Perang Dingin (Cold War) - ABHISEVA.ID

Perang Dingin (Cold War)

Perang Dingin (Cold War)


Perang Dingin - Kata “Perang Dingin” bagi sebagian generasi yang lahir tahun 1990-an hingga 2000-an mungkin merupakan suatu kata atau persitiwa yang cukup asing. Namun, bagi generasi yang lahir sekitar tahun 1970-an – 1980-an istilah ini menjadi sesuatu hal yang cukup familiar. Biasanya, pemberitaan tentang konflik-konflik yang muncul di belahan dunia akan menghiasi halaman-halaman utaa surat kabar. Berita-berita tentang terbongkarnya sebuah kegiatan spionase atau kegiatan mata-mata biasanya juga selalu menjadi berita utama (headline).

Cold War

Selain itu, isu tentang perlombaan senjata, terutama senjata nuklir, perlombaan teknologi ruang angkasa dan perkembangan teknologi-teknologi lainnya juga selalu menjadi berita sehari-hari. Bahkan persaingan tentang kegiatan spionase menjadi tema yang banyak muncul pada saat itu. Berkaitan dengan hal tersebut di bawah ini akan dibahas tentang perkembangan dan perubahan politik global Pasca Perang Dunia II hingga muncul dan berkembangnya masa Perang Dingin.

Latar Belakang Perang Dingin


Berakhrinya Perang Dunia II ditandai dengan berubahnya peta politik dunia, khususnya adalah perubahan peta politik bagi kawasan Eropa ke dalam dua kawasan pengaruh. Sebagai dampak dari kekalahan Jerman dalam peperangan – dan berdasarkan perjanjian Postdam, secara khusus Jerman diduduki oleh negara-negara sekutu yang berusaha keras mengakhiri segenap potensi agresifnya. Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis di satu pihak dan Uni Soviet di lain pihak, mereka merupakan dua kelompok negara yang memisahkan Jerman ke dalam dua wilayah yaitu Jerman bagian barat yang dikuasai oleh Sekutu (Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis) dan Jerman bagian timur yang dikuasai oleh Uni Soviet. Pemisahan inilah yang menjadi salah satu penyebab dari munculnya Perang Dingin.

Perang Dingin selanjutnya menjadi perkara politik dan diplomatik terpenting pada awal periode pasca Perang Dunia II. Hal ini berakar pada perbedaan pendapat berkelanjutan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet yang mulai tumbuh sejak Revolusi Russia pada tahun 1917. Partai Komunis Soviet di bawah pimpinan Vladimir Ilyich Lenin beranggapan dirinya sebagai ujung tombak gerakan internasional yang akan menggantikan kekuatan politik yang berkuasa di Barat dan juga seluruh dunia.

Pada tahun 1918 pasukan Amerika Serikat berpartisipasi dalam intervensi sekutu di Rusia mewakili pasukan anti Bolshevik. Hasilnya, Amerika Serikat baru mengakui pemerintahan Uni Soviet secara diplomatic pada tahun 1933. Meskipun pada saat itu masih tersisa kecurigaan antara satu sama lain. Namun, pada saat berlangsungnya Perang Dunia II, kedua negara untuk sementara waktu mengesampingkan perbedaan diantara mereka. Hal ini disebabkan karena kedua negara itu memiliki permasalahan dan musuh politik yang sama, yakni Jerman. Setelah kekalahan Jerman pada tahun 1945, pertentangan diantara keduanya kembali muncul.

Pertentangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet muncul dikarenakan adanya perbedaan ideology yang dianut oleh masing-masing pihak. Amerika Serikat dengan paham liberalism-kapitalisme sangat berbeda dengan ajaran komunisme yang dianut oleh Uni Soviet. Meskipun pada dasarnya kedua negara ini sama-sama membenarkan adanya aksi ekspansi ke negara-negara lain, tetapi pada intinya terdapat perbedaan dalam misi serta pelaksanaannya. 

Perbedaan-perbedaan itu dapat terlihat dari bagaimana kedua negara melakukan ekspansinya. Di Amerika Serikat, yang melakukan ekspansi adalah kelompok-kelompok pengusaha yang bertujuan mencari pangsa pasar baru (membuka wilayah baru untuk dijadikan tempat pemasaran produk-produk yang dihasilkan). Sedangkan Uni Soviet, kegiatan ekspansinya justru dilakukan oleh para tentaranya yang merupakan alat dari para pemimpin pemerintahan yang mempunyai maksud politik dibalik aktivitas tersebut, yaitu memperkuat pengaruhnya di berbagai belahan dunia. Keinginan itu merupakan wujud dari aspirasi para pemimpin pemerintahan dengan kekuasaan yang sangat besar dan bersifat sentralistik.

