Proses Masuknya Kebudayaan India di Indonesia - ABHISEVA.ID

Proses Masuknya Kebudayaan India di Indonesia

Proses Masuknya Kebudayaan India di Indonesia


Proses Masuknya Kebudayaan India di IndonesiaMempelajari proses masuknya kebudayaan India di Indonesia tidak terlepas dari perkembangan agama Hindu dan Buddha yang telah berkembang di India sebelum masuk ke Kepulauan Nusantara (Indonesia). Sebelum mempelajari proses masuknya kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia, tentu harus mempelajari perkembangan agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di India sebagai tempat muncul dan berkembangnya ajaran tersebut pertama kalinya.

Proses Masuknya Kebudayaan India di IndonesiaPerkembangan agama dan kebudayaan Hindu


Lahirnya agama Hindu ada hubungannya dengan kedatangan suku bangsa Arya ke India. Bangsa Arya masuk ke India sejak 1500 SM melalui pas Kaiber (Afghanistan) dan mendiami Aryawarta (daerah yang berada di Lembah Indus, Lembah Gangga, dan Lembah Yamuna di Dataran Tinggi Dekhan). Bangsa Arya kemudian mendesak ras Dravida (penghuni asli India) dan terjadilah percampuran kedua ras suku bangsa tersebut. Percampuran budaya antara kedua ras itu disebut peradaban Hindu atau Hinduisme.

Agama Hindu adalah sinkretisme antara kebudayaan Arya dan Dravida yang menyembah banyak dewa. Agama Hindu bersifat politeisme, artinya menyembah banyak dewa. Setiap dewa merupakan lambang kekuatan alam. Beberapa dewa yang terkenal adalah Trimurti (Brahma, dewa pencipta ; Wisnu, dewa pemelihara ; Siwa, dewa perusak), Pertiwi (dewi bumi), Surya (dewa matahari), Bayu (dewa angin), Baruna (dewa laut), dan Agni (dewa api).

Kitab suci agama Hindu adalah Weda, artinya pengetahuan, yang terdiri atas empat bagian;

a. Rigweda, berisi syair pujian terhadap para dewa.

b. Samaweda, berisi syair dan nyanyian suci dalam upacara.

c. Yajurweda, berisi doa-doa pengantar sesaji dalam upacara.

d. Atharwaweda, berisi mantra untuk menyembuhkan orang sakit dan jampi untuk sihir serta ilmu gaib mengusir penyakit dan para musuh.

Di India, paham Trimurti dikembangkan berpasangan dengan Trisakti yang meliputi:

a. Saraswati, permaisuri Brahma, melambangkan dewi kebijaksanaan dan pengetahuan;

b. Laksmi, permaisuri Wisnu, melambangkan dewi kecantikan dan kebahagiaan;

c. Parwati, permaisuri Siwa, melambangkan dewi keberanian dan kegarangan (durga).

Umat Hindu juga memiliki beberapa kitab selain kitab Weda yang mengandung ajaran Avatar (inkarnasi dewa), yakni kitab Brahmana, Upanishad, Mahabharata, Bhagavad Gita, dan Ramayana.

1. Kitab Brahmana berisikan interpretasi (penafsiran) ajaran keagamaan yang terkandung di dalam Weda.

2. Kitab Upanishad berisikan pembahasan tentang Brahmana, kejadian alam semesta, serta Atman (jiwa) dan cara kembalinya Atman kepada Brahman Sang Maha Kuasa.

3. Kitab Mahabharata, ditulis oleh Begawan Wiyasa, berisikan tentang peperangan antar-keluarga Bharata (Pandawa dan Kurawa) di Padang Kurusetra.

4. Kitab Bhagavad Gita, bagian dari himpunan Mahabharata yang diartikan nyanyian dewa. Kitab ini berisi nasihat Krisna kepada Arjuna di Kurusetra pada saat terjadi Perang Bharatayuda.

5. Kitab Ramayana ditulis oleh Begawan Valmiki yang berisi kisah cinta Rama dan Shinta.

Untuk mencapai Nirwana, umat Hindu dapat melakukannya dengan tiga cara;

a. Manusia wajib menjalankan dharma(memenuhi kewajiban sebagai manusia), artha (menjalankan pekerjaan sebagaimana mestinya), dan karma (tidak berlebihan merasakan kenikmatan duniawi).

b. Bagi Triwangsa (brahmana, ksatria, waisya) wajib membaca kitab suci Weda.

c. Melakukan upacara keagamaan yang berupa upacara kurban (yajna besar dan yajna kecil). Yajna besar, misalnya, penobatan raja, menghormati pemetikan buah pertama, dan upacara menyongsong datangnya musim. Adapun yajna kecil, misalnya, sembahyang di rumah sehari-hari, kelahiran anak, dan cukur rambut.

