Seni Cadas Masa Pra-Aksara di Indonesia - ABHISEVA.ID

Seni Cadas Masa Pra-Aksara di Indonesia

Seni Cadas Masa Pra-aksara di Indonesia


Seni Cadas Masa Pra-aksara di Indonesia - Di Indonesia, seni cadas adalah suatu hasil budaya yang baru dicapai pada masa berburu tingkat lanjut, dan dapat ditemukan tersebar di daerah Sulawesi Selatan, Kepulauan Maluku, Papua, dan Kalimantan.  Di bawah ini adalah beberapa jenis seni cadas masa pra-aksara yang ditemukan di beberapa wilayah di Indonesia.

Seni Cadas di Sulawesi

Penemuan seni cadas berupa lukisan di dinding gua di Sulawesi Selatan untuk pertama kalinya ditemukan oleh C. H. M. Heeren-palm pada tahun 1950 di Leang PattaE. 

situs Leang Pattae, seni cadas, lukisan di dinding gua, lukisan didinding gua, peninggalan pra-aksara, peninggalan pra-sejarah, peninggalan praaksara, peninggalan prasejarah, lukisan didinding gua peninggalan masa


Di gua ini ditemukan cap-cap tangan dengan latar belakang berwarna merah. Kemungkinan cap-cap ini adalah dari tangan kiri seorang perempuan. Adapun cap-cap tangan ini dibuat dengan cara merentangkan jari-jari tangan itu di dinding gua kemudian ditaburi dengan cat merah. 


situs Leang Pattae, seni cadas, lukisan di dinding gua, lukisan didinding gua, peninggalan pra-aksara, peninggalan pra-sejarah, peninggalan praaksara, peninggalan prasejarah, lukisan didinding gua peninggalan masa


Di gua tersebut juga ditemukan lukisan seekor babi rusa yang sedang melompat dengan panah di bagian jantungnya. Barangkali lukisan semacam ini dimaksudkan sebagai suatu harapan agar mereka berhasil di dalam usaha berburu di dalam hutan. Babi rusa tadi digambarkan dengan garis-garis horizontal berwarna merah.


situs Leang Pattae, seni cadas, lukisan di dinding gua, lukisan didinding gua, peninggalan pra-aksara, peninggalan pra-sejarah, peninggalan praaksara, peninggalan prasejarah, lukisan didinding gua peninggalan masa

Di dalam penyelidikan di Gua Burung oleh Heekeren, ditemukan pula cap-cap tangan. C. J. H. Franssen juga menemukan cap-cap tangan di sebuah gua dekat Sarippa, yang kemudian diberi nama Gua JariE. Selanjutnya adalah penemuan di Leang Lambattorang, sekitar Maros yang ditinjau oleh Soejono dan Mulvaney. Di sini ditemukan lukisan babi rusa dan tiga buah cap tangan. 


Di bagian lain dari dinding gua itu ditemukan cap-cap tangan sebanyak 40 buah. Di sekitar situs itu, di Leang PattaE Kere, ditemukan pula gambar-gambar babi rusa yang distilir dengan cap-cap tangan dengan ukuran panjang gambar kira-kira 1 meter.


situs Leang Pattae, seni cadas, lukisan di dinding gua, lukisan didinding gua, peninggalan pra-aksara, peninggalan pra-sejarah, peninggalan praaksara, peninggalan prasejarah, lukisan didinding gua peninggalan masa


Seni cadas yang terdapat di wilayah Sulawesi Selatan tersebut sebagian besar berada di komplek Maros. Dibandingkan dengan komplek Maros, komplek Pangkajene memiliki gua yang lebih banyak jumlahnya, antara lain; Garunggung, Lasitae, Bulu Ballang, Lompoa, Kassi, Sapiria, Sakapao, Akarassaka, Sumpang Bita, Bulusumi, Bulu Sipong, Camingkana, Patenungan, Bulu Ribba, Salluka, dan Cumi Lantang. 


Gua-gua ini memiliki lukisan yang sangat bervariasi, tidak hanya teknik penggambarannya tetapi juga perihal keragaman polanya. Kecuali warna merah sebagai warna dominan, ada beberapa gua yang menampilkan pola manusia dengan warna hitam, yaitu di gua-gua Lompoa, Kassi, dan Sapiria. 


