Sejarah Perang Batak - ABHISEVA.ID

Sejarah Perang Batak

Sejarah Perang Batak


Perang Batak - Perang Batak berlangsung dari tahun 1878 sampai dengan tahun1907. Perang Batak dipimpin oleh Si Singamangaraja XII, yaitu “raja” terakhir dari tanah Batak, putra dari Si Singamangaraja XI. Memasuki tiga dasawarsa terakhir abad ke-19, Si Singamangaraja XI wafat dan digantikan oleh puteranya, Patuan Bosar Ompu Pulo Batu, dengan gelar Si Singamangaraja XII. 


Si Singamangaraja XII menganggap bahwa penetrasi politik Belanda dapat membahayakan Tanah Batak dan menggoyahkan kedudukannya. Oleh karena itu, sekitar tahun 1877 ia mengadakan kampanye militer untuk mengusir Belanda yang mencoba masuk ke Tanah Batak. Usaha ini mendapatkan respon dari pemerintah kolonial Belanda dengan menjawab pernyataan Perang terhadap Si Singamangaraja.

Batak merupakan nama kawasan dan sekaligus nama suku, Suku Batak. Ada beberapa kelompok Batak; misalnya ada Batak Toba, Batak Karo, Bataka Simalungun, Batak Mandailing, dan Batak Pakpak. Secara sosiologis, basis masyarakat Batak sebenarnya berada di daerah-daerah kompleks perkampungan yang disebut juga huta. Setiap kesatuan huta didiami oleh satu ikatan kekerabatan yang disebut marga. 


Dalam strukturnya, di atas huta atau gabungan dari beberapa huta terbentuk horja dan gabungan dari beberapa horja terbentuk bius. Kesatuan dari beberapa bius itu terbentuklah satu wilayah kerajaan, kerajaan masyarakat batak dipimpin oleh raja yang bergelar Si Singamangaraja. Pusat pemerintahannya di Bakkara (sebelah barat danau Toba). Sejak tahun 1870 yang menjadi raja adalah Patuan Bosar Ompu Pulo Batu yang bergelar Si Singamangaraja XII. Sisingamangaraja XII dinobatkan menjadi Raja Batak pada umur 19 tahun.


Secara sosiologis pula, Tanah Batak merupakan daerah yang masih menganut kepercayaan tradisional di mana pemimpin dianggap sebagai utusan Tuhan. Oleh karena itu, hal inilah yang memicu kemarahan Sisingamangaraja XII atas kedatangan pihak Belanda di Tanah Batak; di mana posisinya sebagai Raja Batak akan tergantikan dengan pemerintah kolonial Belanda. Sehingga, pada tahun 1878, Raja Sisingamangaraja XII pun angkat senjata memimpin rakyat Batak untuk melawan Belanda.


Perang Batak: Jalannya Peperangan


Perang Batak atau perang Tapanuli atau perang Sisinga Mangaraja dimulai dari tahun 1878 – 1907 yang terjadi selama 29 tahun. Perang Batak ini terjadi disebabkan kedatangan bangsa Belanda ke Batak. Daerah Batak ini terletak di sekitar Danau Toba, Sumatera Utara, Batak merupakan sebuah daerah yang tentram dan damai karena terhindar dari pertentangan dan ketegangan dan juga masyarakat disekitar  ini percaya kepada pemimpin mereka yang akan menjaga kesalamatan mereka semuanya.


perang batak, perang tapanuli, rakyat batak melawan belanda, sejarah perang batak, sejarah perang tapanuli, perlawanan sisingamangaraja XII terahadap Belanda

Pada saat perang, raja yang memimpin Batak adalah Sisingamangaraja XII yang memiliki nama asli Pantuan Besar Ompu Pulo Batu. Agama yang dianut oleh Sisingamangaraja XII adalah agama asli Batak. Namun sudah sejak zaman Belanda terdengar isu bahwa menjelang tahun 1880-an Sisingamangaraja memeluk agama Islam. Ia lahir di Bakkara, Batak, Sumatra Utara, 17 Juni 1849. 


