Sejarah Revolusi Amerika - ABHISEVA.ID

Sejarah Revolusi Amerika

Sejarah Revolusi Amerika


Sejarah Revolusi Amerika - Revolusi Amerika adalah suatu bentuk perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme Inggris yang terjadi pada abad ke-18. Pada abad ke-16, bangsa Eropa telah berhasil mencapai berbagai tempat di penjuru dunia dan mulai melakukan eksplorasi terhadap “dunia baru”. Memasuki abad ke-17 bangsa Eropa mulai menancapkan kekuasaannya di daerah-daerah di luar negerinya baik yang berada di benua Asia, Afrika dan tidak terkecuali di Amerika. 

Bangsa Eropa yang dikenal cukup aktif dalam aktivitas kolonialisme dan imperialismenya antara lain, Prancis, Belanda, Spanyol, Portugis dan Inggris. Inggris sebagai salah satu negara Eropa yang berupaya untuk mencari komoditas perdagangan di daerah penghasil sumber daya, mulai mendirikan koloninya di berbagai wilayah di mana mereka singgah, tak terkecuali Amerika.

Revolusi Amerika


Kolonisasi ini berasal dari keinginan sejumlah serikat dagang untuk menanamkan modal di Amerika Utara. Keinginan itu didukung sepenuhnya oleh parlemen Inggris. Dukungan itu berupa pemberian wewenang kepada serikat untuk menanamkan modal dan juga mendirikan koloni di utara Amerika. Selain serikat dagang, kaum  puritan memegang peranan penting dalam kolonisasi di utara Amerika. Kaum puritan adalah kelompok orang yang melaksanakan norma-norma Protestan secara ketat dan tertutup. Prinsip mereka bertentangan dengan ajaran yang ditetapkan oleh Gereja Anglikan yang berlaku di Inggris. Karena mendapatkan tekanan, kaum puritan bermigrasi ke utara Amerika. Mereka membangun koloni dengan tetap mempertahankan aturan hidup beragama yang ketat di tempat yang baru. Di bawah ini akan dijelaskan tentang sejarah terjadinya Revolusi Amerika. 

Peranan pihak swasta (serikat dagang) dan kelompok-kelompok terbuang (kaum puritan) dalam pendirian koloni membuat koloni-koloni Inggris di utara Amerika berciri otonom sejak awal. Meskipun tetap menjadi bagian dari Kerajaan Inggris, koloni-koloni ini tidak dapat begitu saja tunduk pada aturan pemerintah Inggris. Setiap koloni berkembang sesuai kekhasannya masing-masing. Di bawah ini adalah koloni-koloni awal yang terbentuk di utara Amerika:

(1) Koloni Virginia

Nama koloni Virginia dipilih sebagai penghormatan tterhadap Ratu Inggris, Elisabeth I yang dijuluki The Virgin Queen. Koloni ini didirikan pada tahun 1607, oleh serikat dagang dari London, Virginia Bay Company. Koloni ini berawal dari koloni kecil Jamestown (mengambil nama raja Inggris, James II). Setelah koloni berkembang, aturan hukum dan moral diberlakukan secara ketat. Gubernur Virginia bernama Sir George Yeardley dan Dewan Perwakilan Koloni Virginia bernama House of Burgeses

Kebangkrutan yang dialami oleh Virginia Bay Company dan berbagai persoalan social mengakibatkan Virginia langsung di bawah kekuasaan Kerajaan Inggris sejak tahun 1624. Perlu diketahui, bahwa Dewan Perwakilan Koloni Virginia inilah yang nantinya menjadi perintis terbentuknya Negara Amerika Serikat. 

(2) Koloni Maryland

Nama koloni Maryland diambil dari nama Ratu Perancis, Henrietta Maria, kawan karib Raja Inggris Charles I. Koloni ini didirikan oleh perusahaan perorangan yang dipimpin oleh Lord Baltimore. Keluarga Baltimore mendominasi pemerintahan koloni. Sejak tahun 1715, Maryland langsung berada di bawah kekuasaan Kerajaan Inggris.

(3) Koloni New England

Koloni ini berawal dari koloni kecil Plymouth, yang didirikan oleh kelompok pilgrims (pelarian gereja Anglikan Inggris) di bawah pimpinan William Bradford. Sejak tahun 1691, serikat dagang Massachusetts Bay Company mengembangkan Plymouth menjadi koloni yang lebih besar dengan nama New England. Nama ini dipilih oleh John Smith sebagai penghormatan terhadap Dewan New England di Inggris yang mengizinkan Massachusetts Bay Company membuka usaha di Amerika Utara. Warga Plymouth berperan membuat New England menjadi koloni yang stabil dan terbebas dari campur tangan Inggris. New England kemudian kelak menjadi pusat kegiatan perjuangan kemerdekaan Amerika Serikat.

