Sejarah Kerajaan Mataram Kuno - ABHISEVA.ID

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno


Kerajaan Mataram Kuno - Pada pertengahan abad ke-8 M di Jawa bagian tengah berdiri Kerajaan Mataram Kuno. Mengenai letak dan pusat Kerajaan Mataram Kuno hingga saat ini belum dapat dipastikan. Hal ini disebabkan tidak ada sumber baik berupa prasasti maupun catatan yang menunjukkan dengan jelas letak dari Kerajaan Mataram Kuno. Di tengah ketidakpastian pusat dari Kerajaan Mataram Kuno, beberapa pendapat menyebutkan bahwa pusat kerajaan terdapat di daerah Poh Pitu, sementara letak dari Poh Pitu sendiri hingga saat ini belum dapat dengan pasti letak kejelasannya. 

Kerajaan Mataram Kuno

Jika harus memperdebatkan tentang pusat Kerajaan Mataram Kuno yang belum pasti itu, tentulah hanya menjadi perdebatan yang tidak ada habisnya. Akan tetapi, kita dapat merujuk pada keberadaan lokasi kerajaan itu yang didapatkan dari prasasti-prasasti lokal maupun sumber-sumber asing. Mengenai letak dari Kerajaan Mataram Kuno dapatlah diambil keterangan bahwa letak wilayah Kerajaan Mataram Kuno berada di sekeliling pegunungan dan sungai-sungai. 

Jika berdasarkan pada keterangan di atas, maka dapatlah diambil suatu perkiraan bahwa letak dari Kerajaan Mataram Kuno semestinya berada dengan batas-batas wilayah; di sebelah utara terdapat Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, dan Sindoro; di sebelah barat terdapat Pegunungan Serayu; di sebelah timur terdapat Gunung Lawu, serta di sebelah selatan berdekatan dengan Laut Selatan dan Pegunungan Seribu. Sungai-sungai yang terdapat di sana adalah Sungai Bogowonto, Elo, Progo, Opak, dan Bengawan Solo. Sehingga dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwa letak Poh Pitu yang dianggap sebagai pusat dari Kerajaan Mataram Kuno kemungkinan terletak di antara Kedu sampai dengan sekitar Prambanan.

Sumber-sumber  mengenai Kerajaan Mataram Kuno dapat ditemukan dari keterangan yang diberikan oleh beberapa prasasti seperti Prasasti Canggal, Prasasti Kalasan, Prasasti Klurak, Prasasti Kedu atau Prasasti Balitung. Selain itu keterangan mengenai Kerajaan Mataram Kuno juga dijelaskan dari sumber-sumber berita-berita Cina.

Beberapa Sumber-Sumber Sejarah Kerajaan Mataram Kuno


1. Prasasti Tuk Mas (awal abad ke-6 M)

2. Prasasti Sojomerto (awal abad ke-7 M)

3. Prasasti Canggal (732 M)

4. Prasasti Kalasan (778 M)

5. Prasasti Klurak (782 M)

6. Prasasti Telang (903 M)

6. Prasasti Mantyasih (907 M)

7. Catatan Sejarah Dinasti T'ang 

Perkembangan Kerajaan Mataram Kuno


Jika ingin mengetahui perkembangan awal tentang Kerajaan Mataram Kuno, tentu dapatlah merujuk kepada sumber-sumber lokal, terutama adalah keterangan-keterangan yang diberikan di dalam prasasti. Menurut keterangan yang diberikan di dalam Prasasti Canggal (732 M) diterangkan bahwa Raja Sanna telah digantikan oleh Sanjaya, yang berarti sebelum Sanjaya berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno, di Jawa sudah berkuasa seorang raja bernama Sanna. 

Raja Sanjaya adalah putra Sanaha, yang merupakan saudara perempuan dari Raja Sanna. Berdasarkan keterangan yang diberikan di dalam prasasti Canggal ini, maka dapatlah dipastikan bahwa asal-mula Kerajaan Mataram Kuno berasal dari kekuasaan yang dimiliki oleh Sanna dan diberikan atau bisa dikatakan dilanjutkan oleh Sanjaya. Sehingga Sanjaya-lah yang memulai trah baru sebagai penguasa di wilayah itu.

Di sisi lain terdapat keterangan yang diberikan di dalam prasasti Sojomerto yang ditemukan di daerah Sojomerto, Kabupaten Batang, disebutkan nama Dapunta Syailendra yang beragama Siwa (salah satu aliran dalam ajaran agama Hindu). Diperkirakan bahwa tokoh Dapunta Syailendra adalah seorang penguasa yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya dan dia-lah yang menurunkan raja-raja dari dinasti Syailendra yang berkuasa di Jawa bagian tengah. 

