Kebangkitan Asia Afrika: Sejarah Konferensi Asia-Afrika 1955 - ABHISEVA.ID

Kebangkitan Asia Afrika: Sejarah Konferensi Asia-Afrika 1955

Kebangkitan Asia Afrika: Sejarah Konferensi Asia-Afrika 1955


Sejarah Konferensi Asia-Afrika 1955Konferensi Asia-Afrika adalah bentuk respon negara-negara Asia dan Afrika terhadap situasi Perang Dingin. Berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945 bukan hanya sekedar memunculkan dua kekuatan politik besar pemenang perang (Amerika Serikat dan Uni Soviet). Lebih daripada hal itu, berakhirnya Perang Dunia II juga membawa perubahan besar bagi peta politik dunia dengan mulai berakhirnya sedikit demi sedikit praktik kolonialisme dan imperialisme. 

Mulai berakhirnya praktik kolonialisme dan imperialisme sangat terlihat dari perubahan status negara-negara kolonial menjadi negara merdeka di berbagai belahan penjuru dunia, seperti di Amerika, Asia dan juga Afrika, dua terakhir adalah yang terutama paling mencolok. Di bawah ini akan diuraikan tentang kebangkitan bangsa-bangsa Asia dan Afrika dalam merespon situasi dan kondisi politik dunia pasca Perang Dunia II. 

Konferensi Asia-Afrika : Sekilas tentang Cita-Cita Bandung


Berakhirnya Perang Dunia II bukan berarti telah menghilangkan ketegangan politik dunia dan dunia telah menjadi aman. Namun, berakhirnya Perang Dunia II tetap mempertahankan ketegangan politik meskipun dengan bentuk dan cara yang berbeda. Berakhirnya Perang Dunia II telah memunculkan dua kekuatan politik besar, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet yang mana kemunculan keduanya ini telah menciptakan suatu dunia baru dan suatu pemahaman baru pada situasi politik dunia yang disebut dengan Perang Dingin (Cold War).

Ketegangan diantara keduanya juga berdampak langsung bagi negara-negara yang baru saja berhasil mendapatkan kemerdekaannya di Asia dan juga Afrika. Karena bagaimana pun juga, kedua negara adi daya itu berusaha untuk menanamkan pengaruhnya diseluruh dunia dan terutama sekali di negara-negara yang baru merdeka yang umumnya berada dikawasan Asia dan Afrika. 

Berada dalam situasi seperti itu telah memunculkan kekhawatiran dari beberapa pemimpin negara-negara di Asia dan Afrika bahwa mereka bisa saja ikut terdampak dari praktik yang dilakukan oleh Amerika Serikat maupun oleh Uni Soviet. Hal ini lah yang memunculkan kesadaran akan pentingnya semangat solidaritas Asia dan Afrika dalam menghadapi situasi politik pada saat itu.

Semangat akan solidaritas Asia dan Afrika itu telah lama menjadi suatu buah pemikiran bagi para tokoh pergerakan di Indonesia, terutama adalah Soekarno. Pada tahun 1928 sebelum Soekarno ditangkap dan dimasukkan ke penjara Sukamiskin, Bandung oleh Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda, dan setelah Soekarno keluar dari penjara pada akhir tahun 1931 dan juga ketika Soekarno akan diasingkan ke Ende, Flores diantara tahun 1932-1933, Soekarno seringkali menyerukan akan adanya persatuan bangsa-bangsa Asia dan Afrika;
“…Kalau Barong Lio Sai dari Tiongkok bekerjasama dengan Lembu Nandi dari India, dengan Spinx dari Mesir dengan Burung Merak dari Burma, dengan Gajah Putih dari Siam, dengan Ular Hidra dari Vietnam dengan Harimau dari Filipina dan dengan Banteng dari Indonesia, maka pasti hancur lebur kolonialisme internasionalisme.”
Gagasan-gagasan Soekarno tentang solidaritas Asia – Afrika dapat dilihat dari pidato-pidatonya yang dikeluarkan bahkan sebelum tahun 1945. Selain itu, semangat solidaritas Asia – Afrika juga telah didengungkan pula ditempat lain. Di Eropa, tepatnya di kota Bierville, dekat Paris dan kota Brussel antara tahun 1926 dan 1927, mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Eropa turut memainkan peranan dalam membangkitkan semangat dan jiwa solidaritas Asia – Afrika. Mereka itu diantaranya adalah Mohammad Hatta, Nazir Pamontjak, Ahmad Subardjo, Arnold Mononutu, Gatot Tarumihardja, dan Abdul Manaf.

