Sejarah Reformasi Gereja di Eropa - ABHISEVA.ID

Sejarah Reformasi Gereja di Eropa

Sejarah Reformasi Gereja di Eropa


Sejarah Reformasi Gereja di Eropa - Reformasi Gereja di Eropa mulai terjadi di Eropa sekitar abad ke-15 - 16. Memasuki abad ke-16 di Eropa, perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangan intelektual sejak digaungkannya Renaissance telah menunjukkan beberapa hasil yang besar bagi perkembangan umat manusia, salah satunya adalah perubahan yang terjadi dalam bidang keagamaan. 

Sebagaimana yang terjadi selama Abad Pertengahan di Eropa, pelbagai sendi kehidupan manusia diatur dan dikontrol secara ketat oleh pihak gereja. Oleh karena itulah akal pikiran manusia berada dalam pengaruh dari doktrin gereja. Hal ini menyebabkan manusia tidak dapat berpikir dan bertindak bebas sesuai dengan apa yang ia pikirkan dan inginkan.


Dominannya kekuasaan gereja harus runtuh setelah terjadinya Renaissance di Eropa pada abad ke-15. Gereja pada masa awal Renaissance ini telah dipukul mundur dari pelbagai sendi kehidupan manusia, terkecuali hal yang berkaitan dengan agama. Meskipun begitu, lambat laun, kekuasaan gereja terhadap kehidupan keagamaan, terdeteksi terdapat beberapa penyimpangan yang telah dilakukan oleh kalangan agamawan. Pelbagai penyimpangan inilah yang memunculkan suatu reformasi di dalam gereja itu sendiri. Di bawah ini akan dijelaskan tentang latar belakang kemunculan Reformasi Gereja di Eropa di mana akan dijelaskan pula tentang proses dari Reformasi Gereja serta dampaknya bagi umat manusia.

Latar Belakang Reformasi Gereja


Gerakan Reformasi Gereja pertama kali dimulai pada abad ke-16 di wilayah Eropa Barat. Di mana wilayah Eropa Barat inilah Renaissance tumbuh dan berkembang dengan suburnya, sehingga telah melahirkan banyak kaum pemikir yang bersikap kritis terhadap pelbagai permasalahan. Reformasi ini terjadi dikarenakan telah banyaknya penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam agama Kristen. 

Beberapa penyimpangan keagamaan itu antara lain; Paus sebagai bapak suci  telah berperilaku amoral yang menyangkut hubungannya dengan wanita seperti Alexander VI di mana ia memiliki delapan anak haram dari hasil hubungannya dengan wanita simpannya.

Penyimpangan selanjutnya adalah tentang adanya penjualan surat pengampunan dosa yang disebut surat aflat (indulgence). Surat pengampunan itu dijual kepada mereka yang tidak dapat ikut dalam Perang Salib antara abad 11-13. Kebiasaan penjualan indulgence  kemudian dilakukan untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan gereja. 

Selain itu juga dilakukan penyogokkan oleh pemuka agama kepada petinggi gereja agar mereka memperoleh kedudukan sosial keagamaan yang tinggi. Serta adanya penyimpangan terhadap acara sakramen suci atau ritus pemujaan terhadap benda-benda keramat (relik) atau tokoh-tokoh suci yang nantinya akan menimbulkan takhayul yang tidak masuk akal, seperti para pastor yang semata-mata merupakan manusia yang memiliki sifat yang sama dengan yang lainnya menganggap dirinya keramat.

Reformasi Gereja ini terjadi akibat banyaknya ketidakpuasan terhadap perilaku Gereja Katolik Roma pada saat itu. Ketidakpuasan ini terutama terjadi di Bohemia, Inggris, Jerman dan di tempat-tempat yang lain yang terutama di daerah yang pernah tergabung dalam kekuasaan Kekaisaran Romawi Suci. Para pemimpin gereja pada masa itu hidup secara munafik dan banyak diantaranya yang bertentangan dengan ajaran yang terdapat dalam Kitab Suci. 

Rakyat menyaksikan kerusakan moral gereja yang mana bahkan diantaranya telah melebihi kerusakan moral dalam kalangan orang biasa. Akan tetapi, rakyat tidak berhak untuk mengkritik karena adanya anggapan bahwa para pemimpin gereja adalah wakil Tuhan dan rakyat harus mentaati mereka. Keadaan inilah yang membuat orang-orang mulai meninggalkan gereja, namun mereka tetap terikat oleh gereja sebab adanya pandangan yang mengatakan bahwa keselamatan hanya terdapat di dalam gereja sedangkan di luar gereja pasti binasa.

Oleh karena telah terjadinya Renaissance di Eropa, maka dengan ini pun telah mendorong semangat untuk melakukan perubahan dalam perilaku gereja yang selama ini dianggap telah menyimpang dari ajaran-ajaran kitab suci. Reformasi Gereja secara tidak langsung telah mendorong dan menginisiasi terjadinya paham liberalisme dan kebebasan berpikir. 