Adapun ragam pola yang dimaksud antara lain gambar cap kaki, anoa, dan sampan hanya terdapat di Gua Sumpang Bita. Pola ikan ditemukan di gua-gua Lasitae, Bulu Ballang, Akarassaka, Bulu Sippong, dan Bulu Ribba. Di Gua Bulu Ballang terdapat juga pola kura-kura, sedangkan di Gua Bulu Ribba hanya tertera gambar seekor ikan jenis lumba-lumba. 


Secara umum gua-gua tersebut mempunyai pola cap tangan dan babi, sedangkan pola perahu hanya terdapat di Gua Bulu Sippong. Satu-satunya pola babi yang mengandung makna religis-magis, yang dibuktikan dengan adanya semacam tatto atau bekas luka dipunggungnya, terdapat di Gua Sakapao.


Gambar dengan objek manusia jarang digunakan, meskipun beberapa dapat dijumpai di Indonesia, terutama di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Pola manusia ternyata ditemukan di Pangkajene (Sulawesi Selatan), antara lain di Lompoa, Kassi, dan Saporoa. 


Kecuali pola manusia, di Gua Lompoa terdapat pola lain seperti cap tangan, babi, matahari, ikan, perahu, dan bentuk geometrik, sedangkan yang unik dari Gua Kassi adalah pola kapak, mata bajak, dan ular. Dari pola tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ada semacam keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani. 


Kedua kebutuhan ini tampaknya mempunyai makna yang terpadu antara yang bernilai sosial-ekonomis, yang dicirikan oleh pola babi, perahu, kapak, dan mata bajak, serta yang bernilai magis, yang dicirkan dengan pola cap tangan dan matahari, sedangkan tampilan ular barangkali hanya sebagai peringatan saja kepada manusia agar berhati-hati terhadap hewan melata ini, atau bisa juga sebagai peringatan akan sesuatu yang membahayakan.


Kompleks seni cadas yang terdapat di Pulau Muna ini menunjukkan perbedaan yang signifikan, tidak saja perihal teknik penggambaran serta warna yang digunakan, tetapi juga polanya yang sangat bervariasi. Lukisan-lukisan yang tertera pada gua-gua itu ternyata menggunakan warna coklat yang terbuat dari tanah liat. 


Pola yang beragam lainnya dapat ditemukan di Gua Metanduno yang menggambarkan pola manusia, kuda, rusa, babi, anjing, ular, lipan, perahu, matahari, dan bentuk-bentuk geometrik. Kemudian juga terdapat satu adegan berburu yang memperlihatkan pemburu sedang menancapkan tombaknya ke punggung rusa, sementara di belakangnya dua ekor anjing mengikutinya. 


Pola ular dan lipan sebagai peringatan saja kepada masyarakat agar lebih berhati-hati sebab keduanya berbahaya bagi keselamatan manusia. Kecuali sebagai pemburu, pola manusia di gua ini juga berperan sebagai prajurit yang sedang bertempur, baik di darat dengan naik kuda maupu di laut dengan menggunakan perahu-perahu panjang serta membawa tombak, senjata tajam panjang, dan perisai.


Pola yang hampir sama ditemukan pula di Gua Kobori, kecuali babi, ular, dan lipan yang tidak ada disini. Peran manusia tidak saja sebagai pemburu atau prajurit, tetapi juga sebagai penari dan bahkan mampu terbang seperti burung. Peran yang terakhir ini dibuktikan dengan gambar-gambar manusia yang memiliki cakar pada tangan dan kakinya. 


Adegan menari masih dapat dikaitkan dengan unsur-unsur yang profan dan sakral, yang ada hubungannya dengan kesejahteraan hidup masyarakat pendukungnya. Sebaliknya, pola manusia terbang atau manusia burung dianggap mengandung gambaran buruk dan jahat terhadap orang lain untuk selalu mencelakakannya karena mereka menggunakan sihir yang dimilikinya. 


Pola yang dianggap spektakuler ditunjukkan oleh gambar dua perahu dengan layar berbentuk persegi panjang dan pola garis vertikal, memiliki dayung dan kemudi, serta di dalamnya terdapat beberapa awak perahu.