Alasan-alasan yang sering digunakan oleh Uni Soviet dalam melakukan ekspansi adalah karena keadaan Uni Soviet yang rentan akan adanya ancaman baik dari luar maupun dari dalam negeri mereka sendiri. Hal ini dapat terlihat dari beberapa peristiwa yang terjadi sebelumnya; Pada tahun 1812 Napoleon berhasil menundukkan Kekaisaran Rusia dan pada tahun 1941 giliran Jerman yang berhasil menguasai beberapa wilayah Uni Soviet setelah Hitler mengirimkan sebanyak 3.000.000 tentaranya ke wilayah Uni Soviet.

Dikarenakan pengalaman tersebut, maka setelah berakhirnya Perang Dunia II, Uni Soviet yang dipimpin oleh Joseph Stalin menerapkan beberapa kebijakan, diantaranya adalah kebijakan buffer, penjagaan wilayah, dan agresifitas dalam melakukan ekspansi. Dalam kebijakan buffer ini, Uni Soviet menerapkan bentuk strategi penahanan atau penyangga guna melindungi negaranya dari serangan lawan dengan cara menghimpun negara-negara sekitarnya seperti Hungaria, Bulgaria, dan Rumania yang termasuk ke dalam negara satelitnya dengan melakukan pengawasan terhadap setiap aktivitas perdagangan dan kepentingan negara-negara tersebut. Dan untuk memperkuat kekuasaannya, Uni Soviet memilih untuk bersikap lebih agresif dalam melakukan ekspansi ke negara-negara lain. Situasi dalam negeri suatu negara yang sedang kacau juga seringkali dimanfaatkan oleh Uni Soviet untuk menggulingkan suatu pemerintahan yang sah. Hal ini terjadi di Polandia, Cekoslovakia, Hungari, Rumania, Bulgaria dan Albania.

Sifat agresif Uni Soviet terhadap wilayah-wilayah sekitarnya dan mendapatkan respon dari Amerika Serikat dapat terlihat dari rencana Uni Soviet untuk menguasai Yunani dan Turki pada tahun 1947. Di dalam mewujudkan tujuannya, Uni Soviet memanfaatkan situasi dalam negeri negara-negara tersebut, yang pada saat itu sedang kacau akibat terjadinya perang. Di dalam hal ini Uni Soviet Nampak mengambil kesempatan dengan adanya perseteruan politik di Yunani antara pihak kerajaan dengan partai komunis yang mendapat dukungan penuh dari negara-negara tetangga, seperti Albania, Yugoslavia dan Bulgaria. Berbeda dengan Yunani, Uni Soviet menguasai Turki dengan cara mengirimkan pasukan di kota-kota sekitar Selat Bosporus dan Dardanella.

Sifat agresif Uni Soviet dalam usaha menguasai Yunani dan Turki menimbulakn kekhawatiran Amerika Serikat yang pada saat itu dipimpin oleh Harry S Truman. Amerika Serikat memperkirakan Uni Soviet akan mengambil kemerdekaan negara-negara tersebut untuk dijadikan sebagai negara satelit bagi Uni Soviet. Oleh karena itu, pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan dalam usaha membantu Yunani dan Turki secara khusus dan negara-negara lain yang hancur akibat perang dengan tujuan mengembalikan kondisi perekonomian negara-negara itu agar tidak mudah dipengaruhi atau dikuasai oleh negara lain, dalam hal ini terutama sekali agar tidak mudah dipengaruhi dan dikuasai oleh Uni Soviet. 

Kebijakan Amerika Serikat dalam membantu negara-negara tersebut dikenal dengan sebutan Truman Doctrine yang dikeluarkan pada 12 Maret 1947. Doktrin Truman adalah kebijakan yang bertujuan membantu memulihkan perekonomian serta politik suatu negara sehingga terbebas dari tekanan serta pengaruh kekuatan militer pihak asing. Upaya ini adalah suatu bentuk usaha Amerika Serikat dalam melakukan pembendungan secara terus menerus (Containment firm and vigiland) terhadap penyebaran paham komunis yang dimotori oleh Uni Soviet. Tindakan pembendungan ini dilakukan karena adanya masukkan dari George F. Keenan, diplomat Amerika Serikat yang merupakan pejabat tinggi di keduataan besar Amerika Serikat di Moskow, Uni Soviet. 