Agama Hindu mengenal adanya upacara pengorbanan, yaitu kurban Soma dan kurban Asra Medha. Kurban Soma adalah upacara kebaktian yang terpandang suci di antara seluruh kebaktian di dalam Weda. Soma adalah sejenis cairan minuman yang memberi sifat kedewaan. Kurban Asra Medha adalah kurban kuda. 

Upacara-upacara kebaktian Hindu dilakukan oleh pejabat-pejabat agama, yaitu;

a. Brahmana (pendeta) yang menjabat sebagai kepala upacara,

b. Hotri yang melagukan nyanyian keagamaan,

c. Udgatri yang menabuh bunyi-bunyian dengan nada tertentu, dan;

d. Adhyarya yang menyiapkan tempat pemujaan dan tempat kurban serta persiapan lainnya sambil membacakan mantra.

Di dalam stratifikasi sosial, bangsa Arya menciptakan sistem kasta dengan pembagian sebagai berikut;

1. Brahmana, perlambang mulut, yakni golongan pendeta. Mereka dihormati sebagai penasihat raja.

2. Ksatria, perlambang tangan, yakni golongan ningrat atau bangsawan dan prajurit. Golongan ini menjalankan pemerintahan.

3. Waisya, perlambang paha, yakni golongan pengusaha, pedagang, dan petani.

4. Sudra, perlambang kaki, yakni golongan pelayan yang terdiri atas orang-orang Dravida di dalam masyarakat.

Setiap golongan wajib menempati kastanya masing-masing dan dilarang mengadakan perkawinan antar-kasta. Jika ini terjadi, seseorang akan dikeluarkan dari kastanya dan dimasukkan ke dalam kasta yang lebih rendah. Selain kasta-kasta tersebut, masih ada golongan yang dianggap lebih rendah lagi, yaitu paria atau candala, golongan ini ditempatkan sebagai hamba sahaya.

Agama Hindu mengajarkan beberapa hal, yaitu;

a. hidup di dunia adalah samsara akibat perbuatan yang kurang baik;

b. adanya karma, yaitu hasil perbuatan yang kurang baik;

c. akibat karma, manusia akan mengalami reinkarnasi, yakni dilahirkan kembali dalam wujud yang lebih rendah;

d. orang yang sempurna hidupnya akan mengalami moksa, lepas dari samsara.

Untuk menjadi seorang penganut ajaran Hindu, seseorang harus mendapat tali benang kasta (munya) yang diberikan oleh brahmana (pendeta). Setelah itu, barulah mereka melakukan caturasrama, yakni brahmacarin (mencari ilmu kepada brahmana (pendeta), Grhasta (membentuk keluarga), wanaprasta (meninggalkan rumah untuk bertapa), dan saniasin atau pariwrajaka (hidup mengembara, meninggalkan kepentingan duniawi untuk menjadi seorang brahmana).

Tempat-tempat suci bagi orang Hindu India, antara lain, Kota Benares yang dianggap sebagai kota dewa dan Sungai Gangga sebagai sungai yang suci.

Agama Hindu mengalami kemunduran sekitar abad ke-6 SM karena sebab-sebab berikut;

a. Kaum brahmana yang memonopoli agama dan upacara bertindak sewenang-wenang dengan menarik kurban yang besar sehingga menimbulkan beban.

b. Lahirnya agama Buddha yang lebih demokratis untuk mencari nirwana sendiri tanpa pertolongan orang lain yang diajarkan oleh Siddharta Gautama.

c. Agama Buddha lebih terbuka tanpa membeda-bedakan manusia.

Proses Masuknya Kebudayaan India di IndonesiaPerkembangan agama dan kebudayaan Buddha


Ketika agama Hindu mengalami kemunduran, muncullah agama Buddha di India yang disiarkan oleh Siddharta Gautama. Ajaran Buddha ditulis dalam kitab suci Tripitaka yang berarti tiga keranjang atau tiga himpunan nikmat. Isi kitab suci Tripitaka sebagai berikut.

a. Suttapitaka, berisikan himpunan ajaran dan khotbah Buddha. Bagian terbesar adalah percakapan antara Buddha dan beberapa orang muridnya. Di dalamnya terdapat pula kitab meditasi dan peribadatan.

b. Winayapitaka, berisikan tata hidup setiap anggota biara (sangha).

c. Abhidharmapitaka, ditujukan bagi lapisan terpelajar dalam agama Buddha sebab merupakan pelajaran lanjutan.