Pola yang unik terdapat di Gua Wa Bose, yaitu bentuk genital atau kelamin perempuan, sebab memiliki makna yang erat sekali hubungannya dengan kesuburan. Pola unik lainnya ditemukan di Gua Toko, yang menampilkan bentuk pohon kelapa dan jagung, yang secara harafiah menggambarkan pola yang bermakna sosial-ekonomis atau erat hubungannya dengan sistem mata pencaharian. 


Hal ini sama dengan yang ditemukan di Gua Kolombu, Gua Toko juga berada di sebuah bukit, tingginya sekitar 30 meter dari permukaan tanah. Di depan gua terdapat susunan batu gamping, yang diduga sebagai pagar pertahanan. Susunan batu gamping yang sama dijumpai pula di bagian belakang. Bentuknya menyerupai huruf "U" dan menghadap ke punggung bukit. 


Menilik pada bentuknya, Gua Toko memiliki tiga ruangan, yaitu ruang depan, tengah, belakang. Di ruang belakang terdapat sejumlah ceruk yang ternyata justru banyak lukisannya. Lantainya landai dari depan ke belakang dan mengandung endapan tanah yang cukup tebal.


Ceruk La Sabo terletak di jalur jalan setapak antara Gua Metanduno dan Kampung Mabolu. Ceruk ini panjangnya kira-kira 31 meter dengan arah barat-timur menghadap ke selatan. Serangkaian lukisan menggambarkan pola manusia dan hewan yang terdiri dari rusa, anjing, dan musang, serta satu-satunya perahu. 


Adegan perburuan memperlihatkan seorang pemburu sedang membidikkan senjatanya ke arah sekelompok rusa jantan dan betina yang berlarian untuk menyelamatkan diri. Adegan lainnya menunjukkan dua ekor rusa jantan sedang berkelahi, kemudian dinding yang berikut menampilkan gambar rusa, perahu, dan anjing, dan di ujung timur ceruk terdapat pola hewan yang secara fisik memiliki ciri-ciri jenis musang.


Ceruk Tangga Ara terletak di jalur jalan setapak yang menghubungkan antara Gua Metanduno dan kampung Mabolu. Jika dibandingkan dengan Ceruk La Sabo, Ceruk Tangga Ara ukurannya lebih besar dan tinggi, tetapi pendek. Meskipun demikian, ceruk ini ternyata hanya memiliki beberapa lukisan dengan pola manusia dan kuda. 


Hal ini disebabkan oleh dindingnya yang kasar dan tidak rata sehingga mungkin sulit untuk mencantumkan gambar-gambar pada permukaannya. Dengan demikian, lukisan yang terdapat di ceruk ini sangat terbatas jumlahnya. Bentuk lukisan terlihat kurang sempurnya, tetapi sepintas lalu dapat diketahui adegannya, antara lain gambar prajurit sedang memegang senjata tajam dan perisai, penunggang kuda, serta perkelahian satu lawan satu dengan menggunakan jenis senjata yang sama.


Ceruk La Nasrofa letaknya berhadapan dengan Gua La Kolumbu. Di mana letaknya berada disebuah tebing terjal, dengan ketinggian sekitar 20 meter dari permukaan tanah. Pada dinding yang terjal itu tampak ada lukisan, antara lain individu manusia, penunggang kuda dan pemburu. 


Ceruk Ida Malangi ditemukan oleh tim penelitian pada tahun 1984, pada waktu mengadakan pengamatan keliling di sekitar Gua Metanduno. Ceruk tersebut berada di sebelah timur laut Gua Metaduno. Ceruk ini memiliki 7 buah lukisan yang terdiri dari individu manusia, prajurit, penunggang kuda, lukisan yang belum jelas bentuknya, dan lukisan yang tidak selesai.


Lukisan-lukisan yang ditemukan di Pulau Muna telah diteliti oleh E. A. Kosasih pada tahun 1977. Lukisan-lukisan ini umumnya berada di gua-gua La Sabo, Tangga Ara, Metanduno, dan Kobori. Gaua lukisannya berbeda dengan gua-gua di Sulawesi Selatan, khususnya di Maros. 


Cap-cap jari tangan, yang merupakan unsur utama pada lukisan gua di Maros tidak ditemukan di Pulau Muna. Hal-hal yang dilukiskan di Gua Muna meliputi manusia dalam berbagai sikap (naik kuda, memegang tombak atau pedang, dan berkelahi), serta matahari dan perahu layar yang dinaiki orang. manusia seringkali dilukiskan dengan anggota badan atas dan bawah dibentangkan ke samping. 


