Zaman Mesolitikum di Indonesia - ABHISEVA.ID

Zaman Mesolitikum di Indonesia

Zaman Mesolitikum di Indonesia


Zaman Mesolitikum di Indonesia - Zaman Mesolitikum adalah pembabakan waktu pada periode zaman pra-aksara yang secara awam sering disebut dengan zaman batu. Disebut dengan zaman batu sebab manusia masih menggunakan alat-alat  dari batu untuk membantunya dalam memenuhi kebutuhan hidup. Zaman Mesolitikum di Indonesia sendiri disebut dengan zaman batu tengah yang diperkirakan terjadi pada masa holosen sekitar 10. 000 tahun yang lalu.


Zaman Mesolitikum di Indonesia


Apabila dibandingkan dengan Zaman Paleolitikum, pada zaman Mesolitikum ini manusia mulai mengalami perkembangan budaya yang lebih cepat dan lebih baik. Perkembangan budaya yang cepat ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah keadaan alam yang lebih stabil. Akibatnya, manusia pada zaman Mesolitikum ini manusia mampu mengembangkan kebudayaan menuju arah yang lebih kompleks.

Keadaan Alam Zaman Mesolitikum di Indonesia


Masa glasial Wurm diperkirakan berakhir 20.000 tahun yang lalu. Pada kala pasca-plestosen, kegiatan gunung api, gerakan pengangkatan dan pelipatan masih berlangsung terus. Sekalipun pengendapan sungai-sungai dan letusan-letusan gunung api masih terus membentuk endapan-endapan aluvial, bentuk topografi Kepulauan Nusantara tidak banyak berbeda dengan topografi sekarang.

Perubahan-perubahan penting yang terjadi ada awal kala pasca-Plestosen adalah berubahnya iklim. Berakhirnya masa glasial menyebabkan berakhirnya musim dingin dan iklim kemudian menjadi panas, dengan akibat semua daratan yang semula terbentuk karena turunnya muka air laut, kemudian tertutup kembali, termasuk Paparan Sunda dan Paparan Sahul.

Pengaruh fenomena itu terhadap kehidupan di antaranya berupa terputusnya hubungan antara Kepulauan Nusantara dan Daratan Asia Tenggara. Bagi hewan-hewan yang kemudian hidup terpencil di suatu pulau, misalnya di Timor, Flores, dan Sumba, terjadilah proses pengataian sebagai akibat isolasi geografis maupun genetika.

Pada masa pasca-Plestosen, iklim di daerah tropik dan di Kepulauan Nusantara khususnya telah menunjukkan persamaan dengan iklim sekarang. Iklim sekarang ini merupakan tingkatan awal dari masa glasial dan pluvial kelima. Menurut hasil penelitian terhadap endapan di dalam gua-gua di Indonesia, berbagai gua didiami oleh manusia pada kala pasca-Plestosen.

Sejalan dengan kecerdasan otak manusia yang semakin berkembang, keterampilan manusia dalam mengolah bahan-bahan alam pada kala Plestosen semakin maju pula. Penggunaan alat-alat batu untuk berbagai keperluan sehari-hari juga mengalami perkembangan bentuk dan variasi. Alat-alat serpih-bilah juga mengalami perkembangan bentuk dan variasi. Alat-alat serpih-bilah merupakan jenis alat utama di samping alat-alat yang dibuat dari kayu, tulang, dan kulit kerang.

Ditilik dari sudut keamanan dan dinginnya iklim, gua-gua telah menarik manusia untuk tinggal di dalamnya. Tinggal menetap ini mempengaruhi cara hidup manusia kala pasca Plestosen Awal. Hidup mengembara, berburu, dan mengumpulkan makanan kemudian berangsur-angsur ditinggalkan.

Selanjutnya manusia mulai menjinakkan hewan dan bercocok tanam sederhana. Api telah dikenal sejak kala Plestosen, memegang peranan penting di dalam kehidupan gua. Api bermanfaat untuk pemanas tubuh dan menghalau hewan buas di malam hari, di samping untuk memasak makanan. Penyelidikan-penyelidikan menunjukkan bahwa para penghuni gua telah mengenal cara-cara penguburan mayat serta menggunakan bahan mineral untuk membuat zat warna yang ditaburkan pada mayat.

Bahan cat berwarna merah, hitam, dan kuning juga digunakan untuk melukis cap-cap tangan atau gambar-gambar hewan dan lambang-lambang lain sebagaimana yang telah ditemukan di Sulawesi Selatan dan pulau-pulau di daerah Maluku.

Kehidupan Hewan Zaman Mesolithikum di Indonesia


Akibat terputusnya wilayah Kepulauan Nusantara dengan daratan Asia pada akhir masa glasial Wurm, terputus pula jalan hubungan hewan kedua daerah tersebut yang sebelumnya dapat dilalui dengan leluasa untuk bergerak dari daerah yang satu ke daerah yang lain. Hewan-hewan yang hidup di pulau-pulau kecil kemudian hidup terasing, dan terpaksa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru; beberapa diantaranya kemudian mengalami evolusi lokal.

Jenis hewan yang ditemukan di dalam penggalian purbakala di beberapa gua di Jawa, Sulawesi Selatan, Flores, Timor, dan situs terbuka di Sumatra Utara menunjukkan persamaan dengan hewan-hewan sekarang, walaupun beberapa spesies tertentu menunjukkan bentuk-bentuk lebih besar daripada hewan sekarang.

Tulang-tulang hewan pasca-Plestosen umumnya ditemukan bersama-sama dengan berbagai tulang manusia dari ras Austroloid, Melanesoid atau Mongoloid, bersama-sama dengan alat-alat budayanya sehingga gambaran tentang kehidupan manusia pada kala pasca-Plestosen dapat diketahui lebih jelas daripada kehidupan pada masa Plestosen.

Contoh temuan tulang hewan bersama-sama dengan tulang manusia ialah dari Gua Lawa di dekat Sampung, Gua Petpuruh dan Gua Sodong di daerah Besuki, bukit kerang di Sumatra Utara, dan gua-gua di Flores. Berbagai hewan yang ditemukan di tiap-tiap gua adalah sebagai berikut;

Fauna Sampung, ditemukan dalam suatu penggalian yang dilakukan oleh Stein Callenfels pada tahun 1928-1931. Menurut Koenigswald fauna Sampung tergolong ke dalam fauna Indo-Malaya muda. Menurut Dammerman, fauna tersebut terdiri atas berbagai jenis. Beberapa spesies, di antaranya Elephas namadicus, Bosbubalis, Neofelis nebulosa, dan Cervus edli, telah punah di Jawa, sedangkan Rhinoceros sampai sekarang masih hidup di Ujung Kulon dan di Sumatra. Selain itu, di antara fauna Indo-Malaya Sampung ditemukan banyak sekali tulang belulang Varanus salvator (biawak).

Fauna Besuki, ditemukan dalam penggalian Gua Petpuruh dan Gua Sodong oleh van Heekeren antara tahun 1931-1935. Menurut von Koenigswald fauna Besuki terdiri atas:

1. Pithecus pyrrhus (jenis monyet)
2. Bibos banteng (jenis banteng)
3. Bubalus bubalis (jenis kerbau)
4. Muntiacus muntjac (jenis kijang)
5. Susvittatus (jenis babi hutan)

Fauna Punung, berupa subfosil gigi dari Elephas maximus yang ditemukan dalam suatu penggalian di Gua Songterus di daerah Punung (Pacitan) oleh Soejono dan Basuki pada tahun 1953.