Pada Kongres Demokrasi Internasional ke IV (Demokratique International) yang diselenggarakan pada bulan Agustus 1926 di Bierville, Mohammad Hatta, bersama dengan para pemuda dari Asia lainnya seperti Duong Van Giao (Annam/Indocina) dan K. M. Pannikar (India), Tung Meau (Tiongkok) dan Toptchybachy (Azerabijan/Soviet) mengeluarkan “Manifesto bersama” yang antara lain berisi;
Liberatie the spirit of Asia and you will have peace, not a peace imposed by the sword but a peace based on good will. The spirit of Asia is essentialy pacific.” (Bebaskan jiwa Asia dan anda akan memperoleh perdamaian, bukan perdamaian dengan paksaan pedang, tetapi perdamaian berdasarkan kemauan baik. Jiwa Asia pada dasarnya adalah jiwa damai).
Jiwa dan sikap yang sama juga didengungkan kembali oleh para pemuda-pemuda Indonesia di bawah pimpinan Mohammad Hatta di Brussel pada saat pembentukan organisasi internasional yang bernama League Against Imperialism, against Colonial Opression, and For National Independence.” Hadir dalam kongres tersebut diantaranya adalah para pemuda dari Asia seperti Nehru dari India, Hafiz Rahman Bey dari Mesir. Di mana mereka semua menggelorakan satu jiwa dan mendengungkan satu suara, yaitu jiwa dan suara rakyat yang dijajah.

Cita-cita solidaritas Asia – Afrika yang ditebarkan oleh para pemuda-pemuda Asia – Afrika pada tahun 1926-1927, kembali menggema setelah berakhirnya Perang Dunia II. Pasca Perang Dunia II, banyak negara-negara Asia dan Afrika memperoleh kemerdekaannya baik melalui proses dekolonisasi yang melalui diplomasi semisal seperti India, Pakistan, Burma dan Filipina, maupun melalui proses perjuangan fisik seperti Indonesia dan Vietnam. Pada saat Indonesia berjuang untuk mendapatkan pengakuan internasional atas kemerdekaannya, bangsa-bangsa Asia yang dimotori oleh India melalui Konferensi Inter-Asia (Konferensi New Delhi) dan bangsa-bangsa Arab yang dimotori oleh Mesir melalui Liga Arab menyatakan dukungannya kepada Republik Indonesia.

Jawaharlal Nehru, selaku Perdana Menteri India di dalam Konferensi New Delhi tahun 1947 mengemukakan betapa pentingya peran Asia dalam masalah-masalah internasional dan menganjurkan persatuan di antara bangsa-bangsa Asia untuk menjamin perdamaian dunia dan perjuangannya masing-masing. Selanjutnya Nehru juga menguraikan betapa eratnya hubungan bangsa-bangsa Asia di masa lalu, dalam perihal kebudayaan, perekonomian, perhubungan yang seolah-olah hubungan itu terputus akibat adanya praktik kolonialisme dan imperialism Barat. Nehru berharap bangsa Asia mulai mengeratkan kembali hubungan mereka dan mampu berdiri tegak dengan kekuatan sendiri, selain itu juga harus dapat bekerjasama dengan siapapun yang cinta akan perdamaian, akan tetapi bangsa Asia jangan sampai dijadikan kekuatan yang dapat dipengaruhi oleh pihak-pihak lain.

Konferensi Asia-Afrika


Munculnya ketegangan politik dunia yang diakibatkan oleh adanya polarisasi kekuatan dunia pasca Perang Dunia II yaitu Blok Barat dan Blok Timur telah menyebabkan kekhawatiran bagi negara-negara di kawasan Asia dan Afrika yang pada saat itu sebagian besar baru saja mendapatkan kemerdekaannya. Adanya persaingan antara kedua blok tersebut membuat negara-negara Asia dan Afrika menjadi khawatir terhadap stabilitas politik dan ekonomi yang sedang dan baru saja tumbuh itu.

