Penelitian Sejarah - ABHISEVA.ID

Penelitian Sejarah

Penelitian Sejarah


tahapan penelitian sejarah

Pengertian Penelitian Sejarah


Sebagai sebuah ilmu, di dalam sejarah terdapat penelitian. Penelitian sejarah bertujuan untuk mencari kebenaran. Kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran menurut takaran ilmu pengetahuan. Ciri umum dari kebenaran ilmu pengetahuan yaitu bersifat rasional dan empiris. Di dalam sejarah kebenaran juga bersifat sementara yang berarti bahwa kebenarannya tidaklah mutlak. Kesementaraan inilah yang membuat ilmu sejarah selalu berkembang.

Di dalam ilmu pengetahuan terdapat objeknya masing-masing, pun begitu juga dengan sejarah dimana manusialah yang menjadi objeknya. Penulisan sejarah menggunakan metode di dalam penulisannya yang terdiri dari lima tahapan; (1) pemilihan topik; (2) heuristik; (3) verifikasi; (4) interpretasi; (5) Historiografi. Di bawah ini akan diberikan penjelasan mengenai masing-masing tahapan penelitian sejarah itu.

Pemilihan Topik 


Objek kajian sejarah sangatlah luas. Oleh karena itu, seorang penulis sejarah maupun seorang sejarawan haruslah menentukan topik atau tema yang akan menjadi fokus penelitiannya. Topik yang diteliti haruslah topik yang layak untuk dijadikan penelitian dan bukan merupakan pengulangan maupun duplikasi dari hasil penelitan sebelumnya. Kelayakan topik penelitian sejarah dapat dilihat dari ketersediaan sumber yang dapat dijadikan sebagai bahan penelitian. Tentunya janganlah sampai seorang penulis sejarah telah menetapkan topik yang menarik untuk diteliti, akan tetapi sumbernya ternyata tidak ada. 

Pemilihan topik penelitian sejarah ini sangat penting agar penelitian sejarah lebih terfokus pada masalah yang akan diteliti. Pemilihan topik biasanya dipilih oleh seorang penulis sejarah maupun sejarawan berdasarkan kedekatan emosional dan kedekatan intelektual. Untuk mengarahkan masalah yang akan diteliti dalam topik tersebut, alangkah baiknya dibuat terlebih dahulu  pertanyaan-pertanyaan yang akan menjadi masalah penelitian. Pertanyaan-pertanyaan itu meliputi pertanyaan apa, siapa, dimana, kapan, bagaimana dan mengapa. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat dijadikan pertimbangan dalam pemilihan topik.

1. Kebermanfaatan ilmiah


Secara alamiah, setiap ilmu bertugas untuk selalu menemukan berbagai hal baru dari objek kajiannya, termasuk pula sejarah yang harus selalu menemukan berbagai hal baru dari objek yang dikajinya. Penulis sejarah maupun sejarawan dituntut untuk memilih topik penelitian yang benar-benar baru dan belum pernah dibahas oleh orang lain.

2. Kebermanfaatan sosial


Setiap ilmu memiliki aspek manfaat sosial begitupun dengan sejarah. Sejarah diharapkan memiliki manfaat sebagai panduan bagi masyarakat pada masa sekarang dalam menjalani kehidupan menuju masa depan.

Di dalam memilih topik penelitian sejarah, ada beberapa hal yang harus dihindari oleh seorang penulis sejarah maupun sejarawan, diantarnya:

1. Kesalahan baconian


Kesalahan baconian terjadi apabila beranggapan bahwa tanpa konsep, teori, ide, paradigma, praduga, hipotesis atau generalisasi yang lain, penelitian sejarah dapat dilakukan.

2. Kesalahan terlalu banyak pertanyaan


Kesalahan terlalu banyak pertanyaan dapat terjadi apabila menanyakan lebih dari dua pertanyaan sekaligus, menanyakan satu masalah tetapi jawaban atas pertanyaan itu menimbulkan pertanyaan dan pertanyaan yang terlalu kompleks.