Jika dirincikan, beberapa penyebab terjadinya Reformasi Gereja adalah sebagai berikut;
1. Banyaknya penyimpangan keagamaan. 
2. Korupsi atas nama negara.
3. Pajak-pajak yang memberatkan karena ambisi kekuasaan kaum bangsawan lokal.
4. Kebangkitan nasionalisme di Eropa.
5. Perkembangan kapitalisme dan krisis-krisis ekonomi dikawasan imperium Roma.
6. Berkembangnya paham humanisme.
7. Keinginan untuk membebaskan diri dari kepemimpinan Paus terhadap kehidupan beragama di negara-negara Eropa. 


Proses Terjadinya Reformasi Gereja


Perlu diketahui bahwa awal terjadinya Reformasi Gereja ini muncul atau terjadi di Jerman. Terdapat banyak faktor yang menyebabkan terjadinya Reformasi Gereja di Jerman yaitu; sekitar abad 15-16 Jerman masih merupakan negara agraris yang terbelakang jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya. Di Jerman juga semakin menguatnya pengaruh Katolisisme yang bersifat konservatif. Selain itu juga  maraknya praktik penjualan surat-surat pengampunan dosa (indulgence) di Jerman yang jumlahnya melebihi negara-negara Eropa lainnya, sebagian besar rakyat Jerman yang berprofesi sebagai petani yang merupakan kelompok sosial yang paling menderita akibat kekuasaan Katolisisme dengan adanya pajak-pajak yang sangat memberatkan rakyat.

Faktor utama yang paling mendasari terjadinya reformasi di Jerman adanya fase transisi ekonomi di Jerman di mana pada waktu itu telah terjadi proses perubahan dari masyarakat feodal menuju masyarakat ekonomi profit atau menuju masyarakat kapitalis. Dari sinilah muncul Marthin Luther yang dengan pemikiran-pemikirannya itu kemudian terlahir sebuah Reformasi Gereja yang pada perkembangannya tidak hanya berkembang di Jerman melainkan meluas pula ke wilayah-wilayah lainnya di Eropa.

Tokoh-Tokoh yang mendorong terjadinya Reformasi Gereja


1. John Wycliff
2. Desiderius Erasmus
3. Martin Luther
4. Johannes Calvin
5. Ulrich Zwingli

Dampak Reformasi Gereja


Dampak dari adanya Gerakan Reformasi Protestan yang terjadi di Eropa, terutama yang dibawa oleh Martin Luther dan Johannes Calvin telah membawa pengaruh dalam berbagi aspek kehidupan di Eropa; pertama, adalah dampak sosial dan politik terhadap Eropa, terutama Eropa Barat pada umumnya. Dengan adanya Reformasi Gereja di Eropa telah menimbulkan Western Christendom yang menyebabkan munculnya negara-negara nasional kecil di Eropa tanpa memiliki pusat kekuasaan atau gembala politik seperti lembaga Kepausan Roma. 

Reformasi Protestan telah menumbuhkan benih-benih demokratisasi dalam politik, kesadaran individual akan pentingnya hak-hak politik, dan kebebasan individu. Hal itulah kelak menjadi dasar  bagi munculnya gerakan-gerakan demokratisasi yang anti kekuasaan totaliter dan juga memunculkan keberanian rakyat untuk selalu melakukan kontrol terhadap kekuasaan.

Di sisi lain, dengan adanya gerakan reformasi Protestan ini juga lahirnya kekuasaan absolut di Eropa. Banyaknya pertikaian antara Calvinisme dengan Katolik, peperangan saudara dan penghancuran karya-karya seni, patung, dan juga lukisan yang berbau Katolisisme. Reformasi Gereja juga telah menyebabkan terjadinya pembantaian massal dalam peristiwa berdarah pada malam St. Bartholomeus tahun 1572 di Prancis. Di Belanda pun pada tahun 1566 -1648 terjadi pemberontakan petani yang menolak membayar pajak dan akhirnya oleh pangeran Philip mereka semua dibantai. Setelah pembantaian ini para pengikut Protestan dianggap pengkhianat dan selama enam tahun terjadi teror dan pembunuhan terhadap kaum Protestan.

Kedua, Reformasi  Gereja telah menyebabkan segregasi atau terbelahnya agama Kristen menjadi sekte-sekte kecil. Sekte-sekte itu antara lain adalah; Lutherisme, Calvinisme, Anglikanisme, Quakerisme, Katholisisme. Apabila ditinjau dari segi doktrin-doktrin fundamentalnya, sekte-sekte itu tidak memiliki prinsip yang berbeda, tetapi dengan timbulnya sekte-sekte itu telah menyebabkan keretakan yang cukup serius dalam Agama Kristen. 

Akibat munculnya sekte-sekte ini, Eropa terbelah secara keagamaan; Jerman Utara dan negara-negara Skandinavia (Swedia dan Norwegia), menganut Lutheranisme; Skotlandia, Belanda, Switzerland dan Prancis menganut Calvinisme; dan negara-negara Eropa lainnya seperti Spanyol dan Italia menganut Katolisisme (Ortodoks).