Sejarah Revolusi Industri di Inggris - ABHISEVA.ID

Sejarah Revolusi Industri di Inggris

Sejarah Revolusi Industri di Inggris


Sejarah Revolusi Industri di Inggris- Revolusi Industri (British Industrial Revolution) yang terjadi pada abad ke-18 di Inggris telah menyebabkan perubahan besar dalam sistem perekonomian dunia di kemudian hari. Selayaknya pengertian revolusi, revolusi merupakan perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan ataupun melalui kekerasan, tetapi pada umumnya bentuk pertama yang sering terjadi. Sebelum Revolusi Industri di Inggris terjadi, dunia secara umumnya berada pada kondisi dengan perubahan yang sangat lamban dalam bidang teknologi dan perdagangan. 

Sebelum abad ke-18 sistem perekonomian masyarakat Eropa sangat bergantung pada sistem dan sektor ekonomi agraris. Akan tetapi, setelah memasuki abad ke-18 terjadi perubahan besar dalam pola hidup masyarakat Eropa. Perubahan tersebut ditunjukkan dengan mulai digunakannya tenaga mesin sebagai alat produksi di pabrik-pabrik menggantikan tenaga manusia dan hewan. Perubahan semacam inilah yang disebut dengan Revolusi Industri. Di bawah ini akan dijelaskan tentang proses terjadinya Revolusi Industri di Inggris.


Latar Belakang Terjadinya Revolusi Industri


Perlu diketahui bahwa kondisi kehidupan sosial ekonomi Eropa sebelumnya terjadinya Revolusi Industri sangat mempengaruhi munculnya momentum ini di Inggris. Kehidupan sosial ekonomi Eropa pada masa sebelum terjadinya Revolusi Industri ditandai dengan berkembanganya tata kehidupan agraris yang bercorak Feodal. Kondisi yang terjadi di Eropa ini mulai berubah ketika meletus perang salib (1096-1291) yang memberi ruang hubungan antara negara-negara Eropa dengan dunia Timur. Kebutuhan yang sama akan barang-barang keperluan hidup antara kedua wilayah ini mendorong terbentuknya hubungan perdagangan. Hal tersebut juga mendorong kota-kota dagang Eropa seperti Florence, Venesia, Genoa, dan lain-lain. Ekspansi perdagangan memicu tumbuhnya pusat-pusat kota. Florence menjadi salah satu kota terbesar di Italia dengan kemakmurannya karena manufaktur dan perdagangan tekstil.

Munculnya kota-kota dagang ini kemudian diikuti dengan munculnya usaha-usaha industri bersekala kecil yang disebut industri rumah tangga (home industry). Hingga tahun 1200, industri rumah tangga semakin berkembang dengan terbentuknya gilda. Gilda adalah persekutuan industri rumah tangga sejenis hak yang mendapat monopoli dan perlindungan pemerintah. Tahun 1350, di Eropa mulai terbentuk perserikatan kota-kota dagang yang disebut hansa. Hansa dimaksudkan untuk melindungi usaha perdagangan secara mandiri. Dengan pekembangan ini, Eropa mulai memasuki tahap masyarakat industri yang digerakkan oleh sektor perdagangan. Di Inggris, sejak abad ke-14 berada bawah Raja Edward III mulai melakukan pembangunan industri-industri laken (sejenis kain wol). Revolusi di Inggris Semenjak Eropa memasuki Abad Renaissance, ilmu pengetahuan telah berkembang pesat. Para ilmuwan menciptakan penemuan baru.

Terdapat perbedaan pandangan mengenai kapan terjadinya Revolusi Industri di Inggris, salah satunya adalah Campbell yang mengatakan bahwa istilah “Revolusi Industri” diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Lous-Auguste Blanqui di pertengahan abad ke-19. Terkait kapan dimulainya Revolusi Industri di Inggris pun tidak jelas tetapi T. S. Ashton menulisnya sekitar tahun 1760-1830. Sehingga tidak ada titik pemisah antara Revolusi Industri I dengan Revolusi Industri II yang terjadi sekitar 1850, ketika kemajuan teknologi dan ekonomi mendapatkan momentum dengan perkembangan kapal tenaga-uap, rel, dan kemudian di akhir abad tersebut perkembangan mesin berbahan bakar dan perkembangan pembangkit tenaga listrik. 