Jika merujuk pada keterangan yang diberikan oleh Prasasti Sojomerto, maka hal ini kemungkinan berkaitan dengan ekspedisi yang dilakukan oleh Kerajaan Sriwijaya sebagaimana yang tertulis di dalam Prasasti Kota Kapur tentang penaklukan bhumi Jawa. Jadi, keberadaan tokoh Dapunta Syailendra menjadi sangat penting di sini karena ia adalah orang yang telah berhasil menaklukan bhumi Jawa.

Sanjaya mulai memerintah Kerajaan Mataram Kuno diperkirakan pada tahun 717-780 M. Sanjaya memerintah untuk menggantikan kedudukan Sanna. Di masa pemerintahannya, Sanjaya melakukan penaklukan terhadap raja-raja kecil bekas bawahan Sanna yang telah melepaskan diri. Setelah mencapai keberhasilan di dalam penaklukan itu, pada tahun 732 M Sanjaya mendirikan sebuah bangunan suci sebagai tempat pemujaan. Bangunan suci ini berupa lingga dan terletak di atas Gunung Wukir. Bangunan suci itu sebagai lambang keberhasilan Sanjaya di dalam menaklukan raja-raja lain yang dianggap mengancam kewibawaannya.

Berdasarkan sumber-sumber lokal dan asing, diberitakan bahwa Raja Sanjaya memerintah dengan adil dan bijaksana serta memiliki pengetahuan yang luas. Hal ini ditunjukkan dari sikap para pujangga dan rakyat yang hormat dan patuh kepada rajanya. Oleh karena itu, di bawah pemerintahan Raja Sanjaya, Kerajaan Mataram Kuno dapat mulai tumbuh dan berkembang sebab telah terciptanya suatu kondisi yang aman dan tentram. Kehidupan rakyat dapat dikatakan makmur, sedangkan mata pencaharian penting adalah pertanian dengan hasil utamanya adalah padi. Raja Sanjaya juga dikenal sebagai raja yang memahami akan isi dari kitab-kitab suci.

Setelah Sanjaya wafat, ia digantikan oleh putranya, Rakai Panangkaran. Rakai Panangkaran adalah seorang raja yang tidak hanya mendukung pengajaran agama Hindu, namun juga mendukung perkembangan agama Buddha serta melindungi kepercayaan-kepercayaan lokal yang masih dianut oleh sebagian besar rakyat Kerajaan Mataram Kuno. Di dalam Prasasti Kalasan yang berangka tahun 778 M, Rakai Panangkaran telah memberikan hadiah tanah dan memerintahkan membangun sebuah candi untuk Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta agama Buddha. 

Tanah dan bangunan tersebut terletak di daerah Kalasan. Prasasti Kalasan juga menerangkan bahwa Rakai Panangkaran disebut dengan nama Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran. Rakai Panangkaran pun juga memindahkan pusat pemerintahan ke arah timur, yang hingga saat ini belum dapat dipastikan penyebabnya.

Rakai Panangkaran dikenal sebagai penakluk yang gagah berani bagi musuh-musuhnya. Daerahnya pun bertambah semakin luas. Rakai Panangkaran juga disebut sebagai permata dari Dinasti Syailendra. Pada masa pemerintahannya, agama Buddha Mahayana berkembang dengan pesat. Hal ini disebabkan pula oleh Rakai Panangkaran yang menganut ajaran agama Buddha. Rakai Panangkaran juga memerintahkan didirikannya bangunan-bangunan suci seperti Candi kalasan dan arca Manjusri.

Setelah kekuasaan Rakai Panangkaran berakhir, timbul persoalan internal kerajaan. Hal ini disebabkan oleh karena adanya perpecahan antara anggota keluarga yang sudah memeluk agama Buddha dan yang masih memeluk agama Siwa. Hal ini-lah yang menimbulkan perpecahan di dalam pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno

Satu pemerintahan dipimpin oleh tokoh-tokoh kerabat istana yang menganut agama Siwa di daerah Jawa bagian selatan. Di sisi lain terdapat juga kepemimpinan dari tokoh-tokoh kerabat istana yang menganut agama Buddha di daerah Jawa bagian utara. Keluarga yang beragama Siwa membangun kompleks percandian di Pegunungan Dieng dan Kompleks Candi Gedong Songo. Sementara keluarga yang beragama Buddha membangun Candi Ngawen, Mendut, Pawon dan Borobudur. Candi Borobudur sendiri diperkirakan rampung pada masa pemerintahan Samaratungga pada tahun 824 M.