(4) Koloni New York

Koloni ini dirintis oleh serikat dagang dari belanda bernama Nieuw Amsterdam. Pada tahun 1664, koloni ini di bawah kekuasaan Duke of York (York adalah nama wilayah di Inggris). Sejak Duke of York menjadi Raja Inggris dengan gelar James II, status New York langsung di bawah kekuasaan Kerajaan Inggris.

(5) Koloni Pennsylvania

Koloni ini dirintis oleh kelompok Quaker, di bawah pimpinan William Penn. Ciri Quaker yang liberal membuat Pennsylvania menjadi koloni yang otonom, dinamis, dan makmur melebihi koloni lainnya. Pennsylvania pun ikut berperan dalam perjuangan kemerdekaan Amerika Serikat.

Kelima koloni pertama ini kemudian menjadi awal mula dari perkembangan selanjutnya di mana Koloni yang terletak di sepanjang pantai timur Amerika Utara mencapai 13 koloni. Sehingga koloni yang dibangun oleh Inggris (Britania Raya) antara lain; Connecticut, Delaware, Georgia, Maryland, Massachussetts Bay, New Hampshire, Virginia, New York, New Jersey, North Carolina, Pennsylvania, South Carolina, dan Rhode Island. Ketiga belas koloni itu menghasilkan barang-barang yang tidak tersedia dipasaran eropa, namun sangat dibutuhkan antara lain; tembakau, gula, kapas dan lain-lain. 

Setelah peperangan yang terjadi antara Prancis dan Inggris selama tahun 1756-1763 di mana kemenangan berada ditangan Inggris, Inggris mulai memberlakukan pelbagai macam pajak yang sangat memberatkan bagi koloni Amerika. Pajak-pajak yang sangat memberatkan itulah yang menjadi sebab utama dari terjadinya perang kemerdekaan Amerika. Di bawah ini akan dijelaskan tentang Perang Kemerdekaan Amerika menuju terbentuknya kemerdekaan Amerika Serikat pada tahun 1776.

Latar Belakang Revolusi Amerika


Di bawah ini adalah faktor yang melatarbelakangi terjadinya Perang Kemerdekaan Amerika;

Faktor pertama, Jajahan Inggris di Amerika tidak didirikan oleh pemerintah Inggris, tetapi diciptakan oleh pelarian-pelarian agama yang tidak tahan hidup di Inggris karena agamanya dilarang oleh Pemerintahan Inggris. Mereka keluar dari Inggris untuk mencari kebebasan hidup dan mendarat di Amerika. Yang terkenal di antara mereka adalah The Pilgrimfathers yang mendarat pada tahun 1620 dengan kapal “Mayflower” dan mendirikan Massachusetts. Orang Amerika sekarang menganggap The Pilgrimfathers ini sebagai pendiri-pendiri Amerika. Karena itu orang-orang Amerika sangat mencintai kemerdekaan dan kebebasan. Tetapi Inggris menganggap Amerika itu tidak lebih dari sekedar tanah jajahannya.

Faktor kedua, Inggris memerintahkan, bahwa hasil bumi Amerika (tembakau, gula, dan kapas) boleh dijual kepada Inggris dan orang-orang Amerika hanya diperbolehkan membeli barang-barang kebutuhan hanya kepada Inggris saja, hal ini merupakan salah satu langkah monopoli perdagangan yang dilakukan oleh inggris untuk mengisi kas negaranya. Dengan demikian harga dapat dipermainkan oleh Inggris. Orang-orang Amerika juga menganut faham kebebasan dalam bidang perdagangan juga, dan orang Amerika menentang peraturan Inggris yang demikian.

Faktor ketiga, Sejak maraknya ekspedisi dari Eropa ke Amerika, bangsa Inggris dan Perancis kemudian bersaing memperebutkan wilayah dan pengaruhnya di Amerika Utara. Kedua Negara tersebut sama-sama mendirikan koloni. Sampai abad ke-18, telah berdiri koloni Perancis di Kanada dan Louisiana. Kedua koloni tersebut dipisahkan oleh koloni-koloni Inggris. Persaingan antara Inggris dan Perancis meningkat menjadi konflik terbuka ketika Perancis bermaksud menduduki wilayah disebelah barat koloni Inggris dalam rangka menghubungkan Kanada dan Louisiana. Apabila pendudukan itu terjadi, dapat mengancam eksistensi koloni Inggris.

Konflik antara Inggris dan Perancis memuncak dalam Perang Tujuh Tahun (Seven Years Wars) yang meletus antara 1756-1763. Dalam perang itu, warga koloni sepenuhnya mendukung Inggris, baik secara ekonomi maupun militer. Perang Tujuh Tahun berakhir setelah Inggris merebut Quebec yang menandakan kemenangan Inggris atas Perancis. Setelah perang berakhir,
Inggris membutuhkan uang untuk mengisi kekosongan kas negara yang disebabkan karena biaya Perang Tujuh Tahun (1756-1763). Hal ini memaksa koloni di Amerika untuk membayar pajak yang berat, karena Inggris menganggap Perang Tujuh Tahun itu juga merupakan perluasan daerah dan perlindungan bagi Amerika.

