Abad Renaissance Eropa - ABHISEVA.ID

Abad Renaissance Eropa

Abad Renaissance Eropa


Abad Renaissance Eropa - Abad Renaissance Eropa diperkirakan dimulai di Eropa pada akhir abad ke-14 M. Setelah kejatuhan Kekaisaran Romawi Barat pada tahun 476, Eropa memulai babak baru dalam perjalanan sejarahnya yaitu memasuki masa Abad Pertengahan. Berdasarkan kronologi waktu, Abad Pertengahan diperkirakan dimulai sejak abad ke-6 M hingga menjelang akhir abad ke-14 M. Setelah cukup lama berada pada periode Abad Pertengahan, bangsa Eropa memulai loncatan baru dalam kehidupannya yakni dengan memunculkan semangat Renaissance. Renaissans (Renaissance) atau yang biasa disebut dengan Abad Pembaruan adalah sebuah periode di dalam sejarah Eropa yang terjadi sepanjang abad ke-15 – abad ke-17 M. Periode ini dianggap sebagai zaman peralihan dari Abad Pertengahan (Middle Ages) menuju zaman modern (Modern Ages).

pengertian renaissance, abad renaissance, pengertian renaissans

Abad Renaissance : Pengertian Renaissance 


Renaissans (Renaissance) berasal dari bahasa Prancis melalui kata Re (kembali) dan Naitre (Kelahiran) yang diartikan “Kelahiran Kembali”. Maksud dari kata-kata “Kelahiran Kembali” di sini adalah munculnya kembali semangat orang-orang Eropa untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi yang berasal dari Yunani dan Romawi Kuno. Ilmu Pengetahuan dari Yunani maupun teknologi yang berasal dari Romawi Kuno merupakan ilmu yang bersifat rasional (masuk akal). Di bawah ini akan dijelaskan tentang latar belakang dan perkembangan Renaissance di Eropa secara umum.

Pada periode Abad Pertengahan, masyarakat Eropa mengalami masa di mana ilmu pengetahuan tidak mengalami perkembangan. Hal ini tentu disebabkan dengan iklim intelektual pada abad pertengahan yang didominasi oleh doktrin dan dogma gereja. Perlu dipahami bahwa kekuasaan gereja pada masa ini sangatlah mutlak, tidak dapat dibantah maupun diperdebatkan. Sehingga, perkembangan intelektual pun haruslah mengikuti pemikiran dan pemahaman yang diberikan oleh gereja. Oleh karena itu, Abad Pertengahan ini kerap disebut pula dengan abad kegelapan (Dark Ages).

Renaissance juga dapat dipahami sebagai sebuah gerakan budaya yang dimulai di Italia pada periode akhir Abad Pertengahan dan kemudian secara bertahap mulai menyebar ke seluruh Eropa. Persebaran dari gerakan Renaissance itu ditandai dengan penemuan dan pemakaian kertas yang disertai pula dengan penemuan barang metal. Penemuan dari kedua hal tersebutlah yang mempercepat penyebaran ide gerakan Renaissance dari abad ke-15 M dan seterusnya hingga menjelang akhir abad ke-17 M.

Abad Renaissance : Latar Belakang Renaissance di Eropa


Menjelang akhir Abad Pertengahan di Eropa sekitar abad ke-13 dan ke-14 M tatanan kehidupan masyarakat Eropa mulai mengalami perubahan. Kemunculan kembali naskah-naskah yang berasal dari peradaban Yunani dan Romawi kuno, telah menginspirasi masyarakat untuk melakukan perubahan dalam tatanan kehidupan pada Abad Pertengahan yang sepenuhnya dikuasai oleh doktrin gereja. 

Doktrin gereja tidak mengindahkan dan berupaya dengan segenap usahanya untuk “melenyapkan” pemikiran yang telah dihasilkan pada masa Yunani dan Romawi kuno. Hal ini disebabkan oleh adanya dasar-dasar pemikiran yang dikembangkan terutama oleh Plato dan Aristoteles dianggap dapat mengacaukan struktur dunia Kristen. Sehingga pelbagai hal yang beketerkaitan dengan ide-ide dari pemikir Yunani “dihilangkan” dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Eropa pada Abad Pertengahan.

Sesudah mengalami masa kebudayaan tradisional yang sepenuhnya diwarnai oleh ajaran Kristiani, orang-orang kini mencari orientasi dan inspirasi baru sebagai alternatif dari kebudayaan Yunani-Romawi sebagai satu-satunya kebudayaan lain yang mereka kenal dengan baik. Kebudayaan klasik ini dipuja dan dijadikan sebagai model serta dasar bagi seluruh peradaban manusia. Pengaruh Renaissance dirasakan dalam bidang sastra, filsafat, seni, musik, politik, ilmu pengetahuan, agama, dan aspek lain di bidang intelektual.

Pemandangan umum yang terjadi pada fase awal Renaissance ini adalah kemunculan sarjana-sarjana yang mempelajari kembali naskah-naskah Yunani dan Romawi kuno untuk dijadikan sebagai referensi mereka dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Para sarjana yang memfokuskan dirinya pada pengolahan kembali dua kebudayaan itu disebut juga dengan kaum humanis. Di mana kaum humanis menyakini dan memandang bahwa kebudayaan klasik (Yunani dan Romawi) sebagai puncak dari peradaban Barat. 

Kebudayaan Yunani kuno dan Romawi dinilai oleh kaum humanis sebagai puncak peradaban eropa hal itu karena dalam kedua kebudayaan itu, mereka menemukan nilai-nilai yang perlu kiranya untuk dihidupkan kembali dalam kebudayaan Barat. Beberapa nilai yang perlu dihidupkan kembali diantaranya adalah penghargaan atas dunia, manusia dan pengakuan atas kemampuan rasio.

