Sejarah Revolusi Rusia 1905 - ABHISEVA.ID

Sejarah Revolusi Rusia 1905

Sejarah Revolusi Rusia 1905

Revolusi Rusia 1905 - Revolusi Rusia 1905 digambarkan sebagai suatu kerusuhan sosial-politik yang menyebar ke seluruh wilayah Kekaisaran Rusia. Kerusuhan ini ditujukan kepada pemerintah yang tidak mampu mengatasi permasalahan sosial dan ekonomi yang terjadi serta pengambilan kebijakan yang dianggap keliru. Sebab kebijakan itu bukannya memperbaiki tetapi memperburuk kondisi masyarakat di Rusia yang sebagian besar terdiri dari para petani dan sebagian kecil lagi dan sedang tumbuh adalah kelas pekerja di sektor-sektor industri yang mulai diberlakukan sejak tahun 1890.

Revolusi Rusia 1905 diawali dengan pemogokan yang dilakukan oleh pekerja-pekerja industri yang kemudian diikuti oleh kerusuhan yang terjadi di pedesaan dan perkotaan oleh petani serta diiringi pula dengan pemberontakan yang dilakukan oleh militer selama perang Rusia-Jepang 1905. Tujuan Revolusi mengarah pada reformasi konstitusional, menuntut dibentuknya Duma, kebebasan berserikat, hak asasi manusia, pemberlakuan sistem multi partai dan pembatasan kekuasaan Tsar. Di bawah ini akan dijelaskan secara ringkas tentang Revolusi Rusia 1905.


Situasi dan Kondisi Rusia Akhir abad ke-19 dan Permulaan Abad ke-20


Pada permulaan abad XIX keadaan Rusia masih sangat terbelakang jika dibandingkan dengan keadaan negara-negara Eropa lainnya terutama negara-negara Eropa Barat. Dalam struktur sosial, masyarakat Rusia terbagi menjadi dua golongan yaitu tuan tanah (bangsawan) dan petani (rakyat jelata). Pada saat itu industri belum ada jadi belum ada kaum menengah (kaum borjuis). Sehingga Rusia masih merupakan negara agraris yang kolot. Tidak adanya kaum menengah ini mempersulit masuknya paham-paham baru ke Rusia karena semestinya kelas menengahlah yang merupakan agen dari masuknya paham-paham baru itu.


Sebelum terjadinya Revolusi, Rusia merupakan sebuah negara yang dikendalikan oleh sistem Monarki Otokrasi/Autokrasi (monarki absolut), rezim ini sepenuhnya berdasarkan kepada kekaisaran, yang memiliki hierarki militer dan administrasi yang dikoordinasikan secara terpusat di bawah pengawasan monarki yang absolut. Kedudukan kaum bangsawan sangat lemah karena sangat bergantung pada Tsar, perbudakan juga tidak terkonsolidasi oleh mereka tetapi oleh utusan Tsar untuk menarik sumber-sumber dari rakyat guna mendukung militer agar dapat mempertahankan dan memperluas wilayah kekuasaan geopolitik yang terancam. Namun lama kelamaan merekapun merasa tertekan dan tertindas sehingga muncul keresahan politik diantara mereka.


Ekspansi Rusia ke sebrang lautan nampaknya telah didahului oleh Inggris dan negara-negara Eropa Barat lainnya. Akan tetapi, Rusia mempunyai kebebasan untuk melakukan ekspansi ke arah Timur. Oleh karena itu, Rusia mulai membangun proyek besar yaitu dengan membangun jalan kereta api yang besar lintas Siberia hingga melibatkan diri dalam suatu konflik dengan Jepang, dan mendorong ke arah tenggara menuju perbatasan dengan Persia dan India yang mana hal ini membuat Inggris geram.


Pembangunan proyek besar ini didorong oleh keadaan ekonomi Rusia yang progresif sejak tahun 1890 terutama dalam bidang industri, seperti industri tekstil, pertambangan, batubara dan besi. Dengan industri yang maju ini maka mulai muncul kaum buruh. Pada tahun 1905 terjadilah pemberontakan kaum buruh yang bertujuan untuk menuntut perbaikan nasib dan persamaan hak. Pada saat itu keadaan Rusia sedang mengalami kekalahan perang melawan Jepang. 


Peristiwa pada tahun 1905 tersebut di kenal dengan peristiwa “Bloody Sunday” atau minggu berdarah. Peristiwa ini terjadi di mana demonstrasi damai yang tidak bersenjata ingin menyampaikan petisi kepada Tsar Nicholas II disambut dengan desingan peluru oleh penjaga kekaisaran.


Rusia adalah negara dengan bentuk kerajaan/kekaisaran yang dipimpin oleh seorang Tsar. Tsar tersebut adalah gelar yang memiliki arti sama dengan raja, ratu atau pemimpin negara. Revolusi Rusia yang terjadi pada tahun 1917 secara umum disebabkan oleh karena ketidakpuasan rakyat terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Pada saat itu pemerintahan yang berada di bawah kekuasaan Tsar Nicholas II, memerintah secara reaksioner dan bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya.  Pada saat itu pula, kaum buruh yang mulai terbentuk pada akhir abad ke-19 mulai menolak sistem kebijakan Tsar Nicholas II yang dianggap membuat rakyat dan para pekerja menderita dengan adanya kebijakan pemotongan upah secara besar-besaran.