Dari Moskow, Keenan mengirimkan sebuah telegram panjang yang dikirimkan ke Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada tahun 1946. Di dalam telegramnya, Keenan menyarankan agar Amerika Serikat menggunakan pendekatan baru dalam menghadapi sikap agresif dari Uni Soviet. Keenan memperluas analisis pendekatannya dalam tulisannya yang berjudul “The Source of Soviet Conduct” dalam jurnal Foreign Affairs. Dengan menggunakan samaran “X” merujuk pada budaya kecurigaan orang Rusia, ia menjelaskan bagaimana cara yang harus ditempuh oleh suatu negara untuk dapat menghentikan ekspansi yang dilakukan oleh Uni Soviet. 

Dijelaskan pula, bahwa untuk menghentikan pengaruh Uni Soviet yang sangat ekspansionis itu dibutuhkan kekuatan tandingan, yaitu berupa pengerahan kekuatan besar dan dengan penuh kewaspadaan. Dalam hal ini Amerika Serikat sebagai negara yang memiliki kemampuan dan kekuatan besar serta mempunyai peluang untuk dapat melakukan pembendungan aksi ekspansi Uni Soviet jika dilakukan dengan mengerahkan segala kekuatan yang ada serta penuh dengan kewaspadaan.

Usaha Uni Soviet untuk menguasai Yunani dan Turki serta kekhawatiran Amerika Serikat mengenai dampak penyebaran paham komunis telah menimbulkan benih-benih saling curiga di antara kedua negara tersebut. Persaingan dalam perluasan pengaruh menjadi unsur utama yang akhirnya berujung pada dimulainya Perang Dingin.

Sebelum kasus Yunani dan Turki mencuat, ketegangan dari hubungan Amerika Serikat dan Uni Soviet sudah mulai muncul menjelang berakhirnya Perang Dunia II. Hal ini berawal dari adanya perbedaan pendapat mengenai bentuk pemerintahan dan pemilu yang akan dijalankan oleh negara-negara di Eropa Timur jika perang telah berakhir.

Ketegangan antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet ini kembali muncul pada konferensi Postdam (Juli 1945). Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman, menginginkan diadakannya pemilu yang bebas di kawasan Eropa Timur. Keinginan tersebut langsung ditentang oleh Josef Stalin, karena Stalin beranggapan bahwa jika hal tersebut diterapkan maka di Eropa Timur akan terbentuk pemerintahan-pemerintahan yang anti Soviet. Bagi Stalin yang merasakan kehancuran negerinya akibat serangan Nazi Jerman, menginginkan keamanan militer yang total dari Jerman dan Eropa Timur. Stalin percaya bahwa negara komunis mampu menjadi kawan bagi Uni Soviet. Oleh karena itu, jika pemilu bebas diadakan kekhawatiran akan dihasilkannya pemerintahan yang bermusuhan dengan Uni Soviet.

Di sisi lain Amerika Serikat tetap menuntut diadakannya pemilu yang bebas di wilayah Eropa Timur. Sikap keras Amerika Serikat terlihat dari adanya pernyataan Harry S. Truman pada bulan Oktober 1945 yang menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan pernah mengakui sebuah pemerintahan jika pemerintahan tersebut didirikan secara paksa dan mengabaikan aspirasi politik rakyat negara tersebut.

Selain masalah tentang Eropa Timur, serta masalah Yunani dan Turki, puncak ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dipicu oleh masalah penguasaan wilayah Jerman. Jadi, dapatlah dikatakan bahwa munculnya Perang Dingin ditandai dengan peristiwa “krisis Berlin” tahun 1948. Penyebab terjadinya peristiwa ini adalah ketika Uni Soviet memblokade seluruh jalan masuk kota Berlin. Berlin adalah kota pendudukan Amerika Serikat dan kawan-kawan politiknya. Namun, terletak di wilayah Jerman Timur. Keperluan pangan dan kebutuhan lain bagi penduduk kota Berlin harus dikirimkan lewat udara. 

