Sejarah Kerajaan Kendan - ABHISEVA.ID

Sejarah Kerajaan Kendan

Sejarah Kerajaan Kendan


Sejarah Kerajaan Kendan - Sumber mengenai Kerajaan Kendan sebagaian besar diperoleh dari Pustaka Rajyarajya i Bhumi NusantaraKerajaan Kendan adalah kerajaan yang terletak di daerah Pulau Jawa bagian barat. Secara hukum, Kerajaan Kendan adalah daerah bawahan kerajaan Tarumanegara yang pada saat itu berada di bawah pengaruh raja Suryawarman, raja ke-7 Kerajaan Tarumanegara.

Nama Kendan berasal dari kata Kendan yang memiliki makna sejenis batu cadas, berongga dan didalamnya mengandung kaca yang berwarna hitam. Batuan ini jika dilihat mirip batu onyx yang sering digunakan untuk mata cincin dan dipakai oleh anak muda zaman sekarang. Batu ini juga akan tampak kemilauan saat tersorot oleh sinar matahari. Memiliki permukaan yang sangat kasar dan tajam. 




Menurut versi lain, nama Kendan berasal dari kata kanda yang mendapat akhiran -an, yaitu sebuah sistem religi tradisonal yang menganut paham monoteisme (hyang tunggal) yang dikembangkan oleh Praburesiguru Manikmaya pada abad ke-6 sebagai norma kehidupan beragama jauh sebelum Islam masuk ke Tatar Sunda sekitar abad ke 16. Salah satu kegiatan ritual keagamaannya berbentuk pasaduan yang dilakukan di seputar kabuyutan. Dan di dalam kabuyutan tersebut biasanya ditandai dengan bangunan punden berundak.

Raja-raja yang memerintah di Kerajaan Kendan


1. Resiguru Manikmaya (536-568 M), Raja Pertama Kerajaan Kendan


2. Sang Baladhika Suraliman (568-597 M), Perluasan Kerajaan Kendan.


Pada tahun 568 M, sang resi meninggal dan kedudukannya digantikan oleh anaknya, Raja Putra Suraliman sebagai raja kedua Kerajaan Kendan. Sang raja menikahi putri kerajaan Kutai Bakula Putra (Martadipura), Mutyasari Putri. Dari hasil pernikahannya, Raja Putra Suraliman memiliki seorang putra yang bernama Kandiawan dan seorang putri bernama Kandiawati. Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Kendan sebagai daerah bawahan Kerajaan Tarumanegara telah berhasil memperluas wilayahnya dengan menguasai Medang Jati (Garut) sebagaimana yang dikisahkan dari Carita Kabuyutan Sanghyang Tapak.

Keberhasilan Raja Putra Suraliman di dalam menaklukan daerah Medang Jati tidak terlepas dari didikan ayahnya, Resiguru Manikmaya dan juga daerah Kerajaan Kendan yang nampaknya memang dijadikan sebagai tempat pendidikan bagi calon-calon prajurit elit dari Kerajaan Tarumanegara. Selain itu, keberhasilan Raja Putra Suraliman yang juga telah mencapai salah satu jabatan tertinggi dalam struktur birokrasi kerajaan, yaitu sebagai panglima angkatan laut Kerajaan Tarumanegara.

Penaklukan yang dilakukan oleh Sang Baladhika Suraliman telah memajukan perekonomian masyarakat Kerajaan Kendan. Dari segi ekonomi dapat terlihat dengan adanya perluasan tersebut, masyarakat Kerajaan Kendan yang awal mulanya bekerja di ladang, beberapa diantaranya telah mulai menggunakan jalur sungai terutama Sungai Cimanuk yang mengalir menuju dua pelabuhan di utara yaitu Indramayu dan Cirebon. Dengan terbukanya daerah ini, maka sangatlah memungkinkan bagi Kerajaan Kendan untuk menarik bea cukai dari para pedagang yang singgah di kedua pelabuhan di utara yang hendak menuju daerah pusat Kerajaan Kendan yang terdapat di pedalaman.

3. Kandiawan (597-612 M), Pindahnya pusat kekuasaan Kerajaan Kendan ke Medang Jati


Setelah Sang Baladhika Suraliman wafat, posisinya sebagai seorang raja Kerajaan Kendan digantikan oleh anaknya, Kandiawan. Pada masa pemerintahan Kandiawan, ia memindahkan pusat Kerajaan Kendan dari desa Citaman, Nagreg ke daerah Medang Jati, Cangkuang, Garut. Hal ini didasari dari temuan situs Candi Cangkuang yang berada di desa Bojong Mente, Cicalengka, Garut. Masih belum dapat diketahui penyebab dari perpindahan pusat kerajaan ini, akan tetapi tentu bukanlah perintah langsung dari Kerajaan Tarumanegara, sebab kerajaan bawahan memiliki hak otonomi sendiri di dalam menentukan kebijakan politik internal dan ekonomi.

Kandiawan memiliki lima orang putra yang masing-masing memerintah di lima daerah; Mangkuhan memerintah di Surawulan; Sandang Greba memerintah di Pelas Awi; Karung Kalah memerintah di Rawung Langit; Katung Maralah memeintah di Menir; dan Wretikandayun memerintah di Kuli-kuli.