Melihat gayanya, lukisan-lukisan yang terdapat di Pulau Muna lebih dekat dengan corak lukisan gua di Seram, Kei dan Irian Jaya. Suatu lukisan berupa goresan-goresan sederhana berjumlah 100 buah ditemukan oleh Roder di bagian barat daya Pulau Seram, yaitu pada dinding karang di atas Sungai Tala. Diantaranya terdapat gambar-gambar rusa, burung, manusia, perahu, lambang matahari, dan mata. Dilaporkan juga bahwa lukisan-lukisan semacam itu juga terdapat di bagian selatan dan barat Pulau Seram.


Seni Cadas di Maluku


Di Maluku, seni cadas berupa lukisan-lukisan pada dinding-dinding karang dan gua yang ditemukan oleh Roder pada tahun 1937 di Pulau Seram, yaitu di sepanjang Teluk Seleman. Di lima tempat yang berlainan, dekat Rumasikat, ditemukan lukisan-lukisan pada dinding karang yang terdiri dari dua kelompok yang berlainan. 


Yang pertama adalah kelompok lukisan berwarna merah yang sudah rusak, sedangkan kelompok kedua adalah berwarna putih dengan kondisi yang masih baik. Menurut Roder, lukisan berwarna merah adalah yang tua, sedangkan yang berwarna putih adalah yang lebih muda. Lukisan-lukisan yang ditemukan ini berupa cap-cap tangan, gambar-gambar kadal, manusia dengan perisai, dan orang dalam sikap berjongkok sambil mengangkat tangan, yang semuanya berwarna merah. Lukisan-lukisan berwarna putih hanya berupa burung dan perahu.


Seni cadas di maluku juga terdapat di Pulau Kei, diterakan pada tebing-tebing batu karang dengan ketinggian 10-15 meter dari atas permukaan laut. Lukisan tersebut pada umumnya hanya dibuat garis luar saja, tetapi ada yang diisi warna di bagian dalamnya, khususnya bentuk manusia. 


Kecuali manusia dengan berbagai adegan (menari, berperang, memegang perisai, dan jongkok dengan kedua tangan terangkat), ada pula pola topeng, burung, perahu, matahari, dan bentuk geometrik. Gaya lukisan mirip dengan yang ditemukan di Pulau Seram, Papua Barat, dan Timor, bahkan dengan lukisan di Australia bagian Selatan.


Di Kampung Dudumahan, pantai utara Pulau Nuhu Rowa yang masih satu gugusan dengan Pulau Kei, ditemukan lukisan dengan pola yang berbeda dengan pola yang pernah dilaporkan oleh Heekeren sebelumnya. Situs lukisan gua di Dudumahan tidak saja menampilkan pola manusia, tetapi juga ikan, kura-kura, topeng, perahu, matahari, dengan bentuk geometrik. 


Salah satu yang unik ialah pola manusia jenis wanita dengan bentuk jenis kelamin yang terlihat lebih mencolok. Lukisan seperti ini biasanya memiliki makna unsur kesuburan, sama halnya dengan lukisan kelamin perempuan di Gua Wa Bose, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.


Gambar-gambar pada umumnya dibuat garis luarnya saja, tetapi gambar-gambar yang menyerupai manusia terisi sepenuhnya dengan cat merah. Lukisan-lukisan terdiri dari cap-cap tangan berlatar belakang merah, topeng, atau wajah manusia, lambang-lambang matahari, manusia dengan perisai, manusia berjongkok dengan tungkai terbuka lebar dan tangan-tangan terangkat, orang-orang menari atau berkelahi, orang-orang dalam perahu, burung, dan gambar-gambar geometrik. 


Gaya lukisan-lukisan serupa ini ditemukan di dinding karang terjal dan di gua-gua di Tutuala, yaitu Lene, Hara dan Ili Kere-kere, di bagian pantai utara Timor Timur. Lukisan-lukisan serupa ditemukan pula di dataran tinggi Baucau, serta di gua-gua Lie Kere dan Lie Siri.


