Peradaban Pulau Kreta - ABHISEVA.ID

Peradaban Pulau Kreta

Peradaban Pulau Kreta


Peradaban Pulau Kreta - Peradaban Pulau Kreta atau juga dikenal dengan Peradaban Aegea diperkirakan berlangsung sekitar 2000 tahun, diperkirakan sekitar 3100-1100 SM, Peradaban Aegea berpusat di Pulau Kreta sehingga sering kali juga disebut dengan Peradaban Pulau Kreta yang terletak di sebelah selatan Yunani dengan pusat pemerintahannya di Knossus. Selain Kota Knossus masih ada kota-kota besar yang lain di Pulau Kreta yaitu Phaestos, Tylissos, Hanos. Keadaan alam di Pulau Kreta ini sangat menguntungkan, dengan iklim yang sejuk dan sangat membantu usaha pertanian. Selain itu, laut juga melindunginya dari invasi dan penjajahan bangsa asing.

peradaban pulau kreta, reruntuhan knossos, reruntuhan peradaban pulau kreta

Letak Pulau Kreta sangat strategis, yaitu di tengah- tengah jalur pelayaran antara Mesir, Yunani, dan Mesopotamia. Keadaan geografis tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat Pulau Kreta untuk hidup dari sektor pelayaran dan perdagangan. Selain itu, Pulau Kreta menjadi jembatan antara kebudayaan Asia, Afrika, dan Eropa. Penduduk Pulau Kreta diperkirakan berasal dari Asia Kecil. Pada 3000-1500 SM, mereka telah memiliki kebudayaan yang tinggi. 

Kebudayaan yang dibangun akibat adanya kekuatan maritim yang mendukung kemajuan kebudayaan itu. Orang-orang Pulau Kreta memiliki armada laut yang kuat untuk dapat mempertahankan daerahnya. Rakyatnya hidup dari perdagangan di Laut Aegea dan Laut Tengah bagian timur. Kebudayaan Pulau Kreta disebut juga "Kebudayaan Minoa." Nama ini diambil dari nama raja legendaris, Minos, yaitu "Raja Pulau Kreta" yang berkedudukan di Kota Knosus. Raja ini diperkirakan memerintah sekitar 1720-1628 SM. Para arkeolog secara kronologis membaginya ke dalam tiga periode;

1. Minoa Awal (3000-2300 SM)
2. Minoa Madya (2300-1600 SM)
3. Minoa Akhir (1600-1100 SM)

Hasil kebudayaannya berupa arsitektur, seni patung, dan seni kerajinan. Penemuan arsitektur ini didapat dari istana besar yang ada di Knossus yang berupa reruntuhan. Istana ini terletak agak sedikit ke pedalaman dari pusat garis pantai utara, dan sebuah tempat yang strategis untuk mengawasi ujung timur dan ujung barat Pulau Kreta. Tidak lama setelah istana ini dibangun istana-istana yang berukuran sedikit lebih kecil di tempat-tempat lainnya seperti di Mallia, di sebelah timur Knossus di pantai utara, dan Phaistos, sedikit masuk ke daratan dari pantai selatan Pulau Kreta.

Di istana-istana itu tidak ditemukan bukti tertulis, sehingga tidaklah diketahui secara pasti siapa yang tinggal di istana-istana itu. Akan tetapi, yang jelas dari istana-istana itu dinding-dindingnya diwarnai dengan lukisan berwarna dari cat air. Istana yang besar tersebut kemungkinan dibangun oleh Raja Minos pada 1600 SM. Istana ini terdiri dari dua tingkat dan menempati satu areal yang sama dengan satu blok kota. 

Istana tersebut merupakan miniatur sebuah kota yang memiliki sarana pengairan, selokan-selokan dan tanah lapang yang dipergunakan untuk pesta dansa, gulat dan olahraga lainnya. Istana tersebut pernah beberapa kali diperbaiki dan diubah, khususnya pada masa Mino Madya setelah mengalami beberapa kerusakan akibat gempa bumi. Sebagaimana yang terlihat pada reruntuhannya, situs yang digali tersebut merupakan halaman istana, koridor, gudang, kamar kerja, ruang tidur, ruang siding dan ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai tempat untuk menjalankan pemerintahan.

Reruntuhan istana itu mirip dengan apa yang digambarkan dalam legenda-legenda Yunani. Di mana istana itu berbentuk labirin (rumah siput). Labyrinth (labirin) berasal dari kata "Labrys" yang berarti "mudah tersesat." Bangunan istana didesain sedemikianan rupa agar seseorang yang masuk akan mudah tersesat karena susunan kamar- kamar, ruangan dan lorongnya yang rumit. Struktur ruangan yang rumit akan menghalangi para penjahat yang masuk istana dan ingin menjarah kekayaan istana. Namun terdapat pula labirin yang digunakan untuk menempatkan orang-orang yang akan dijadikan korban (korban sesaji/persembahan). Selain itu, letaknya yang strategis tidak menutup kemungkinan Pulau Kreta menjadi incaran bangsa lain.

