Perang Aceh Melawan Belanda - ABHISEVA.ID

Perang Aceh Melawan Belanda

Sejarah Perang Aceh


Perang Aceh - Perang Aceh dimulai ketika penandatanganan Traktat Sumatra antara Inggris dan Belanda pada tahun 1871 yang membuka kesempatan kepada Belanda untuk mulai melakukan intervensi ke Kerajaan Aceh. Belanda menyatakan perang terhadap Kerajaan Aceh karena Kerajaan Aceh menolak dengan keras untuk mengakui kedaulatan Belanda.


Latar Belakang Terjadinya Perang Aceh


Semenjak berhasil dikuasainya daerah Sibolga, daerah pedalaman Tapanuli dan Tanah Batak oleh Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda pada tahun 1830-an, sesungguhnya ancaman Belanda terhadap Aceh mulai secara jelas terlihat. Selain itu, perlu diketahui sejak mangkatnya Sultan Iskandar Muda sebagai penguasa Kerajaan Aceh, daerah-daerah di luar Aceh Besar yang dikuasai oleh para uleebalang memiliki kemerdekaan yang sangat besar. Hal ini disebabkan oleh melemahnya kekuasaan ditingkat pusat.

Melemahnya kekuatan pusat dan kebebasan di daerah luar Aceh Besar menyebabkan secara perlahan Belanda mulai menanamkan pengaruhnya di dalam lingkungan Kerajaan Aceh. Daerah Singkil, Barus, Trumon, Serdang dan Asahan mulai dipengaruhi oleh aktivitas-aktivitas Belanda. Keberanian Belanda melakukan infiltrasi ini disebabkan oleh sikap Inggris yang pasif, sehingga memberikan peluang bagi Belanda untuk lebih masuk ke dalam lingkungan Kerajaan Aceh.

Dengan pernyataan dari Kerajaan Siak pada 1 Februari 1859 yang menyatakan diri sebagai wilayah kekuasaan Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda, menyebabkan daerah-daerah yang berada di bawah pengaruh Kerajaan Siak, seperti Deli, Asahan, Kampar dan Indragiri juga menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda. Padahal, secara hukum daerah-daerah tersebut berada di bawah perlindungan Kerajaan Aceh.

Dengan terpojoknya Kerajaan Aceh di sisi barat dan timur oleh Belanda, maka Belanda dengan mantap mempersiapkan diri untuk mendeklarasikan perang terhadap Aceh. Adapun faktor utama yang menyebabkan terjadinya Perang Aceh adalah:


1. Aceh adalah negara merdeka dan kedaulatannya masih diakui penuh oleh negara-negara Barat. Dalam Traktat London 17 Maret 1824, Inggris dan Belanda menandatangani perjanjian mengenai pembagian wilayah jajahan di Indonesia dan Semenanjung Malaya. Dalam hal tersebut Belanda tidak dibenarkan mengganggu kemerdekaan negara Aceh. Namun Belanda selalu mencari alasan untuk menyerang Aceh dan menguasainya.


2. Berdasarkan Traktat Sumatera, 2 November 1871, pihak Belanda oleh Inggris diberi kebebasan memperluas daerah kekuasaannya di Aceh. Sedangkan Inggris mendapat kebebasan berdagang di Siak. Hal ini mengganggu ketenangan Aceh, untuk itu Aceh mempersiapkan diri mengadakan perlawanan.


3. Semakin pentingnya posisi Aceh dengan dibukanya Terusan Suez pada tahun 1869. Lalu lintas pelayaran di Selat Malaka semakin ramai semenjak Suez dibuka dan Aceh merupakan pintu gerbang ke Selat tersebut.


4. Aceh menolak mengakui kedaulatan Hindia Belanda atas kesultanan Aceh. Maka tanggal 26 Maret 1873 pemerintah Kolonial Belanda mengumumkan perang terhadap Aceh.


Kerajaan Aceh sendiri memahami betul akan adanya ancaman dari Belanda dan Belanda telah mempersiapkan diri untuk melakukan penyerangan terhadap Aceh. Namun, menjelang terjadinya Perang Aceh, Aceh tidak memiliki pemerintahan pusat yang cukup kuat. Kekuasaannya berpencar-pencar sebanyak negeri-negeri (nanggroe) wilayahnya. Perang antar-wilayah sering kali terjadi yang menyebabkan instabilitas politik Kerajaan Aceh. Pada kondisi seperti ini, sultan harus menyelesaikan permasalahan antar-negeri itu. Ketidakharmonisan hubungan yang terjadi antar-uleebalang merupakan cerminan dari kurangnya wibawa Sultan Aceh.


Sebagai upaya untuk mempersiapkan diri dari ancaman Belanda, Sultan Aceh mulai mengadakan hubungan dengan negara-negara lain untuk mencari bantuan. Pada bulan Januari 1873, Habib Abdurachman dikirim ke Turki untuk meminta bantuan apabila sewaktu-waktu Belanda melakukan penyerangan. Kemudian sebuah utusan yang dipimpin oleh Teuku Panglima Muhammad Tibang (Panglima Masjid Raya) dikirim kepada residen Hindia-Belanda di Riau untuk menyampaikan pesan bahwa maksud orang Belanda untuk mengirimkan utusan menghadap Sultan Aceh agar ditangguhkan sampai Sultan mengadakan hubungan dengan Turki.


Utusan Aceh ini dalam perjalanan pulang diantar oleh kapal perang Hindia-Belanda yang bernama Murnix dan singgah di Singapura. Kesempatan ini digunakan oleh utusan Aceh untuk menemui konsul Italia dan konsul Amerika Serikat yang ada di Singapura.


