Penjajahan Portugis di Indonesia - ABHISEVA.ID

Penjajahan Portugis di Indonesia

Penjajahan Portugis di Indonesia


Penjajahan Portugis di IndonesiaSetelah kejatuhan Konstantinopel tahun 1453 M ke tangan Turki Utsmani bangsa Eropa mulai berlomba mencari sumber penghasil rempah-rempah. Bangsa Eropa yang mencari jalan menuju penghasil rempah-rempah salah satunya adalah Portugis. Bangsa Portugis sendiri adalah negeri yang tidak memiliki kekayaan agraris sehingga menjadikan laut sebagai sumber penghasilan utama, baik perikanan maupun perdagangan. Di dalam artikel ini akan dijelaskan tentang penjajahan Portugis di Indonesia.


Penjajahan Portugis di Indonesia, kedatangan bangsa spanyol ke indonesia, peninggalan portugis di indonesia, kebijakan portugis di indonesia, tujuan portugis datang ke indonesia, rute perjalanan portugis ke indonesia


Penjajahan Portugis di Indonesia: Penjelajahan Bangsa Portugis


Sebenarnya sejak awal abad ke-15, sekolah pelayaran yang didirikan oleh Pangeran Henrique  (atau biasa disebut dengan Henry sang Navigator) di Sagres pada tahun 1418 telah berhasil memperluas pengetahuan bangsa Portugis tentang garis pantai Afrika. Di sekolah ini didirikan perpustakaan, ruang observasi astronomi, tempat pembuatan galangan kapal dan  beberapa tempat tinggal untuk staf pengajar sekolah tersebut. 


Sekolah yang didirikan oleh Henry dirancang untuk mengajarkan berbagai teknik navigasi untuk pelaut-pelaut Portugis, mengumpulkan dan menyebarkan berbagai informasi letak geografis dunia, menciptakan dan meningkatkan peralatan navigasi dan pelayaran, dan juga mensponsori penjelajahan samudra (ekspedisi lautan lepas). Di sekolah ini Pangeran Henry bekerjasama dengan beberapa ahli geografi, kartografi, astronomi, dan ahli matematika terkemuka dari seluruh Eropa.  


Penjajahan Portugis di Indonesia, kedatangan bangsa spanyol ke indonesia, peninggalan portugis di indonesia, kebijakan portugis di indonesia, tujuan portugis datang ke indonesia, rute perjalanan portugis ke indonesia

Tujuan Pangeran Henry melakukan ekspedisi adalah untuk meningkatkan pengetahuan navigasi terutama bagi pelaut-pelaut Portugis di sepanjang pantai barat Afrika dan menemukan jalur menuju Asia. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan peluang perdagangan bagi bangsa Portugis. Selain itu juga bertujuan untuk menemukan emas yang hasilnya untuk pendanaan perjalanan itu sendiri, menyebarkan ajaran agama Katolik di seluruh dunia, dan membalas kekalahan terhadap kekuatan Islam di seluruh dunia.


Tujuan ini berkaitan dengan wilayah Mediterania dan rute laut Timur kuno lainnya yang telah dikendalikan oleh Kekaisaran Turki Utsmani dan mulai mundurnya kekuasaan Kekaisaran Mongol yang membuat beberapa jalur darat menjadi tidak aman. Dari berbagai faktor inilah kemudian datang motivasi untuk menemukan jalur laut menuju Dunia Timur. Pada tahun 1424-1434 Pangeran Henry mengirimkan 15 ekspedisi untuk menjelajahi selatan Benua Afrika. 


Pada tahun 1460 Pangeran Henry meninggal dunia. Sekolah Sagres dilanjutkan oleh keponakannya Raja John II yang mengirimkan utusan dari tahun 1460-an dengan tujuannya adalah mengeliling ujung selatan benua Afrika untuk mendapatkan akses yang lebih mudah mencapai India demi mendapatkan hasil kekayaan alamnya (terutama lada hitam dan bumbu-bumbu lainnya) sehingga dibutuhkanlah jalur laut yang dapat diandalkan.


