Perlawanan Sultan Agung Terhadap VOC - ABHISEVA.ID

Perlawanan Sultan Agung Terhadap VOC

Perlawanan Sultan Agung Terhadap VOC

Perlawanan Sultan Agung Terhadap VOC - Perlawanan Sultan Agung terhadap VOC pada tahun 1628-1629. Kehadiran dan praktik dari monopoli perdagangan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) di Kepulauan Nusantara telah membawa dampak yang sangat beragam terhadap kerajaan-kerajaan yang eksis di wilayah Kepulauan Nusantara. Konflik kepentingan antara kerajaan-kerajaan di Kepulauan Nusantara dengan para pendatang eropa, telah mempengaruhi terjadinya peristiwa-peristiwa penting yang akan terjadi di kemudian hari. 


Ketika VOC berhasil mendirikan pusat dari aktivitas pemerintahannya di Batavia sejak tahun 1619, VOC mulai melaksanakan praktik monopolinya dan berusaha untuk menguasai jalur perdagangan di Kepulauan Nusantara terutama sekali Pulau Jawa. Di bawah ini akan dijelaskan tentang perlawanan Sultan Agung terhadap VOC di Batavia dalam upaya meruntuhkan dominasi dari monopoli VOC.

perlawanan sultan agung terhadap voc


Perlawanan Sultan Agung terhadap VOC ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629 telah menandai perjalanan panjang konflik kerajaan di Nusantara dengan Belanda yang dalam hal ini diwakili oleh VOC. Pertemuan pertama antara VOC dan Kerajaan Mataram terjadi ketika 22 september 1613, ketika sebuah kapal Belanda yang berisi utusan VOC merapat di dua pelabuhan milik Kerajaan Mataram yaitu Jepara dan kemudian Kudus. Adapun maksud dari kedatangan utusan VOC ini adalah untuk menjalin kerjasama antara Kerajaan Mataram yang terkenal sebagai penghasil beras dan hasil bumi lainnya dengan VOC.


Perlawanan Sultan Agung Terhadap VOC: Mataram di bawah Pimpinan Sultan Agung


Sultan Agung Hanyokrokusumo merupakan raja ketiga Kerajaan Mataram yang merupakan cucu dari Panembahan Senapati (Sutawijaya) dan putra Panembahan Seda ing Krapyak. Sultan Agung merupakan raja yang menyadari pentingnya persatuan dan kesatuan di seluruh tanah Jawa. Pada masa pemerintahannya, daerah pesisir seperti Surabaya ditaklukkannya supaya kelak tidak membahayakan kedudukan Kerajaan Mataram. Sultan Agung atau yang dikenal dengan nama Raden Mas Jatmika, atau terkenal pula dengan sebutan Raden Mas Rangsang adalah putra dari pasangan Panembahan Seda ing Krapyak (Prabu Hanyakrawati) dan Ratu Mas Adi Dyah Banawati. 


Ayahnya adalah raja kedua Kerajaan Mataram, sedangkan ibunya adalah putri dari Pangeran Benawa Raja Kerajaan Pajang. Pada masa awal pemerintahannya, Raden Mas Rangsang bergelar “Panembahan Hanyakrakusuma” atau “Prabu Pandita Hanyakrakusuma”. Kemudian setelah berhasil menaklukkan Madura tahun 1624, Panembahan Hanyakrakusuma mengganti gelarnya menjadi “Susuhunan Agung Hanyakrakusuma”, atau disingkat “Sunan Agung Hanyakrakusuma”.


Raden Mas Rangsang (Sultan Agung) naik takhta di Mataram pada tahun 1613 pada saat usia 20 tahun untuk menggantikan adiknya (beda ibu), Adipati Martapura, di mana Adipati Martapura hanya menjadi Sultan Mataram selama satu hari. Jika dilihat secara teknis, Raden Mas Rangsang adalah penguasa keempat dari Kerajaan Mataram, namun secara umum dianggap sebagai yang ketiga karena adiknya yang menderita tuna grahita diangkat hanya sebagai pemenuhan janji ayahnya semata yaitu Panembahan Hanyakrawati kepada istrinya, Ratu Tulungayu. 


