponegoro adalah pahlawan, sedangkan seorang penulis sejarah Belanda menganggap Pangeran Diponegoro adalah pemberontak. Sama halnya dengan penulis sejarah Indonesia menganggap kedatangan Belanda pada tahun 1948 sebagai agresi militer, sedangkan Belanda menganggap itu sebagai aksi polisionil. 

Tujuan dari interpretasi sejarah biasanya adalah untuk meningkatkan pengertian tentang peristiwa sejarah. Namun, terkadang amat disayangkan bahwa interpretasi lebih banyak mengandung unsur subjektivitas penulis sejarah yang ditujukan untuk kepentingan tertentu; seperti propaganda pemerintah, sehingga pada akhirnya dapat mengacaukan pengertian dan membuat kebingungan sejarah.

Periodesasi dalam Sejarah

Periodesasi diartikan sebagai pembabakan waktu yang digunakan untuk berbagai peristiwa. Periodesasi amat erat kaitannya dengan kronologi sejarah. Periodesasi berarti pembabakan dalam sejarh berdasarkan kurun waktu. Sejarah telah berlangsung dengan rentang waktu yang sangat panjang dan rumit. Seseorang akan mengalami kesulitan bila mengumpulkan semua peristiwa sejarah dalam satu kurun waktu saja, oleh karena itu dibuatlah periodesasi.

Kompleksnya peristiwa terjadi dalam kehidupan manusia pada setiap masa memerlukan suatu pengklasifikasian berdasarkan bentuk serta jenis peristiwa tersebut. Peristiwa-peristiwa yang telah diklasifikasikan itu disusun secara kronologis berdasarkan urutan waktu kejadiannya.

Rentang waktu atau masa sejak manusia ada hingga sekarang merupakan rentang yang sangat panjang, sehingga para ahli sejarah sering mengalami kesulitan untuk memahami dan membahas masalah-masalah yang muncul dalam sejarah kehidupan manusia. Para ahli menyusun periodisasi sejarah.

Periodesasi dapat dibuat berdasarkan perkembangan politik, sosial-ekonomi, budaya dan agama. Pembuatan periodesasi bertujuan untuk mempermudah di dalam mempelajari sejarah. Penyusunan periodesasi yang paling mudah adalah dengan menggunakan urutan abad. Namun, periodesasi yang demikian tidak mengungkapkan corak yang khas pada zaman-zaman yang ditinjau.

Ketika seorang sejarawan mengemukakan sebuah periodesasi sejarah, maka dia harus mampu menjelaskan apa yang membedakan anatara periode satu dengan yang lain. Saat yang berbeda adalah peristiwa yang terjadi dalam sebuah waktu tertentu, maka periodesasi tidak didasarkan pada waktu itu sendiri (tahun atau abad), melainkan sangat bergantung pada penafsiran sejarawan atas ciri-ciri kejadian yang terkandung dalam setiap penanggalan waktu. Walaupun periodesasi tersebut didasarkan atas ciri-ciri kejadian, namun periodesasi tidak dapat dilepaskan dari unsur waktu karena kejadian-kejadian tersebut terikat dengan perjalanan waktu.

Periodesasi sejarah Indonesia dibagi menjadi beberapa versi, tergantung dari sejarawan maupun penulis sejarah yang membagi klasifikasi itu dan tentunya setiap sejarawan memiliki alasan-alasan tersendiri di dalam pembagian itu. Ada yang membaginya menjadi dua zaman, zaman pra-aksara dan zaman sejarah. Selain itu ada juga yang membagi pembabakan (periodesasi) sejarah Indonesia menjadi zaman pra-aksara, zaman kuno, zaman klasik, zaman kolonial, dan zaman kemerdekaan – Reformasi.

Uraian di atas adalah prinsip-prinsip kausalitas, interpretasi dan periodesasi dalam sejarah yang harus dipahami bagi seorang pembaca sejarah dan terutama bagi seorang peneliti dan penulis sejarah.

Daftar Bacaan

- Kuntowijoyo. 2013. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.
- Kartodirdjo, Sartono. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.