Sejarah Perang Vietnam - ABHISEVA.ID

Sejarah Perang Vietnam

Sejarah Perang Vietnam

Perang Vietnam - Perang Vietnam merupakan salah satu dari beberapa konflik semasa Perang Dingin yang terjadi antara Amerika Serikat dan sekutunya menentang Uni Soviet dan negara-negara lainnya yang berhubungan erat dengan paham komunisme. Kedua belah pihak yang saling berperang adalah Republik Vietnam (Vietnam Selatan) dan Republik Demokratik Vietnam (Vietnam Utara). 

Di dalam perang antara kedua pihak ini, terdapat campurtangan asing antara lain; Amerika Serikat, Korea Selatan, Thailand, Australia, Selandia Baru dan Filipina bersekutu dengan Vietnam Selatan, sedangkan Uni Soviet dan Tiongkok memberikan mendukung Vietnam Utara yang merupakan negara berlatar belakang negara komunis. Di bawah ini akan dijelaskan tentang hal-hal yang menyebabkan terjadinya Perang Vietnam hingga kekalahan Amerika Serikat dalam peperangan tersebut.


Perang Vietnam yang terjadi antara tahun 1957-1975 merupakan perang yang besar sepanjang sejarah karena perang ini terhitung perang dalam kurun waktu terlama antara Vietnam dengan negara Super Power yaitu Amerika Serikat. Perang Vietnam disebut juga sebagai Perang Indocina II karena dalam peperangan ini tidak saja melibatkan negara Vietnam dengan Amerika Serikat saja namun terlibat juga dengan negara lainnya seperti negara Kamboja dan Laos. Perang ini adalah perang untuk memperjuangkan kemerdekaan Vietnam dari sikap anti asing. Sebenarnya sikap anti asing sudah ada sejak zaman kuno, namun diperuncing dengan politik kolonial Prancis yang kaku dan tak kenal peri keadilan. 

Latar Belakang Terjadinya Perang Vietnam


Perbedaan ideologi antara kedua kubu di Negara Vietnam sendiri yang akhirnya memunculkan konflik, yaitu antara  Ho  Chi  Minh  yang  menginginkan Vietnam  Selatan  berubah  haluan  menjadi komunis  dengan  kolonial  Prancis  yang memerdekan Vietnam.  Konflik inilah  yang merupakan awal mula dari Perang Vietnam I. Pada Perang Vietnam II (1960-1975), Amerika Serikat merasa perlu membantu Vietnam Selatan karena anti-komunis, dan menyebutnya sebagai bagian dari Perang Dingin

Perang Vietnam adalah sebuah titik balik yang penting dalam sejarah Amerika Serikat maupun sejarah dunia. Serangan Tet tahun 1968 merupakan peristiwa yang sangat penting pada perang tersebut. Serangan Tet sendiri adalah serangkaian operasi penyerangan pada masa Perang Vietnam yang dikoordinasi antara unsur-unsur kekuatan batalion pasukan bersenjata pembebasan rakyat atau Viet Cong. Sesudah Perang Dunia II, Amerika Serikat yakin akan perannya sebagai negara adikuasa.

Amerika Serikat yang dikenal menganut paham demokrasi liberal sehingga menerapkan sikap anti terhadap komunisme. Dengan begitu Amerika Serikat mempunyai tanggung jawab untuk mencegah berkembangnya gerakan komunisme. Menghadapi hal ini, negara Super Power tersebut tidak tinggal diam. Amerika Serikat telah menyusun sebuah strategi politik untuk menghindari serangan dari komunisme. Maka disusunlah strategi politik globalnya yang dikenal dengan istilah Containment Policy. Strategi ini dibuat oleh Amerika Serikat agar mencegah berkembangnya pengaruh suatu negara atau suatu sistem politik dari pihak lawan. 

Amerika Serikat mengatakan bahwa pihak lawan yang dimaksudkan adalah setelah berakhirnya Perang Dunia II yaitu pihak komunis dan komunisme dengan menempatkan Uni Soviet sebagai kubu utamanya. Ditambah lagi dengan munculnya berbagai pihak dari negara baru yang dianggap sebagai negara komunis yaitu RRC (Republik Rakyat Cina). Sebagaimana halnya dengan negara komunis Indocina yang berintikan gerakannya di negara Vietnam, hal ini memberikan ancaman tersendiri bagi kawasan di negara-negara Asia Tenggara. 