Setelah dinobatkan menjadi penguasa di Kerajaan Mataram, dua tahun kemudian, patih Mataram, Ki Juru Martani wafat dan kedudukannya digantikan oleh Tumenggung Singaranu. Pada masa awal pemerintahan Sultan Agung ini, ibu kota Mataram masih berada di Kota Gede. Pada tahun 1614 mulai dibangun istana baru yang terletak di desa Karta, sekitar 5 km di sebelah barat daya Kota Gede. Istana baru itu mulai ditempati pada tahun 1618. Sultan Agung yang memerintah sejak 1613-1646 adalah raja terbesar dari Kerajaan Mataram yang berhasil mempersatukan wilayah Pulau Jawa bagian tengah dan timur di bawah panji-panji Mataram.


Pesaing besar Mataram saat itu adalah Surabaya dan Banten. Untuk menyingkirkan pesaingnya itu, pada tahun 1614 Sultan Agung mengirimkan pasukan Mataram untuk menaklukkan sekutu kuat Surabaya, yaitu Lumajang. Saat melakukan penyerangan terhadap Lumajang, Tumenggung Surantani dari Mataram tewas ditangan Panji Pulangjiwa yang merupakan menantu Rangga Tohjiwa Bupati Malang ketika pertempuran terjadi di Sungai Andaka. Sedangkan Panji Pulangjiwa sendiri tewas karena terjebak perangkap yang dipasang oleh Tumenggung Alap-Alap. Pada tahun 1615 Sultan Agung sendirilah yang memimpin langsung penaklukan daerah Wirasaba (Mojoagung, Jombang). 


Di dalam penyerangan itu, Surabaya mencoba untuk melakukan perlawanan. Adipati Pajang juga berniat  untuk mengkhianati Mataram, namun niatan itu masih dipenuhi keragu-raguan untuk mengirim pasukan membantu Surabaya. Akibatnya, pasukan Surabaya dapat dihancurkan oleh pasukan Mataram pada Januari 1616 di Desa Siwalan. Kemenangan Sultan Agung berlanjut di Lasem dan Pasuruan. Kemudian, pada tahun 1617 Pajang melakukan pemberontakan tetapi dapat dipadamkan. Adipati Pajang dan panglimanya (Ki Tambakbaya) melarikan diri ke Surabaya.


Setelah berhasil menyisihkan saingan di timur Pulau Jawa, Sultan Agung menyadari bahwa kehadiran VOC di Batavia dapat membahayakan posisi Mataram yang dalam hal ini terutama meliputi Pulau Jawa. Di barat Pulau Jawa selain VOC, masih ada kerajaan Banten yang tidak berada di bawah kekuasaan Mataram. Langkah pertama untuk menyatukan seluruh Jawa adalah dengan mengadakan sejumlah penaklukan di daerah Jawa Timur. Oleh karena itu, Lasem ditundukkan (tahun 1616), disusul Pasuruan (1617) Tuban (1919), Madura (1624), dan Surabaya (1625). 


Dengan keberhasilan atas penaklukan kerajaan-kerajaan pesisir Jawa Timur, maka untuk sementara dapat dicegah intervensi kekuasaan asing. Untuk menjaga agar para raja pesisir tidak memberontak maka Sultan Agung melaksanakan politik domestifikasi. Hal itu ditunjukkan ketika Madura ditaklukkan, Pangeran Prasena yang dikhawatirkan akan memperkuat diri, oleh Sultan Agung diharuskan tinggal di Keraton Mataram.


Di keraton, Pangeran Prasena dari Madura mendapat perlakuan baik dan dikawinkan dengan putri kraton yang bernama Ratu Ibu. Ketika Pangeran Prasena telah menunjukkan kesetiaan kepada Mataram, barulah Prasena diperbolehkan memerintah Madura dan diberi gelar Pangeran Cakraningrat (I). Melalui strategi itu maka terbina hubungan yang baik dengan berbagai daerah yang telah ditundukkan. 


Hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Mataram dan Kerajaan-kerajaan yang telah berhasil ditaklukkan itu. Sebab mereka tidak merasa menjadi “wilayah bawahan” Mataram, akan tetapi merasa menjadi mitra yang diperhitungkan dan diakui eksistensinya, bahkan terbina hubungan kekeluargaan yang baik. Lewat usaha itu sebagian besar wilayah di Pulau Jawa dapat disatukan di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram. 


Sebagai upaya untuk menghancurkan kedua musuhnya di barat Pulau Jawa, Sultan Agung pernah menawarkan upaya kerjasama dengan VOC untuk menghancurkan Kerajaan Banten. Setelah Banten dapat dihancurka, barulah VOC yang akan dihancurkan oleh Kerajaan Mataram. Tawaran kerjasama yang dilakukan oleh Sultan Agung itu ditolak oleh Jan Pieterszoon Coen, sebagai Gubernur Jendral VOC pada saat itu. Jan Peterszoon Coen rupanya mengetahui apabila sesudah Kerajaan Banten dapat dihancurkan maka VOC yang akan menjadi sasaran berikutnya. 


Oleh karena itu, VOC tetap memelihara pertentangan antara Mataram dan Banten di mana VOC memainkan pengaruhnya di setiap pergantian raja. Raja yang dianggap pro-VOC akan didukungnya di mana raja yang dipilih itu membayar imbalan kepada VOC berupa penyerahan sebagian tanah kerajaan kepadanya.


Oleh karena tawaran diplomasi tidak digubris oleh VOC, Mataram kemudian mengalihkan perhatiannya terlebih dahulu untuk menganeksasi Pulau Jawa bagian timur. Konsentrasi Mataram terhadap wilayah timur Pulau Jawa terlihat pada tahun 1620 di mana pasukan Mataram mulai mengepung kota Surabaya secara periodik. Strategi Mataram dalam menaklukan Surabaya adalah dengan membendung aliran Sungai Mas untuk menghentikan suplai air, meskipun begitu Surabaya tetap mampu bertahan. 


Di sisi lain, selain menancapkan pengaruhnya di Jawa bagian timur, Sultan Agung juga berupaya untuk menaklukan daerah di luar Pulau Jawa. Hal itu ditunjukkan dengan mengirim Tumenggung Bahureksa (bupati Kendal) untuk menyerang dan menaklukkan Sukadana (Kalimantan sebelah barat daya) tahun 1622. Dikirim pula Ki Juru Kiting (putra Ki Juru Martani) untuk menaklukkan Madura tahun 1624. Pulau Madura yang semula terdiri atas banyak kadipaten yang berdiri sendiri kemudian berhasil disatukan dan berada di bawah pimpinan Pangeran Prasena yang bergelar Cakraningrat I.


Dengan berhasil direbutnya Sukadana dan Madura, posisi Surabaya menjadi lemah, sebab suplai pangan yang mengalir ke Surabaya terputus sama sekali. Kota ini akhirnya jatuh karena kelaparan pada tahun 1625, bukan karena pertempuran. Pemimpin Surabaya yang bernama Pangeran Jayalengkara pun menyerahkan diri pada pihak Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Mangun-oneng. Beberapa waktu kemudian, Jayalengkara meninggal, sementara putranya yang bernama Pangeran Pekik diasingkan ke Ampel. 


Dengan begitu, maka Surabaya pun resmi menjadi bawahan Mataram, dengan dipimpin oleh Tumenggung Sepanjang sebagai Bupati Surabaya. Setelah berhasil menaklukan Surabaya, keadaan Kerajaan Mataram belum juga tentram. Rakyat menderita oleh diakibatkan perang yang berkepanjangan. Sejak tahun 1625-1627 terjadi wabah penyakit melanda di berbagai daerah, yang menewaskan dua per tiga jumlah penduduknya. Pada tahun 1627 terjadi pemberontakan Pati yang dipimpin oleh sepupu Sultan Agung sendiri, Adipati Pragola. Pemberontakan Pati ini akhirnya dapat dipadamkan meskipun memakan biaya yang sangat besar.


