Sejarah Berdirinya Kerajaan Tarumanegara Secara Singkat - ABHISEVA.ID

Sejarah Berdirinya Kerajaan Tarumanegara Secara Singkat

Sejarah Berdirinya Kerajaan Tarumanegara Secara Singkat


Kerajaan Tarumanegara - Kerajaan Tarumanegara adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat pulau Jawa pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M. Kerajaan Tarumanegara merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah. Di dalam catatan sejarah dan peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan, terlihat bahwa pada saat itu Kerajaan Tarumanegara adalah kerajaan Hindu beraliran Wisnu.

Jika berdasarkan dari catatan sejarah atau pun peninggalan prasasti yang ada, tidak ada penjelasan atau catatan yang pasti mengenai siapakah yang pertama kali mendirikan Kerajaan Tarumanegara. Raja yang pernah berkuasa dan sangat terkenal dalam sumber sejarah yang ada adalah Purnawarman. Pada tahun 417 Purnawarman memerintahkan untuk melakukan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga (Kali Bekasi). 

Menurut penelusuran yang dilakukan oleh Poerbatjaraka (seorang ahli bahasa Sansakerta dan bahasa Jawa Kuno), kata Bekasi secara filologis berasal dari kata Candrabhaga; Candra berarti bulan (sasi dalam bahasa Jawa Kuno) dan Bhaga berarti bagian. Jadi Candrabhaga berarti bagian dari bulan. Pelafalan kata Candrabhaga kadang berubah menjadi Sasibhaga atau Bhagasasi. Di dalam pengucapannya sering disingkat Bhagasi, dan karena pengaruh bahasa Belanda sering ditulis Bacassie (di Stasiun KA Lemahabang pernah ditemukan plang nama Bacassie). Kata Bacassie ini kemudian berubah menjadi Bekasi sampai dengan sekarang. 

Candrabhaga merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanagara, yang berdiri sejak abad ke 5 Masehi. Ada 7 (tujuh) prasasti yang menyebutkan adanya kerajaan Tarumanagara yang dipimpin oleh Maharaja Purnawarman, yakni Prasasti Tugu (Cilincing, Jakarta), Prasasti Ciaruteun, Prasasti Muara Cianten, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Jambu, Prasasti Pasir Awi (ke enam prasasti ini ada di daerah Bogor), dan satu prasasti di daerah Bandung Selatan (Prasasti Cidanghiang). sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km). Selesai penggalian, sang prabu mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

Bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara diketahui dengan ditemukannya tujuh buah prasasti batu yang ditemukan. Lima di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa kerajaan dipimpin oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M dan dia memerintah sampai tahun 382. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar sungai Gomati (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara.


Sejarah Berdirinya Kerajaan Tarumanegara Secara Singkat

Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Tarumanegara

Setelah peperangan di negeri India antara Kerajaan Maurya dengan koalisi Kerajaan Calankayana dan Kerajaan Pallawa dimenangkan oleh Kerajaan Maurya, para bangsawan kedua kerajaan (Kerajaan Calankayana dan Kerajaan Pallawa) mengungsikan diri ke beberapa tempat, termasuk ke negeri-negeri diseberang laut, yaitu ke daerah Semenanjung Tanah Melayu, Pulau Jawa, Pulau Sumatra, Yawana dan sebagainya.  

Pada tahun 348 seorang Maharesi bernama Jayasingawarman yang berasal dari Kerajaan Calankayana beserta pengikutnya yang terdiri dari tentara, penduduk sipil tiba di Pulau Jawa dan mulai menetap. Jayasingawarman beserta para pengikutnya mendirikan pemukiman di sebelah barat Sungai Citarum yang diberinama Tarumadesya. Tarumadesya ini adalah wilayah yang menjadi daerah kekuasaan dari Dewawarman VIII, Raja Kerajaan Salakanagara. Oleh karena Kerajaan Calankayana adalah sekutu dari Kerajaan Pallawa, dan Kerajaan Pallawa sendiri banyak terdapat kerabat dari Kerajaan Salakanagara maka Jayasingawarman diperkenankan untuk mendirikan perdukuhannya di sana.