Akan tetapi, para sarjana humanis di fase Renaissance ini memiliki perbedaan dengan para humanis dari fase klasik yang menekankan manusia sebagai bagian dari alam atau polis (negara kota). Para humanis Renaissance lebih menekankan pada subjektivitas dengan pandangan bahwa kita bukanlah hanya umat manusia, melainkan adalah individu-individu unik yang dapat dengan bebas untuk melakukan atau berbuat sesuatu demi mencapai kebahagiaan di dunia ini.

Di dalam perekonomian, perlu disadari bahwa selama periode Abad Pertengahan dan terutama setelah terjadinya Perang Salib, di Eropa telah terjadi pengontrolan terhadap aktivitas perdagangan di kawasan Mediterania yang dikendalikan langsung oleh orang-orang dari Florencia, Venesia dan Genoa yang menghubungkan perdagangan Eropa dengan pusat kota-kota perdagangan seperti Konstantinopel, Antiokia dan Alexandria. Para pedagang di kawasan Mediterania inilah yang memainkan peranan penting dalam memperdagangkan komoditas barang yang berasal dari Timur ke Eropa dan sebaliknya dengan begitu telah menjadikan kota-kota perdagangan di Eropa menjadi kota perdagangan yang ramai diantaranya; Florencia, Venesia, dan Genoa.

Selama periode Perang Salib telah terjadi pertukaran kebudayaan antara Dunia Barat dan Dunia Timur. Banyak orang yang mencoba memanfaatkan Perang Salib dan ramainya peziarah ke Tanah Suci (Yerussalem) untuk berdagang yang berdampa pada melejitnya permintaan terhadap produk-produk yang berasal dari Dunia Timur ke Dunia Barat. Semakin meningkatnya intensitas perdagangan telah membuat kota-kota berkembang dan cenderung dinamis. Selain itu, dengan berkembangnya perdagangan ini jelas memiliki dampak pada perkembangan ekonomi di kota-kota Eropa dan telah berhasil memunculkan banyak orang kaya baru yang mana golongan ini bukan berasal dari golongan bangsawan atau tuan-tuan tanah feudal, melainkan individu-individu yang memiliki jiwa petualang dan bisnis.

Abad Renaissance : Florencia Sebagai Pusat Renaissance


Pada tahun 1348-1350 di Florencia terjadi wabah Black Death, wabah ini tidak hanya melanda Florencia dan Italia saja, namun telah melanda Eropa. Wabah Black Death secara tidak langsung telah mengakibatkan pergeseran paradigma orang-orang di Italia terhadap dunia. Saat wabah melanda Italia telah menyebabkan para pemikir lebih banyak memikirkan kehidupan mereka di dunia daripada memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas dan akhirat sebagaimana paradigma yang dibentuk pada Abad Pertengahan.

Penurunan jumlah penduduk yang diakibatkan oleh wabah nyatanya memiliki konsekuensi ekonomi: harga makanan dan nilai tanah mengalami penurunan sekitar 30-40% di sebagian besar Eropa sepanjang tahun 1350 – 1400. Black Death menyebabkan para pemilik tanah menghadapi kerugian yang besar, tetapi bagi rakyat biasa kejadian ini dapat dianggap sebagai suatu anugerah bagi mereka. Orang-orang yang selamat dari wabah tidak hanya merasakan harga makanan yang lebih murah tetapi juga ketersediaan tanah yang lebih berlimpah. Berlimpahnya tanah disebabkan banyak dari mereka telah mewarisi kepemilikan tanah dan harta benda lainnya dari kerabat mereka yang telah meninggal selama wabah melanda.

Terlepas dari wabah Black Death yang menghantui Eropa itu, Florencia nyatanya berhasil untuk melakukan rekonstruksi kehidupan baru yang lebih baik. Para sejarawan menyatukan pendapatnya bahwa Renaissance di Eropa muncul pertama kali di kota-kota dagang di Italia, dan terutama adalah Florencia yang sudah dimulai sejak abad ke-14 M. Memasuki abad ke-13 M kawasan Italia Utara dan Tengah menjadi jauh lebih makmur, dan telah menjadi wilayah yang terkaya di Eropa. 

Perang Salib disadari atau tidak telah membangun hubungan perdagangan yang sangat baik dengan Levant dan Perang Salib Keempat secara tidak langsung telah menghancurkan Kekaisaran Romawi Bizantium yang merupakan saingan komersial bagi Venesia dan Genoa. Dengan begitu, barang-barang dagang yang berasal dari Dunia Timur yang diimpor dari Levant ke kota-kota di Italia kemudian dijual kembali ke seluruh Eropa dan telah menyebabkan surplus yang memungkinkan untuk melakukan investasi diberbagai bidang.

Meskipun kawasan Italia utara tidak lebih kaya dalam sumber daya alam jika dibandingkan dengan negeri-negeri Eropa lainnya, namun tingkat perkembangan yang didorong oleh aktivitas perdagangan, memungkinkannya untuk menjadi wilayah yang makmur dan kaya. Florencia sebagai kota pelopor munculnya Renaissance di Italia dan Eropa secara umumnya merupakan kota yang strategis dan subur. Hal itu disebabkan karena Florencia dibelah oleh Sungai Arno dan menjadi kota pertemuan dari berbagai kota di kawasan Italia Utara antara lain; Genoa, Lucca dan Pisa di sebelah barat, Arezzo dan Siena di sebelah selatan, Romagna, San Marino dan Urbino di sebelah timur serta Bologna dan Modena yang terletak di bagian Utara.

Di dukung oleh letak geografisnya itulah Florencia mulai menjelma menjadi kota dagang yang kaya dan mulai mengalami kemajuannya pada abad ke-14 M. Kota-kota di Italia Utara memang dikenal sebagai kota dagang yang kaya dan secara khusus, Florencia yang menjadi salah satu kota terkaya di kawasan Italia Utara, selain sebagai kota dagang, Florencia juga menjadi kota industri. Industri yang dikembangkan di Florencia pada saat ini terutama adalah produksi wolnya, yang dikembangkan di bawah pengawasan serikat dagang Arte della Lana. Wol diimpor dari Eropa Utara dan bersama dengan bahan pewarna yang berasal dari timur digunakan untuk membuat tekstil dengan kualitas tinggi.

