Zaman Paleolitikum di Indonesia - ABHISEVA.ID

Zaman Paleolitikum di Indonesia

Zaman Paleolitikum di Indonesia


Zaman Paleolitikum di Indonesia - Kehidupan manusia pada zaman Paleolitikum di Indonesia sangat berkaitan erat dengan kondisi lingkungan yang ada. Ketergantungan manusia dengan lingkungan hidupnya itulah yang kelak menjadi corak, ciri kehidupan manusia pada zaman Paleolitikum di Indonesia. Manusia pada zaman Paleolitikum masih mengembangkan alat-alat yang teramat sederhana jika dibandingkan dengan masa-masa setelahnya. Hal ini berkaitan dengan kehidupan manusia yang masih mengandalkan berburu dan meramu (food gathering and food hunting) sebagai sumber utama dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka, yakni kebutuhan pangan.

Kebudayaan Paleolitikum di Indonesia

Situasi alam Kepulauan Nusantara secara geografis dipahami sebagai daerah yang memiliki iklim tropis dengan sinar matahari yang hampir sepanjang tahun menerobos, menyusup ke dalam sendi-sendi kehidupan makhluk-makhluk yang berada di dalamnya. Kepulauan Nusantara memiliki dua musim yang dapat diprediski waktu kedatangan dan lamanya sebuah musim. 

Dapat dikatakan bahwa Indonesia memiliki dua musim; kemarau dan hujan. Di mana kemarau diprediksi kedatangannya pada bulan April sampai September, sedangkan hujan diprediksi datang pada bulan Oktober sampai Maret. Kepulauan Nusantara terletak di antara dua benua; Asia dan Australia yang membuatnya begitu strategis terutama secara ekonomi. 

Strategis dalam ekonomi, juga menjadikan Kepulauan Nusantara juga menjadi daerah persimpangan budaya bagi berbagai bentuk kebudayaan yang mengelilinginya. Selain itu, posisi Kepulauan Nusantara menjadikannya pula dipengaruhi oleh iklim dari kedua benua tersebut serta pengaruh penyebaran hewan dan manusia.

Dengan beragam proses geologi yang terjadi sejak periode-periode tertua dalam pembentukan muka bumi, Kepulauan Nusantara dipengaruhi oleh proses-proses alam yang menyebabkan perubahan daratan menjadi lautan atau sebaliknya dikarenakan oleh gerakan-gerakan pengangkatan dan penurunan, kegiatan gunung berapi, gempa bumi, perubahan aliran sungai, dan sebagainya. 

Salah satu proses orogenesis terbesar terjadi pada zaman antara Kapur dan Eosen, yang dinamakan orogenesis Larami. Orogenesis ini menyebabkan sebagian wilayah Kepulauan Nusantara terangkat ke permukaan menjadi daratan dan sebagian besar lainnya masih berada di bawah permukaan laut selama zaman berikutnya, yaitu zaman Tersier. Daratan Asia terletak di sebelah barat laut dan daratan Australia terletak di sebelah tenggara lautan.

Zaman Tersier dibagi menjadi lima; PaleosenEosenOligosen, Miosen dan Pliosen. Karena hampor seluruh wilayah kepulauan Nusantara masih berupa lautan pada zaman Tersier ini, hewan daratan dari Asia dan Australia masih belum ditemukan sebagai fosil di sebagian besar wilayah bersangkutan, kecuali di Irian dan Kalimantan yang sebagian sudah merupakan daratan. 

Di Pulau Kalimantan pengaruh hewan daratan Asia ditemukan di bagian barat. Di Kalimantan Barat ini, dalam batu lempung Melawi, ditemukan fosil-fosil moluska yang hidup di air payau, berupa Corbula, Arca, Paludomus, Melania, dan Cyrenia, yang mempunyai usia Eosen Atas. Di samping itu, juga ditemukan fosil vertebrata daratan berupa Anthacotherium dan Choeromorus

Penemuan fosil daratan ini membuktikan bahwa pada zaman Eosen akhir Kalimantan Barat bergabung dengan daratan Asia, karena fosil vertebrata tersebut ditemukan di daratan itu. Di Pulau Jawa, daratan yang terbentuk akibat orogenesis tersebut di antaranya adalah daerah Naggulan, tempat ditemukan pula fosil moluska yang hidup di air payau seperti Arca, Corcibula, Chiocerus, dan Aximea yang kemungkinan ada pada masa Eosen Awal.