Krisis Berlin berakhir pada bulan Mei 1949 yang mengakibatkan terpecahnya Jerman menjadi dua yaitu Jerman Barat dengan ibukota Berlin Barat dan Jerman Timur dengan ibukota Berlin Timur. Berlin Timur dan Berlin Barat dipisahkan oleh sebuah tembok panjang yang membelah kedua wilayah tersebut. Kemunculan Tembok Berlin membuat negara Jerman pun terpecah menjadi dua; Jerman Barat dan Jerman Timur. Terpisahnya Jerman menjadi pananda dari dimulainya Perang Dingin (cold war) secara resmi.

Penetrasi politik dan militer Uni Soviet rupa-rupanya telah berhasil mempengaruhi beberapa negara di Eropa Timur. Sepanjang tahun 1945-1948 Uni Soviet berhasil membentuk pemerintahan komunis di Bulgaria, Rumania, Hungaria, Polandia, dan Cekoslovakia. Karena perkembangan pengaruh Uni Soviet sangat cepat, Amerika Serikat merasa perlu membendung perkembangan gerakan komunis. Kegelisahan Amerika dapat dilihat dari langkahnya menyusun strategi politik global yang dikenal dengan politik pembendungan (containment policy).

Containment Policy ini dimulai dengan adanya Truman Doctrine dan Marshall Plan, Penerapan Truman Doctrine sendiri sebenarnya terdapat di dalam Marshall Plan, yaitu bantuan yang diusulkan oleh George Marshall, menteri luar negeri Amerika Serikat pada masa Harry S. Truman kepada negara-negara yang membutuhkan, terutama negara-negara Eropa yang paling terdampak oleh Perang Dunia II. Total dari Marshall Plan adalah sebanyak US$ 17 Miliar bagi enam belas negara dalam periode empat tahun. 

Tujuan dari Marshall Plan sendiri adalah membantu negara-negara Eropa untuk merekonstruksi negaranya yang hancur karena Perang Dunia II, dan juga untuk membendung pengaruh komunis. Hal itu dilakukan karena Komunis biasanya muncul dari keadaan miskin dan tidak stabil. Marshall Plan pertama kali diberikan kepada Yunani dan Turki sebanyak US$ 400 juta, karena terjadi pemberontakan di kedua negara tersebut yang diduga dilakukan oleh kaum komunis.

Untuk dalam negeri Amerika Serikat sendiri, Doktrin Truman terlihat dengan banyaknya sentiment anti komunis dalam masyarakat Amerika Serikat. Presiden Eisenhower (pengganti Harry S. Truman) bahkan meminta gereja untuk mendampingi anak-anak muda di Amerika Serikat, dan ajaran-ajaran gereja saat itu banyak yang menyamakan komunis dengan ateis, setan, kegelapan, dan segala hal yang didefinisikan sebagai sesuatu hal yang buruk. 

Hal serupa juga dilakukan di sekolah, di mana banyak guru mengajarkan bahwa komunis itu sebagaimana yang dijelaskan pula seperti yang terjadi di gereja. Kemudian juga melakukan penekanan bahwa di Uni Soviet “pemimpin setan” berencana menyerang Amerika Serikat dengan senjata nuklir. Para siswa juga diajarkan untuk “tiarap dan berlindung” jika terjadi ledakan, bersumpah setia kepada bendera dan diajarkan untuk menjadi “warga negara yang baik”. 

Pada era tahun 1950-an sempat ada film yang berjudul “I Led Three Lives” yang bercerita tentang seorang pengusaha Amerika yang menjadi agen CIA tapi juga sebagai anggota partai komunis. Film ini menggambarkan tentang bagaimana cara komunis bekerja, bagaimana cara agen komunis melakukan sebuah pemberontakan. Ada juga sebuah acara di radio yang berjudul “I was a communist for FBI”. Propaganda-propaganda itu dilakukan oleh Amerika Serikat guna membendung pesatnya pengaruh komunis di negerinya dan hal ini juga nampak pula nanti di berbagai negara.

Untuk membendung pengaruh komunis di seluruh dunia, Amerika Serikat membuat beberapa pakta pertahanan. Isi dari pakta itu kurang lebih adalah menciptakan persekutuan militer, dan apabila satu negara diserang maka akan dianggap sebagai serangan ke seluruh negara. Pakta pertahanan itu antara lain ada NATO di Eropa Utara dan Eropa Barat, SEATO di Asia Tenggara, CENTO di Timur Tengah, dan ANZUS di Australia dan Selandia Baru. Uni Soviet juga membentuk pakta tandingan diantaranya adalah Pakta Warsawa dan Comintern (Communist International). Adanya pakta pertahanan ini juga akhirnya membuat Amerika Serikat banyak terjun ke medang perang di seluruh penjuru dunia dalam misinya membendung pengaruh komunis, seperti di Korea dan Vietnam.

Dalam upaya untuk mengimbamgi strategi politik global Amerika Serikat, pemerintah Uni Soviet membentuk Molotov Plan. Tujuannya adalah untuk menata kembali perekonomian negara-negara di Eropa Timur. Selain itu, Uni Soviet membentuk badan kerjasama ekonomi yang bernama Comecon (Comintern Economic)

Perlu dipahami bahwa ada beberapa perbedaan yang mendasar antara Amerika Serikat dan uni Soviet yakni perbedaan ideology dan sistem ekonomi. Uni Soviet berideologi komunis dan Amerika Serikat berideologi liberal. Berdasarkan pemahaman ideology liberal, pemerintah dipilih dengan cara melakukan pemilihan bebas, pemerintah dipilih oleh pemilu yang bebas dan mengedepankan demokrasi di mana penduduk dapat membentuk partai politik untuk menyuarakan pendapat politik mereka. Mereka juga memiliki hak untuk berkumpul, berbicara, dan berpendapat. 

Sedangkan menurut pemahaman komunis, pemerintahan dibentuk oleh partai komunis. Orang-orang tidak memiliki hak untuk membentuk partai politik mereka sendiri, karena dalam ideology komunis menganut sistem partai tunggal. Masyarakat atau penduduk dari negara komunis dikontrol dan diatur langsung oleh negara. Inilah perbedaan mendasar dari kedua kekuatan besar yang saling bersaing untuk memperluas pengaruhnya.

Di dalam sistem ekonomi, kedua blok menjalankan sistem ekonomi yang saling bertolak belakang. Ideology liberal yang dianut oleh Amerika Serikat menganut sistem ekonomi yang mendorong perdagangan bebas serta mendukung keterlibatan pihak swasta di dalam menjalankan ekonomi suatu negara. Di pihak lain, ideology komunis berpandangan sebaliknya, kesejahteraan suatu negara akan dapat dicapai jika negara tersebut menjalankan kebijakan perekonomian tertutup. 

Di dalam sistem perekonomian tertutup seluruh kegiatan perekonomian negara dijalankan oleh negara dan melarang keterlibatan pihak swasta. Karena itu negara komunis selalu memberlakukan politik “tirai besi” untuk menutup pengaruh atau perkembangan paham-paham politik baru dari luar supaya tidak masuk ke dalam wilayahnya.

Konflik ideologi antar kedua negara itu tidak hanya terjadi di Eropa saja, hampir di seluruh belahan penjuru dunia terutama yang paling sering dan banyak memakan korban yaitu konflik yang terjadi di kawasan Asia. Benih persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet di kawasan Asia muncul setelah penandatanganan Yalta Agreement. Di dalam Konferensi Yalta, diputuskan bahwa Uni Soviet akan menerima semua daerah yang telah diambil oleh Jepang sejak kekalahan dalam Perang Jepang-Rusia (1905) jika Uni Soviet sebagai anggota sekutu mengumumkan perang kepada Jepang. 

Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, seluruh wilayah Manchuria dan Korea diduduki oleh Uni Soviet. Selain itu, Jepang harus menyerahkan senjata kepada Uni Soviet. Seluruh senjata yang diserihkan kepada Uni Soviet diberikan kepada tentara komunis Cina, sehingga komunis di Cina semakin kuat dan kedudukan Uni Soviet di Cina akan semakin kuat pula.

Kuatnya gerakan komunis di Cina berdampak dengan semakin suburnya perkembangan komunis di Asia Tenggara. Pengaruh komunis Cina dan Uni Soviet di Asia Tenggara dianggap tidak saja mengancam kehidupan berdemokrasi di kawasan Asia Tenggara, tetapi juga tantangan terhadap Amerika Serikat. Amerika Serikat memandang perlu memberikan bantuan kepada negara-negara di Asia Tenggara. Sebagai langkah nyata Amerika Serikat adalah dengan memberikan bantuan kepada Vietnam Selatan yang sedang berjuang melawan pasukan Vietminh dan Vietnam Utara yang mendapatkan bantuan persenjataan dari Cina dan Uni Soviet.

Usaha yang dilakukan oleh Amerika Serikat di Vietnam tersebut sebagai bentuk dari domino theory yang dikemukakan oleh Presiden Amerika Serikat, Eisenhower. Eisenhower mengumpamakan jika Vietnam jatuh ke tangan Uni Soviet maka daerah lain di wilayah Asia pun lambat laun akan terpengaruh juga layaknya permainan domino. Pertempuran yang terjadi di wilayah Vietnam, antara Vietnam Selatan dan Vietnam Utara pada akhirnya dimenangkan oleh pihak Vietnam Utara yang dibantu oleh Cina dan Uni Soviet. 

Kemenangan ini secara langsung di respon oleh Uni Soviet dengan membentuk persatuan Indo-Cina yang diberi nama Federasi Indo-Cina di bawah pengaruh komunis. Perang Vietnam disebut juga dengan proxy war atau perang tanding jarak jauh antara Amerika Serikat dan Uni Soviet sedangkan Vietnam Utara dan Vietnam Selatan adalah bidak yang bertempur di medan perang.

Selama Perang Dingin berlangsung, kedua negara tersebut tidak pernah terlibat dalam suatu konflik atau peperangan terbuka. Namun, keduanya selalu memberikan dukungan kepada negara-negara yang sedang bersengketa. Di bawah ini ada beberapa hal yang acap kali terjadi selama Perang Dingin berlangsung;

1) Perlombaan Senjata


Di dalam perkembangannya, persaingan yang paling mencolok pada masa sebelum Perang Dunia II berakhir adalah selalu adanya kompetisi perlombaan senjata. Hal ini terus berlangusng hingga Perang Dunia II berakhir dan memasuki masa Perang Dingin. Perlombaan senjata inilah yang menyebabkan ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, di mana kedua negara saling berlomba untuk menciptakan berbagai senjata mutakhir dan mematikan.

Salah satu senjata yang paling menakutkan dan dapat membantu mengakhiri Perang Dunia II adalah bom atom. Senjata yang disebut dengan bom atom itu dibuat pertama kali oleh Amerika Serikat pada tanggal 16 Juli 1945 di Alamo Gardo, Mexico. Bom atom itu kemudian dipakai untuk menghancurkan kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945. Akibat pengeboman itu Jepang menyerah dan berakhirlah Perang Dunia II di front Pasifik.

 Kedua pihak yang saling berseteru berlomba melengkapi persenjataan masing-masing. Dari senjata otomatis dengan mesiu, nuklir, sampai pula pada senjata biologis yang dapat memakan banyak korban dengan sekali tembakan. Perlombaan tersebut merebak ke berbagai negara di dunia dan membuat masyarakat dunia khawatir akan terjadinya Perang Dunia III. PBB sebagai organisasi perdamaian dunia membentuk komisi yang disebut dengan Atomic Energy Commisions pada tanggal 24 Januari 1946 dengan tugas melakukan pengawasan ketat terhadap produksi senjata nuklir.

2) Sistem Aliansi


Sistem aliansi terbentuk sebagai akibat dari persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Perlu dipahami bahwa kekuatan politik dunia terbagi menjadi dua kekuatan, Blok Barat (Amerika Serikat) dan Blok Timur (Uni Soviet). Beberapa sistem aliansi yang terbentuk antara lain; 
  1. Cominform (The Communist Information Bureau), 1947. Merupakan bentuk kerjasama ekonomi dan militer partai komunis seluruh Eropa.
  2. Pakta Warsawa, 1955. Bentuk kerjasama negara-negara Eropa yang berhaluan sosialis-komunis.
  3. ANZUS (Australia, New Zealand dan United States), 1951. Merupakan pakta pertahanan antara Amerika Serikat, Australia dan Selandia Baru.
  4. CENTO (Central Treaty Organization), 1955. Kerjasama untuk membendung pengaruh komunis di Timur Tengah.
  5. SEATO (South-East Asia Treaty Organization), 1954. Kerjasama pertahanan antara negara-negara Asia Tenggara dengan pihak Barat.
  6. NATO (North Atlantic Treaty Organization), 1949. Tujuannya adalah untuk membendung pengaruh komunis dari Eropa Utara sampai Turki dan Yunani.

3) Kegiatan Spionase


Perebutan hegemoni selama 
Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet terhadap berbagai kawasan, baik Asia, Afrika, Eropa dan Amerika selalu didukung oleh kegiatan agen intelijen yang mereka miliki. Kegiatan spionase (mata-mata) tercermin dari tindakan yang dilakukan oleh agen spionase kedua belah pihak yaitu antara KGB dan CIA. KGB (Komitet Gusudartvennoy Bezopasnosti), merupakan intelijen atau dinas rahasia Uni Soviet. Sedangkan CIA (Central Intelligence Agency), merupakan intelijen atau dinas rahasia Amerika Serikat. Kedua badan intelijen ini bertugas untuk mencari keterangan tentang negara-negara tertentu. 

KGB dan CIA selalu berusaha untuk memperoleh informasi rahasia mengenai segala hal yang menyangkut kedua belah pihak atau negara-negara yang berada di bawah pengaruh kedua belah pihak. Mereka juga membantu terciptanya ketegangan-ketegangan di dunia. Semisal, CIA turut membantu orang-orang Kuba di perantauan untuk melakukan serangan ke Kuba tahun 1961 yang disebut dengan Insiden Teluk Babi. Di pihak lain, Uni Soviet memberikan dukungan kepada Fidel Castro (Presiden Kuba) dalam menghadapi invasi tersebut.

4) Perlombaan Teknologi Ruang Angkasa


Persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet juga merambah ke bidang teknologi ruang angkasa. Pada tahun 1957, Uni Soviet berhasil meluncukan Sputnik 1 tanpa awak dan diikuti oleh Sputnik II yang membawa seekor anjing. Amerika Serikat mengimbanginya dengan melancarkan Explorer I tahun 1958, dan disusul dengan Eksplorer II, Discoverer dan Vanguard. Uni Soviet melampaui dengan meluncurkan Lunik dan mendarat di Bulan. 

Pada April 1961, Uni Soviet berhasil mengirimkan kosmonotnya Yuri A. Gagarin ke ruang angkasa dengan pesawat Vostok I dan berhasil mengelilingi bumi selama 1 jam 29 menit. Sedangkan Amerika Serikat mengirimkan astronotnya Alan Shephard Jr. pada tahun 1961. Namun Amerika Serikat-lah yang berhasil mendaratkan manusia pertama di Bulan dengan astronotnya yaitu Neil Amstrong. Kegiatan perlombaan ini terus berlangsung hingga tahun 1980-an.

Pada masa Perang Dingin sains dan teknologi yang terkait dengan kegiatan militer mendapatkan sorotan yang lebih besar dari pemerintah-pemerintah yang bersedia mengeluarkan dana yang besar demi kemajuan iptek mereka. Pada periode ini tumbuh disiplin-disiplin ilmu yang mempelajari dampak sains kepada masyarakat. Di negara-negara maju, teknologi di era modern bukan lagi urusan individu atau komunitas berskala kecil. Teknologi modern mempunyai tujuan-tujuan nasional, baik dari sisi ideology, militer, maupun ekonomi dan bentuk kesadaran nasional untuk menggali sumber-sumber alam yang ada. Hal ini juga bertujuan untuk mewujudkan produksi barang dengan skala yang besar.

Perang Dingin adalah perang yang terjadi setelah Perang Dunia II berakhir (1945). Perang ini melibatkan seluruh penjuru dunia dan dimotori oleh dua negara pemenang Perang Dunia II, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Perang antara kedua negara ini bukanlah layaknya perang yang mempertemukan kedua belah pihak untuk saling berkontak fisik dan senjata, melainkan sebuah perang yang saling memperebutkan pengaruh baik secara ideologi, ekonomi, maupun militer. Aktivitas spionase, perlombaan di bidang persenjataan, ilmu pengetahuan dan teknologi yang melibatkan gengsi antar kedua negara-lah yang menjadi perhatian khusus dalam Perang Dingin.

Daftar Bacaan

- Lafaber, Walter. 1976. American, Rusia, and The Cold War 1945-1975, 3 ed. New York.
- Sherry, John C. 1963. History of The Western Civilization (1560 to the present). New York
- Moris, Richard B. 1973. Great Presidential Decisions: State Paper that Changed the Course of History. New York.
- United State Information Agency. 2010. Garis Besar Sejarah Amerika. Jakarta.