Pelayaran yang dilakukan oleh bangsa Portugis selalu dilakukan terutama adalah pelayaran yang dilakukan oleh Bartholomeus Diaz melakukan pelayaran mencari daerah Timur dengan menelusuri jalur pantai barat Afrika. Pada tahun 1488 pelayaran yang dilakukan oleh Bartholomeus Diaz terkena serangan ombak besar terpaksa terhenti dan mendarat di suatu Ujung Selatan Benua Afrika. Tempat tersebut kemudian dinamakan Tanjung Harapan. Bartholomeus Diaz tidak melanjutkan penjelajahannya, akan tetapi memilih bertolak kembali ke jalur negerinya.


Berita keberhasilan  pelayaran Christophorus Columbus pada tahun 1492 untuk menemukan daerah baru, membuat penasaran raja Portugis, Manuel l. Raja Manuel I Kemudian mengutus Vasco da Gama untuk melakukan ekspedisi menjelajahi samudra mencari India. Ditandatanganinya Perjanjian Tordesillas pada tahun 1494 juga yang mendongkrak semangat bangsa Portugis untuk melakukan penjelajahan.


Penjajahan Portugis di Indonesia, kedatangan bangsa spanyol ke indonesia, peninggalan portugis di indonesia, kebijakan portugis di indonesia, tujuan portugis datang ke indonesia, rute perjalanan portugis ke indonesia

Pada tahun 1497 Vasco da Gama mulai melakukan penjelajahan mencari jalan lain agar lebih cepat sampai di India yang diyakini selama ini sebagai tempat penghasil rempah-rempah. Berdasarkan pengalaman yang didapatkan dari pelayaran Bartholomeus Diaz, Vasco da Gama juga berlayar mengambil jalur rute yang dilalui oleh Bartholomeus Diaz.  Melaui rute itu rombongan dari Vasco da Gama juga singgah di Tanjung Harapan. 


Sesampainya di Tanjung Harapan Vasco da Gama berinteraksi dengan banyak pedagang dari berbagai negeri. Vasco da Gama kemudian berhasil memperoleh petunjuk dari para pelaut bangsa Moor yang telah disewanya untuk mengantarkan rombongan menuju India. Rombongan Vasco da Gama kemudian melanjutkan pelayarannya menelusuri jalur pantai timur Afrika kemudian berbelok ke jalur timur untuk mengarungi Lautan Hindia. Berbekal petunjuk itu pada tahun 1498 rombongan Vasco da Gama berhasil mendarat di Pelabuhan Kalikut dan juga Goa di pantai barat India. 


Penjajahan Portugis di Indonesia, kedatangan bangsa spanyol ke indonesia, peninggalan portugis di indonesia, kebijakan portugis di indonesia, tujuan portugis datang ke indonesia, rute perjalanan portugis ke indonesia

Kedatangan rombongan Vasco da Gama ini telah menyiapkan sebuah patok batu yang disebut batu padrao. Batu Padrao ini telah diberi pahatan lambang bola dunia. Setiap daerah yang disinggahi oleh para pelaut Portugis kemudian dipasang patok batu padrao sebagai tanda bahwa daerah yang ditemukan itu adalah milik Portugis. Bahkan di Goa, India, Vasco da Gama berhasil mendirikan kantor dagang yang juga dilengkapi dengan benteng pertahanan. Atas kesuksesan dari ekspedisi ini maka oleh Raja Portugis, Vasco da Gama diangkat sebagai penguasa di Goa atas nama pemerintah Kerajaan Portugis.


Setelah berada di India dan berhasil mendirikan kantor dagangnya, bangsa Portugis tidak mampu untuk bersaing dengan para pedagang Asia. Hal ini menyebabkan bangsa Portugis harus menempuh cara lain untuk memaksakan hegemoni perdagangannya, yakni dengan cara berperang. pada tahun 1503, Panglima Angkatan Laut Portugis Alfonso de Albuquerque pun segera memulai keberangkatanya ke India. Setibanya di India, Alfonso de Albuquerque mendeklarasikan perang terhadap penguasa Goa dan berhasil menguasai Goa pada tahun 1510.