Penyelidikan terhadap gua-gua di Sulawesi Selatan yang dilakukan antara lain oleh Stein Callenfels dan Heekeren di gua-gua Cakondo, Ara, JariE, Saripa, Karassa, Burung, PattaE, Batu Ejaya, Panganreang Tuden, Bola Batu, dan Panissi Ta’buttu, menghasilkan temuan alat-alat budaya Toala, di samping tulang-tulang hewan yang termasuk dalam fauna Toala. Hasil penyelidikan tulang hewan Toala menurut Hooijer meliputu berbagai jenis.

Fauna Flores, terutama ditemukan di dalam penggalian di Gua Toge dekat Warukia oleh Heekeren pada tahun 1954. Hasil penyelidikan tulang hewan dari Flores menurut Hooijer adalah sebagai berikut;

1. Dobsonia cf. Peroni (jenis kalong)
2. Macaca fascicularis subsp (jenis monyet berkeor panjang)
3. Rattus rattus (jenis tikus besar)
4. Papagomys armandville (jenis tikus besar)
5. Spelaeomys florensis (jenis tikus besar)
6. Acanthion brachyurus subsp (jenis landak)
7. Sus scrofa subsp (jenis babi)

Untuk mendapatkan gambaran tentang alam tumbuh-tumbuhan yang hidup pada masa pasca Plestosen Awal di Indonesia, ada baiknya diperhatikan hasil-hasil penemuan di luar Indonesia seperti Thailand, Formosa, pedalaman Irian, dan Australia. Kesimpulan tentang penemuan-penemuan yang diperoleh dalam suatu penggalian yang amat teliti disertai dengan metode penelitian serbuk sari (palinologi) dan penentuan umur berdasarkan metode carbon-14 akan memberikan hasil-hasil yang memuaskan.

Dewasa ini pada umumnya telah diterima suatu pendapat yang mengatakan bahwa kegiatan pertanian pertama kali dimulai di daerah Timur Tengah. Namun, pendapat itu sudah tidak dapat dipertahankan lagi, karena lama sebelum itu, di daerah tropik di Asia Tenggara yang berhutan lebat, orang telah mengenal cara bercocok tanam dalam bentuk pertanian sederhana, misalnya perladangan dengan cara pengerjaan hutan secara tebang bakar (slash and burn). Tumbuh-tumbuhan yang mula-mula ditanam adalah kacang-kacangan, mentimun, umbi-umbian, dan biji-bijian seperti jewawut, padi, dan sebagainya.

Bentuk pertanian dengan penebangan hutan itu telah dimulai di Asia Tenggara sejak pasca-Plestosen Awal, yaitu kira-kira 9000 tahun sebelum Masehi, dan boleh dianggap merupakan bentuk pertanian yang tertua di dunia. Tentang hal ini telah pernah pula dikemukakan oleh para ahli botani, seperti Vavilov, Sauer, dan lain-lain, yang kemudian diperkuat dan dibenarkan oleh hasil-hasil penelitian arkeologi.

Manusia Pendukung Zaman Mesolithikum di Indonesia


Semenjak sekitar 10000 tahun yang lalu, ras manusia seperti yang dikenal sekarang telah mendiami Kepulauan Nusantara. Diperkirakan terutama ada dua ras yang terdapat di Indonesia pada permulaan kala Holosen, yaitu Austromelanesoid dan Mongoloid.

Orang-orang Austromelanesoid berbadan lebih tinggi meskipun variasinya cukup besar pula. Tengkorak relatif kecil, dengan dahi yang agak miring. Bagian pelipisnya tidak membulat benar. Tengkoraknya lonjong atau sedang, dan di bagian belakang kepalanya tengkorak menonjol sekan-akan sanggul. Di tengah-tengah atap tengkoraknya, membujur dari muka ke belakang, terdapat peninggian yang luncung. Dinding samping tengkoraknya hampir tegak lurus. Lebar mukanya sedang dengan bagian rahang agak dalam.

Alat-alat pengunyah relatif kuat: gigi-giginya tergolong besar di kalangan Homo sapiens. Rahang bawahnya tebal dan busur keningnya nyata. Geraham-gerahamnya belum mengalami reduksi yang lanjut, baik dalam jumlah, ukuran, maupun bentuk. Beberapa ciri lain yang khas terdapat pada bagian rangka di bawah tengkorak.

Sebaliknya, pada ras Mongoloid variasi tinggi badannya tidak selebar pada Austramelanesoid, dan rata-rata lebih kecil sedikit. Tengkoraknya bundar atau sedang, dengan isi tengkorak rata-rata lebih besar. Dahinya lebih membulat dan rongga matanya biasanya tinggi dan persegi. Mukanya lebar dan datar dengan hidung yang sedang atau lebar. Akar hidungnya dangkal. Hanya bagian mulutnya yang menonjol ke depan sedikit, bersama dengan gigi muka.

Reduksi alat pengunyah telah melanjut, sementara tempat perlekatan otot-otot lain mulai kurang nyata. Masih ada lagi beberapa ciri khas Mongoloid yang terdapat pada rangka selain yang tersebut di atas.

Temuan-temuan rangka pasca-Plestosen di Indonesia dapat dibagi dalam tiga golongan, yaitu rangka dari bukit-bukit remis di pantai timur Sumatra Utara, rangka dari gua-gua di Jawa Timur, serta rangka dari gua-gua di Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara. Sisa manusia dari bukit-bukit remis di Sumatra ditemukan di Aceh Timur (langsa dan Tamiang) dan Sumatra Timur.

Rangka-rangka yang digali di Binjai, Tamiang, memperlihatkan tinggi badan yang kecil dan tengkorak yang lonjong, dan tinggi badannya kira-kira 153 cm. Akar hidungnya lebar, tetapi rahang bawahnya tidak tegap dan gigi-giginya kecil. Kedua rangka tersebut mempunyai ciri-ciri Austromelanesoid.

Selain di tepi barat Selat Malaka, bukit remis yang serupa terdapat di tepi timur selat tersebut, yaitu Gua Kepah, Paya Keladi, Lahar Tuan Said, Toksoh, Lahar Ikan Mati, dan Pematang Tiga Ringgit. Rangka manusia yang terbanyak ditemukan di ketiga bukit kerang Gua Kepah. Dari gigi dan rangka milik sekurang-kurangnya 37 orang dari Gua Kepah ini dapat kita ketahui keadaan manusia pada masa itu dengan lebih jelas.

Di Sumatra Utara ditemukan pula sebuah rangka di bukit kerang Sukajadi, Langkat. Di sini juga terdapat Austromelanesoid, yaitu tengkorak yang lonjong, rangka bawah yang tegap dan geraham yang besar.

Penduduk pantai Selat Malaka di masa itu terutama hidup dari hasil laut. Pada masa inilah rupanya eksploitasi laut mulai dikembangkan. Mereka terutama adalah yang di dalam makanannya berbagai jenis kerang memegang peran penting. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau aus giginya sangat berat. Penyakit gigi banyak terdapat dibandingkan dengan di masa-masa sebelumnya.

Di antaranya ada yang sampai menimbulkan radang. Pecah-pecah pada enamel gigi terdapat pula. Selain kerang dan ikan, mereka memakan pula hewan-hewan darat, seperti babi dan badak. Dari jumlah kulit kerang yang terdapat dalam bukit-bukit Gua Kepah dapat diperhitungkan bahwa makanan penduduknya cukup mengandung zat putih telur (protein) hewani.