Pada akhir zaman Tersier terjadi lagi suatu orogenesis yang menyebabkan lebih banyak lagi wilayah Indonesia berubah dari lautan menjadi daratan. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya hewan daratan di daerah-daerah lebih selatan dan lebih timur dari Kalimantan Barat, yaitu masing-masing di daerah Bumiayu (Jawa Tengah) dan Berru (Soppeng, Sulawesi Selatan); yang ditemukan di daerah Soppeng dinamakan fauna Archidiskodon-Celebochoerus

Hewan-hewan tersebut, menurut perhitungan usia yang didasarkan atas metode stratigrafi vertebrata, berasal dari masa Pliosen Atas. Pada masa ini hominidae masih belum ada di daratan Kepulauan Nusantara, atau paling tidak belum mencapai daratan tersebut. Hal ini baru terjadi pada kala Plestosen Bawah, sebab fosilnya ditemukan dalam batuan formasi Pucangan, yang terbentuk dalam kala itu dan penentuan usianya juga didasarkan atas metode stratigrafi vertebrata. 

Dapat ditambahkan di sini bahwa berdasarkan metode foraminifera kecil plankton, usia tersebut bukanlah Pleistosen Bawah tetapi lebih tua dari itu, yaitu Pliosen Atas atau paling tidak Pliosen teratas. Bersamaan dengan vulkanisme hebat yang memuntahkan berbagai batuan eruptiva yang menimbun lautan serta cekungan sedimentasi sekeliling gunung-gunung api tersebut. Peristiwa ini menambah luas daratan yang telah ada sebelumnya.

Perubahan bentuk daratan (paleogeografi) Kepulauan Nusantara di kala Plestosen tidak saja disebabkan oleh gerakan pengangkatan (orogenesis) dan kegiatan gunung api (Vulkanisme), tetapi ada pula sebab lain, misalnya turunnya muka laut. Susut laut ini disebabkan oleh selama masa glasial, bagian terbesar air di dunia membeku sehingga jumlah air laut berkurang dan permukaannya turun sekitar 60-70 meter di bawah muka semula. 

Dalam kala Plestosen ada empat zaman glasial, yaitu Gunz, Mindel, Riss, dan Wurm. Di Pulau Jawa, daratan yang terbentuk akibat orogenesis tersebut di antaranya adalah daerah Nanggulan, di mana ditemukan pula fosil Moluska yang hidup di air payau, Arca, Corcibula, Chiocerus, dan Aximea yang kemungkinan ada pada masa Eosen Awa, yang masing-masing dipisahkan oleh tiga zaman antar-glasial: Gunz-Mindel, Mindel-Riss, dan Riss-Wurm. Zaman glasial merupakan zaman es yang dingin untuk bagian bumi utara dan selatan, sedangkan di sekitar khatulistiwa terjadi banyak hujan dengan iklim yang lembab. 

Kalau di bagian bumi utara dan selatan disebut pula zaman diluvium, untuk daerah tropik di sekitar garis khtulistiwa yang lembab itu dinamakan zaman pluvium. Sebagai akibat dari zaman-zaman glasial itu, laut-laut yang dangkal berubah menjadi daratan dan muncullah kemudian Paparan Sunda, yang kemudian menghubungkan pulau-pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan dengan daratan Asia Tenggara. 

Paparan ini kemudian merupakan jembatan darat bagi manusia dan hewan yang hidup di daratan Asia Tenggara serta di Kepulauan Nusantara pada kala Plestosen. Di daerah Indonesia bagian timur dalam waktu yang bersamaan muncul pula Paparan Sahul yang menghubungkan Irian dengan benua Australia.

Walaupun Paparan Sunda sekarang telah kembali terbenam di bawah muka laut setelah berakhirnya masa glasial, berkat penyelidikan hidrografi dan zoogeografi, bentuk topografi Paparan Sunda berikut dengan sistem sungai-sungainya di bawah laut dapat ditelusuri. Dari hasil penyelidikan tersebut ternyata di Paparan Sunda yang sangat luas itu terdapat lembah-lembah sempit berbentuk palung. 