Setelah Perang Tujuh Tahun berakhir, wilayah kekuasaan Inggris di Amerika Utara semakin luas. Sehingga pemerintah Inggris mengeluarkan sejumlah kebijakan baru untuk mempertahankan pengaruhnya. Dengan kebijakan baru itu, pemerintah bermaksud mengikutsertakan koloni dalam menanggung beban keuangan yang harus ditanggung oleh Inggris pasca-perang. Kebijakan baru tersebut ternyata mengundang reaksi berupa kritik dan protes dari para koloni Inggris di Amerika Utara.

Kebijakan baru yang dikeluarkan pemerintah Inggris, antara lain adalah:

1. Sugar Act, atau Undang-Undang Gula (1764), aturan pajak yang dikenakan pada berbagai jenis gula yang masuk ke dalam wilayah koloni.

2. Stamp Act, atau Undang-Undang Materai (1765), aturan bea materai yang dikenakan pada dokumen resmi dan barang cetakan lainnya yang beredar di wilayah koloni.

3. Townshend Act, Undang-Undang Townshend (1767), aturan pajak yang dikenakan pada timah, cat, kertas, gelas, dan teh impor.

4. Tea Act, Undang-Undang Teh (1773), aturan yang memberi proteksi kepada EIC (East Indis Company) dalam perdagangan teh di koloni sehingga mematikan usaha pedagang setempat.

Kebijakan baru pemerintah Inggris mendapatkan penolakan dari pihak koloni. Penolakan yang dilakukan oleh pihak koloni berdasarkan alasan tidak adanya perwakilan koloni di dalam Parlemen Inggris. Bagi warga koloni, pihak yang berhak menarik pajak bukanlah pihak kerajaan, melainkan rakyat koloni itu sendiri yang  diwakili oleh suatu Dewan Perwakilan Koloni. Pentingnya dewan perwakilan bagi koloni tampak dari slogan No Taxation without Representation (tolak pajak tanpa perwakilan).

Penolakan keras dari warga koloni berkembang menjadi sikap radikal menentang Kerajaan Inggris. Sikap radikal itu adalah sebagai berikut:

1) Propaganda dan pemogokan yang dipelopori oleh kelompok Sans of Liberty, di bawah pimpinan Samuel Adams.

2) Pemboikotan terhadap barang dari Inggris oleh para importer koloni.

3) Pesta Teh Boston (1773)

Pada tahun 1770, menjamur perdagangan ilegal sehingga sebagian besar teh yang dikonsumsi Amerika berasal dari negeri asing, diimpor secara ilegal, dan bebas pajak dengan menjual tehnya melalui agennya sendiri dengan harga lebih rendah dari harga pasar, perusahaan Hindia Timur membuat penyelundupan menjadi tidak menguntungkan dan pada saat yang sama mengancam hilangnya pedagang-pedagang kolonial independen dan dapat mengganggu kestabilan ekonomi koloni. Didorong bukan saja oleh perdagangan teh, tetapi juga praktek monopoli pedagang-pedagang kolonial turut bergabung dengan kaum radikal bergerak untuk kemerdekaan.

Pada tahun 1773 Perusahaan Hindia Timur yang kuat berada dalam situasi keuangan yang sulit. Perusahaan ini lantas minta tolong kepada Inggris yang memberinya monopoli atas semua teh yang diekspor ke koloni. Pemerintahan Inggris juga mengizinkan perusahaan tersebut memasok para pengecer secara langsung, dengan meleawati pedagang grosir koloni yang sebelumnya menjual komoditas itu. 

Pada tahun 1773 berlabuhlah tiga kapal Inggris yang bermuatan teh di Boston untuk Amerika. Atas teh ini Amerika harus membayar pajak juga kepada Inggris. Orang Amerika tidak mau menerima karena harus membayar pajak itu. Pada malam hari tanggal 16 Desember 1773 orang-orang Amerika menyamar menjadi orang Indian Mohawk dan dipimpin oleh Samuel Adams menaiki tiga kapal Inggris yang sedang berlabuh dan melemparkan teh-teh itu kedalam laut didekat pelabuhan Boston. Mereka mengambil langkah ini karena mereka takut jika teh tersebut sampai mendarat, maka penduduk koloni akan terpaksa membayar pajak dan membeli teh tersebut. Pemerintahan Inggris pun marah lalu menghukum orang-orang Boston. Orang Amerika diwilayah lainnya kemudian membela Boston dan pecahlah perang antara Inggris dan jajahannya di Amerika (1774) yang dipimpin oleh George Washington.