Telah kita ketahui bahwa Revolusi Prancis telah membawa persamaan terhadap undang-undang bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali. Tentara Napoleon Bonaparte menyebarkan paham itu ke daerah Eropa yang berhasil dikuasainya. Persamaan di mata hukum itu telah membuka mata banyak golongan, di samping persamaan politik dan hukum, di Rusia juga belum ada persamaan dalam lapangan ekonomi, sosial dan intelektual. 


Revolusi Rusia 1905 bukan hanya sekedar akibat dari kekalahan perang yang diderita oleh Rusia ketika melawan Jepang. Revolusi ini di awali dengan pemogokan para pekerja yang kemudian di ikuti oleh seluruh bangsa Rusia, kaum buruh membentuk dewan buruh dan gerakan ini kemudian di ikuti oleh buru-buruh seluruh Rusia. Karena semakin banyaknya masa yang datang. Mereka mendesak Tsar Nicholas II untuk membuat Undang-Undang Dasar bagi Rusia. Oleh karena desakan yang sangat besar, maka Tsar Nicholas II kemudian membentuk Undang-Undang Dasar bagi Rusia dan diumumkan olehnya pada bulan Oktober 1905. Sehingga dikenal dengan sebutan Manifesto Oktober 1905.


Dalam pemerintahannya, Tsar Nicholas II lebih banyak memajukan sistem ekonomi yang progresif. Sehingga telah membuat sektor perekonomian Rusia terutama industri berkembang pesat. Perkembangan ekonomi tersebut juga telah menimbulkan banyak gerakan-gerakan yang berasal dari ide-ide sosialisme. Sejak kekalahan Rusia dalam perang Rusia-Jepang 1905, bayangan Revolusi selalu tampak di langit-langit Rusia. 


Latar Belakang Terjadinya Revolusi Rusia 1905


Meletusnya revolusi Rusia 1905 diawali dengan pemogokan-pemogokan yang terjadi di St. Petersburg dan diikuti oleh seluruh bangsa Rusia. Kaum buruh di St. Petersburg membentuk dewan buruh, kemudian di ikuti oleh buruh-buruh seluruh Rusia. Kaum buruh yang semakin bertambah besar, mendesak Tsar Nicolas II untuk membuat UUD bagi Rusia. Di bentuk dan di umumkan oleh Tsar pada bulan Oktober 1905 sehingga dikenal dengan sebutan Manifesto Oktober 1905. Sebagaimana yang telah dimaksud di atas bahwa Revolusi Rusia 1905 dipicu oleh kekalahan Rusia dalam perang Rusia-Jepang dan situasi kondisi politik dan sosial yang terjadi di Rusia terutama sepanjang akhir abad ke-19 dan memasuki permulaan abad ke-20. Di bawah ini akan dirincikan beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya Revolusi Rusia 1905;


1. Pemerintahan Autokratik Tsar


Pada tahun 1905 dan bahkan hingga tahun 1917, Kekaisaran Rusia yang diperintah oleh Tsar Nicholas II mempraktikkan pemerintahan bercorak autokratik. Tsar Nicholas II adalah pemerintah terakhir Dinasti Romanov yang mengambil tampuk pemerintahan Rusia sejak tahun 1613. Tsar Nicholas II memerintah antara tahun 1894 hingga 1917 setelah mengambil alih pemerintahan dari ayahnya, Tsar Alexander III. Tsar Nicholas II mempunyai kekuasaan yang absolut dalam menentukan kebijakan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan urusan kekaisaran, misalnya melantik serta memecat para menteri.  


Memasuki abad ke-20 kebanyakan negara-negara di Eropa telah mengalami revolusi, Tsar Nicholas II membuat kebijakan yang menekan rakyat dan membatasi kebebasan berpikir rakyat untuk menghalang-halangi masuknya ide-ide demokrasi. Misalnya, sebuah perhimpunan dan perkumpulan dianggap ilegal, kecuali atas izinnya. Organisasi yang bersifat keagamaan juga tidak dibiarkan bergerak secara leluasa walaupun penganut Kristen Katolik merupakan penganut mayoritas terbesar di Rusia. 


Pada tahun 1894, penganut-penganut Shtundist, salah satu mazhab agama di Rusia yang sedang mengadakan upacara sembahyang namun dihalangi oleh tentara atas perintah Tsar Nicholas II, sebab Tsar Nicholas II  kerana beliau merasa bahwa gerakan itu terdapat upaya penyebaran ide subversif, ide untuk meruntuhkan suatu struktur kekaisaran. Hal serupa juga terjadi bagi para penganut mazhab Dukhobor yang dipaksa menjadi tentara pemulihan di Cyprus telah menyebabkan permusuhan terhadap Tsar semakin mendalam. Rakyat yang menentang akan dipenjarakan atau dibuang ke daerah Siberia karana tidak patuh pada aturan dan perintah Tsar Nicholas II.


Segala bentuk upaya yang dianggap dapat mengancam kekuasaan Tsar dilarang. Berbagai berita atau tulisan yang ingin dikeluarkan harus melalui tahap penyaringan terlebih dahulu dan harus diketahui oleh Tsar sebelum disebarkan. Hal ini bertujuan untuk menghalangi tersebarnya ide-ides subversif terutama ide sosialis ke dalam pemikiran rakyat. Begitu juga kebebasan bagi golongan minoritas, misalnya Yahudi yang sangat dikawal ketat dengan tempat tinggal mereka hanya diperbolehkan di satu kawasan yang dikenal sebagai The Jewish Pale of Settlement. Rakyat Russia tidak mempunyai ruang atau hak untuk menyuarakan pendapat dan tuntutan mereka terhadap kekaisaran. 