Seni Cadas di Timor


Penelitian seni cadas di Timor Timur dilakukan oleh Ruy Cinatty pada tahun 1962, dengan mempelajari sejumlah situs lukisan gua di pulau-pulau Tulu Ala, Ili Kere-kere, Sunu Taraleu, dan Lene Hara. Di gua Tutu Ala terdapat gambar pola manusia, hewan, perahu, dan matahari yang semuanya digambar dengan menggunakan warna merah. 


Lukisan manusia yang dianggap sebagai nenek moyang, digambarkan dalam bentuk sedang berperang atau menari sambil mengangkat tongkat. Ada dugaan bahwa adegan ini merupakan suatu upacara yang bermakna ritual.


Pulau Ili Kere-kere merupakan tebing batu karang yang berceruk. Pada ceruk-ceruk itu ditemukan sejumlah lukisan berwarna merah, hitam, dan kuning. Bentuk lukisan pada umumnya bersifat antropomorfis, baik yang individu maupun kelompok. Bentuk individu antara lain menggambarkan pola manusia sedang memegang salah satu sudut benda berbentuk segi empat. 


Bentuk kelompok terdiri dari adegan berperang atau menari; tangan salah seorang digambarkan dengan jari-jari yang terputus. Kelompok berikut tampak sedang melakukan sesuatu seperti upacara, sedangkan dua kelompok lainnya menggambarkan perahu jenis kora-kora, yakni perahu panjang khas Maluku dengan sejumlah dayung di setiap sisinya. Pola perahu yang demikian ini dapat dijumpai di Gua Metanduno, Pulau Muna (Sulawesi Tenggara).


Sumu Traleu adalah nama pulau karang berdinding terjal, dan pada dinding itu terdapat lukisan-lukisan berwarna merah. Pola gambar hanya dua jenis, yaitu manusia dan perahu. Perahu tidak saja berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga untuk menangkap ikan atau bahkan sebagai kendaraan perang. Berdasarkan pola ini dapat disimpulkan bahwa lukisan perahu tersebut mengandung dua maksud, yaitu sebagai perahu penangkap ikan dan untuk kebutuhan berperang.


Gua Lene Hara memiliki tiga ruang dengan pola lukisan yang terdiri dari manusia, hewan, matahari, bulan sabit, perahu, alat bajak dan bentuk geometrik. Lukisan hewan berupa rusa, kura-kura, dan ikan. Dua ekor kura-kura digambarkan sedang memakan ikan. Pola ikan lainnya digambarkan dengan teknik tembus pandang sehingga memperlibatkan organ dalamnya. 


Lukisan perahu tradisional dari jenis kora-kora, yang biasanya digunakan untuk melakukan upacara adat atau peperangan. Warna yang digunakan adalah warna merah dan hitam, tetapi ada juga didapat warna hijau yang sudah pudar.


Penggalian yang dilakukan di Gua Dudumunir, ditemukan cap-cap tangan dalam jumlah yang banyak disamping dengan penemuan alat serpih-bilah, gerabah, dan bekas-bekas penguburan. Di samping cap-cap tangan dengan warna merah, ditemukan pula cap-cap kaki dengan warna merah yang menunjukkan persamaan dengan lukisan yang terdapat di daerah Maros, Sulawesi Selatan.


Seni Cadas di Irian


Sedangkan penelitian seni cadas di Irian telah dilakukan oleh Jozef Roder pada tahun 1937. Situs yang diteliti antara lain Teluk Berau (antara Kokas dan Goras) dan pulau-pulau Ogar dan di Gua Dudumunir di Pulau Arguni. Lukisan-lukisan itu tertera pada tebing batu karang dengan ketinggian antara 2-4 m di atas permukaan laut, bahkan ada yang lebih tinggi dengan kisaran 10-15 m dari permukaan laut. 


Situs lainnya terdapat di teluk-teluk Triton, Bitsyari, Seireri (di Pulau Muamuran dan Roon), dan di sekitar Danau Sentani. Pada beberapa lokasi, lukisan-lukisan ini disebut ambersibui (ditulis oleh seorang asing), karena mereka tidak mengenal adat yang ada kaitannya dengan lukisan tersebut.