Pada tahun 1636 Sultan Agung mengirim Pangeran Selarong untuk menaklukkan daerah Blambangan (Banyuwangi) yang terletak di ujung timur Pulau Jawa.  Blambangan sangat kuat terutama karena mendapatkan bantuan yang sepenuh hati dari Bali, meskipun mendapatkan bantuan dari Bali, negeri Blambangan tetap dapat ditaklukkan pada tahun 1640.


Perlawanan Sultan Agung Terhadap VOC: Latar Belakang Penyerangan Kerajaan Mataram terhadap VOC di Batavia


Pada 22 September 1613 serombongan utusan VOC merapat ke dua pelabuhan penting milik Kerajaan Mataram yaitu, Jepara dan Kudus. Utusan VOC tersebut ingin menjalin kerjasama dengan Kerajaan Mataram dalam hal penyediaan beras karena Mataram terkenal sebagai penghasil beras. Menanggapi hal ini Sultan Agung menerima keinginan dan penawaran kerjasama dari pihak VOC, berdasarkan pertimbangan bahwa persahabatan antara Mataram dengan VOC nantinya akan berguna bagi keinginan Mataram menguasai kota-kota pelabuhan di sepanjang pantai Jawa bagian timur, terutama Surabaya yang militernya terkenal kuat. Maka dengan pertimbangan itulah didirikan pos perdagangan VOC di Jepara pada tahun 1615. 


Dalam perkembangan selanjutnya terutama memasuki hubungan diantara kedua kubu (Mataram dan VOC) disamping konflik kepentingan dari kedua belah pihak, Sultan mulai menyadari bahwa kehadiran VOC di wilayah Kerajaan Mataram sangat berbahaya bagi keutuhan dan eksistensi Kerajaan Mataram. Sebagaimana seperti hal yang telah dialami oleh Jayakarta di mana wilayah itu telah berada di bawah kekuasaan VOC. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan ambisi Sultan Agung sendiri untuk meluaskan pengaruhnya di seluruh tanah Jawa. 


Awal mula menuju konflik berkepanjangan antara Kerajaan Mataram dengan VOC mulai terlihat pada saat tentara Mataram menyerbu kantor dagang VOC di Jepara pada tahun 1618, serangan ini dipimpin oleh Orang Gujarat yang memimpin Jepara atas nama Sultan Agung. Di dalam penyerangan ini tiga orang Belanda tewas sedangkan yang lainnya di tawan. Setelah penyerangan ini pihak VOC tidak tinggal diam, pada bulan November 1618 VOC melakukan pembalasan dengan membakar semua kapal Jawa yang sedang berlabuh di pelabuhan serta sebagian besar kota. Hal inilah yang akan menyebabkan perang berkepanjangan antara Kerajaan Mataram dengan VOC. 


Hubungan antara keduanya yang semakin memburuk ditunjukkan dengan tindakan VOC dengan membakar jung-jung milik Kerajaan Mataram di Jepara dan merebut beras yang ada di dalamnya. Tujuan lain dari penyerangan ini disamping untuk membalas dendam atas serangan Mataram terhadap pos dagang VOC di Jepara pada tahun 1618, juga bertujuan untuk merusak kantor dagang Inggris dan untuk membuat orang-orang cina pindah ke Batavia. 


Namun hubungan antara Kerajaan Mataram dengan VOC sedikit meningkat pada tahun 1621 ketika tentara VOC yang ditawan dikembalikan ke Batavia dan beras pun dikirim oleh Mataram. VOC pun mengirimkan utusannya kepada Sultan Agung pada tahun 1622, 1623 dan 1624. 


Hubungan yang sedikit membaik ini tentunya tidak terlepas dari kepentingan Kerajaan Mataram yang mengharapakan bantuan angkatan laut dari VOC untuk melakukan penaklukan atas Surabaya, Banten dan Banjarmasin, namun niat dan harapan dari Kerajaan Mataram ini ditolak oleh VOC, yang menyebabkan persahabatan antara Kerajaan Mataram dan VOC berakhir. Terlebih lagi Sultan Agung merasa percaya diri setelah Surabaya berhasil dikuasai oleh Kerajaan Mataram pada tahun 1625. Setelah dikuasainya Surabaya, maka Sultan Agung segera merencanakan penyerangan ke Batavia.