Akibat dari pemerintahan Tsar Nicholas II yang represif telah memunculkan keinginan masyarakat untuk menyatukan suara dan membentuk partai politik. Tak pelak lagi bahwa suatu gerakan yang bersifat revolusioner tentu melibatkan kalangan intelektual di dalamnya. Kalangan intelektual di Rusia mulai membentuk partai politik yang diantaranya partai buruh revolusioner dan partai liberal yang telah berani mengambil langkah untuk melakukan aksi mogok kerja. Akibat dari tindakan pengikut partai tersebut, Tsar menurunkan kebijakan untuk menghapus partai politik tersebut namun kemudian memunculkan gerakan yang lebih ekstrim lagi.


2. Masalah Agraria dan Industrialisasi


Pada tahun 1861 para petani Rusia telah dibebaskan dari perbudakan pada masa pemerintahan Tsar Alexander II dan tanah mulai diberikan kepada petani. Dalam upaya memberikan tanah kepada petani, pemerintah harus membayar tanah kepada pemilik-pemilik tanah yang terdiri dari tuan-tuan tanah. Ketika para petani mendapatkan tanah dari pemerintah, petani tidak mendapatkannya secara cuma-cuma. Mereka harus membayar kepada negara atas pemberian tanah ini.


Keinginan Tsar Nicholas II yang ingin mengembangkan industrialisasi telah membuka kontak dengan negara di Eropa Barat. Masuknya industrialisasi yang berasal dari Prancis, Inggris, Jerman telah mendirikan industry-industri yang pada akhirnya menimbulkan kelas-kelas pekerja. Pada tahun 1900 sekitar 80% penduduk Rusia terdiri dari golongan petani di mana jumlah itu akan mengalami pengurangan seiring dengan pertumbuhan industrialisasi yang dilakukan oleh Tsar Nicholas II.


Dalam proses industrialisasi itu, pertumbuhan industri pertanian juga mengalami perkembangan yang pesat. Namun, masalah kepemilikan tanah mulai muncul karena angka kelahiran penduduk yang sangat tinggi. Pada tahun 1877 hingga tahun 1905 pertumbuhan penduduk rata-rata di setiap wilayah hampir mencapai angka 30%. Kekuarangan lahan tampak terlihat terutama di Moskow dan Lembah Volga yang menyebabkan ribuan petani terpaksa berpindah mencari kawasan baru meskipun berjarak hingga seratus kilometer jauhnya.


Pada tahun 1890-an, di bawah Menteri Keuangan Sergei Witte pemerintah Rusia mendorong industrialisasi. Kebijakannya termasuk pembangunan dan operasi kereta api, subsidi dan pembangunan fasilitas pendukung bagi industri swasta, biaya perlindungan yang tinggi untuk industry Rusia (terutama industri berat), peningkatan ekspor, stabilisasi mata uang, dan mendorong masuknya investasi asing. 


Dapat dikatakan rencana ini berhasil selama periode tahun 1890-an di mana pertumbuhan industri Rusia mencapai angka rata-rata 8% per tahun. Pertumbuhan jalur-jalur kereta api sebanyak 40 % antara tahun 1892-1902. Akan tetapi keberhasilan Witte ini telah memperburuk ketegangan sosial yang telah terjadi di Rusia. Karena tanpa disadari bahwa industrialisasi ini telah menyebabkan berbagai kalangan yang bahu membahu untuk membersiapkan terjadinya revolusi, baik dari kalangan buruh, mahasiswa, maupun petani.


Meskipun industrialisasi sedang tumbuh di Rusia dan mulai mengadopsi sistem ekonomi kapitalis, tetapi strategi ini sebagian besar mengalami kegagalan. Produktivitas pertanian mengalami stagnansi, sementara harga komoditas biji-bijian mengalami penurunan, utang luar negeri Rusia dan kebutuhan impor yang meningkat. Selain itu, kebutuhan perang telah menghabiskan anggaran pemerintah. Pada saat yang sama, petani ditekan untuk dapat membayar pajak secara maksimal, hal ini menyebabkan musibah kelaparan yang mulai meluas di Rusia pada tahun 1891.


Pada tahun 1901 musibah kelaparan ini mulai meluas di seluruh Rusia di mana para petani tidak memiliki makanan untuk kebutuhan mereka sendiri. akan tetapi, petani dituntut untuk dapat menghasilkan surplus pertanian untuk kepentingan ekspor negara. Kelaparan dan kurangnya lahan pertanian menyebabkan petani merasa tidak puas dan melakukan perlawanan kepada tuan tanah dan memusnahkan tanaman-tanaman, properti dan penjarahan rumah bangsawan semisal yang terjadi di Kharkov, Poltova dan Kherson pada tahun 1902. Meskipun begitu hal ini dapat diselesaikan dengan cara pemerintah mengirimkan pasukan untuk membubarkan dan menghukum mereka.


