Kerajaan Burgundi - ABHISEVA.ID

Kerajaan Burgundi

Kerajaan Burgundi


Kerajaan Burgundi - Burgundi adalah orang-orang Skandinavia yang tanah asalnya terletak di pantai selatan Laut Baltik, di pulau Bornholm. Sekitar abad ke- 1 M,mereka mulai bermigrasi ke barat ke daerah perbatasan Kekaisaran Romawi. Di sana mereka mendirikan kerajaan yang kuat, yang pada awal abad ke-5 meluas ke tepi barat Sungai Rhine dan kemudian berpusat di Sapaudia (Savoy) dekat Danau Jenewa. Di bawah ini akan dijelaskan tentang sejarah singkat Kerajaan Burgundi.

Raja Burgundi yang tercatat meskipun agak diragukan secara historis adalah Gjuki (Gebicca), yang hidup pada akhir abad ke-4 M. Dalam migrasi yang dilakukan oleh orang-orang Burgundi, saat menyebrangi Sungai Rhine pada 406 M, Orang-orang Burgundi mulai menetap sebagai foederati (federasi) di Roman province of Germania Secunda di sepanjang Rhine Tengah. Orang-orang Burgundi yang mulai menetap di daerah Sungai Rhine ini menandatangani atau menyepakati perjanjian dengan Romawi di mana wilayah Burgundi adalah bagian dari koloni Romawi, namun penduduknya tidak diberikan status kewarganegaraan Romawi. Meskipun begitu, Burgundi wajib untuk mengirimkan tentara jika Romawi membutuhkan mereka.


Peta Kerajaan Burgundi

Antara 411-413 M, pemimpin baru Kerajaan Burgundi, Gundahar, bergabung dengan Goar dari Alani dalam menjadikan  seorang senator Galia-Romawi, Jovinus sebagai Kaisar Romawi yang berkedudukan di Mainz . Dengan dalih otoritas yang diberikan oleh kekaisaran Jovinus, orang Burgundi dapat membangun kekuasaan mereka di tepi barat Sungai Rhine antara Sungai Lauter dan Nahe. Di sini mereka mendirikan sebuah kerajaan yang didasarkan pada pemukiman Romano-Gallic.

Situasi dan kondisi Kerajaan Burgundi memburuk ketika sekitar 430 M raja mereka Gundahar memulai beberapa invasi ke negara tetangga, Gallia Belgica yang menyebabkan kekalahan telak bagi Burgundi. Hal ini disebabkan Gallia Belgica telah bergabung dengan pasukan Romawi dan Hun di bawah pimpinan Flavius Aetius 436 M. Pasukan gabungan Romawi dan Hun telah berhasil merebut Worms, ibu kota Burgundi dan membakarnya. Penyerangan ini menyebabkan kematian Gundahar dan mengakhiri Kerajaan Burgundi pertama. 

Setelah kematian Gundahar, maka takhta Kerajaan Burgundi jatuh ketangan Gunthioc yang dilantik sebagai raja pada tahun 437 M. Penaklukan yang dilakukan oleh Hun pada tahun 437 M, menjadikan Kerajaan Burgundi tetap menerima status foederati oleh Romawi hingga menjelang akhir abad kelima. Akibat dari penaklukan yang dilakukan oleh Hun, Burgundi di bawah pimpinan Gunthioc memindahkan ibukotanya ke Lyon.

Orang Burgundi yang tersisa sejak tahun 443 M dan seterusnya menetap di wilayah Sapaudia (Savoy), lagi-lagi status mereka adalah sebagai foederati di Roman Maxima Sequanorum province. Upaya orang-orang Burgundi untuk kembali memperbesar kerajaan mereka di sungai Rhone  telah membawa mereka ke dalam konflik dengan Kerajaan Visigoth di selatan yang terjadi pada 469 M. 

Pada tahun 473 M Gundioc meninggal dan telah mebagi Kerajaan Burgundi menjadi empat (sesuai dengan jumlah putranya). Namun, Gundobad, salah seorang putra Gundioc mengklaim dirinya sebagai komandan kekaisaran Romawi Barat dan melakukan pembunuhan terhadap keluarganya sendiri untuk memastikan bahwa dia adalah penguasa tunggal dari Kerajaan Burgundi.

Gundobad secara singkat memanfaatkan situasi politk yang terjadi di Kekaisaran Romawi Barat yang mengalami keruntuhan pada 476 M untuk memperluas kekuasan Kerajaan Burgundi. Setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat pada tahun 476 M, Kerajaan Burgundi secara bertahap memperluas kekuasaan mereka atas wilayah di utara dan barat Savoy dan kemudian di seluruh lembah sungai Rhone dan Saone. Di bawah pemerintahan Gundobad Kerajaan Burgundi mencapai puncak kejayaanya.

Setelah berhasil dalam memperluas dan mengkonsolidasikan kekuatan Kerajaan Burgundi, Gundobad membentuk sebuah hukum, yang diberi nama Lex Burgundionum (Hukum Burgundi). Di mana hukum yang dibentuk oleh Gundobad ini dipengaruhi oleh hukum Romawi yang mengurusi permasalahan dan hukum domestik; semisal tentang pernikahan dan warisan serta mengatur manusia dan hukuman lainnya. 