Gerakan komunis di Vietnam sangat erat kaitannya dengan proses perjuangan rakyat melawan bangsa asing. Keterlibatan Amerika Serikat di Vietnam ternyata telah menciptakan situasi yang tidak stabil di kawasan Indocina. Bahkan hal ini sangat mempengaruhi konstelasi ketahanan politik di wilayah Asia Tenggara. Rezim Ngu Yen Van Thiew yang berkuasa di Saigon hanyalah boneka yang korup dan hanya bisa melakukan tekanan-tekanan pada rakyatnya. Maka dari itu, gerakan komunis Indocina baik Lao Dong, Patet Lao, dan Viet Cong selalu berjuang melawan kaum nasionalis yang dipandang sebagai kaki tangan imperialisme. Perjuangan mereka ternyata tidak sia-sia, hal ini terbukti pada 1975 adalah saat yang menentukan bagi perkembangan politik di Asia Tenggara. Pada akhir konflik di Indocina 1957-1975 maka tumbanglah pengaruh Amerika Serikat dalam menghadapi kubu komunisme di Indocina.

Pengaruh Komunisme di Vietnam

Setelah berakhirnya Perang Dunia II, aliansi negara-negara adidaya di dunia terbagi menjadi dua blok. Blok Liberal (Blok Barat) yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Komunis (Blok Timur) yang dipimpin oleh Uni Soviet. Kedua blok ini saling bersaing untuk menjadi penguasa dunia. Melalui ideologi yang mereka anut masing-masing, keduanya dapat mempengaruhi negara-negara kecil untuk menerapkan sistem atau ideologi yang mereka anut. 

Persaingan antara kedua negara adi daya ini tentu mempengaruhi negara-negara lainnya, termasuk Vietnam. Dengan telah berdirinya negara komunis Cina telah sedikit banyak membuat negara-negara di kawasan Asia Tenggara terpengaruh oleh doktrin agen-agen penganut komunisme. Kesuksesan penyebaran ideologi ini juga didukung oleh strata sosial masyarakat di Asia Tenggara, yang umumnya adalah kalangan menengah kebawah dimana profesi mereka adalah para pekerja (buruh) dan juga petani.

Penyebaran ajaran komunisme yang telah mencapai keberhasilan di Cina, kemudian menyebar ke negara-negara sekitarnya, termasuk Vietnam. Ketika ideologi komunisme telah berhasil ditancapkan di Vietnam, Uni Soviet kemudian menggunakan kekuasaannya untuk memperdalam pengaruh komunisme ke dalam pelbagai lapisan masyarakat Vietnam. Hal tersebut bertujuan untuk memperkuat pengaruh komunis dan semakin meninggalkan pengaruh liberalis Amerika. 

Menanggapi hal tersebut, Amerika Serikat tidak tinggal diam. Upaya Amerika Serikat untuk menanggapi manuever Uni Soviet, yaitu dengan membentuk suatu strategi politik global yang bertujuan untuk menekan pertumbuhan komunisme di dunia. Strategi politik tersebut bernama Containment policy, yang berarti suatu politik bertujuan mencegah berkembangnya pengaruh suatu negara atau sistem politik dari pihak lawan.

Sebagaimana diketahui, Amerika Serikat sebagai tandingan Uni Soviet akan selalu berupaya menghalangi dan bahkan menghentikan berkembangnya paham komunis di seluruh dunia. Hal ini dikarenakan mereka memandang bahwa setelah terjadinya Perang Dunia II, salah satu musuh utamanya yang menghalangi Amerika Serikat untuk menjadi negara penguasa dunia hanyalah Uni Soviet dengan paham komunismenya. Oleh sebab itu, kemunculan bibit-bibit komunis di seluruh dunia harus diberantas oleh Amerika. Hal tersebut pernah dilakukan oleh Amerika Serikat di berbagai negara seperti Korea, Jerman dan kini di Vietnam. 