Masyarakat Pulau Kreta melaui para senimannya yang mungkin meniru cara-cara yang digunakan oleh orang-orang Mesir, telah mengenal seni lukis fresco (lukisan cat air) yang terdapat pada dinding-dinding istana Knossus, seni porselin/gerabah yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan minyak zaitun, seni pahat pada gading atau media yang lain dan seni kerajinan logam. Karya seni ini juga menghasilkan peralatan rumah tangga, misalnya alat pertukangan, sepatu, pengecoran logam dan lain-lain. 

Masyarakat Kreta juga telah mengenal bentuk tulisan yang disebut tulisan Minos. Nama Minos berasal dari nama seorang raja besar di Pulau Kreta, bahkan Peradaban Pulau Kreta akhirnya disebut kebudayaan Minoa. Di Knossus ditemukan juga tempat pemandian, seni kerajinan keramik yang indah dan jalan-jalan yang nampaknya sudah diperkeras. Selain itu juga ditemukan ratusan lempengan dengan huruf Aegea yang dapat memberikan kejelasan tentang eksistensi dari Peradaban Pulau Kreta. Meskipun telah ditemukan peninggalan tulisan namun sampai sekarang belum berhasil dibaca. Hal ini menyebabkan sejarah Peradaban Pulau Kreta belum dapat diungkap secara jelas.

Di Mycenae raja-raja dikubur di kuburan bawah tanah yang sangat luas. Kuburan itu berbentuk sarang lebah, yang menyerupai kuburan atau nisan-nisan yang dibangun di Kreta. Kota Tryns, dekat Mycenae, memiliki benteng tebal yang terbuat dari batu dan dipergunakan untuk melindungi diri dari serangan-serangan musuh.

Sekitar tahun 1720 SM sebuah gempa meruntuhkan istana di Knossus. Sebuah istana baru dibangun di atasnya dan sebagian mencakup reruntuhannya. Istana kedua ini jauh lebih rumit dan orang-orang Yunani mengatakan pada zaman ini terdapat seorang raja yang sangat kuat bernama Minos dan tinggal di istana ini. 

Sekitar tahun 1628 SM kerajaan di Pulau Kreta mengalami keruntuhan. Menurut dugaan para ahli faktor penyebab runtuhnya Peradaban Pulau Kreta karena bencana alam. Gunung Thera yang letaknya sekitar 100 km di Utara Pulau Kreta meletus dan memuntahkan lava dan abu yang menutupi angkasa. Abu vulkanik tersebut menghalangi aktivitas kehidupan serta mematikan berbagai tumbuh-tumbuhan. 

Selain karena bencana alam, faktor lain adalah invasi bangsa pendatang. Peradaban Pulau Kreta diserang oleh bangsa Mikene. Mereka meniru kebudayaan orang-orang Minos. Hal ini terbukti dengan peninggalannya berupa: Istana yang memiliki 60 kamar; Thallos, kuburan yang berbentuk sarang lebah; Gerbang singa dari Mikene. Gerbang singa ini adalah sebuah pintu gerbang yang di bagian atasnya dihiasi dengan dua buah patung singa.

Pada 1980, penggalian arkeologi berhasil menemukan sisa reruntuhan sebuah istana di Knossus, di Pulau Kreta. Luas area dari penggalian arkeologi ini sekitar 2 hektar, dengan ratusan bangunan rumah di dalamnya, yang dihubungkan dengan banyak jalan dan lorong. Struktur bangunannya sangat rumit dan belum pernah dijumpai sebelumnya. Di tengah terdapat sebuah lambang bergambar sepasang kapak. Para arkeolog sependapat bahwa lambang tersebut menunjukkan bahwa bangunan itu merupakan Istana Kapak Ganda milik Raja Minos (dalam cerita kuno Yunani pernah disinggung adanya lambang kapak ganda sebagai simbol istana yang terdapat di Pulau Kreta). Dinding-dinding di bagian dalam istana dipenuhi dengan lukisan yang indah dengan corak cerah yang mencerminkan kemegahan kerajaan pada masa tersebut dan kemakmuran pada saat itu.

Penemuan peralatan dari bahan logam dan keramik menandakan penduduk Kreta telah mengenal seni yang sangat maju. Berdasarkan penemuan tersebut terdapat lempengan-lempengan yang terbuat dari tanah liat yang berukir abjad, salah satu di antaranya memberikan keterangan: Swedia telah mempersembahkan 7 orang wanita, anak lelaki dan perempuan masing-masing satu orang. Para arkeolog pun berhasil menemukan tumpukan tulang manusia yang jumlahnya mencapai 200 potong lebih, merupakan tulang tengkorak anak yang berusia antara 10-15 tahun, yang masih meninggalkan bekas dibunuh dengan benda tajam. Setelah itu, para arkeolog menemukan sebuah biara pemujaan. Dalam temuan itu terbukti bahwa penduduk Kreta telah melakukan pemujaan dengan mengorbankan manusia hidup.