Ayah dan Ibunya bernama Sisingamangaraja XI (Ompu Sohahuaon) dan Boru Situmorang. Ayahnya wafat pada tahun 1876, sehingga Sisingamangaraja XII dinobatkan menjadi penerus ayahnya di usia yang baru 19 tahun. Gelarnya adalah Sisingamangaraja XII. Sisingamangaraja berasal dari tiga kata, yaitu ‘si’, ‘singa’, dan ‘mangaraja’. ‘Si’ adalah kata sapaan, ‘singa’ merupakan bahasa Batak yang berarti bentuk rumah Baka, sedangkan ‘mangaraja’ sama maksudnya dengan kata ‘maharaja’. Jadi Sisingamangaraja berarti Maharaja orang Batak.


Pada abad ke-18 hampir seluruh daerah di Pulau Sumatra sudah dikuasai Belanda kecuali Aceh dan tanah Batak yang masih berada dalam situasi merdeka. Tanah Batak sendiri berada di bawah pimpinan Raja Sisingamangaraja XII yang masih muda. Belanda yang mencoba menerapkan Pax NeerlandicaPax Neerlandica dimaksudkan sebagai kesatuan Nusantara di bawah penjajahan Belanda, yang mengandung arti penyatuan dan penenteraman (unification dan pacification). Perwujudan Pax Neerlandica, yakni suatu wilayah jajahan yang luas dan dikuasai oleh Belanda secara aman dan terkendali. 


Belanda memulai infiltrasinya di Tanah Batak dengan mengirimkan para misionaris agama Kristen Protestan. Pada Tahun 1877 para misionaris di Silindung dan Bahal Batu meminta bantuan kepada pemerintah kolonial Belanda dari ancaman diusir oleh Singamangaraja XII. Perang meletus setelah Belanda menempatkan pasukannya di daerah Tarutung, dengan tujuan untuk melindungi penyebar agama Kristen yang tergabung dalam Rhijnsnhezending, dengan tokoh penyebarnya Nommensen. 


Raja Sisingamangaraja XII memutuskan untuk menyerang kedudukan Belanda di Tarutung. Perang berlangsung selama tujuh tahun di daerah Tapanuli Utara, seperti di Bahal Batu, Siborong-borong, Balige Laguboti dan Lumban Julu. Akibat peristiwa ini, pemerintah Belanda dan para penginjil sepakat untuk tidak hanya menyerang markas Sisingamangaraja XII di Bangkara tetapi sekaligus menaklukkan seluruh Toba.


Pada tanggal 6 Februari 1878 pasukan Belanda tiba di Pearaja, kediaman penginjil Ludwig Ingwer Nommensen, dan bersama-sama dengan penginjil Nommensen mereka berangkat ke Bahal Batu untuk menyusun benteng pertahanan dan melakukan ekspedisi militernya. Pada tanggal 16 Februari 1878 Sisingamangaraja XII merasa terprovokasi dan mengumumkan perang dan penyerangan ke pos Belanda di Bahal Batu mulai dilakukan.


Pada tanggal 1 Mei 1878 Bangkara sebagai pusat pemerintahan dari Sisingamangaraja XII diserang pasukan kolonial Hindia-Belanda. Penyerangan yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda berhasil menaklukan seluruh Bangkara pada tanggal 3 Mei 1878. Meskipun Bangkara telah ditaklukan oleh Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda, namun Singamangaraja XII beserta pasukannya dapat menyelamatkan diri dan terpaksa keluar mengungsi dan tetap melakukan perlawanan secara gerilya.


Pada bulan Desember 1878, daerah Butar, Lobu Siregar, Naga Saribu, Huta Ginjang, Gurgur ditaklukkan oleh pasukan Belanda. Karena lemah secara taktis, Sisingamangaraja XII menjalin hubungan dengan pasukan Aceh dan dengan tokoh-tokoh pejuang Aceh yang beragama Islam untuk meningkatkan kemampuan tempur pasukannya. 


Pada tanggal 1 Februari 1879 untuk memperkuat pasukan Belanda di Slindung pasukan Belanda diberangkatkan dari Sibolga  dibawah pimpinan Kapten Scheltes yang terdiri dari 2 orang opsir, 25 orang prajurit Eropa dan 35 orang Prajurit Pribumi dll. Pada tanggal 6 Februari 1879 mereka sampai di Pea Raja. Kepala kampung dikumpulkan dan meraka menuju Sipoholong dangan tujuan menduduki Bahal Batu, dalam hal ini rakyat Batak memiliki 2 macam benteng yag sangat sulit ditembus oleh pihak lawan.