Revolusi Industri dapat dikatakan sebagai suatu peristiwa yang mengubah sistem ekonomi agraris menjadi sistem ekonomi industri yang menggunakan tenaga mesin sebagai alat produksinya, menggantikan tenaga manusia dan tenaga hewan. Sebelum dikenal alat-alat mekanis dan otomatis, masyarakat Eropa bekerja dengan menggunakan alat-alat manual (menggunakan tenaga manusia) dan masih mengandalkan kecepatan kedua tangan dan kaki. Artinya, alat-alat tersebut tidak akan berfungsi dan bekerja jika tidak ada tangan atau kaki. Alat-alat yang dimaksud antara lain; cangkul, parang, sekop, gergaji, pisau, pengukur, palu, penenun, pemintal, pancung, jala, pendayung, dan lain-lain.

Sebab-sebab dan Jalannya Revolusi Industri


Revolusi Industri pertama kali di Eropa terjadi di  Inggris. Kemudian pada awal abad ke-19, Revolusi Industri mulai tersebar ke negara-negara Eropa lainnya dan negara-negara di benua Amerika. Di bawah ini adalah sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya Revolusi Industri tersebut adalah sebagai berikut: 

(1) Keamanan di Inggris yang dinilai telah mantap. Mantapnya keamanan negara di Inggris pada sekitar abad ke-18, sehingga dapat menjamin seluruh segi kehidupan masyarakat Inggris pada saat itu. begitu pula dengan sistem ekonomi, masyarakat Inggris yang sangat tenang dan tanpa rasa takut menjalankan roda perekonomian mereka.

(2) Telah dimulainya perkembang kegiatan kewiraswastaan dan manufaktur. Perkembangan masyarakat Eropa sebelum Revolusi Industri hidup dalam sisitem perdagangan yang masih menggunakan uang dan sisitem barter. Kegiatan-kegiatan produksi dilakukan di rumah-rumah atau kerajinan rumah (home industry). Di Prancis dikenal dengan istilah gilda, yaitu bengkel kerja dan pusat usaha. Setiap orang yang akan memesan barang-barang dapat menghubungi gilda. 

Alat-alat yang dihasilkan oleh gilda adalah alat rumah tangga, alat kerja pertanian, dan sebagainya. Gilda baru bekerja apabila ada pesanan. Perkembangan gilda selanjutnya adalah munculnya minat yang luar biasa dari masyarakat Inggris terhadap tempat pengolahan yang lebih memadai seperti pabrik. Maka muncullah kegiatan ekonomi manufaktur dimana pekerja tidak lagi bekerja di rumah-rumah melainkan di tempat-tempat khusus yang disediakan pengusaha sebagai tempat produksi.

(3) Inggris memiliki kekayaan alam terutama batu bara dan bijih besi. Kekayaan sumber daya alam tersebut telah membantu Inggris dalam mengembangkan industrinya karena batu bara dan bijih besi sangat diperlukan dalam proses produksi. Batu-batu dijadikan sebagai bahan bakar mesin-mesin dan bijih besi diperlukan untuk industri berat. Kekayaan alam tersebut ditunjang oleh kemampuan dan keinginan manusiannya. Orang Inggris terkenal sebagai orang yang rajin dan tekun dalam penelitian alam. 

Kemampuan dan keuletan yang dimiliki oleh bangsa Inggris itu di dukung oleh beberapa lembaga yang ada. Lembaga-lembaga yang mendorong ataupun mensponsori kegiatan Inggris tersebut ada dua lembaga yang bernama The Royal for Improving Natural Knowledge yang didirikan oleh pemerintah Inggris pada tahun 1662 dan The French Academy of Science yang didirikan pada 1666 oleh pemerintah Inggris. Kedua lembaga tersebut mensposori kegiatan-kegiatan eksplorasi alam, sehingga dengan adanya lembaga-lembaga ini telah mendorong terjadinya penemuan-penemuan baru di kemudian hari.