Penduduk pantai tersebut sudah memakai dan membuat api serta menguburkan mayat dengan upacara-upacara tertentu. Diduga mereka tidak melakukan kanibalisme karena kelompok-kelompoknya masih kecil. Angka kematian cukup tinggi, tidak kekurangan gizi, dan budaya belum begitu kompleks. Mungkin penguburan dilakukan dengan sangat sederhana dekat dengan tempat tinggalnya sehingga bercampur dengan peninggalan lain, seperti alat-alat batu dan kulit kerang.

Beberapa bagian dari rangka kerabat yang meninggal, seperti rahang bawah, mungkin disimpan untuk pemujaan atau pun untuk semangat yang dikandungnya. Hematit (bahan berwarna merah) yang dipakai pada rangka-rangka ini, terdapat pada permukaan rahang dan tulang-tulang lain.

Di masa yang sama di Jawa Timur hidup kelompok-kelompok manusia yang mendiami gua-gua, suatu hal yang tidak terdapat sebelumnya di Indonesia. Dalam beberapa gua di antara beberapa belas buah gua dan gua payung terdapat rangka manusia dari masa berburu tingkat lanjut. Akan tetapi yang dapat diselidiki dengan baik dan yang masih tersimpan dengan baik adalah rangka yang berasal dari Gua Lawa, Sampung, Ponorogo.

Tengkorak manusia yang ditemukan di Ponorogo ini jika dilihat dari tulang panggunya lebih kasar daripada ras Mongoloid dengan tinggi badannya diperkirakan sekitar 170 cm. Hal yang sama juga ditemukan juga di gua-gua Prajekan, Tuban.

Namun dengan menunjukkan ciri-ciri Austromelanesoid. Pemburu-pemburu dari Jawa Timur ini hidup di gua-gua, dan berburu hewan-hewan seperti kerbau, rusa, gajah, dan badak. Upacara penguburan juga dilakukan dan hematit pun ditaburkan pada rangka. Di Sampung ditemukan gigi-gigi manusia yang dilubangi akaranya, mungkin untuk dirangkai sebagai kalung.

Lebih ke timur terdapat sisa manusia di Sulawesi Selatan di berbagai gua. Dalam gua-gua dekat Lamoncong, yaitu gua-gua Cakondo, Uleleba, dan Balisao, ditemukan sisa-sisa manusia berupa tulang-belulang dan gigi. Dalam gua-gua lain, yang beberapa jelas jumlahnya, termasuk Bola Batu, Leang Karassa, dan Leang Codong juga ditemukan rangka manusia.

Tinggi badan rangka-rangka tersebut tidak besar dan gigi-giginya juga kecil. Yang menarik adalah kira-kira 2.700 buah gigi lepas yang berasal dari Leang Codong, Soppeng pada 1937. Penemuan ini mewakili populasi sebanyak 267 orang. Berbeda dengan populasi di Sumatra Utara dan Jawa Timur, populasi Leang Codong memperlihatkan lebih banyak ciri Mongoloid.

Pada periode yang sama atau mungkin agak lebih kemudian, dapat diketahui ada populasi yang mendiami gua-gua di Flores, antara lain di Liang Toge, Liang Momer, dan Liang Panas. Di Liang Toge ditemukan dalam tahun 1954 sebuah rangka dan fragmen-fragmen tulang. rangka manusia dalam jumlah yang lebih banyak ditemukan di Liang Momer.

Penduduk Liang Toge, dan mungkin juga yang di gua-gua lain di Flores Barat, hidup kira-kira 3.500 tahun yang lalu. Mereka hidup berburu dan meramu, terutama hewan-hewan kecil seperti monyet, kelelawar, tikus, landak dan babi. Selain di Flores, di Pulau Komodo juga ditemukan tulang-tulang manusia dari periode yang sama.

Jika ditinjau mengenai populasi manusia di Indonesia pada masa berburu tingkat lanjut, nampak nyata bahwa kedua ras pokok dari campuran Austromelanesoid dengan Mongoloid. Populasi dengan komponen-komponen rasial yang serupa hidup pula di masa itu di daratan Asia Tenggara. Populasi ini tidak sama benar dengan subras Melanesoid dan Austroloid sekarang, karena beberapa ciri primitif yang masih terdapat pada mereka dahulu, yang belum mengalami mikroevolusi tingkat lanjut.

Di Jawa pada waktu itu juga hidup manusia dengan ciri Austromelanesoid yang lebih sedikit dipengaruhi oleh unsur Mongoloid. Lebih ke timur, ke Nusa Tenggara, hidup pada waktu yang bersamaan atau dapat dikatakan sedikit lebih tua, juga terdapat ras Austromelanesoid yang tidak banyak berbeda dengan populasi disana sekarang, sekurang-kurangnya untuk beberapa tempat, tetapi masih primitif dalam beberapa ciri.

Hal lain terjadi di Sulawesi. Di Sulawesi Selatan dijumpai pada waktu itu populasi yang lebih banyak memperlihatkan ciri dari unsur Mongoloid. Ini mungkin disebabkan oleh pengaruh Mongoloid yang datang melalui Filipina ke Kalimantan dan Sulawesi. Besaran kelompok di masa berburu tingkat lanjut tidak banyak berbeda dengan masa sebelumnya, berada pada kisaran 30-50 orang. Mereka mungkin berdiam di pondok-pondok tepi pantai atau di gua-gua.

Daerah Indonesia yang didiami sudah lebih luas, dari Sumatra sampai Irian. Kepadatan penduduk bertambah pula. Hal ini ditentukan oleh banyaknya sumber makanan di daerah yang didiami seingga hewan-hewan air dan darat serta tumbuh-tumbuhan yang dapat dimakan cukup banyak untuk seluruh kelompok untuk beberapa lama.

Dari musim ke musim mereka agaknya berpindah tempat tinggal, untuk menjaga agar sumber-sumber tidak sampai habis terpakai, dan tidak terjadi sengketa dengan kelompok lain yang tinggal berdekatan. Diperkirakan untuk satu kelompok penduduk diperlukan daerah buruan seluas 1500 km².

Populasi yang berdiam di tepi pantai mencari makan di laut dan muara sungai. Selain ikan, kerang merupakan sumber makanan yang utama, meskipun tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan darat mereka makan juga. Para pemburu relatif lebih banyak memakan zat putih telur (protein) dibandingkan zat tepung (karbohidrat). Tentu saja ada masa-masa mereka mengalami kesukaran makanan.

Yang berhasil berburu hewan-hewan besar, seperti kerbau atau gajah, beruntung mendapat makanan dalam bentuk yang kompak, yang dapat mereka nikmati untuk beberapa hari. Namun, hasul perburuan yang demikian tidak dapat diperoleh setiap hari. Untuk mengumpulkan makanan, pemburu memakai sekitar 30% dari tenaga yang mereka keluarkan setiap hari.

Api sudah dipakai dalam pengolahan makanan, selain alat-alat batu dan kulit kerang. Tidak mengherankan jika terdapat reduksi gigi dan alat pengunyah yang lebih lanjut dibandingkan dengan manusia dari zaman Plestosen. Namun, aus gigi relatif hebat karena makanan masih kasar, liat, dan bercampur dengan bahan-bahan kasar, seperti pasir dan abu.

Jumlah laki-laki dan perempuan hampir sama waktu lahir, tetapi kemudian berubah karena beberapa hal. Karena jumlah anak yang besar tidak menguntungkan dalam masyarakat pemburu, infantisida kadang-kadang dilakukan untuk membatasi jumlah penduduk.