Pada tahun 358 Tarumadesya telah berkembang menjadi sebuah desa yang cukup ramai. Hal ini disebabkan oleh banyaknya penduduk dari desa-desa lain yang menetap di Tarumadesya. Jayasingawarman kemudian mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Tarumanegara dengan status tetap menjadi daerah bawahan dari Kerajaan Salakanagara. Setelah mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Tarumanegara, Jayasingawarman bergelar Jayasingawarman Gurudarmapurusa atau yang biasa dikenal juga dengan Rajadirajaguru.


Peninggalan Kerajaan Tarumanegara


Berikut adalah prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara;

1. Prasasti Pasir Muara (Muara Cianteun)


Prasasti Pasir Muara terletak kira-kira 1 km dari batu prasasti Kebon Kopi I (Prasasti Tapak Gajah). ditemukan oleh N.W. Hoepermans pada tahun 1864. Prasasti ini ditemukan di Pasir Muara di persawahan, terletak di tepi Sungai Cisadane dan ± 50 m ke muara Cianten. Prasasti terletak ± 600 m sebelah utara dari Prasasti Kebon Kopi, dengan keletakan tanah lebih rendah ± 10 m. Objek masih berada di tempat asal (insitu), berada 2 m dari tebing sebelah baratdaya Sungai Cisadane. 

Prasasti ini berisi pesan bahwa pada tahun 458 Saka atau 536 M, pemerintahan negara telah dikembalikan ke Kerajaan Sunda.
Di dalam prasasti itu dituliskan :

ini sabdakalanda rakryan juru panga-mbat i kawihaji panyca pasagi marsa-n desa barpulihkan haji su-nda

Terjemahannya menurut Bosch:

Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), pemerintahan begara dikembalikan kepada raja Sunda.

2. Prasasti Ciaruteun


Prasasti Ciaruteun ditemukan pada aliran Ci Aruteun, seratus meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Ci Sadane; namun pada tahun 1981 diangkat dan diletakkan di dalam cungkup. Prasasti ini peninggalan Purnawarman, beraksara Palawa, berbahasa Sanskerta. Isinya adalah puisi empat baris, yang berbunyi:

vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam

Terjemahannya menurut Vogel:

Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara.

Selain itu, ada pula gambar sepasang "padatala" (telapak kaki), yang menunjukkan tanda kekuasaan dan fungsinya seperti "tanda tangan" pada zaman sekarang. Kehadiran prasasti Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah itu termasuk kawasan kekuasaannya. 

Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II, sarga 3, halaman 161, di antara bawahan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman terdapat nama "Rajamandala" (raja daerah) Pasir Muhara.

3. Prasasti Telapak Gajah


Prasasti Kebonkopi I atau Prasasti Tapak adalah prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang dibuat sekitar 400 M dan ditemukan di daerah Kampung Muara (sekarang: Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Bogor) oleh para penebang hutan pada abad ke-19 ketika mereka akan membuka lahan untuk membudidayakan tanaman kopi milik Jonathan Rig. 

Hingga kini, prasasti kebon kopi masih berada pada tempat pertama kali ia ditemukan. Prasasti yang terbuat dari batu alam ini dipahatkan di bidang perbukaan batu besar bertuliskan aksara Palawa dan bahasa Sansekerta dalam bentuk seloka dan diapit sepasang pahatan telapak kaki gajah.

Teks: jayavisalasya Tarumendrasya hastinah, Airwavatabhasya vibhatidam padadvayam

Terjemahan: Di sini nampak tergambar sepasang telapak kaki …yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma yang agung dalam….dan (?) kejayaan.

Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra dewa perang dan penguawa Guntur. Menurut Pustaka Parawatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1, gajah perang Purnawarman diberi nama Airawata seperti nama gajah tunggangan Indra. Bahkan diberitakan juga, bendera Kerajaan Tarumanagara berlukiskan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah. Demikian pula mahkota yang dikenakan Purnawarman berukiran sepasang lebah.

Ukiran bendera dan sepasang lebah itu dengan jelas ditatahkan pada prasasti Ciaruteun yang telah memancing perdebatan mengasyikkan di antara para ahli sejarah mengenai makna dan nilai perlambangannya. Ukiran kepala gajah bermahkota teratai ini oleh para ahli diduga sebagai "huruf ikal" yang masih belum terpecahkan bacaaanya sampai sekarang. 