Si Singamangaraja XII yang mengetahui bahwa pasukan Belanda telah sampai di Bahal Batu  ia segera ke Balige untuk mengumpulkan rakyat  dan menyusun kekuatan untuk melawan musuh. 700 orang pasukan Si Singamangaraja XII langsung menyerang kubu – kubu pertahanan musuh. Pihak Belanda melakukan serangan balik, sehingga terjadilah pertempuran yang sengit di Bahal Batu. Namun melihat persenjataan yang berbanding terbalik pihak Si Singamangaraja XII berserta pasukannya mundur yang menyebabkan Belanda berhasil menduduki Bahal Batu.


Pada tanggal 7 maret 1879 Belanda mendapat bantuan dibawah pimpinan FJ Engel  pasukan ini disertai dengan residen Sibolga dan pendeta Nommesen. Pada saat itu pertempuran terus merambat keperdalam Bahal Batu. Pertempuran di Butar pasukan Batak berhasil membunuh seorang tentara Belanda sehingga Belanda mengadakan pembalasan dengan membakar kampung – kampung yang ada disekitarnya.


Hanya Kampung Butar dengan tembok yang tinggi sangat sulit bagi Belanda untuk menerobos pertahanan kampun tersebut, namun Belanda dapat menerobos kampung tersebut yang diketahui bahwa kampung itu kosong dan ternyata yang dapat ditawan hanya kepala kampung Butar saja.


Pertempuran sengit juga terjadi di kampung Lobu Siregar dan Upu Ni Sirabar yang awalnya sangat susah  diduduki oleh Belanda namun  karea kegigihan Belanda mereka berhasil menduduki kampung tersebut, sedang pasukan Si Singamangaraja XII menarik diri dari tempat tersebut sedangkan kepala kampung ditawan oleh Belanda dan kampung tersebut dibakar. Namun sesudah perang di Lobu dan Upu pihak Belanda kembali ke Sibolga. Sedangkan Si Singamangaraja XII sedang menyusun strategi untuk menyerang pihak belanda kembali. 


Disaat bersamaan pasukan Belanda mengepung daerah disekitar Danau Toba  dan menangkap semua kepala kampung yang membangkang. Disaat bersamaan pasukan Si Singamangaraja XII menyerang pos pertahan Belanda di Bahal Batu. Akan tetapi Belanda berhasil medahuluinya dengan tembakan – tembakan sehingga pasukanya ditarik mundur oleh Si Singamangaraja XII.


Perhatian Belanda kini tertuju secara penuh ke Kampung Bakkara dan Lumbung Raja yaitu tempat tinggal Si Singamangaraja XII. Pertempuran dimulai ketika pihak Belanda meladakan motir kedalam benteng Bakkara dari bukit dimana tempat pasukan Si Singamangaraja XII sehingga pertempuran mulai meletus. 


Tembakan dari pasukan batak dibalas dengan lemparan granat oleh pasukan Belanda, sehingga pasukan batak kerepotan di dalam menghadapi Belanda yang berhasil mengepung dari seluruh penjuru. Walaupun awalnya Belanda sangat kesulitan dalam menguasai Kampung Bakkara, namun kampung Bakkara dapat diduduki oleh Belanda. Semua orang yang ada di dalamnya menjadi tawanan oleh Belanda.


Setelah kampung bakkara dapat diduduki oleh belanda pasukan Si Singa Mangaraja  menyingkir menuju Paranginan  untuk mempersiapkan penduduk bagian selatan Danau Toba. Benteng pertahan segera dibuat  di Meat, Balinge, Tambunan dan lagu Boti yaitu tempat panesehat Si Singamangaraja XII yaitu Raja Deang. 


Pada bulan Mei Belanda menuju Paranginan  kemudian bergerak ke Gurgur dengan maksud menyerang Baligen dan raja Deang. Kemudian menuju Meat sesampai disana pasukan Pasukan Belanda dihujati oleh pasukan Batak, karena tempatnya yang tidak cocok pasukan Batak menyerang dari atas sedangkan pasukan belanda dibawah sehingga pasukan Belanda  tidak sempat untuk membalaskan dendam, namun pasukan Belanda dapat bantuan sehingga pasukan batak menarik diri dari pertempuran .


Setelah daerah – daerah disekitar Danau Toba dikuasai oleh Belanda tahun 1883 pasukan batak sampai di Uluan yang bertepatan dengan tindakan Belanda menempatkan  seorang kontrolir di balige termasuk Uluan dan   Lagu Boti. Tindakan Belanda disambut oleh penduduk dengan acuh tak acuh, sehingga membuat kontrolir belanda memintak bantuan sehingga dikirimlah pasukan.