Dalam hal ini, anak perempuan cenderung untuk dibunuh daripada laki-laki, karena tidak begitu memegang peranan dalam berburu. Perburuan dan pencarian ikan menimbulkan bermacam-macam bahaya bagi kaum laki-laki sehingga banyak diantara mereka tidak dikuburkan bersama orang-orang yang meninggal dekat dengan tempat tinggal.

Akibatnya, di antara rangka dari kuburan atau kediaman beberapa populasi di dominasi oleh rangka perempuan. Sebaliknya perempuan banyak meninggal di puncak kesuburannya karena kesulitan-kesulitan dalam kehamilan dan persalinan sehingga lebih banyak terdapat laki-laki yang berusia lanjut. Dibandingkan dengan di kala Plestosen, lebih banyak terdapat orang yang hidup melewati masa kesuburan mereka.

Umur kematian rata-rata masih berkisar antara 20-30 tahun, tetapi orang tua di atas 50 tahun sudah ada juga. Mereka ini penting dalam meneruskan pengalaman-pengalaman berburu dan mengenalkan lingkungan alam kepada angkatan berikutnya.

Adanya orang tua menunjukkan bahwa orang tua-tua tidak dibunuh meskipun tidak produktif. Mereka bahkan dirawat, karena beberapa di antara mereka memperlihatkan penyakit-penyakit yang tidak memungkinkan mereka berburu atau bekerja berat seingga menimbulkan kesukaran mengunyah dan nyeri yang sangat. Penguburan mayat dilakukan dengan upacara seperti terlihat pada sikap rangka yang ditemukan dan terdapatnya hematit, terutama pada rahang dan gigi-geligi.

Selain berpindah-pindah tempat dalam penyesuaian diri dengan sumber makanan, migrasi yang lebih permanen terjadi juga, jika perubahan lingkungan lebih hebat dan cepat atau jika jumlah penduduk menjadi besir sehingga luas daerah perburuan tidak dapat lagi menampung seluruh penduduk. Sengketa dengan kelompok tetangga dapat timbul dan salah satu kelompok terpaksa harus pindah.

Hibridasi dapat terjadi sejalan dengan migrasi. Karena migrasi tidak terjadi besar-besaran derajat dan kecepatan hibridasi juga tidak tinggi. Namun, karena baik migrasi maupun hibridasi berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, akibatnya besar pula. Dalam masa berburu tingkat lanjut ini tidak saja diduga sudah terdapat pantang inses, tetapi mungkin pula telah berlangsung eksogami, kecuali di kalangan kelompok-kelompok yang sangat terpencil.

Oleh karena itu, ditambah pula oleh menyebarnya kelompok yang sudah menjadi besar ke daerah sekitarnya, maka dapat dimengerti kalau antara kelompok-kelompok yang berdekatan terdapat persamaan dalam ciri-ciri ragawi, yang disebabkan oleh unsur-unsur rasial atau subrasial yang bersamaan.

Kebudayaan Mesolithikum di Indonesia


Pada masa Plestosen atau secara khusus memasuki zaman Mesolithikum, telah berkembang tiga tradisi pokok pembuatan alat-alat di Indonesia, yaitu tradisi serpih-bilah, tradisi alat tulang, dan tradisi kapak genggam Sumatra. Alat-alat itu dibuat pula dari kulit kerang, tetapi bentuk dan jumlahnya tidak menonjol. Ketiga tradisi alat-alat itu ditemukan tidak berdiri sendiri, tetapi acap kali unsur-unsurnya bercampur dengan salah satu jenis alat yang lebih dominan daripada lain-lainnya. Persebaran meliputi Sumatra, Jawa, Sulawesi, Bali, Kepulauan Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Maluku, dan Irian.

1. Serpih Bilah


Tradisi serpih-bilah berkembang di beberapa daerah di Asia Tenggara. Terutama di Indonesia, tradisi ini menonjol pada kala pasca-Plestosen. Teknik pembuatan alat-alatnya tampak lebih maju dalam berbagai corak untuk bermacam kegunaan. Kadang-kadang bentuknya kecil melalui teknik pengerjaan yang rumit. Seperti alat-alat mikrolit yang berbentuk khas geometrik. Pemangkasan sekunder adalah pengerjaan serpih setelah dilepaskan dari batu intinya, sering kali diutamakan menuju ke bentuk alat-alat yang diperlukan. Bahan batu yang dipakai untuk membuat alat diantaranya ialah kalsedon, batu gamping, dan andesit.

Tradisi serpih bilah terutama berlangsung dalam kehidupan di gua-gua di Sulawesi Selatan dan pulau-pulau Nusa Tenggara Timur, sedangkan di Jawa serpih-bilah tidak memainkan peran penting dalam konteks tradisi alat tulang. beberapa unsur dari tradisi sepih-bilah dikembangkan pada tingkat kemudian (masa bercocok tanam, yang terdiri dari bentuk-bentuk yang lebih sempurna, yaitu mata panah bersayap atau bergigi, dan serpih-bilah yang khusus dibuat dari batu kecubung (obsidian).

Di Indonesia tradisi sepih-bilah antara lain ditemukan di gua-gua di daerah Sulawesi Selatan, yang sebagian pada masa tidak lama berselang masih didiami oleh suku Toala. Yang berjasa membuka jalan ke arah penyelidikan-penyelidikan prasejarah selanjutnya di daerah itu adalah dua bersaudara kebangsaan Swiss, Fritz dan Paul Sarasin.

Kedua bersaudara ini melakukan penggalian di gua-gua Cakondo, Uleleba dan Balisao. Pada umumnya ditemukan serpih-bilah, di samping mata panah yang bergerigi, dan alat-alat tulang. secara tipologi artefak litik yang dihasilkan cukup bervariasi mengenai alat serpih-bilah di Kepulauan Nusantara, yang secara kuantitas maupun kualitas menunjukkan perbedaan antara satu alat dengan alat lainnya. Tipe-tipe alat yang dihasilkan adalah sebagai berikut:

1. Serut, dicirikan
2. Serpih tanpa retus
3. Serpih dengan retus pemakaian
4. Bilah dengan retus

2. Alat Tulang


Di Kepulauan Nusantara alat tulang terutama yang terkenal adalah yang ditemukan di Pulau Jawa, yaitu di Gua Lawa, Sampung. Di situs ini ditemukan beragam alat-alat tulang yang diperkirakan paling tua berasal dari masa Plestosen Akhir hingga masa Pasca-Plestosen. Alat-alat tulang yang terkenal di situs ini terutama adalah dengan bentuk mata panah yang sebagaimana juga ditemukan di daerah Gunung Kendeng, dekat Bojonegoro.

Penyelidikan terhadap gua-gua di daerah Tuban juga telah ditemukan alat-alat tulang dan secara khusus alat-alat kulit kerang dalam jumlah yang banyak, di samping alat-alat batu seperti mata panah bersayap dan alat-alat kerang berbentuk sabit dengan pinggir tajaman berperimping. Corak sudip tulang yang ditemukan juga seperti yang ditemukan di Bojonegoro dan Sampung.

Di daerah Besuki, di Gua Petpuruh, utara Pratjekan, ditemukan sudip tulang dengan jenis sama dengan yang ditemukan di Sampung. Selain itu terdapat pula sudip-sudip kecil, lancipan kecil yang dibuat dari tulang, dan mata panah tanduk yang digosok dan pipih.

Ekskavasi yang dilakukan oleh Heekeren di Gua Sodong di bagian belakang dekat tembok gua, di bawah lapisan karang, ditemukan tulang-tulang manusia yang dikuburkan, dengan kaki terlipat dan tangan menyilang di bagian perut. Pada rangka ini tengkoraknya sudah hilang dan yang tinggal hanya rahang bawahnya. Ekskavasi lainnya adalah di Gua Marjan dimana ditemukan sudip tulang tipe Sampung, di samping beberapa kapak genggam Sumatra dan kapak pendek.