Lembah-lembah ini ternyata merupakan bekas-bekas sungai kala Plestosen yang sekarang telah tergenang dan tenggelam kembali oleh lautan. Dari hasil penyelidikan tentang ikan air tawar yang hidup di sungai-sungai di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan, yang menunjukkan persamaan jenis, dapat diambil kesimpulan berikut. Sungai-sungai di Sumatra Timur dan Sumatra Utara pada kala Plestosen pernah bergabung menjadi sebuah sungai besar yang mengalir ke arah utara, yaitu ke Selat Malaka. 

Selanjutnya sungai-sungai Kampar, Indragiri, dan Batanghari pernah bergabung dengan Sungai Kapuas dan beberapa sungai lain di Kalimantan Barat, dan mengalir ke Laut Cina Selatan. Akhirnya sungai-sungai Kahayan, Barito, dan Sampit di Kalimantan Selatan bergabung dengan sungai-sungai di Jawa Utara dan bermuara bersama-sama di sebelah utara Pulau Bali, di sekitar Kangean.

Hujan lebat yang sering terjadi di masa Pluvial menyebabkan terjadinya banyak sungai. Erosi yang disebabkan oleh aliran sungai itu, di samping mengangkut dan memindahkan bermacam-macam baruan, juga membentuk daratan-daratan baru akibat pengendapan yang berlangsung terus-menerus. Di samping itu, aliran sungai sedikit demi sedikit dapat mengubah letak dan bentuk sungai serta permukaan tanah di kanan dan kirinya. 

Erosi yang ditimbulkan oleh sungai-sungai di Kepulauan Nusantara sekarang banyak memberikan sumbangan bagi penyelidikan endapan tanah yang berusia Plestosen karena mengikis dan menyingkap lapisan-lapisan tanah tersebut, akibat erosi Bengawan Solo, misalnya, dapatlah kini diketahui adanya sisa-sisa kehidupan kala Plestosen di Jawa, sebagaimana ditunjukkan oleh temuan-temuan di Trinil dan Ngandong.

Selain menunjukkan sisa-sisa kehidupan kala Plestosen, erosi yang ditimbulkan oleh air sungai dan hujan juga dapat menyingkapkan bermacam-macam lapisan tanah, yang memberi petunjuk pernah terjadi peristiwa-peristiwa alam di masa lamapau seperti genangan laut, letusan gunung api, terbentuknya danau, atau pergeseran tanah akibat gerakan tektonik. 

Perubahan-perubahan pasang-surut air laut selama kala Plestosen menyebabkan pula perubahan naik dan turunnya muka air sungai. Turun dan naiknya air laut dan air sungai ini dapat berakibat diendapkannya batuan-batuan di daerah tepiannya. Bila hal ini terjadi berulang-ulang dan berlangsung dalam jangka waktu lama, akan terbentuklah undak-undak pantai dan undak-undak sungai di daerah tepi tersebut setelah daerah yang bersangkutan mengalami pengangkatan (orogenesis).

Undak-undak pantai atau undak-undak sungai yang terbentuk pada kala Plestosen itu memiliki arti yang penting sekali untuk meneliti kehidupan manusia dan lingkungannya di masa itu. Lebih-lebih pada undak-undak sungai biasanya terendapkan sisa-sisa kehidupan atau peninggalan manusia yang berasal dari kala Plestosen. 

Penelitian-penelitian geologis, paleontologi, dan arkeologis terhadap beberapa undak-undak sungai di Punung (Pacitan), Ngandong (Blora), Cabbenge (Sulawesi Selatan), Flores, Timor, dan Sumba membuktikan bahwa sungai-sungai yang mengalir di daerah-daerah tersebut mengendapkan bermacam-macam batuan, perkakas manusia, fosil hewan, dan fosil tumbuh-tumbuhan. Fosil-fosil manusia masih terbatas penemuannya pada undak-undak Sungai Solo di Ngandong.

Kegiatan Vulkanisme pada kala Plestosen yang telah memuntahkan bermacam-macam batuan, kemudian membendung beberapa sungai atau laut. Ini dapat menyebabkan terbentuknya sebuah danau kawah seperti halnya yang terjadi pada Danau Batur di Bali. Contoh terbentuknya sebuah danau besar akibat terbendungnya sungai dapat diketahui pada Danau Solo purba. 