Si Singamangaraja XII kembali ke Babanan dan merencanakan segera  gerakan baru di Uluan. Tanggal 18 Juli 1883 pasukan Belanda bergerak dari Balige meniju Lagu Boli  dibawah Pimpinan Kapten Genet. Berarti pasukan Belanda di Balige berkurang ini kesempatan bagi pasukan Batak untuk menyerang Balige dan mebakar gedung – gedung pertemuan, penjara dan juga membakar gudang kopi. Pihak Belanda membalas perbuatan tersebut dengan cara ultimatun kampung Lagu Boti dan Uluang, menyerahkan orang – orang yang dianggap sebagai pembunuh belanda berserta dengan dendanya. 


Namun orang – orang yang berada di kampung tersebut tidak mau sehingga Belanda menyerang kampung tersebut pada tanggal 29 juli 1883. Pertempuran demi pertempura membuat pasukan batak terdesak menghadapi pasukan belanda sehingga kampung Huta Dalah akhirnya jatuh dan kepala kampung tewas. Kemudian Huta Anggaris behasil direbut Belanda sedangkan Huta Angin diperkuat sehingga megakibatkan Belanda susah masuk. 


Untuk memasuki  Huta Angin, Belanda harus mengalahkan terlebih dahulu Huta Ragga Bosi namun pasukan Batak mengalir untuk membantu Huta tersebut dan menghantam pasukan belanda yang mengepung. Pertempuran demi pertempuran yang mengakibatkan pasukan Batak kualahan menghadapi pasukan Belanda ang menyebabkan pasukan Si Singamangaraja XII terbagi dua dan berhasil menguasai Huta Saon Angin.


Selain perperang di Huta Saon Angin di Umpu tinggi sedang terjadi perlawan yang sengit   melawan Belanda di Semanangkiang, serang itu dapat dipatahkan oleh Belanda  sedangkan pasukan Si singa Mangaraja terus didesak ke Barat laut Huta Timbang, pada saat itu Huta Timbang telah diduduki oleh Belanda  sehingga terjadi disana pertempuran yang sengit  sehingga Huta ini tidak bisa di amankan dan akhirnya  Huta ini jatuh ketangan Belanda.


Belanda akan menyerang Huta – Huta lainya tetapi cuaca tidak mengizinkan sehingga mereka menuruna niat. Kemudian belanda mengrahkan pasukan ke Huta Tinggi yang Kedua. Scafer dan Spandaw menyerang dari sebelah selatan dan timur tapi  karena benteng ini dibuat dari rajau – ranjau yang sangat menyusahkan bagi pihak belanda untuk menerobos kampung tersebut. Namun ini berhasil diatasi sehingga Belanda dapat meguasai diseluruh penjuru melihat kondisi ini pasukan Si Singamangaraja XII mengangkat bendera Putih yang berarti tanda damai.


Pada tanggal 30 Juli 1883 diadakanlah pertemuan kedua belah pihak, pihak Belanda memintak denda dua kali lipat dari yang diminta  awal, dalam keadaan sulit pihak Belanda tidak menuntut  dalam bentuk uang tetapi apa saja barang – barang asal dapat dibayar. Perperang diundur untuk sementara . pembayaran ini dibatasi 1 Agustus 1883, tetapi Huta Datu Hari  tidak mau membayar sehingga terjadilah penyerangan oleh pihak Belanda, sama dengan Huta – huta lainya sangat sulit ditrobos dengan berhasilnya Belanda menduduki Huta Datu hari maka seluruh wilayah Lagu Boli telah diduduki oleh Belanda.


Daerah yang belum dikuasai oleh Belanda  masih memihak kepada Si Singamangaraja XII yaitu daerah Naga Seribu, Muara Bakkara, tangga Batu, dan Paraginan. Sehingga pasukan Belanda terus – menerus melakukan perlawanan. Pada tanggal 7 Agustus 1883 Tangga Batu dapat diduduki oleh Belanda, 9 Agustus 1883 Paraginan diduduki oleh Belanda dan kepala kampungnya dikenakan denda, sedang bakkara menolah sehingga 6 Huta disekitarnya dibakar oleh pihak Belanda.  Tanggal 25 Agustus 1883 pejuang – pejuang Batak melakukan penyerangan terhadap Belanda dimalam hari dan menyatakan perang kepada pihak Belanda di Semanangkiang.