Industri Wol di Florencia sejak abad ke-14 telah dikelola oleh 21 gilda utama yang dimiliki oleh para hakim, notaris, importir dan pengusaha serta didukung oleh 44 gilda kecil yang dimiliki oleh pengrajin, pedagang. Selain oleh karena baiknya pengolahan dari industri wol, Florencia juga mengembangkan industri tekstil lainnya yang dikelola oleh gilda-gilda yang memang telah muncul selama Abad Pertengahan. Sehingga jelaslah kiranya bahwa iklim industri di Florencia juga mendukung untuk mendatangkan surplus bagi kota itu selain melalui aktivitas perdagangannya.

Surplus yang disebabkan oleh aktivitas perdagangan dan industry itu juga di dukung oleh penduduk Florencia yang memiliki semboyan “per non dormire (agar jangan tidur)”, maksudnya tidur tidak mendatangkan rezeki dan “Florentinis ingentis nihil arduit est (tidak ada yang dapat dikerjakan oleh orang Florencia)”. Semboyan itulah kiranya yang membuat penduduk di Florencia menjadi terpacu untuk berinovasi dan bersemangat untuk mengejar prestasi duniawi. Selain itu semangat ini juga di dukung oleh sistem politik dan birokrasi Florencia yang menganut sistem republik dan demokrasi. Sehingga mendorong penduduknya untuk dapat bebas mengembangkan intelektual. 

Pengembangan intelektual yang terjadi di Florencia didukung dengan didirikannya pendidikan formal yaitu berupa universitas yang disebut Academia Plato yang didirikan oleh keluarga Medici. Pendidikan yang dilangsungkan di universitas itu pada gilirannya telah melahirkan seniman, ilmuwan, sastrawan dan para arsitek. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila keluarga Medici dapat mempertahankan eksistensinya dan mendapatkan kemasyuran serta berperan penting dalam melakukan modernisasi Italia selama dua abad lamanya. 

Maka, tak pelak lagi dengan berbagai kondisi ini telah menjadikan Florencia menjadi kota yang mengawali pembaharuan di berbagai bidang dalam kehidupan manusia yang dapat dilihat dari pengembangan di bidang sumber daya manusia, pengelolaan keuangan, perdagangan, sosial, politik dan budaya. Hal terpenting dari pengembangan di bidang intelektual ini terutama adalah munculnya pemikiran humanisme yang kemudian berkembang dan tumbuh subur di Eropa.

Renaissance muncul dari timbulnya kota-kota dagang yang makmur akibat perdagangan, mengubah perasaan pesimistis yang menjadi iklim Abad Pertengahan menjadi optimistis. Hal ini juga menyebabkan dihapuskannya sistem stratifikasi sosial masyarakat agraris yang feodalistik. Timbul kemauan untuk melepaskan diri dari ikatan feodal menjadi masyarakat yang bebas. Termasuk kebebasan untuk melepaskan diri dari ikatan agama, sehingga menemukan kemandirian demi kemajuan. Antroposentrisme menjadi pandangan hidup masyarakat Eropa dengan menjadikan humanisme sebagai arus utama pemikiran filosofi. Selain itu adanya dukungan dari keluarga saudagar kaya semakin menggelorakan semangat Renaissance menjadi menyebar ke seluruh Italia dan Eropa. 

Perkembangan pertama Renaissance yang terjadi di kota Florencia oleh karena dukungan dari Keluarga Medici yang memiliki masalah dengan sistem pemerintahan kepausan menjadi penyokong keuangan terbesar dengan usaha perdagangan di wilayah Mediterania. Hal ini membuat para intelektual dan seniman memiliki kebebasan dan mendapatkan perlindungan dari serangan gereja. Keleluasaan ini didukung oleh tidak adanya kekuasaan yang dominan di Florencia dan kota ini dipengaruhi oleh bangsawan dan pedagang. Oleh sebab itulah dari Florencia kemudian nyala api Renaissance menjalar ke daratan Eropa lainnya. Melalui Renaissance manusia mulai mempelajari hakikat diri dan alam semesta sebagai pusat kenyataan. Manusia menganggap dirinya tidak lagi sebagai Victor Mundi (orang yang berziarah didunia ini), melainkan sebagai Faber Mundi (orang yang menciptakan dunianya). 

Abad Renaissance : Sekilas Tentang Humanisme Renaissance


Pada masa Renaissance manusia menemukan kesadaran akan dua hal, yaitu: dunia dan dirinya sendiri. Pengenalan diri berarti sadar akan nilai pribadi dan kekuatan individual yang mana hal ini tertuang dalam prinsip-prinsip dari humanisme.  Humanisme yang muncul di Italia pada masa Renaissance ini diartikan sebagai sebuah gerakan atau upaya untuk memunculkan kembali, memulihkan dan menafsirkan bahasa, sastra, pembelajaran dan nilai-nilai yang terdapat dalam peradaban Yunani dan Romawi Kuno. Kaum humanis Renaissance mempercayai akan kejeniusan dan kemampuan unik serta pemikiran manusia. Humanisme di Italia lahir sebagai tanggapan terhadap pendidikan skolastik yang menjadi salah satu ciri khas Abad Pertengahan yang menekankan pada studi praktikal, pra-profesional, dan ilmiah. 

Sekolah Skolastik atau umumnya berbicara soal Skolastisisme berupaya mempersiapkan muridnya untuk menjadi seorang dokter, pengacara, atau teolog profesional, dan pengajaran dilakukan melalui buku logika, filsafat, kedokteran, hukum, dan teknologi, sementara para humanis berupaya agar rakyat mampu berbicara dan menulis dengan lancar dan jelas sehingga mampu terlibat dalam kehidupan komunitas mereka dan meyakinkan orang lain untuk melakukan tindakan yang saleh dan bijaksana. Hal ini dicapai melalui studi “studia humanitatis”, yang kini dikenal dengan nama studi humaniora: tata bahasa, retorika, sejarah, puisi, dan filsafat moral. 