Perlawanan Sultan Agung Terhadap VOC: Penyerangan Pertama (1628)


Konflik kepentingan antara ketiga belah pihak yaitu Kerajaan Mataram yang ingin memeperluas pengaruh dan daerah taklukkan ke seluruh daerah Pulau Jawa, dengan VOC yang ingin menambah pundi-pundi keuntungan dari perdagangan mereka di Pulau Jawa, serta Kerajaan Banten yang ingin menunjukkan eksistensi kerajaan dan kemajuan perniagaannya akan menjadi alasan peperangan yang terjadi di Batavia. Kerajaan Mataram yang cenderung agresif dan bernafsu untuk melengkapi hegemoninya di Pulau Jawa, harus berhadapan dengan Banten dan VOC di Batavia sekaligus. 


Sejak tahun 1620 telah ada rencana bahwa Kerajaan Mataram akan menyerang Batavia. Pada tahun 1620 itu, Sultan Agung telah menghimpun kekuatan sebanyak 100.000 prajurit untuk menyerang Batavia, namun pasukan ini batal untuk menyerang Batavia sebab ada kepentingan kerajaan yang lebih mendesak, yakni melakukan penaklukan di sepanjang timur Pulau Jawa. 


Pada tahun 1626 Sultan Agung kembali mengumpulkan pasukan dan kali ini berhasil menghimpun kekuatan sebanyak 900.000 orang yang akan dipersiapkan untuk menyerang “orang kafir” (VOC) di Batavia, namun misi ini juga gagal karena pasukan mataram harus memadamkan pemberontakan Pati (1627) yang dipimpin oleh Adipati Pragola yang merupakan sepupu Sultan Agung sendiri.


Setelah berhasil memadamkan pemberontakan Pati, Kerajaan Mataram mengumpulkan kepala-kepala daerah bawahan Mataram terutama yang berada di daerah pesisir pantai utara Pulau jawa yang akan diikutsertakan dalam penyerangan ke Batavia. Dalam upaya menghimpun kekuatan ini, Sultan Agung pernah menawarkan kerjasama kepada Kerajaan Banten untuk bersama-sama menyerang VOC di Batavia, namun jelas Kerajaan Banten tidak menyetujui oleh karena kekhawatiran Banten sendiri akan sifat agresif dari Kerajaan Mataram. Pertimbangan Kerajaan Banten yang menolak tawaran kerjasama Kerajaan Mataram disebabkan oleh adanya dugaan apabila Batavia telah dikuasai sasaran Mataram selanjutnya adalah Kerajaan Banten itu sendiri. 


Pada tahun 1628 Kerajaan Mataram mulai melakukan serangan pertamanya ke Batavia. Pada bulan April 1628 Kyai Rangga dikirim ke Batavia dengan 14 perahu yang memuat beras, Kyai Rangga ini datang untuk “meminta bantuan” VOC sebab dinyatakan bahwa Kerajaan Mataram ingin menyerang Kerajaan Banten. Akan tetapi hal ini ditolak pihak VOC. Pada tanggal 22 Agustus 1628, 50 kapal milik Kerajaan Mataram mendarat di Batavia, dengan perlengkapan yang sangat komplit. 


Pada tanggal 24 Agustus 1628, tujuh buah perahu milik Kerajaan Mataram meminta izin kepada VOC untuk melakukan perjalanan ke Malaka, namun VOC telah mencurigai serangan yang akan terjadi. Maka, VOC berusaha tidak mempertemukan kapal yang baru datang dengan yang terakhir datang, karena dikawatirkan terjadi pertukaran senjata antar kapal, namun usaha yang dilakukan oleh VOC itu menemui kegagalan. Pada pagi hari tanggal 24 Agustus 1628, 20 buah kapal Kerajaan Mataram menyerang pasar dan benteng Batavia yang menyebabkan banyak korban yang berjatuhan. Pada tanggal 26 Agustus 1628 pasukan Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa dengan kekuatan sekitar 10.000 pasukan menuju Batavia. 