(4) Inggris memiliki banyak memiliki daerah jajahan. Sejak dimulainya era penjelajahan samudera, Kerajaan Inggris pada abad ke 18 memiliki banyak daerah jajahan yang tersebar di benua Afrika dan Asia. Daerah-daerah jajahan inilah yang mendukung kegiatan industri Inggris, karena daerah-daerah jajahan tersebut dapat menyediakan bahan baku yang diperlukan oleh kepentingan industri di Inggris. Selain sebagai tempat bahan baku, daerah-daerah jajahan itu dapat dijadikan sebagai tempat pemasaran hasil-hasil industri Inggris.

(5) Revolusi Agraria pada abad ke-17. Kondisi yang ada pada masyarakat di Inggris yang tengah dilanda gejolak turut melatarbelakangi terjadinya Revolusi Industri di negara tersebut, gejolak yang dimaksud adalah Revolusi Agraria. Revolusi Agraria disebabkan oleh perkembangan kerajinan pakaian wol, yang dengan sendirinya meningkatkan permintaan bulu domba. Dari hal itu, usaha di bidang wol sendiri menjadi sangat menarik, maka tanah pertanian diubah menjadi peternakan domba. Untuk keperluan peternakan domba tersebut, tanah para bangsawan yang tersebar letaknya dikumpulkan dengan cara ditukar-tukar dengan tanah milik petani. Tanah yang berupa tanah padang rumput itu dipagari dan digunakan sebagai penggembalaan domba. Perubahan fungsi tanah menjadi lahan peternakan pun disebabkan harga gandum yang turun. 

Perubahan tersebut mempunyai dampak terhadap para petani. Sebelumnya, pada saat tanah pertanian masih diusahakan mereka bekerja sebagai petani penyewa. Sebab tanah di Inggris pada dasarnya adalah milik raja bangsawan. Sejak tanah itu diubah menjadi lahan peternakan jumlah pekerja yang dibutuhkan relatif sedikit. Akibatnya, banyak para petani beralih kerja sebagai pekerja di tambang batu bara dan pabrik-pabrik tekstil. Ada pula yang pergi ke kota yang mencari kerja disana. Namun, lapangan kerja terbatas dan akhirnya muncul gelandangan. Munculnya gelandangan menjadi masalah tersendiri bagi pemerintah. Pada saat perkembangan industri sangat pesat di perkotaan, pemerintah dapat menanggulangi masalah gelandangan dengan menjadikan sebagai buruh.

(6) Revolusi Agung 1688. Revolusi ini menandai berakhirnya kekuasaan absolut raja dan mulai berkuasanya kelas kaya di Parlemen yang dapat menentukan arah kebijakan negara. Sehingga Inggris menjelma menjadi negara dengan sistem monarki konstitusional. Dengan begitu, maka dapat jelaslah terlihat bahwa kebijakan yang dibuat di Inggris kini telah mengalami pergesaran, dari yang sebelumnya untuk kepentingan aristrokrasi, namun kini untuk kepentingan borjuasi.

(7) Kemunculan paham ekonomi liberal. Faktor lain yang mendorong lahirnya Revolusi Industri adalah perekonomian. Sejak abad ke-17, dunia peradagangan dan pelayaran di Inggris berkembang sangatlah pesat. Perkembangan itu dibuktikan oleh berdirinya kongsi-kongsi dagang. Kongsi-kongsi dagang Inggris, seperti EIC (East India Company), Virginia Co., Plymouth Co., Massachusets Bay Co., dan lain lain. Maka para kongsi dagang tersebut memperoleh keuntungan dari penanaman modalnya di Inggris dan daerah lainnya. Sebagian besar dari keuntungan itu ditabung di Bank, sehingga secara keseluruhan aktivitas mereka memberi kesejahteraan bagi Kerajaan Inggris. Gejolak masyarakat lainnya adalah munculnya paham ekonomi liberal. Tokoh-tokoh yang mengembangkannya paham ini adalah Adam Smith, Thomas Robert Malthus, David Ricardo, dan John Sturart Mill. 