Perpecahan di dalam Kerajaan Mataram Kuno tidak berlangsung lama. Persatuan kembali dibentuk melalui perkawinan antara Rakai Pikatan dengan Pramudawardhani, yang dipahami sebagai putri dari Samaratungga. Perkawinan itu terjadi pada tahun 832 M. Setelah perkawinan itu, Kerajaan Mataram Kuno bersatu kembali di bawah pemerintahan Rakai Pikatan.

Setelah Samaratungga wafat, Balaputradewa, yang berdasarkan interpretasi dari beberapa prasasti adalah anak dari Samaratungga dengan Dewi Tara, menunjukkan sikap menentang terhadap Rakai Pikatan. Kemudian terjadilah perang perebutan kekuasaan antara Rakai Pikatan dengan Balaputradewa. Di dalam perang ini Balaputradewa membuat benteng pertahanan di perbukitan di sebelah selatan Prambanan. Namun, dalam pertempuran yang terjadi antara Rakai Pikatan dan Balaputradewa dimenangkan oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa yang terdesak oleh serangan Rakai Pikatan, kemudian melarikan diri ke Sumatra, dan ia menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan Mataram Kuno dibawah kepemimpinan Rakai Pikatan yang telah berhasil mengalahkan Balaputradewa, kembali melakukan perluasan kekuasaannya yang menyebabkan daerah kekuasaan Mataram semakin menjadi luas dan kehidupan agama pun berkembang dengan pesat. Pada tahun 856 M, Rakai Pikatan wafat dan digantikan oleh Rakai Kayuwangi atau Dyah Lokapala. Rakai Kayuwangi kemudian digantikan oleh Rakai Dyah Balitung. 

Raja Balitung adalah raja yang mengulang kejayaan Mataram sebagaimana dengan yang pernah dilakukan oleh Rakai Panangkaran maupun Rakai Pikatan. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Mataram Kuno banyak melakukan pembangunan bangunan-bangunan suci. Pemerintahan Dyah Balitung sampai dengan tahun 911 M. Sepeninggal dirinya, Kerajaan Mataram Kuno dipimpin oleh Pu Daksa, Rakai Dyah Tulodong dan kemudian Rakai Dyah Wawa. Karena para penggantinya yang kurang cakap seperti Rakai Dyah Balitung, maka Kerajaan Mataram Kuno mengalami kemunduran. Selain itu, Mataram juga harus menghadapi bencana alam serta invasi dari Kerajaan Sriwijaya.

Kekuasaan Dinasti Isyana


Pertentangan antara keluarga Mataram terus berlanjut hingga masa pemerintahan Pu Sindok pada tahun 929 M. Pertikaian yang tidak pernah berhenti itu menyebabkan Pu Sindok memindahkan kekuasaan ke Daha, Jawa bagian timur dan mendirikan wangsa baru, yaitu Dinasti Isyana. Di samping karena pertentangan antara keluarga kerajaan, Kerajaan Mataram Kuno juga harus menghadapi bencana alam dari letusan Gunung Merapi serta serangan dari Kerajaan Sriwijaya. Setelah berpindahnya kekuasaan ke Daha, tidak lama Pu Sindok pun kembali memindahkan pusat kekuasaan ke daerah Tamwlang (dekat Jombang) dan kekuasaan Pu Sindok meliputi Jawa bagian tengah dan timur.

Perpindahan kedua kalinya yang dilakukan oleh Pu Sindok kemungkinan besar adalah untuk mengamankan pusat kerajaan dari serangan yang terus dilakukan oleh Kerajaan Sriwijaya dan berusaha untuk menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan di Bali untuk menahan gempuran Kerajaan Sriwijaya.

Setelah Pu Sindok meninggal, ia digantikan anak perempuannya yang bernama Sri Isyanatunggawijaya. Ia naik tahta dan kawin dengan Sri Lokapala. Dari perkawinan ini lahirlah putra yang bernama Makutawangsawardana yang kemudian naik tahta untuk menggantikan ibunya. 