Perkembangan dari pengaruh komunisme di Vietnam sendiri disambut dengan antusias oleh masyarakat Vietnam. Hal ini dikarenakan topografi penduduk Vietnam yang pada saat itu berada di bawah garis kemakmuran, dan doktrin dari komunisme sendiri yang mengutamakan ‘kesetaraan’, dianggap sebagai harapan oleh masyarakat kelas bawah di Vietnam yang akan digunakan untuk memerangi penguasa dan pengusaha yang semena-mena dan menindas rakyat kecil.

Perkembangan komunisme ini bagi sebagian masyarakat Vietnam yang mempunyai pendidikan tinggi dan tuan-tuan tanah sangat menentang terhadap penyebaran komunisme yang sedang terjadi di Vietnam. Mereka bergabung dengan pemerintah kolonial Prancis yang memang pada masa itu masih mempunyai kekuatan di Vietnam untuk memerangi komunisme, dibantu dengan bantuan persenjataan dari pihak Amerika Serikat. Meskipun begitu, Prancis tetap tidak mampu untuk mengalahkan tentara Viet Minh, di mana mereka memiliki semangat yang lebih tinggi untuk dapat membebaskan diri dari cengkraman    kolonial Prancis. Tentara Viet Minh sendiri juga mendapatkan bantuan persenjataan dari pihak Uni Soviet, yang membuat tentara Viet Minh semakin kuat.

Tujuan awal Amerika Serikat mengadakan intervensi di Vietnam ditujukan untuk memerangi pengaruh komunisme, akan tetapi perkembangan selanjutnya Amerika Serikat menganggap bahwa seluruh penduduk Vietnam telah terdoktrin oleh Komunisme. Amerika Serikat menilai bahwa Ho Chi Minh dan sebagian besar rakyat Vietnam telah dipengaruhi dan dikuasai oleh komunis Cina. Padahal pada kenyataannya, komunis a’la Ho Chi Minh dengan komunis a’la Mao Zae Dong tidaklah sama. 

Bentuk komunis Ho Chi Minh dengan komunis Mao Zae Dong seringkali mengalami pertentangan, yang terutama disebabkan oleh faktor historis. Secara Historis, sebelum Vietnam berada di bawah kendali kekuasaan kolonial Prancis, Vietnam pernah mengalami kolonialisme yang dilakukan oleh Cina saat periode dinasti-dinasti selama 1000 tahun lamanya. Kembali pada pemahaman Amerika Serikat yang menganggap bahwa rakyat Vietnam telah dikuasai oleh komunisme, tindakan ini justru tidak mendapatkan simpati rakyat Vietnam. Amerika Serikat justru harus mendapatkan perlawanan dari rakyat Vietnam itu sendiri.

Bibit-bibit kolonialisme yang dibawah oleh Amerika Serikat telah disadari oleh rakyat Vietnam yang menilai bahwa Amerika Serikat sama halnya dengan negara asing lain yang akan melakukan penjajahan di tanah Vietnam. Penumpasan komunisme yang dilakukan oleh Amerika Serikat dinilai hanyalah dalih untuk mendapatkan keuntungan material dari Vietnam itu sendiri. Kondisi geografis Vietnam yang subur akan semakin membuat Amerika Serikat untuk melakukan intervensinya di Vietnam, sehingga rakyat Vietnam tergerak untuk melakukan perlawanan terhadap Amerika Serikat.

Terbentuknya Viet Cong


Kemunculan bibit-bibit negara komunis Vietnam sendiri diawali dengan lahirnya Front Pembahasan Nasional Vietnam Selatan (FPNVS) pada tahun 1960, atau yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai Viet Cong. Front ini berkembang di daerah Vietnam Selatan yang memang sedari awal berhalauan ‘kiri’ (menganut faham komunisme). Dibawah pimpinan Nguyen Huu Tho, Viet Cong mendapatkan banyak dukungan dari segala kalangan masyarakat di Vietnam Selatan. Hal ini dikarenakan gerakan tersebut mengaplikasikan prinsip-prinsip kepemimpinan dan pandai mengkomunikasikan dengan nilai-nilai budaya luhur Vietnam. Yakni ajaran-ajaran Konfusian, Budhisme dan Taoisme dengan nilai-nilai : can (rajin belajar), kiem (hemat), lien (kejujuran) dan chinh (berlaku baik).