Ada empat tempat yang dianggap suci dalam agama Buddha;

a. Taman Lumbini di Kapilawastu, tempat lahirnya Siddharta (563 SM).

b. Bodhgaya, tempat Siddharta menerima wahyu Buddha.

c. Kusinagara, tempat wafatnya Siddharta pada tahun 482 SM.

d. Benares, tempat Siddharta pertama kali berkhotbah.

Ajaran Buddha seperti yang dikhotbahkan Siddharta di Taman Menjangan, Benares, berisikan hal-hal berikut.

a. Aryastyani, yakni empat kebenaran utama dan delapan jalan tengah (Astavida). Empat kebenaran utama, yaitu;

1) hidup adalah derita (duka) atau samsara,

2) samsara disebabkan oleh hasrat keinginan (tresna) atau tanha,

3) tresna harus dihilangkan, dan;

4) cara menghilangkan tresna adalah dengan delapan jalan tengah. Delapan jalan tengah, yaitu;

     1) pengertian yang benar,
     2) maksud yang benar,
     3) bicara yang benar,
     4) laku yang benar,
     5) kerja yang benar,
     6) ikhtiar yang benar,
     7) ingatan yang benar, dan
     8) renungan yang benar.

b. Pratityasamudpada, artinya rantai sebab-akibat yang terdiri atas dua belas rantai dan masing-masing merupakan sebab dari hal berikutnya. Pada bangunan peribadatan Buddha akan kita temui  stupa, yaitu bangunan berbentuk kubah yang berdiri di atas sebuah lapik dan diberi payung. 

Fungsi bangunan ini adalah sebagai lambang suci agama Buddha, tanda peringatan terjadinya suatu peristiwa dalam hidup Buddha, tempat penyimpanan tulang jenazah Buddha, dan tempat menyimpan benda suci.

Agama Buddha berkembang pesat di India pada masa Wangsa Maurya di bawah Raja Ashoka. Raja ini pada awalnya menganut ajaran lokal, namun ia memeluk agama Buddha. Ashoka menetapkan agama Buddha sebagai agama negara. Ia pun mengajarkan Ahimsa, yaitu larangan membunuh dan melukai makhluk. Berkat raja ini, agama Buddha dapat disiarkan ke seluruh dunia, tidak terkecuali Kepulauan Nusantara.

Perkembangan Hindu dan Buddha di India membawa akibat dan pengaruh yang luar biasa pada kehidupan internasional, khususnya Asia Selatan dan Tengah (Tibet, Nepal, Bangladesh, Sri Lanka), Asia Timur (Jepang, Cina, Korea, Taiwan), dan Asia Tenggara. Indonesia merupakan daerah yang terpengaruh oleh agama dan kebudayaan Hindu dan Buddha.

Munculnya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Buddha di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh persentuhan kebudayaan antara daerah Nusantara dengan India sebagai tempat kelahiran kedua agama tersebut.

Pada permulaan pertama tarikh Masehi, telah terjalin hubungan dagang antara Indonesia dengan India. Adanya hubungan dagang pada awal abad tarikh Masehi, didasarkan adanya sumber-sumber baik ekstern maupun intern.

a. Sumber Ekstern

1 ) Sumber dari India

Menurut Van Leur dan Wolters, kegiatan hubungan dagang Indonesia dengan bangsa-bangsa Asia pertama kali dilakukan dengan India, kemudian Cina. Bukti adanya hubungan dagang tersebut dapat diketahui dari keterangan yang diberikan di dalam kitab Jataka dan kitab Ramayana. 

Kitab Jataka menyebut nama Swarnabhumi sebuah negeri emas yang dapat dicapai setelah melalui perjalanan yang penuh bahaya. Swarnabhumi yang dimaksud ialah Pulau Sumatra. Kitab Ramayana menyebut nama Yawadwipa dan Swarnadwipa. Menurut para ahli, Yawadwipa (pulau padi) diduga sebutan untuk Pulau Jawa, sedangkan Swarnadwipa (pulau emas dan perak) adalah Pulau Sumatra.

Kitab Jataka dan kitab Ramayana tidak menyebut secara jelas terjadinya hubungan dagang dengan tempat-tempat di Indonesia. Salah satu kitab sastra India yang dapat dipercaya adalah kitab Mahaniddesa yang memberi petunjuk bahwa masyarakat India telah mengenal beberapa tempat di Indonesia pada abad ke-3 M. Dari keterangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara intensif telah terjadinya hubungan dagang antara Indonesia dan India mulai abad-abad tersebut (diperkirakan sekitar abad ke 2-3 M).