Daerah Si Torang pun sudah mulai terancam, pada tanggal 27 Agustus 1883 pasukan Belanda bergerak menuju Pintu Batu disebuah padang ilalang mereka diserang oleh 80 orang pejuang Batak dari Si Toramg, sedangkan dari sisi lain pihak Belanda juga diserang oleh penduduk Belanda. Serangan ini berhasil dipatahkan dengan tembakan artileri, senapan dan penghancur dengan mitraliur dan infanteri. 


Huta Boksa dapat diduduki seterusnya Belanda menyerbu Prabu Angin  dalam usaha menjatuhkan Si Torang, denga berapa taktik Perabu Angin dapat dikuasai oleh belanda demikian juha Si Jarot pusat dari kampung Si Torang. Patigi dan Si Ria – Ria diduduki Belanda pada 1 September 1883 sesudah itu Pos Belanda kembali ke pertahanan Lagu Bot, sedangkan Si Singamangaraja XII mengadakan perlawanan didaerah lain.


Perperangan dari tahun -  ketahun semakin menjadi. Tahun 1887 timbul perlawanan dari Kota Tuo dengan bantuan pejuang – pejuang Aceh yang datang dari daerah Bebas di Trumor. Perlawana ini dapat dipatahkan oleh Belanda dibawah pimpinan JA Visser. Selain itu tahun ini juga terjadi penyerbuah dibawah pimpinan Sarbut, pos – pos zeding dibakar karena peristiwa ini Lobu Si Reger diduduki oleh Belanda. 


Dipihak lain Belanda semakin membabi buta  dngan membakar kampung – kampung yang menolak mebayar denda. Pada saat yang bersamaan Hindia Belanda juga melawan Aceh sehingga Belanda menfokuskan diri untuk menghadapi Aceh yang kekuatanya jauh lebih besar sedangkan perlawan terhadap tanah  Batak dikurangi oleh Belanda.


Pada tahun 1888 pejuang-pejuang Batak melakukan penyerangan ke Kota Tua. Mereka dibantu orang-orang Aceh yang datang dari Trumon. Perlawanan ini dapat dihentikan oleh pasukan Belanda yang dipimpin oleh J. A. Visser, namun Belanda juga menghadapi kesulitan melawan perjuangan di Aceh. Sehingga Belanda terpaksa mengurangi kegiatan untuk melawan Sisingamangaraja XII  untuk menghindari berkurangnya pasukan Belanda yang tewas di dalam peperangan. 


Pada tanggal 8 Agustus 1889 pasukan Sisingamangaraja XII kembali melakukan penyerangan terhadap Belanda. Seorang prajurit Belanda tewas, dan Belanda harus mundur dari Lobu Talu. Namun Belanda mendatangkan bala bantuan dari Padang, sehingga Lobu Talu dapat direbut kembali.


Pada tanggal 4 September 1889 daerah Huta Paong diduduki oleh Belanda yang memaksa pasukan Batak terpaksa ditarik mundur ke Passinguran. Pasukan Belanda terus mengejar pasukan Batak sehingga ketika tiba di Tamba, terjadi pertarungan sengit. 


Pasukan Belanda ditembaki oleh pasukan Batak, dan Belanda membalasnya dengan terus menerus melakukan penembakan dan dibantu dengan persenjataan artileri, sehingga pasukan Batak mundur ke daerah Horion. Pada tahun 1894, Belanda melancarkan serangan untuk menguasai Bakkara, pusat kedudukan dan pemerintahan Kerajaan Batak. Akibat penyerangan ini, Sisingamangaraja XII terpaksa pindah ke Dairi Pakpak. 

Pada saat Belanda lenga Si Singa Mangaraja menghimpun pasukan untuk kekuatanya. Tahun 1889 ia aktif didaerah bagian tenggara dan Barat Danau Toba  serta Pulau Simosir. Bulan Mei Si Singa Mangaraja di daerah Huta Paong siap untuk menyerang Belanda    bersamaan 90 pejuang batak, 70 orang letnal Pitlo, bulan Juli pertempuran mulai meletus. 


Walaupun terdesak ke Lobu Tala kemudian 8 Agustus pasukan Si Singa Mangaraja mengadakan serangan balasan dan berhasil menewaskan seprang pasukan Belanda dan mengusir mereka dari sana. Untuk mebalaskan serangan dari Si Singamangaraja XII, Belanda mengirim tentara yang berasal dari Padang.