Revolusi Amerika: Perang Kemerdekaan Amerika (1774-1776)


perang kemerdekaan amerika


Sikap keras pemerintah Inggris tidak menyurutkan perjuangan penduduk koloni Amerika. Pada bulan Oktober 1774, suatu dewan yang merupakan wakil dari 13 koloni bertemu di Philadelphia. Dewan itu bernama The Continental Congress. Di dalam pertemuan itu, kongres menghasilkan dua keputusan berikut:

1. Menghentikan hubungan dagang dengan Inggris, jika pemerintah Inggris tidak menghapuskan aturan pajak yang menyulitkan warga koloni.

2. Menyerukan agar setiap koloni mempersiapkan warganya berlatih perang. Dalam pertemuan itu belum muncul tuntutan untuk merdeka.

Thomas Paine, seorang pemikir politik dan penulis menerbitkan pamflet setebal 50 halaman, bertajuk Common Sense(akal sehat) pada tahun 1774. Dalam jangka waktu tiga bulan, 100.000 kopi pamflet terjual habis. Ia menyatakan bahwa seorang lelaki yang jujur jauh lebih berguna bagi masyarakat jika dibandingkan dengan orang-orang yang mau menjadi kaki-tangan Inggris. Thomas Paine memberikan pilihan agar terus tunduk kepada raja tiran dan pemerintahan atau kebebasan dan kebahagiaan sebagai republik yang merdeka dan mandiri. Common Sense yang beredar di seluruh koloni, makin membulatkan tekad untuk memisahkan diri.

Pertempuran pertama terjadi antara Inggris dan orang-orang Amerika di Lexington, kemudian di Boston. Inggris memerintahakan Kanada untuk membantu Inggris tetapi ditolak. Inggris menyerbu kanada untuk memaksa orang-orang di Kanada, dan timbulah juga pertempuran-pertempuran yang terjadi di Kanada dengan pihak Inggris, hal demikian membuka kesempatan George Washington untuk mengatur tentaranya. Kemudian pasukan Inggris terus mendesak hingga ke Concord. Pihak Amerika berhasil membawa sebagian besar amunisi, namun pasukan Inggris menghancurkan apa saja yang tersisa. Sementara itu pasukan Amerika dipinggiran kota dimobilisasi, bergerak ke arah Concord dan menyebabkan banyak kerugian pada pihak Inggris, yang sedang mulai perjalanan panjang pulang itu. Ketika pasukan yang kelelahan ini tiba di Boston, jumlah yang tewas dan luka di pihak Inggris mencapai lebih dari 250. Pihak Amerika sendiri kehilangan 93 orang.

Dalam suasana bentrokan antara pasukan Inggris dan milisi koloni, serta adanya
tanda bahaya dari Lexington dan Concord, maka The Continental Congress yang kedua kembali mengadakan pertemuan di Philadelphia, Pennsylvania, pada tanggal 10 Mei 1775. Pada tanggal 15 Mei 1775 The Continental Congress memutuskan untuk berperang dengan pihak Inggris. The Continental Congress  menyatukan milisi koloni dalam satu komando yang disebut Continental Army dan menunjuk kolonel George Washington dari Virginia sebagai pemimpin tertinggi pasukan Amerika.  Sementara itu , Amerika untuk bergerak ke arah utara , menuju Kanada pada musim gugur. Walaupun pada akhirnya Amerika dapat menguasai Montreal, mereka gagal dalam serangan musim dingin di Quebec, dan akhirnya terpaksa mundur ke New York.

Terlepas merambambaknya konflik senjata, pemikiran pemisahan sepenuhnya dari Inggris masih belum bisa diterima bagi sebagian anggota The Continental Congress. Tuntutan merdeka mulai muncul dari sejumlah wakil koloni. Pada bulan Juli, John Dickinson menulis sebuah resolusi, yang dikenal dengan nama Petisi Ranting Zaitun (Olive Branch Petition) , yang memohon kepada raja untuk mencegah tindakan-tindakan permusuhan lebih lanjut hingga tercapai kesepakatan bersama. Petisi yang ditulis oleh Joh Dickinson ini disepakati oleh The Continental Congress mengeluarkan Olive Branch Petition, yang menyatakan kesetiaan kepada Inggris sekaligus mendesak kepada Raja George III memperhatikan tuntutan koloni.  

Petisi yang dikeluarkan oleh The Continental Congress tidak dihiraukan oleh Raja George III. Pada tanggal 23 Agustus 1775, mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebut koloni –koloni berada dalam situasi pemberontakan. Sikap Raja George III itu rupa-rupanya membuat anggota koloni ingin segera memisahkan diri dari Kerajaan Inggris. Sementara itu, warga koloni juga harus menghadapi gempuran pasukan Inggris yang lebih berpengalaman dalam peperangan. 