Beberapa humanis pertama adalah kolektor manuskrip kuno yang diantaranya adalah Petrarch, Giovanni Boccaccio, Coluccio Salutati, dan Poggio Bracciolini. Dari keempat tokoh ini Petrarch dijuluki sebagai "Bapak Humanisme" dikarenakan pengabdian atau kesetiaannya pada naskah-naskah Yunani dan Romawi. Banyak diantara para humanis pertama ini yang bekerja untuk Gereja Katolik dan berada dalam ordo suci, seperti Petrarch, sementara yang lain adalah pengacara dan kanselir dari kota-kota di Italia, dan dengan demikian memiliki akses untuk melakukan penyalinan naskah-naskah itu, seperti murid Petrarch, Salutati yang merupakan Kanselir Florencia.

Di antara para sarjana humanis yang terpenting adalah Niccolo Machiavelli dan Thomas More yang telah berhasil menghidupkan kembali gagasan para pemikir Yunani dan Romawi dan menerapkannya dalam kritik terhadap pemerintahan saat itu. Pico della Mirandola "manifesto" of the Renaissance, the Oration on the Dignity of Man, a vibrant defence of thinking

Matteo Palmieri, dengan karyanya Della vita civile ("On Civic Life"; yang dicetak 1528), Dalam karyanya itu, Matteo Palmieri menganjurkan humanisme sipil dan juga dialog-dialog yang mencakup gagasan tentang bagaimana anak-anak berkembang secara mental dan fisik, bagaimana warga negara dapat bertingkah laku secara moral, bagaimana warga negara dan negara dapat memastikan kejujuran dalam kehidupan publik, dan perdebatan penting tentang perbedaan antara apa yang bermanfaat secara pragmatis dan apa yang jujur. Pusat dari perkembangan humanisme yang penting pada masa Renaissance adalah FlorenciaNaples (Napoli)RomaVenesiaMantuaFerrara, dan Urbino.

Para sarjana era Renaissance menggunakan metode humanis dalam berbagai penelitian. Mereka juga mencari hubungan antara realisme dengan emosi manusia dalam seni. Kebudayaan Renaissance bertujuan untuk menghidupkan kembali pemikiran Humanisme Klasik yang sempat terhambat oleh gaya berpikir sejumlah tokoh Abad Pertengahan

Pada zaman Klasik, pemikiran humanism lebih menekankan manusia sebagai bagian dari alam atau polis (negara-negara kota atau masyarakat Yunani Kuno). Humanisme Renaissance jauh lebih dikenal karena penekanannya pada individualisme. Individualisme yang menganggap bahwa manusia sebagai pribadi perlu diperhatikan. Kita bukan hanya umat manusia, tetapi kita juga adalah individu-individu unik yang bebas untuk berbuat sesuatu dan menganut keyakinan tertentu.

Kemuliaan manusia sendiri terletak dalam kebebasannya untuk menentukan pilihan sendiri dan dalam posisinya sebagai penguasa atas alam (Pico Della Mirandola). Gagasan ini mendorong munculnya sikap pemujaan tindakan terbatas pada kecerdasan dan kemampuan individu dalam segala hal. Gambaran manusia di sini adalah manusia yang dicita-citakan oleh pemikiran Humanisme Renaissance yaitu manusia universal (Homo Universale).

Berikut ini adalah beberapa hal yang menjadi tema dari Humanisme: 

1. Freedom, Institusi-institusi Pada Abad Pertengahan seperti gereja, sistem feodalisme, dan kekaisaran telah merekayasa pandangan masyarakat kepada satu cosmic yang merendahkan dan memasung atau membatasi kebebasan berfikir manusia. Gerakan Humanisme adalah usaha untuk menumbangkan otonomi dari kekuasaan-kekuasaan tersebut.

2. Naturalisme, adalah pandangan bahwa manusia sebagai bagian terpenting dari alam semesta. Meskipun thesis Humanisme mengangkat jiwa manusia sebagai kekuatan untuk pembebasan (the power of freedom), namun pendukungnya tidak pernah melupakan badan dan kesenangan lahiriah lewat penaklukan terhadap alam sebagai objek dari proyek-proyek manusia, dengan - untuk sementara - menangguhkan perhatian terhadap hal-hal yang bersifat meta- alam. 

3. Perspektif Sejarah, Kaum humanis Eropa menemukan kesadaran untuk bangkit lewat cara penggalian terhadap nilai-nilai rasional yang telah dimunculkan dalam filsafat Yunani. Mereka berusaha untuk menemukan kembali seni berfikir dan bertindak lewat penalaran Aristoteles maupun Plato dan dukungan metodologi sains modern untuk rekayasa masa depan. 

4. Pengagungan terhadap Sains, Tidak dapat dipungkiri bahwa kesulitan manusia lebih banyak ditimbulkan oleh kelemahannya dalam memahami dan menaklukkan alam, menciptakan, melakukan eksplorasi dan eksperimentasi sains ilmiah dan penemuan yang dihasilkannya dianggap lebih utama daripada doktrin Gereja yang tidak humanistik serta irasional.

Penemuan kesadaran Humanisme inilah yang mengakibatkan manusia sejak periode Renaissance telah merasa bebas dari doktrin agama dan tradisi. Kebenaran harus dicapai dengan kekuatan sendiri. Secara perlahan kaum humanis telah melepaskan tujuan keakhiratan dan menerima hidup dalam batas-batas dunia yang dihadapi. Lambat-laun filsafat Eropa mengalami alienasi terhadap agama yang defenitif. 

Filsafat menjadi bersifat individualis, sehingga sejarahnya mewujudkan konsepsi dari kepribadian tokoh-tokoh filsafat. Titik tekannya adalah kebebasan mutlak bagi pemikiran dan penelitian, bebas dari wibawa wahyu dan tradisi. Pengetahuan hakiki bukan didapat dari pewarisan, melainkan dari apa yang diperoleh manusia sendiri karena kekuatannya lewat penelitian dan penemuan-penemuan. 