Menanggapi hal ini, VOC kemudian berusaha untuk mengorbankan daerah di sekitar benteng dan membakar kampung di sekitarnya serta meratakannya dengan tanah. Sehingga, pada waktu tentara Kerajaan Mataram mendekati benteng, sangatlah mudah bagi VOC untuk mengetahui gerak-gerik pasukan Kerajaan Mataram dan kemudian mengusirnya karena tidak ada tempat persembunyian bagi pasukan Kerajaan Mataram


Melihat situasi dan kondisi ini, terpaksa pasukan Kerajaan Mataram menarik diri dari medan peperangan, dan mengungsi ke daerah yang agak berpohon dan membangun benteng pertahanan dari tumpukan pohon kelapa dan tumpukan pohon pisang dan dipagari dengan bambu anyaman. Pada 10-11 September 1628 pasukan Kerajaan Mataram mulai membuat garis pertahanan dengan membangun parit-parit di sekitar wilayah pertempuran yang memakan waktu hingga setengah bulan lamanya.


Selama membangun parit-parit pertahanan, Tumenggung Bahureksa pada tanggal 21 September 1628 menulis surat ancaman kepada Jan Pieterszoon Coen, yang berisi bahwa dalam tempo 10 atau 12 hari akan datang pasukan Kerajaan Mataram yang jumlahnya lebih besar dibawah pimpinan Dipati Madurareja, Dipati Upasanta, Dipati Tohpati, dan Tumenggung Anggabaya dan akan disusul pula kemudian akan datang pula pasukan yang sama besarnya di bawah pimpinan Pangeran Adipati Juminah. 


Menanggapi surat yang diberikan oleh Tumenggung Bahureksa, Jan Pieterszoon Coen pada 21 Oktober 1628 memerintahakan hampir seluruh pasukan VOC di Batavia dikerahkan untuk melakukan serangan pada pasukan Kerajaan Mataram. Kekuatan pasukan VOC itu sekitar 2.866 prajurit dan penyerangan itu akan dipimpin oleh Letkol Jacques le Febvre. Pasukan VOC kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok pasukan yang bertugas menyerang pasukan Ukur dan Sumedang. Pasukan VOC kemudian menyerang Pasukan Ukur dan Sumedang yang tidak mampu menghadapi serangan mendadak dan teratur yang dilakukan oleh VOC.


Pasukan Ukur dan Sumedang mulai mundur untuk bergabung dengan pasukan utama yang dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa. Oleh karena kurang siapnya pasukan yang dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa menghadapi penyerbuan VOC ke kubu pertahanannya, menyebabkan posisi pasukan Kerajaan Mataram yang dipimpinnya menjadi terdesak. Pada tanggal 26 Oktober 1628 kubu pertahanan Tumenggung Bahureksa berhasil direbut oleh VOC dan Tumenggung Bahureksa gugur dalam pertempuran itu. Dengan ini maka VOC telah berhasil mengusir pasukan Kerajaan Mataram. 


Setelah keberhasilan dalam penyerangan ini, VOC mengira bahwa mereka telah bebas dari musuh tetapi setelah pasukan yang dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa berhasil mereka hancurkan. Akan tetapi, muncullah gelombang pasukan kedua yang jumlahnya lebih besar jika dibandingkan dengan jumlah pasukan yang dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa. Pasukan ini dipimpin oleh Tumenggung Sura Agulagul. Tumenggung Sura Agulagul dalam upayanya menyerang Batavia, ia berusaha membelokkan arah aliran sungai dengan tujuan suplai air tidak mampu masuk ke dalam Batavia dan kemudian memaksa orang-orang yang terkepung oleh pasukan Kerajaan Mataram untuk menyerah. 


Akan tetapi, usaha pengepungan yang dilakukan oleh Tumenggung Sura Agulagul ini tidak berhasil, sebab tidak didukung oleh logistik yang memadai dalam upaya pengepungan. Justru yang terjadi adalah pasukan yang dipimpinnya banyak yang mati karena penyakit dan kelaparan. Pada tanggal 3 Desember 1628 Tumenggung Agulagul membubarkan pengepungannya terhadap Batavia dan berdasarkan hukum yang berlaku di Mataram, maka panglima-panglima bawahannya yaitu Dipati Madurareja dan Dipati Upasanta bersama dengan orang-orangnya dihukum mati karena kegagalan dalam pengepungan Batavia. Dengan kegagalan Tumenggung Sura Agulagul ini maka serangan pertama Kerajaan Mataram terhadap Batavia mengalami kegagalan.