Kekhawatiran negara-negara Asia dan Afrika menjadi suatu kenyataan tatkala telah terjadi konflik-konflik di kawasan Asia terutama, sebagai contohnya adalah Konflik di Semenanjung Indocina dan Semenanjung Korea. Di dalam konflik tersebut pihak-pihak internal yang bersengketa dan berkonflik mendapatkan dukungan dari masing-masing blok. Di mana dukungan diantara kedua blok tersebut merupakan praktik langsung dari perlombaan menanamkan pengaruh ideology di seluruh penjuru dunia. Bukan hanya itu, dukungan-dukungan itu pun juga bernilai secara politis dan juga ekonomis.

Dengan adanya fenomena-fenomena itu, maka beberapa pemimpin negara-negara di Asia dan Afrika yang baru merdeka, seperti Indonesia, India, Burma, Srilanka dan Pakistan mengambil langkah inisiatif untuk membuat suatu pertemuan yang membahas tentang fenomena-fenomena itu. Keadaan semacam itulah yang menyebabkan lahirnya gagasan untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika.

Gagasan untuk mengadakan konferensi yang melibatkan negara-negara Asia dan Afrika diawali dari pertemuan di Kolombo yang selanjutnya dikenal dengan Konferensi Kolombo. Konferensi Kolombo dilaksanakan pada tanggal 28 April – 2 Mei 1954 yang digagas oleh Perdana Menteri Srilanka Sir John Kotelawala. Pertemuan ini dikenal juga dengan Sidang Panca Perdana Menteri yang dihadiri oleh para perdana menteri dari lima negara; Burma (U Nu), Srilanka (John Kotelawala), India (Jawaharlal Nehru), Indonesia (Ali Sastro Amidjojo) dan Pakistan (Mohammad Ali Jinnah).

Di Indonesia, Konferensi Kolombo disambut dengan baik oleh Perdana Menteri Indonesia pada saat itu, Ali Sastro Amidjojo yang dalam keterangannya di depan parlemen pada Agustus 1953 menyatakan bahwa dalam usaha memperkokoh perdamaian dunia perlu dirintis dan di bentuk sebuah organisasi kerjasama antara negara-negara Asia – Afrika terutama sekali bagi negara yang baru merdeka.

Pada awalnya pertemuan ini hanyalah sebuah “neighbours groups” yang diadakan untuk mempererat hubungan antar kepala negara. Namun pada saat pertemuan berlangsung, kondisi yang terjadi di Vietnam mengalihkan hal tersebut. Kelima kepala negara yang hadir lalu memfokuskan perhatian pada kasus ini terutama pada kemungkinan peperangan yang terjadi.

Adapun topik yang diperbincangkan oleh kelima negara ini antara lain meliputi, kondisi Indocina, bom hydrogen, kolonialisme dan nasionalisme serta komunisme internasional. Gagasan Indonesia untuk mengadakan pertemuan negara-negara Asia dan Afrika akhirnya baru dapat disampaikan pada sidangnya yang ke-6 pada tanggal 30 April 1954. Ali Sastro Amidjojo selaku Perdana Menteri Indonesia berkesempatan mengajukan usulannya supaya diadakan “suatu konferensi yang sama hakekatnya dengan Konferensi Kolombo, tetapi lebih luas jangkauannya dengan tidak hanya memasukkan negara-negara Asia, tetapi juga negara-negara Afrika.