Demikian pula tentang ukiran sepasang tanda di depan telapak kaki ada yang menduganya sebagai lambang labah-labah, matahari kembar atau kombinasi surya-candra (matahari dan bulan). Keterangan pustaka dari Cirebon tentang bendera Taruma dan ukiran sepasang "bhramara" (lebah) sebagai cap pada mahkota Purnawarman dalam segala "kemudaan" nilainya sebagai sumber sejarah harus diakui kecocokannya dengan lukisan yang terdapat pada prasasti Ciaruteun.

4. Prasasti Pasir Koleangkak (Prasasti Jambu)


Di daerah Bogor, masih ada satu lagi prasasti lainnya yaitu prasasti batu peninggalan Tarumanagara yang terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Pada bukit ini mengalir (sungai) Cikasungka. Prasasti ini pun berukiran sepasang telapak kaki dan diberi keterangan berbentuk puisi dua baris:

shriman data kertajnyo narapatir - asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam - padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam - bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam.

Terjemahannya menurut Vogel:

Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya.

5. Prasasti Cidanghiyang



Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul, ditemukan di aliran Sungai Cidanghiyang yang mengalir di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, berisi pujian kepada Raja Purnawarman.

Teks: Vikranto ‘yam vanipateh/prabhuh satya parakramah narendra ddhvajabhutena/ srimatah purnnawvarmanah

Terjemahan: Inilah (tanda) keperwiraan, keagungan, dan keberanian yang sesungguhnya dari raja dunia, yang Mulia Purnawarman yang menjadi panji sekalian raja-raja.

6. Prasasti Pasir Awi



Prasasti Pasir Awi atau Prasasti Cemperai adalah bukti peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang juga ditemukan oleh N.W. Hoepermans pada tahun 1864. Prasasti ini ditemukan di lereng selatan bukit Pasir Awi, kawasan hutan perbukitan Cipamingkis, Sukamakmur, Bogor. Sama seperti Prasasti Muara Cianteun, Prasasti yang berada di atas bukit ini juga tak mengungkap sedikitpun sejarah Kerajaan Tarumanegara. Pasalnya, ia hanya berisi pahatan gambar dahan, ranting, daun, dan buah-buahan, serta sepasang telapak kaki.


7. Prasasti Tugu


Prasasti Tugu, ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, sekarang disimpan di museum di Jakarta. Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati sepanjang 6112 tombak atau 12 km oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.

Prasasti Tugu adalah salah satu prasasti yang berasal dari Kerajaan Tarumanagara. Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya. Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.

Prasasti Tugu bertuliskan aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sanskerta dengan metrum Anustubh yang terdiri dari lima baris melingkari mengikuti bentuk permukaan batu. Sebagaimana semua prasasti-prasasti dari masa Tarumanagara umumnya, 

Prasasti Tugu juga tidak mencantumkan pertanggalan. Kronologinya didasarkan pada analisis gaya dan bentuk aksara (analisis palaeografis). Berdasarkan analisis tersebut diketahui bahwa prasasti ini berasal dari pertengahan abad ke-5 Masehi. Khusus prasasti Tugu dan prasasti Cidanghiyang memiliki kemiripan aksara, sangat mungkin sang pemahat tulisan (citralaikha > citralekha) kedua prasasti ini adalah orang yang sama.

Dibandingkan prasasti-prasasti dari masa Tarumanagara lainnya, Prasasti Tugu merupakan prasasti yang terpanjang yang dikeluarkan Sri Maharaja Purnawarman. Prasasti ini dikeluarkan pada masa pemerintahan Purnawarman pada tahun ke-22 sehubungan dengan peristiwa peresmian (selesai dibangunnya) saluran sungai Gomati dan Candrabhaga.

Prasasti Tugu memiliki keunikan yakni terdapat pahatan hiasan tongkat yag pada ujungnya dilengkapi semacam trisula. Gambar tongkat tersebut dipahatkan tegak memanjang ke bawah seakan berfungsi sebagai batas pemisah antara awal dan akhir kalimat-kalimat pada prasastinya.