3. Kesalahan pertanyaan yang bersifat dikotomi


Kesalahan pertanyaan yang bersifat dikotomi terjadi karena adanya pandangan hitam putih bahwa seolah-olah peristiwa atau tokoh hanya memiliki dua kemungkinan. Sebagai contoh adalah berkaitan dengan kedatangan tentara Belanda ke Indonesia pada tahun 1947 dan 1948 adalah suatu bentuk aksi polisionil dan agresi militer. Hal ini hanya berakar pada dua kemungkinan saja, jika penulis sejarah atau sejarawan berpihak kepada Kerajaan Belanda maka akan disebut sebagai aksi polisionil. 

Sebaliknya, jika berpihak kepada Indonesia maka akan disebut sebagai agresi militer. Contoh lainnya adalah tentang profil Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien sebagai pemberontak dan Pejuang dalam konteks Perang Aceh. Jika seorang penulis sejarah berpihak pada Indonesia maka Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien adalah seorang pejuang. Akan tetapi, jika seorang penulis sejarah berpihak kepada Kerajaan Belanda maka Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien adalah seorang pemberontak.

4. Kesalahan Metafisik


Kesalahan metafisik antara lain topik-topik filsafat, moral dan teologi. Sejarah merupakan ilmu empiris yang tidak membahas persoalan metafisik.

5. Kesalahan Topik Fiktif


Topik fiktif bukanlah topik sejarah. Perlu dipahami bahwa di dalam sejarah tidak mengenal kata “andai kata”.

Itulah beberapa hal yang harus dipahami dari pemilihan topik penelitian sejarah. Setelah ditentukan topik penelitian, maka langkah selanjutnya adalah mencari sumber acuan utama, yaitu sumber-sumber yang dianggap memuat data-data atau informasi yang relevan dengan topik penelitian. Dengan menelaah sumber-sumber acuan utama secara efektif, peneliti akan dapat memahami ruang lingkup penelitian, baik ruang lingkup masalah maupun ruang lingkup temporal (waktu) dan spasial (tempat/wilayah) dari objek penelitian.

Setelah menentukan topik, perlu kiranya dibuat rencana penelitian. Rencana penelitian berisi tentang permasalahan, historiografi, sumber sejarah dan garis besar. Di dalam permasalahan perlu dikemukakan tentang subject matter yang akan diteliti, mengapa perlu diteliti, maksud dari tujuan penelitian, luasan dan batasan penelitian dalam ruang dan waktu serta konsep dan teori yang digunakan. 

Di dalam historiografi, perlu dikemukakan sejarah penulisan bidang yang akan diteliti. Tentang sumber sejarah, sebelum ke lapangan seorang penulis sejarah harus mengetahui sumber sejarah yang akan dicari, bagaimana mencarinya dan di mana mencarinya dan mengenai garis besar harus segera nampak jika itu memang penelitian sejarah dan bukanlah penelitian yang lain.

Pencarian Sumber Sejarah (Heuristik)


Tahapan kedua dalam langkah penelitian sejarah adalah penelusuran atau pencarian sumber sejarah atau yang biasa juga disebut dengan tahapan heuristik. Di dalam mencari sumber sejarah, haruslah diutamakan keberadaan dari sumber primer daripada sumber sekunder. Seorang penulis sejarah maupun seorang sejarawan harus benar-benar mengetahui mana sumber primer dan sumber sekunder. Sebab banyak sekali ketersediaan sumber-sumber sejarah itu sehingga seseorang penulis sejarah maupun sejarawan haruslah benar-benar dapat mengidentifikasi sumber-sumber sejarah itu. 

Di dalam penelusuran sumber sejarah, seorang penulis sejarah maupun sejarawan dapat menemukan sumber sejarah di lokasi terjadinya suatu peristiwa. Di sini dapat ditemukan sumber-sumber yang berbentuk benda (artefak). Selain itu dapat juga menemukan sumber-sumber berupa tulisan dengan mengunjungi perpustakaan, kantor arsip, kantor-kantor pemerintahan dan tempat-tempat lainnya. 

Selain berbentuk benda dan tulisan dapat juga ditelusuri sumber sejarah yang didapatkan dari pelaku atau pun saksi sejarah berupa keterangan mereka tentang peristiwa sejarah yang sesuai dengan topik penelitian yang sedang dikerjakan.

