Sekilas tentang Jalur Perdagangan Internasional Abad Pertama Masehi di Kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara - ABHISEVA.ID

Sekilas tentang Jalur Perdagangan Internasional Abad Pertama Masehi di Kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara

Sekilas tentang Jalur Perdagangan Internasional Abad Pertama Masehi di Kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara

Jalur Perdagangan Internasional Abad Pertama Masehi di Kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara - Memasuki tahun 30 SM, setelah dikuasainya Mesir oleh Kekaisaran Romawi aktivitas perdagangan darat Jalan Sutra antara Cina dan Kekaisaran Romawi perlahan mulai ditinggalkan dan mulai beralih pada jalur maritim. Di bawah ini akan dijelaskan sekilas tentang jalur perdagangan internasional abad pertama masehi di kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara.


Sehingga nampaklah pada abad ke-2 M kebanyakan aktivitas perdagangan dilakukan melalui jalur laut. Nampaknya alasan utama yang menyebabkan terjadinya perubahan ini adalah ketidakamanan di sepanjang Jalan Sutra yang disebabkan oleh karena;

  1. Peperangan antara kaum Kushan dan suku-suku pengembara padang rumput, dan
  2. Faktor kemunduran Dinasti Han Timur yang menyebabkan Cina mengalami perang suksesi selama periode 189 M – 220 M. 

Selain itu perang yang berkepanjangan di Cina setelah periode Dinasti Han Timur selama hampir 4 abad telah menyebabkan kekacauan politik dan ekonomi di Cina Utara. Periode ini sering disebut dengan “Masa Tiga Kerajaan dan Enam Dinasti”. Di sisi lain, Cina bagian selatan nampaknya cenderung lebih stabil sehingga aktivitas perdagangan masih dapat dilakukan dan bahkan permintaan terhadap rempah-rempah dan barang-barang eksotik dalam jumlah yang besar. 

Di dalam periode ini dapatlah dijumpai bahwa Jalur Sutra tidak pernah lagi mencapai level lalulintas perdagangan yang pernah dicapai sebelumnya; selain dikarenakan bahaya permanen ancaman mendapat serangan dari suku-suku pengembara, jalan tersebut harus melintasi berbagai gurun yang rawan dan pegunungan-pegunungan yang tertinggi di dunia. Meskipun seringkali para pedagan telah menyewa pengawal dan membayar perlindungan kepada sejumlah pimpinan militer local, kerugian ternak, manusia dan barang dianggap terlalu tinggi bagi kebanyakan pedagang yang berjiwa petualang. Satu-Satunya pihak yang bisa mendapatkan keuntungan secara teratur adalah para saudagar di daerah Bactria dan Sogdia yang wilayahnya terletak di antara pasar Cina dan Timur Tengah.

Sedangkan jalur laut sepertinya menawarkan keuntungan dengan memungkinkan para pedagang membawa muatan dalam jumlah yang sangat besar dalam sebuah perahu yang hanya membutuhkan kru sekitar 20-50 orang saja. Perlu diketahui di dalam sebuah perahu kecil, barang yang mampu diangkut dapat mencapai 20 ton, sedangkan perahu yang besar mampu mengangkut barang bahkan hingga mencapai 200 ton. Sedangkan dalam rute laut, seorang kapten kapal hanya perlu menjauhi badai dan serangan dari bajak laut saja, batasan ekonomi dan keamanan membuat kapal yang lebih besar jauh lebih disukai.

Berdasarkan catatan historis dan peninggalan arkeologis menjelaskan bahwa sejak awal abad 1 M kaum Austronesia telah menggunakan perahu-perahu besar untuk pelayaran jarak jauh mereka. Kapal-kapal ini paling tidak memiliki bobot hingga 200 ton dan mampu membawa beberapa ratus penumpang. Rupa-rupanya perkembangan navigasi astronomis yang dilakukan oleh kaum Nabatean (Yordania) dan perkembangan pengetahuan tentang ritme angina musim telah mendorong partisipasi perdagangan yang dilakukan oleh para pelaut Arab dan Persia, yang akhirnya mampu berlayar secara langsung melalui Samudra Hindia dan Teluk Bengali menuju Cina. Teknik-teknik baru inilah yang menyebabkan ledakan lalu lintas maritim.

Aktivitas-aktivitas komersial di Samudra Hindia dan Teluk Bengali selalu memerlukan keterampilan dan waktu yang sangat tepat, karena ritme angina musim mewajibkan kapal-kapal untuk berhenti dari waktu ke waktu, apakah di India atau di selat-selat untuk menunggu perubahan arah angina sebelum mereka bisa melanjutkan perjalanan mereka. Dengan sebuah kapal yang baik dan urusan-urusan bisnis yang lancer, perjalanan pulang balik dapat memakan waktu antara 12 sampai 18 bulan.