Melalui konsulnya di Singapura, pemerinah Hindia-Belanda mengetahui bahwa konsul-konsul Amerika Serikat dan Italia bersedia untuk membantu Aceh. Hal ini tentu menjadi berita yang mengkhawatirkan bagi Belanda yang tidak menginginkan adanya campur tangan bangsa lain dalam masalah Aceh. Terlebih, terdengar kabar militer Amerika Serikat akan tiba di Aceh pada awal bulan Maret 1873. Akibatnya, Menteri Jajahan yang berada di negeri Belanda pada tanggal 18 Februari 1873 memerintahkan kepada Gubernur Jenderal London yang berada di Batavia agar mengirimkan kapal dengan pasukan yang kuat menuju ke Aceh.


Setelah diadakan perundingan maka diputuskan bawha Komisari Pemerintah Hindia-Belanda untuk Aceh, F. N. Nieuwenhuysen, akan berangkat ke Aceh dengan membawa dua buah kapal perang lengkap dengan pasukannya. F. N. Nieuwenhuysen berangkat pada 7 Maret 1873 dengan kapal perang yang bernama Citadel van Antwerpen dan satu buah kapal Siak. Dari Pulau Pinang, F. N. Nieuwenhuysen mendapatkan bantuan sebanyak dua kapal lagi yang bernama Murnix dan Corhorn.


Pada 22 Maret 1873 penduduk Aceh yang berdiam di tepi Pantai Bandar Aceh melihat empat buah kapal Belanda melemparkan sauhnya. Tidak lama kemudian datang juru bahaya Belanda bernama Said Tahir menghadap Sultan Muhammad Daud Syah untuk menyampaikan surat Komisaris F. N. Nieuwenhuysen yang berisi permintaan pengakuan kedaulatan oleh Kerajaan Aceh atas Pemerintahan Hindia-Belanda. Sultan Muhammad Daud Syah yang tidak menyetujui takluknya Kerajaan Aceh, tidak memberi tanggapan begitu pula dengan surat-surat selanjutnya yang berisi kurang lebihnya sama. 




Tokoh Penting dalam Perang Aceh


1. Tengku Cik Ditiro


Tengku Cik Ditiro dilahirkan pada 1836 dengan nama kecilnya Muhammad Saman. Beliau adalah seorang pahlawan nasional dari Aceh, Tengku Cik Di Tiro lebih dikenal dengan angkatan perang sabilya. Karena ketangguhan para pasukannya, maka di tahun 1881 benteng Belanda di Indrapura berhasil direbut, kemudian jatuh pula benteng Lambaro, Aneuk Galong, dll. Tengku Cik Ditiro meninggal diracun oleh seorang wanita yang memasukkan racun ke dalam makanannya. Sehingga beliau menderita sakit dan meninggal dunia di benteng Aneuk Galong pada bulan Januari 1891.


2. Teuku Umar


Teuku Umar lahir di Meulaboh, pada 1854. Ia adalah suami dari Cut Nyak Dhien. Teuku Umar adalah salah satu pemimpin pasukan di bawah panglima besar Teungku Cik Ditiro. Beliau merupakan pahlawan yang mencetuskan adanya Perang Aceh melawan pemerintahan Belanda pada masa itu. Teuku Umar tertembak dalam pertempuran dinihari 11 Februari 1899. 


3. Cut Nyak Dien


Cut Nyak Dien lahir pada tahun 1848 di Aceh. Cut Nyak Dhien adalah istri Teuku Umar. Sepeninggal Teuku Umar, Cut Nyak melanjutkan perjuangan melawan pasukan kolonial Belanda di pedalaman Meulaboh, Aceh Barat. Setelah ditangkap Belanda, Cut Nyak Dhien diasingkan ke Sumedang dan meninggal disana.


4. Cut Nyak Meutia


Cut Nyak Meutia dilahirkan di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, tahun 1870. Cut Meutia wafat di Alue Kurieng, Aceh, 24 Oktober 1910.


Awalnya Tjoet Meutia melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Namun pada bulan Maret 1905, Tjik Tunong berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, Teuku Tjik Tunong berpesan kepada sahabatnya Pang Nanggroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya Teuku Raja Sabi.


Tjoet Meutia kemudian menikah dengan Pang Nanggroe sesuai wasiat suaminya dan bergabung dengan pasukan lainnya di bawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Pada suatu pertempuran dengan Korps Marechausee di Paya Cicem, Tjoet Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan. Pang Nagroe sendiri terus melakukan perlawanan hingga akhirnya tewas pada tanggal 26 September 1910.


Tjoet Meutia kemudian bangkit dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukkannya. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara. Namun pada tanggal 24 Oktober 1910, Tjoet Meutia bersama pasukkannya bentrok dengan Marechausee di Alue Kurieng. Dalam pertempuran itu Tjoet Njak Meutia gugur


5. Teuku Nyak Arief


Teuku Nyak Arief lahir pada tanggal 17 Juli 1899 di Banda Aceh. Beliau merupakan orator ulung yang gencar melakukan gerakan bawah tanah sejak usia muda. Teuku Nyak Arief juga rela mengorbankan harta bendanya untuk membiayai kebutuhan selama terjadi peperangan. Dengan semangat juang yang tinggi beliau banyak melakukan gerakan di bidang politik dan pendidikan hingga membantu anak tidak mampu yang cerdas untuk mengenyam pendidikan. Pada 3 Oktober 1945 pemerintah mengangkat Teuku Nyak Arief sebagai residen Aceh (sekarang setara dengan Gubernur), dan beliau wafat pada tanggal 4 Mei 1946.


