Cerita Singkat Peristiwa Rengasdengklok - ABHISEVA.ID

Cerita Singkat Peristiwa Rengasdengklok

Cerita Singkat Peristiwa Rengasdengklok


Peristiwa Rengasdengklok - Peristiwa Rengasdengklok yang terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 03.00. WIB adalah peristiwa “penculikan” yang dilakukan oleh sejumlah pemuda antara lain Soekarni, Wikana, Aidit dan Chaerul Saleh dari perkumpulan "Menteng 31" terhadap Soekarno dan Hatta dengan tujuan membawa kedua tokoh itu ke Rengasdengklok, Karawang. Kedua tokoh itu kemudian didesak agar mempercepat dan sesegera mungkin untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia. 

Rumah Djiaw Kie Siong sebagai saksi Peristiwa Rengasdengklok 16 Agustus 1945

Latar Belakang Peristiwa Rengasdengklok


Pada tanggal 9 Agustus 1945, Soekarno, Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat berangkat menuju markas besar Jenderal Terauchi di Dalat, Vietnam. Tujuan kepergian ketiga tokoh tersebut ke Dalat adalah untuk membahas tentang masa depan Indonesia yang telah diputuskan pada tanggal 12 Agustus 1945. 


Keputusan tentang masa depan bangsa Indonesia sebagaimana yang disampaikan oleh Terauchi adalah bahwa pemerintah Kerajaan Jepang telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Oleh karena itulah maka sebelumnya pemerintah Jepang telah memerintahkan kepada tokoh-tokoh Indonesia untuk membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang telah dibentuk pada 7 Agustus 1945. Untuk pelaksanaan kemerdekaan Indonesia dapt dilakukan segera setelah segala persiapan selesai. Wilayah Indonesia adalah daerah-daerah yang meliuti seluruh bekas wilayah Hindia-Belanda. Mungkin pelaksanaan kemerdekaan tidak dapat sekaligus untuk seluruh Indonesia, tetapi bagian demi bagian sesuai dengan kondisi setempat.


Pada tanggal 14 Agustus 1945 telah tersiar kabar bahwa Jepang telah mengalami pengeboman oleh sekutu atas daerah Hiroshima (6 Agustus 1945) dan Nagasaki (9 Agustus 1945) dengan menggunakan bom atom yang telah menyebabkan kedua wilayah tersebut rusak parah. Perlu dipahami bahwa kedua wilayah itu adalah pusat industri militer Jepang, yang berarti jika kedua wilayah tersebut rusak parah bahkan hancur lebur, maka Jepang tidak dapat lagi memproduksi peralatan militernya untuk tetap melaksanakan perang di wilayah Asia Timur Raya. Di sisi lainnya, Uni Soviet pun menyatakan perang terhadap Jepang dengan melakukan penyerangan atas daerah Manchuria. Dengan demikian maka diduga bahwa kekalahan Jepang akan terjadi dalam waktu singkat sehingga proklamasi kemerdekaan harus segera dilaksanakan.


Meskipun tanda-tanda kekalahan Jepang sudah mulai terlihat, akan tetapi Moh. Hatta berpendapat;



Soal kemerdekaan Indonesia datangnya dari pemerintah Jepang atau dari hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri tidaklah menjadi soal karena Jepang sudah kalah. Kini kita menghadapi sekutu yang berusaha akn mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia. Oleh karena itu, untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia diperlukan suatu revolusi yang berorganisasi.

Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Moh. Hatta, jelaslah kiranya bahwa Hatta maupun Soekarno menginginkan perbincangan tentang pelaksanaan kemerdekaan Indonesia di dalam rapat PPKI, sehingga dengan demikian tidaklah terdapat penyimpangan dari ketentuan pemerintah Jepang.


Sikap semacam inilah yang tidak disetujui oleh golongan muda, yang menganggap PPKI adalah badan bentukan Jepang yang tunduk pada kemauan pemrintahn Jepang. Golongan muda juga tidak menyetujui dilaksanakannya proklamasi kemerdekaan dengan cara-cara yang telah digariskan oleh Jenderal Terauchi berdasarkan pertemuan di Dalat terhadap ketiga tokoh Indonesia itu. Sebaliknya, golongan muda menginginkan terlaksananya proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan kekuatan sendiri yang lepas sama sekali dari Jepang.


Sutan Sjahrir pada tanggal 15 Agustus 1945 melalui pemberitaan radio yang tidak disegel oleh pemerintah Jepang, telah mengetahui bahwa Jepang telah memutuskan untuk menyerah kepada Sekutu. Sjahrir mendesak segera diproklamasikan kemerdekaan Indonesia kepada Soekarno dan Hatta tanpa perlu lagi menunggu janji Jepang. Sebab menurut Sjahrir janji Jepang itu hanyalah tipu muslihat belaka yang ingin dilakukan kepada bangsa Indonesia. Usulan Sjahrir itu ditanggapi oleh Soekarno dan Hatta dengan cara melakukan pengecekan kembali tentang kebenaran berita kapitulasi Jepang pada pihak resmi dan tetap ingin membicarakan pelaksanaan proklamsi pada rapat PPKI.