Situasi yang terjadi pada tahun 1902 ini menyebabkan pemerintah membentuk komite untuk menyelidiki permasalahan yang menjadi penyebab terjadinya hal itu. Berdasarkan hasil penyelidikan bahwa tidak ada satupun desa yang makmur, beberapa desa yang dikenal subur pun mengalami penurunan kemakmuran. Meskipun jumlah lahan pertanian telah meningkat selama lima puluh tahun terakhir, peningkatan tersebut tidak sebanding dengan pertumbuhan populasi petani yang jumlahnya telah berkali-kali lipat. 


Dengan adanya kebijakan industrialisasi di Rusia tahun 1890, di bawah bimbingan penasihat Tsar, Ivan Alekseyevich Vyshnegradsky dan Menteri Keuangan Sergei Witte, telah mengakibatkan pada laju peningkatan urbanisasi. Populasi kota-kota Rusia meningkat hingga empat kali lipat. Akan tetapi, situasi itu sangat bertolak belakang dengan nasib para pekerja industri di Rusia. Para pekerja industri merasa tidak puas dengan pemerintahan Tsar Nicholas II terkait dengan undang-undang ketenagakerjaan yang telah ditetapkan. Meskipun diantaranya telah dibuat larangan mempekerjakan anak di bawah 12-15 tahun; pekerja harus dibayar sebulan sekali dan majikan dilarang memungut biaya apapun dari pekerja. Meskipun begitu, para pekerja merasa bahwa itu tidak cukup menghindari mereka dari perbuatan tidak adil yang dilakukan oleh majikan.


Hal itu dapat dilihat dari kondisi yang diterima oleh golongan buruh jauh dari apa yang diharapkan. Buruh-buruh di Rusia hidup dalam tekanan dan penderitaan oleh karena sikap majikan yang mengutamakan keuntungan dan berusaha meminimalisir upah sebanyak mungkin. Upah para buruh rata-rata yang diterima selama satu tahun adalah 200 rubel dan ada pula diantara mereka yang bekerja tanpa diberi gaji, hanya diberi kupon khusus yang hanya dapat diguakan di kedai-kedai di mana kedai-kedai ini adalah kedai yang bekerja sama dengan pabrik-pabrik tempat mereka bekerja.


Apabila buruh ini sakit, maka gaji mereka akan dipotong dan biaya kesehatan mereka tidak ditanggung oleh majikan. Hal ini diperparah dengan masa kerja yang berkisar 12-14 jam sehari tanpa ada jaminan keselamatan kerja. Selain itu tempat tinggal mereka juga bukan menjadi tanggung jawab majikan. Banyak di antara pekerja yang tinggal di rumah-rumah komunal yang menyerupai markas tentara, di mana dapur dan kamar mandi digunakan bersama. Sedangkan ada pula pekerja yang terpaksa tidur di pabrik tempat mereka bekerja. Di sisi lain buruknya sanitasi dan terbatasnya air bersih di kota-kota yang menjadi salah satu akibat dari tingginya angka kematian. Sehingga semakin parah dan menderitanya nasib pekerja di Rusia. 


Ketidakpuasan ini berubah menjadi keputusasaan bagi banyak pekerja miskin, yang membuat mereka lebih bersimpati pada ide-ide radikal. Para pekerja yang tidak puas dan telah dipengaruhi oleh ide-ide radikal ini yang kemudian menjadi kunci revolusi dengan gerakan awal yaitu melakukan pemogokan kerja dan aksi protes.


Pada tahun 1900-1903 terjadi periode depresi bagi industri yang menyebabkan banyak perusahaan bangkrut yang mengakibatkan penurunan tingkat lapangan kerja. Menanggapi hal ini, kelompok-kelompok pekerja mulai melakukan pemogokan yang dimulai pada tahun 1902 oleh para pekerja kereta api di Vladikavkaz dan Rostov-on-Don. Aksi mogok ini kemudian meluas yang menyebabkan sebanyak 225.000 orang yang berasal dari berbagai industri di Rusia selatan dan Transcaucasia melakukan pemogokan. Menanggapi hal ini, pemerintah menutup semua organisasi pada akhir tahun 1903.


Didasari oleh permasalahan agraria dan buruh itu, maka seruan yang dilakukan oleh George Gapon untuk memberikan petisi kepada pemerintah disambut oleh golongan petani dan buruh untuk menuntut hak mereka.


3. Munculnya Kalangan Intelektual


Kemunculan kalangan intelektual di Rusia dapat terlihat pada akhir abad ke-18, ketika Alexander Radishchev menerbitkan artikel yang berjudul Journey From St. Petersburg to Moscow. Artikel ini mengkritik pemerintahan autokratik di Rusia dan menuntut sistem perbudakan dihapuskan. Radishchev menceritakan tentang kehidupan budak-budak yang penuh dengan penderitaan akibat dari kerja paksa yang dikerahkan dalam proyek-proyek pemerintah sedangkan upah yang diberikan tidak semestinya. Tulisan Alexander Radischchev menyebabkan banyak golongan rakyat sadar akan penindasan yang dilakukan oleh kekaisaran dan akhirnya Alexander Radishchev ditangkap dan dibuang ke Siberia.