Penjajahan Portugis di Indonesia, kedatangan bangsa spanyol ke indonesia, peninggalan portugis di indonesia, kebijakan portugis di indonesia, tujuan portugis datang ke indonesia, rute perjalanan portugis ke indonesia

Strategi perdagangan yang dilakukan oleh bangsa Portugis adalah membangun suatu pusat administrasi yang saling berhubungan dengan benteng-benteng yang mereka bangun. Oleh Karena itu Alfonso de Albuquerque yang berhasil merebut Goa dari Kerajaan Bijapur di pantai barat India kemudian dijadikan sebagai pusat administrasi perdagangan Portugis. Pemimpin Portugis yang berkedudukan di Goa bergelar Vice Roy atau wakil raja. Dari Goa inilah maka perdagangan di sekitar Laut Arab, Teluk Persia dan Samudra Hindia dapat didominasi oleh Portugis melalui kapal-kapal dan benteng-bentengnya. 

Penjajahan Portugis di IndonesiaPortugis di Malaka


Setelah beberapa tahun tinggal di India, bangsa Portugis menyadari bahwa ternyata India bukanlah daerah penghasil rempah-rempah yang mereka cari. Bangsa Portugis mendapatkan informasi bahwa Malaka-lah merupakan kota pelabuhan pusat perdagangan rempah- rempah. Portugis kemudian mengutus Diogo Lopes de Sequeira untuk menemukan Malaka. Setelah berhasil menemukan Malaka Sequeira menjalin persahabatan dengan penguasa setempat, dan menetap di sana sebagai wakil raja Portugis di wilayah sebelah timur India. 


Sequeira tiba di Kepulauan Nusantara pada 1509, tepatnya di Pelabuhan Malaka. Kedatangan Sequeira disambut dengan ramah oleh penguasa Kerajaan Malaka, yaitu Sultan Mahmud Syah. Kedatangan orang Portugis ini segera menimbulkan reaksi dari para pedagang Islam. Para pedagang Islam yang berasal dari berbagai penjuru dunia yang berada di Malaka meyakinkan kepada Sultan Mahmud Syah bahwa kehadiran bangsa Portugis sebagai ancaman yang berat. 


Sultan Mahmud Syah yang menerima penuturan yang diberikan dari para pedagang Islam-pun berbalik melawan Sequeira. Anak buah Sequeira akhirnya ditangkap dan dibunuh. Empat kapal Portugis pun berusaha diserang oleh Kerajaan Malaka sebelum akhirnya kembali berlayar ke lautan lepas.


Dari kejadian yang dialami oleh Sequeira itu, bangsa Portugis mulai mempersiapkan diri untuk melakukan ekspedisi lanjutan di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque, yang sebelumnya pada tahun 1510 telah berhasil menguasai Goa, India. Dengan armada lengkap (1.200 prajurit dan 18 kapal) Alfonso de Albuquerque berangkat untuk menguasai Malaka. Sesampainya di wilayah perairan Malaka pada bulan Juli 1511, Alfonso de Albuquerque segera melaksanakan peperangan terhadap Malaka yang pada saat itu pun sedang berada dalam krisis internal akibat perebutan kekuasaan antara Sultan Mahmud Syah dengan Sultan Ahmad.


Penjajahan Portugis di Indonesia, kedatangan bangsa spanyol ke indonesia, peninggalan portugis di indonesia, kebijakan portugis di indonesia, tujuan portugis datang ke indonesia, rute perjalanan portugis ke indonesia

Kerajaan Malaka sebenarnya telah memiliki sejumlah meriam yang mampu mengimbangi kekuatan Portugis. Namun, karena krisis internal kerajaan, menyebabkan pada tahun 1511 armada Portugis berhasil menguasai Malaka. Dengan demikian kekuatan Portugis semakin mendekati Kepulauan Nusantara. Bangsa Portugis pun segera mengetahui tempat yang ditujunya yakni penghasil rempah-rempah di Kepulauan Nusantara, khususnya di Kepulauan Maluku. Selain berhasil menguasai Malaka, pada tahun 1522 Portugis berhasil menandatangani perjanjian dagang, khususnya lada dengan Kerajaan Sunda Pajajaran.