Temuan benda-benda dan tulang-tulang binatang sedikit sekali, tetapi tulang-tulang manusia ditemukan agak banyak. Alat-alat tulang juga ditemukan di selatan Bali, yang diselidiki oleh Soejono pada tahun 1961.

Ekskavasi dilakukan di tiga tempat; Pecatu, Badung dengan gua-guanya yaitu Karangboma I dan II dan Gua Selonding. Dalam Gua Karangboma I dan II tidak ditemukan sesuatu yang penting kecuali kulit kerang dan gerabah polos. Sedangkan di Gua Selonding ditemukan alat-alat dari tulang seperti alat-alat tulang yang pernah ditemukan di Sulawesi dan Australia.

Tradisi pembuatan alat tulang dan tanduk tampaknya merupakan hal yang bersifat universal. Kawasan Eropa Barat pernah mengalami perkembangan yang menonjol dalam hal alat-alat tulang pada tingkat Palaeolitik Akhir di situs Magdaleine (Dordogne, Prancis) yang kemudian disebut dengan Kebudayaan Magdalenian. Ciri-ciri kebudayaan ini juga tampak pada situs Cresswell Crags yang kemudian disebut dengan Kebudayaan Creswellian.

Di Asia daratan tradisi alat tulang dan tanduk muncul di daerah Tonkin. Tradisi ini bercampur dengan tradisi kapak genggam Sumatra. Selain itu, sebaran artefak tulang juga ditemukan di bukit-bukit kerang di Da But (Vietnam Utara).

Di Kepulauan Nusantara tampaknya cukup banyak situs yang mengandung tradisi alat tulang dan tanduk. Sejauh yang dapat diketahui hingga saat ini, persebaran alat tulang dan tanduk terdapat di wilayah Kalimantan Selatan, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Bali dan Nusa Tenggara Timur.

Temuan artefak tulang sampai saat ini baru diketahui di daerah Wonosari, Gunung Kidul. Situs yang mengandung sejumlah besar alat tulang terdapat di situs Gua Braholo yang sampai saat ini masih diteliti oleh Puslitarkenas.

Hasil penelitian menunjukkan adanya kepadatan temuan artefak tulang berupa lancipan atau jarum, baik yang berujung tunggal maupun ganda, serta spatula dari tulang dan tanduk. Keberadaan spatula yang terbuat dari tulang dan tanduk ini memberikan penjelasan bahwa dapat diperkirakan pada saat itu kegiatan mengolah makanan dengan memasaknya sudah terjadi pada periode ini.

Persebaran artefak tulang di wilayah Jawa Tengah diketahui berada di daerah Blora, yaitu di situs Ngandong dan Sidorejo (Watualang). Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Mynbouw dan Oppenorth menunjukkan adanya bentuk-bentuk seperti mata tombak dari duri ikan pari, spatula dari tanduk rusa, dan temuan dari unit Bio-paleo-antropologi UGM menemukan temuan yaitu beberapa pisau, lancipan, dan alat-alat tusuk yang semuanya itu terbuat dari tulang panjang binatang. Adapun temuan dari Sidorejo menunjukkan bentuk-bentuk berupa mata tombak tulang yang bergerigi pada kedua sisinya.

Penelitian berikutnya dilakukan di situs-situs di Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Selatan. Hadirnya tradisi alat tulang di Situs Paso merupakan hasil ekskavasi gabungan antara Indonesia-Australia yang dilakukan oleh Sutayasa dan Bellwood. Penggalian dilakukan pada tanah yang mengandung endapan danau dan kerang laut.

Temuan berupa lancipan tulang sejumlah 10 buah bersama dengan sejumlah sisa tulang babi. ekskavasi terhadap situs-situs Gua Longgo (1951), Liang Momer dan Riung (1952) serta Liang Toge (1954) di Pantai Flores Barat menunjukkan temuan yang dominan berupa serut kerang, perhiasan dari kerang, dan lancipan tulang. Ekskavasi terhadap Gua Babi di Kalimantan Selatan menghasilkan sejumlah alat dan tulang berupa lancipan bersama-sama dengan serpih-bilah.

Dari penelitian di gua-gua di Sulawesi Selatan ternyata banyak diperoleh alat-alat yang terbuat dari tulang. ekskavasi di Leang Cadang yang dilakukan oleh Wilkens pada tahun 1939 berhasil menemukan lancipan tulang berujung ganda maupun tunggal yang ditemukan bersama-sama dengan mata panah dari kerang, Glover melakukan ekskavasi di Situs Ulu Leang dan menemukan sejumlah lancipan dan spatula dari tulang. Penelitian kerjasama antara Indonesia-Australia di Leang Burung telah menemukan sejumlah artefak tulang berupa lancipan berujung tunggal dan ganda.

Pada tahun 1950 Heekeren mengadakan ekskavasi di Situs Leang PattaE dan menghasilkan sejumlah alat tulang berupa mata tombak yang ditemukan bersama-sama dengan serut kerang. Situs Bola Batu merupakan gua yang terletak di daerah Bone dekat Bajo. Selain alat-alat dari batu dan kerang, ditemukan pula 43 buah alat tulang yang terdiri dari lancipan ganda, yang ditemukan bersama-sama dengan mata panah bergerigi dari batu.

Temuan ekskavasi terhadap situs Tomatua Kacicang menunjukkan adanya bentuk-bentuk lancipan tulang yang bergigi, spatula, dan lancipan ganda yang ditemukan bersama-sama dengan mata panah begerigi dari batu. Leang Ara merupakan situs yang telah diteliti oleh Cense pada tahun 1933, yang kemudian digali oleh Heekeren dengan temuan beberapa spatula tulang dan lancipan ganda. Leang Panganreang Tudea juga mengandung berupa 21 buah lancipan berujung tunggal dan ganda, bersama-sama dengan artefak kerang.

Demikian pula temuan di situs Leang Panisi Ta’buttu berupa lancipan berujung tunggal maupun ganda dan spatula, bersama-sama dengan serpih-bilah. Situs Leang Batu Ejaya mengandung lancipan tulang berujung tunggal dan ganda dalam jumlah yang banyak, termasuk spatula tulang. Leang Saripa mengandung temuan berupa lancipan tulang dengan ujung yang digosok dan diperkeras dengan api, bersama-sama dengan serut kerang.

3. Kapak Genggam Sumatra


Kebudayaan kapak genggam di Kepulauan Nusantara pada masa berburu dan meramu tingkat lanjut atau yang lebih akrab dengan istilah masa Mesolithikum sebagian besar dipengaruhi oleh kebudayaan Hoabinhian yang berada di sebelah tenggara kota Hanoi (Vietnam).

Ciri-ciri utama dari budaya ini antara lain menghasilkan produk artefak litik kerakal (pebble tools) dengan teknik pemangkasan satu sisi dan meninggalkan sisi lainnya yang masih asli. Artefak litik ini diserpih memanjang dan patahan mendatar di bagian ujungnya diretus untuk membuat tajaman. Alat ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan sumatralith atau batu Sumatra, oleh karena ditemukan pertama kali di wilayah Sumatra.

Pola-pola pemukiman dan mata pencaharian menunjukkan perbedaan secara dikotomi antara kehidupan di pantai dan di pedalaman. Mata pencaharian masyarakat pantai ialah mengolah hasil biota laut, dan beberapa ribu tahun kemudian menghasilkan timbunan sisa-sisa makanan yang sering kali di dalamnya sisa-sisa aktivitas masyarakat pendukungnya berupa artefak dan ekofak.