Memasuki abad ke-19, Rusia mencapai Zaman Keemasan Kesusasteraan Rusia atau Golden Age of Russian Literature yang berpusat di St. Petersburg. Karya-karya yang dihasilkan banyak mengisahkan tentang realitas kehidupan masyarakat misalnya Eugene Onegin karya Alexander Pushkin. Golongan intelektual ini terdiri daripada golongan terpelajar atau golongan yang berpendidikan di mana asas pemikiran perjuangannya bertentangan dengan pemerintahan Tsar. Golongan intelektual ini menuntut agar kuasa Tsar dibatasi dan dihapusnya jurang sosial di dalam masyarakat. Perjuangan kaum intelektual ini disokong oleh buruh-buruh kasar serta pekerja awam yang menginginkan pemerintahan autokratik dibatasi agar hak asasi rakyat Rusia dapat terjamin.


Selain berkembanganya paham liberalisme di Rusia yang dianut oleh kalangan intelektual, sejak tahun 1872, hasil karya Karl Marx, Das Kapital telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia, namun baru pada awal abad ke-20 paham Marxisme baru mulai tersebar ke seluruh wilayah Rusia. Karl Marx menekankan konsep materialisme dialektika terutama mengenai konsep perjuangan kelas dan masalah jurang pemisah antara golongan bawah dan golongan atas yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Pemikiran Karl Marx inilah yang juga mempengaruhi kalangan intelektual dan buruh untuk bergerak untuk melakukan perubahan di Rusia pada tahun 1905.


Pemerintahan Provinsi atau yang dikenal dengan Zemstva seringkali bertindak sangat kritis terhadap kebijakan yang diambil oleh Tsar Nicholas II. Mereka menyebut kelaparan dan stagnansi industri di awal tahun 1900-an sebagai masalah utama yang semestinya adalah tanggung jawab pemerintah kekaisaran. Oleh karena kritik yang diberikan Zemstva kepada Tsar maka wewenang mereka dibatasi. Karena kurangnya kekuasaan yang dimiliki oleh Zemstva untuk mempengaruhi kebijakan di tingkat pusat, mereka mengusulkan untuk pembentukan Duma (parlemen) negara bagian yang akan memberi nasihat kepada Tsar dalam menentukan kebijakan yang akan diberlakukan.


Pada intinya golongan intelektual mengingkan agar hak rakyat diperhatikan oleh pemerintah.  Sehingga jelaslah dapat terlihat betapa pentingnya peranan golongan intelektual dalam mencetuskan Revolusi Rusia 1905 kerana merekalah yang telah melahirkan pemikiran rakyat ke arah liberalisme dan sosialisme di Rusia. 


4. Kekalahan Rusia Terhadap Jepang


Kekalahan telak Rusia terhadap Jepang menimbulkan kecemasan masyarakat akan melemahnya kekuatan tentara nasional Rusia. Hal ini kemudian membuat rakyat ingin menghapuskan pemerintahan autokratis Tsar Nicholas II. Kekalahan berturut-turut yang dialami oleh Rusia terhadap Jepang pada bulan Januari tahun 1904 telah menyebabkan Jepang berhasil menguasai beberapa daerah penting misalnya Port Athur, Vladiostok, Utara Mukden dan Sungai Sha. 


Rentetan kekalahan yang diderita oleh Rusia ini, telah menyebabkan golongan Revolusioner Sosialis tampil menuntut demokrasi dan dibentuknya sebuah sistem kelembagaan, namun ditolak oleh Tsar Nicholas II yang menyebabkan mereka bertindak ganas dengan membunuh Menteri Dalam Negeri, Plehve dan Sipiagin. Meskipun mereka sangat tidak terorganiir dengan baik, namun mereka telah melakukan sekitar 2.000 pembunuhan politik pada tahun-tahun menjelang Revolusi Rusia 1905.


Jalannya Revolusi Rusia 1905


Pada tahun 1904 adalah tahun terburuk bagi para pekerja Rusia. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya harga-harga barang kebutuhan pokok yang sangat cepat dan upah kerja yang turun hingga 20 %. Ketika empat anggota Majelis Pekerja Rusia diberhentikan di Pabrik Besi Putilov (pemaok kereta api dan artileri) di bulan Desember 1904, George Gapon, seorang pendeta mencoba menjadi perantara bagi orang-orang yang kehilangan pekerjaan mereka. Hal ini termasuk melakukan pembicaraan dengan pemilik pabrik dan Gubernur Jenderal St. Petersburg. Ketika upaya moderasi ini gagal, George Gapon meminta para pekerja Pabrik Besi Putilov untuk melakukan aksi pemogokan.


George Gapon menuntut beberapa hal, diantaranya; (1) 8 jam kerja dalam sehari dan kebebasan untuk mengatur serikat pekerja, (2) memberikan kondisi kerja yang lebih baik, biaya kesehatan gratis dan upah yang lebih tinggi untuk pekerja perempuan, (3) pemilu yang akan diadakan untuk majelis konstituante dengan hak pilih semua orang yang setara dan bersifat rahasia, (4) kebebasan berbicara, kebebasan pers, berserikat, berkumpul, dan beragama, (5) Akhiri perang dengan Jepang.