Perlawanan Sultan Agung Terhadap VOC: Penyerangan Kedua (1629)


Setelah mengalami kekalahan pada serangan yang pertama (1628) dari VOC di Batavia, Sultan Agung kembali berencana untuk melakukan serangan yang kedua. Sultan Agung pun kemudian menyusun rencana dan mempersiapkan pasukannya. Di dalam penyerangan kedua ini untuk mengatasi permasalahan logistik, pasukan Kerajaan Mataram telah menyiapkan perbekalan logistik para pasukannya di tempat-tempat tertentu sepanjang perjalanan menuju ke Batavia. Pasukan Kerajaan Mataram berangkat dalam dua gelombang; gelombang pertama berangkat pada akhir bulan Mei 1629 dan yang kedua pada tanggal 20 Juni 1629.


Pada tanggal 20 juni 1629, Warga beserta beberapa orang pengikutnya, yang bertugas sebagai mata-mata Kerajaan Mataram dicurigai oleh VOC. VOC mencurigai aksi para utusan Mataram ini. Warga yang mengemban tugas untuk “meminta maaf” kepada VOC mengenai hal yang telah terjadi pada tahun 1628. Sementara orang-orang Mataram mengumpulkan padi di Tegal, yang mana padi tersebut akan ditumbuk di Tegal dan kemudian diperdagangkan di Batavia. Inilah cara yang ditempuh oleh Kerajaan Mataram untuk membawa beras ke Batavia untuk kepentingan penyerangan yang akan dilakukan pada tahun 1629 itu. 


Akan tetapi, salah seorang anak buah Warga membocorkan rahasia dan siasat Kerajaan Mataram, ketika Warga datang ke Batavia untuk yang kedua kalinya, ia ditangkap dan diinterogasi perihal kebenaran niat Kerajaan Mataram akan melakukan serangan untuk yang kedua kalinya. Rahasia ini kemudian dibenarkan oleh Warga sehingga VOC membakar semua persediaan beras pasukan Kerajaan Mataram yang ada di Tegal dan Cirebon, maka secara otomatis persiapan yang telah matang sebelumnya akan berdampak besar pada pertempuran yang akan dilakukan oleh Kerajaan Mataram, sebab hal ini berurusan dengan kebutuhan logistik pasukan Kerajaan Mataram.


Pada bulan Agustus tahun 1629 pasukan Kerajaan Mataram telah tiba di Batavia. Pada tanggal 8 september 1629 pasukan Kerajaan Mataram mulai melakukan penggalian parit pertahanan yang mana parit-parit itu dilindungi oleh kayu dan bambu, parit ini digali dari markas pertahanan pasukan Kerajaan Mataram menuju Benteng Holandia milik VOC. Namun, seperti biasa VOC selalu dapat menggagalkan proyek pertahanan yang dibangun oleh pasukan Kerajaan Mataram tersebut, kelompok lain yang juga berusaha membahayakan pertahanan VOC adalah dengan melakukan penyerangan terhadap Benteng Bommel. 


Di dalam penyerangan itu, beberapa prajurit Kerajaan Mataram berusaha masuk ke benteng untuk membuka pintu benteng, namun sebelum hal itu terjadi pasukan VOC telah menembaki prajurit Kerajaan Mataram tersebut, pasukan Kerajaan Mataram berencana menyerang tembok benteng VOC dengan serangan meriam milik Kerajaan Mataram, namun pasukan VOC yang berada dibawah pimpinan Antonio van Diemen dapat mengatasi serangan itu dan melakukan serangan balik pada pasukan Kerajaan Mataram. Pada tanggal 20 September 1629 Gubernur Jendral VOC Jan Pieterszoon Coen meninggal dunia karena terserang penyakit yang kemungkinan disebabkan oleh wabah kolera.