Abad Renaissance : Tokoh-Tokoh Perintis Renaissance


Tidak dipungkiri bahwa pada awal kemunculan semangat Renaissance di Eropa telah membangkitkan kembali kehidupan seni rupa, sastra dan arsitektur dengan mengimitasi gaya Yunani dan Romawi Kuno. Pada perkembangan selanjutnya Renaissance mengarahkan masyarakat Eropa untuk kembali kepada kebudayaan Yunani dan Romawi Kuno yang dianggap pada saat itu sebagai puncak kebudayaan tertinggi di Eropa.  Para pelopor renaissance menganggap kebudayaan yunani dan romawi sebagai puncak peradaban barat dan karena itu harus dihidupkan kembali. Di bawah ini adalah beberapa tokoh yang dianggap sebagai perintis dari semangat Renaissance di berbagai bidang;

1. Rogen Bacon (1214-1294)



Rogen Bacon  adalah seorang filsuf dan ilmuwan Inggris yang meletakkan penekanan pada empirisisme sebagai landasan dari ilmu pengetahuan, dan dikenal sebagai salah seorang pendukung awal metode ilmiah modern di dunia Barat; meskipun studi-studi akhir menitikberatkan pada kepercayaannya terhadap okultasi dan tradisi alkimia. Sepanjang hidupnya bacon banyak mengahsilkan penemuan-penemuan, diantaranya optik, alkimia, dan pembuatan mesiu, perhitungan posisi dan ukuran benda-benda angkasa, dan kemudian juga menginisiasi penemuan mikroskopteleskop, kacamatapesawat terbanghidrolika, dan kapal uap. Rogen Bacon juga mempelajari tentang astrologi (ilmu perbintangan) dan percaya bahwa benda-benda langit memiliki pengaruh terhadap nasib dan pikiran manusia.

2. Dante Aleghieri (1265-1321)


Sebagai seorang seniman Renaissance, Dante terkenal oleh karena karyanya yang berupa seni pahat. Karya Dante yang berjudul “Divina Comedia” menceritakan perantauan sepasang manusia yang berkelana dari dunia fana ini menuju alam baka. Kedua insan ini harus melewati tiga tahapan dalam kehidupan, yaitu neraka (inferno), api penyucian (purgatorio) dan akhirnya surga (paradiso). Karya-karya Dante yang lain misalnya “Convivio”; “Monarchia”;  “De vulgari eloquentia”  dan “La Vita Nuova”.

3. Fransesco Petrarca (Petrarch) (1304-1374)


Petrarch, sebagai seorang humanis Renaissance awal terkenal karena puisi-puisinya, terutama adalah “Rerum vulgarium fragmenta” ("Fragments of Vernacular Matters"), yang merupakan kumpulan 366 puisi lirik dalam berbagai genre yang juga dikenal sebagai 'canzoniere' ('buku nyanyian'), dan Triumphi ("Triumphs "). Petrarch menyanggah Agustinus dari Hippo yang sangat terobsesi dengan perkara-perkara surgawi dengan menekankan pentingya nikmat duniawi yang sudah pasti bagi manusia di mana hal ini tertuang dalam karyanya yang berjudul “Secret”. Petrarch menyatakan bahwa sebenarnya manusia tidak perlu mengikuti kuasa apa pun di atasnya; kaidah dan pusat hidup manusialah pribadinya sendiri. Pendapat Petrarch ini berkaitan dengan pandangan-pandangan yang diberikan oleh para penyair Yunani dan Romawi Kuno yang dimunculkan kembali pada era Renaissance.

4. Giovinco Boccacio (1313-1375)


Giovinco Boccacio adalah seorang sastrawan Italia dan juga merupakan salah seorang humanis Renaissance awal. Boccacio terkenal dengan karyanya yang berupa kumpulan cerpen yang bertajuk “Decamerone”. Selain itu ia juga membuat puisi alegoris (pembelaan) yang berjudul “Visao Amorosa” (Amorosa visione) dan “De claris mulieribus” yang berisi tentang serangkaian biografi wanita terkemuka.

5. Nicolas Copernicus (1473-1543)


Nicolas Copernicus mengemukakan  pendapat yang asing bagi pendapat umum pada masa itu. Copernicus mengatakan bahwa bumi dan planet yang berada di tata surya mengelilingi matahari, sehingga menjadikan matahari sebagai pusat dari alam semesta (Heliosentrisme). Pendapat yang dikemukakan oleh Copernicus ini berlawanan dengan pendapat umum yang berasal dari Hipparchus dan Ptolomeus yang menganggap bahwa bumi sebagai pusat dari alam semesta (geosentrisisme). Kuatnya dominasi gereja pada saat itu menjadi penghalang bagi Copernicus untuk mengungkapkan gagasannya mengenai pusat alam semesta. 

6. Leonardo da Vinci (1452-1519)


Leonardo da Vinci adalah seorang arsitek, penulis, musisi, pematung dan pelukis di Italia yang dikenal melalui beberapa karyanya seperti “Jamuan Terakhir” yang dilukis di dinding biara Santa Maria di Milan pada tahun 1495-1497 M; lukisan Monalisa yang dibuat pada 1503 M. Menurut Leonardo da Vinci, lukis tidak saja mencerminkan luarnya sebuah benda. Akan tetapi, yang dimaksud dengan lukis adalah segala sesuatu yang terkandung di dalamnya, yang dasarnya alami dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang manusia, lalu diekspresikan dalam bentuk gambar. Ilmu pengetahuan dan lukis memiliki keterkaitan, semisal mengenai gambar manusia di mana Leonardo da Vinci pernah membedah mayat manusia agar dapat memahami dan mengerti anatomi tubuh manusia. Dengan memahami dan mengerti anatomi tubuh manusia ini lah sehingga da Vinci dapat menghasilkan sebuah lukisan dengan baik dan cermat yang ditunjang dengan kemampuan lukis yang sangat baik.