Setelah pemerintahan Makutawangsawardana, takhta dilanjutkan oleh Dharmawangsa Teguh yang menganut agama Siwa. Dharmawangsa Teguh memerintahkan untuk menyalin kitab Mahabharata ke dalam bahasa Jawa Kuno. Setelah Dharmawangsa Teguh meninggal, takhta dilanjutkan oleh menantunya yang berasal dari Bali. Karena Airlangga yang menggantikan Dharmawangsa Teguh, maka terjadilah pergolakan di dalam Kerajaan Mataram Kuno yang menyebabkan Airlangga harus melarikan diri ke hutan. 

Semasa kehidupan di dalam hutan, Airlangga mempelajari ilmu agama yang menyebabkan Airlangga kemudian dinobatkan sebagai raja oleh para pendeta agama Buddha dan Siwa. Setelah kembali dinobatkan menjadi seorang raja oleh para brahmana, Airlangga segera mengadakan pemulihan hubungan baik dengan Kerajaan Sriwijaya, bahkan membantu Kerajaan Sriwijaya ketika mendapatkan serangan dari Kerajaan Colamandala dari India Selatan. Pada tahun 1037 M, Airlangga berhasil mempersatukan kembali daerah-daerah yang pernah dikuasai oleh Dharmawangsa Teguh yang meliputi seluruh  Jawa bagian timur. Setelah keberhasilan itu, Airlangga kemudian memindahkan ibukota kerajaannya dari Daha ke Kahuripan.

Pada tahun 1042 M, Airlangga mengundurkan diri dari tahta kerajaan, lalu memilih hidup sebagai petapa dengan nama Rsi Gentayu (Djatinindra). Menjelang akhir masa pemerintahannya, Airlangga hendak menyerahkan takhtanya kepada putri sulungnya yang berasal dari permaisuri yaitu Sangrama Wijaya Tunggadewi, namun ia pun menolak dan lebih memilih untuk menjadi seorang petapa dengan nama Ratu Giriputri.

Karena putrinya menolak tahta kerajaan, Airlangga pun kemudian memerintahkan kepada seorang pujangga, yaitu Pu Bharada untuk membagi kerajaannya menjadi dua bagian; kerajaan itu bernama Panjalu dan Jenggala. Hal ini dilakukan oleh Airlangga untuk mencegah terjadinya perang saudara diantara kedua putranya yang lahir dari selir. Kerajaan Jenggala di sebelah timur diberikan kepada putra sulungnya yang bernama Mapanji Garasakan (Jayengrana), dengan ibukota di Kahuripan (Jiwana). Wilayahnya meliputi daerah sekitar Surabaya dan Pasuruan. Sedangkan untuk Kerajaan Panjalu di sebelah barat diberikan kepada putra bungsunya yang bernama Samarawijaya (Jayawarsa) dengan ibukota di Kediri (Daha), wilayah kekuasaannya meliputi daerah sekitar Kediri dan Madiun.

Kerajaan Kediri adalah kerajaan pertama yang mempunyai sistem administrasi kewilayahan Negara yang berjenjang. Hierarki kewilayahan Kerajaan Kediri dibagi atas tiga jenjang; struktur paling bawah dikenal dengan thani (desa). Di tingkat desa ini pun terbagi menjadi beberapa bagian yang lebih kecil lagi dan dipimpin oleh seorang duwan. Setingkat lebih tinggi diatasnya disebut dengan wisaya, yaitu sekumpulan desa-desa. Sedangkan tingkatan yang paling tinggi yaitu Negara atau kerajaan disebut dengan bhumi.

Dengan dibaginya wilayah Kerajaan Mataram Kuno oleh Airlangga, maka berakhirlah kekuasaan tunggal Kerajaan Mataram Kuno dan legitimasi dari Kerajaan Mataram Kuno telah terbagi menjadi dua; yaitu di sebelah barat dikuasai oleh Kerajaan Panjalu, sedangkan daerah timur dikuasai oleh Kerajaan Jenggala.

Struktur Birokrasi Kerajaan Mataram Kuno


Di dalam struktur pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno, raja (sri maharaja) adalah penguasa tertinggi. Seorang raja harus berpegang teguh kepada dhharma, bersikap adil, menghukum yang bersalah dan memberikan anugerah kepada mereka yang berjasa (wnang wigraha anugraha), bijaksana, tidak boleh sewenang-wenang, waspada terhadap gejolak-gejolak dikalangan rakyatnya, berusaha agar rakyat senantiasa memperoleh rasa tentram dan bahagia, dan dapat memperlihatkan wibawanya dengan kekuatan perang dan harta kekayaannya.