Penelitian yang dilakukan oleh Arkeologi Nasional pada tahun 1975 dan 1976 di Pulau Waigeo bagian utara menemukan lukisan pada tebing batu di tepi sungai di Kampung Asokwir. Lukisan itu menggunakan warna putih yang sudah pudar sehingga bentuk sebenarnya tidak jelas lagi. 


Jika diperhatikan, lukisan itu menunjukkan pola burung yang distilir dan bentuknya sangat sederhana. Lukisan yang selanjutnya ditemukan di daerah Kaimana, di sepanjang Teluk Bitsyari, Kampung Sisir I, dan Kampun Mai Mai. Salah satu lukisan yang unik dari Teluk Bitsyari ialah pola tiga rangka manusia yang distilir. Di atas tengkorak masing-masing terdapat tiga tanduk runcing, sedangkan tubuhnya panjang menyerupai bentuk kelamin laki-laki. Warna yang digunakan adala merah dan kuning.


Seni cadas di Kampung Sisir ditemukan pada tebing batu karang dengan ketinggian sekitar 20 meter dari permukaan laut. Pola lukisan terdiri dari manusia, cap tangan, hewan melata, pohon, perahu, dan matahari, semuanya menggunakan warna merah. Bentuk-bentuk geometrik menunjukkan pola hewan melata, ikan, jala, dan tumbuh-tumbuhan dengan menggunakan warna merah dan kuning. 


Lukisan gua di Kampung Mai Mai terdapat di beberapa lokasi, tertera pada tebing-tebing yang curam. Polanya tergolong unik, yaitu manusia tanpa kaki, hamil, berburu, dan di dalam sangkar. Di samping itu, terdapat pola cap tangan, topeng yang bercahaya pada sisi-sisinya, serta hewan.


Lukisan gua di Irian pada umumnya mirip dengan lukisan yang terdapat di Pulau Kei, meskipun ada beberapa bentuk yang khusus. Di daerah Kokas ditemukan lukisan cap tangan dan kaki denga latar belakang berwarna merah. Demikian di daerah Namatote telah menemukan pola yang sama. 


Bentuk lain yang dijumpai pada kedua situs ini adalah pola manusia, kadal, ikan, dan perahu dengan pola distilir. Lukisan cap tangan dan kaki, menurut cerita setempat, merupakan bekas jejak nenek moyang mereka ketika memasuki gua yang gelap, dalam melakukan perjalanan dari arah timur ke barat. Seni cadas yang terdapat di Irian bagian utara, yakni di sekitar Teluk Serieri dan Danau Sentani yang telah diteliti oleh K. W. Galis yang sebagian besar lukisan berbentuk abstrak, yakni berupa garis lekung, spiral, serta hewan melata yang distilir. 


Di dalam gua berlukisan ini, terutama yang terletak di tepi danau, sungai, dan laut, sering dijumpai tulang-belulang manusia. Tidak dijelaskan mengenai jenis ras, serta keturunannya, dan apakah mereka juga merupakan pendukung budaya lukisan tersebut.


Roder memilah-milah lukisan tersebut ke dalam beberapa kelompok berdasarkan warna dan gayanya. Ia berpendapat bahwa warna merah lebih tua daripada warna hitam, dan warna hitam lebih tua daripada warna putih. Ketiga warna ini kadang-kadang dijumpai saling tumpang tindih serta berurutan, yakni mula-mula warna merah tertutup warna hitam, dan warna hitam juga tertutup warna putih. Menurut gayanya, Roder menggolongkan lukisan-lukisan Irian Jaya sebagai berikut:


1. Gaya Tabulinetin
2. Gaya Mangga
3. Gaya Arguni dan Ota 1
4. Gaya Ota II dan Sosorra


Pada gaya Arguni dan Ota I terdapat lukisan-lukisan berwarna hitam, gaya Ota II dan Sosorra menampilkan lukisan-lukisan perahu dengan disertai adat menempatkan mayat di dalam gua-gua. Sebagaian besar lukisan-lukisan itu berwarna merah, terdapat pula lukisan-lukisan yang menyerupai manusia dan binatang; manusia dengan topi yang lancip, orang yang berjongkok dengan tangan diangkat, dan gambar kadal sebagai nenek moyang. 