Leonardo da Vinci juga membuat beberapa sketsa gambar yang diantaranya adalah; sketsa gambar “cara terbang burung” dan “mesin penggerak ke atas” yang secara tidak langsung mengilhami pada periode-periode mendatang untuk pembuatan pesawat terbang; sketsa penelitian kapal selam yang dapat terlihat dengan terinspirasi dari ikan - ikan yang berenang melawan arus serta hambatan tekanan arus yang terjadi pada kapal di mana Leonardo da Vinci meninggalkan lima sketsa mengenai badan kapal, dan juga memiliki pengaruhnya yang besar pada masa selanjutnya; selain itu Leonardo da Vinci juga membuat sketsa rancangan jam waktu. 

7. Michelangelo Bounarroti (1475-1564)


Michelangelo adalah seorang seniman dan juga seorang arsitek yang dengan kecenderungan karyanya menampilkan objek nudity tubuh laki-laki sehingga ia kerap diduga mengalami kelainan. Karya Michelangelo banyak ditemukan di berbagai bangunan di Firenze di mana ditampilkan sifat-sifat yang perfeksionis. Karya Michelangelo yang monumental adalah konstruksi menara dari Gereja St. Petrus yang dibuat oleh Michelangelo dan juga Katedral di Noyon di St. Denis dengan gaya gothic.

Karya Michelangelo dalam bidang seni pahat yang lain adalah “The Madonna of the Steps” yang dibuat pada 1490-1492; “The Kneeling Angel” (1494–95); The Taddei Tondo” (1502); “Madonna and Child (1504); “The Doni Tondo (1504-1506); Bacchus (1496-1497 M); “Dying Slave” (1513); “Atlas” (1530-1534). Selain itu karya seni lukis yang dibuat oleh Michelangelo antara lain; “The Sistine Chapel ceiling” (1508 dan 1512); The Drunkenness of Noah; The Deluge; The Creation of Adam (1510); The First day of Creation; The Prophet Jeremiah (1511); Ignudo; Studies for The Libyan Sibyl; The Libyan Sibyl (1511)

8. Thomas More (1478-1535)


Thomas More terkenal akan karyanya yang berjudul “Utopia” di mana Thomas More menjelaskan tentang sebuah negara ideal atau sempurna yang memiliki banyak waktu senggang dan mengusahakan banyak infrastruktur bagi pendidikan, kesehatan dan pengurangan tindak kriminalitas.

9. Francois Rabealis (1490-1553)


Francois Rabealis adalah seorang rahib yang berasal dari Prancis terkenal dengan karyanya “The Inestimable Life of Great Gargantua” dan “Father of Pantagruel”, “Le Tiers Livre”, “Le Quart Livre”, dan “Le Cinquieme Livre”. Francois Rabealis juga memberikan gambaran sebuah biara ideal yang mirip seperti universitas modern yang mengagungkan kecerdasan, kecantikan dan kerajinan.

10. Miguel de Cervantes (1547-1616)


Miguel de Cervantes menulis sebuah novel yang berjudul “Don Quixote”, yang berisi tentang kritikan terhadap mentalitas Abad Pertengahan yang telah mengalami krisis. Karya Cervantes ini bersifat humanis yang menekankan minat atas dunia, keluhuran martabat manusia dan minat pada hal-hal yang berkaitan dengan perubahan sosial.

11. Tycho Brahe (1546-1601)


Didorong oleh penelitian yang dilakukan oleh Nicolas Copernicus,  pada tahun 1572 Tycho Brahe mengamati munculnya bintang baru di gugusan Cassiopeia, yaitu bintang yang cemerlang selama 16 bulan sebelum akhirnya padam lagi. Bintang itu dinamakan Nova atau Supernova, yang sangat tergantung dari besarnya dan massanya. Penemuan bintang Nova dan Supernova yang dilakukan oleh Tycho Brahe ini menggugurkan pandangan yang dianut pada masa itu bahwasanya angkasa itu tidak akan berubah sepanjang masa, dan bentuknya akan tetap abadi. 

Pada tahun 1577 Tycho Brahe dapat mengamati sebuah cornet, yang ternyata lebih jauh dari planet Venus. Penemuan ini juga membuktikan bahwa benda-benda angkasa tidak menempel pada Crystaline spheres, melainkan datang dari tempat yang sebelumnya tidak dapat dilihat untuk kemudian menghilang lagi. Menurut Tycho Brahe bahwa benda-benda angkasa itu terapung bebas dalam ruang angkasa.

12. William Shakespeare (1564-1616)


William Shakespeare adalah seorang sastrawan yang berasal dari Inggris yang terkenal akan karyanya yang berjudul “Hamlet”, “Macbeth”, dan “Julius Caesar”. Karya-karya William Shakespeare telah banyak memengaruhi pada seni teater dan sastra di era selanjutnya. 

13. Johannes Keppler (1571-1630)


Johannes Keppler adalah seorang ahli matematika yang menjadi asisten Tycho Brahe. Ia melanjutkan penelitian Tycho Brahe tentang gerak benda-benda di ruang angkasa. Di dalam penelitiannya itu Johannes Kepler menemukan tiga buah hukum (meskipun Keppler tidak menyebut penemuannya sebagai sebuah hukum) yang melengkapi penyelidikan Tycho Brahe sebelumnya, yaitu:

a. Orbit semua planet berbentuk elips. Bahwa gerak benda angkasa itu bukan bergerak mengikuti lintasan berbentuk circle (lingkaran) sepbagaimana yang dikemukakan sebelumnya oleh Tycho Brahe, namun gerak benda angakasa itu mengikuti lintasan elips sebagai satu fokus.

b. Dalam waktu yang sama, maka garis penghubung antara planet dan matahari selalu melintasi bidang yang luasnya sama (hukum luas).

c. Dalam perhitungan matematika terbukti bahwa bila jarak rata-rata dua planet A dab B dengan matahari adalah X dan Y, sedangkan waktu untuk melintasi jari-jari orbitnya masing-masing adalah P dan Q, maka P2 : Q2 = X3 :Y3 (hukum harmonik).