Di dalam pencarian sumber sejarah, ada beberapa kesalahan yang harus dihindari, berikut ini adalah kesalahan-kesalahan yang harus dihindari dalam pencarian sumber sejarah;

1. Kesalahan holisme


Kesalahan holisme adalah memilih satu bagian yang penting dan menganggap satu bagian itu sudah dapat mewakili keseluruhannya. Sebagai contoh adalah peristiwa yang terjadi saat revolusi fisik 1945-1950, Seorang penulis sejarah memilih latar di Surabaya tentang pertempuran antara pihak Indonesia melawan Sekutu. Hal-hal yang terjadi di Surabaya berkaitan dengan peristiwa pertempuran antara rakyat Indonesia melawan Sekutu dianggaplah memiliki kesamaan dengan pertempuran antara rakyat Indonesia melawan Sekutu di daerah lain yang pada saat itu juga terjadi pertempuran.

2. Kesalahan Pragmatis


Kesalahan pragmatis terjadi apabila untuk tujuan tertentu seorang penulis sejarah hanya memilih sumber yang mendukung tujuan tersebut.

3. Kesalahan ad hominem


Kesalahan ad hominem terjadi apabila seseorang memilih orang, otoritas, profesi, pangkat atau jabatan di dalam pengumpulan sumber sejarah.

4. Kesalahan kuantitatif


Kesalahan kuantitatif sering terjadi karena orang lebih mempercayai pada dokumen dengan angka-angka dibandingkan dengan testimoni biasa.

5. Kesalahan Estetis


Kesalahan estetis terjadi apabila seseorang hanya memilih sumber-sumber sejarah yang sekiranya memiliki efek estetis.

Itulah tadi beberapa hal yang berkaitan dengan pencarian sumber sejarah atau tahapan heuristik.

Kritik Sumber Sejarah (Verifikasi)


Sumber-sumber sejarah yang telah terkumpul tidak dapat langsung digunakan. Hal ini dikarenakan tidak semua sumber sejarah yang diperoleh merupakan sumber yang autentik dan informasi yang termuat di dalamnya belum tentu dapat dipercaya. Hal seperti ini dapat terjadi karena ada beberapa sumber sejarah yang sengaja dipalsukan untuk kepentingan-kepentingan tertentu, oleh karena itu, perlulah kiranya dilakukan suatu bentuk verifikasi atau kritik sumber. 

Tujuan utama dari kritik sumber adalah untuk melakukan seleksi data, sehingga diperoleh fakta yang akurat dan informasi yang kredibel terhadap suatu peristiwa sejarah. Setiap data ada baiknya dicatat dalam lembaran lepas, agar memudahkan untuk pengklasifikasiannya berdasarkan dengan kerangka tulisan yang telah dibuat di dalam pemilihan topik penelitian.

Kritik sumber meliputi kritik intern dan kritik ekstern yang akan dijelaskan di bawah ini:

(1) Kritik Ekstern


Kritik ekstern dilakukan dengan menyelidiki aspek-aspek luar dari sumber sejarah, kritik dilakukan untuk mengetahui keaslian sumber. Hal-hal yang dilakukan dalam kritik ekstern antara lain dengan cara meneliti kertas yang digunakan, tintanya, hurufnya, usia sumber dan sebagainya. 

Sebagai kasus contoh adalah seseorang yang ingin melakukan penelitian sebuah naskah yang ditulis oleh pegawai kolonial Inggris di Indonesia, maka bentuk huruf dan gaya bahasa yang digunakan haruslah bersesuaian dengan zaman tersebut. Begitu pula juga dengan kertas yang digunakan haruslah sezaman sehingga dapatlah dikatakan jika naskah tersebut asli. Penyelidikan terhadap keaslian sumber juga dilakukan pada artefak karena ada artefak yang telah dipalsukan, misalnya tengkorak manusia purba, arca, dan lain sebagainya.

(2) Kritik Intern


Krikitik intern bertujuan untuk menilai kredibilitas sumber. Kritik intern dilakukan dengan meneliti isinya. Yaitu hal-hal yang berkait dengan isi pernyataan, fakta-fakta, dan ceritanya dapat dipercaya. Salah satu cara yang dapat digunakan di dalam menguji kredibilitas sumber sejarah adalah dengan cara membandingkan dengan sumber-sumber lain yang juga memberikan informasi yang sama.