Sebaliknya, mata pencaharian masyarakat pedalaman adalah berburu hewan besar dan kecil, dengan menggunakan artefak litik yang ditemukan di sekitarnya, yang diketahui sebagai sumatralith. Di dalam perkembangan hidupnya yang lebih kemudian, mereka mulai memanfaatkan gua sebagai lahan huniannya.

Sejumlah alat batu yang ada di Kepulauan Nusantara dikenal dengan istilah sumatralith atau kapak genggam Sumatra tersebut berasal dari Asia Tenggara dan ditemukan di Cina Selatan, Vietnam, Kamboja, Laos, Thailand dan Semenanjung Malaya. Kecuali itu, tradisi ini terdapat pula di Australia dan Tasmania. Melalui daerah Semenanjung Malaya tradisi ini menyebar ke Indonesia, dan ditemukan di daerah pantai Sumatra Utara yang berhadapan dengan semenanjung itu.

Temuan di daerah-daerah Asia Tenggara berasal dari dalam gua-gua atau dari daerah pesisir pantai. Dari penyelidikan di beberapa tempat telah berhasil diketahui umur absolut dari penemuan yang penting. Di Kepulauan Nusantara, kapak genggam Sumatra ditemukan tersebar di pantai timur Sumatra Utara, yaitu di Lhokseumawe dan Binjai, kemudian menyusul lagi mengenai penemuan bukit-bukit kerang di Aceh, yaitu di Sungai Yu, di Kejuruan Muda, dan di Jambur Labu, Langsa, yang sampai sekarang belum diselidiki dengan seksama. Penemuan yang terpenting di bukit-bukit kerang itu adalah kapak genggam Sumatra.

Hasil penemuan kapak genggam Sumatra pada tahun 1924 yang dilakukan oleh J. H. Neuman di Batu Kenong melaporkan bahwa alat ini dibuat dari batuan andesit dan dikerjakan pada kedua sisinya sehingga tajamannya kelihatan bergelombang. Kemudian pada tahun 1927 L. C. Heyting melaporkan pula tentang koleksi alat-alat serupa yang ditemukan di daerah Serdang Hilir. Alat-alat ini dikerjakan pada satu sisinya saja.

Laporan tentang penemuan bukit kerang di daerah muara Sungai Tamiang dekat Seruwai, Bulu Cina, dan Tandes Hilir, di sebelah timur laut kota Medan, yang telah ada sejak 1907. Bukit-bukit remis yang bergaris tengah kurang lebih 30 m dengan tinggi kira-kira 4,5 m telah diselidiki oleh Witkamp.

Setelah diidentifikasi bukit kerang itu adalah hasil kegiatan manusia yang diperkirakan berasal dari masa Mesolitik, yang di dalamya terdapat kulit-kulit kerang, tulang-tulang hewan, dan batu pipisan. Daerah penemuan bukit remis membujur di daerah pantai Sumatra sepanjang ± 130 km.

Pengamatan yang dilakukan Hensser dan Mjoberg pada tahun 1920, teteapi dalam kenyataan situs tadi mengalami kerusakan berat akibat penambangan batu kapur untuk bahan bangunan dan pengerasan jalan. Hasil pengamatan itu membuktikan bahwa di dalamnya ternyata terdapat sejumlah sisa hewan darat dan laut, serta indikator budaya Hoabinh berupa beberapa kapak genggam monofasial (monofacial hand-axes).

Pada tahun 1925 dan 1926 Stein Callenfels melakukan ekskavasi di sebuah bukit kerang di Medan, dan menghasilkan temuan kerang dan beberapa buah kapak genggam Sumatra berbentuk lonjong yang dikerjakan hanya pada satu sisinya, beserta kapak pendek.

Ditemukan juga alu dan lesung batu yang agak kasar dan sejumlah besar hematit. Kerang yang berasal dari bukit kerang ini diteliti oleh van der Mohr. Sebagian besar kerang terdiri dari jenis Mereterix mereterix, dan sebagian kecil lainnya dari jenis Ostrea.

Di antara kerang itu, mungkin ada yang dipergunakan sebagai alat tiup, tempat minum, atau gayung air. Ada pula yang dipakai sebagai perhiasan dengan jalan melubangi kerang itu dan sebagian lagi dijadikan alat-alat seperti penggaruk (serut). Terdapat pula jenis-jenis kerang yang dijadikan makanan dengan jalan dipanaskan terlebih dahulu, kemudian diambil isinya. Ada pula jenis kerang yang harus dipecah terlebih dahulu, barulah dikeluarkan isinya.

Dua buah bukit lainnya diketahui di Bulu Cina dan Tandes Hilir, di sebelah timur Medan. Di situs ini ditemukan kerang dan siput bercampur dengan tulang-tulang hewan, seperti kera, badak, gajah, dan rusa. Ditemukan pula sejumlah kapak genggam Sumatra. Sebagian besar alat-alat ini berbentuk lonjong dan dikerjakan pada satu sisinya saja.

Terdapat pula pisau batu dan dua buah batu bundar yang masih mengandung bekas-bekas warna merah dan kuning. Kemudian, bukit kerang yang diteliti oleh H. M. E. Schurmann di Binjai ditemukan sejumlah kapak genggam Sumatra yang berbentuk lonjong, yang dikerjakan pada satu sisinya saja, beberapa buah alu dan lesung batu, serta tulang dan gigi gajah, badak, dan beruang. Terdapat pula sisa-sisa kepiting, kura-kura dan ikan, di samping tulang manusia.

H. Kupper memberikan keterangan tentang beberapa buah bukit kerang di Langsa, Aceh dengan hasil penemuan beberapa kapak genggam Sumatra dan berbagai alat batu dengan bentuk lonjong, bulat, dan meruncing. Alat-alat batu itu pada umumnya dipangkas secara monofasial, meskipun beberapa batu sudah ada yang dipangkas secara bifasial.

Pecahan-pecahan batu besar ditemukan pula, yang merupakan batu inti guna pembuatan alat-alat batu tersebut. Dapat ditambahkan bahwa kecuali di bukit-bukit kerang tersebut, kapak genggam Sumatra juga diteukan di Gua Marjan, Besuki, bersama-sama dengan kapak pendek. Dari penemuan alat-alat berupa kapak genggam Sumatra dan sisa-sisa makanan di bukit-bukit kerang tersebut dapat disimpulkan bahwa kehidupan pada waktu itu berada dalam taraf berburu, meramu, dan pencarian makanan laut.

Kehidupan Sosial-Ekonomi Masyarakat pada Masa Mesolithikum


Cara hidup manusia pada masa berburu tingkat lanjut masih dipengaruhi oleh cara hidup pada masa sebelumnya. Faktor-faktor alam seperti iklim, kesuburan tanah, dan keadaan fauna sangatlah memberikan pengaruh bagi cara hidup mereka sehari-hari. Kehidupan mereka masih sepenuhnya bergantung kepada alam lingkungannya.

Manusia hidup berburu hewan di dalam hutan, menangkap ikan, mencari kerang dan siput di laut atau di sungai, dan mengumpulkan makanan dari lingkingan disekitarnya, misalnya umbi-umbian seperti keladi, buah-buahan, biji-bijian, dan daun-daunan. Hidup berburu dan mengumpulkan makanan adalah cara hidup yang pokok pada masa itu.