Pada tanggal 2 Januari 1905, Rusia mulai menunjukkan kekalahannya terhadap Jepang, di mana Port Arthur berhasil direbut oleh Jepang. Pada 3 Januari 1905 (kalender Rusia lama), 13.000 pekerja Pabrik Putilov melakukan pemogokan. Aksi pemogokan ini kemudian menyebar ke pabrik-pabrik lain. Sehingga pada 8 Januari 1905 lebih dari 150.000 pekerja yang berasal dari 382 pabrik melakukan aksi pemogokan di St. Petersburg. Tsar Nicholas II mulai merasa prihatin atas kejadian ini dan melihat memasuki malam hari jumlah pekerja yang melaksanakan pemogokan bertambah besar ditambah kota St. Petersburg dalam kondisi listrik padam dan distribusi surat kabar berhenti. Mirsky (Menteri Dalam Negeri) datang dan melaporkan tindakan yang semestinya harus diambil.


Pada tanggal 9 Januari 1905 (kalender Rusia lama) George Gapon mengajukan petisi yang dimaksudkan agar disampaikan kepada Tsar Nicholas II yang kira-kira berisi sebagai berikut;


“kami para pekerja, anak-anak kami, istri kami dan orang tua kami yang tua dan tak berdaya telah datang, Tuan, kami mencari kebenaran dan perlindungan darimu. Kami dimiskinkan dan tertindas, pekerjaan yang berat dan tidak tertahankan telah dibebankan kepada kami, kami dihina dan tidak diakui sebagai layaknya manusia. Kami diperlakukan sebagai budak yang harus menanggung nasib mereka dan kami hanya harus diam. Kami telah mendapatkan penderitaan yang mengerikan, tetapi kami semakin terdesak menuju jurang kemiskinan, ketidaktahuan, dan kurangnya hak”.


Petisi yang diajukan oleh George Gapon ditandatangani oleh lebih dari 150.000 orang yang berunjuk rasa sebenarnya berisi tentang serangkaian tuntutan politik dan ekonomi. Selain itu juga tuntutan pendidikan, kebebasan pers, berserikat, pembebasan tahanan politik, pemisahan antara gereja dan agama, permasalahan pajak, persamaan di hadapan hukum, kredit murah dan pengalihan tanah kepada rakyat.


Pada tanggal 9 Januari 1905 itu para demonstran banyak yang mengenakan atribut gereja dan membawa potret Tsar di mana berkumpul di dalamnya ratusan ribu pekerja yang mengenakan pakaian terbaik dengan lansia dan anak-anak bergerak. Dalam keheningan dan rasa damai dan penuh hormat mereka bergerak menuju istana musim dingin, dan berdiri diantara banyak salju yang berjatuhan selama dua jam, memegang spanduk, ikon gereja dan potret Tsar berharap Tsar muncul.


Apa yang diharapkan oleh para demonstran akhirnya tiba, akan tetapi, yang muncul bukanlah Tsar melainkan tentara dan Cossack. Tentara Russia mulai menembaki demonstran yang tidak bersenjata itu dan pasukan Cossack keluar dari gerbang istana dan mulai membantai para demonstran yang menyebabkan hinga 1000 orang meninggal. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan peristiwa Minggu Berdarah atau Bloody Sunday. Tetapi, akibat dari pembantaian massa yang tidak bersenjata ini telah merusak kedudukan autokrasi Rusia. 


revolusi rusia, revolusi rusia 1905, revolusi rusia tahun 1905, manifesto oktober 1905, bloody sunday, peristiwa minggu berdarah, george gapon

Dapat dikatakan hampir semua kalangan baik di dalam maupun di luar Rusia mengutuk aksi pemerintah Rusia, terutama Tsar Nicholas II yang dianggap telah hilang rasa perikemanusian dan rasa kasih sayang.


Pada tanggal 10 Januari 1905, semua pekerja di stasiun listrik di St. Petersburg melakukan pemogokan kerja yang diikuti oleh pemogokan kerja di Moskow, Vilno, Kovno, Riga, Revel, dan Kiev. Pemogokan serupa juga terjadi diseluruh Rusia. Pada 12 Januari 1905, Tsar Nicholas II menunjuk Dmitri Feodorovich Trepov sebagai gubernur di St. Petersburg dan Pyotr Sviatopolk-Mirsky mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Menteri Dalam Negeri pada 5 Februari 1905. 


Pada 19 Januari 1905, Tsar Nicholas II memanggil sekelompok pekerja ke Istana Musim Dingin dan menginstruksikan mereka untuk memilih delegasinya ke Komisi yang dipimpin oleh Senator NV Shidlovsky, yang berjanji untuk menangani beberapa keluhan para pekerja. Hal itu juga dimaksudkan bahwa pemilihan delegasi pekerja melalui sistem pemilihan umum dua tahap, tetapi pemilihan delegasi buruh diblokir oleh kaum sosialis yang ingin mengalihkan perjuangan buruh dari pemilihan umum ke perjuangan bersenjata.


Peristiwa yang terjadi di St. Petersburg memicu kemarahan publik dan serangkaian pemogokan secara besar-besaran mulai menyebar dengan cepat ke seluruh pusat industry kekaisaran Rusia. Partai Sosialis Polandia (Polska Partia Socjalistyczna) dan Partai Sosial-Demokrat Kerajaan Polandia-Lithuania (Socjaldemokracja Krolestwa Polskiego i Litwy) menyerukan pemogokan. Pada akhir Januari 1905 sebanyak 400.000 pekerja di Polandia dan Rusia melakukan pemogokan. 