Semisal adalah tentang kebijakan tentang perubahan undang-undang agraria di pedesaan pada tahun 1950-1955. Diketemukanlah sebuah laporan tertulis dari sebuah kecamatan yang berisi tentang laporan yang dibuat oleh Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD). Dalam laporan tersebut mestilah dicantumkan pula nama-nama pengurus LKMD dan juga hal-hal yang menjadi ciri bahwa laporan tersebut dikeluarkan oleh instansi LKMD. 

Selain itu perlulah diketahui pula sejak kapan adanya LKMD itu. Sebagaimana diketahui bahwa pada saat itu belumlah ada suatu instansi yang bernama LKMD, sehingga sumber tersebut tidaklah dapat dipercayai dan dapat digunakan sebagai sumber sejarah untuk menjelaskan tentang perubahan undang-undang agraria di pedesaan pada tahun 1950-1955.

Jadi, kritik internal haruslah dilakukan secara kritis. Pada umumnya sejarawan tidak terlalu banyhak melakukan kritik terhadap sumber yang beruba bangunan. Kritik terhadap sumber bangunan lebih banyak dilakukan oleh para ahli arkeologi. Para ahli arkeologi dengan teknologi yang dimilikinya dapat melakukan pengujuan terhadap bahan yang digunakan di dalam pembangunan bangunan-bangunan bersejarah. Dengan demikian, akanlah dapat diketahui mana bangunan yang asli dan mana yang tidak.

Kritik yang dilakukan oleh para peneliti sejarah dilakukan terhadap sumber-sumber lisan. Cara ini dilakukan terutama untuk melihat apakah yang disampaikan oleh informan mengandung sebuah kebenaran, atau kesaksian atau informasi yang diberikan adalah sebuah kebohongan. 

Peneliti sejarah melakukan kritik dengan cara seperti melihat usia dari informan, semakin tua usia informan maka semakin rentan pula mengenai informasi yang ia ingat. Kedua, melihat peran yang dilakukan oleh informan dalam peristiwa yang diteliti. Apakah informan tersebut menyaksikan kejadian secara langsung atau tidak. Ketiga adalah melakukan pengecekan antara informan yang satu dengan informan yang lainnya.

Di dalam melakukan kritik sumber ada beberapa hal yang harus dihindari diantaranya adalah:

(1) Kesalahan Pars Pro Toto


Kesalahan pars pro toto terjadi apabila penulis sejarah atau sejarawan menganggap bahwa bukti yang hanya berlaku untuk sebagian dianggap berlaku untuk keseluruhan. Semisal adalah keluhan yang diberikan oleh Kartini di dalam surat-suratnya tentang kehidupan wanita Jawa yang selalu dipingit. 

Keluhan yang dikemukakan oleh Kartini kemudian dijadikan sebagai suatu pernyataan bahwa kehidupan wanita Jawa selalu dipingit. Secara kenyataan padahal pingitan hanya diberlakukan untuk gadis-gadis keturunan bangsawan saja. Sementara gadis-gadis desa tidak melakukan tradisi pingitan sebagaimana yang dirasakan atau dialami oleh Kartini.

(2) Kesalahan Toto Pro Pars


Kesalahan toto pro pars terjadi apabila seorang penulis sejarah atau sejarawan mengemukakan keseluruhan padahal bukti yang dimaksud adalah bukti untuk sebagian. Misalnya adalah seluruh orang-orang bumiputera yang bersekolah di sekolah-sekolah negeri pada masa kebijakan politik etis diberlakukan telah menjadi orang-orang yang berpikiran Barat. Pada kenyataannya ada juga kalangan bumiputera yang meskipun telah mengenyam pendidikan Barat pada masa kebijakan politik etis yang masih berpikiran mistik.

(3) Kesalahan menganggap pendapat umum sebagai fakta

Salah satu contoh yang menganggap pendapat umum sebagai fakta semisal adalah anggapan bahwa suku Jawa adalah masyarakat yang hidup dengan corak agraris. Pada kenyataannya terdapat pula orang-orang dari Suku Jawa yang hidup sebagai pedagang maupun sebagai nelayan.