Mengenai hak waris atas takhta kerajaan, yang berhak untuk menggantikan raja duduk disinggasana kerajaan adalah anak-anak yang lahir dari permaisuri.  Di mana putra mahkota akan menyandang gelar rakai hino atau rakryan mahapatih i hino. Selain rakai i hino, terdapat dua orang lagi yang memiliki hak untuk menggantikan kedudukan raja setelah mangkat sesuai dengan hierarki pemerintahan yaitu rakryan i halu dan rakryan i sirikan. Selain itu, yang dapat menggantikan kedudukan seorang raja ialah rakai wka (anak dari selir). 

Pada masa Rakai Kayuwangi terdapat satu pejabat lagi yang dapat menggantikan seorang raja dan kedudukannya setingkat dengan para putra raja, yaitu pamgat tiruan (pejabat kehakiman). Jadi dengan keterangan ini maka diperoleh pemahaman bahwa kedudukan di bawah seorang raja terdapat lima pejabat (hino, halu, sirikan, wka dan pamgat tiruan). Akan tetapi, yang perlu digaris bawahi adalah diantara kelima pejabat tersebut hanya rakryan i hino-lah yang mendapat prioritas utama menggantikan seorang raja, sebagaimana yang dijelaskan di dalam prasasti-prasasti.

Di bawah kelima pejabat (hino, halu, sirikan, wka dan pamgat tiruan), terdapat 12 pejabat kerajaan di tingkat pusat diantaranya; rake halaran, rake pangihyang, rake wlahan, pamgat manghuri, rake langka, rake tanjung, pangkur, tawan, hanangantirip, pamgat wadihati, dan pamgat makudur. Namun, tidak semua pejabat itu diketahui tugas-tugasnya dengan pasti. Beberapa yang diketahui diantaranya; pamgat manghuri (memiliki jabatan kehakiman seperti pamgat tiruan); pamgat mahidati dan pamgat mkudur (pejabat yang memimpin upacara penetapan sima); pangkur, tawan, dan tirip (pejabat yang bertugas mengurusi pajak-pajak yang masuk ke perbendaharaan kerajaan).

Para pejabat di Kerajaan Mataram Kuno diperkirakan berjumlah 70 - 100 pejabat kerajaan. Selain ke tujuh belas pejabat di atas, terdapat sisanya yang disebut dengan mangilala drawya haji. Di antara mangilala drawya haji memang terdapat beberapa pejabat dengan tugas yang berhubungan dengan masalah perpajakan seperti wilang thani atau wilang wanua (penghitung tanah atau penghitung desa; semacam petugas sensus yang sudah tentu berkaitan dengan perpajakan). Jabatan lain yaitu terdapat tuha dagang (mengurusi masalah dagang), tuha judi (mengurusi pajak perjudian), juru jalir (mengurusi pajak perempuan tuna susila), pulung padi (mengurusi lumbung padi), pangurang (petugas pajak). Akan tetapi tidak semua anggota dari mangilala drawya haji berkaitan dengan masalah perpajakan, seperti widu mangidung (pesinden), marumbai, mangunjai, mamrsi (tukang cuci), dan hulun haji. Jadi, dapatlah dikatakan bahwa sebagian besar dari mangilala drawya haji adalah abdi dalem kraton, yang menikmati kekayaan raja dalam arti menerima gaji tetap dari perbendaharaan kerajaan.

Berdasarkan keterangan yang diberikan dalam Hsin-T'ang-shu di Kerajaan Mataram Kuno terdapat 300 pejabat sipil dan 1000 pegawai rendahan. Namun, dikarenakan data-data berupa sumber dokumen maupun prasasti yang belum dapat menjelaskan dan memberikan keterangan rincian dari gelar-gelar itu.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Mataram Kuno


Kehidupan ekonomi Kerajaan Mataram Kuno dapat diketahui dari aktivitas yang terjadi dari tingkat desa. Selain penduduk Kerajaan Mataram Kuno bermata pencaharian sebagai petani sebagai sumber utama ekonomi, beberapa hasil bumi, buah-buahan, beras, sirih pinang dan buah mengkudu adalah hasil bumi yang umumnya terlihat sebagai barang dagangan di pasar-pasar desa. Selain itu terdapat pula kerajinan rumah tangga, seperti perkakas dari besi dan tembaga, pakaian, payung, kerangjang, barang-barang anyaman, kajang, kepis, gula, arang, dan kapur sirih. Binatang ternak pun juga menghiasi barang-barang yang diperjual-belikan di pasar, seperti kerbau, sapi, kambing, itik, dan ayam beserta telurnya.