Penjajahan Portugis di Indonesia: Portugis di Sunda Kalapa


Setelah Portugis berhasil menguasai Malaka, pada tahun 1513 Alfonso de Albuquerque mengirimkan armada Portugis ke Sunda Kalapa. Armada yang dikirimkan ke Sunda Kalapa terdiri dari empat kapal dan dipimpin oleh de Alvin. Sunda Kalapa sendiri adalah kota pelabuhan yang pada saat itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pakuan Pajajaran. Keterangan yang diberikan oleh Tome Pires bahwa pelabuhan Sunda memiliki komoditas yang diperdagangkan diantaranya adalah beras, sayuran, daging, buah terutama anggur. Akan tetapi yang terutama diantara komoditas itu adalah budak belian, beras dan lada sebagai komoditas utama yang diangkut dari Sunda Kalapa menuju pelabuhan Malaka.


Perlu diketahui bahwa kedatangan de Alvin yang memimpin armada Portugis ke Sunda Kalapa adalah atas permintaan Raja Sunda, Sang Hyang Prabu Surawisesa, yang merasa terancam akan eksistensi Kerajaan Cirebon yang telah memeluk agama Islam. Prabu Surawisesa meminta Portugis untuk membangun benteng di wilayahnya untuk menghindari bahaya tersebut dengan kesepakatan bahwa Portugis mendapat prioritas dalam pembelian komoditas lada.


Penjajahan Portugis di Indonesia, kedatangan bangsa spanyol ke indonesia, peninggalan portugis di indonesia, kebijakan portugis di indonesia, tujuan portugis datang ke indonesia, rute perjalanan portugis ke indonesia

Hubungan Portugis dan Sunda terjalin dengan baik terutama pada 1522 M sepupu Alfonso de Albuquerque, Jorge de Albuquerque membuat perjanjian perdagangan dan persahabatan dengan Prabu Surawisesa dan menentukan tempat untuk mendirikan benteng yang diminta oleh sang prabu. Akan tetapi, benteng itu tidak pernah berhasil dibangun dan Portugis tidak pula berhasil membangun monopoli perdagangannya di Sunda Kalapa. Sebab pada tahun 1526 Kerajaan Demak yang mengetahui hal itu segera mengirimkan pasukannya di bawah pimpinan Fatahilah dengan bantuan pasukan Kerajaan Cirebon dan Kerajaan Banten untuk menyerang Sunda Kalapa dan berhasil menguasainya. 


Penjajahan Portugis di Indonesia: Portugis di Maluku


Pada tahun 1512 M Alfonso de Albuquerque mengirimkan armadanya untuk mencapai Maluku untuk melakukan monopoli rempah-rempah. Armada yang berangkat ke Maluku ini dipimpin oleh Antonio de Abreu dengan tiga buah kapal, meskipun satu diantaranya tenggelam di perairan Madura. Armada yang dipimpin oleh Antonio de Abreu mendarat pertama kali di Kepulauan Banda sebagai pusat produksi pala dan bunga pala. Setelah dari Kepulauan Banda, satu kapal portugis pun karam dan hanya meninggalkan satu kapal yang berhasil mencapai Ternate pada tahun 1512.


Kedatangan armada Portugis itu telah berhasil menjalin hubungan dengan Sultan Aby Lais, raja Kerajaan Ternate. Sultan Aby Lais, sebagai Raja Ternate berjanji akan menyediakan cengkih bagi Portugis setiap tahun dengan syarat Portugis membangun bentengnya di Pulau Ternate. Bahkan raja Ternate itu juga mengirimkan surat dengan permintaan yang sama kepada Raja Dom Manuel, Raja Portugis dan Kapitan Malaka. 


Hubungan dagang yang lebih mantap antara Portugis dan Kerajaan Ternate oleh Antonio de Brito dengan Kaicil Abu Hayat. Melalui Kaicil Darwis, pengasuh Kaicil Abu Hayat yang masih kanak-kanak Portugis diizinkan mendirikan benteng di Pulau Ternate pada tahun 1522 M dengan nama Benteng Gamalama.


Penjajahan Portugis di Indonesia

Setelah Portugis berhasil menjalin hubungan dagang dengan Kerajaan Ternate dan berhasil mendirikan benteng pertamanya, bangsa Spanyol yang telah berhasil menguasai Manila, tiba di Kepulauan Maluku dan membuat persekutuan dengan Kerajaan Tidore


Kehadiran Portugis dan Spanyol di Kepulauan Maluku membuat hubungan diantara keduanya semakin memanas sehingga pertempuran antara keduanya tidak dapat terhindarkan. Konflik antara Portugis dan Spanyol (1522-1529) di Kepulauan Maluku berakhir setelah Paus turun tangan dan keduanya sepakat menandatangani Perjanjian Saragosa yang mengharuskan Spanyol harus meninggalkan Maluku.