Paham ekonomi liberal ini muncul sebagai reaksi terhadap paham ekonomi merkantilisme yang melahirkan sistem ekonomi yang diatur oleh pemerintah. Para pencetus gagasan ekonomi liberal mengatakan kemakmuran rakyat akan cepat tercapai apabila rakyat dibebaskan untuk melakukan kegiatan ekonomi. Sehingga, rakyat akan terpacu untuk bersifat kreatif dan inovatif yang mana akan pula memberikan dukungan secara tidak langsung terhadap keberlangsungan Revolusi Industri.

(8) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejak awal abad ke-16, Inggris mulai memasuki abad pemikiran yang mengakibatkan munculnya ilmuwan-ilmuwan terkemuka dalam berbagai bidang pengetahuan dan teknologi. Bersama dengan munculnya ilmuwan-ilmuwan baru tersebut, muncul pula ide-ide baru. Perkembangan yang didasarkan atas ide dan gagasan baru tersebut, muncul pula penemuan-penemuan baru yang dapat memperingan segala jenis pekerjaan manusia. Dengan temuan-temuan baru inilah Revolusi Industri dimulai.

Jalannya Revolusi Industri


Pada akhir Abad Pertengahan di Eropa, kota-kota mulai berkembang dengan sangat pesat terutama dalam aktivitas kerajinan dan perdagangan. Warga kota, di mana terdapat kaum borjuis merupakan warga yang berjiwa bebas menjadi tulang punggung bagi perekonomian kota. Mereka bersaing secara bebas untuk kemajuan dalam bidang perekonomian. Pertumbuhan dari aktivitas kerajinan menjadi komoditas industri melalui beberapa tahapan seperti berikut;

1. Domestic System 

Pada tahapan domestic system ini dapat disebut juga sebagai tahap kerajinan rumah (home industry). Di mana para pekerja bekerja dirumah masing-masing dengan alat yang mereka miliki sendiri. Bahkan, kerajinan yang diperoleh dari pengusaha yang setelah selesai dikerjakan disetorkan kepadanya. Upah diperoleh berdasarkan jumlah barang yang dapat dan telah dikerjakan. Melalui sistem kerja ini, majikan yang memiliki usaha hanya membayar tenaga kerja atas dasar prestasi atau hasil. Dalam domestic system ini, para majikan tidak  perlu direpotkan lagi soal tempat kerja dan masalah upah.

2. Manufacture

Setelah kerajinan industri makin berkembang diperlukan tempat khusus untuk berkerja agar majikan dapat mengawasi dengan baik cara mengerjakan dan mutu produksinya. Sebuah manufaktur (pabrik) yang didirikan dengan ditopang oleh puluhan tenaga kerja biasanya terletak di bagian belakang rumah sang majikan. Pada umumnya rumah bagian tengah diperuntukan sebagai tempat tinggal dan bagian depan sebagai toko untuk menjual produk atau hasil industrinya. Hubungan yang terjalin antara majikan dengan pekerja (buruh) lebih akrab oleh karena tempat kerjanya jadi satu dengan rumah majikan dan jumlah buruhnya masih sedikit. Barang-barang yang dibuat kadang-kadang juga masih berdasarkan pesanan.

3. Factory system

Tahap sistem factory (pabrik) sudah merupakan industri yang menggunakan mesin. Tempatnya didaerah industri yang telah ditentukan, bisa di dalam atau di luar kota. Tempat tersebut untuk tempat kerja, sedang majikan tinggal di tempat lain. Demikian juga toko tempat pemasaran hasil industri diadakan ditempat lain. Jumlah tenaga kerjanya (buruh) sudah puluhan, bahkan ratusan. Barang-barang produksinya untuk dipasarkan.

Revolusi Industri di Inggris


Setelah memasuki Abad Renaissance, ilmu pengetahuan telah berkembang pesat. Para ilmuwan menciptakan penemuan baru. Penemuan besar yang menjadi  Perkembangan Revolusi Industri di Inggris ditandai dengan penemuan mesin-mesin yang berguna bagi dunia industri. James Watt pada tahun 1769 menemukan mesin uap. Mesin uap segera dimanfaatkan untuk menggerakkan mesin-mesin industri terutama pada pabrik-pabrik tekstil. 