Adapun lahirnya gerakan Front Pembahasan Nasional Vietnam Selatan (FPNVS) ini mempunyai beberapa tujuan, antara lain adalah untuk melawan rezim Saigon dan juga imperialis Amerika, menciptakan Vietnam Selatan yang sempurna netral, bebas dari campur tangan asing, ingin mempersatukan seluruh Vietnam, dan ingin memperbaiki kehidupan sosial-ekonomi yang dimanifestasikan melalui revolusi sosial.

Sebenarnya tujuan yang hendak dicapai oleh gerakan Viet Cong ini merupakan tujuan bersama rakyat Vietnam. Akan tetapi karena daerah Vietnam Utara sudah terlanjur dianggap sebagai Komunis, maka apa yang hendak dicapai oleh gerakan Viet Cong ini terganjal oleh orang-orang liberalis di daerah Vietnam Selatan. Dimana Amerika ikut andil untuk mempengaruhi rakyat Vietnam Selatan, dengan menyebutkan Viet Cong adalah bentukan negara komunis Rusia.

Disisi lain, kekuasaan Saigon yang berada di pusat memang telah menjadi kekuasaan yang berkuasa cukup lama. Akan tetapi banyak masyarakat Vietnam sendiri tidak puas. Hal tersebut dikarenakan pemerintahan Saigon yang kaku, tertutup, dan kurang memperhatikan nasib rakyat banyak. Dan juga ada indikasi bahwa kepemerintahan Saigon merupakan suatu sistem pemerintahan boneka bentukan dari Amerika (kolonial). Sehingga rakyat menyangkal keabsahan pemerintahan Saigon.

Sementara gerakan Viet Cong sendiri sudah mendapatkan tempat di hati rakyat Vietnam, dimana memang azas gerakan ini merupakan materialisme. Sehingga tidak heran bahwa pendukung dari gerakan ini adalah penduduk menengah ke bawah. Pada pertengahan tahun 1969 dilangsungkan sebuah pertemuan untuk membahas pembentukan pemerintahan menandingi pemerintahan Saigon. 

Pertemuan pembentukan pemerintahan tersebut  berlangsung di markas gerakan Viet Cong yang dihadiri oleh 88 orang anggota gerakan dan 72 orang peninjau yang berasal dari berbagai kelompok masyarakat. Dan hasilnya, terbentuklah sebuah pemerintahan yang diberi nama Pemerintahan Sementara Revolusioner Vietnam Selatan (PSRVS) yang kemudian disebut sebagai “Pemerintahan Sementara”. Sistem pemerintahan ini dilakukan melalui publikasi siaran resmi dari Hanoi. Pada tanggal 9 Juni 1969 ditetapkan sebagai berdirinya “Pemerintahan Sementara”.

Baik dari pemerintahan Saigon maupun pemerintahan Viet Cong sendiri merupakan dua kubu yang mempunyai latar belakang pertikaian. Pemerintahan Saigon yang mempunyai azas Kolonial (Liberal Amerika) dan juga Viet Cong yang berazaskan Komunis (Materialisme). Kedua faham ini akan selalu bertikai akibat dari adanya keserakahan antara salah satu pihak yang tidak ingin membiarkan saingannya berada satu langkah didepannya. Vietnam disini hanyalah sebagai korban, korban dari dua negara Adidaya yakni Amerika dengan Uni Soviet. Seperti halnya yang terjadi dengan Jerman dan Korea.

Akan tetapi, Gerakan Viet Cong sendiri berdiri seperti yang dipaparkan diatas bahwa rakyat Vietnam anti dengan intervensi asing. Mereka tidak ingin ada campur tangan pihak asing yang hanya membuat kedaulatan rakyat Vietnam terenggut. Bukan hanya itu saja, rakyat Vietnam sendiri sudah muak dengan pihak asing yang semula memberikan bantuan untuk mengusir pihak asing lain yang sebelumnya sudah ada, akan tetapi pada akhirnya mereka melakukan kolonialisasi juga di Vietnam.