Setelah mengetahui kematian Jan Pieterszoon Coen, pada tanggal 20 September 1629 terjadi serangan besar-besaran pasukan Kerajaan Mataram dan serangan ini tertuju pada Benteng Weesp. Dalam penyerangan ini banyak pasukan Kerajaan Mataram tertawan oleh pasukan VOC. Kegagalan pada serangan puncak ini telah mengakibatkan hilangnya semangat juang pasukan Kerajaan Mataram. Akan tetapi, faktor utama yang sebenarnya akibat kekalahan pasukan Kerajaan Mataram terletak pada kurangnya bahan makanan atau logistik pasukan Kerajaan Mataram, yang telah berhasil dimusnahkan oleh VOC melalui keterangan yang diberikan oleh utusan Mataram yang ditangkap dan membocorkan penyerangan Kerajaan Mataram ke Batavia. Dengan begitu, pasukan Kerajaan Mataram mengalami kelaparan dan bahkan banyak yang meninggalkan pertempuran karena kelaparan ini.


Perlawanan Sultan Agung Terhadap VOC: Pasca Penyerangan Kerajaan Mataram terhadap Batavia


Sultan Agung setelah kegagalan penyerangan yang kedua terhadap VOC mencoba menjalin hubungan dengan Portugis untuk bersama-sama menghancurkan VOC. Namun hubungan antara Kerajaan Mataram dan Portugis kemudian sirna pada tahun 1635. Sebab Sultan Agung menyadari bahwa posisi Portugis di Kepulauan Nusantara saat itu sudah melemah akibat kekalahan-kekalahan yang diterima oleh Portugis selama menghadapi VOC. Kekalahan di Batavia menyebabkan daerah-daerah bawahan Kerajaan Mataram berani untuk melakukan pemberontakan untuk lepas dari pengaruh Kerajaan Mataram. Hal itu dapat terlihat dari pemberontakan yang dilakukan  oleh kelompok ulama di Tembayat yang berhasil dipadamkan sekitar tahun 1630. 



Pemberontakan selanjutnya dari Sumedang dan Ukur yang melakukan pemberontakan pada tahun 1631. Akan tetapi berkan bantuan dari Sultan Cirebon yang masih setia berhasil memadamkan pemberontakan Sumedang tahun 1632. Pemberontakan selanjutnya adalah pemberontakan Giri Kedaton yang tidak mau tunduk kepada Kerajaan Mataram. Oleh karena Kerajaan Mataram menganggap Giri Kedaton merupakan keturunan Sunan Giri, maka yang diberikan tugas untuk melakukan penumpasan adalah Pangeran Pekik pemimpin Ampel. Pangeran Pekik  dari Ampel sendiri telah dinikahkan dengan Ratu Pandansari adik Sultan Agung pada tahun 1633. Pemberontakan Giri Kedaton ini  baru berhasil dipadamkan pada tahun 1636.


Selesai memadamkan pemberontakan GIri Kedaton, Pangeran Pekik kemudian berhasil menguasai Blambangan pada tahun 1640. Pada tahun 1646 Sultan Agung wafat dan digantikan oleh putranya, Susuhunan Amangkurat I. Pada masa Amangkurat I (Pengganti Sultan Agung), pengejaran terhadap Giri terus dilakukan dan sebanyak 6000 santri dibantai di alun-alun Plered. ketika Giri telah dikuasai, maka tidak ada satu pun daerah pesisir yang merdeka dari Kerajaan Mataram.


 Inilah yang kemudian disebut sebagai pemisahan antara agama dan negara. Jika pada masa-masa sebelumnya, ulama pesisir banyak yang menjadi penasehat raja, maka semenjak itu ulama-ulama pesisir tidak lagi menjadi penasehat raja. Amangkurat I bersikap anti ulama dan melakukan pendekatan serta kerja sama dengan VOC.  Sepeninggal Sultan Agung, perpecahan, persaingan, perebutan kekuasaan dan kepentingan pribadi di antara penguasa-penguasa daerah dan di antara kaum bangsawan kembali berkecamuk. Seperti itulah kondisi Kerajaan Mataram pasca pemerintahan Sultan Agung yang kemudian dimanfaatkan oleh VOC untuk memperlemah dan mencoba untuk meruntuhkan dominasi dari Kerajaan Mataram.