Penafsiran Sumber Sejarah (Interpretasi)


Tahapan selanjutnya dari penelitian sejarah setelah seorang penulis sejarah maupun seorang sejarawan melakukan verifikasi terhadap sumber-sumber sejarah adalah melakukan penafsiran atau interpretasi. Di dalam melakukan interpretasi, seorang penulis sejarah maupun sejarawan melakukan analisis sesuai dengan focus penelitiannya. 

Kajian sejarah yang bersifat ilmiah, dalam penafsiran biasanya menggunakan teori-teori dari ilmu-ilmu social. Dengan cara seperti ini, diharapkan penulisan sejarah akan lebih objektif dalam batas keilmiahannya. Walaupun demikian, penafsiran dalam sejarah tidak dapat terlepas dari unsur subjektivitas penulisnya. Subjektivitas dapat terjadi oleh karena disebabkan penulis sejarah memiliki pandangan tersendiri terhadap sumber-sumber sejarah yang telah ia temukan.

Penafiran terhadap sumber sejarah dilakukan setelah sumber sejarah lulus uji verifikasi. Pada tahap ini, informasi yang termuat di dalam sumber sejarah dipelajari dan fakta-fakta sejarah yang terkandung di dalam informasi itu diangkat kepermukaan. Fakta sejarah adalah pernyataan sejarawan tentang suatu hal. Pernyataan tersebut merupakan kesimpulan dari kajian kritis terhadap informasi yang terdapat di dalam sumber-sumber sejarah.

Di dalam interpretasi atau penafsiran sumber sejarah, terdapat beberapa bentuk, diantaranya:

1. Determinisme Rasial


Penafsiran sejarah berdasarkan pada faktor-faktor sifat fisik pada diri manusia (etnologi, keturunan dan atau ras). Seorang sejarawan atau penulis sejarah beranggapan bahwa faktor sifat fisik manusia merupakan faktor pengontrol di dalam sejarah manusia, sehingga di dalam menafsirkan sejarah, mereka mengutamakan faktor sifat fisik tersebut.

2. Penafsiran Geografis


Penafsiran geografis mencari kunci sejarah dalam lingkungan fisik di luar manusia, semisal seperti faktor-faktor geografis: iklim, tanah, persebaran flora dan fauna, sumber-sumber daya alam, dan sebagainya. Seorang sejarawan atau penulis sejarah beranggapan bahwa faktor-faktor  geografis akan berpengaruh terhadap manusia yang tinggal dilingkungan itu. Maka sejarawan atau penulis sejarah di dalam menafsirkan sejarah tidak lepas dari faktor-faktor geografis.

3. Interpretasi Ekonomi


Interpretasi ekonomi diilhami oleh bagaimana cara produksi di dalam kehidupan ekonomi suatu masyarakat dapat menentukan karakter umum sejarah masyarakat itu sendiri. Interpretasi ekonomi berpengaruh pada pola-pola politik, sosial, agama, dan juga kebudayaan. Oleh sebab itulah, seorang sejarawan atau pun penulis sejarah di dalam menafsirkan sejarah akan melihat pada faktor-faktor ekonomi.

4. Penafsiran Teori Orang Besar


Para sejarawan atau penulis sejarah dari kelompok romantic berpendapat bahwa yang menjadi faktor penyebab utama di dalam perkembangan sejarah adalah tokoh-tokoh orang besar (great man theory). Sejarah bagi mereka adalah biografi kolektif. Yang dimaksud disini dengan tokoh-tokoh besar misalnya adalah para negarawan, kaisar atau pemimpin negara, panglima perang, filsuf dan juga para nabi. Salah satu contoh tokoh besar semisal adalah Nabi Muhammad SAW, Soekarno, Konfusius, Julius Caesar, Hammurabi dan sebagainya.

5. Penafsiran Spiritual atau Idealistik


Penafsiran spiritual atau idealistik kaitannya dengan peran jiwa (spirit, soul), ide atau cita-cita manusia dalam perkembangan sejarah. Sejarawan atau penulis sejarah beranggapan bahwa ide merupakan penggerak sejarah.