Di dalam pidatonya juga pada saat itu, Ali Sastro Amidjojo mengemukakan pendapatnya bahwa;
“Dimanakah bangsa-bangsa Asia sekarang berdiri? Jelas bahwa kita berada di berbagai persimpangan jalan sejarahnya peri kemanusiaan. Karena itu perlu kita menyadari persoalan-persoalan yang dihadapi oleh rakyat-rakyat yang kita wakili.”
Reaksi terhadap usulan yang dikeluarkan oleh Indonesia itu sebagian besar diterima secara skeptik. Perdana Menteri Burma, U Nu, dan Perdana Menteri Pakistan Mohammad Ali Jinnah agak ragu, namun tidak berani menolak secara terang-terangan. Perdana Menteri Srilanka Sir John Kotelawala lebih meragukan lagi akan hal itu. Sedangkan Perdana Menteri India, Jawaharlal Nehru menyatakan bahwa akan terlalu banyak kesulitan untuk melaksanakan gagasan akan konferensi itu. Namun, hal ini tidak membuat Ali Sastro Amidjojo patah arang, ia menegaskan bahwa;
I would be statisfied if the Colombo Conference agreed that a Conference on the lines proposed should be sponsored by Indonesia”. (Saya akan merasa puas apabila Konferensi Kolombo dapat menyetujui bahwa Indonesia akan mensponsori sendiri Konferensi itu (Konferensi Asia-Afrika).
Jelaslah kiranya apa yang dikemukakan oleh Ali Sastro Amidjojo mewakili tekad kuat bangsa Indonesia untuk merintis dan memelopori usaha kearah Konferensi Asia-Afrika. Konferensi Kolombo selanjutnya menugaskan kepada Indonesia agar menjejaki kemungkinan untuk diadakannya Konferensi Asia-Afrika. Dalam rangka menunaikan tugas itu Pemerintah Indonesia melakukan pendekatan melalui saluran diplomatik kepada 18 negara Asia-Afrika. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana pendapat negara-negara tersebut terhadap ide Konferensi Asia-Afrika.

Di dalam pendekatan itu dijelaskan tentang tujuan utama diadakannya konferensi adalah untuk membicarakan kepentingan bersama negara-negara Asia – Afrika pada saat itu, mendorong terciptanya perdamaian dunia, dan mempromosikan Indonesia sebagai tempat dilaksanakannya konferensi. Ternyata secara umum negara-negara yang dihubungi menyambut baik usulan dan ide tersebut dan menyetujui Indonesia sebagai tuan rumahnya, meskipun terjadi pula perbedaan pendapat antara tiap negara.

Hal yang paling utama dan teramat penting bagi Indonesia adalah sikap dari India yang pada saat diberlangsungkannya Konferensi Kolombo bersikap ragu dengan usulan Indonesia. Oleh karena itu, Ali Sastro Amidjojo mendekati Perdana Menteri India, Jawaharlal Nehru yang akhirnya mengeluarkan join statement pada 25 September 1954 di New Delhi, yang antara lain berbunyi;
“Kedua perdana menteri membicarakan juga usul untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika dan mereka berdua sependapat bahwa konferensi yang demikian sangat perlu, dan akan sangat membantu usaha memperkokoh perdamaian dunia. Seyogyanya konferensi itu diadakan selekas mungkin”.
Di dalam join statement itu juga dinyatakan bahwa perlu adanya pertemuan sekali lagi dari kelima perdana menteri yang menghadiri Konferensi Kolombo dan tempat yang diinginkan adalah Jakarta. Pernyataan bersama yang senada juga dikeluarkan antara Perdana Menteri Indonesia, Ali Sastro Amidjojo dan Perdana Menteri Burma, U Nu di Ranggon pada 28 September 1954.

Setelah itu, pihak Indonesia berhasil meyakinkan dan mendapatkan kepastian dari Perdana Menteri Srilanka, Sir John Kotelawala pada Desember 1954. Sehubungan dengan hal itu maka diputuskan bahwa Konferensi kedua dari kelima Perdana Menteri akan diadakan pada 28-30 Desember 1954 di Istana Bogor. Konferensi kedua ini juga disebut dengan Konferensi Bogor, yang menjadi pembuka jalan bagi berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika di Bandung.

Sidang dibuka oleh Ali Sastro Amidjojo pada tanggal 28 Desember 1954. Di dalam pidato pembukaannya, Ali Sastro Amidjojo mengemukakan terlebih dahulu pandangannya tentang situasi internasional terutama terkait ketegangan yang terjadi antara hubungan Amerika Serikat dan Republik Rakyat Cina (RRC). Kemudian, Ali Sastro Amidjojo mengemukakan hasil penjajagan Indonesia terhadap 14 negara yang dihubungi berkaitan tentang pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika diantaranya; Afghanistan, Mesir, Ethiopia, Saudi Arabia, Iran, Iran, Syria, Yordania, Libanon, Liberia, Libya, Filipina, Muangthai dan Yaman, 12 negara telah memberikan jawaban positif, mereka menyatakan setuju terhadap diadakannya Konferensi Asia-Afrika. Hanya Muangthai dan Filipina saja yang belum memberikan reaksi sedikitpun. 

