Hal-hal yang Perlu diperhatikan di dalam Pemilihan Topik Penelitian Sejarah - ABHISEVA.ID

Hal-hal yang Perlu diperhatikan di dalam Pemilihan Topik Penelitian Sejarah

Hal-Hal yang Perlu diperhatikan di dalam Pemilihan Topik Penelitian Sejarah


Pemilihan Topik Penelitian Sejarah - Pemilihan topik penelitian sejarah terkadang menjadi permasalahan yang cukup serius bagi seorang peneliti sejarah. Tidak jarang bahwa beberapa peneliti sejarah terutama peneliti pemula mengalami permasalahan di dalam menentukan topik yang akan diteliti. Karena tentunya di dalam penentuan topik penelitian sejarah perlu kiranya seseorang harus memiliki sesuatu hal yang dapat dianggap sebagai persyaratan-persyaratan yang secara tidak tertulis harus dimiliki oleh seorang peneliti sejarah. Di bawah ini akan dijelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan di dalam pemilihan topik penelitian sejarah.


Pemilihan Topik Penelitian Sejarah

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang peneliti sejarah diantaranya adalah seperti kemampuan praktis di dalam mengartikulasikan dan mengekspresikan peristiwa sejarah yang tentu perlu disadari bahwa sejarah memang amat erat kaitannya dengan retorika. Kemampuan semacam ini tentu didapatkan oleh seseorang dari berbagai hal seperti latar belakang keilmuan, kemampuan dan sikapnya sendiri terhadap perkembangan ilmu terutama ilmu sejarah. Dibalik keruwetan itu tentunya ada hal-hal yang perlu diperhatikan seseorang di dalam pemilihan topik penelitian sejarah, diantaranya adalah seperti yang dijelaskan oleh Wood Gray (1956); (1) nilai; (2) keaslian; (3) kepraktisan; dan (4) kesatuan. Di bawah ini akan dideskripsikan tentang apa yang telah diuraikan oleh Gray;

a. Nilai (value)

Di dalam topik itu haruslah sanggup memberikan penjelasan atas suatu yang berarti dan dalam arti suatu yang universal, aspek dari pengalaman manusia. Barangkali melalui pendekatan kajian kasus atau dengan mendemonstrasikan hubungannya dengan gerakan yang lebih besar. Sebagian besar tergantung pada penanganannya. Biografi dari seorang tokoh yang tidak begitu jelas atau cerita dari suatu komunitas kecil akan mempunyai arti jika dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa besar dan dinilai sebagai suatu wakil dari perkembangan-perkembangan yang luas. Di sisi lain, genealogi dan antikuarianisme berguna bagi sejarawan tetapi kedua-duanya bukanlah sejarah.

Berdasarkan penjelasan ini maka dapat diambil suatu pemahaman bahwa hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman manusia dan berkaitan dengan gerak arus perubahan yang besar di dalam kehidupan manusia dapat dijadikan sebagai topik penelitian. Termasuk pula dengan biografi dari seorang tokoh sejarah baik berkaitan dengan "teori orang besar" maupun tidak jikalau keberadaan dan perananannya berketerkaitan dengan suatu fenomena dalam gerak arus perubahan dalam kehidupan manusia maka dapat dijadikan sebagai topik penelitian sejarah.

b. Keaslian (originality)

Jika subjek yang dipilih telah dikaji dalam penelitian yang lebih dahulu, maka harus dapat diyakinkan seorang peneliti sejarah dapat menampilkan;

(1) Evidensi baru yang sangat substansial dan signifikan, atau suatu;

(2) Interpretasi baru dari evidensi yang valid dan dapat ditunjukkan.

Berdasarkan poin diatas selayaknya seorang peneliti sejarah jikalau tema yang hendak ia bahas telah dikaji dalam penelitian sebelumnya dalam artian sudah ada orang lain yang mengkaji dengan tema yang sama; maka ia harus dapat menampilkan sesuatu hal yang berbeda. Berbeda dalam artian dengan menggunakan sudut pandang, pendekatan dan tentu saja dengan interpretasi yang berbeda dengan penelitian sebelumnya.

c. Kepraktisan (Practicality)

Seorang peneliti sejarah di dalam memilih topik penelitian harus memperhatikan nila-nilai kepraktisan, sebagaimana yang dituangkan di dalam poin di bawah ini:

1) Keberadaan sumber-sumber yang dapat diperoleh tanpa adanya kesulitan yang tidak rasional. Juga adanya jaminan bahwa dapat menggunakan sumber-sumber tersebut tanpa pemilik atau penyimpan sumber itu mencoba untuk mensensor, memangkas sebagian dari kesimpulan yang akan dibuat.

2) Kemampuan untuk menggunakan dengan benar sumber-sumber itu berdasarkan atas latar belakang atau pendidikan yang dimiliki oleh seorang peneliti, termasuk penguasaan terhadap bahasa-bahasa asing dan syarat-syarat teknis tertentu lainnya.

3) Ruang cakup penelitian. Ruang lingkup topik yang dipilih harus sesuai dengan medium yang akan dipresentasikan, semisal apakah itu untuk makalah, kelas, laporan seminar, artikel, tesis, disertasi ataupun juga buku.

d. Kesatuan (Unity)

Setiap penelitian, tidak hanya sejarah haruslah memiliki suatu kesatuan tema, atau setidaknya diarahkan kepada suatu pertanyaan atau proposisi yang bulat, yang akan memberikan peneliti suatu titik untuk bertolak, suatu arah maju ke tujuan tertentu, serta suatu harapan atau janji yang akan melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang khusus.