Sejak pertengahan abad ke-16 tepatnya pada tahun 1546 Fransiscus Xaverius mengunjungi Ambon dan meyakinkan pimpinan Ordo Jesuit di Portugal bahwa Ambon dan sekitarnya dapat dijadikan sebagai daerah misi yang subur. Selama sekitar 50 tahun berikutnya desa-desa yang penduduk di Jazirah Leitimor (Pulau Ambon), Haruku, Saparua dan Nusalaut yang belum menganut agama Islam menjadi pemeluk ajaran Katolik. 


Sejak itu pulau-pulau tersebut terbagi dua, yaitu penduduk dengan struktur sosialnya bercirikan Patalima menganut Islam dan yang bercirikan Patasiwa yang menganut ajaran Katolik. Di setiap desa Katolik didirikan gereja dan para rohaniawan selalu disediakan oleh Ordo Jesuit dari Portugal untuk mengasuh jemaah tersebut.


Setelah menyingkirnya Spanyol dari Kepulauan Maluku, hubungan Portugis dan Kerajaan Ternate mulai mengalami berbagai pertentangan meskipun hubungan dagang diantara keduanya tetap berlangsung hingga tahun 1570. Ketegangan antara Kerajaan Ternate dengan Portugis mencapai puncaknya ketika Sultan Hairun dikhianati dan dijebak oleh Portugis di dalam Benteng Gamalama yang menyebabkan Sultan Hairun dihukum pancung oleh Portugis. 


Kematian Sultan Khairun menyebabkan putranya, Baabulah membangkitkan perlawanan melawan Portugis. Baabulah yang menjadi Sultan Kerajaan Ternate menggantikan Sultan Hairun mengepung benteng Portugis sepanjang 1570-1575. Selain itu, Sultan Baabulah juga menjalin kesepakatan dengan daerah-daerah lainnya di Maluku (kecuali Kerajaan Tidore) untuk menyerang dan memberikan perlawanan kepada Portugis.

Berkali-kali Sultan Baabulah mengirimkan armada Kerajaan Ternate ke Kepulauan Ambon untuk menyerang desa-desa yang penduduknya telah beragama Katolik. Benteng Gamalama dikepungnya secara ketat sehingga tidak seorang Portugis pun dapat keluar-masuk. Benteng Gamalama yang dikurung sejak 1570 berhasil ditaklukan pada 1575. Sultan Baabulah pada akhirnya berhasil menyingkirkan Portugis dari Kerajaan Ternate dan hak monopoli Portugis di wilayah Kerajaan Ternate dihapuskan serta menjadikan Benteng Gamalama sebagai istananya.


Penjajahan Portugis di Indonesia: Kemunduran Kekuasaan Portugis di Indonesia


Orang-orang Portugis yang melarikan diri dari Ternate menuju Kerajaan Tidore mulai membangun benteng baru pada tahun 1578 M. Sejak pertengahan abad ke-16 M, Ambon dan sekitarnya baru mulai menghasilkan cengkih dalam jumlah yang cukup untuk diperdagangkan. Daerah produksi utamanya adalah Hitu dan Hoamoal. Cengkih kemudian diangkut ke Malaka oleh pedagang Melayu dan Jawa. 


Ketika Portugis menyingkir dari Ternate, Portugis berusaha menjalin hubungan dagang dengan Hitu dan Hoamoal, namun ditolak oleh keluarga Tomagola yang menguasai Hoamoal dan sekitarnya. Sehingga Portugis harus memindahkan kantor dagangnya di Hitu. Akan tetapi, Hitu mencoba mendapat bantuan dari Kerajaan Demak dan Jepara di Jawa dengan imbalan cengkih. Dengan ini pun Portugis gagal mendirikan kantor dagangnya di Hoamoal dan Hitu yang akhirnya wilayah ini mulai menyebar ajaran agama Islam.