Sebuah perubahan ekonomi yang besar telah terjadi oleh karena dibukanya jalur perdagangan maritime ini. Slain ikut berperan serta dalam transportasi dan pengumpulan pajak-pajak, komunitas-komunitas Austronesia mulai terjun ke dalam bidang perdagangan, yang didorong oleh semakin meningkatnya permintaan terhadap produk-produk lokal semacam kayu cendana, cengkeh, pala, emas, permata, pinang dan rempah-rempah yang akan diekspor ke India, Cina dan juga Eropa.

Pajak-pajak yang dikumpulkan oleh para pemimpin local memungkinkan mereka untuk meningkatkan kondisi pelabuhan-pelabuhan mereka, dan untuk membangun dan menawarkan layanan serta fasilitas yang lebih baik. Adanya ledakan dalam jumlah pembangunan gudang-gudang dan fasilitas lainnya di pelabuhan-pelabuhan terbaik, yang menawarkan kondisi perdagangan yang aman bagi kapal juga menawarkan kenyamanan para pedagang dan pelautnya. Diantara para penguasa lokal terjadi persaingan yang semakin sengit dalam menarik perhatian para pedagang dengan emporium-emporium kecil-permanen (pusat-pusat perdagangan lokal). Yang adalah awal mula dari kerajaan-kerajaan dagang yang pertama. 

Pembentukan emporium-emporium, atau negara-negara ini, seperti yang dicatat dalam kisah-kisah rakyat dan cerita-cerita lokal, selalu dijelaskan sebagai hasil dari konflik antara orang pandai lokal dan seorang saudagar asing. Di pulau atau pelabuhan manapun dimana kisah-kisah itu tumbuh, pola ceritanya selalu sama:

Kisah itu diawali dengan cerita seorang penduduk lokal yang memiliki kekuatan hebat, baik dari segi fisik dan supranatural. Sebuah kapal asing mendarat dengan muatan barang-barang berharga. Kemudian terjadilah persaingan antara penduduk local dengan sang kapten kapal dan sebagai hadiahnya adalah muatan dari kapal itu sendiri. Karena kekuatannya seorang penduduk local yang hebat itu menang dan mendapatkan kekayaan dan juga kemasyuran. Karena didukung oleh kekayaan dan kemasyuran ini, dia menjadi seorang yang dianggap hebat dan menjadi penguasa di negeri tersebut.

Dari kisah ini, tampaklah bahwa untuk dapat sukses membangun sebuah emporium, seorang pemimpin membutuhkan beberapa hal, yaitu;

  1. Seperangkat legitimasi
  2. Otoritas yang cukup untuk dapat berbisnis dengan saudagar-saudagar asing
  3. Mampu memancing para saudagar untuk singgah ke daerahnya; dan
  4. Untuk menyalurkan kembali kekayaan yang diperolehnya dari berdagang pada orang-orangnya agar bisa semakin memperoleh otoritas, kekayaan dan pelanggan – sebuah gambaran yang sempurna tentang bagaimana kekayaan dulu dan sekarang digunakan sebagai perangkat kekuasaan, terutama di negeri-negeri Semenanjung Melayu.  

Kompetisi antara emporium-emporium awal memasuki suatu fase baru dengan pembentukan angkatan perang dan angkatan laut mereka, fungsi dari yang disebut terakhir tadi adalah untuk melindungi, mengendalikan dan terkadang juga berfungsi untuk mengalihkan jalur barang-barang antara India dan Cina melalui pelabuhan-pelabuhan yang dikendalikan oleh si penguasa. Sesungguhnya, satu-satunya perbedaan antara seorang bajak laut dan seorang komandan angkatan laut adalah tujuan terakhir dari bagian kargo yang diambil dari kapal saudagar yang sedang berlayar di wilayah perairannya.

Bajak laut mengambil semua barang berharga demi dirinya sendiri sementara komandan angkatan laut tidak akan mengambil barang apapun dari kapal itu jika kapal tersebut akan berlabuh di pelabuhan yang berada di bawah pengawasannya (dimana kapal akan dikenakan pajak steibanya di pelabuhan tersebut), atau memungut pajak yang berat jika kapal itu hendak berlabuh di pelabuhan kerajaan lain. Perdagangan, pajak, pemerasan dan penyaluran kembali kekayaan yang terkumpul semua memainkan peranan penting dalam perkembangan kekuatan-kekuatan maritim di abad-abad awal Masehi. 


 Daftar Bacaan

- Manguin, P. Y. 1980. “The Southeast Asian Ship; An Historical Approach”. Journal of Southeast Asian Studies 11 (2): 266-276.
- ___________. 1993. “The Trading Ships of the South China Sea: Shipbuilding Techniques and Their Role in the Development of Asian Trade Networks”. Journal of the Economic and Social History of the Orient 36: 253-280.
- Munoz, Paul Michel. 2009. Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia: Perkembangan Sejarah dan Budaya Asia Tenggara (Jaman Pra sejarah – Abad XVI). Yogyakarta: Mitra Abadi.