Teks:

pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyatam purim prapya candrabhagarnnavam yayau//
pravarddhamane dvavingsad vatsare sri gunau jasa narendradhvajabhutena srimata purnavarmmana//
prarabhya phalguna mase khata krsnastami tithau caitra sukla trayodasyam dinais siddhaikavingsakaih
ayata satsahasrena dhanusamsasatena ca dvavingsena nadi ramya gomati nirmalodaka//
pitamahasya rajarser vvidaryya sibiravanim brahmanair ggo sahasrena prayati krtadaksina//

Terjemahan:

“Dahulu sungai yang bernama Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan yang memilki lengan kencang serta kuat yakni Purnnawarmman, untuk mengalirkannya ke laut, setelah kali (saluran sungai) ini sampai di istana kerajaan yang termashur. Pada tahun ke-22 dari tahta Yang Mulia Raja Purnawarmman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji segala raja-raja, (maka sekarang) dia pun menitahkan pula menggali kali (saluran sungai) yang permai dan berair jernih Gomati namanya, setelah kali (saluran sungai) tersebut mengalir melintas di tengah-tegah tanah kediaman Yang Mulia Sang Pendeta Nenekda (Raja Purnnawarmman). Pekerjaan ini dimulai pada hari baik, tanggal 8 paro-gelap bulan dan disudahi pada hari tanggal ke 13 paro terang bulan Caitra, jadi hanya berlangsung 21 hari lamanya, sedangkan saluran galian tersebut panjangnya 6122 busur. Selamatan baginya dilakukan oleh para Brahmana disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan”

Raja-Raja yang memerintah di Kerajaan Tarumanegara (Berdasarkan sumber prasasti dan catatan sejarah)


1. Jayasingawarman (358-382)

2. Dharmayawarman/Dharmayawarmanguru (382-395)

3. Purnawarman (395-434)

4. Wisnuwarman (434-455)

5. Indrawarman (455-515)

6. Candrawarman (515-535)

7. Suryawarman (535-561)

8. Kertawarman (561-628)

9. Sudhawarman (628-639)

10. Hariwangsawarman (639-640)

11. Nagajayawarman (640-666)

12. Linggawarman (666-669 M)


Di dalam Naskah Wangsakerta, Linggawarman adalah raja terakhir Tarumanagara. Pada tahun 669, Linggawarman digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman memunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dan yang kedua bernama Sobakancana menjadi isteri Dapunta Hyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya.

13. Tarusbawa (669-723 M)


Tarusbawa yang berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa menggantikan mertuanya menjadi penguasa Tarumanagara yang ke-13. Karena pamor Tarumanagara pada zamannya sudah sangat menurun, ia ingin mengembalikan keharuman zaman Purnawarman yang berkedudukan di purasaba (ibukota) Sundapura. Dalam tahun 670 ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Wretikandayun, cicit Manikmaya, untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari kekuasaan Tarusbawa.

Karena Putera Mahkota Galuh (Sena atau Sanna) berjodoh dengan Sanaha puteri Maharani Sima dari Kerajaan Kalingga, Jepara, Jawa Tengah, maka dengan dukungan Kalingga, Wretikandayun menuntut kepada Tarusbawa supaya bekas kawasan Tarumanagara dipecah dua. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Galuh. Dalam tahun 670 M Kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu: Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batas dari
 dua kerajaan tersebut.

Kondisi Ekonomi Kerajaan Tarumanegara

Masyarakat Kerajaan Tarumanegara dalam aktivitas perekonomiannya melakukan beberapa cara seperti berburu, menangkap ikan, pertambangan, perdagangan, peternakan dan tentu yang menjadi utama adalah aktivitas pertanian. 

Aktivitas perburuan yang dilakukan masyarakat Kerajaan Tarumanegara didasari pada berita Cina yang menyebutkan adanya perdagangan cula badak dan gading gajah. Di mana kedua hewan tersebut adalah hewan liar yang tentu saja untuk mendapatkan bagian tubuh dari hewan itu harus dilakukan dengan cara berburu. Selain perburuan juga terdapat aktivitas perikanan yang dimaksudkan adalah penangkapan terhadap penyu untuk dijual kulitnya (cangkangnya). Hal ini juga berdasarkan keterangan yang diperoleh dari berita Cina di mana para saudagar-saudagar Cina amatlah menggemari kulit penyu ini. 