14. Galileo Galilei (1546-1642)


Sejak tahun 1608 Galileo mulai mempelajari cara untuk memodifikasi lensa dan penggunaannya terhadap ilmu astronomi. Galileo mulai melakukan beberapa pencobaan yang dinilai berhasil dalam pengembangan alat teleskop. Pada tahun 1609 Galileo telah berhasil memodifikasi teleskop yang mampu melakukan pembesaran sebanyak 3x dan beberapa diantaranya bahkan dapat melakukan pembesaran mencapai 32 x. 

Melalui modifikasi teleskop ini, Galileo berhasil melakukan pengamatan terhadap benda-benda di ruang angkasa dengan berhasil menemukan tiga satelit yang mengitari planet Jupiter. Selain itu Galileo juga berhasil mengamati bitnik pada matahari dan berhasil menemukan planet Neptunus, meskipun pada tahun 1612 itu, Galileo tidak menyadari Neptunus sebagai sebuah planet. 

15. Francis Bacon (1561-1626)


Dalam dunia ilmu pengetahuan, Francis Bacon mewariskan satu metode yang hingga saat ini masih digunakan bahkan dianggap sebagai metode yang paling layak dalam dunia ilmu pengetahuan. Metode yang diwarisi oleh Francis Bacon disebut dengan metode Baconian atau juga induktif. Metode induktif yang dikeluarkan oleh Francis Bacon merupakan kritik atas metode deduktif yang dikeluarkan oleh Aristoteles. 

Menurut Francis Bacon, Inti dari logika Aristoteles yang dikenal dengan silogisme merupakan suatu alat dan mekanisme penalaran untuk menarik konklusi yang benar berdasarkan premis-premis yang benar yang merupakan bentuk formal dari penalaran deduktif. Penalaran deduktif ini merupakan metode terbaik untuk memperoleh konklusi demi meraih pengetahuan dan kebenaran yang baru. Itulah sebabnya mengapa metode Aristoteles ini disebut metode “silogistis-deduktif.” Pola kerja yang ditempuh dalam penalaran silogistis-deduktif adalah dengan menetapkan suatu kebenaran universal terlebih dahulu untuk kemudian menjabarkannya pada hal-hal yang khusus. 

Menurut Francis Bacon, logika silogistis-deduktif yang dikembangkan oleh Aristoteles diatas tidak sanggup menghasilkan penemuan-penemuan empiris. Bacon mengatakan bahwa silogistis-deduktif itu hanya dapat membantu mewujudkan konsekuensi deduktif dari apa yang sebenarnya telah diketahui. Agar pengetahuan itu berkembang dan demi memperoleh pengetahuan yang benar-benar berguna, konkret, dan praktis, metode deduktif harus ditinggalkan dan diganti dengan metode induktif. Sehingga dapat dikatakan bahwa teori induktif Bacon ini lahir sebagai jawaban atas kelemahan dari teori deduksi yang sebelumnya sering dipakai oleh Arisototeles. Harapannya adalah supaya metode induksi ini dapat menjadi metode bagi semua ilmu pengetahuan.

Secara umum, induksi dijelaskan sebagai proses berpikir dimana orang berjalan dari yang kurang universal menuju yang lebih universal, atau secara lebih ketat lagi dari yang individual/partikular menuju ke yang umum/universal. Induksi bisa mengantarkan manusia pada tingkatan inderawi dan individual menuju ke tingkatan intelektual dan universal. 

Lebih jelasnya, penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Karena itu, metode induksi ini tidak bisa dilepaskan dari persoalan empirisme, yaitu suatu aliran yang menjadikan pengalaman dan panca indera sebagai sumber pengetahuan. 

Untuk itu, dapat dikatakan bahwa dalam segala bentuknya yang lebih khusus, induksi merupakan persoalan generalisasi empiris, yakni seseorang dapat berargumen bahwa karena sesuatu telah terbukti benar dalam sejumlah kasus yang diamati, besar kemungkinan yang diperoleh tidak bersifat pasti (kecuali dalam kasus-kasus khusus), tapi bisa menjadi sangat besar kemungkinannya dan seluruh prediksi rasional kita mengenai masa depan tergantung pada referensi ini. 

Pengambilan kesimpulan dengan induksi sudah pasti tidak sekedar masalah empiris karena kita menggunakannya untuk menyimpulkan apa yang belum kita amati. Menurutnya, metode induksi yang tepat adalah induksi yang bertitik pangkal pada pemeriksaan yang diteliti dan telaten mengenai data-data partikular, yang pada tahap selanjutnya rasio dapat bergerak maju menuju penafsiran terhadap alam (interpretatio natura).

16. Desiderius Erasmus (1466-1536)


Desiderius Erasmus menentang reformasi keagamaan yang sedang berkembang di Eropa pada saat itu. Meskipun ia menentang reformasi keagamaan yang sedang berlangsung, Erasmus juga menentang doktrin yang diajarkan oleh gereja-gereja katolik pada saat itu, mulai dari penyalahgunaan Sakramen Suci, Penyogokkan yang dilakukan untuk mendapat kekuasaan, perilaku pemuka agama yang terlihat menyimpang, dan penjualan surat pengakuan dosa yang hanya digunakan sebagai kedok dalam memperoleh uang dari jemaat. 

Oleh karena itu, Erasmus tetap mengakui otoritas dari Sri Paus dengan cara menekankan suatu jalan tengah yaitu menempuh reformasi dari dalam gereja dan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh para klerik. Erasmus menolak penekanan Luther pada iman saja, melainkan Erasmus tetap meyakini iman sesuai dengan tradisi yang telah dibangun. Di sisi lain, Erasmus tetap memegang doktrin Katolik mengenai kehendak bebas, yang ditolak oleh beberapa orang reformis karena doktrin predestinasi yang mereka anut. Pendekatan jalan tengah yang ditempuh oleh Erasmus ini telah mengecewakan, dan bahkan membuat marah, kalangan akademisi di kedua belah pihak.