6. Teuku Muhammad Hasan


Tokoh Aceh lainnya yang juga memberikan kontribusi saat Perang Aceh adalah Teuku Muhammad Hasan. Beliau lahir di Pidie, Aceh pada 4 April 1906. Beliau merupakan pejuang kemerdekaan indonesia dan menjadi gubernur Sumatera utara yang pertama setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan. Teuku Muhammad Hasan menempuh pendidikan di Belanda, dan saat pulang ke tanah air beliau aktif bergerak di berbagai bidang terutama bidang pendidikan. Beliau wafat di Jakarta pada tanggal 21 September 1997.


Jalannya Perang Aceh Melawan Belanda


Sebelum pernyataan perang, Aceh sudah menaruh kecurigaan, sehingga Aceh membangun kuta, semacam benteng di sekitar pantai Aceh besar, dan daerah yang penting seperti istana Sultan, gunongan, dan Masjid Raya Baiturrachman juga diperkuat. Aceh juga telah menyiapkan pasukan untuk bersiaga dan mengumpulkan persenjataan yang cukup banyak. 


Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Said Tahir atau Sidi Tahil dan Teuku Meuraksa, uleebalang yang memihak kepada Belanda, sekitar 3.000 orang laskar pejuang Aceh telah bersiaga disepanjang pantai dan 4.000 orang bersiap mempertahankan istana. Walaupun persenjataan Kerajaan Aceh tidak sekuat pada masa Sultan Iskandar Muda, namun persenjataan yang berhasil dikumpulkan cukup besar. Sepanjang bulan Agustus 1872 sampai dengan Maret 1873 telah berhasil dikumpulkan sebanyak 5.000 peti mesiu dan 1.394 peti senapan yang 5000 pucuk diantaranya berasal dari Penang.


Senapan-senapan dan mesiu yang dimasukkan ke Aceh dari Bandar Penang adalah hasil usaha dari pemimpin-pemimpin Aceh yang berada di luar negeri. Mereka memahami dan menyadari adanya bahaya yang mengancam negerinya. Beberapa tokoh yang memiliki peran besar mempersiapkan Kerajaan Aceh menghadapi Belanda diantaranya adalah Teuku Paya, Teuku Ibrahim, dan Nyak Abas memprakarsai  membentuk sebuah dewan yang diketuai oleh Teuku Ibrahim pada September 1873. Selain ketiga tokoh itu, juga terdapat nama-nama seperti Nyak Abu, Panglima Perang Haji Yusuf, Gullahmeidin, Umar, dan Shaikh Kassim.


Walaupun Belanda telah mendapatkan laporan tentang kekuatan Aceh, Belanda merasa bahwa Aceh akan dengan mudah dapat mereka taklukan. Namun, anggapan itu ternyata meleset. Perekonomian dan kewibawaan pusat Kerajaan Aceh memang telah merosot, namun semangat juang rakyat Aceh yang dilatarbelakangi oleh kecintaan terhadap tanah air, agama, dan kemerdekaannya membuat Belanda harus larut dalam peperangan jangka panjang dengan Aceh.


Pada 5 April 1873, Belanda mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh Mayor Jenderal J.H.R. Kohler untuk menyerbu Aceh dengan kekuatan sebanyak 3000 orang. Kedatangan pasukan Belanda itu segera disambut oleh para pejuang Aceh, Sehingga pertempuran dahsyat terjadi di pantai sebelah barat daya kota Pantai Cermin. Pada pertempuran tersebut, Belanda megeluarkan meriam yang membuat para pejuang Aceh harus mengundurkan diri dalam pertempuran tersebut. Dengan mundurnya para pejuang Aceh, maka kuta yang terletak di Pantai Cermin itu berhasil dikuasai oleh Belanda.



Masjid Baiturrachman yang termasuk tempat penting pun dijaga dan diperkuat pertahanannya oleh para pejuang Aceh. Tentara Belanda kemudian mengirim 40 orang pasukan untuk menyerang, namun serangan ini berhasil digagalkan oleh para pejuang Aceh. Setelah kegagalan itu, Belanda segera mengerahkan induk pasukannya dan terjadi pertempuran sengit diantara kedua belah pihak. Para pejuang Aceh yang dengan gigih mempertahankan Masjid Baiturrachman sehingga memaksa kedua belah pihak sampai pada perkelahian satu lawan satu di mana persenjataan seperti meriam dan bedil pun nampak tidak berguna. Karena kuatnya tekad pertahanan pejuang Aceh, maka serangan Belanda berhasil digagalkan dan memaksa Belanda untuk mundur.


Namun, Belanda kembali menyerbu Masjid Baiturrachman dan meluncurkan peluru api ke atas masjid yang terbuat dari ijuk, sehingga masjid itu terbakar. Pada tanggal 14 April 1873, para pejuang Aceh dengan terpaksa meninggalkan Masjid Baiturrachman, sehingga masjid berhasil diduduki Belanda. Tetapi, Jenderal Kohler terbunuh saat sedang memeriksa masjid tersebut oleh seorang prajurit Aceh. Dengan jatuhnya masjid ini, kekuatan pun dipusatkan ke istana Sultan Mahmud Syah. Masjid Baiturrachman pun dijadikan sebagai pusat pertahanan serdadu Belanda.


Dengan jatuhnya Masjid Baiturrachman ke tangan Belanda, kekuatan pasukan Aceh kini berkonsentrasi di istana Sultan Mahmud Syah. Selain itu, pasukan Aceh yang lain juga telah dipersiapkan untuk menyerang tentara Belanda. Kekuata pasukan laskar pejuang Aceh semakin bertambah besar. Beberapa tokoh pun bergabung dengan laskar pejuang Aceh, diantaranya adalah Panglima Polem Cut Banta, Panglima Sagi I Mukim, Teuku Imam Luengbata dan Imam dari Mukim Igbata. Mereka segera mempersiapkan pasukan masing-masing yang telah diperlengkapi dengan persenjataan.