Dalam hidup yang bergantung sepenuhnya kepada alam lingkungan itu, mereka telah menunjukkan pula keinginan untuk bertempat tinggal di dalam gua-gua alam atau di gua-gua payung atau ceruk walaupun secara tidak menetap. Mereka memilih gua-gua yang tidak jauh dari sumber air, atau di dekat sungai yang mengandung sumber-sumber makanan seperti ikan, kerang, dan siput.

Di gua-gua ini mereka melangsungkan hidup dan memenuhi kebutuhannya. Situs ini akan ditinggalkannya dan mereka akan berpindah ke tempat lain apabila di situs yang pertama tadi tidak mungkin lagi untuk melanjutkan kehidupannya akibat bahan-bahan makanan sudah berkurang. Demikian pula dengan cara hidup di situs-situs terbuka di pedalaman dan tepi pantai; mencari kerang, hewan-hewan darat, dan hewan-hewan laut menjadi kegiatan utama, di samping berburu dan meramu.

Pada teknologi alat-alat keperluan hidup tampaklah kelanjutan tradisi alat-alat batu dan tulang. pembuatan alat-alat batu inti menghasilkan kapak genggam Sumatra dan kapak pendek di beberapa wilayah, sedangkan alat serpih-bilah dan alat tulang menjadi alat bantu penghidupan yang makin meningkat teknologi pembuatannya.

Jenis-jenis alat terakhir ini memperlihatkan teknik pembuatan yang semakin rumit. Gejala-gejala yang menunjukkan kemajuan ini terutama ditemukan pada konteks alat Toala, yang banyak menghasilkan mikrolit, mata panah bersayap atau bergerigi, serpih-bilah bergerigi, lancipan tebal satu sisi, dan lancipan tulang Munduk. Alat-alat tersebut menunjukkan adanya kegiatan perburuan terhadap hewan-hewan kecil.

Di samping pemakaian alat-alat dari batu, tulang, tanduk, dan kulit kerang, pada masa ini mungkin sekali dibuat pula alat-alat dari bambu. Diduga bahwa bambu memegang peran yang penting juga pada masa hidup berburu tingkat lanjut ini, karena bambu dengan mudah dapat diolah untuk dijadikan macam-macam alat keperluan sehari-hari. Bambu dapat dijadikan sudip atau lancipan yang sederhana untuk mencungkil itu atau membersihkan umbi-umbian.

Di samping itu bambu dapat juga dijadikan keranjang dan bahan-bahan anyaman, bahan bakar, dan sebagainya. Mengenai pemakaian bambu ini di Indonesia belum terdapat bukti-bukti yang meyakinkan, tetapi di Thailand telah ditemukan bukti-bukti sisa-sisa bambu terbakar dalam lapisan gua.

Penemuan api dan perkembangan teknologi pertanian merupakan proses pembaruan yang membentuk dasar kebudayaan. Penggunaan api oleh manusia tidak hanya menandai awal kehidupan sosial, tetapi juga akhirnya melahirkan serentetan teknologi yang saling berhubungan. Hasil langsung dari api yang penting adalah perentangan persediaan pangan, karena sejumlah pangan adalah tidak dapat di makan, tidak enak rasanya, atau tidak sehat kalau tidak dimasak terlebih dahulu.

Untuk mengetahui awal kegiatan pertanian di beberapa situs gua di Indonesia, pertanggalan karbon sangat penting dilakukan. Hasil penanggalan karbon menunjukkan bahwa munculnya domestikasi tanaman di Gua Ulu Leang, Maros (Sulawesi Selatan), berupa sisa-sisa butiran dan sekam padi yang berasosiasi dengan gerabah pada kurun waktu 2160-1700 SM.

Selain jenis tanaman padi, telah pula dilakukan kultivasi tanaman lain berupa buah-buahan maupun kacang-kacangan di Indonesia seperti yang ditemukan di gua-gua Bui Ceri Uato, Uai Bobo, Lie Siri dan Ulu Leang, antara lain jenis-jenis tanaman padi dari spesies Celtis. Selain itu, tanaman jenis serealia selain padi adalah jawawut, yang ditemukan di Gua Uai Bobo yang semuanya berasal dari kompleks Maros, Sulawesi Selatan.

Tampaknya hanya ada dua macam jenis tumbuhan serealia pada masa prasejarah yang diketahui di wilayah Asia Tenggara, yaitu padi dan jawawut. Jawawut telah didomestikasi pada masa Yao-shao (Cina Tengah) pada sekitar 5000 SM dan dikultivasikan pada masa prasejarah di Asia Tenggara.

Diperkirakan bahwa munculnya jawawut di Uai Bobo pada sekitar 1000 SM. Kultivasi tanaman padi (oryza sativa) sudah ada di Asia Tenggara pada masa prasejarah. Padi merupakan tanaman domestikasi pertama di kawasan beriklim muson, yang memanjang dari wilayah India timur laut sebelah utara Vietnam hingga mencapai sebelah selatan Cina.

Bukti-bukti awal munculnya tanaman padi datang dari situs Kiangsu dan Chekiang di Cina(3000-4000 SM), serta situs-situs Non Nok Tha dan Ban Chiang di sebelah timur Thailand, berdasarkan bukti-bukti adanya sekam padi yang digunakan sebagai temper gerabah dari sekitar 3500 SM. Kegiatan pertanian pada umumnya selalu dikaitkan dengan usaha-usaha penjinakan hewan.

Data ekskavasi menunjukkan bahwa usaha penjinakan hewan telah dilakukan. Di Bui Ceri Uato, anjing (canis) dan Bovidae merupakan awal penjinakkan. Demikian pula dengan situs-situs Lie Siri serta Uai Bobo, anjing dan babi merupakan hewan yang telah didomestikasi pula. Di Cina dan Thailand, anjing telah dijinakkan paling tidak 4000 tahun SM.

Kehadiran alat-alat batu, alat-alat tulang, dan gerabah memberikan bukti yang mendukung bahwa alat-alat tersebut mempunyai kaitan yang erat dengan kegiatan pertanian awal dan kegiatan sebelumnya (berburu dan meramu). Gerabah mempunyai fungsi sebagai wadah untuk memasak hasil tanaman sebagai sumber kehidupannya. Alat-alat serpih, batu penumbuk, dan batu giling juga dapat dihubungkan dengan kegiatan subsistensi mereka.

Selama mereka bertempat tinggal di dalam gua-gua selain membuat alat-alat yang diperlukannya, mereka juga melukiskan sesuatu di dinding gua itu, yang menggambarkan suatu pengalaman, perjuangan, dan harapan hidup.

Lukisan-lukisan ini dibuat dengan cara menggores pada dinding-dindingnya, atau dengan mempergunakan cat yang berwarna merah, hitam, atau putih. Diantaranya terdapat cap-cap tangan yang dibuat dengan cara merentangkan jari-jari tangan di permukaan dinding gua atau dinding karang, kemudian ditaburi atau disiram dengan cat merah.

Sumber inspirasi dari lukisan-lukisan ini adalah cara hidup mereka yang serba bergantung pada alam lingkungannya, yaitu hidup berburu dan mengumpulkan makanan. Dengan demikian, lukisan-lukisan tadi menggambarkan kehidupan sosial-ekonomis dan alam kepercayaan masyarakat yang pada masa itu telah hidup berkelompok di gua-gua atau tepi pantai dengan jumlah kelompok tertentu, bergantung pada besar kecilnya tempat itu.

Mungkin pula di gua yang kecil hanya hidup satu atau dua keluarga. Mereka berburu binatang kecil dengan lebih intensif menggunakan tombak atau panah. Pekerjaan ini dilakukan secara teratur bersama-sama oleh satu kelompok atau mungkin pula secara perorangan. Hal ini terbukti dari temuan alat-alat di gua-gua di Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya.