Di kalangan penduduk setempat, binatang itu disebut matutuo dan dianggap sebagai pahlawan nenek moyang, dan karena itu sampai sekarang di tempat-tempat yang mengandung lambang itu masih dilakukan uapcara dan tari-tarian. Dikatakan juga bahwa cap tangan itu memiliki kekuatan pelindung dan mencegah kekuatan jahat. Para perempuan dilarang menyaksikan lukisan-lukisan ini. 


Selain cap-cap tangan dan bentuk gabungan antara manusia dan binatang, terdapat pula lukisan orang dengan perisai dan bumerang, burung, dan perahu. Gambar-gambar semacam ini menjadi suatu perhiasan dalam upacara penguburan, di atas dinding kayu, perisai, dan manik-manik.


Seni Cadas di Kalimantan


Penelitian seni cadas di Kalimantan dilakukan oleh Puslit Arkenas dan Balai Arkeologi Banjarmasin dengan melakukan survei di Pegunungan Meratus, yang termasuk Kabupaten Tabalong (Kalimantan Selatan), untuk memperoleh data tentang aktivitas kehidupan zaman prasejarah yang berciri mesolitik dan neolitik. 


situs Leang Pattae, seni cadas, lukisan di dinding gua, lukisan didinding gua, peninggalan pra-aksara, peninggalan pra-sejarah, peninggalan praaksara, peninggalan prasejarah, lukisan didinding gua peninggalan masa


Salah satu dari gua tersebut adalah Gua Babi, di dalamnya ditemukan sisa-sisa aktivitas hunian yang dicirikan oleh benda-benda serpihan batu rijang, pecahan gerabah berhias, serta himpunan sisa moluska dari kelas Gastropoda. Contoh arang dari Gua Babi yang dianalisis dengan metode pertanggalan c-14 telah menghasilkan umur sekitar 5000 tahun yang lalu.


Penelitian yang lebih intensif pada tahun 1996 oleh Puslit Arkenas dan Balai Arkeologi Banjarmasin di daerah Tanjung Mangkalihat, Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur. Penelitian ini juga berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Jean-Michel Chazine yang terus dilakukan hingga tahun 2001. 


Dari sejumlah 25 gua yang terdapat di sekitar Gunung Marang, baru terdapat 12 gua yang diteliti; 8 gua diantarana memiliki lukisan yang bervariasi. Gua-gua yang dimaksud adalah Mardua, Payau, Liang Sara, Masri, Ilas Keceng, Tewet, Tamrin, dan Ham. Pola yang dominan adalah cap tangan yang ada di Kompleks Maros dan Kompleks Pangkajene, Sulawesi Selatan.

 
Pola berikutnya antara lain banteng dan tapir yang telah punah ribuan tahun yang lalu, kemudian babi, rusa, tumbuh-tumbuhan, bentuk-bentukgeometrik, serta manusia yang berperan sebagai pemburu dan penari. Berdasarkan kajian pola lukisan dan temuan artefak yang terbuat dari tanah liat, diperkirakan umurnya sekitar 10000 tahun yang lalu. 


Pola, bentuk dan pola lukisan menunjukkan adanya kelas sosial pada masyarakat pendukungnya yang berkembang pada waktu itu, baik yang mengandung makna sosial-ekonomis maupun religius-magis.


Seni cadas di Gua Tamrin ditemukan sejumlah lukisan penari bertopeng yang menutupi seluruh bagian kepalanya. Lukisan ini mirip dengan tarian yang masih digunakan di Irian sekarang. Selanjutnya adalah Gua Ham dengan ditemukannya pola cap tangan yang mencapai 275 gambar, serta 10 jenis pola lainnya seperti penari, tapir, rusa, dan tumbuh-tumbuhan. Chazine berpendapat bahwa pola cap tangan yang dijumpai dalam sebuah gua tersebut merupakan yang paling banyak di dunia.


situs Leang Pattae, seni cadas, lukisan di dinding gua, lukisan didinding gua, peninggalan pra-aksara, peninggalan pra-sejarah, peninggalan praaksara, peninggalan prasejarah, lukisan didinding gua peninggalan masa


Itulah penjelasan tentang penemuan dan bentuk-bentuk seni cadas yang berkembang pada masa Pra-aksara di Indonesia. Dengan ditemukannya peninggalan seni cadas di Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat pra-aksara di Indonesia telah memiliki perkembangan kebudayaan yang cukup tinggi.