Pada 16 April 1873, Belanda meninggalkan kubu pertahanannya di Masjid Baiturrachman untuk menyerbu istana. Di dalam penyerangan ini terjadi pertempuran sengit diantara kedua belah pihak. Namun, pasukan aceh dapat memukul mundur Belanda yang menyebabkan 9 perwira dan 116 serdadu belanda meninggal. Hal ini menyebabkan Belanda harus kembali ke Masjid Baiturrachman. Atas persetujuan pemerintahannya di Batavia, pasukan Belanda pun meninggalkan pantai Aceh pada tanggal 29 April 1873. Dengan perginya tentara Belanda ini, maka serangan Belanda terhadap Aceh yang pertama ini telah menemui kegagalan.


Meskipun berhasil memenangkan pertempuran, laskar pejuang Aceh tidak mengurangi kewaspadaan akan serbuan kedua, Aceh berusaha memperkuat wilayahnya. Sebelum serangan selanjutnya dilakukan, Belanda mengadakan blokade terhadap Aceh. Namun, banyak pedagang yang memprotesnya sehingga Belanda pun mengizinkan pedagang yang berasal sari semenanjung Malaka untuk berdagang, tetapi tetap tidak boleh ada pemasukkan persenjataan ke Aceh, nyatanya pelanggaran itu sering terjadi sehingga dapat dikatakan blokade Belanda terhadap Aceh ini tidak berjalan dengan baik.


Pada 9 Desember 1873, Belanda menyerbu Aceh secara besar-besaran dengan jumlah 2.000 orang lebih besar dibandingkan dari penyerangan yang pertama pada bulan April 1873. Pasukan Belanda ini dipimpin oleh pensiunan, Jenderal van Swieten. Pemerintah Hindia-Belanda terpaksa memanggilnya kembali karena beratnya Perang Aceh. Tugas utama Jenderal van Swieten adalah untuk menyerang dan merebut istana. Jenderal van Swieten juga diberikan wewenang untuk mengadakan perjanjian dengan Sultan. Selain menjadi panglima, Jenderal van Swieten juga diangkat sebagai Komisaris Pemerintah HIndia-Belanda.


Pasukan Belanda itu kemudian melakukan pendaratan di Kuala Lue, Aceh Besar. Para Pejuang Aceh sendiri telah mengetahui bahwa pendaratan itu bertujuan untuk merebut istana. Di Gigieng laskar pejuang Aceh menyambut kedatangan tentara Belanda itu dengan perlawanan sengit. Namun, karena kapal-kapal Belanda di lautan juga melakukan tembakan meriam, membuat laskar pejuang Aceh harus mundur ke istana. 


Di istana Sultan Mahmud Syah, laskar pejuang Aceh memperkuat pertahanan. Jenderal van Swieten meyakini apabila istana Kerajaan Aceh berhasil direbut, maka perlawanan rakyat Aceh pasti akan usai.  Namun, lagi-lagi dugaan itu salah, yang terjadi justru sebaliknya, dengan jatuhnya istana maka akan mendorong laskar Aceh untuk berjuang lebih keras lagi.


Sebelum tentara Belanda menuju istana, bantuan laskar Aceh mulai mengalir dari berbagai pihak untuk memperkuat pertahanan istana. Uleebalang Pidie mengirimkan tentaranya sebanyak 1.500 orang, Mukim XXII di Aceh Besar mengirimkan 500 orang dan Teuku Cik Peusangan dari Aceh Utara mengirimkan 1.000 orang menuju ke Kuala Cangkul. 


Selain pertempuran yang terjadi di istana Sultan Aceh, pertempuran juga terjadi di Masjid Baiturrachman yang telah berhasil kembali dikuasai oleh laskar Aceh setelah mundurnya tentara Belanda pada bulan April 1873. Panglima Polem dan pasukannya yang bertahan di Peukam Aceh menyerang tentara Belanda yang berusaha untuk menyerang Masjid Baiturrachman. Pertempuran pun memuncak di area Masjid Raya Baiturrachman. Namun, karena bala bantuan Belanda terus berdatangan, dengan terpaksa laskar Aceh meninggalkan Masjid Raya. Setelah Masjid Raya berhasil dikuasai, maka Belanda bersiap mengkonsentrasikan pasukannya untuk melakukan penyerbuan besar-besaran terhadap istana.



Pada akhir bulan Januari 1874, pertempuran hebat terjadi di istana Sultan. Namun, pada tanggal 24 Januari 1874, istana berhasil dikuasai oleh Belanda. Namun, Sultan Mahmud Syah beserta keluarganya berhasil melarikan diri ke Leunbata di mana di sana sudah bersiap tentara Aceh untuk melindungi sultan dan keluarganya. Dengan berhasilnya Sultan Aceh melarikan diri, maka usaha Jenderal van Swieten menangkap sultan menemui kegagalan.


Di Leunbata ini, Sultan Mahmud Syah bertekad untuk meneruskan perlawanan terhadap Belanda. Namun, sultan meninggal pada tanggal 28 Januari 1874 karena diserang wabah kolera. Sehingga Panglima Polem dari Sagi XXII Mukim, Cut Banta dari Sagi XXV, dan Cut Lamreureng dari Sagi XXVII Mukim, sepakat memilih putra Sultan, Muhammad Daud Syah, sebagai pengganti sultan. Karena Sultan Muhammad Daud Syah baru berusia 6 tahun, ia akan dibantu oleh sebuah Dewan Mangkubumi yang diketuai oleh Tuanku Hasyim. Pusat kesultanan kemudian ditetapkan di Indrapuri.