Masyarakat Kerajaan Tarumanegara juga melakukan aktivitas pertambangan seperti emas dan terutama adalah perak. Hal ini berdasarkan keterangan yang diberikan oleh berita Cina dan diperkuat oleh keterangan yang diberikan oleh Claudius Ptolomeus yang menyebutkan bahwa Kerajaan Tarumanegara ini sebagai penghasil perak.  Letak Kerajaan Tarumanegara yang strategis di daerah Selat Sunda menyebabkan Kerajaan Tarumanegara tentu saja terlibat aktif dalam kegiatan pelayaran dan perniagaan. Meskipun hingga sekarang tidak diketahui secara pasti teknologi pelayaran dan perkapalan yang dimiliki oleh Kerajaan Tarumanegara.

Sumber utama dari mata pencaharian rakyat Kerajaan Tarumanegara terutama adalah dalam sektor pertanian. Aktivitas pertanian ini dapat terlihat dari keterangan yang diberikan oleh Prasasti Tugu di mana raja Purnawarman meresmikan dua buah sungai yakni Chandrabraga dan Gomati yang tentu saja bertujuan untuk menunjang aktivitas pertanian.

Kehidupan Sosial-Budaya Kerajaan Tarumanegara

Kehidupan sosial-budaya Kerajaan Tarumanegara terutama bagi kalangan istana sangatlah erat kaitannya dengan budaya dan tradisi ajaran agama Hindu. Menurut keterangan yang diberikan oleh Fa-Hsien ketika berkunjung ke Kerajaan Tarumanegara menyatakan bahwa masyarakat Kerajaan Tarumanegara masih sangat dipengaruhi oleh kepercayaan asli. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam struktur sosial masyarakat terbagi menjadi dua bagian, kalangan istana dan kalangan non-istana. Meskipun terdapat pemisahan yang berkaitan dengan status sosial, dalam kenyataannya antara kalangan istana dan non-istana tidak benar-benar terpisah sama sekali.

Kehidupan Keagamaan Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara dipengaruhi oleh ajaran agama Hindu. Hal ini dibuktikan dengan penemuan arca, prasasti dan juga candi yang mendukung bahwa Kerajaan Tarumanegara menjadikan agama Hindu sebagai agama kerajaannya. Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh prasasti Tugu, Purnawarman yang meresmikan kedua terusan (Chandrabraga dan Gomati) menghadiahi para Brahmana sebanyak seribu ekor sapi. Di mana Brahmana ini sangatlah kental dengan ajaran agama Hindu.

Prasasti Ciaruteun juga menunjukkan bahwa Hindu menjadi agama Kerajaan Tarumanegara. Di dalam prasasti Ciaruteun ini terdapat dua telapak kaki yang diyakini sebagai telapak kaki raja Purnawarman. Telapak kaki Raja Purnawarman ini diyakini memiliki kesamaan dengan telapak kaki milik Dewa Wisnu dan terdapat pula tulisan vikkranta yang memiliki arti menyerang. Kata ini dikaitkan dengan triwikrama, atau tiga langkah Dewa Wisnu untuk mengelilingi dunia.

Sedangkan pada Prasasti Jambu, Raja Purnawarman disamakan dengan Dewa Indra yang dikenal sebagai Dewa Perang dan juga Purnawarman memiliki sifat-sifat Dewa Surya (Matahari). Dari keterangan-keterangan ini menunjukkan bahwa Kerajaan Tarumanegara adalah Kerajaan yang bercorak agama Hindu.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun oleh Fa-Hsien saat mengunjungi Tarumanegara pada abad ke-5, Kerajaan Tarumanegara menjadikan ajaran agama Hindu sebagai agama resmi kerajaannya, sedangkan dikalangan penduduk Kerajaan Tarumanegara terdapat pula penganut ajaran agama Buddha yang jumlahnya sangatlah sedikit, sedangkan sebagian besar penduduk Kerajaan Tarumanegara masih menganut kepercayaan lokal.

Daftar Bacaan

- Groeneveldt. W. P. 2009. Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Depok: Komunitas Bambu. 
- Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto (ed.). 2011. Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Hindu. Jakarta: Balai Pustaka.