Memasuki tahun 1580 M, Portugis bersatu dengan Spanyol dan membentuk basis militer mereka di wilayah Kerajaan Tidore. Sejak saat itu, pasukan gabungan Portugis dan Spanyol berkali-kali mengirimkan ekspedisi militer untuk merebut kembali Benteng Gamlama maupun kerajaan-kerajaan yang berada di sekitarnya. 


Semasa berkuasa di Maluku, Portugis menikmati keuntungan di bidang ekonomi. Komoditas rempah-rempah yang berhasil dimonopoli selalu dapat memenuhi kapal-kapal Portugis untuk di jual ke pasaran dunia. Selain mendapat keuntungan dari kegiatan perdagangan, misi penginjilan yang dilakukan oleh Portugis pun dapat berkembang dengan pesat.


Pada tahun 1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman armada Belanda berhasil menginjakkan kakinya di Kepulauan Nusantara, yakni pelabuhan Banten. Kedatangan Belanda pun mendapatkan respon dari Spanyol dan Portugis yang jelas tidak mau berbagi keuntungan apa pun dengan Belanda di Kepulauan Nusantara. Respon yang agak berlebihan lagi adalah Spanyol yang tengah menghadapi perang kemerdekaan Belanda di Eropa, yang memang pada saat itu Belanda masih berada di bawah kekuasaan Spanyol.


Pada awal abad ke-17, Belanda membentuk persekutuan pedagang-pedagang Belanda untuk menghindarkan persaingan di antara mereka sesama orang Belanda. Perusahaan Hindia Timur Belanda (Verenigde Oostindische Compagnie, VOC) sejak tahun 1602 M memulai kampanyenya untuk memaksakan memonopoli perdagangan di Dunia Timur dan tentu saja untuk menghapuskan pengaruh Portugis dan Spanyol di Dunia Timur. Pada saat yang bersamaan, Portugis telah membangun kubu pertahanan (Fortaleza de Malaca), mengawal Selat Malaka dan mengawal perdagangan rempah-rempah di Malaka. Dengan hal ini maka permusuhan antara Belanda dengan Spanyol dan Portugis semakin memuncak dan saling berebut pengaruh di Kepulauan Nusantara.



Penjajahan Portugis di Indonesia, kedatangan bangsa spanyol ke indonesia, peninggalan portugis di indonesia, kebijakan portugis di indonesia, tujuan portugis datang ke indonesia, rute perjalanan portugis ke indonesia

Di sisi lain Portugis di Maluku harus menghadapi musuh lokal yang semakin bertambah. Pada tahun 1601 M, armada laut Portugis yang berkekuatan 30 kapal dipimpin Andre Hurtado de Mendoca menyerang kapal-kapal Belanda di pantai Ambon. Hal ini dilakukan dengan harapan bahwa setelah menghancurkan Belanda di kepulauan itu penduduk hanya akan diperbolehkan berdagang dengan Portugis saja, namun usaha ini menemui kegagalan. Karena tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkan, bangsa Portugis menuju ke Hiton, ibukota Ambon yang kemudian membantai semua penduduk kota, menebang seluruh pohon cengkeh dan juga memperkuat benteng pertahanan mereka di sana.


Di tahun yang sama, terbentuk persekutuan anti-Portugis antara VOC dan penduduk Hitu di Ambon yang memang sejak pertengahan abad ke-16 menolak monopoli dagang Portugis di Kepulauan itu. Dari persekutuan antara Hitu dan VOCVOC mendapat imbalan berupa pembeli tunggal rempah-rempah dari Hitu. Pada 23 Februari 1605 M, kapal-kapal VOC mulai melakukan penyerangan terhadap kubu pertahanan Portugis di Ambon. Benteng pertahanan Portugis pun diserang bertubi-tubi dan berhasil dijebol. 


Dua hari kemudian, Portugis yang diwakili Gaspar de Mello menyerahkan benteng Portugis tanpa perlawanan kepada VOC. Menyerahnya Portugis kepada VOC menegaskan bahwa pasukan Portugis harus keluar dari wilayah Kepulauan Maluku dan bagi mereka yang ingin tetap tinggal di Maluku harus bersumpah setia kepada Belanda. Seorang gubernur berbangsa Belanda diangkat untuk memerintah di sana atas nama Staten Generaal (parlemen Kerajaan Belanda).