Dengan keberhasilan menguasai istana, pada 31 Januari 1874 Jenderal van Swieten kemudian memproklamasikan bahwa telah menaklukkan Aceh dan wilayah Aceh Besar telah menjadi milik Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda. Meskipun istana telah berhasil dikuasai dan Aceh Besar telah dideklarasikan milik Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda, ternyata tidak menyurutkan perlawanan rakyat Aceh. Rakyat Aceh yang dipimpin oleh para pemuka agama dan para uleebalang melanjutkan perlawanan dengan cara bergerilya.


Meskipun perlawanan laskar Aceh meningkat, namun tidak sedikit pula orang-orang Aceh yang berpihak kepada Belanda. Salah satunya adalah penduduk di daerah Meuraksa yang bersikap berdamai dengan Belanda. Pemimpin Meuraksa, Teuku Ne'Neurak cenderung berdamai dan tidak menunjukkan sikap bermusuhan dengan Belanda. Hal ini disebabkan oleh kesulitan dan penderitaan yang dihadapi oleh penduduk Meuraksa sebagai akibat dari blokade yang dilakukan oleh kapal-kapal Belanda. Sikap penduduk Meuraksa ini telah menimbulkan kekesalan bagi para pejuang-pejuang Aceh yang menyebabkan daerah Meuraksa tidak luput dari penyerangan-penyerangan yang dilakukan oleh para pejuang Aceh.


Dalam kondisi tahun 1874 ini, meskipun Belanda berhasil menguasai istana Sultan Aceh yang lama dan daerah-daerah yang dikuasai oleh tentara Belanda, namun sebagian besar wilayah masih dikuasai oleh para pejuang Aceh. Pada bulan April 1874, Jenderal van Swieten digantikan oleh Jenderal Pel. Jenderal Pel kemudian mulai membangun pos-pos pertahanan sebanyak 38 pos yang tersebar di Kutaraja, Krueng Aceh dan Meuraksa dengan berkekuatan 2.750 tentara dari seluruh pos itu.  Pos-pos ini bertujuan sebagai garis pembendung (afsluitings linie). Sedangkan di pihak pejuang Aceh semakin memperkuat kuta-kuta mereka.


Jalan Belanda nampaknya dalam Perang Aceh seolah dipermudah dengan banyaknya para uleebalang yang mengadakan perdamaian dengan Belanda dan mengakui kekuasaan Belanda sepanjang bulan April 1874. Beberapa uleebalang yang mengakui kekuasaan Belanda tersebar di daerah Aceh Barat, Aceh Utara, Aceh Timur dan beberapa tempat lainnya. Meskipun demikian, uleebalang itu tidak sepenuhnya tunduk kepada Belanda dan ini yang juga disadari oleh Belanda bahwa tidaklah dengan mudah menguasai Aceh.


Para uleebalang yang berdamai dengan Belanda sesungguhnya didasari pada faktor ekonomi akibat blokade kapal-kapal Belanda. Mereka berdamai dengan Belanda agar perdagangan dapat berjalan lagi. Namun, seringkali kondisi ini dimanfaatkan untuk melakukan penyelundupan senjata dan amunisi yang didatangkan dari luar negeri Aceh bagi kepentingan para pejuang Aceh menghadapi Belanda.


Sepanjang tahun 1874-1877 para pejuang Aceh tetap melakukan perlawanan terhadap kedudukan pasukan Belanda di berbagai tempat. Penyerangan yang dilakukan oleh para pejuang Aceh dilakukan secara gerilya. Sebab, meskipun penyelundupan senjata tetap berjalan dengan lancar, namun senjata-senjata itu tidak mampu menandingi persenjataan Belanda. Peperangan itu semakin sulit bagi Belanda karena Belanda tidak mengenal medan pertempuran dan hanya mampu bertahan di benteng-benteng yang mereka bangun. Terlebih lagi, rakyat Aceh juga memberikan dukungan yang sangat besar bagi para pejuang Aceh untuk menghadapi Belanda sehingga Belanda berada dalam posisi yang sulit.


Penyerangan yang dilakukan oleh para pejuang Aceh semakin meningkat dengan pulangnya Habib Abdurrachman dari Turki pada tahun 1877. Habib Abdurrachman kemudian berunding dengan Teungku Cik Ditiro dan Imam Leungkata dari Pidie untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan strategi perang. Penyerngan yang dilakukan oleh Habib Abdurrachman terutama bertujuan untuk mengacaukan dan memperlemah pos-pos Belanda yang merupakan garis pembendung yang melingkar antara Kreung Raba, Lambaroh, Uleekarang dan Klieng. Para pejuang Aceh juga berusaha untuk menghambat kemajuan dan membatasi ruang gerak pasukan Belanda dengan melakukan pencegatan terhadap konvoi pasukan Belanda, membakar gudang persenjataan di pendeti, serta melakukan perusakan terhadap jembatan.


Pasukan Aceh yang dipimpin oleh Teungku Cik Ditiro menyerang kubu pertahanan Belanda yang berada di Gigieng dan Raja Samalanga, sedangkan Teuku Ci'Bugis memimpin perlawanan di medan pertempuran di Aceh Besar.  Pada 8 Agustus 1877 tentara Belanda yang dipimpin Kolonel van den Heijden secara besar-besaran menyerang daerah Samalanga. Selain melalui darat, tentara Belanda juga menyerang dari laut dengan jumlah 17 kapal perang dan mendarat di Pengilit Baroh. Dalam pertempuran sengit itu, menyebabkan banyak sekali korban tewas pada pertempuran di Samalanga dan Pengilit Baroh. 


