Sejarah Kerajaan Pajang - ABHISEVA.ID

Sejarah Kerajaan Pajang

Sejarah Kerajaan Pajang


Kerajaan Pajang - Kerajaan Pajang adalah kerajaan yang didirikan oleh Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwidjaja setelah berhasil merebut kekuasaan Kerajaan Demak dari Arya Penangsang, yang sebelumnya telah berhasil membunuh Pangeran Mukmin (Sunan Prawata/Sunan Prawoto). Jaka Tingkir berhasil mengalahkan Arya Penangsang atas bantuan Sutawijaya (Panembahan Senapati). Di bawah ini akan dijelaskan tentang sejarah Kerajaan Pajang.


Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Pajang

Pada abad ke-14 nama Pajang telah disebutkan dalam Kitab Negarakrtagama sebagai salah satu wilayah yang dikunjungi oleh Prabu Hayam Wuruk, raja Kerajaan Majapahit dalam perjalanannya memeriksa daerah bagian barat Kerajaan Majapahit. Dapat diperkirakan bahwa Pajang telah menjadi salah satu daerah yang mengakui kedaulatan Kerajaan Majapahit. Begitupula yang terjadi pada masa Kerajaan Demak, Pajang menjadi wilayah bagian Kerajaan Demak yang mengakui kedaulatan Kerajaan Demak.


Berdasarkan penuturan babad lokal yang dituliskan oleh para pujangga Mataram Islam pada awal abad ke-17 - 18, Pajang dianggap sebagai kelanjutan dari Pengging yang dihancurkan oleh Kerajaan Mataram karena berupaya memberontak. Berdasarkan Babad Banten, setelah jatuhnya Kerajaan Majapahit pada awal abad ke-16 dan berdirinya Kerajaan Demak, Pada tahun 1525 daerah Pengging tetap berdaulat hingga pertengahan abad ke-16. 


Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Babad Banten inilah diperkirakan Pengging (Pajang) adalah sebuah kerajaan yang telah berdiri sejak Kerajaan Majapahit masih eksis. Ketika Kerajaan Majapahit runtuh, Kerajaan Pengging tetap mempertahankan eksistensinya di bawah pimpinan Kebo Kenanga. Oleh sebab itu, Kerajaan Pengging hendak ditaklukan oleh Kerajaan DemakKerajaan Demak mengirim Ki Wanapala dan Sunan Kudus untuk adu kekuatan dengan Kebo Kenanga sebagai permulaan ekspedisi.   


Pada tahun 1527 tentara Kerajaan Demak menyerbu Kerajaan Pengging dan berhasil membunuh Kebo Kenanga. Terbunuhnya Kebo Kenanga menyebabkan Kerajaan Pengging berhasil dikuasai oleh Kerajaan Demak. Sedangkan anak Kebo Kenanga, Jaka Tingkir mengabdi ke Kerajaan Demak dan menjadi menantu dari raja Demak, Sultan Trenggana. Setelah diangkat menjadi menantu, Jaka Tingkir diperintahkan untuk kembali ke Pengging (Pajang) sebagai bupati yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Demak

 

Sejak wafatnya Pangeran Trenggana (Sultan Trenggana) timbul perebutan kekuasaan di internal Kerajaan Demak. Terutama, setelah diangkatnya Raden Mukmin (Sunan Prawata) sebagai raja Kerajaan Demak menggantikan Sultan Trenggana. Setelah penobatan Raden Mukmin sebagai penguasa Kerajaan Demak yang baru, benih perselisihan kembali muncul terutama dari Arya Penangsang, Bupati Jipang.  



Arya Penangsang sendiri bukanlah orang lain bagi Raden Mukmin. Arya Penangsang adalah putra dari Raden Kikin (Pangeran Seda Lepen) yang semestinya mendapatkan takhta Kerajaan Demak sepeninggal Pati Unus. Namun, oleh karena berdasarkan berita yang tersebar Raden Kikin dibunuh oleh Raden Mukmin yang menginginkan takhta Kerajaan Demak. Maka, yang menjadi raja pengganti Pati Unus ialah Pangeran Trenggana, ayah dari Raden Mukmin.

 

Setelah Sultan Trenggana meninggal pada 1546, maka secara langsung takhta Kerajaan Demak jatuh kepada Raden Mukmin dan bukan pada Arya Penangsang. Di sisi lain, Arya Penangsang merasa bahwa dirinya-lah yang berhak atas takhta Kerajaan Demak, sehingga mulai terjadi perselisihan antara Arya Penangsang dengan Raden Mukmin (Sunan Prawata) yang mengakibat perebutan kekuasaan di kalangan keluarga dan kerabat kerajaan.