Abad Renaissance : Dampak Renaissance di Eropa


1. Dampak Renaissance di bidang Sosial-budaya dan ekonomi


Semangat Renaissance yang didorong oleh kemunculan humanism Renaissance telah menyebabkan bangsa Eropa keluar dari otoritas gereja sebagai institusi tertinggi yang terbangun pada masa Abad Pertengahan. Orientasi kehidupan kepada hal-hal yang bersifat duniawi mulai dibangun pada masa ini dengan mengembangkan sikap positif terhadap dunia serta penekanan pada otonomi dan kebebasan individu yang telah melahirkan perubahan di pelbagai bidang. 

Banyak perubahan-perubahan yang terjadi sebagai upaya meninggalkan Abad Pertengahan, salah satunya adalah kehidupan sosial masyarakat Eropa yang tidak lagi terbelenggu dan terkekang oleh otoritas gereja sebagai penguasa tertinggi dalam pelbagai bidang kehidupan. Pada Masa Renaissance ini, manusia juga mempelajari hakikat diri dan alam semesta. Di mana manusia sudah tidak menganggap dirinya sebagai orang yang berziarah di dunia (Victor Mundi). Namun, mereka menganggap dirinya sebagai orang yang menciptakan dunia (Faber Mundi). 

Perubahan-perubahan di bidang ekonomi diawali dengan kemunculan kota-kota dagang yang makmur. Kemunculan kota-kota dagang itu telah mengubah perasaan pesimistis pada zaman Abad Pertengahan menjadi optimistis. Masyarakat Eropa mulai memasuki dunia dagang dan mulai meninggalkan dunia feudal dengan harapan dapat merubah kehidupan mereka ke arah yang lebih baik. Dengan begitu tidak heran telah terjadi arus urbanisasi ke kota-kota perdagangan di Eropa.

Dengan adanya arus perpindahan penduduk ke kota-kota perdagangan dan dengan kemunculan kelompok orang kaya baru yang bukan berasal dari kalangan aristokrasi yakni biasa disebut kelompok borjuis pun mulai menjadi saingan bagi kaum bangsawan dan gereja. Kelompok borjuis yang menguasai aktivitas perdagangan pada gilirannya mulai menjalin hubungan dengan kaum bangsawan untuk menggulingkan dominasi gereja dalam pelbagai tatanan kehidupan di Eropa. 

Koalisi antara bangsawan dan borjuis pun mulai membawa kehidupan di Eropa memasuki babak baru dalam perekonomiannya. Penjelajahan samudra yang mendorong terjadinya kolonialisme di berbagai wilayah di luar daratan Eropa telah mendorong kemunculan pelbagai ide untuk memperkuat posisi negara dan raja sebagai tingkatan teratas dalam struktur masyarakat, salah satunya adalah sistem ekonomi merkantilisme. Merkantilisme dapat diartikan sebagai suatu kebijaksanaan politik ekonomi yang bertujuan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya kekayaan berupa logam mulia atau dalam kata lainnya kesejahteraan suatu negara diukur berdasarkan jumlah logam mulia yang mereka miliki. Oleh karena itu, maka tidaklah mengherankan bahwa negara sebagai satu-satunya penguasa ekonomi.

2. Dampak Renaissance di bidang Politik dan pemerintahan


Renaissance telah membawa perubahan di bidang politik dan pemerintahan di Eropa, yakni dengan menempatkan raja sebagai penguasa tertinggi dari sebuah negara dengan menyingkirkan otoritas Paus. Negara-negara feudal Eropa lambat laun mulai tumbuh menjadi negara nasional yang absolut di mana bentuk ini didukung oleh keberadaan daripada sistem merkantilisme. Para Raja di Eropa kemudian mulai bekerjasama dengan pelaku usaha swasta dan pedagang dalam mengembangkan ekonomi negara. Para pedagang dilindungi oleh kerajaan dalam semua aktivitas ekonomi dan memberikan timbal balik berupa pajak untuk kemajuan negara.

3.  Dampak Renaissance di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 

Renaissance telah melahirkan pelbagai penemuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, diantaranya adalah;

1. Mesin cetak
2. Senapan api
3. Meriam
4. Teknologi perkapalan
5. Kompas
6. Sekrup
7. Teleskop
8. Dan lain-lain

Secara umum perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pada masa Renaissance berpusat pada pengembangan ilmu alam dan matematika sebagaimana yang telah dimulai pada masa Yunani Kuno dan Romawi untuk kemudian dimunculkan kembali dan dimodifikasi pada masa ini untuk kepentingan bangsa Eropa. Hal yang terutama terpenting bagi bangsa Eropa dan dunia adalah pengembangan teknologi di bidang kemaritiman. Pengembangan teknologi di bidang kemaritiman telah membawa bangsa Eropa pada era baru yakni era penjelajahan samudra yang pada gilirannya telah melahirkan kolonialisme dan imperialism di pelbagai penjuru dunia dan membawa bangsa Eropa menuju puncak kejayaannya.

Daftar Bacaan

- Bartlett, Kenneth R. 1992. The Civilization of the Italian Renaissance. Toronto: D.C. Heath and Company. 
- Hadiwiyono, Harun. 1989. Sari Sejarah Filsafat Barat II. Yogyakarta: Kanisius.
- Hale, John.  1994. The Civilization of Europe in the Renaissance. New York: New York Press. 
- Hamersma, Harry. 1986. Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern. Jakarta: Gramedia.
- Kallendorf, Craig W. 2002. Introduction to Humanist Educational Treatises. Cambridge, Massachusetts and London: The I Tatti Renaissance Library.
- Kristeller, Paul Oskar. 1965. Renaissance Thought II: Papers on Humanism and the Arts. New York: Harper Torchbooks .
- Mann, Nicholas. 1996. "The Origins of Humanism", Cambridge Companion to Humanism, Jill Kraye,(ed.). Cambridge: Cambridge University Press.
- Munitz, Milton K. 1972. The Way of Philosophy. New York: Mac Millan Publishing Co.,
- Nauert, Charles Garfield. 2006. Humanism and the Culture of Renaissance Europe (New Approaches to European History). Cambridge: Cambridge University Press.