Awalnya pabrik-pabrik sangat bergantung pada tenaga air. Oleh karena itu, pabrik harus didirikan di dekat sungai. Dengan menggunakan bahan bakar batu bara, mesin uap temuan Watt, menyebabkan pabrik-pabrik tidak bergantung lagi pada tenaga air dan dapat didirikan di mana saja. Dengan uap seluruh pola kerja berubah karena pekerja lebih lemah, dan kurang ahli dapat diajari beberapa tugas sederhana yang diperlukan untuk menjalankan mesin. Peralihan dari pekerja laki-laki ke perempuan dan anak-anak adalah suatu perubahan yang besar.

Selain mesin uap, penemuan lain yang mendorong munculnya Revolusi Industri dilakukan oleh Abraham Darby, berhasil menggunakan batu bara untuk melelehkan besi dengan hasil yang lebih baik. Dengan kedua penemuan ini momentum Revolusi Industri di Inggris mulai berkembang lebih maju. Pemerintahan Inggris mulai menetapkan langkah-langkah untuk mengembangkan sektor industri, terutama industri wol.

Langkah-langkah yang ditempuh tersebut antara lain sebagai berikut;

1. Melarang ekspor bahan baku wol ke luar negeri.

2. Membangun pusat-pusat industri wol sebagai industri berbasis rumah tangga.

3. Mengundang penemu-penemu untuk membimbing para pekerja Inggris.

Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut di dukung pula dengan situasi politik dan keamanan di Inggris yang relatif stabil dibanding negara-negara lain di Eropa. Penemuan teknologi baru itu amat besar peranananya dalam proses industrialisasi. Hal ini karena teknologi baru dapat mempermudah dan mempercepat kerja industri, melipatgandakan hasil, dan memghemat biaya. Penemuan-penemuan yang penting, antara lain sebagai berikut;

1) Kumparan terbang (flying shuttle) ciptaan John Kay (1733), dengan diciptakannya kumparan terbang maka proses pemintalan dapat berjalan secara cepat.

2) Mesin pemintal benang (spinning jenny) alat ini diciptakan oleh James Hargreves (1767) dan Richard Arkwright (1769). Dengan dibuatnya alat ini maka proses pemintalan benang dapat mencapai hasil yang berlipat ganda. Temuan ini lebih maju dibandingkan temuan John Hargreaves, yaitu mesin pemintal yang dapat menghasilkan beberapa benang. Mesin tersebut masih digerakan oleh tenaga kuda dan tenaga air. 

3) Mesin tenun (merupakan penyempurnaan dari kumparan terbang) ciptaan Edmund Cartwright (1785). Dengan alat ini hasilnya penenunan menjadi berlipat ganda. Mesin tenun dan puntal temuan Edmund Catrwright menggunakan mesin uap. 

4) Cotton gin, alat pemisah biji kapas dari serabutnya ciptaan Whitney (1794). Penciptaan alat pemisah biji kapas ini dapat memenuhi kebutuhan kapas bersih dalam jumlah yang besar dapat tercukupi.

5) Cap silinder ciptaan Thomas Bell (1785). Dengan diciptakannya cap silinder, maka sebuah kain putih dapat dilukisi pola kembang 200 kali lebih cepat jika dibandingkan dengan pola cap balok yang menggunakan tenaga manusia.

6) Mesin uap ciptaan James Watt (1769). Penemuan mesin uap ini menjadi “pintu” bagi penemuan-penemuan selanjutnya dan dapat diciptakan berbagai peralatan besar yang menakjubkan, seperti lokomotif ciptaan Richard Trevethick (1804) yang kemudian disempurnakan oleh George Stephenson menjadi kereta api penumpang. Selain itu, Kapal perang yang digerakkan dengan mesin uap pun nantinya akan diciptakan oleh Robert Fulton (1814). Harus disadari bahwa penemuan mesin uap merupakan inti dari Revolusi Industri sehingga James Watt sering dianggap sebagai bapak Revolusi Industri I.