Selain terjadi perselisihan diantara keluarga Kerajaan Demak, perselisihan juga terjadi di antara para Wali yang masing-masing menjadi pendukung untuk pengangkatan penguasa-penguasa di Kerajaan Demak. Kondisi ini diperburuk ketika Pangeran Trenggana diganti oleh Sunan Prawata dan terbunuh oleh Arya Penangsang dari Jipang pada tahun 1549.


Jaka Tingkir adalah murid Ki Ageng Pengging yang semula menjadi seorang tamtama di Kerajaan Demak di bawah pemerintahan Pangeran Trenggana, karena keahliannya ia dijadikan menantu oleh Pangeran Trenggana. Ketika Sunan Prawoto dibunuh oleh Arya Penangsang dan merebut takhta Kerajaan Demak, Jaka Tingkir berupaya untuk merebutnya kembali dari tangan Arya Penangsang. Jaka Tingkir meminta bantuan terutama kepada Ki Ageng Pamanahan dan putra Ki Ageng Pamanahan yang bernama Sutawijaya untuk mengalahkan Arya Penangsang.


Setelah berhasil mengalahkan Arya Penangsang dengan bantuan Ki Ageng Pamanahan dan Sutawijaya, Jaka Tingkir memindahkan pusat kekuasaan dari Demak ke Pajang dan menobatkan diri sebagai Sultan dari Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Dengan penobatan diri Jaka Tingkir sebagai sultan, maka berdirilah Kerajaan Pajang sebagai pengganti Kerajaan Demak.


Raja-Raja 
Kerajaan Pajang


1. Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya) (1549-1582)


Mengenai asal-usul riwayat raja Pajang yang telah melanjutkan kekuasaan Dinasti Demak atas Jawa Tengah, Serat Kandha dan babad-babad memuat banyak cerita. Pada pokoknya, ia adalah putra dari Raja Pengging terakhir yang dibunuh oleh Sunan Kudus. Waktu masih kecil ia bernama Mas Karebet, karena pada saat lahirnya, wayang beber sedang dipertunjukkan di rumah ayahnya. Pada masa remaja ia bernama Jaka Tingkir, sesuai dengan nama Tingkir, tempat ia dibesarkan.


Jaka Tingkir telah menjadi pahlawan dongeng di Jawa Tengah bagian selatan. Banyak cerita yang hebat-hebat tersebar luas. Ia dianggap mempunyai kekuasaan atas masyarakat buaya, demikian pula (yang diduga menjadi) kakeknya Jaka Sangara, yaitu Raja Andayaningrat. 


Meskipun tidak berasal dari keluarga raja Pengging, maksud untuk mengangkat raja lagi bagi daerah Pengging, sesudah meninggalnya Kebo Kenanga, jelas terbukti dari putusan raja Demak untuk mengusahakan supaya Jaka Tingkir menetap di Pajang. Pejuang muda ini telah masuk keluarga raja (Demak) karena perkawinannya dengan putri Sultan Trenggana yang muda. Menurut cerita babad, kediaman raja di Pajang dibangun dengan mencontoh keraton di Demak.


Waktu pada tahun 1546 Sultan Demak meninggal (dalam aksi militer – atau karena akibatnya – ke ujung timur Jawa) konon raja Pajang yang masih muda itu – menantu raja – selama kekacauan berkecamuk di ibu kota cepat mengambil alih kekuasaan. Menurut cerita tutur Mataram, Jaka Tingkir adalah cucu Sunan Kalijaga dari Kadilangu, yaitu orang suci yang di Jawa Tengah bagian selatan dianggap yang terpenting di antara Sembilan Wali. 


Sunan Kalijaga rupa-rupanya telah menjadi penghulu masjid suci di Demak sesudah Sunan Kudus. Seorang anak perempuannya telah diambil oleh Sultan Trenggana sebagai permaisuri muda. Dari perkawinan ini lahir ratu muda di Pajang, permaisuri Jaka Tingkir, dan adiknya laki-laki, Raden Mas Timur, yang kelak menjadi Panembahan Mas di Madiun, apabila cerita tutur itu mengandung kebenaran, maka kiranya raja Pajang yang muda tersebut waktu bertindak di Demak telah dapat mengandalkan wibawa rohani kakeknya Sunan Kalijaga, yang juga menjadi gurunya. 


Menurut cerita tutur, putra sulung Sultan Trenggana, yang lahir dari perkawinan yang lebih dahulu, diberikan kedudukan sebagai ulama saja. Ia bergelar Susuhunan Prawata.


Pada tahun 1549 Susuhunan Prawata dibunuh atas perintah kemenakannya Arya Penangsang dari Jipang yang merasa berhak atas takhta Kerajaan Demak. Arya Penangsang tidak lama kemudian dikalahkan dalam perang tanding oleh jaka Tingkir dari Pajang; Jaka Tingkir membalas dendam karena Iparnya, Susuhunan Prawata, telah dibunuh oleh Arya Penangsang. 