Di samping melakukan perdagangan antar-desa, juga melakukan aktivitas perdagangan internasional. Prasasti-prasasti menyebutkan barang yang diimpor oleh Kerajaan Mataram antara lain ada kain buatan India, keramik Cina dan Vietnam. Sedangkan barang yang diekspor antara lain adalah hasil bumi dan hutan Pulau Jawa sendiri, garam, sutra tipis dan sutra kuning, damas, kain brokat berwarna-warni, pinang, pisang raja, gula tebu, kemukus, cula badak, mutiara, belerang, gaharu, kayu sepang, kayu cendana, cengkih, pala, merica, damar, kapur barus, tikar pandan dan gading gajah.

Berdasarkan keterangan yang diberikan di dalam Chau Ju-Kua hanya menyebut mata uang yang dibuat dari campuran perak dengan tembaga dan timah yang dipotong seperti dadu dan diberi cap sebagai mata uang Jawa (she-p'o-kin). Kerajaan Mataram Kuno juga mengenal sistem pajak di mana terlihat dari pejabat-pejabat yang disebutkan di beberapa prasasti diantaranya berkaitan dengan kegiatan penarikan pajak. 

Kehidupan Kebudayaan Kerajaan Mataram Kuno


Kehidupan kebudayaan Kerajaan Mataram Kuno terbagi menjadi dua bagian yang dapat dideskripsikan, diantaranya adalah seni sastra dan seni pertunjukan. Di bawah ini akan dijelaskan tentang perkembangan seni sastra dan seni pertunjukan pada masa Kerajaan Mataram Kuno.

1. Seni Sastra Kerajaan Mataram Kuno


Memasuki abad ke- 9 hingga ke- 10 M para pujangga Jawa telah mulai berhasil melakukan penggubahan wiracarita India, yaitu Ramayana dan Mahabharata. Namun, yang pertama berhasil digubah ke dalam bahasa Jawa Kuno oleh pujangga Jawa berbentuk Ramayana Kakawin. Perlu diketahui bahwa Ramayana Kakawin adalah satu-satunya hasil karya sastra dari masa sebelum pemerintahan Pu Sindok yang bertahan dan dapat dinikmati saat ini. Kemungkinan, sudah banyak karya sastra yang dibuat atau digubah pada masa sebelum Pu Sindok, namun dapat disayangkan bahwa karya-karya itu ditulis di atas bahan yang tidak tahan lama, yaitu karas (semacam batu tulis atau bambu yang dibelah).

Dari masa pemerintahan Dinasti Isana lebih banyak karya sastra yang tetap lestari dan sampai hingga generasi sekarang, diantaranya; Sang Hyang Kamahayanikan (naskah tentang agama Buddha Mahayana); 9 parwwa dari cerita Mahabharata dan 1 kanda dari epos Ramayana. Selain itu terdapat kitab keagamaan Hindu yaitu; Brahmandapurana dan Agastyaparwa, kedua-duanya berbentuk prosa. Karya sastra lainnya yang berhasil diketemukan  berasal dari masa Kerajaan Mataram Kuno Jawa Timur, yaitu kitab Arjunawiwaha karya Pu Kanwa. Perlu menjadi catatan di sini adalah bahwa kitab Arjunawiwaha bukanlah sebuah kitab transliterasi saja dari cerita tentang perkawinan Arjuna yang diambil dari kitab Mahabharata. Namun, di dalam kitab ini telah terjadi suatu pengubahan cerita yang dilakukan oleh Pu Kanwa untuk kepentingan pertunjukkan lakon wayang.

2. Seni Pertunjukan Kerajaan Mataram Kuno


Keberadaan Kitab Arjunawiwaha menjadi bukti bahwa pertunjukan wayang kulit telah dilakukan pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Selain pertunjukan wayang kulit yang jalan ceritanya diambil dari kitab sastra, juga terdapat pertunjukan wayang kulit yang berkaitan dengan upacara penetapan desa. Selain pertunjukan wayang kulit, juga terdapat pertunjukan wayang orang, pertunjukan lawak (mamirus dan mbanol), tari-tarian yang dilakukan bersama.

Daftar Bacaan

- Boechari. 2013. Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
- de Casparis, J. G. 1975. Indonesian Paleography. Leiden/Koln: E.J. Brill.
- Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto (ed.). 2011. Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Hindu. Jakarta: Balai Pustaka.