7) Abraham Darby (1750) menggunakan batu bara (cokes) untuk melelehkan besi untuk mendapatkan nilai besi yang lebih sempurna.

8) Symington (1802) menemukan kapal kincir. 

9) Robert Fulton (1807) membuat kapal api yang telah menggunakan baling-baling yang dapat menggerakkan kapal.

10) Richard Trevethick (1804) membuat kereta uap.

11) Samuel Mors (1832) membuat telegraf.

12) Alexander Graham Bell (1872) membuat pesawat telepon.

13) Gottlieb Wilhelm Daimler (1887) berhasil membuat mobil dengan pengembangan mesin pembakar internal dan mesin bertenaga bensin.

14) Wilbur Wright dan Orville Wright (1903) berhasil membuat pesawat terbang.

Dampak Revolusi Industri


Revolusi Industri mengubah Inggris menjadi negara industri yang maju dan modern. Di Inggris muncul pusat-pusat industri, seperti Lancashire, Manchester, Liverpool, dan Birmingham. Seperti halnya revolusi yang lain, Revolusi Industri juga membawa dampak yang luas pada aspek ekonomi, sosial, dan politik, baik di Inggris maupun di negara lain. 

Dampak di Bidang Ekonomi dari Revolusi Industri


Perubahan yang sangat cepat di bidang industri membawa akibat yang luas di berbagai aspek kehidupan. Revolusi Industri di Inggris telah mendorong munculnya kapitalisme, dan adanya pengambilan lahan pertanian menjadi lahan industri. Munculnya masyarakat pemilik modal (kapital) yang mulai menguasai perekonomian. Bahkan dengan modal yang mereka miliki itu, mereka dapat meluaskan lapangan usaha industrinya. 

Usaha industri sangat memerlukan lahan untuk pengembangan industri, mereka para pemilik modal membeli tanah-tanah pertanian milik bangsawan. Pada akhirnya pembelian lahan pertanian itu menimbulkan beberapa dampak, yaitu sebagai berikut.

1. Para petani yang semula bekerja di lahan milik pertanian milik bangsawan menjadi kehilangan pekerjaan. Mereka berusaha mencari tempat kerja di lain tempat. Ada yang sebagian di antara mereka pindah ke kota bekerja sebagai buruh. Berbeda ketika mereka menjadi petani di tanah-tanah milik bagsawan, upah mereka cukup besar, sebab sistem upah diatur secara bagi hasil panen. 

2. Lahan pertanian yang diubah menjadi lahan industri, lama-kelamaan menjadi pusat industri dan akhirnya muncullah kota-kota industri. Di Inggris pada saat itu berkembanga kota-kota industri, seperti Manchester, Liverpool, Sheffield dan Birmingham. Di kota-kota industri tersebut, selain tumbuh pabrik-pabrik industri juga tumbuh kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya seperti menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari.

3. berkembanganya kota industri melahirkan kelas buruh. Pembangunan tenaga mesin di pabrik-pabrik mengakibatkan penggunaan tenaga buruh terbatas. Namun demikan, jumlah mereka tetap banyak. Karena itu, upah buruh menjadi rendah. Akibatnya banyak penggangguran dan kemiskinan.

Dampak lain dari adanya Revolusi Industri bagi perekonomian adalah barang melimpah dengan harga murah. Revolusi Industri telah memunculkan usaha industri dan pabrik secara besar-besaran melalui proses mekanisasi. Dengan demikian, dalam waktu yang singkat dapat menghasilkan barang-barang yang melimpah. Produk barang menjadi berlipat ganda sehigga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang lebih luas. 

Akibat pembuatan barang menjadi cepat. Dengan penggunaan mesin yang semakin canggih biaya produksi menjadi relatif kecil sehingga harga barang-barang pun relatif lebih murah serta produksi  lokal dapat berproduksi sampai taraf internasional. Akan tetapi mengakibatkan pedagang ataupun perusahaan-perusahaan kecil menjadi gulung tikar, atau bisa dikatakan kalah produksi.