Oleh sebab itu, tujuan sebenarnya oleh gerakan Viet Cong sendiri untuk membebaskan rakyat Vietnam dari kolonialisasi. Akan tetapi hal tersebut dihalangi oleh Amerika Serikat dengan menggunakan pemerintahan Saigon yang menuding gerakan Viet Cong adalah gerakan Komunis. Amerika Serikat mengadu domba pihak Intelek dan kaum borjuis yang biasanya akan sangat kontra dengan adanya Komunisme atau kesetaraan dengan rakyat menengah ke bawah yang biasanya sangat pro dan mendukung adanya gerakan kesetaraan. Gerakan Viet Cong mengalami kendala untuk bisa membebaskan Vietnam dari cengkeraman Asing. Terlebih yang terjadi adalah penduduk Vietnam terpecah belah dengan terbentuknya Vietnam Utara dann Vietnam Selatan.

Kronologi Perang Vietnam 1957-1975


Apa yang dimaksudkan dengan Perang Vietnam terbagi menjadi dua fase; fase pertama adalah perang melawan Prancis yang notabenenya adalah penguasa Semenanjung Indocina, fase kedua adalah perang melawan Amerika Serikat yang melakukan invasi terhadap Vietnam akibat kebijakan Containment Policy-nya dan 

Perang Vietnam Melawan Prancis 


Setelah Perang Dunia II, Prancis berupaya untuk menguasai kembali Vietnam yang mana Vietnam adalah ex-French Indo-Cina. Prancis menanggapi kekuatan Viet Minh yang dipimpin oleh Jenderal Vo Nguyen dengan remeh. Disisi lain Prancis nampak mengabaikan fakta bahwa tentara Viet Minh telah banyak mendapatkan dukungan yang luar biasa dari rakyat Vietnam. Hal ini dikarenakan Viet Minh telah banyak membantu kesulitan-kesulitan rakyat yang berada di pedesaan Vietnam. 

Oleh karena itu, maka perang yang dilakukan oleh Viet Minh adalah bentuk perang rakyat (people’s war), perang ini memiliki pengertian bahwa rakyat membantu dengan memberi bantuan logistik berupa makanan-makanan maupun informasi mengenai pergerakan tentara Prancis, memberi tempat penginapan dan membantu membuat persenjataan seperti granat. Prancis mendatangkan tentaranya dari Eropa dengan persenjataan yang modern dan berpengalaman dalam setiap medan peperangan. Persenjataan tentara Viet Minh berasal dari Cina, dan ada pula persenjataan yang berasal dari Prancis, Inggris dan Amerika Serikat yang diperoleh melalui pelbagai macam cara, meskipun dengan melakukan pencurian.

Setelah ideologi komunis berkuasa di wilayah RRC, senjata dari RRC kemudian mulai  mengalir ke Viet Minh. Mengalirnya persenjataan dari RRC digunakan oleh Viet Minh untuk melakukan perang gerilya terhadap Prancis yang akhirnya dapat dikalahkan dengan serbuan massal. Masa penjajahan Prancis di Vietnam selama satu abad harus berakhir oleh tentara yang baru lahir. Peperangan antara keduanya berhenti setelah diadakan perundingan di Geneva, Swiss,  di mana Prancis secara resmi menyerah dan mengundurkan diri dari Vietnam dan dibuat garis perbatasan 17’ paralel dibagian utara merupakan daerah kekuasaan Ho Chi Minh sedangkan bagian selatan termasuk Laos dan Kamboja akan disusun sebagai daerah kekuasaan Prancis. Meskipun begitu, Ho Chi Minh tetap pada keinginannya, yaitu Indocina (Vietnam Utara, Vietnam Selatan, Laos dan Kamboja) yang bebas merdeka di bawah kekuasaan komunis Vietnam. 

Perang Vietnam Selatan Melawan Amerika

Dalam upaya untuk memperkuat pengaruhnya dipelbagai penjuru dunia, Amerika Serikat membentuk pakta pertahanan militer di Asia Tenggara, Amerika Serikat membentuk Pakta Pertahanan Militer yang dikenal dengan SEATO (South-East Asian Treaty Organization). Berdasarkan SEATO Pact, apabila diadakan pemilihan umum, tentu Ho Chi Minh yang akan menang dalam pemilihan tersebut. Dikarenakan oleh sebab itulah, maka tidak diadakan pemilihan umum karena dikhawatirkan Ho Chi Minh akan menduduki pemerintahan. 