Inggris mengaharapkan koloni-koloni di selatan untuk tetap setia kepada Inggris, sebab sebagian  dari koloni itu memiliki ketergantungan pada perbudakan. Banyak orang di koloni-koloni di selatan ini khawatir bahwa pemberontakan terhadap negeri induk akan memicu pemberontakan pada budak melawan majikannya, para tuan tanah perkebunan. Kenyataannya pada bulan November 1775, banyak rakyat Virginia yang semula tergolong kaum Loyalis beralih menjadi pendukung kaum pemberontak. Gubernur North Carolina, Josiah Martin, juga membujuk rakyatnya untuk tetap setia kepada kerajaan Inggris. Namun, ketika 1500 orang milisi North Carolina yang menyatakan setia terhadap Inggris sudah dipukul oleh pasukan revolusioner sebelum bantuan dari pasukan Inggris tiba untuk menolong.

Kapal perang Inggris terus menyusuri pesisir pantai hingga ke Charleston, South Carolina, dan menembaki kota pada permulaan juni 1776. Tapi rakyat South Carolina sudah lama bersiap siaga, dan berhasil mengusir Inggris pada akhir bulan itu juga. Kapal-kapal Inggris itu tidak kembali lagi ke selatan sampai lebih dari dua tahun lamanya.

Revolusi Amerika: Declaration of Independence (1776)


Pada awalnya, belum semua anggota di dalam The Continental Congress setuju untuk memisahkan diri dari Kerajaan Inggris. Pada kesempatan itu, tampil empat anggota The Continental Congress yang terus menggelorakan semangat untuk merdeka. Mereka adalah Thomas Jefferson, John Adams, James Wilson, dan Alexander Hamilton. Kampanye yang mereka lakukan berhasil meyakinkan seluruh anggota The Continental Congress sepakat untuk merdeka. Pada tahun 1775 The Continental Congress menyatakan sikap tidak lagi mengakui wewenang Parlemen Inggris dalam bentuk apapun di dalam koloni.

Di sisi lain di dalam peperangan, untuk mencetuskan deklarasi secara resmi, dibutuhkan kesepakatan dari semua koloni maka pada tanggal 10 Mei 1776 (setahun setelah pertemuan pertama The Continental Congress II) dilaksanakan sebuah resolusi yang meminta pemisahan diri. Sekarang yang dibutuhkan hanyalah deklarasi resmi. Pada tanggal 7 Juni 1776, Richard Henry Lee dari Virginia mencetuskan sebuah resolusi yang menyatakan; ”Bahwa Serikat Koloni adalah negara-negara bagian yang bebas dan independen, karena secara hak mengharuskan demikian…..”.  Pada 10 Juni 1776 The Continental Congress membahas resolusi Richard Henry Lee. Koloni Virginia mengeluarkan resolusi di hadapan Kongres yang menegaskan hak koloni untuk merdeka sebagai suatu Negara serikat.

Pada tanggal 17 Juni 1776 The Continental Congress membahas resolusi Richard Henry Lee untuk menjadi bagian dalam rancangan deklarasi kemerdekaan. Pada hari yang sama, sebuah komite yang terdiri dari lima orang, dipimpin oleh Thomas Jefferson dari Virginia, ditunjuk untuk menyiapkan secepatnya sebuah deklarasi secara resmi. Pada tanggal 2 Juli 1776 The Continental Congress menyetujui rancangan deklarasi kemerdekaan. Setelah rumusan akhir deklarasi kemerdekaan selesai, Deklarasi itu ditandatangani oleh John Hancock, Presiden Kongres pada tanggal 4 Juli 1776.

Deklarasi kemerdekaan sebagian besar merupakan karya Jefferson, yang dikumandangkan tanggal 4 Juli 1776, bukan saja mengumandangkan kelahiran sebuah negara baru, tapi juga mencanangkan sebuah filosofi kebebasan manusia. Deklarasi ini diangkat dari filosofi politik Prancis dan aliran Pencerahan Inggris. Tapi satu hal yang sangat mempengaruhinya adalah karangan John Locke “Second Treatise of Government”. John Locke mengambil konsep hak-hak tradisional orang Inggris dan menjadikannya sebagai hak-hak asasi seluruh umat manusia. Alinea Deklarasi Kemerdekaan yang sangat dikenal adalah pernyataan dari teori kontrak sosial John Locke tentang pemerintahan:

“Kami berpegang teguh pada kebenaran-kebenaran ini, bahwa semua manusia diciptakan sederajat, bahwa mereka dianugerahi pencipta-Nya Hak-Hak Asasi yang melekat, diantaranya adalah kehidupan,kemerdekaan dan hak untuk mencapai kebahagiaan. Untuk melindungi hak-hak ini, Pemerintah, dibentuk diantara orang-orang, kekuasaan mereka berasal dari yang diperintah, sehingga kapan saja sebuah Bentuk Pemerintahan menjadi bersifat merusak terhadap tujuan-tujuan ini menjadi Hak Rakyat untuk menggantinya atau menghapuskanna, dan membentuk Pemerintah baru, yang berlandaskan prinsip-prinsip tertentu dan yang mengatur kekuasaannya dalam bentuk tertentu, sehingga bagi orang-orang hal ini dinilai paling bisa menjamin Keselamatan dan Kebahagiaan mereka.”

