Manusia Zaman Neolitikum - ABHISEVA.ID

Manusia Zaman Neolitikum

Manusia Zaman Neolitikum 


Manusia Zaman NeolitikumFosil manusia dari genus Homo, yang berasal dari kala Plestosen di Kepulauan Nusantara, adalah rangka Homo Wajak dan mungkin juga beberapa tulang paha dari Trinil dan tulang-tulang tengkorak dari Sangiran. Homo menurut definisi yang dipakai disini, mempunyai ciri-ciri yang lebih progresif daripada Pithecantrophus. Isi tengkoraknya bervariasi antara 1.000-2.000 cc, dengan nilai rata-rata 1.350-1.450 cc. Tinggi badannya juga bervariasi lebih besar, yaitu antara 130-210 cm, dengan demikian pula beratnya antara 30-150 kg.


Otaknya lebih berkembang, terutama kulit otaknya sehingga bagian terlebar tengkorak terletak tinggi di sisi tengkorak dan dahinya membulat serta tinggi. Bagian belakang tengkorak juga membulat dan tinggi otak kecil sudah berkembang lebih jauh pula. Otot tengkuk sudah banyak mengalami reduksi karena tidak begitu diperlukan lagi dalam ukuran yang besar. 


Hal ini terjadi karena alat pengunyah sudah menyusut lebih lanjut. Gigi mengecil begitu pula rahang serta otot kunyah, dan muka tidak begitu menonjol ke depan. Letak tengkorak di atas tulang belakang sudah seimbang. Berjalan serta berdiri tegak sudah lebih sempurna dan koordinasi otot sudah jauh lebih cermat.


Pada Homo Neanderthalensis ciri-ciri tersebut di atas tidak seprogresif pada Homo Sapiens, kecuali isi tengkorak yang sudah bersamaan, bahkan rata-ratanya lebih tinggi. Alat pengunyah masih masif dan tonjolan kening nyata. Dagu belum ada dan tulang-tulang tengkorak masih tebal. Tidak ada sisa Homo Neanderthalensis di Kepulauan Nusantara sampai sekarang. 


Temuan dari Wajak adalah tergolong ke dalam Homo sapiens. Rangka Wajak yang pertama ditemukan dekat Campurdarat, Tulungagung pada tahun 1889 merupakan fosil manusia pertama yang dilaporkan dari Kepulauan Nusantara. Temuan ini diselidiki oleh Eugene Dubois, dan terdiri atas tengkorak, termasuk fragmen rahang bawah, dan beberapa buah ruas leher.


Sedangkan temuan rangka Wajak pada tahun 1890 di tempat yang sama terdiri atas fragmen-fragmen tulang tengkorak rahang atas dan bawah, serta tulang paha dan tulang kering. Dari sisa kedua individu itu dapat disimpulkan bahwa tengkoraknya besar, dengan isi volume otak mencapai 1.630 cc. 


Rangka Wajak itu memiliki muka yang datar dan lebar, akar hidungnya lebar, dan bagian mulutnya menonjol sedikit. Dahinya agak miring dan di atas rongga matanya ada busur kening yang nyata. Langit-langitnya besar dan dalam rahang bawahnya tergolong masif, dan giginya besar-besar pula. Pada gigitan, gigi seri atas tepat mengenai gigi bawah. Berdasarkan tulang pahanya, tinggi badannya ditaksir sekitar 173 cm.


Ras Wajak meliputi manusia yang hidup antara 40.000-25.000 tahun yang lalu di Asia Tenggara, seperti manusia Niah di Serawak dan manusia Tabon di Palawan. Tengkorak dari Gua Niah mempunyai ciri-ciri Austromelanesoid, hanya pada dahinya lebih tegak dan busur keningnya kurang nyata. 


Mungkin ini disebabkan oleh individu tersebut masih muda. Akar hidungnya dalam serta dangkal. Di Gua Tabon ditemukan tulang dahi dan rahang bawah dahinya miring sedikit, dan busur keningnya agak nyata. Geraham bungsunya sama sekali tidak ada pada rahangnya.


Tengkorak-tengkorak dari Cohuna-Kow Swamp, yang kepurbaannya sekitar 10.000 tahun, ada yang memperlihatkan ciri-ciri yang mengingatkan orang akan Pithecantrophus. Namun, hal ini hanya terdapat pada beberapa tengkorak dan hanya di bagian depannya, yaitu dahi dan muka sehingga tidak akan dikelirukan dengan jenis Pithecantrophus


Ciri-ciri lain dan tengkorak-tengkorak yang lain lagi tidak berada dari tengkorak-tengkorak Australoid dari Australia Selatan, yang kasar-kasar dengan rahang-rahang yang tegap.


manusia zaman neolitikum, manusia pendukung zaman neolitikum, manusia neolitkum, pendukung zaman neolitikum

Temuan Wajak mengisyaratkan bahwa sekitar 40.000 tahun yang lalu bahwa Kepulauan Nusantara telah didiami oleh jenis Homo sapiens yang tergabung ke dalam ras Wajak, yang berbeda dengan ras manusia sekarang. 


Sukar dipastikan apakah ras Wajak langsung berevolusi dari Pithecantrophus, karena antara keduanya terpampang jurang waktu sepanjang 250.000 tahun. Pada saat yang penting inilah kemungkinan Pithecantrophus mengalami evolusi menjadi Homo. Manusia Wajak kelihatannya tidak hanya mendiami Indonesia Barat, tetapi juga di sebagian Indonesia Timur. 


Oleh karena itu, populasi manusia zaman neolitikum pasti lebih besar daripada Pithecantrophus. Ras Wajak menurunkan ras-ras manusia yang sekarang dikenal sebagai penduduk Kepulauan Nusantara sekarang terutama dari sub-ras Melanesoid dan Australoid. Itulah penjelasan secara singkat tentang manusia zaman neolitikum di Indonesia.