Di Riga 130 pengunjuk rasa tewas ditembak dan di Warsawa 100 pengunjuk rasa ditembak. Pada awal bulan Februari 1905 selain Rusia mengalami kekalahan di Mukden oleh Jepang yang menyebabkan tewasnya 80.000 tentara Rusia, juga terjadi pemogokan kerja di Kaukasus yang selanjutnya diikuti di daerah Pegunungan Ural dan sekitarnya pada April 1905. Sejak bulan Maret 1905 lembaga pendidikan tinggi ditutup secara paksa yang menyebabkan masa mahasiswa mulai bergabung ke dalam kelompok pekerja yang melakukan pemogokan.


Vladimir Lenin, yang selama ini mencurigai Pastor Gapon menyatakan bahwa pembentukan Majelis Pekerja Rusia di St Petersburg (Assembly of Russian Workers of St Petersburg) dan terjadinya Minggu Berdarah (Bloody Sunday) telah memberikan kontribusi yang sangat penting bagi perkembangan kesadaran politik yang radikal. Dan Leon Trotsky meyakini bahwa peristiwa Minggu Berdarah akan membuat revolusi lebih mungkin dapat terjadi sebab pembunuhan para pengunjuk rasa damai telah mengubah pandangan politik banyak petani. 


SR Combatan Organization yang merupakan organisasi sayap Partai Revolusioner Sosialis menarget Sergei Alexandrovich, Gubernur Jenderal Moskow yang merupakan paman Tsar Nicholas II yang dianggap sebagai senjata tirani. Pembunuhan itu direncanakan pada tanggal 15 Februari 1905, ketika ia berencana mengunjungi Teater Bolshoi. Ivan Kalyayev semestinya menyerang rombongan saat mendekati teater, tetapi ia melihat bahwa terdapat istri dan dua anak Alexandrovich yang masih kecil, ia membatalkan pembunuhan itu. Ivan Kalyavev melakukan pembunuhan itu pada 18 Februari 1905 dengan cara yang sama. Ivan Kalyavev kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman mati di mana ia digantung pada 23 Mei 1905.


Pada tanggal 18 Februari 1905 Tsar menerbitkan Bulgyin Rescript, yang menjanjikan pembentukan majelis konsultatif, toleransi beragama, kebebasan berbicara, dan pengurangan pembayaran pajak bagi petani. Tsar Nicholas II juga menyetujui pembentukan Duma Negara tetapi hanya dengan kekuasan konsultatif. Karena pemilihan hanya terbatas pada orang-orang tertentu saja, maka kerusuhan semakin bertambah. Pada tanggal 20 Februari 1905, Komisi Shidlovsky dibubarkan tanpa pernah mulai bekerja. Hal ini menyusul pada kematian paman Tsar Nicholas II, Sergei Alexandrovich. 


Setelah pembantaian Minggu Berdarah, George Gapon meninggalkan Rusia dan memutuskan untuk tinggal di Jenewa. Salah seorang yang ia temui adalah George Plekhanov, pemimpin Menshevik di mana George Gapon diperkenakan kepada Pavel Axelrod, Vera Zasulich, Lev Deich, dan Fedor Dan. Dalam pertemuan itu mereka berbagi pandangan tentang situasi yang terjadi di Rusia dan diterbitkan di surat kabar Menshevik, Vorwats.  Lev Deich kemudian memberi pendidikan Marxisme kepada George Gapon yang saat itu juga tinggal bersama Pavel Axelord. Para tokoh Menshevik ini menjelaskan bahwa jalannya sejarah ditentukan oleh hukum sejarah yang obyektif, bukan oleh tindakan individu.


Kepergian George Gapon ke luar negeri mengundang komentar dari Leon Trotsky yang mendapat telegram dari Victor Adler;


“Saya baru saja menerima telegram dari Axelrod yang mengatakan bahwa Gapon telah tiba di luar negeri dan mengumumkan dirinya sebagai seorang revolusioner. Sayang sekali. Jika dia menghilang sama sekali akan tetap ada legenda yang indah, sedangkan sebagai emigran dia akan menjadi sosok yang lucu. Anda tahu, orang-orang seperti itu lebih baik sebagai martir sejarah daripada dijadikan sebagai rekan dalam sebuah partai. "


Para pemimpin Partai Revolusi Sosialis (SRP) menjadi kecewa atas perkembangan ini dan meminta Pinchas Rutenberg untuk membuat George Gapon berubah pikiran. Pinchas Rutenberg diminta untuk melakukan berbagai cara agar dapat meyakinkan dan memenangkan hati George Gapon termasuk membujuknya untuk tinggal bersama Leonid E. Shishko.  Pendekatan SRP berhasil, sebab George Gapon merasa lebih cocok dengan kelompok Sosialis Revolusioner yang menekankan kekuatan aksi individu dan bersifat Revolusioner.