Kekuasaan Kerajaan Jipang patah, dan kekuasan Kerajaan Pajang sejak saat itu diakui oleh sebagian besar pedalaman Jawa Tengah. Ratu Putri Kalinyamat, ipar perempuan raja Pajang yang lebih tua, memerintah di Jepara, dan dari situ ia memerintah juga pesisir Jawa sebelah barat. Ki Panjawi, raja Pati, teman seperjuangan Jaka Tingkir dalam pertempuran melawan Jipang, mengakui kekuasaan tertinggi Pajang. 


Menurut cerita tutur Jawa, Arya Penangsang dari jipang, penuntut tahta Kerajaan Demak yang memberontak itu, adalah murid Sunan Kudus, pejuang yang gagah berani untuk perluasan “Bait’ul Islam”. Tetapi Jaka Tingkir, Ki Panjawi, dan Sunan Prawata dari Demak telah mendapat bimbingan agama dari Sunan Kalijaga dari Kadilangu. 


Dapat diperkirakan bahwa Jaka Tingkir dari Pajang makin bertambah kuat keinginannya untuk bertindak dengan kekerasan senjata terhadap Arya Penangsang, karena dengan demikian ia juga dapat membalas dendam terhadap Sunan Kudus atas pembunuhan yang telah dilakukan terhadap Kebo Kenanga dari Pengging, yang digantikan Jaka Tingkir sebagai raja di Pajang yang dapat menimbulkan kemugkinan bahwa ia merupakan keturunan dari Kebo Kenanga.


Terlepas dari penuturan serat dan babad lokal mengenai asal-usul Jaka Tingkir atau Mas Karebet atau Sultan Hadiwijaya, Sultan Hadiwijaya nyatanya telah berhasil mengakhiri kemelut dan pertikaian yang terjadi di dalam internal Kerajaan Demak. Selain itu juga terjadi peralihan pusat kekuasaan dari Demak kemudian ke Pajang sampai ke Mataram merupakan pergeseran pusat pemerintahan dari daerah pesisir ke daerah pedalaman sehingga terjadi perubahan sifat kerajaan maritim ke kerajaan Agraris.


Pada masa pemerintahannya, Sultan Hadiwijaya mulai melakukan perluasan kekuasaan sehingga beberapa daerah sekitarnya antara lain Jipang dan Demak sendiri mengakui kekuasaan Kerajaan PajangDemikian pula ia meluaskan pengaruh ke daerah pesisir Pulau Jawa, seperti Jepara, Pati, dan Banyumas. Pada tahun 1578, Sultan Hadiwijaya berhasil meluaskan pengaruh Kerajaan Pajang dengan mengalahkan Wargautama dari Wirasaba.


Pada tahun 1581 melalui jalur diplomasi, Sultan Hadiwijaya berhasil meyakinkan raja-raja kecil di Jawa Timur untuk mengakui kedaulatannya. Beberapa kerajaan yang mengakui kedaulatannya antara lain Jipang, Wirasaba, Kediri, Pasuruan, Madiun, Sedayu, Lasem, Tuban, dan Pati. Pada tahun 1582 Sultan Hadiwijaya wafat dan menyebabkan perselisihan antara Pangeran Benowo sebagai putra mahkota Kerajaan Pajang, dan Arya Pangiri, putra dari Sunan Prawoto. 


2. Pangeran Benawa (Pangeran Benowo) (1582-1583)


Pada tahun 1582 Pangeran Benowo sebagai putra mahkota Kerajaan Pajang, menggantikan posisi Sultan Hadiwijaya sebagai raja Kerajaan Pajang. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Pajang kehilangan daerah Mataram yang masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya telah diberikan kepada Ki Ageng Pamanahan, anak Ki Ageng Ngenis atas jasanya dalam mengalahkan Arya Penangsang. 


Selain kehilangan daerah Mataram, yang mulai menunjukkan eksistensinya, Pangeran Benowo yang dilantik pada tahun 1582 digoyang kedudukannya oleh Arya Pangiri, putra Sunan Prawoto, raja Kerajaan Demak keempat. Pangeran Benawa disingkirkan dari takhta atas Kerajaan Pajang oleh Arya Pangiri atas bantuan dari Panembahan Kudus. Alasan Panembahan Kudus menyingkirkan Pangeran Benawa adalah permasalahan usia Pangeran Benawa yang lebih muda dibandingkan dengan istri dari Arya Pangiri sehingga tidak pantas menjadi raja.