Ali Sastro Amidjojo kemudian mengusulkan hendaknya secara berturut-turut dibicarakan;
  1. Tujuan Konferensi Asia-Afrika
  2. Siapa sponsornya
  3. Waktu dan lamanya
  4. Tingkat delegasi yang diminta hadir
  5. Agendanya, dan
  6. Negara-negara yang diundang. 
Setelah perdebatan dan diskusi antara para delegasi, kemudian berhasil dirumuskan bahwa tujuan dari Konferensi Asia-Afrika adalah; 
“Untuk meninjau kedudukan Asia dan Afrika, serta rakyat-rakyatnya dalam dunia dewasa ini serta sumbangan yang dapat mereka berikan guna memajukan perdamaian serta kerjasama dunia.”
Selanjutnya pembicaraan berlanjut mengenai siapa yang menjadi sponsor di mana secara konsensus bahwa Indonesia-lah yang menjadi sponsor utama dan akan mengorganisasikan seluruh jalannya konferensi. Namun negara-negara peserta Konferensi Kolombo lainnya adalah juga sponsor dari Konferensi Asia-Afrika dan karenanya mereka juga akan ikut memikul sebagian dari biaya pendanaannya. 

Pembiayaan untuk perbaikan gedung-gedung, jalan-jalan, alat-alat komunikasi dan lainnya yang bersifat investasi modal menjadi tanggung jawab Indonesia selaku tuan rumah. Pada saat itu di Indonesia akan dibentuk sebuah sekretariat bersama di bawah pimpinan Indonesia yang diketuai oleh Roeslan Abdulgani, sedangkan keempat negara lainnya akan menempatkan wakilnya.

Konferensi Bogor kemudian memutuskan bahwa Konferensi Asia-Afrika (KAA) akan dilaksanakan di Bandung pada akhir April 1955. Mengenai tingkat delegasi ditentukan, bahwa tingkatannya adalah tingkat menteri dengan pengegasannya seyogyanya yang dikirim adalah perdana menteri dan/atau menteri luar negeri. Mengenai agenda konferensi tidak diambil suatu keputusan yang mengikat. Cukup diingatkan saja kepada semua negara yang akan diundang tentang 4 pokok maksud dan tujuan Konferensi Asia-Afrika. Sehingga nanti tergantung kepada peserta sendiri untuk menyusun acara secara terperinci. Demikian juga tentang tata tertib diserahkan kepada para peserta Konferensi Asia-Afrika. 

Selanjutnya, juga diputuskan bahwa semua negara di benua Asia dan Afrika yang sudah merdeka atau sudah berpemerintahan sendiri akan diundang sebaga peserta penuh. Dalam perdebatan negara-negara yang akan diundang, terjadi perbedaan yang cukup tajam antara India, Burma, Srilanka dan Pakistan terkait undangan terhadap Republik Rakyat Cina (RRC) dan Israel. Namun, para peserta Konferensi Kolombo bersepakat untuk tetap mengundang RRC, namun tidak mengundang Israel.

Para peserta Konferensi Bogor, pada siding penutupan tanggal 29 Desember 1954, sepakat untuk mengundang 25 negara, yaitu; Afghanistan, Kamboja, Republik Afrika Tengah, Mesir, Ethiopia, RRC, Iran, Irak, Pantai Gading, Jepang, Yordania, Libanon, Liberia, Laos, Nepal, Lybia, Filipina, Saudi Arabia, Sudan, Syria, Thailand, Turki, Vietnam Utara, Vietnam Selatan, dan Yaman. Pada saat pelaksanaan hanya Republik Afrika Tengah yang tidak datang.

Pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika akhirnya ditetapkan pada 18 April 1955. Sebelumnya hasil Konferensi Bogor menetapkan Konferensi Asia-Afrika akan dilaksanakan pada akhir April, namun antara 24/25 April telah memasuki bulan Ramadhan, dan kebanyakan negara-negara Arab akan sulit dating. Maka berdasarkan hal tersebut, Joint Secretariat (Sekretariat Bersama) memutuskan pada tanggal 18 April 1955 sebagai tanggal pembukaan, sedangkan konferensi ditutup pada 23 April 1955. Di dalam pelaksanaannya, Presiden Soekarno juga turut memantau persiapan konferensi secara langsung. Pada 7 April 1955, Presiden Soekarno dating secara langsung ke Bandung untuk memeriksa segala hal terkait dengan persiapan konferensi.