2 ) Sumber dari Cina

Kontak hubungan Indonesia dengan Cina diperkirakan telah berkembang pada abad ke-5 M. Bukti-bukti yang memperkuat hubungan itu di antaranya adalah perjalanan seorang pendeta Buddha, Fa Hsien. Pada sekitar tahun 413 M, Fa Hsien melakukan perjalanan dari  India ke Ye-po-ti (Tarumanegara) dan kembali ke Cina melalui jalur laut.

Selanjutnya, Kaisar Cina, Wen Ti mengirim utusan ke She-po ( Pulau Jawa). Berdasarkan bukti-bukti tersebut dapat disimpulkan bahwa pada abad ke-5 telah dilakukan hubungan perdagangan dan pelayaran secara langsung antara Indonesia dan Cina.

Barang-barang yang diperdagangkan dari Cina berupa sutra, kertas, kulit binatang berbulu, kulit manis, dan  barang-barang porselin. Barang-barang dagangan dari India berupa ukiran, gading, perhiasan, kain tenun, gelas, permata, dan wol halus yang ditukar dengan komoditas dari Indonesia seperti rempah-rempah, emas, dan perak.

3 ) Sumber dari Yunani

Keterangan lain tentang adanya hubungan dagang antara Indonesia dengan India, dan Cina dapat diketahui dari Claudius Ptolomeus, seorang ahli ilmu bumi Yunani. Dalam buku karangannya yang berjudul Geographike Hyphegenesis yang ditulis pada abad ke-2 M, Ptolomeus menyebutkan nama Iabadio yang artinya pulau jelai. Mungkin kata itu ucapan Yunani untuk menyebut Yawadwipa, yang artinya juga pulau jelai. Dengan demikian, seperti yang disebutkan dalam kitab Ramayana bahwa Yawadwipa yang dimaksud ialah Pulau Jawa.

b. Sumber Intern

Adanya sumber-sumber  dari luar, seperti dari India, Cina dan Yunani, diperkuat adanya sumber-sumber yang ada di Indonesia sendiri. Sumber-sumber sejarah di dalam negeri yang memperkuat adanya hubungan dagang antara Indonesia dengan India dan Cina, antara lain sebagai berikut;

1) Prasasti

Prasasti-prasasti tertua di Indonesia yang menunjukkan hubungan Indonesia dengan India, misalnya Prasasti Mulawarman di Kalimantan Timur yang berbentuk yupa. Demikian juga prasasti-prasasti Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat. Semua prasasti ditulis dalam bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa.

2 ) Kitab-Kitab Kuno

Kitab-kitab kuno yang ada di Indonesia biasanya ditulis  pada daun lontar yang ditulis dengan menggunakan bahasa dan tulisan Jawa Kuno yang juga merupakan pengaruh dari bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Kemampuan membaca dan menulis ini diperoleh dari pengaruh agama dan kebudayaan Hindu dan Buddha.

3 ) Bangunan-Bangunan Kuno

Bangunan kuno yang bercorak Hindu ataupun Buddha terdiri atas candi, stupa, relief, dan arca. Banyak peninggalan bangunan-bangunan kuno yang bercorak Hindu atau Buddha di Indonesia. Demikian juga benda-benda peninggalan dinasti-dinasti Cina. Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara Indonesia, India, dan Cina.


Indianisasi, proses masuknya kebudayaan india di indonesia

Hubungan dagang ini kemudian berkembang ke hubungan agama dan budaya. Hal ini disebabkan para pedagang dari India tidak hanya membawa barang dagangannya, tetapi juga membawa agama dan kebudayaan mereka sehingga menimbulkan perubahan kehidupan dalam  masyarakat Indonesia, yakni sebagai berikut:

1. Semula hanya mengenal kepercayaan animisme dan dinamisme, kemudian mengenal dan menganut agama Hindu–Buddha.
2. Semula belum mengenal aksara/tulisan, menjadi mengenal aksara/tulisan dan Indonesia memasuki zaman Sejarah.

Persentuhan kebudayaan ini terjadi sebagai salah satu akibat dari hubungan yang dilakukan antara orang-orang India dengan orang-orang yang ada di Nusantara, terutama karena daerah Nusantara merupakan jalur perdagangan strategis yang menghubungkan antara India dan Cina. Hubungan perdagangan yang semakin lama semakin intensif menimbulkan pengaruh terhadap masuknya pengaruh kebudayaan India di Nusantara.

Dengan kata lain, terjadi proses akulturasi antara kebudayaan India dengan kebudayaan Nusantara. Demikian juga dengan agama Hindu-Buddha menjadi agama yang dianut oleh penduduk di Nusantara dan menjadi pendorong muncul dan berkembangnya negara-negara kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia.