Sekilas Kekaisaran Romawi Timur 474-565 M - ABHISEVA.ID

Sekilas Kekaisaran Romawi Timur 474-565 M

Setelah Jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat: Sekilas Kekaisaran Romawi Timur 474-565 M



Sekilas Kekaisaran Romawi Timur 474-565 M - Setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat pada tahun 476 M, Kekaisaran Romawi Timur tetap eksis berdiri. Perbedaan nasib antara dua bagian kerajaan Roma sesudah tahun 395 M disebabkan oleh karena perbedaan tingkat ancaman di masing-masing perbatasan dua wilayah ini. Sebab pokoknya adalah perbedaan sosial dan ekonomi antara keduanya serta keberhasilan Pemerintah Roma semasa Konstantine yang berhasil membangun kembali bekas kota Byzantium dengan nama Konstantinopel sebagai pusat dari ekonomi, pendidikan dan kebudayaan. Di bawah ini akan dijelaskan sekilas Kekaisaran Rimawi Timur 474-565 M.

Akibat adanya ancaman yang berbeda diantara kedua wilayah Romawi ini, pemerintah di Konstantinopel merasa bawa jatuhnya Romawi Barat pada tahun 476 M akibat dijatuhkannya secara paksa Kaisar Romulus Augustustulus dari takhta Romawi oleh magister pedium in praesanti, Kaisar dari Rugia, Odovacer tidak mungkin dapat didirikan lagi. Sehingga Kaisar Zeno yang berkuasa di Konstantinopel melakukan konsolidasi untuk mendeklarasikan berdirinya Kekaisaran Romawi Timur. 

Kekaisaran Romawi Timur berusaha untuk mengembalikan eksistensi Romawi Barat dengan cara mengirimkan ekspedisi laut pada tahun 468 M yang gagal total melawan orang-orang Vandal dari Afrika Barat Laut. Suatu negosiasi pun berusaha dilakukan kepada panglima perang Ostrogoth, Theodoric untuk mengirimkan pasukannya ke Italia untuk menggulingkan pemerintahan Odovacer. Serangan Theodoric pada tahun 488-493 M ke Italia berhasil menggulingkan Odovacer dan Theodoric dan mengangkat dirinya sebagai penguasa di Ravenna, sebuah provinsi di Italia sebagai wakil dari pemerintahan Kekaisaran Byzantium di sana. Hasil ini tentu memuaskan kedua belah pihak.

Pada tahun 508 M Kaisar Anastasius memberi tanda jasa kepada panglima perang Frankish, Clovis, sebagai hadiah karena telah berhasil mengalahkan Visigoth. Berbeda dengan Romawi Barat yang memberikan jabatan-jabatan penting bagi tuan-tuan tanah, sehingga memungkinkan mereka mengubah tanah-tanah yang memiliki nilai ekonomis menjadi daerah-daerah yang benar-benar independen dan sewaktu-waktu dapat mengkhianati pemerintah pusat yang telah mempekerjakan mereka. Romawi Timur menjauhkan tuan-tuan tanah secara politik dan menggantikan mereka dengan kelompok professional kelas menengah yang sebagian besar adalah ahli hokum. Jadi kaum professional inilah yang kemungkinan dapat melakukan tindakan-tindakan korup, tetapi setidaknya mereka dapat dianggap lebih patriotic dalam arti kata menyadari bahwa kepentingan pribadi mereka adalah menuntut tegaknya Kekaisaran Romawi Timur. 

Setidaknya selama periode awal Kekaisaran Romawi Timur terdapat dua kaisar yang melakukan kontrol ketat terhadap praktik-praktik korupsi dilingkungan kerajaan, diantaranya adalah Marcian (450-457 M) dan Anastasius I (491-518 M). Kebijakan yang dilakukan oleh kedua kaisar ini rupa-rupanya telah mampu memperbaiki perekonomian kerajaan yang sempat hampir bangkrut setelah kegagalan ekspedisi laut pada tahun 468 M.

Di Romawi Barat magister peditum in praesenti (panglima militer) memperoleh wewenang untuk menempatkan orang-orangnya sebagai bawahan mereka. Sedangkan di Romawi Timur terdapat dua orang magistri in praesenti yang memiliki kekuasaan yang sama antara satu dengan yang lain dan kedudukannya sederajat dengan tiga hakim daerah. Pada masa pemerintahan Kaisar Justinian I mengangkat hakim daerah keempat, per Armeniam. Staf administrasi magistri Romawi Timur juga ditempatkan di bawah control pejabat public, dan pengawal-pengawal pribadi (bucellarii) mereka, dengan pengurangan jumlah anggota.

Tentara Romawi Timur, dari komando tinggi hingga ke bawah tidak diambil dari prajurit-prajurit bayaran tetapi direkrut dari warga negara Kekaisaran Romawi Timur. Pada tahun 457 M Kaisar Leo I berkuasa menggantikan Zeno yang menyebabkan orang-orang dari Isaura, Bessia dan penduduk di utara Semenanjung Balkan mulai memberikan dukungannya kepada Kekaisaran Romawi Timur dan hal ini mulai terlihat secara nyata setelah memasuki abad ke-6 M di mana mereka mengirimkan pasukannya untuk memberikan bantuan kepada Justinian I yang dengan bantuan itu berhasil menaklukkan daerah-daerah bekas kekuasaan Kekaisaran Romawi Barat di lembah sungai barat Mediterania.

Tembok kota Konstantinopel yang dibangun semasa kekuasaan Theodosius II (408-450 M), menggantikan tembok kota yang juga terbuat dari tanah semasa pemerintahan Konstantine. Tembok ini akhirnya dilengkapi dengan penambahan panjang dari tembok itu sendiri semasa pemerintahan Anastasius I yang membentang dari pantai ke pantai di wilayah pinggiran Eropa kota Konstantinopel. Pembangunan benteng yang dilakukan oleh Anastasius I dengan jaminan keamanan dari Kerajaan Persia. Selain itu, Anastasius juga membangun benteng di Dara dan juga melakukan pembangunan benteng di Theodosiopolis (Erzurum) untuk mempertahankan wilayah Kekaisaran Romawi Timur dari bekas Kerajaan Armenia.

Perlu dipahami bahwa disepanjang abad ke-5 M Romawi Timur dapat mengefektifkan sumber daya, energy, dan kebijakan kerajaannya. Anastasius I yang berhasil membangun benteng-benteng untuk pertahanan dapat dikatakan tidak lebih berhasil jika dibandingkan dengan kemenakannya sendiri yaitu Justinian I. Justinian I berpendidikan tinggi dan cerdik di mana ia diangkat sebagai kaisar pada 527-568 M. Selama pemerintahannya ia membuat perubahan dalam kebijakan luar negeri dan perubahan kebijakan terhadap lembaga gereja yang sebenarnya sudah ia mulai sejak pemerintahan Kaisar Justin I (518-527 M). 

Justinian I sangat berambisi untuk mempersatukan kembali wilayah Kekaisaran Romawi Timur dengan bekas wilayah Kekaisaran Romawi Barat. Hal ini dibuktikan melalui kampanye militer yang dia lakukan; pada 533-534 M berhasil menguasi Afrika Barat Laut yang merupakan kekuasaan Vandal melalui jenderal Justinian I, yaitu Julian I dari Tracia, Belisarius. Setelah itu ia melakukan serangkaian penaklukan terhadap daerah-daerah kekuasaan Ostrogoth di Italia dan Illyricum yang memakan waktu cukup lama sekitar 535-561 M. Perang ini (Romano – Ostrogoth) telah memporak-porandakan Italia dan menghabisi cadangan kekayaan yang ditinggalkan oleh Anastasius I yang pada saat itu mencapai 145.150 kg emas.

Setelah peperangan ini, Justinian I melakukan penyerangan terhadap kekuasaan Visigoth di Spanyol pada 550 M dan berhasil menaklukan daerah tepi pantai pada tahun 554 M. Penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh Justinian I ke daerah barat tidak bertahan lama. Suku Lombard (Lombardia) menyerang italia pada 568 M, tepat sekitar tujuh tahun setelah penaklukan yang dilakukan oleh Justinian I terhadap Ostrogoth. 

Hal yang perlu dicatat dari pemerintahan Justinian I selain ekspedisi-ekspedisi militernya ke Barat adalah prestasinya di bidang hukum, seni dan arsitektur. Antara tahun 529-533 M Justinian I merevisi undang-undang Romawi yang kelak revisi ini dikenal dengan nama Corpus Julis Civilis. Di bidang arsitektur sebetulnya Justinian tidak membuat suatu perubahan yang berarti, tetapi ia memerintahkan ahli mesin dan ahli matematika, Anthemius dari Tralles dan Isidore dari Miletus, untuk merancang dan membangun Gereja Agia Sophia di Konstantinopel. 


Daftar Bacaan

- Bury, John Bagnall. 2012. History of the Later Roman Empire vol. I: From the Death of Theodosius I to the Death of Justinian. New York: Dover Publications Inc.,
- Esler, Philip Francis. 2004. "Constantine and the Empire". The Early Christian World. Routledge.
-  Gibbon, Edward. 1906. J. B. Bury (with an Introduction by W. E. H. Lecky), ed. The Decline and Fall of the Roman Empire (Volumes II, III, and IX). New York: Fred de Fau and Co.
- Toynbee, Arnold J. 1976. Mankind and Mother Earth: A Narrative History of the World. New York and London: Oxford University Press.
-  Wells, H. G. 1922. A Short History of the World. New York, New York: Macmillan.