Di dalam kuil tersebut ditemukan berbagai jenis wadah (meja) yang terbuat dari bahan keramik di mana wadah ini digunakan untuk melakukan pemujaan. Di atas meja pemujaan itu tergeletak tengkorak yang diperkirakan berasal dari seorang remaja dengan tinggi badan sekitar 165 cm. Tengkorak itu terikat dan terbaring ke sisi samping di atas meja dari tanah dan lempung, dengan sebuah pisau perunggu tertancap pada bagian atas tubuhnya Di samping meja pemujaan tersebut juga ditemukan ada wadah tempat menampung darah dari sang korban dan sebilah pisau dari tembaga yang kemungkinan digunakan untuk membunuh sebagaimana penemuan terhadap tengkorak remaja di atas.

Selain penemuan tengkorak seorang remaja, di depan meja persembahan itu ditemukan tengkorak seorang yang kemungkinan berusia sekitar empat puluh tahun mengenakan sebuah cincin perak di salah satu jarinya dan segel upacara. Sedangkan terdapat seorang wanita lagi berposisi menelungkup di sudut tenggara yang sedang menutupu wajah sang korban. Di mana kedua tengkorak ini mungkin adalah tengkorak sang ketua upacara beserta asistennya.

Sedangkan, terletak tidak begitu jauh dari kuil pemujaan itu, juga ditemukan sekumpulan tulang tengkorak yang posisinya sangat serampangan, yang diduga merupakan para pejabat dan pembantu, yang tidak sempat lagi melarikan diri pada saat bencana terjadi dan mati di tempat itu. Dilihat dari keadaan situs temuan tersebut, bahwa penduduk Pulau Kreta secara berkala diguncang oleh gempa bumi dan para arkeolog menyimpulkan bahwa pada saat para penduduk Kreta sedang melangsungkan upacara pengorbanan manusia hidup, yang bertujuan untuk memohon agar terhindar dari bencana, malah justru telah mengundang terjadinya gempa dan bencana dahsyat. Bencana tersebut telah merobohkan seketika atap kuil yang terletak di Gunung Juktas, tempat upacara berlangsung dan menimpa semua orang yang ada di dalamnya.

Yang jelas, pengorbanan manusia telah dilakukan oleh penduduk Pulau Kreta, meskipun pengorbanan itu tidak begitu sering dilakukan. Hal ini disebabkan oleh bekas-bekas korban dari persembahan itu tidak banyak ditemukan dan hanya ada satu lagi tempat yang kemungkinan dijadikan sebagai tempat persembahan yaitu di sebuah rumah di bagian barat Kota Knossus, di mana tampak tengkorak dua anak yang tidak hanya dikorbankan, namun juga dipotong-potong dan kemudian dibakar bersama siput-siput dalam semacam pesta ritual.  

Pada 1000 SM, Pulau Kreta kedatangan bangsa pengembara dari suku Achaea, lonia, Aeolia, dan Doria. Suku yang terkenal ialah suku lonia. Suku lonia kemudian bercampur dengan penduduk asli. Percampuran inilah yang menurunkan bangsa Yunani. Kemungkinan hal inilah yang menyebabkan Peradaban Aegea semakin meredup dan mulai kehilangan eksistensinya sekitar tahun 1100 SM di mana pada waktu itu orang-orang Yunani telah menguasai seluruh wilayah Aegea termasuk Pulau Kreta.

Setelah runtuhnya Peradaban Pulau Kreta, sejarah peradaban Eropa kuno mulai berkembang di daratan Yunani. Semula berada di Kota Mycena yang sebelumnya merupakan wilayah kekuasaan Peradaban Kreta. Itulah sebabnya Pulau Kreta disebut sebagai jembatan dari kebudayaan Asia, Afrika dan juga Eropa. Pada tahun 1967, telah berhasil dilakukan penggalian sebuah kota perdagangan di bawah lapisan abu gunung berapi di Pulau Santorini setebal 60 m. Setelah diteliti, kota ini terkubur pada 1500 SM oleh abu ledakan gunung berapi. Bisa jadi letusan itu merupakan letusan gunung api paling dahsyat sepanjang sejarah manusia. 

Luas area yang ditutup oleh abu letusan itu mencapai 62,5 km2. Dalam sekejap kota di atas pulau tersebut tertimbun abu vulkanik. Peristiwa ini berpengaruh pada pesisir Laut Tengah dan pulau-pulau di sekitarnya. Berdasarkan catatan, Mesir pada waktu itu diselimuti oleh kegelapan sepanjang hari selama 3 hari berturut-turut. Ledakan tersebut mengakibatkan gelombang tsunami, dengan ombak mencapai 50 m. Gelombang dahsyat tersebut telah menenggelamkan seluruh kota dan desa di atas Pulau Kreta, termasuk juga Kerajaan Minoa.

Daftar Bacaan

- Bauer, Susan Wise. 2010. Sejarah Dunia Kuno: Dari Cerita-Cerita Tertua Hingga Jatuhnya Roma. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
 Coldstream, J. N.  & G. L. Huxley. 1972. Kythera: Excavations and Studies Conducted by the University of Pennsylvania Museum and the British School at Athens. London: Faber & Faber) 1972.