Dapat dikatakan bahwa sepanjang tahun 1878 kegiatan perlawanan yang dilakukan oleh para Pejuang Aceh semakin besar. Pertempuran demi pertempuran pun terjadi antara pasukan Habib Abdurrachman dengan pasukan Belanda di Blang Ue, Peukan Badak dan Bukit Sirun. Selain itu juga terjadi pertempuran di Lembah Beradin, Manta Candu, dan Gle Taron. Perlawanan yang dilakukan oleh Habib Abdurrachman ini sangatlah menyulitkan bagi Belanda. Namun, Kolonel van der Heijden juga mampu menguasai daerah Sunaloh, Anseen Batee, Aneu'Galong dan Montasik. 


Pada 13 Oktober 1878, Habib Abdurrachman menyerah kepada Belanda dan mengakibatkan kekuatan Aceh pun menurun.  Selain menyerahnya Habib Abdurrachman, tersiar kabar bahwa Teuku Muda Baid, kepala mukim VII Baid juga menyerah kepada Belanda. Namun, setelah melihat kegigihan rakyat Aceh, Ia pun berontak dan meningkatkan perlawanannya kepada Belanda. Dalam suatu pertempuran, ia berhasil tertangkap lalu diasingkan ke Banda.


Sementara itu, Teungku Cik Ditiro masih tetap melakukan perlawanan. Daerah pertahanannya tersebar di wilayah Pidie. Keberadaan Teungku Cik Ditiro dan pasukannya tidak pernah membuat Belanda benar-benar merasa nyaman. Laskar pejuang Aceh berkali-kali melakukan penyerangan terhada benteng-benteng Belanda, salah satunya adalah benteng Sigli yang diserang pada bulan April dan Mei 1878. Walaupun blokade ekonomi Belanda terhadap bandar Pidie diperketat, pengaruhnya terhadap semangat kuang laskar Aceh tidak besar.  Adanya blokade Belanda menyebabkan beras, barang-barang keperluan hidu lainnya serta senjata menjadi sulit masuk. Akan tetapi, dengan berbagai cara, para pejuang Aceh berhasil menembus blokade Belanda. 


Di Aceh Barat, perlawanan dipimpin oleh Teuku Umar yang dibantu istrinya, Cut Nyak Dien yang juga aktif dalam pertempuran. Awalnya pertempuran yang dilakukan oleh Teuku Umar hanya bertahan di kampung halamannya sendiri di Darat, namun kemudian meluas juga ke daerah Meulaboh.  Perlawanan yang dipimpin oleh Teuku Umar ini sangat menyusahkan Belanda, sehingga pada Februari 1878, Belanda menyerbu secara besar-besaran ke wilayah Darat.


Pertempuran di Darat pun terjadi antara pasukan Aceh yang dipimpin oleh Teuku Umar dengan pasukan Belanda. Oleh karena tentara Belanda menyerang dari darat dan laut, terpaksa Darat ditinggalkan. Teuku Umar dan pasukannya kemudian bergerak ke wilayah Aceh Besar dan melakukan penyerangan terhadap pos-pos Belanda dan memaksa Belanda meninggalkan beberapa posnya, termasuk pos Belanda di daerah Krueng.


Memasuki tahun 1880 situasi di Aceh masih tetap menyulitkan bagi Belanda. Perlawanan pejuang Aceh yang dibantu oleh rakyat dan peranan kaum uleebalang dan ulama Aceh telah membangkitkan semangat rakyat untuk melawan Belanda.  Taktik gerilya, dan sikap uleebalang yang merepotkan Belanda seperti berpura-pura berdamai, namun sering mengirimkan bantuan kepada para pejuang lainnya dan blokade Belanda yang nampaknya sia-sia. 


Berdasarkan pengeluaran biaya yang dikeluarkan oleh Belanda dalam Perang Aceh ini, sepanjang 1878-1880 telah menghabiskan 115 juta gulden. Jumlah itu menjadi 150 juta gulden hingga akhir tahun 1884. Belanda yang semakin merasa kesulitan, pada Agustus 1881, akhirnya mengadakan blokade yang ketat, seperti menutup seluruh pantai Utara Aceh mulai dari Ulee Lhene sampai ujung Diemant, mengawasi pelabuhan secara ketat seperti Ulee Lheue, Sigli Samalanga dan Lhokseumawe (Lho' Seumawe), dan memperkuat armada dengan 2 buah kapal lagi. 


Bagi pihak Aceh, blokade yang dilakukan Belanda ini tidaklah mengkhawatirkan, sebab orang-orang Aceh selalu berhasil menembus blokade yang dilakukan oleh Belanda. Selain itu, berkaitan dengan persenjataan, para pejuang Aceh telah mampu membuat senapan-senapan beserta dengan amunisinya sendiri. Sejak 1880-an kegiatan pembuatan senjata semakin ditingkatkan oleh para pejuang Aceh.



Meskipun telah berperang selama 10 tahun, kekuasaan Belanda di Aceh masih sangat lemah. Pada November 1883, kapal Inggris Nisero terdampar di Pantai Teumon. Raja Teumon dan Teuku Imam Muda kemudian menawan awak kapal beserta muatannya. Belanda menuntut agar awak kapal dibebaskan, namun harus memberi uang tebusan yang tinggi. Pada akhirnya, awak kapal itu dibebaskan dengan tebusan 100.000 dolar dan pembukaan kembali pelabuhan Teumon. Perisitiwa ini sangat menguntungkan pasukan Teuku Umar karena mendapatkan banyak muatan Belanda.