Dirasa tidak berhasil membujuk Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, golongan muda melakukan rapat di salah satu ruangan Lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur, Jakarta. Rapat itu dilaksanakan pada 15 Agustus 1945 jam 19.00 yang dipimpin oleh Chaerul Saleh. Beberapa tokoh pemuda juga nampak hadir dalam rapat tersebut, diantaranya adalah Djohar Nur, Kusnandar, Subadio, Subianto, Margono, Wikana dan Armansjah. Keputusan rapat itu menunjukkan tuntutan-tuntutan radikal golongan pemuda yang menegaskan



...bahwa kemerdekaan Indonesia dalah hak dan soal rakyat Indonesia sendiri, tidak dapat digantungkan pada orang dan kerajaan lain. Segala ikatan dan hubungan dengan janji kemrdekaan dari Jepang harus diputuskan dan sebaliknya diharapkan diadakannya perundingan dengan Soekarno dan Moh. Hatta supaya mereka diikutsertakan menyatakan proklamasi. 

Setelah mengambil keputusan dalam rapat, Wikana dan Darwis segera menuju rumah Soekarno dan menyampaikan keputusan dalam rapat golongan muda kepada Soekarno. Wikana dan Darwis mendesak bahwa proklamasi kemerdekaan harus dilaksanakan oleh Soekarno di keesokan harinya jika tidak maka pertumpahan darah akan terjadi. Mendengar ancaman itu, Soekarno pun marah dan berkata;



Inilah leherku, saudar boleh membunuh saya sekarang juga. Saya tidak bisa melepaskan tanggung jawab saya sebagai ketua PPKI. Karena itu saya tanyakan kepada wakil-wakil PPKI besok.

Ketegangan antara Soekarno dan utusan golongan muda itu disaksikan oleh Moh. Hatta, Buntaran, Samsi, Ahmad Subardjo dan Iwa Kusumasumantri. Di sinilah tampak perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda tentang pelaksanaan proklamasi. Golongan muda mendesak pelaksanaan proklamasi terjadi pada esok hari, 16 Agustus 1945 sedangkan golongan tua menekankan perlu diadakannya rapat PPKI terlebih dahulu.


Peristiwa Rengasdengklok


Menghadapi desakan yang dilakukan oleh golongan muda tersebut, Soekarno dan Hatta tetap tidak berubah pendirian. Sementara itu di Jakarta, Chairul Saleh dan kawan-kawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. Tetapi apa yang telah direncanakan tidak berhasil dijalankan karena tidak semua anggota PETA mendukung rencana tersebut. Para Pemuda pun kembali melaksankan rapat kembali pada pukul 23.00 yang kali ini dihadiri oleh Sukarni, Jusuf  Kunto, dr. Muwardi dan Shodanco Singgih. Di mana hasil rapat itu adalah untuk “menyingkirkan Soekarno dan Hatta ke luar kota dengan tujuan untuk menjauhkan mereka dari segala pengaruh Jepang”. Dalam hal ini shodanco Singgih lah yang mendaptkan kepercayaan untuk melaksanakan rencana tersebut.



Rencana “penculikan” Soekarno dan Hatta berhasil dilakukan dengan dukungan tentara PETA yang dipimpin oleh Latief Hendradiningrat. Pada tangal 16 Agustus 1945 pukul 03.00 Soekarno dan Hatta dibawa ke luar kota menuju ke Rengasdengklok, Karawang. Adapun pemilihan Rengasdengklok sebagai tujuan destinasi terutama adalah perhitungan militer. Antara anggota PETA Purwakrta dan PETA Jakarta terdapat hubungan erat sejak mereka selalu mengadakan latihan bersama. 

Di samping itu, Rengasdengklok letaknya terpencil yakni 15 Km dari Kedunggede, Karawang pada jalan raya Jakarta-Cirebon. Dengan demikian, deteksi dapat dengan mudah dilakukan terhadap setiap gerakan tentara Jepang yang hendak datang ke Rengasdengklok, baik dari arah Jakarta maupun Bandung, atau pun dari Jawa Tengah. Karena pastilah tentara Jepang itu akan melalui Kedunggede, di mana pasukan PETA telah bersiap-siap untuk menahannya.

Setelah berhasil dibawa ke Rengasdengklok, Soekarno dan Hatta ditekan untuk segera melaksanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia terlepas dari keterkaitan dengan Jepang.  Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Singgih, Soekarno menyatakan kesediannya untuk memproklamasikan kemerdekaan segera setelah kembali ke Jakarta. Berdasarkan anggapan itu Singgih pada tengah hari kembali ke Jakarta untuk menyampaikan rencana proklamasi kemerdekan kepada golongan muda.


Sementara itu di Jakarta antara Ahmad Subardjo dan golongan muda yang diwaliki oleh Wikana tercapai kata sepakat bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia harus dilaksanakan di Jakarta. Terdapat pula penegasan bahwa Laksamana Tadashi Maeda bersedia untuk menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya. Berdasarkan kesepakatan itu, Jusuf Kunto dari pihak pemuda mengantarkan Ahmad Subarjo ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta. 

Rombongan tiba pada pukul 16.30. di Rengasdengklok. Ahmad Subardjo diberi jaminan dengan taruhan nyawa bahwa proklamsi kemerdekan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945 selambat-lambatnya pada pukul 12.00. Dengan jaminan itu komandan kompi PETA setempat chudancho Subeno bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta untuk kembali ke Jakarta.

Sekembalinya ke Jakarta, kedua tokoh nantinya segera menyusun naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia yang akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945. Demikianlah Peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945 yang memiliki peran penting untuk mendorong tokoh-tokoh nasional terutama Soekarno dan Hatta untuk sesegera mungkin memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.