Pada kala Plestosen kegiatan vulkanisme menghebat dan lahar yang mengalir dari gunung-gunung Wilis, Lawu, dan Merapi telah diendapkan dalam danau itu serta mengakibatkan pembendungan Bengawan Solo purba. Batas pembendungan di utara adalah Pegunungan Kendeng, sedangkan di selatan adalah di Gunung Kidul. Ke timur dan ke barat pembatasannya adalah berbagai gunung api, misalnya Merbabu, Merapi, Telomoyo, dan Gunung Pandan. 

Di dalam danau besar itu kemudian diendapkan lempung hitam. Pada kubah Sangiran di sebelah utara kota Solo, tersingkap dengan jelas formasi Pucangan berusia Plestosen Awal. Formasi ini terdiri atas lapisan lempung hitam yang terbentuk di danau air tawar tersebut, di samping endapan lahar yang berasal dari letusan gunung api zaman itu juga. 

Hal serupa terjadi di dataran tinggi Bandung, tempat terbentuknya danau purba, yang membendung aliran Sungai Citarum purba sehigga dataran Bandung tergenang membentuk suatu danau yang luas. Endapan danau ini berupa lempung organik hitam dan lempung gambut, selain lapisan pasir, dan danau berhumus yang terbentuk pada kala Plestosen Atas.

Setelah zaman es Wurm berakhir, terjadi lagi zaman panas yang dinamakan zaman pasca-glasial (post-glacial) yang meliputi masa kita hidup sekarang. Dalam zaman ini, lapisan-lapisan es yang terjadi dalam zaman es Wurm mencair kembali hingga mengakibatkan peninggian muka air laut pada zaman pasca-glasial yang menggenangi Paparan Sahul dan Paparan Sunda seperti yang dikenal sekarang. 

Karena penggenangan ini, berbagai kelompok fauna vertebrata Plestosen terputus hubungannya dengan kelompok induknya, baik di daratan Asia maupun daratan Australia sehingga mereka terpaksa mengikuti perkembangan evolusi yang unik di antara fauna vertebrata di Kepulauan Asia Tenggara. 

Perbedaan-perbedaan unik yang terdapat di antara fauna vertebrata di wilayah Asia Tenggara menyebabkan para ahli mengusulkan adanya garis-garis yang memisahkan berbagai kelompok fauna vertebrata, yaitu kelompok yang mirip dengan fauna daratan Asia dan kelompok yang lain, yang mirip dengan fauna daratan Australia. Garis-garis pemisah fauna misalnya Garis Wallace, Garis Weber, dan Garis Huxley.

Mengenai kedalaman lautan dan selat di daerah Asia Tenggara. Mengngat bahwa fosil-fosil fauna vertebrata Plestosen ditemukan di Flores, Sumba, Timor, Sulawesi, Mindanao, dan Luzon, dapat ditarik kesimpulan bahwa berbagai selat dan lautan terjadi setelah kala Plestosen berakhir. Hal ini juga disebabkan oleh Laut Jawa dan Laut Arafura yang hanya memiliki kedalaman sekitar 60-70 meter, sedangkan laut dan selat yang dimaksud di atas mencapai kedalaman sampai ratusan bahkan ribuan meter. 

Jadi, pada akhir kala Plestosen tidak hanya terjadi penggenangan Paparan Sahul dan Sunda, tetapi secara bersamaan terjadi pula kegiatan tektonik yang kuat, menyebabkan bagian-bagian Asia Tenggara naik di atas muka air laut berupa pulau-pulau, dan bagian-bagian yang lain menurun menjadi selat-selat dan laut-laut yang dalam.

Kepulauan Nusantara termasuk daerah tropik yang tidak hanya mengalami perubahan langsung dari gletser yang meluaskan arealnya terkecuali Pegunungan Jaya Wijaya di Irian. Pada kala Plestosen musim yang terdapat di Kepulauan Nusantara adalah Musim Hujan dan Musim Kering. 

Berdasarkan penyelidikan penyebaran fauna burung, Stressmann menyimpulkan bahwa pada masa Plestosen Awal daerah tropik hanya ditumbuhi oleh padang rumput pada musim kering. Beberapa jenis burung yang hidup di padang rumput ketika itu berpindah dari Daratan Asia ke Kepulauan Nusantara melalui dua rute; (1) Dari Myanmar – Malaya – Sumatra – Jawa – Nusa Tenggara.; (2) Melalui Cina Selatan – Taiwan – Filipina – Sulawesi – Nusa Tenggara. 