Pada tahun 1884 Sultan Muhammad Daud Syah yang telah mulai dewasa dengan dukungan Mangkubumi Tuanku Hasyim dan ulama, Teungku Cik Ditiro mulai memimpin Kerajaan Aceh yang berpusat di Keumala. Sultan Muhammad Daud Syah menyerukan agar perlawanan diteruskan dan untuk membiayai perlawanan ini Sultan Daud Syah melakukan pengumpulan harta benda. Seruan Sultan Muhammad Daud Syah ini semakin meningkatkan intensitas perlawanan pejuang Aceh.


Belanda sendiri hanya memusatkan perhatiannya pada daerah-daerah yang telah dikuasainya seperti di Kutaraja dan sekitarnya yang dinamakan "stelsel Konsentrasi". Dengan sistem ini, Belanda melakukan pengawasan wilayah sekitar Ulee Lheue dan Kotaraja dengan jalan membangun 16 pos penjagaan. Tiap-tiap pos itu dikelilingi oleh suatu daratan luas yang kosong tanpa pohon maupun rumah sejauh 1 km dan pos-pos itu dihubungkan dengan jaringan telepon dengan Kotaraja.


Selain itu, Belanda semakin menyadari bahwa untuk menghadapi perlawanan rakyat Aceh yang tersebar di berbagai daerah akan menyulitkan dan akan memakan lebih banyak biaya, maka kegiatan terhadap wilayah di luar Aceh Besar sedapat mungkin untuk dibatasi. Dengan cara ini Belanda dapat melakukan penghematan anggara biaya perang. 


Oleh karena strategi Belanda yang seperti itu, maka perlawanan di luar Aceh Besar tetap berkobar. Daerah XXVI Mukim Teuku Asan bersama dengan para pejuang lainnya seperti Nya'Bintang dan Teuku Usen melakukan serangan terhadap pos-pos pertahanan Belanda. Mereka juga melakukan penjegatan serta menyerang pasukan patroli yang mengawasi jalan-jalan penghubung antara pos-pos itu.


Di Aceh Timur perlawanan rakyat dipimpin oleh Nya'Makam. Daerah perlawanan itu meliputi wilayah Langkat dan Tamiang. Semua perlawanan itu telah menyulitkan Pemerintah Hindia-Belanda. Hal ini diperparah oleh kejadian pada 14 Juni 1886, Teuku Umar menyerang dan menyita kapal Hok Canton yang berlabuh di pantai Rigaih. Nakhoda kapal tersebut adalah orang Denmark yang dicurigai untuk menangkap Teuku Umar. Namun, awak kapal itu ditahan oleh Teuku Umar, lalu dibebaskan dengan upah 25.000 dollar dari Belanda. 


Perang Aceh ini sangatlah sulit untuk dimenangkan oleh Belanda dalam waktu singkat. Pemerintah Hindia-Belanda menyadari bahwa penaklukan Aceh dengan kekuatan senjata saja tidak akan pernah berhasil. Belanda kemudian menggencarkan usahanya untuk memikat pemimpin-pemimpin Aceh. Teuku Umar secara mengejutkan menyerah kepada Belanda pada tahun 1884. Namun, Teuku Umar hanyalah bertujuan untuk mengambil persenjataan dan mempelajari strategi Belanda saja, sehingga ia kembali melakukan perlawanan. Usaha-usaha Belanda lainnya pun dilakukan dengan mendekati pemuka-pemuka agama seperti Teungku Cik Ditiro, namun usaha itu juga tidak berhasil.





Belanda kemudian mencari cara untuk mengetahui rahasia kekuatan Aceh termasuk kehidupan sosial-budaya. Pemerintah Hindia-Belanda kemudian mengutus Dr. Snouck Hugronje yang paham tentang agama Islam untuk datang ke Aceh dengan nama samaran Abdul Gafur. Ia kemudian bertempat tinggal di tengah-tengah rayat di Peukan Aceh.


Berdasarkan hasil pengamatan Snouck Hugronje, terutama berdasarkan dari surat-surat yang ia terima dari Teungku Cik Ditiro, dapatlah diketahui keadaan yang sebenarnya. Meskipun telah menundukkan Sultan bukan berarti bahwa kepala-kepala daerah dengan sendirinya akan tunduk. Satu-satunya jalan yang baik untuk ditempuh adalah jalan memecah-belah kekuatan yang ada dalam masyarakat Aceh. Kaum ulama yang memimpin perlawanan harus dihadapi dengan kekuatan senjata. Di sampin itu, Belanda akan membuka kesempatan bagi bangsawan Aceh dan anak-anaknya untuk masuk ke dalam korps pamong praja dalam pemerintah kolonial.


Golongan bangsawan ini yang diharapkan oleh Belanda akan terikat pada Belanda dan menjadi terpisah dari golongan ulama. Sementara itu, perlawanan rakyat Aceh di daerah-daerah terus berlangsung. Teungku Cik Di Tiro sendiri meninggal pada awal 1891, perjuangannya dilanjutkan oleh anaknya yaitu Teungku Ma’Amin Di Tiro.  


Pada bulan Agustus 1893, lagi-lagi secara mengejutkan Teuku Umar tunduk kepada Belanda dan bersumpah setia. Selama Belanda bekerja sama dengan Teuku Umar, Belanda mendapat banyak sekali keuntungan. Banyak pos pertahanan para pejuang Aceh dapat direbut oleh belanda, baik pos-pos yang termasuk dalam Sagi XXV Mukim, Sagi XXVI Mukim, maupu beberapa pos yang berada di Sagi XXII Mukim. Meskipun demikian, masih terdapat kecurigaan terhadap Teuku Umar dari kalangan pembesar Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda.