Selain itu lukisan babi rusa di dinding Gua PattaE, Maros (Sulawesi Selatan), yang digambarkan dengan paah di bagian jantungnya, antara lain merupakan suatu gambaran tentang cara hidup manusia pada zaman itu. Lukisan ini menggambarkan harapan hidup mereka agar berhasil membunuh binatang dengan mempergunakan mata panah atau ujung tombak yang berbentuk kecil, mungkin ada pula yang disertai suatu jenis racun.

Di samping itu, dipakai pula mata kail dari tulang. lukisan orang naik perahu merupakan suatu lukisan tentang kehidupan menangkap ikan.

Bercocok tanam dikerjakan dengan amat sederhana dan dilakukan secara berpindah-pindah menurut keadaan kesuburan tanah. Hutan yang akan dijadikan tanah pertanian dirambah terlebih dahulu dengan sistem tebang-bakar (slash and burn). Di sini mereka menanam umbi-umbian seperti keladi, sebab mereka belum mengenal cara menanam biji-bijian. Mereka sudah menanam satu jenis padi liar yang didapatkan di hutan, dan kemudian mengetam dengan mempergunakan pisau-pisau batu yang tajam.

Setelah musim panen selesai, lahan pertanian yang sederhana itu akan ditinggalkannya. Mereka pindah ke tempat yang baru, dan disini mereka hidup seperti di tempat yang lama. Pada suatu saat mereka akan kembali lagi ke tempat yang pernah ditinggalkannya. Suatu bentuk pertanian yang amat sederhana, yang dilakukan dengan berpindah-pindah, telah ditemukan di kawasan Asia Tenggara.

Bahan-bahan makanan dikumpulkan pula dari daerah sekitarnya. Umbi-umbian dikorek, dibersihkan dan dilepaskan kulitnya dengan memakai pisau dari tanduk, sudip tulang, dan penggaruk dari kulit kerang, siput, dan ikan, terbukti dari penemuan-penemuan kulit kerang dan siput, serta tulang-tulang ikan di bukit-bukit kerang di Sumatra dan di dalam beberapa gua di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

Kapak genggam Sumatra dalam corak kehidupan seperti ini mempunyai fungsi untuk mencungkil tanah untuk meramu bahan makanan, memecah kulit kerang, memotong daging, dan menguliti binatang hasil buruan.

Selama itu mereka juga sudah mulai berusaha untuk menjinakkan binatang, tetapi belum terdapat bukti-bukti yang kuat tentang cara untuk memelihara atau mengembangbiakkan binatang, meskipun penemuan gigi anjing di Gua Cakondo merupakan bukti tentang upaya untuk menjinakkan binatang tersebut.

Seperti diketahui, anjing adalah binatang yang dapat menolong manusia dalam kehidupannya, seperti berburu, dapat dipergunakan sebagai penjaga tempat tinggal, dan dapat dimanfaatkan dalam usaha-usaha berburu di dalam hutan.

Kehidupan Spiritual Masyarakat Zaman Mesolithikum


Lukisan-lukisan di dinding gua atau dinding karang merupakan gambaran kehidupan sosial-ekonomi dan spiritualnya. Sikap hidup manusia tergambar di dalam lukisan-lukisan tadi, dan termasuk pula di dalamnya nilai-nilai estetika dan magis yang bertalian dengan totem dan upacara-upacara yang tidak diketahui dengan jelas.

Cap tangan dengan latar belakang cat merah mungkin mengandung arti kekuatan atau lambang kekuatan pelindung untuk mencegah roh jahat, dan cap-cap tangan yang jari-jarinya tidak lengkap dianggap sebagai tanda adat berkabung.

Menurut Roder dan Galis, yang menyelidiki lukisan-lukisan di Irian Jaya/Papua, lukisan-lukisan itu bertalian dengan upacara-upacara penghormatan nenek moyng,upacara penguburan, inisiasi, dan mungkin juga untuk keperluan ilmu dukun, untuk meminta hujan dan kesuburan, atau memperingati suatu kejadian yang penting.

Beberapa lukisan lainnya ternyata lebih berkembang pada tradisi yang kemudian, arti dan maknanya menjadi lebih jelas lagi. Di antaranya adalah lukisan kadal seperti yang terdapat di Pulau Seram (Maluku) dan Papua Barat, yang mengandung arti lambang kekuatan magis, yaitu dianggap sebagai penjelmaan roh nenek moyang atau kepala suku.

Kepercayaan kepada kadal atau binatang melata di kalangan suku-suku bangsa di Indonesia baru berkembang kemudian, seperti terbukti dari temuan peti kubur batu (sarkofagus) di Bali, di dinding kubur gua di Pringtali (Besuki), dan pada kalamba di Sulawesi Tengah. Gambar-gambar orang, seperti yang ditemukan di Pulau Seram dan Papua Barat dianggap mengandung kekuatan magis, sebagai penolak roh jahat, atau sebagai gambar nenek moyang, karena tubuh atau bagian tubuh manusia dianggap memiliki kekuatan magis.

Pada masa tradisi yang lebih kemudian, gambar orang atau bagian tertentu dari tubuh manusia ditemukan pada beberapa sarkofagus di Bali, peti mayat di Sumatra Timur, Waruga di Minahasa, kalamba di Sulawesi Tengah, peti kubur batu di Kalimantan Timur, Jawa Timur, Sumbawa, dan Sumba. Di samping itu, gambar-gambar wajah orang ditemukan juga nekara di Pejeng (Bali), dan kapak upacara dari Makassar.

Gambar perahu yang ditemukan di Seram dan Papua Barat dimaksudkan sebagai perahu dari arwah nenek moyang dalam perjalanannya ke alam baka. Kemudian gambar-gambar semacam ini ditemukan di antara lukisan-lukisan lainnya pada nekara-nekara perunggu. Terdapat pula gambar orang dengan perisai diangap sebagai sumber kekuatan magis dan penolak segala kekuatan jahat. Gambar-gambar orang dalam sikap menari bertalian dengan tujuan-tujuan upacara tertentu.

Lukisan-lukisan perang ditemukan juga dianggap sebagai peringatan bagi masyarakat dalam mempertahankan diri terhadap gangguan-gangguan atau serangan-serangan dari luar.

Selain lukisan-lukisan di dinding gua atau dinding-dinding karang, alam kepercayaan masyarakat pada waktu itu terlihat juga dala peristiwa-peristiwa atau upacara-upacara penguburan. Bukti-bukti tentang penguburan ditemukan di Gua Lawa, Sampung, dan Gua Sodong, serta bukit kerang di Sumatra Utara.

Di antara mayat-mayat itu ada yang ditaburi dengan butir-butir oker merah. Diduga bahwa bahan cat merah yang ditaburkan ini berhubungan dengan suatu upacara penguburan, dengan maksud memberikan kehidupan baru di alam baka. Cara hidup berburu tingkat lanjut masih diikuti oleh kelompok-kelompok di beberapa tempat pada masa-masa berikutnya.

Sebagai contoh, unsur-unsur dari masa-masa kemudian (mata panah, gerabah polos atau berhias, benda-benda perunggu, dan lain sebagainya) ditemukan bercampur dengan sejumlah artefak milik masyarakat berburu atau ditemukan di lapisan-lapisan teratas dalam kegiatan ekskavasi.

Daftar Bacaan

- Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto (ed.). 2011. Sejarah Nasional Indonesia I: Zaman Prasejarah di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.