6. Penafsiran Ilmu dan Teknologi


Penafsiran ilmu dan teknologi mencoba melihat kemajuan manusia memiliki hubungan langsung dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Ilmu pengetahuan dengan penafsiran teknologinya ini pada gilirannya dapat menentukan kehidupan dan kegiatan ekonomi manusia. Di dalam penafsiran ini manusia dianggap sebagai “pencipta” daripada ilmu pengetahuan dan pengguna teknologi sebagai pemeran utama.

7. Penafsiran sosiologis


Penafsiran sosiologis mencoba melihat asal-usul, struktur dan kegiatan masyarakat di dalam interaksinya dengan lingkungan fisiknya. Masyarakat dan lingkungan fisik senantiasa bersama-sama maju di dalam suatu proses evolusi. Sosiologi dan antropologi budaya mencoba untuk menjelaskan pengulangan dan keseragaman dalam kausalitas sejarah.

8. Penafsiran sintetis 


Penafsiran sintetis mencoba menggabungkan semua faktor atau tenaga yang menjadi penggerak sejarah, menurut penafsiran ini, tidak ada satu kategori “sebab-akibat” tunggal yang cukup untuk menjelaskan semua fase dan periode dari perkembangan sejarah. Artinya perkembangan dan jalannya sejarah digerakkan oleh berbagai faktor dan tenaga bersama-sama dan manusia tetaplah sebagai pemeran utama di dalam gerak sejarah.

Demikianlah penjelasan tentang interpretasi atau penafsiran sejarah, tahapan selanjutnya dari penelitian sejarah adalah tentang penulisan sejarah atau historiografi.

Penulisan Sejarah (Historiografi)


Penulisan sejarah atau historiografi merupakan tahapan akhir di dalam penelitian sejarah. Historiografi adalah proses menyusun secara tertulis dari hasil temuan-temuan yang diperoleh di dalam suatu penelitian sejarah menjadi cerita yang siap dibaca atau dinikmati oleh pembacanya. Penulisan kisah atau cerita sejarah tentu saja tidak boleh melupakan aspek kronologis. Di bawah ini adalah penyajian penelitian sejarah yang pada umumnya terdiri dari tiga bagian utama, yaitu sebagai berikut:

1. Bagian pertama yang terdiri atas judul dan pendahuluan dimana memuat latar belakang penelitian, permasalahan, kajian pustaka, metode yang digunakan dan juga garis besar dari isi penelitian.

2. Bagian kedua yang berisikan tentang pembahasan atau uraian argumentasi yang disusun menjadi kisah atau rekonstruksi peristiwa yang dikaji. Pada bagian ini dapat dibagi lagi menjadi beberapa bagian agar kisah sejarah lebih mudah dibaca dan dipahami oleh pembaca. Selain itu, pemabagian ini juga dimaksudkan untuk menggiring pembaca menuju kesimpulan dari penelitian.

3. Bagian ketiga atau akhir berisi tentang kesimpulan dari penelitian yang dilakukan oleh penulis sejarah atau sejarawan. Di samping itu, pada bagian akhir ini juga dimuat daftar pustaka dan sumber-sumber lainnya yang digunakan sebagai bahan penyusunan kisah atau cerita sejarah.

Di dalam penulisan sejarah ada beberapa hal yang harus dihindari oleh seorang penulis sejarah maupun sejarawan, diantaranya adalah;

1. Kesalahan Narasi


Kesalahan narasi adalah kesalahan di dalam penyajian. Terdapat tiga hal yang harus dihindari dalam tulisan akademis, yaitu kesalahan periodesasi, kesalahan didaktis, dan kesalahan pembahasan. Kesalahan periodesasi terjadi ketika seorang penulis sejarah maupun sejarawan memandang periode sebagai waktu pasti. Semisal zaman kuno di Indonesia tidak berakhir tepat pada abad ke-15. Melainkan berakhirnya suatu periodesasi di setiap tempat memiliki perbedaan. Kesalahan didaktis terjadi apabila seorang penulis sejarah maupun sejarawan menggunakan historiografi untuk mengajarkan nilai. Kesalahan pembahasan terdiri atas dua hal, yaitu penggunaan bahasa yang emosional dan pemakaian kalimat yang bukan merupakan konsekuensi kalimat sebelumnya.