Di dalam konferensi itu, Presiden Soekarno juga menyinggung perjuangan mahasiswa dan pelajar-pelajar Asia Afrika pada tahun 1927 di Brussel, Belgia. Seperti yang diketahui bahwa pada konferensi itu dihadiri oleh Mohammad Hatta dari Indonesia dan Jawaharlal Nehru dari India. Presiden Soekarno mengingatkan peristiwa itu sebagai berikut:
“Dalam hubungan ini saya mengingatkan kembali kepada Konferensi Liga melawan imperialism dan kolonialisme, yang diadakan di Brussel hampir 30 tahun yang lalu. Pada konferensi itu banyak diantara anggota delegasi yang terhormat yang kini hadir dan saling bertemu dan mendapatkan kekuatan baru untuk bekal dalam perjuangan kemerdekaan…”
Kemudian juga Soekarno mengingatkan jangan sampai dunia Asia – Afrika terpedaya oleh dongengan seakan-akan kolonialisme telah mati seutuhnya. Soekarno mengingatkan mengenai bentuk baru dari kolonialisme. Menurut Soekarno kolonialisme mempunyai baju modern, dalam bentuk penguasaan ekonomi, penguasaan intelektual, penguasaan materiil yang nyata dilakukan oleh sekumpulan kecil orang-orang asing yang tinggal ditengah-tengah rakyat. Soekarno juga menambahkan bahwa “kolonialisme baju baru” sama kejamnya dengan kolonialisme bentuk klasik.

Setelah pembukaan pidato yang dilakukan oleh Soekarno, selanjutnya diteruskan dengan siding pleno dimana secara aklamasi Ali Sastro Amidjojo diangkat sebagai ketua konferensi. Dalam siding pleno hari pertama masing-masing delegasi diberikan kesempatan berpidato yang dilanjutkan pada keesokan harinya. Semua ketua delegasi berpidato, kecuali Burma, India, Indonesia dan Saudi Arabia. Sebelumnya, konferensi menyetujui untuk membentuk panitia ekonomi yang diketuai oleh Ir. Roosseno (menteri Perekonomian), panitia kebudayaan yang diketuai oleh Prof. Mr. Moh. Yamin (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), dan panitia politik yang terdiri dari ketua-ketua delegasi yang diketuai langsung oleh Ali Sastro Amidjojo.

Hampir semua pidato ketua delegasi menekankan perlunya negara-negara Asia – Afrika untuk bersikap dan berpendirian bebas terhadap kekuatan politiknya dari negara-negara besar, terutama para negara besar yang memainkan peran penting dalam politik pada masa Perang Dingin. Bahkan Sir John Kotelawala dari Sri Lankan mengucapkan;
The eagle should permit the small birds to sing, and care not where of they sing… (elang rajawali hendaknya memperkenankan burung-burung kecil bersiulm tapi tidak perlu menggubris apa siulannya itu.”
Terkait dengan “prinsip hidup berdampingan secara damai” peaceful-coexistence terutama dalam hubungannya dengan blok-blok militer di Asia seperti SEATO dan CENTO, mulai dibicarakan dalam konferensi sejak 22 April 1955. India, Burma, Indonesia, Mesir dan RRC tergolong negara yang pro “peaceful-coexistence” dan tidak menyetujui adanya blok-blok militer baik dari Barat maupun Timur. Sedangkan Irak, Turki, Pakistan, Filipina dan Thailand adalah negara-negara yang pro blok militer dan skeptic terhadap pelaksanaan “peaceful-coexistence”.

Perdana Menteri Burma, U Nu mengemukakan bahwa dalam situasi dunia saat, itu tidak dapat lain bersikap hidup toleran dan saling menghargai. Apalagi dalam perbedaan pendapat, perbedaan ideology, dan perbedaan sistem politik. Karena itu semua harus dapat berani hidup berdampingan secara damai, sambal menjunjung tinggi dan menghargai kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing, non agresi, serta mengembangkan kerjasama demi keuntungan bersama.