Di sisi lain, Ngo Din Diem yang telah diangkat menjadi pemimpin Vietnam Selatan tidak dapat menciptakan stabilitas dalam pemerintahannya. Pada tahun 1959 sudah terdapat aktivitas gerilya yang dilakukan oleh Viet Chong yang berkekuatan 5000 orang. Perlu dipahami bahwa Sepertiga dari Vietnam Selatan telah berada dalam kekuasaan Viet Chong. 

Di Laos, Pathet Lao yang tengah berkuasa dibantu oleh Vietnam Utara, sebab Pathet Lao adalah seorang komunis. Pada tahun 1963, Amerika Serikat telah menempatkan pasukannya sebanyak 1600 orang untuk membangun dan melatih tentara Vietnam Selatan (ARVN/Army of the Republic of Vietnam) untuk membantu stabilitas politik dan pemerintahan di Vietnam Selatan. Stabilisasi di Vietnam Selatan akan dilakukan melalui “landreform” yang berarti akan diadakannya suatu pemindahan penduduk dari daerah ke desa-desa yang dibuat seperti benteng. Jenderal Nguyenh Kanh yang menguasai Vietnam Selatan setelah jatuhnya Dien didampingi oleh Jendral William Westmoreland dari Amerika Serikat.

Setelah terjadi insiden di Teluk Tonkin pada 2 Agustus 1964, yaitu ketika kapal perang Amerika Serikat, Maddox diserang oleh kapal-kapal Vietnam Utara, yang berada sejauh 13 mil dari sebuah pulau di Vietnam, Kongres Amerika Serikat kemudian memutuskan untuk memberi kuasa kepada Presiden Amerika Serikat untuk melakukan serangan udara di Vietnam Utara dan mempergunakan tentara Amerika Serikat dalam jumlah besar. Berdasarkan saran yang diberikan oleh Jenderal Amerika Serikat, Curtis Le May, maka dilakukan pengeboman dalam jumlah besar di daerah-daerah Vietnam Utara dan Selatan yang ditujukan kepada basis-basis militer Vietnam, terkecuali Hanoi dan Haiphong.

Dalam Perang Vietnam selama 4 tahun, Amerika Serikat setidaknya telah menjatuhkan bom sebesar 2,5 juta ton. Strategi perang udara yang diterapkan oleh Amerika Serikat di Eropa tidak ampuh di Vietnam. Viet Minh dan Vietcong meniru taktik yang dilakukan oleh Jepang, dengan cara membuat terowongan di dalam tanah yang merupakan markas tempat kumpulan senjata dan makanan. Lubang-lubang ini dibuat sedemikian rupa supaya tidak terlihat dari udara dan tahan dari pengeboman yang dilakukan oleh pihak lawan. Melalui cara tersebut, maka dengan cepat pasukan gerilya dapat berkumpul dan mengadakan serangan mendadak di suatu tempat.

Perlu diketahui bahwa hal yang menjadi faktor-faktor dari kemenangan yang Viet Minh dan Viet Cong didasarkan pada semangat juang yang tinggi, rela mati untuk lepas dari intervensi asing dan selain itu mendapatkan dukungan sepenuhnya dari rakyat di desa-desa, yang mana hal ini tentu saja tidak terdapat pada tentara Vietnam Selatan yang dibangun oleh Amerika Serikat. Tentara Vietnam Selatan selalu dengan segera melarikan diri apabila mendengar adanya serangan dari tentara Viet Minh, jadi, lari sebelum bertempur. Tentara Vietnam Selatan sangatlah mengandalkan pada persenjataan yang modern dan mengandalkan kekuatan tentara Amerika Serikat yang selalu mendampingi mereka. 

Pada tahun 1967 tentara Amerika Serikat yang dikerahkan ke Vietnam telah mencapai 500.000 prajurit. Mengetahui hal itu, Uni Soviet dan RRC segera menyalurkan senjatanya ke tentara Viet Minh dan Viet Cong, begitu pula terdapat banyak senjata Amerika yang dijual oleh tentara Vietnam Selatan kepada orang-orang Viet Cong. Di Amerika Serikat, banyak rakyat Amerika banyak merasa gelisah dan khawatir atas peperangan yang terjadi di Vietnam. Hal ini disebabkan banyak keluarga mereka yang menjadi tentara dan dikirim ke Vietnam telah tewas akibat pertempuran, dan terlebih lagi Amerika Serikat dianggap telah menghamburkan anggaran yang menyebabkan terjadinya inflasi. 