Di sisi lain, kalangan pejuang Aceh mulai mempertanyai sikap Teuku Umar, termasuk Cut Nyak Dien, merasa khawatir oleh sikap Teuku Umar dan menganjurkan untuk melakukan perlawanan lagi ke Belanda. Sikap curiga dan hinaan dari Belanda kepada Teuku Umar menyebabkan pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar menyatakan keluar dari dinas militer Belanda dan balik lagi menemui teman-teman seperjuangannya seperti Panglima Polem, ulama di Tiro dan uleebalang yang telah menghentikan kerjasama dengan Belanda seperti Teuku Usen, Teuku Mahmud dan Teuku Cut Muhammad. 


Menjelang akhir abad 19, perlawanan rakyat Aceh tidaklah surut walaupun sudah berjalan sekitar 20 tahun dalam pertempuran. Banyak korban telah berjatuhan dikedua belah pihak. Berbagai macam strategi militer telah dilakukan oleh Belanda. Namun, itu semua tidak ada yang berujung pada keberhasilan. Dengan terpaksa alih-alih anjuran ahli militer yang diikuti, justru nasihat seorang ahli ilmu sosial-lah yang terpaksa untuk dituruti.


Akhir Perang Aceh


Sejak bulan mei 1898 Kolonel J.B. van Heutz menjadi guberunr sipil dan militer Belanda untuk wilayah Aceh menggantikan van Vliet. Rencana pertama van Heutz adalah untuk menyerang Pidie sebab ternyata para pemimpin pejuang Aceh berada di daerah itu seperti, Sultan Muhammad Daud Syah, Teuku Umar, dan Panglima Polem.


Pejuang Aceh yang dipimpin oleh Teuku Umar dan Panglima Polem sering kali mengadakan penyerangan terhadap pos-pos militer Belanda dan pasukan patroli Belanda. Selain itu, mereka juga mengadakan serangan ke sasaran-sasaran yang ada di Aceh besar sehingga tidak sedikit kerugian yang diterima oleh Belanda. Belanda pun mulai mengerahkan pasukan yang terdiri dari orang-orang Indonesia yang dipimpin oleh opsir-opsir Belanda yang disebut dengan Korps Marechausse. 


Kerena desakan musuh yang semakin kuat, banyak uleebalang yang menyerah. Namun, Teuku Umar tidak menyerah dan menyingkir ke Aceh Barat, sedangkan Panglima Polem ke Aceh Timur. Setelah tiba di Aceh Barat, Teuku Umar melakukan konsolidasi dan mempersiapkan besar-besaran ke Meulaboh. Namun, rencana itu dapat diketahui oleh Belanda. Pada 11 Februari 1899, Belanda menyerang markas Teuku Umar sehingga gugurlah Teuku Umar dan meninggalkan Cut Nyak Dien beserta pasukannya. 


Pada tahun 1906, Cut Nyak Dien tertangkap lalu dibuang ke Jawa Barat. Teuku Tapa daru Gayo tetap melakukan perang gerilya dengan menyerang pos-pos militer Belanda dan menguasai daerah-daerah yang sering dilalui pasukan Belanda. Sehingga beberapa pertempuran tetap terjadi seperti di Idi Cut, Teipin Btee dan Suneboh. 


Sementara itu, Panglima Polem dan Sultan Muhammad Daud Syah masih mengadakan pertempuran dengan cara berpindah-pindah tempat. Sehingga van Heutz hanyalah tinggal berfokus pada kedua pemimpin tersebut. Ketika mereka berada di Kutasawang, sejumlah pasukan Belanda datang menyerang sehingga pertempuran pun terjadi di tempat lainnya seperti di Peusangan, Geudong,dan Keureutue karena pasukan Belanda berusaha untuk menguasai daerah-daerah tersebut.  


Sultan Muhammad Daud Syah dan panglima Polem kemudian memindahkan pusat pertahanannya di Batee Illie. Rupanya pusat kedudukan pejuang Aceh ini dapat diketahui oleh Belanda. Pada bulan Februari 1901 datang serangan dari pasukan Belanda yang dipimpin oleh Jenderal van Heutz sendiri. Karena besarnya jumlah pasukan Belanda, Sultan Muhammad Daud Syah dan pasukannya terpaksa meninggalkan benteng pertahanannya setelah bertempur selama tiga hari tiga malam. Sultan Muhammad Daud Syah dan Panglima Polem akhirnya terpaksa menyingkir beserta pasukannya.


Di dalam penyingkiran itu, Istri Sultan Muhammad Daud Syah tertangkap oleh Belanda. Tambahan lagi tekanan-tekanan pihak Belanda mulai terasa semakin berat. Akhirnya, Sultan Muhammad Daud Syah terpaksa menyerah kepada Belanda. Sultan Muhammad Daud Syah sendiri meninggal pada 20 Januari 1903.


Setelah itu, Panglima Polem beserta istri dan anak-anaknya pun berhasil ditangkap. Panglima Polem beserta 150 pasukannya yang tersisa menyerah kepada Belanda pada September 1903. Dengan ditangkapnya Panglima Polem, perlawanan rakyat Aceh semakin melemah dan membuka jalan bagi Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda untuk menanamkan pengaruh kekuasaannya di seluruh wilayah Kerajaan Aceh. Meskipun dapat dikatakan sudah tidak lagi sebesar pada periode sebelumnya, perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda masih sering terjadi hingga abad ke-20.