Pangeran Benawa merelakan takhta Kerajaan Pajang kepada Arya Pangiri dan dirinya dijadikan sebagai bupati Jipang oleh Arya Pangiri. 


3. Arya Pangiri (Sultan Ngawantipura) (1583-1586)


Arya Pangiri menjadi raja Kerajaan Pajang pada tahun 1583 setelah dengan berhasil menyingkirkan Pangeran Benawa untuk dijadikan sebagai Bupati Jipang. Pada masa pemerintahan Arya Pangiri, Arya Pangiri berusaha untuk menguasai Mataram yang jelas-jelas telah diwasiatkan untuk tidak diserang dan membenci Sutawijaya yang telah menjadi penguasa Kerajaan Mataram.


Arya Pangiri kemudian membentuk pasukan yang terdiri dari orang-orang bayaran berasal dari Bali, Bugis, dan Makassar untuk melakukan penyerbuan terhadap Mataram. Usaha yang dilakukan oleh Arya Pangiri itu, rupanya tidak berhasil menaklukan Kerajaan Mataram dan justru menyebabkan kekalahan bagi Arya Pangiri. 


Dibalik kekalahan atas Kerajaan Mataram, Arya Pangiri juga berlaku tidak adil terhadap penduduk asli Pajang. Arya Pangiri mendatangkan pejabat-pejabat dari Demak untuk menggantikan posisi para pejabat Pajang. Selain itu, Arya Pangiri juga mendatangkan para penduduk Demak untuk bermigrasi ke Pajang yang menyebabkan para penduduk Pajang berpindah ke Jipang dan mengabdi kepada Pangeran Benawa.


4. Pangeran Benawa (1586-1587)


Setelah berpindahnya penduduk asli Pajang ke Jipang untuk mengabdi kepada Pangeran Benawa akibat ulah dari Arya Pangiri, penduduk Pajang di Jipang beserta Pangeran Benawa berupaya untuk merebut kembali takhta Kerajaan Pajang dari tangan Arya Pangiri.


Pangeran Benawa pun menjalin hubungan dengan Sutawijaya, raja Kerajaan Mataram untuk menyingkirkan Arya Pangiri. Pada tahun 1586 pasukan gabungan Mataram dan Jipang menyerbu Pajang. Setelah dikalahkan, Arya Pangiri dikembalikan ke Demak, sedangkan Sutawijaya ditawarkan takhta Kerajaan Pajang oleh Pangeran Benawa, namun ditolaknya. Sutawijaya hanya meminta beberapa benda pusaka Kerajaan Pajang untuk dirawat dan disimpan di Kerajaan Mataram. Oleh sebab itu, Pangeran Benawa kembali menjadi raja di Kerajaan Pajang dengan gelar Sultan Prabuwijaya.


Sosial-Budaya dan Ekonomi Kerajaan Pajang 

Kerajaan Pajang mengalami kemajuan di bidang pertanian sehingga menjadi lumbung beras dalam abad ke-16 dan 17. Lokasi pusat kerajaaan Pajang ada di dataran rendah tempat bertemunya Sungai Pepe dan Sungai Dengkeng yang mana ke dua-duanya bermata air dari lereng Gunung Merapi. Irigasi berjalan lancar karena air tanah di sepanjang tahun cukup untuk mengairi sawah sehingga pertanian di Kerajaan Pajang maju dan sangat mendukung kehidupan masyarakatnya yang bercorak agraris.


Sejak Kerajaan Demak baru menunjukkan eksistensinya, daerah Pajang telah mengekspor beras dengan mengangkutnya melalui perniagaan yang berupa Bengawan Sala. Sejak itu Demak sebagai negara maritim menginginkan dikuasainya lumbung-lumbung beras di pedalaman yaitu Pajang dan kemudian juga Mataram, supaya dengan cara demikian dapat berbentuk negara ideal agraris-maritim. Oleh karena letaknya yang dipedalaman, kehidupan ekonomi Kerajaan Pajang sangat terpusat pada aktivitas pertanian, meskipun perdagangan pun menjadi salah satu aktivitas yang tidak dapat disangkal, namun tidak begitu banyak memiliki peranan yang penting.


Kemunduran Kerajaan Pajang


Kemunduran Kerajaan Pajang disebabkan oleh perebutan kekuasaan setelah meninggalnya Sultan Hadiwijaya antara Pangeran Benawa dengan Arya Pangiri. Situasi internal Kerajaan Pajang semakin tidak menentu terlebih setelah kekalahan Kerajaan Pajang dalam menghadapi Kerajaan Mataram. Setelah dikembalikannya takhta Kerajaan Pajang ke tangan Pangeran Benawa atas bantuan Sutawijaya, secara tidak langsung Kerajaan Pajang menjadi negeri bawahan dari Kerajaan Mataram.