Dalam deklarasi tersebut, Thomas Jefferson menghubungkan prinsip John Locke dengan situasi yang ada di koloni-koloni. Untuk berjuang demi kemerdekaan Amerika, sama dengan berjuang untuk mendapat suatu pemerintahan yang berdasarkan kerjasama sebagai ganti sebuah pemerintah yang dipimpin seorang raja yang telah ”dengan satu dan lain cara menjadikan kita subjek kekuasaan hukum asing diluar konstitusi kita, dan yang tidak diakui oleh hukum kita.....” Maka, berjuang demi kemerdekaan Amerika adalah berjuang atas nama hak-dasar seseorang. Pada tanggal 8 Juli 1776 deklarasi kemerdekaan diumumkan dihadapan warga koloni di lapangan State House.

Deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat (Declaration of Independence) termasuk salah satu dokumen terpenting dalam sejarah kemanusiaan karena menegaskan pengakuan hak asasi manusia. Menurut dokumen tersebut, semua manusia tanpa kecuali mempunyai hak asasi, termasuk hak untuk mengganti bahkan menggulingkan pemerintahan yang menindas hak asasi warganya.

Pengakuan hak asasi manusia dalam deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat terlihat dalam paragraph yang berbunyi semua manusia sama-sama memiliki hak yang tidak dapat diganggu gugat, yaitu hak hidup, bebas, dan mengejar kebahagiaan. Pemerintah dibentuk dan berwenang untuk melindungi hak asasi itu atas persetujuan rakyat.

Amerika Serikat menyadari, perlindungan terhadap hak asasi manusia akan terjamin apabila pemerintahan berlangsung demokratis. Alasannya, dalam demokrasi pemerintah bukan memperoleh kekuasaannya dari dan untuk dirinya sendiri, melainkan dari dan untuk rakyat. Pemerintah hanya berkuasa setelah mendapat mandat dari rakyat.

Di dalam usaha untuk membentuk pemerintahan yang demokratis, The Continental Congress mengeluarkan Articles of Confederations (Undang-Undang Negara Serikat). Undang-Undang ini berfungsi sebagai pedoman penyelenggaraan Negara sampai konstitusi terbentuk. Untuk sementara, The Continental Congress berkedudukan sebagai penyelenggara Negara atau pemerintah tanpa mengurangi otonomi negara bagian.

Revolusi Amerika: Articles of Confederation (1777)


Para koloni Amerika setelah memproklamasikan kemerdekaan pada 4 Juli 1776, rakyatnya memerlukan suatu hukum/konstitusi yang tetap untuk dijadikan pedoman hidup dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. The Continental Congress sejak 10 Mei 1774 telah mengeluarkan resolusi yang menyarankan kepada koloni-koloni untuk membentuk pemerintahan baru yang akan mendatangkan kebahagian dan keamanan bagi warga negaranya.

Para founding fathers seperti Benjamin Franklin, Thomas Jefferson, George Washington, John Adams berusaha menyusun konstitusi Amerika Serikat yang mencakup perlindungan hak-hak asasi manusia (HAM), kebebasan berbicara, berkumpul, kebebasan pers. Konstitusi tersebut mendukung struktur pemerintahan yang bercabang tiga, yaitu bidang eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang kekuasaannya saling membatasi dan mengimbangi satu sama lainnya.

Kongres dari negara-negara bagian menyetujui dan menerima rencana konfederasi dan terbentuklah The United States of America ( USA). Negara yang mengakui pertama secara de facto adalah Prancis (1778) yang kemudian membantu Amerika Serikat melawan Inggris dengan mengirimkan jenderal Lefayette ke Amerika. Tindakan Prancis ini disebabkan oleh:

1. Prancis ingin membalas dendam kepada Inggris, karena dulu kalah perang terhadap Inggris dalam Perang Tujuh Tahun.

2. Hasil diplomasi Benjamin Franklin di Eropa. Di mana hasilnya kemudian adalah pada tahun 1776, Spanyol membantu Amerika Serikat mengumumkan perang terhadap Inggris. perlu diketahui, bahwa motif Spanyol mendeklarasikan peperangan terhadap Inggris adalah ingin mendapatkan lagi Gibraltar dan Florida). Dengan bantuan-bantuan demikian kedudukan Amerika Serikat menjadi kuat.

Articles of Confederations menjamin otonomi setiap koloni, yang setelah merdeka berstatus sebagai Negara bagian (states). Undang-Undang itu mengatur batas yang jelas antara hak Negara bagian dan Kongres. Batasan tersebut adalah sebagai berikut:

1) Setiap Negara bagian memiliki hak satu suara dalam Kongres, tanpa mempedulikan luas wilayah dan jumlah penduduk.

2) Kongres tidak berhak memungut pajak, mengatur perdagangan, dan ikut campur dalam urusan internal Negara bagian.