Dampak di Bidang Sosial dari Revolusi Industri


a) Berkembangnya urbanisasi, dari perkembangan industrialisasi telah menimbulkan kota-kota pusat-pusat keramaian yang beru. Oleh karena kota dengan kegiatan industrinya tampaknya menjanjikan kehidupan yang lebih layak maka banyak petani desa pergi ke kota untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini mengakibatkan kurang baiknya dalam kegiatan pertanian. Akibat makin meningkatnya arus urbanisasi ke kota-kota industri maka jumlah tenaga kerja makin melimpah. Sementara itu, pabrik-pabrik banyak yang menggunakan tenaga mesin. Selain itu, jaminan sosial pun kurang sehingga kehidupan mereka menjadi susah. Bahkan, para pengusaha banyak memilih tenaga buruh dari wanita dan anak-anak yang upahnya lebih murah.

b) Munculnya revolusi sosial, pada 1820-an terjadi huru-hara yang ditimbulkan oleh penduduk kota yang miskin dengan didukung oleh kaum buruh. Gerakan nasional ini menuntut adanya perbaikan nasib rakyat dan buruh. Akibatnya, pemerintah mengeluarkan undang-undang yang menjamin perbaikan nasib kaum buruh dan orang miskin. Undang-undang tersebut, antara lain sebagai berikut;

(1) Tahun 1832 dikeluarkan Reform Biil atau Undang-Undang Pembaharuan Pemilihan. Menurut undang-undang ini, kaum buruh mendapatkan hak-hak perwakilan dalam parlemen.

(2) Tahun 1833 dikeluarkan Factory Act atau Undang-Undang Pabrik. Menurut undang-undang ini, kaum buruh mendapatkan jaminan sosial. Di samping itu, undang-undang juga berisi larangan pengunaan tenaga kerja kanak-kanak dan wanita di daerah tambang di bawah tanah.

(3) Tahun 1834 dikeluarkan Poor Law Act atau Undang-Undang Fakir Miskin. Oleh karena itu, didirikan pusat-pusat penampungan dan perawatan para fakir miskin sehingga tidak berkeliaran.

(4) Semaakin kuatnya sifat individualisme dan menipisnya rasa solidaritas. 

Dampak di bidang politik dari Revolusi Industri


a) Munculnya gerakan sosialis. Kaum buruh yang diperlakukan tidak adil oleh kaum pengusaha mulai bergerak dan mulai menyusun kekuatan untuk memperbaiki nasib mereka. Kaum buruh kemudian membentuk organisasi yang lazim disebut gerakan sosialis. Gerakan sosialis dimotivasi oleh pemikiran Thomas Moren yang menulis buku Utopia. Tokoh yang paling populer di dalam pemikiran dan penggerak paham sosialis adalah Karl Marx dengan bukunya Das Kapital

Kaum sosialis percaya mereka telah melihat suatu pola didalam masyarakat manusia yang jika dimengerti dapat dengan tepat dan bertindak berdasarkannya, akan membawa keselamatan duniawi kepada para pria dan wanita. Oleh karena itu, kaum sosialis juga romantik, karena memimpinkan suatu tatanan baru suatu Utopia masa depan dimana setiap individu dapat menemukan kebahagiaan dan terpenuhi kebutuhannya.

b) Munculnya partai politik dalam upaya memperjuangkan nasibnya maka kaum buruh terus menggalang persatuan. Hal itu disebabkan oleh semakin kuatnya kedudukan kaum buruh di parlemen telah mendorong dibentuknya suatu wadah perjuangan politik, yakni Labour Party (Partai kaum buruh). 

Akibat langsung dari Revolusi Industri ini yang terutama adalah terbentuknya lapisan masyarakat baru, yaitu masyarakat pemilik modal. Dengan kekuatan modal, mereka dapat menjalankan dan membangun sektor-sektor induatri di Inggris. Dan para pemilik modal inilah muncul istilah kapital (capital), yang artinya “modal”. Kelompok tersebut berkeuntungan besar dari adanya Revolusi Industri.