Hasil dari Konferensi Asia-Afrika yang paling penting adalah telah terjadinya suatu kerjasama di antara negara-negara Asia dan Afrika. Selain itu, pertemuan Konferensi Asia-Afrika telah berhasil pula merumuskan sepuluh asas yang tercantum dalam Dasasila Bandung. Dalam Dasasila Bandung ini tercermin penghargaan terhadap hak asasi manusia, kedaulatan semua bangsa, dan perdamaian dunia. Dasasila Bandung berisi antara lain;

  1. Menghormati hak-hak manusia sesuai dengan Piagam PBB.
  2. Menghormati kedaulatan wilayah setiap bangsa.
  3. Mengakui persamaan semua ras dan persamaan semua bangsa baik besar maupun kecil.
  4. Tidak melakukan campur tangan dalam soal-soal negara lain.
  5. Menghormati hak tiap-tiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian atau kolektif.
  6. Tidak melakukan tekanan terhdap negara lain.
  7. Tidak melakukan agresi terhadap negara lain.
  8. Menyelesaikan masalah secara damai.
  9. Memajukan kerjasama dalam bidang ekonomi, social, dan budaya.
  10. Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.


Konferensi Asia-Afrika memberikan dampak langsung dan tidak langsung bagi kebijakan luar negeri Indonesia. Dampak langsungnya diantaranya; 

(1) penandatanganan kesepakatan kewarganegaraan ganda (Dual Nationality Agreement) antara Indonesia dan RRC. Menurut kesepakatan ini orang-orang keturunan Cina yang tinggal di Indonesia harus memilih antara menjadi warga negara Indonesia atau menjadi warga negara Cina. Hal ini dianggap sebagai konsesi Cina terhadap Indonesia, sebab sebelumnya Cina mengklaim bahwa semua keturunan Cina yang ada di luar wilayahnya adalah warga negara Cina. 

(2) Dukungan bulat dari seluruh peserta negara Konferensi Asia-Afrika kepada Indonesia dalam menuntut haknya atas Irian Barat. Dukungan ini bahkan dicantumkan secara jelas di dalam komunike akhir Konferensi Asia-Afrika.

Sedangkan dampak tidak langsung bagi peran Indonesia di percaturan politik internasional diantaranya yaitu; 

(1) Konferensi Asia-Afrika melahirkan istilah “Bandung Spirit” yang merupakan seruan demi ko-eksistensi damai antar-bangsa, demi pembebasan dunia dari struktur dominasi antar-negara, demi solidaritas bagi bangsa-bangsa terjajah. Istilah Bandung Spirit ini kemudian menjadi rujukan gerakan-gerakan social politik di tingkat rakyat ataupun negara di mana yang berkonotasi “progresif revolusioner”, anti kolonialisme, anti imperialism, demi kemerdekaan dan demi perdamaian. 

(2) Indonesia dihargai sebagai jembatan, perantara atau fasilitator hubungan bansa-bangsa Asia dan Afrika, sebab banyak anggota delegasi negara-negara peserta Konferensi Asia-Afrika yang tidak saling mengenal. Berkat Konferensi Asia-Afrika mereka dapat saling mengenal antara satu sama lain. Persahabatan yang ditimbulkan menjadi modal diplomasi kreatif dan inovatif negara-negara Asia – Afrika di tingkat PBB pada masa selanjutnya.

Konferensi Asia-Afrika sendiri memiliki pengaruh yang sangat besar dalam upaya menciptakan perdamaian dunia dan mengakhiri penjajahan di seluruh dunia secara damai, khususnya di Asia dan Afrika. Semangat Konferensi Asia-Afrika inilah untuk tidak berpihak kepada Blok Barat maupun Blok Timur yang dikemudian hari menginisiasi lahirnya Gerakan Non-Blok.

Daftar Bacaan

- Abdulgani, Roeslan. 1980. The Bandung Connection: The Asia-Africa Conference in Bandung in 1950. Singapore: Gunung Agung.
- Kusumaatmadja, Mochtar. 1983. Politik Luar Negeri Indonesia dan Pelaksanaannya Dewasa ini: Kumpulan Karangan dan pidato Mochtar Kusumaatmadja. (ed.) Edy Damian. Bandung: Alumni.
- Mackie, Jamie. 2005. Bandung 1955: Non-Aligment Movement and Afro-Asian Solidarity. Singapore: Didier Millet.