2. Kesalahan Argumen


Kesalahan argument terjadi apabila seorang penulis sejarah maupun sejarawan membuat kesalahan di dalam menguraikan gagasannya sewaktu penyajian. Kesalahan ini dapat berupa kesalahan konseptual dan dapat pula berupa kesalahan substansial. Kesalahan konseptual dapat terjadi jika sejarawan menggunakan istilah yang mempunyai dua atau lebih makna (ambigu). Akibatnya, pembaca dapat terkecoh. Sedangkan kesalahan substantive terjadi apabila penulis sejarah maupun sejarawan mengemukakan argument yang tidak relevan atau tidak rasional.

3. Kesalahan generalisasi


Di dalam hal ini ada dua kemungkinan kesalahan dari seorang penulis sejarah maupun sejarawan, yaitu generalisasi yang tidak representative dan generalisasi sebagai kepastian yang melihat bahwa generalisasi sejarah adalah hukum universal yang berlaku di semua tempat dan waktu. Di dalam penulisan sejarah, fakta-fakta sejarah harus diseleksi dan disusun dengan baik. 

Di dalam menyeleksi fakta sejarah, masalah relevansi haruslah mendapatkan perhatian. Artinya dalam penyeleksian, fakta-fakta sejarah yang akan digunakan adalah fakta-fakta sejarah yang berkaitan dengan topik penelitian. 

Ada empat aspek yang menjadi ukuran bagi relevansi, yaitu kronologis, biografis, geografis dan aspek fungsional. Sebagai contoh adalah untuk topik proklamasi kemerdekaan Indonesia haruslah terdapat keempat aspek tersebut; aspek biografisnya berkaitan dengan tokoh atau kelompok seperti, Soekarno, Moh. Hatta, Ahmad Subardjo, PPKI. 

Untuk aspek geografisnya antara lain menyangkut nama Pulau atau kota tempat terjadinya suatu peristiwa, dalam peristiwa ini pulau dan kota yang menjadi tempat terjadinya peristiwa adalah Pulau Jawa dan kotanya adalah Jakarta, dan Rengasdengklok, Karawang. Sedangkan ditinjau dari aspek kronologisnya adalah menyangkut dengan periode-periode waktu pada proklamasi. Dan yang terakhir adalah berkaitan dengan aspek fungsional antara lain menyangkut jabatan orang-orang yang terlibat di dalam peristiwa itu.

Setelah fakta-fakta sejarah diseleksi, fakta-fakta tersebut kemudian disusun. Penyusunan fakta sejarah yang paling masuk akal adalah penyusunan secara kronologis dalam periode-periode waktu. Selain itu, penyusunan fakta sejarah dapat dilakukan berdasarkan sudut pandang geografis tempat sejarah terjadi dan berdasarkan tokoh pelaku sejarah. Baik orang maupun kelompok. Untuk menghindari pengulangan kisah peristiwa-peristiwa yang sama, cara penyusunan yang terakhir tetap harus diikuti dengan penyusunan kronologis.

Hasil penelitian sejarah dapat ditulis dalam suatu bentuk tulisan yang terdiri atas tiga bagian besar;

1. Bagian pertama, pengantar. Di dalam pengantar, dikemukakan permasalahan, latar belakang, historiografi dan pendapat penulis tentang tulisan orang lain, pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab melalui penelitian, teori dan konsep yang akan digunakan dan sumber-sumber sejarah yang akan digunakan.

2. Bagian kedua, penelitian. Di dalam bagian ini disajikan hasil penelitian, pertanggungjawaban penulis diperlihatkan dengan menampilkan catatan dan lampiran karena setiap data yang ditulis harus disertai dengan data yang mendukung.

3. Bagian ketiga, kesimpulan. Di dalam bagian ini dikemukakan generalisasi dari uraian yang disajikan pada bagian sebelumnya. Dalam generalisasi ini, akan tampak apakah penulis melanjutkan, menerima, memberi catatan atau menolak generalisasi yang sudah ada.

Demikianlah penjelasan tentang tahapan penelitian sejarah yang terbagi menjadi pemilihan topik penelitian, pengumpulan atau pencarian sumber sejarah, verifikasi atau kritik sumber sejarah, interpretasi atau penafsiran sumber sejarah dan penulisan sejarah.