Pada tahun 490 M Gundobad yang mengetahui bahwa telah terjadi pertempuran antara Odoacer dan Theodoric untuk menguasai Pavia, orang-orang Burgundi mencoba mengambil kesempatan ini untuk menyerang Italia barat laut. Mereka berhasil menghancurkan Liguria, dan membawa sejumlah besar tahanan yang dijadikan sebagai budak.  Setelah berhasil menguasai Italia barat laut,  pada tahun 500 M Gundobad terlibat perselisihan dengan saudaranya, Godegisel. Baik Gundobad maupun Godegisel berusaha mencari bantuan untuk saling menyingkirkan satu sama lain. Usaha untuk mencari bantuan itu tertuju pada Clovis, Raja Franka. 

Clovis menyetujui bantuan yang diminta oleh Godegisel, karena Godegisel menjanjikan hadiah kepada Clovis jika berhasil menyingkirkan Gundobad. Selain itu, istri Clovis, Clotilde, yang ayahnya telah dibunuh oleh Gundobad, tidak menyetujui adanya hubungan baik antara Frank dan Burgundi. Ayah Clotilde dibunuh oleh Gundobad pada saat Gundobad meraih takhta sebagai Raja Burgundi dengan membunuh seluruh keluarga yang dianggap mengganggu langkahnya sebagi penguasa tunggal di Kerajaan Burgundi.

Akhirnya Clovis bersama dengan Godegisel menghancurkan kekuatan Gundobad di mana peperangan ituterjadi sepanjang 500-501 M. Gundobad melarikan diri tetapi Clovis mengejarnya ke Avignon. Gundobad yang takut karena pasukan Clovis telah sampai di gerbang Avignon dan mengepungnya. Tetapi seorang hakim Roma, Aridius mendatangi Clovis dan meyakinkannya untuk mengampuni Gundobad. Clovis menyetujui saran Aridius dan bersedia berunding dengan Gundobad  di mana hasil perundingan itu Gundobad harus memberikan imbalan upeti tahunan kepada Clovis. 

Setelah kesepakatan antara Clovis dan Gundobad disetujui, Gundobad kemudian melanggar janjinya untuk menyerahkan upeti ketika ia mendapatkan kembali kekuasaannya atas Burgundi dan mengepung Godegisel, yang terperangkap di kota Vienne. Ketika kelaparan menerpa Vienne, akibat pengepungan Gundobad,  Godegisel mengusir rakyat dari kota karena takut akan keselamatannya sendiri. Seorang seniman yang diusir keluar dengan sangat marah berusaha untuk membalas dendam pada Godegisel  dan pergi mendatangi Gundobad. Atas bantuan dari seniman ini Gundobad berhasil memasuki kota melalui saluran air dan berhasil membunuh Godegisel di sebuah Gereja Arian bersama dengan seorang uskup.

Pada 507 M terjadi peperangan antar Frank dan Visigoth yang dikenal dengan Pertempuran Vouile. Peperangan ini dipicu oleh karena kemenangan Clovis sebelumnya atas Alemanni di timur Rhine, dan juga orang Burgundi di Lembah Rhone, kekuasaan kaum Frank yang mulai tumbuh menjadi ancaman bagi wilayah Visigoth yang dipimpin oleh Alaric II di Aquitaine dan Hispania. Theoderic di Italia berusaha untuk menengahi perselisihan antara Frank dan Visigoth keduanya gagal untuk didamaikan. Kegagalan usaha menengahi perselisihan antara Frank dan Visigoth membuat kedua pasukan bertemu di Gaul dan dalam pertempuran itu Alaric II berhasil dibunuh.

Peperangan yang terjadi antara Frank dan Visigoth dimanfaatkan oleh Gundobad untuk bersekutu dengan raja Frank, Clovis. Hal ini terbukti dari tindakan Gundobad yang mengeksploitasi wilayah Visigoth dan menjarah Narbonne setelah kekalahan Visigoth.  Keberhasilan Gundobad untu menguasai Narbonne hanyalah bersifat sementara saja. Sebab Gundobad harus menghadapi serangan balik yang dilakukan Ostrogoth setelah mengetahui kekalahan Visigoth di Vouille. Ostrogoth melakukan penyerangan terhadap Burgundi dan berhasil menguasai Arles, Avignon dan Orange. 

Ketika Gundobad wafat pada tahun 516 M putra sulungnya Sigismund mengambil alih Kerajaan Burgundi dan dia terus perlahan-lahan memperluas ke Italia, Swiss dan Perancis tidak jelas pada tingkat apa Burgundi sedang berkembang atau apakah mereka merupakan ancaman geopolitik besar bagi tetangga mereka pada saat ini. Kerajaan Burgundi ini tetap independen sampai 534 M, ketika Kerajaan Frank berhasil menguasai Kerajaan Burgundi.

Daftar Bacaan

- Adams, George B. 1914. Civilization During The Middle Ages: Especially in Relation to Modern Civilization. New York, Chicago, Boston: Charles Scribner's Sons.
- Church, R. W.  1914. The Beginnings of The Middle Ages. London, New York, Bombay and Calcutta: Longmans, Green, and Co. 39 Paternoster Row.
- Katherine Fisher Drew (trans.).1972. The Burgundian code: book of constitutions or law of Gundobad. Pennyslvania: University of Pennsylvania Press.
- Hoyt. 1967. Life and Thought in Early Middle Ages. Twin: The University of Minnesota Press.
Bernard S. Bachrac.1972. Merovingian Military Organization, 481-751. Twin: University of Minnesota Press.
Wood, Ian N. 1994. The Merovingian Kingdoms. London: Longman