Kronologi Kejadian Perang Vietnam 


Akibat dari Perjanjian Jenewa yang berlangsung pada 20 Juli 1954, Vietnam terbagi atas dua bagian, yakni Vietnam bagian utara dengan faham ideologi komunisme yang didukung oleh Cina dan Rusia dan Vietnam bagian selatan dengan ideologi kapitalisme yang didukung oleh Prancis. Ketergantungan yang teramat oleh negara-negara pendukungnya, membuat kedua bagian Vietnam tidak dapat berdiri sendiri. Saat Prancis yang harus mengakui kemerdekaan Vietnam, Laos dan Kamboja (isi Perjanjian Jenewa) maka, hal tersebut membuat kuwalahan Vietnaa, terutama bagian selatan. Sedangkan Vietnam bagian utara, masih mendapat sokongan dari sekutunya. Sehingga, Amerika Serikat mulai mengirimkan bantuan ekonomi dan militer ke Vietnam bagian selatan pada awal tahun 1950-an. 

Perdana menteri baru, Ngo Dihn Diem, memproklamasikan “Republic of Vietnam (RVN) di selatan dan menggabungkan kekuatan dengan persetujuan Amerika Serikat. Korban pertama dalam Perang Vietnam adalah Mayor Dale Bus dan Sergant Chester Ovnand yang terbunuh di Ben Hoa pada tahun 1959. Di bawah pimpinan Hanoi, Komunis Vietnam selatan membentuk The Liberation Front (NLF) sebagai kekuatan sayap politik di selatan yang revolusioner dan PLAF atau yang dipanggil dengan nama “vietcong” oleh Vietnam Selatan dan Amerika.

Pada bulan Januari 1961, Presiden John F. Keneddy mengkonfirmasi janji Amerika Serikat untuk mempertahankan kebebasan dunia. Dalam kenyataannya, kebebasan dunia yang diinginkan Amerika adalah kebebasan dari paham komunis yang notabene cukup ditakutkan oleh Amerika Serikat. Sehingga pada bulan Oktober, Keneddy meningkatkan asisten militer kepada Diem dan memasukkan lebih banyak pasukan militer di Vietnam Selatan yang awalnya hanya berjumlah 900 orang, sudah berjumlah 3.205 orang pada bulan Desember 1961. 

Pada tahun berikutnya, tepatnya pada bulan Februari 1962, berlangsung penurunan 12 ribu pasukan militer ke lapangan tersebut bertujuan untuk membantu penyukseskan Program Desa Strategis. Program ini adalah sebuah program yang dicanangkan oleh pemerintah Amerika Serikat dalam rangka meningkatkan kapabilitas para petani di Vietnam Selatan, yang ketika itu berasaskan demokrasi, dalam menangkal serangan-serangan yang dilancarkan oleh Vietnam Utara, yang berideologikan sosialis komunis. Dalam pelaksanaan program ini, Amerika Serikat mensubsidi bantuan dana dan fasilitas persenjataan bagi 16 ribu desa di kawasan Vietnam Selatan.
Dana dan fasilitas tersebut, selain digunakan latihan pertahanan diri, juga dilakukan untuk membentuk benteng pertahanan wilayah. Pada November 1963, Ngo Dihn Diem dan saudaranya, Ngo Dihn Nhu, dibunuh atas perintah Presiden John F. Keneddy karena melakukan kudeta terhadap Amerika Serikat. Kudeta ini disebabkan pihak Amerika Serikat yang memberhentikan bantuannya karena sikap keotoriteran pada masa pemerintahan Diem. 

Jenderal William Westmoreland menggantikan Jenderal Harkin sebagai komandan untuk kekuatan militer Amerika Serikat di Vietnam dan pada Desember 1963 mendatangkan sebanyak 16.300 pasukan militer. Juli 1964, kapal patroli Vietnam Utara dituduh menyerang kapal perusak milik Amerika Serikat, Maddox (kapal Amerika Serikat), yang berada di Teluk Tonkin. Belum sempat dibuktikan kebenarannya, pihak militer Amerika Selatan melakukan serangan pertama kepada Vietnam Utara sebagai balas dendam. 