Musim kering itu segera disusul dengan hujan lebat yang menyebabkan tumbuhnya hutan lebat di Malaya, Kalimantan, Filipina, dan Sulawesi Utara. Burung-burung padang rumput kemudian bermigrasi bersama dengan lenyapnya padang rumput dan baru muncul kembali pada musim kering berikutnya.

Pada tahun 1907-1908 dilakukan penggalian di daerah Trinil. Di antara fosil yang didapat dari penggalian ini ditemukan sejumlah 54 spesies fosil tumbuh-tumbuhan, diantaranya 24 spesies kini masih hidup di Jawa, 4 spesies antara lain masih hidup di Trinil pada ketinggian 600-1200 meter di atas permukaan laut. 

Diperkirakan iklim di Jawa pada waktu itu bersuhu antara 6˚-8˚ C lebih rendah dibandingkan dengan iklim sekarang. Lapisan-lapisan tanah mempunyai arti sangat penting dalam setiap usaha untuk pertanggalan kehidupan manusia dan lingkungannya. Dari kondisi lapisan tanah, proses yang terjadi di masa lampau dapat diketahui karena di dalamnya terdapat bermacam-macam batuan dan terkadang sisa-sisa kehidupan. Terkadang di dalam lapisan tanah pun terdapat sumber sejarah berupa fosil.

Sisa-sisa kehidupan fosil merupakan satu-satunya sumber otentik untuk menyusun sejarah kehidupan yang telah berusia ratusan ribu hingga jutaan tahun. Susunan tanah yang berlapis-lapis yang terbentuk karena pengendapan, tersusun menurut usianya. Semakin ke bawah posisi lapisan tersebut, semakin tua pula usianya. 

Akan tetapi, akibat adanya gerakan dari dalam bumi (endogen), lapisan tanah dapat terangkat atau terlipat sehingga susunan lapisan tanah tersebut tidak lagi mendatar, melainkan dapat berubah hingga tegak lurus, miring, atau bergelombang. 

Jika bagian muka tanah terus-menerus ditoreh oleh kekuatan dari luar bumi (eksogen), misalnya oleh hujan, akan tersingkap tanah yang semula berada sangat dalam di bawah muka tanah sekarang. Contoh untuk singkapan lapisan tanah yang berusia Plestosen di Jawa antara lain yang terdapat di sepanjang aliran Bengawan Solo, terutama Trinil dan daerah Sangiran.

Di Kepulauan Nusantara singkapan endapan Plestosen terdapat di banyak pulau. Dari sekian banyak endapan plestosen tersebut, yang terpenting terdapat di Jawa, Sumatra, Sulawesi, Flores, Timor dan Sumba. Endapan Plestosen di Pulau Jawa sangat terkenal karena penemuan fosil Pithecantrophus dan fosil vertebrata lainnya dalam jumlah yang banyak.

Kronologi Plestosen di Jawa dibagi atas tiga bagian: Plestosen Bawah, Plestosen Tengah, dan Plestosen Atas. Endapan berusia Plestosen Bawah terkenal dengan nama formasi Pucangan. Di dalam formasi Pucangan dapat dibedakan dua fasies, yaitu fasies lempung laut dan fasies vulkanik tufaan sampai pasiran yang banyak ditemukan fosil vertebrata. 

Lapisan yang berfasies vulkanik terutama terdapat banyak di Pegunungan Kendeng, sedangkan semakin ke timur terdapat lebih banyak selaan endapan laut sehingga di sekitar Surabaya formasi itu seluruhnya terdiri atas lempung dan tufa vulkanik yang mengandung moluska laut.