3) Kongres berhak menangani hubungan luar negeri, mengumumkan status perang dan damai, membangun angkatan perang, serta meminjam uang.

Setelah 10 tahun merdeka, muncul persaingan antara kelompok Republik pimpinan Thomas Jefferson dan kelompok Federalis pimpinan Alexander Hamilton. Kelompok Republik memperjuangkan kebebasan seluas-luasnya bagi Negara bagian, sedangkan kelompok Federalis menghendaki pemerintahan pusat sebagai penyelenggara pemerintahan.

Konflik yang semakin berkembang mendesak Kongres untuk mengganti Articles of Confederations dengan undang-undang yang baru. Pada tahun 1787, Kongres menyelenggarakan pertemuan di Philadelphia. Tujuan pertemuan ini adalah menyusun Konstitusi Amerika Serikat. Pertemuan berhasil menyatukan kesepakatan kelompok Republik dan Federalis. Akhirnya, pada tahun 1788, Kongres mengesahkan Konstitusi Amerika Serikat. Konstitusi yang disusun oleh James Madison terdiri atas 12 amandemen dan 10 amandemen pertama yang disebut dengan Bill of Right karena memuat pengakuan hak warga negara dan negara-negara bagian.

Revolusi Amerika: Perang Kemerdekaan Amerika Serikat (1776-1783)


Meskipun Amerika Serikat mengalami banyak pukulan berat selama berbulan– bulan setelah kemerdekaan di deklarasikan, kekerasan hati dan ketabahan mereka akhirnya membuahkan hasil. Selama bulan Agustus 1776, dalam petempuran Long Island di New York, posisi Washington tak bisa dipertahankan, dan dia terpaksa memberikan perintah mundur secara besar – besaran dalam perahu– perahu kecil dari Brooklyn ke pantai Manhattan. Jenderal Inggris, William Howe, sampai dua kali merasa ragu–ragu hingga membiarkan orang–orang Amerika melarikan diri. Namun, pada bulan November, Howe berhasil menduduki benteng Washington di pulau Manhattan. Kota New York tetap berada di bawah kekuasaan Inggris hingga akhir peperangan.

Pada bulan Desember, pasukan yang dipimpin oleh George Washington nyaris runtuh saat persediaan dan bantuan yang di janjikan gagal terpenuhi. Tapi Howe sekali lagi melewatkan peluang untuk mengganyang Amerika dengan memutuskan menuggu hingga musim semi tiba guna melanjutkan peperangan. Sementara itu, George Washington menyeberangi sungai Delaware, di utara Trenton, New Jersey. Pada dini hari tanggal 26 Desember, pasukan George Washington melakukakan serangan tiba-tiba ke Garnisun di Trenton dan menawan lebih dari 900 orang. Pada tanggal 3 Januari 1777, George Washington menyerang Inggris di Princeton dan merebut kembali sebagian besar wilayah yang secara resmi diduduki oleh Inggris. Kemenangan-kemenangan di Trenton dan Princeton mengobarkan kembali semangat juang Amerika.

pertempuran trenton dan princeton
Pertempuran Trenton dan Princeton sebagai titik balik bagi kemenangan pasukan koloni.
Pada tahun 1777, Howe berhasil mengalahkan pasukan Amerika di Brandywine, Pennsylvania, dan menduduki Philadelphia, sehingga memaksa The Continental Congress bubar. George Washington harus menjalani musim dingin yang sangat menyiksa pada tahun 1777 sampai 1778 di Valleyforge, Pennsylvania. Pasukannya kekurangan makanan, pakaian, dan persediaan yang lainnya. Pasukan Amerika menderita kekurangan, ini bukan karena kekurangan pasokan, melainkan para petani dan kaum pedagang lebih suka menukarkan barang-barang dagang mereka dengan emas dan perak Inggris ketimbang uang kertas yang di keluarkan oleh kongres kontinental dan negara – negara bagian. 

Valleyforge menjadi titik paling rendah dalam perjuangan pasukan Kontinental Washington, tapi pada tahun 1777 tejadi titik balik dalam perang tersebut. Pada tahun 1776, jendral Inggris, John Burgoyne, merancang suatu rencana untuk menyerang New York dan New England lewat danau Champlaim dan sungai Hudson. Malangnya, ia membawa peralatan perang yang terlalu berat untuk dapat melintasi medan berhutan dan berawa. Di Oriskany, New York, sekelompok Loyalis dan orang – orang Indian di bawah komando Burgoyne berpasangan dengan pasukan Amerika kawakan yang bergerak. Di Bennington, Vermont, banyak dari pasukan Burgoyne, yang sangat membutuhkan pasokan, bertemu pasukan Amerika. Pertempuran yang terjadi cukup lama menghambat pasukan Burgoyne hingga memberi kesempatan bagi Washington untuk mengirim bala bantuan dari arah hilir sungai Hudson, dekat Albani New York. 