Itulah empat hal yang perlu diperhatikan di dalam pemilihan topik penelitian sejarah. Seorang sejarawan atau pun seorang penulis sejarah biasanya tidak pernah melakukan sesuatu penelitian yang benar-benar mulai berangkat dari nol. Topik yang menjadi pilihannya untuk diteliti umumnya telah dikenal sebelumnya meskipun baru hanya secara garis besar, tidak mendalam, atau bahkan juga samar-samar. Dikarenakan oleh hal itulah seorang sejarawan maupun penulis sejarah melakukan sebuah penelitian. 

Penelitian yang dilakukan bukan hanya sekedar menjawab sejumlah pertanyaan-pertanyaan dasar yang deskriptif dan naratif seperti apa, siapa, dimana, dan kapan, tetapi lebih jauh lagi mendasar yaitu kepada jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan analitis dan kritis yakni pertanyaan bagaimana dan mengapa.

Pengetahuan dasar atau awal seorang sejarawan tentang suatu topik, tema, isu, masalah, peristiwa, periode, individu, atau tokoh, komunitas atau masyarakat tertentu telah diperolehnya dari bacaan-bacaan artikel maupun buku sejarah, bahkan juga keterangan-keterangan lisan yang semuanya merupakan sumber-sumber kedua, ketiga, atau lebih. Akan tetapi yang belum diketahuinya dan karena itu ia melakukan sendiri penelitian sejarah - ialah bagaimana keterangan sebenarnya dari sumber-sumber pertama itu. 

Dari pengetahuan-pengetahuan awal berdasarkan bahan-bahan yang telah dibacanya atau dipelajarinya itu seorang sejarawan dapat menyusun kembali sejumlah pertanyaan baru, hipotesis baru atau pun sebuah penafsiran baru bagi penelitiannya yang semuanya akan diuji dalam penelitian mendalam berdasarkan sumber-sumber pertama. Hasilnya ialah sejumlah kemungkinan yang dapat memperkuat, mengoreksi, atau merubah sama sekali pendapat-pendapat sebelumnya tentang topik yang dikaji. Oleh sebab itu sumber-sumber sejarah sangat penting keberadaannya bagi seorang sejarawan dalam melakukan kajian ilmiah sejarah.

Sedangkan jika mengacu pada pemahaman yang diberikan oleh Kuntowijoyo, topik penelitian sejarah alangkah baiknya dipilih berdasarkan pada: (1) kedekatan emosional; dan (2) kedekatan intelektual. Di bawah ini akan dijelaskan maksud-maksud dari dua hal tersebut:

(1) Kedekatan Emosional

Kedekatan emosional menjadi pertimbangan yang sangat penting jika seseorang ingin menulis sejarah. Kedekatan emosional dapat mempermudah pekerjaan seorang peneliti sejarah dalam hal pengumpulan sumber dan juga dukungan moral. Semisal seseorang berasal dari sebuah daerah (desa maupun kota) yang secara kebetulan belum pernah ada yang menulis tentang sejarah daerah tersebut, maka kemungkinan besar ia akan mendapatkan kemudahan-kemudahan terutama di dalam pengumpulan sumber-sumber sejarah. Sumber-sumber sejarah yang ia bisa dapatkan diantaranya adalah sumber berupa arsip daerah dan keterangan-keterangan lisan yang dapat diberikan oleh pejabat yang berwenang maupun oleh orang yang berpengaruh.

(2) Kedekatan Intelektual

Seseorang yang telah membaca topik-topik yang memiliki kedekatan emosional dengan dirinya (semisal daerahnya sendiri). Sudah semestinya jikalau ia tertarik semisal dengan daerah pedesaan maupun perkotaan, buku-buku yang berkaitan dengan rural, petani, tanah, geografi pedesaan, geografi perkotaan, ekonomi kota dan desa, masyarakat buruh, ekonomi politik dan sebagainya sudah ia baca. Dengan demikian ia dapat memetakan persoalan-persoalan daerah.

Akan tetapi perlu digarisbawahi bahwasanya seseorang yang menulis sejarah lebih kepada keterlibatan kedekatan emosionalnya dibandingkan intelektualnya akan dapat dipengaruhi oleh emosi. Sehingga sejarah berubah menjadi pengadilan. Padahal, sejarah adalah ilmu empiris yang harus menghindari penilaian subjektif. Kedekatan emosional itu harus diakui secara jujur supaya orang yang membaca tulisan sejarah dapat membuka jarak.

Jadi itulah hal-hal yang perlu diperhatikan di dalam pemilihan topik penelitian sejarah. Pelbagai hal pertimbangan amatlah diperlukan bagi seorang sejarawan maupun penulis sejarah di dalam melakukan penelitian sejarah agar ia tidak terjebak oleh subjektivitas belaka.

Daftar Bacaan

- Gray, Wood, et al. 1964. Historian's Handbook: A Key to the Study and Writing History. Boston: Houghton Mifflin Company.
- Kuntowijoyo. 2013. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.
- Sjamsuddin, Helius. 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.