Aksi tersebut dilakukan dengan mengebom wilayah Vietnam Utara. Tidak hanya itu, langkah tersebut dilanjutkan dengan pengesahan Resolusi Teluk Tonkin. Adapun isi dari resolusi tersebut adalah pemberian izin bagi Presiden Amerika Serikat, Lyndon Baines Johnson, untuk mengeluarkan kebijakan apapun berkaitan dengan upaya pencegahan tindakan agresi lanjutan, yang mungkin dilakukan oleh pihak Vietnam Utara.

Tidak terima dengan perlakuan Amerika Serikat yang semena-mena, pada Desember 1964 hingga Februari 1965 Tentara Rakyat Vietnam, menyerang pangakalan militer Amerika Serikat di Pleiku. Dengan semangat peperangan, pada Februari, Amerika Serikat melakukan serangan balasan melakukan sejumlah pengeboman ke wilayah utara. Serangan ini dikenal dengan nama Rolling Thunder Operation

Sejak saat itu, Perang Vietnam resmi dimulai dan pertempuan terus berlangsung secara intens. Lambat laun, jumlah korban jiwa yang jatuh pun tidak dapat disembunyikan. Pada Desember 1964 pasukan Amerika mencapai 23.300 personil. Bahkan pada Maret 1965, sebesar dua batalion pasukan tempur Amerika Serikat tiba di Vietnam yang bertugas menjaga pangkalan udara Amerika Serikat di Da Nang. Pertempuran lainnya terjadi di Lembah Ia Dong, Operasi Air Terjun Cedar serta Persimpangan Kota. 

Oktober 1967, tercatat 50.000 demonstran melakukan gerakan anti-perang atau demo di Pentagon guna mengakhiri perang antara Amerika Serikat dengan Vietnam. Memasuki akhir tahun 1967, kekuatan Amerika Serikat mencapai 485.000 personil. Walaupun kapabilitas militer yang dimiliki Tentara Vietnam Utara dapat dikatakan tertinggal, namun kelompok ini memiliki taktik perang yang jitu, yakni dengan bergerilya ke hutan-hutan dan pembuatan terowongan bawah tanah, yang semakin hari semakin membuat pasukan Amerika Selatan kewalahan. 

Meski demikian, Vietnam Utara berhasil menyita pusat marinir Amerika Serikat di Khe Sahn pada Januari-April 1968. Perimintaan penambahan pasukan militer dilakukan, namun ditolak oleh Sekretaris baru dari Pertahanan Clifford. Hingga pada bulan Mei 1968 berlangsung pembicaraan damai antara Vietnam Utara dan Amerika Serikat di Paris meskipun tidak ada kesepakatan yang dibuat. Demo anti-perang terus bergulir yang kali ini bertepatan dengan Konvensi Nasional Demo Chicago pada Agustus 1968.

Memasuki tahun 1969, Presiden Amerika Serikat baru, Richard Nixon, memilih untuk mengambil jalan damai. Berbagai cara lunak ditempuhnya tidak membuat Vietnam Utara bersedia duduk di meja perundingan. Kesabaran Amerika Serikat mencapai batasnya. Nixon memerintahkan pengeboman tanpa kenal batas ke wilayah Vietnam Utara pada tahun 1973. 

Tidak disangka, semangat Tentara Vietnam Utara tetap tidak surut. Kejadian ini pun mendorong Nixon untuk mengeluarkan kebijakan Vietnamisation, tentara Amerika Serikat akan ditarik mundur dan digantikan dengan Tentara Republik Vietnam. Alasannya, Nixon mendapati fakta di lapangan bahwa akibat durasi peperangan yang terlalu lama, banyak pasukan militer Amerika Serikat yang kehilangan moral dan mengalami stress berat. 

Tentu saja, kebijakan Amerika Serikat tersebut membuat Tentara Vietnam Utara dan kelompok komunis di Vietnam Selatan berhasil menguasai Saigon hanya dalam beberapa bulan saja, yakni pada 30 April 1975. Peristiwa inilah yang kemudian menandakan kekalahan Amerika Serikat atas Vietnam Utara. Kekalahan Amerika Serikat atas Vietnam ini telah menjadikan Vietnam sebagai negara yang berhaluan komunis.