Pada saat Burgoyne kembali bergerak maju, pasukan Amerika sudah menuggunya. Dipimpin oleh Bendict Arlond yang telah mengkhianati Amerika di Westpoint, New York pasukan Amerika berhasil dua kali memukul mundur Inggris. Burgoyne surut ke Saratoga New York. Di mana pasukan Amerika di bawah pimpinan Jenderal Horatio Gates langsung mengepung pasukan Inggris. Pada tanggal 17 Oktober 1777 Burgoyne akhirnya menyerah bersama seluruh pasukannya. Inggris kehilangan 6 Jenderalnya, 300 perwira lain dan 5500 prajurit. 

Pembentukan aliansi internasional sebenarnya tidak menjamin sepenuhnya kemenangan Amerika terhadap Inggris. Akan tetapi, bantuan Internasional tersebut memiliki peran yang cukup besar bagi tumbuhnya semangat juang pasukan kontinental Amerika. Hal ini terbukti sejak tahun 1780, pasukan Amerika berhasil mengalahkan pasukan Inggris di berbagai pertempuran. Walaupun daerah Carolina, Charleston, dan Virginia sempat dikuasai oleh Inggris, akan tetapi pada pertempuran berikutnya pasukan Inggris berhasil dikalahkan oleh pasukan gabungan Amerika dan Perancis. Gabungan pasukan George Washington dan Rochambeau yang berjumlah 15.000 orang berhasil mengalahkan pasukan Inggris di bawah pimpinan Lord Cornwalis di daerah Yorktown, pantai Virginia. Akhirnya pada tanggal 19 Oktober 1781, jenderal Inggris, Cornwallis menyerah dengan 7000 tentaranya di Yorktown kepada George Washington dan Lefayette, kemudian perang berakhir dan perjanjian perdamaian dilaksanakan di Paris, Prancis.

Battle of York town

Hasil Perjanjian Paris tahun 1783 Berisi tentang pengakuan Inggris terhadap kemerdekaan dan kedaulatan 13 koloni menjadi negara merdeka yaitu Amerika Serikat. Selain itu, Inggris juga menyerahkan daerah bagian barat Mississippi kepada negara baru tersebut. Sesudah peperangan berakhir, kongres Amerika kemudian mengusulkan agar 13 negara bagian menyerahkan kembali hak milik kaum moderat/loyalis yang dulu pro terhadap Inggris yang selama peperangan disita oleh kaum milisi. Pasca perang negara baru ini mulai berkonsentrasi untuk menyusun pemerintahan nasional yang dapat menaungi seluruh aspirasi rakyat Amerika.

Pengaruh Revolusi Amerika


Revolusi Amerika merupakan peristiwa besar  di dalam sejarah umat manusia. Di mana revolusi itu mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi dunia, diantaranya sebagai berikut:

(1) Revolusi Amerika bukan hanya sekedar untuk mengusir penjajahan Inggris, tetapi untuk mempertahankan kebebasan dan penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia.

(2) Revolusi Amerika melahirkan pemerintahan demokratis yang menjamin kedaulatan rakyat dan melindungi hak-hak warga Negara.

Pengaruh Revolusi Amerika mulai meluas di dataran Eropa. Selain karena asal-usul warga Amerika berasal dari Eropa, Revolusi Amerika muncul berdasarkan gagasan-gagasan para pemikir Eropa, seperti John Locke, Rosseau dan Montesquieu. Gagasan pemikir tersebut menjadi sumber inspirasi deklarasi kemerdekaan, undang-undang Negara serikat, dan tata pemerintahan di Amerika Serikat.

Pengaruh Revolusi Amerika di Eropa muncul dalam bentuk gerakan rakyat yang menginginkan diterapkannya sistem demokrasi dan perlindungan hak-hak asasi manusia. Pada saat itu, di Eropa berlaku sistem pemerintahan monarki. Pemerintahan monarki semakin dirasakan tidak adil karena hanya menguntungkan pihak penguasa (raja, para bangsawan dan rohaniawan).

Kesewenangan pemerintahan monarki dan keberhasilan dari Revolusi Amerika telah menjadi inspirasi rakyat Eropa untuk bergerak melawan pemerintahan monarki.Puncaknya pada 14 Juli 1789, pecah Revolusi Perancis untuk menggulingkan pemerintahan Raja Louis XVI. Selain di Eropa, pengaruh Revolusi Amerika juga meluas ke Amerika Selatan. 

Revolusi Amerika juga telah mendorong rakkyat di kawasan tersebut untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan Spanyol dan Portugis. Di dalam Revolusi Amerika Selatan itu, muncul tokoh seperti Simon Bolivar yang merintis kemerdekaan Bolivia, Venezuela, Kolombia, Ekuador, dan Peru. Tokoh revolusi Amerika Selatan lainnya adalah Jose de San Martin yang memelopori kemerdekaan Argentina. 

Demikianlah penjelasan singkat tentang sejarah Revolusi Amerika yang terjadi pada tahun 1776.