Kerajaan Loloda - ABHISEVA.ID

Kerajaan Loloda

Kerajaan Loloda


Kerajaan Loloda - Salah satu kerajaan tertua di Maluku adalah Kerajaan LolodaKerajaan Loloda terletak di ujung utara Pulau Halmahera. Namun, tidak diketahui secara pasti kapan Kerajaan Loloda berdiri. Diperkirakan Kerajaan Loloda mungkin saja lebih dahulu atau eksis dalam waktu yang sama dengan Kerajaan Jailolo. Jika berdasarkan naskah Negarakrtagama, pada masa paling awal ada seorang kolano yang berkuasa di Kerajaan Loloda, Halmahera Utara. Akan tetapi, kolano ini kehilangan kekuasaannya dengan munculnya kolano Jailolo pertama yang berwibawa namun juga berkarakter tiran.


Kolano Jailolo pertama ini seorang wanita, karena dikabarkan akan menikah dengan Kolano Loloda. Perkawinan ini barangkali bersifat politis dan ditujukan untuk memperluas wilayah Kerajaan Jailolo dengan mencaplok wilayah Kerajaan Loloda ke dalamnya. Setelah Kolano Jailolo itu wafat, Kerajaan Loloda mampu melepaskan diri dari wilayah Kerajaan JailoloKerajaan Loloda adalah kerajaan miskin yang dimasa lalunya dimitoskan sebagai satu-satunya perempuan yang ditetataskan telur naga. Menurut mitos ini, di zaman dulu belum ada raja dan orang-orang yang hidup di dalam kelompok masing-masing dengan dipimpin para tetuanya, dan “seseorang tidak lebih baik dari yang lain.”


Menurut mitos telur naga, Raja Kerajaan Loloda berasal dari keturunan salah satu telur naga yang suci. Karena itu, walaupun Kerajaan Loloda akhirnya dikuasai oleh Kerajaan Ternate, penguasanya tetap menyandang gelar Raja. Sampai tahun 1662, penduduk kerajaan kecil ini hanya terdiri dari 200 orang dan setengahnya adalah orang Galela.


Kerajaan Loloda adalah seorang yang miskin, karena daerahnya tidak ditumbuhi oleh rempah-rempah. Ia tidak memiliki budak, dan permaisurinya yang mempunyai hubungan dengan Kaicil Alam dari Kerajaan Jailolo, karena salah seorang ratu Kerajaan Jailolo di masa awal pernah melakukan perkawinan dengan Raja Loloda melakukan semua pekerjaan rumah seorang diri, seperti memasak makanan untuk raja dan anak-anak, mencuci pakaian, dan mengambil kayu bakar di hutan. Apabila persediaan pangan menipis, sang Raja sendiri yang menebang pohon sagu dan mengolahnya untuk memperoleh tepung sagu. Ia juga melaut untuk memancing ikan, masuk hutan untuk berburu, dan melakukan pekerjaan lain yang lazim dilakukan oleh rakyat biasa.


Ibukota Kerajaan Loloda dihuni pemukim Muslim, dan orang-orang Alifuru mendiami daerah pedalaman sekitar beberapa kilometer dari ibukota. Kerajaan Loloda hanya mempunyai 16 tenaga tempur laki-laki dari golongan Islam dan 60 tenaga tempur dari orang-orang Alifuru. Walaupun demikian, Kerajaan Loloda selalu menempati tempat khusus dalam upacara raja-raja Maluku dan berhak menyandang gelar Kolano. Hal ini dikarenakan Kerajaan Loloda berasal dari keturunan telur naga, Raja Kerajaan Loloda memperoleh kedudukan dan martabat yang setara dengan raja-raja Maluku yang berasal dari kerajaan-kerajaan besar seperti Kerajaan Ternate, Tidore, Bacan dan Kerajaan Jailolo.


Gubernur Maluku, Robertus Paditbrugge (1677-1682), dalam memori serah terima jabata kepada penggantinya Jacob Loba (1682-1686), mengingatkan sebutan yang terkenal bagi kerajaan-kerajaan di Maluku;


Loloda, nagara ma-beno (dinding pintu), Jailolo, jiko ma-kolano (penguasa teluk), Tidore, kie ma-kolano (penguasa pegunungan), Ternate, kolano Maluku (penguasa Maluku), dan Bacan, dehe ma-kolano (penguasa daerah ujung)


Makna sebutan di atas menunjukkan bahwa dalam deretan kerajaan-kerajaan Maluku, Kerajaan Loloda termasuk salah satu diantaranya. Kerajaan Loloda adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kerajaan-kerajaan besar seperti Kerajaan Ternate, Tidore, Bacan, dan Kerajaan Jailolo. Tetapi, tentu saja, pengaruh Loloda tidak begitu signifikan dalam percaturan politik Maluku. Sebagai ngara ma-beno, Kerajaan Loloda yag terletak di bagian utara Pulau Halmahera, menjadi “pintu masuk” ke kerajaan-kerajaan Maluku. Sedangkan Bacan, sebagai daerah paling ujung di selatan, merupakan pintu keluarnya.


Ketika dilakukan pertemuan Moti pada tahun 1322, yang diprakarsai Kerajaan TernateKerajaan Loloda juga diundang. Raja Kerajaan Loloda telah meninggalkan kerajaannya untuk menghadiri pertemuan tersebut. Tetapi lantaran adanya angin ribut, delegasi Kerajaan Loloda terpaksa mendarat di Dufa-dufa Kerajaan Ternate dan gagal mencapai moti. Karena itu, Kerajaan Loloda ini tidak ikut dalam persekutuan tersebut dan kemudian menjadi bulan-bulanan politik ekspansi Kerajaan Ternate.


Ketika bangsa Eropa datang ke Maluku pada permulaan abad ke-16, kerajaan Loloda sudah tidak berperan dan tidak berpengaruh lagi lantaran dianeksasi oleh Kerajaan Ternate. Walaupun demikian, hingga 1662, kerajaan yang berpenduduk 200 jiwa ini sebagiannya adalah orang-orang Galela masih dibiarkan Kerajaan Ternate berfungsi di bawah kekuasaannya, dan Raja Kerajaan Loloda masih diperkenankan menggunakan gelar Kolano. Demikian pula dalam perjuangan Nuku melawan Belanda, barisan penasehat yang diangkatnya terdiri dar lima orang, masing-masing dua dari Maba, Kimalaha Galela, seorang dari Mareku, dan Imam Loloda.


Kerajaan Ternate di bawah kendali Sultan Hamzah (1627-1648), kerajaan Loloda secara praktis tenggelam. Pada 1628, atas perintah Hamzah, sejumlah penduduk Kerajaan Loloda dipindahkan ke Jailolo setelah banyak penduduk Kerajaan Jailolo meninggalkan negerinya sebagai protes atas dilikuidasinya Kerajaan Loloda oleh Kerajaan Ternate.