Pada masa akhir pemerintahannya, takhta Kerajaan Kendan diberikan kepada Wretikandayun, sedangkan Kandiawan sendiri memilih menjalani tapa di Bukit Layuwatang, Kuningan. Pada masa akhir pemerintahannya inilah di daerah selatan wilayah Kerajaan Tarumanegara tepatnya di daerah Cilauteureun, Leuweung, dan Gunung Nagara secara perlahan agama Islam mulai diperkenalkan oleh Rakyan Sancang Putra Kertawarman.

4. Wretikandayun (612-702 M), Berdirinya Kerajaan Galuh


Wretikandayun yang mendapatkan tahkta dari ayahnya memindahkan lagi pusat Kerajaan Kendan / Kelang ke Galuh didesa Karang Kamulyaan , kecamatan Cijeungjing, Ciamis. Di dalam pemindahan pusat kerajaan ini, Wretikandayun menikahi Dewi Minawati anak dari Pendeta Hindu yaitu Resi Mekandria dan menurunkan 3 orang Putra yaitu ; Sampakwaja menjadi Resi Guru wanayasa, Amara menjadi Resi Guru Deneuh dan Jantaka/ Mandiminyak. Hal ini berdasarkan Pusaka Naga Sastra, Pada masa itu Kerajaan Kendan/Kelang berubah nama menjadi Kerajaan Galuh.

Sang Wretikandayun dinobatkan sebagai penguasa Kerajaan Kendan pada tanggal 23 Maret 612 Masehi, dalam usia 21 tahun. Malam itu, bulan sedang purnama. Esok harinya, matahari terbit, tepat di titik timur garis ekuator. Sang Wretikandayun tidak berkedudukan di Kendan ataupun di Medang Jati, tidak juga di Menir. Ia mendirikan pusat pemerintahan baru, kemudian diberi nama Galuh (harfiah : permata). Lahan pusat pemerintahan yang dipilihnya diapit oleh dua batang sungai yang bertemu, yaitu Citanduy dan Cimuntur.

Ketika Sang Wretikandayun dinobatkan sebagai Raja Kendan di Galuh, penguasa di Kerajaan Tarumanegara saat itu, adalah Sri Maharaja Kretawarman (561-628 M). Sebagai Raja di Galuh, status Sang Wretikendayun adalah sebagai raja bawahan Kerajaan Tarumanegara. Berturut-turut, Sang Wretikandayun menjadi raja daerah, di bawah kekuasaan Sudawarman (628-639 M), Dewamurti (639-640 M), Nagajayawarman (640-666 M), dan Linggawarman (666-669 M).

Ketika Linggawarman digantikan oleh Sang Tarusbawa pada tahun 669 M, umur Sang Wretikandayun sudah mencapai 78 tahun. Ia mengetahui persis tentang Kerajaan Tarumanegara yang sudah pudar pamornya. Apalagi Sang Tarusbawa yang lahir di Sunda Sembawa dan mengganti nama Kerajaan Tarumanegara menjadi Kerajaan Sunda. 

Diangkatnya Tarusbawa menimbulkan pergolakan dari kerajaan-kerajaan bawahan Kerajaan Tarumanegara, Tarusbawa yang kemudian mendapat gelar Maharaja Tarusbawa Sunda Sembada Manumanggalajaya, karena keputusannya mengubah nama Kerajaan Tarumanegara menjadi Kerajaan Sunda, semakin menimbulkan pergolakan. Ini merupakan peluang bagi Sang Wretikandayun untuk membebaskan diri (mahardika) dari kekuasaan Sang Tarusbawa.

Sang Wretikendayun segera mengirimkan duta ke Pakuan (Bogor) sebagai ibu kota Kerajaan Sunda (lanjutan Kerajaan Tarumanegara) yang baru, menyampaikan surat kepada Sang Maharaja Tarusbawa. Isi surat tersebut menyatakan bahwa Galuh memisahkan diri dari Kerajaan Sunda, menjadi kerajaan yang mahardika.

berisi peringatan dan keputusan pemisahan daerah “Karunya Ning Caritra”, yang isinya “Mulai hari ini Galuh berdiri sebagai sebuah kerajaan yang Mahardika, tidak berada di bawah kerajaan pakanira lagi, janganlah pasukan tuan menyerang Galuh, karena pasukan Galuh jauh lebih kuat dari pasukan Sunda, ditambah Galuh di dukung oleh kerajaan-kerajaan disebelah timur Citarum...hendaknya kita rukun hidup berdampingan”

Atas keputusan tersebut maka pada tahun 670 M, berdirilah dua buah kerajaan besar di Jawa, dengan Citarum sebagai pembatasnya. Dari Citarum ke arah barat menjadi kerajaan Sunda sedang dari Citarum ke arah timur menjadi kerajaan Galuh. Sementara Mandala Kendan, tetap menjadi sebuah daerah yang dilindungi oleh kedua kerajaan tersebut. Kemudian hari Sunda dan Galuh pada masa Sanjaya dapat dipersatukan kembali, setelah terjadi pemberontakan dan perang saudara antar keturunan Galuh.

Perebutan, perubahan kerajaan tindak lantas mengubah keadaan, Kendan tetap sebagai sebuah Mandala yang sepakat dilindungi. Namun kemudia sejak Pajajaran runtuh tahun 1579, status ke-mandala-an, mengalami perubahan, bahkan beberapa tempat seperti hal nya di Kanekes, tidak lagi diakui oleh para penguasa selanjutnya. Sejak saat itu berbagai kepentingan “penguasa” tidak lagi sejalan dalam melindungi “kesucian” Mandala. Pada tahun 1482, kedua kerajaan ini dipersatukan oleh Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi), menjadi Kerajaan Sunda Pajajaran.