Pada tahun 1606 M juga pecah perang antara VOC dengan Portugis di Malaka. Pada penyerangannya yang pertama dalam menyerbu Malaka, armada Belanda  menemui kegagalan, namun penyerangan itu telah berhasil menyebabkan Armada Portugis yang dipimpin oleh Alfonso de Castro mengalami kerusakan parah. 


Peperangan yang terjadi antara VOC dengan Portugis pun juga terjadi di Nusa Tenggara Timur. Misionaris Portugis pun juga sampai di Nusa Tenggara Timur di bawah Ordo Dominikan dan mendirikan sebuah benteng di sebuah pulau yang diberi nama Solor. 


Selain melaksanakan penyebaran agama Katolik, para rohaniawan yang berasal dari Ordo Dominikan juga berdagang kayu Cendana. Keberhasilan para rohaniawan Katolik dalam perdagangan kayu cendana itu menyebabkan Portugis mengeluarkan pernyataan bahwa kayu cendana adalah monopoli Portugis. Namun, VOC berhasil merebut benteng di Pulau Solor itu pada 1613 M sehingga monopoli Portugis terhadap kayu cendana berhasil digagalkan.


Setelah kegagalan dalam penyerangan yang pertama terhadap Portugis di Malaka pada tahun 1606 M, Belanda sekali lagi menjalin kesepakatan dengan Kerajaan Johor untuk menyerang Malaka. Kesepakatan itu menghasilkan pasukan gabungan untuk menyerang hegemoni Portugis di Malaka. Pada bulan Juni 1640 M armada Belanda di bawah pimpinan Laksamana Villmsona Kartek yang dibantu oleh Kerajaan Johor mulai mengepung benteng Portugis di Malaka. 


Koalisi antara Belanda-Johor untuk mengalahkan Portugis menuai keberhasilan. Malaka yang menjadi benteng terakhir kekuatan Portugis telah dikuasai sekaligus mengakhiri pengaruh Portugis di Kepulauan Nusantara. Sesuai dengan kesepakatan dengan Kerajaan Johor pada 1606 M, pihak Belanda berhak mengambil alih pemerintahan Malaka dan setuju untuk tidak menuntut wilayah atau berperang dengan kerajaan-kerajaan di Semenanjung Tanah Melayu. 

Berakhirnya peperangan di Malaka antara VOC dengan Portugis yang dimenangkan oleh VOC, maka berakhir pula-lah dominasi dan monopoli Portugis di Kepulauan Nusantara.


Penjajahan Portugis di Indonesia: Peninggalan Bangsa Portugis 


Aktivitas perdagangan rempah-rempah yang dilakukan oleh bangsa Portugis rupanya membawa keuntungan bagi penduduk setempat terutama Maluku dimana berbagai macam bahan kain dari India dan Cina serta berbagai barang lainnya mengalir dari Malaka ke Maluku. Selain itu, perdagangan juga membawa dampak lain seperti, penyebaran agama (terutama Katolik), seni dan berbagai produk budaya material lainnya.


Bangsa Portugis yang menetap lama di Kepulauan Nusantara terutama di kota-kota pelabuhan pun menikah dengan perempuan setempat. Keturunan mereka membentuk masyarakat baru yang dinamakan Meztizo. Melalui keluarga-keluarga hasil perkawinan itulah kebudayaan Portugis menyebar di berbagai kota-kota pelabuhan.


Berkembangnya bahasa Portugis campuran juga digunakan oleh para budak belian yang terdapat di kota-kota pelabuhan itu. Dalam kasus di India, orang India yang menjadi budak menduduki tangga kasta yang paling rendah dalam masyarakat India. Akan tetapi, mereka dapat meninggalkan status budaknya dengan menjadi penganut ajaran Katolik. 


Kelompok sosial baru itu menamakan dirinya golongan Mahardika dan tidak terkait dengan status kasta semula. Selain itu Portugis juga meninggalkan kebudayaannya berupa busana, kesenian, serta makanan kecil, tidak terkecuali pula peninggalan bangunan berupa gereja dan benteng. Bagaimana? cukup panjang ya deskripsi di atas semoga artikel tentang penjajahan Portugis di Indonesia ini dapat membantu...