Perlawanan demi perlawanan yang terjadi antara pasukan Si Singamangaraja XII dengan Belanda membuat pejuang Batak kaulahan menghadapi Belanda, sampai Simosir juga diduduki oleh Belanda, sehingga gerak Si Singamangaraja XII semakin sempit menginggat daerah kebayakan sudah jatuh ketangan Belanda. Sekarang pasukan Si Singamangaraja XII bertahan di sebelah barat Danau Toba yaitu Pak – Pak dan Dairi.


Selama awal pertempuran, pasukan Si Singamangaraja XII masih melakukan perlawanan, namun pada tahun 1900 kekuatan Si Singamangaraja XII semakin surut. Hal ini diakibatkan dengan semakin melemahnya perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Aceh, sehingga pasukan Belanda dapat berkonsentrasi di Tanah Batak.


Surutnya perlawanan yang dilakukan di Tanah Batak dapat terlihat dari gerakannya yang tidak lagi mengerahkan untuk melakukan penyerangan sebanyak mungkin. Gerakan yang dilakukan kini melainkan hanya untuk mempertahankan diri dari serangan lawan.  Selain itu  Belanda juga melakukan gerakan pembasmi sisa gerakan – gerakan perlawanan yang ada di Sumatera (Aceh dan Batak). 


Operasi itu diketuai oleh Overste Van Daelan yang bergerak dari Aceh terus ke Batak. Mereka mengadakan pengepungan dan membakar kampung – kampung yang membangkang sehingga pertempuran menjadi semakin sengit antara kedua belah pihak. Pada tahun 1904, pasukan Belanda, di bawah pimpinan Van Daalen melanjutkan gerakannya ke Tapanuli Utara, sedangkan di Medan didatangkan pasukan lain.


Pada saat Belanda sampai di daerah pak – Pak dan Dairi pasukan Si Singamangaraja XII semakin terkepung sedangkan di lain pihak hubungan mereka dengan Aceh sudah terputus. Dengan terdesaknya  pasukan Si Singamangaraja XII mereka terus berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lain untuk menyelamatkan diri.  Pada tahun 1907 pengepungan yag dilakukan oleh Belanda terhadap pasukan Si Singamangaraja XII dilakukan secara intensif  yang dipimpin oleh Hans Christoffel.

          

Pada tanggal 17 Juni 1907 Sisingamangaraja hampir berhasil ditangkap di dekat Aik Sibulbulon (derah Dairi), namun meskipun keadaannya lemah, Sisingamangaraja dan pasukannya terus mengadakan perlawanan. Pada peristiwa ini, Sisingamangaraja tertembak oleh Belanda, sehingga ia pun terbunuh ditempat. 


Di saat yang bersamaan, anak perempuan dan dua putra laki-lakinya juga gugur sedangkan istri, ibu dan putra-putra lainnya masih menjadi tawanan perang oleh Belanda. Dengan gugurnya Sisingamangaraja XII maka seluruh daerah Batak menjadi milik Belanda. Sejak saat itu kerja rodi di daerah ini melemahkan struktur tradisional masyarakat Batak, dan semakin lama, kian runtuh. 


Perang Batak: Dampak Peperangan


Dampak terbesar yang timbul dari terjadinya Perang Batak ialah, banyak terbunuhnya rakyat Batak dan banyak kerugian yang ditimbulkan, antara lain ialah rumah-rumah hancur dibakar, agama Kristen saat itu meraja lela tanpa ada halangan dari pihak manapun, sedangkan pihak Belanda mengalami kebangkrutan dana karena di saat yang bersamaan, Belanda juga menghadapi Aceh yang begitu kuat, sehingga dana yang diperlukan pun tidak sedikit untuk mendatangkan pasukan dari Belanda maupun daerah luar Nusantara lainnya. 


a) Bidang Politik

Seluruh daerah Tapanuli dapat dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda.


b) Bidang Ekonomi

Terjadinya monopoli perdagangan di Tanah Batak, terutama hasil perkebunannya, seperti Tembakau.


c) Bidang Sosial

Tersebarnya agama Kristen di Tanah Batak/Tapanuli secara meluas yang menyebabkan berubahnya keyakinan masyarakat sebelumnya yang semula menganut kepercayaan tradisional.