Di bagian timur Pegunungan Kendeng, di sekitar Perning di daerah Mojokerto, tempat ditemukannya Pithecantrophus, susunan tanahnya dari atas ke bawah adalah sebagai berikut:

1. Batu pasir tufaan setebal 35 m;

2. Batu pasir tufaan, batu lempung, dan napal, mengandung moluska laut, setebal 10 cm;

3. Batu lempung berwarna kehijau-hijauan setebal 5cm;

4. Batu pasir kasar, setebal 100 m, mengandung konglomerat dan batuan andesit; di dalamnya ditemukan fosil manusia yang diperkirakan sebagai Pithecantrophus Modjokertensis;

5. Batu pasir tufaan dengan selaan batu lempung setebal 10 cm;

6. Napal dan batu pasir tufaan mengandung batu lempung dan fosil-fosil moluska laut, setebal 25 cm.

Temuan fosil hominidae tersebut terjadi pada tahun 1936. Fosil tersebut berupa tengkorak anak-anak dan didapat dibagian atas lapisan keempat hanya pada kedalaman satu meter dari permukaan tanah sekarang. Dengan beberapa fakta ini cukup menjelaskan bahwa telah terjadi banyak perubahan dalam proses pembentukan Kepulauan Nusantara yang dimulai dari pergerakan orogenesis serta perubahan iklim.

Manusia Pendukung Zaman Paleolithikum di Indonesia 

Manusia pendukung kebudayaan Paleolithikum adalah jenis Pithecantrophus yang diperikarakan telah mendominasi di Kepulauan Nusantara. Pithecantrophus hidup pada masa Plestosen Awal dan Tengah, dan mungkin juga masa Plestosen Akhir. Fosil Pithecantrophus diantaranya ditemukan di daerah Trinil, Ngandong, Sangiran dan Sambungmacan. 

Kehidupan Pithecantrophus diperkirakan sebagian besar terpusat di daerah yang sekarang dikenal dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Adapun jenis Pithecantrophus yang ditemukan antara lain Pithecantrophus erectus, Pithecantrophus modjokertensis dan Pithecantrophus soloensis. Sedangkan terdapat juga jenis lain yang kemungkinan hidup pada masa Paleolithikum yaitu Megantrophus Palaeojavanicus.

Kebudayaan Paleolithikum di Indonesia


Benda kebudayaan yang dihasilkan pada masa Paleolithikum adalah benda-benda yang terbuat dari batu dengan pengolahan yang sangat sederhana bahkan beberapa ada yang tidak melalui pengolahan. Sebagian besar alat-alat itu langsung digunakan ketika ditemukan di alam. Benda kebudayaan lain yang digunakan oleh manusia pada masa Paleolithikum yaitu dengan ditemukannya alat-alat dari tulang yang pada umumnya digunakan untuk membantu aktivitas berburu hewan.

Alat-alat dari batu yang ditemukan hampir secara merata di wilayah Kepulauan Indonesia, begitu pula dengan alat-alat tulang. Beberapa alat-alat yang terbuat dari batu teridentifikasi sebagai kapak genggam, pahat genggam, kapak perimbas, dan kapak penetak. Kebudayaan Paleolithikum di Indonesia dapat diidentifikasi berdasarkan temuan di situs Pacitan dan Ngandong.

Kehidupan Sosial-Ekonomi Masyarakat pada Zaman Paleolithikum


Aktivitas kehidupan manusia pada masa Paleolithikum masih menggunakan sistem berburu dan meramu di dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya. Masyarakat pada masa Paleolithikum berburu dan meramu secara komunal primitif. Hal itu berarti pada masa ini kehidupan manusia belum terdapat pembagian kerja sehingga aktivitas kehidupan sehari-hari tanpa adanya penggolongan, baik itu penggolongan secara keahlian (skill) ataupun jenis kelamin (genre) serta tidak memandang usia, baik tua ataupun muda semua bekerja bersama-sama untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Kehidupan berburu dan meramu yang dilakukan oleh masyarakat pada masa Paleolithikum berketerkaitan dengan pola kehidupannya yang masih berpindah-pindah (nomaden). Sistem nomaden ini dilakukan sebab manusia harus mengikuti hewan buruan serta mencari sumber makanan dari pepohonan yang dapat mereka konsumsi sebagai sumber energi mereka. 

Masyarakat pada masa Paleolithikum masih menggunakan prinsip survival of the fittest yang dapat diartikan sebagai prinsip "yang kuat yang berkuasa" dalam pemahaman ini maka sebenarnya penunjukkan akan ketua kelompok sudah terdapat di dalam masyarakat namun hanya sekedar pembagian atas dasar ketua kelompok dan anggota kelompok. Sehingga masihlah sangat sederhana. 

Daftar Bacaan

- Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto (ed.). 2011. Sejarah Nasional Indonesia I: Zaman Prasejarah di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.