Pastor Gapon melihat dirinya sebagai pemimpin revolusi yang akan datang dan percaya bahwa tugas pertamanya adalah menyatukan partai-partai revolusioner. Namun, dia lebih menyukai pendekatan SRP dalam politik. Dia mengatakan kepada Lev Deich: 


"Teori tidak penting bagi mereka, hanya orang yang memiliki keberanian dan mengabdi pada kepentingan rakyat. Mereka tidak menuntut apapun dari Saya, jangan mengkritik tindakan saya. Sebaliknya, mereka selalu memuji saya. "


Di dalam tubuh SRP sendiri, Viktor Chernov tidak yakin bahwa George Gapon benar-benar mendukung SRP. Viktor Chernov menganggap bahwa;


“...George Gapon tidak mampu menjadi salah satu bagian dari partai apapun bahkan jikapun George Gapon berupaya mengikuti sikap tertentu, dia tidak akan dapat melakukannya. Dia akan melanggar janji ini, sebab dia telah melanggar setiap janji yang ia buat untuk dirinya sendiri. Pada kesempatan pertama dia akan merasa lebih menguntungkan secara taktis untuk dapat bertindak dengan cara yang berbeda. Jika mau dapat dikata, ia adalah seorang anarkis yang lengkap dan mutlak dan tidak mampu menjadi anggota partai biasa. Setiap organisasi yang dapat ia bayangkan hanyalah suprastruktur dari otoritasnya yang tidak terbatas. Dia menganggap dirinya sendiri yang harus menjadi pusat dari segalanya, dapat mengetahui segalanya, dan memegang kendali di organisasi dan memanipulasi orang-orang yang terikat dengan mereka dengan cara apapun yang menurut dirinya dianggap cocok.”


George Gapon juga mengadakan pertemuan dengan seorang anarkis, Peter Koroptkin. Selain itu, George Gapon juga melakukan percakapan dengan Vladimir Lenin dan tokoh-tokoh Bolshevik lainnya di Jenewa. Menurut Nadezhda Krupskaya;


“Di Jenewa, George Gapon mulai sering mengunjungi kami dan banyak bicara. Vladimir Il’ich mendengarkan dengan penuh perhatian....”. 


Percakapan Lenin dengan George Gapon membantu membujuknya untuk mengubah kebijakan agraria Bolshevik.


Sebelum akhir tahun 1905, George Gapon kembali ke Rusia bersama dengan Pinchas Rutenberg. George Gapon menyatakan kepada Rutenberg bahwa ia telah melakukan kontak dengan polisi dan mengatakan bahwa loyalitas ganda akan dapat membantu perjuangan para pekerja. Pinchas Rutenberg kemudia melaporkan kepada Yevno Azef yang juga merupakan mata-mata polisi rahasia dan Boris Savinkov atas hal itu. Yevno Azef menuntut agar pengkhianat itu dihukum mati. George Gapon akhirnya dibunuh oleh anggot SRP ketika ia mengunjungi Finlandia pada 10 April 1906.


Manifesto Oktober 1905


Pada tanggal 27-28 Mei 1905 Armada Rusia dikalahkan oleh Jepang di Tsushima. Pada bulan Juni 1905, Sergei Witte, Menteri Keuangan Rusia diminta oleh Tsar Nicholas II untuk merundingkan akhir perang antara Rusia dan Jepang menegosiasikan Perjanjian Portsmouth. Tsar Nicholas II senang dengan kinerja yang ditunjukkan oleh Sergei Witte dan berharap ia mampu menyelesaikan kerusuhan industri yang terjadi setelah peristiwa Minggu Berdarah. Sergei Witte mengungkapkan bahwa;


“Dengan banyaknya suku bangsa, bahasa, dan kondisi negara dengan rakyat yang sebagian besar buta huruf, keajaibannya adalah bahwa negara dapat disatukan oleh Autokrasi. Perlu diingat satu hal: Jika pemerintah Tsar jatuh, Anda akan melihat kekacauan terjadi di Rusia, dan akan lama sekali sebelum Anda melihat pemerintah lain mampu mengendalikan percampuran ini yang membentuk bangsa Rusia.”


Pada tanggal 27 Juni 1905 terjadi pemberontakan di kapal perang Potemkin yang berhasil membunuh diantaranya tujuh dari delapan belas perwira termasuk Kapten Evgeny Golikov dan sekitar 2.000 tentara tewas. Pemberontakan Potemkin menyebar ke berbagai elemen di angkatan darat dan angkatan laut Rusia. Selain kerusuhan terjadi di kalangan militer, sepanjang bulan Juni dan Juli 1905 juga terjadi pemberontakan petani. Gangguan yang terjadi dalam Kongres Polandia yang dikendalikan Rusia pun juga mengalami puncak ketegangannya pada bulan Juni 1905 yang menyebabkan pemberontakan Lodz.


Kelompok-kelompok nasionalis yang tidak senang dengan Russification yang dilakukan sejak Tsar Alexander II, Provinsi Polandia, Finlandia, dan Baltik menuntut dan mencari otonominya sendiri dan juga kebebasan untuk menggunakan bahasa nasional dan mempromosikan budaya mereka sendiri. Kelompok Muslim juga aktif dengan mendirikan Persatuan Muslim Rusia pada Agustus 1905. 


Beberapa kelompok juga mengambil kesempatan untuk menyelesaikan perbedaan satu dengan yang lain dengan cara kekerasan dibandingkan dengan berdiskusi dengan pemerintah. Beberapa kelompok nasionalis melakukan anti-jewish pogrom, yang mungkin saja gerakan ini mendapat bantuan dari pemerintah, di mana total lebih dari 3.000 orang Yahudi dibunuh dalam peristiwa ini.


Sergei Witte mengamati hal ini melihat hanya terdapat dua pilihan bagi Tsar Nicholas II, memberikan konsesi bagi pergerakan rakyat atau menggunakan kediktatoran militer untuk menekan seluruh oposisi. Sergei Witte kemudian menyurati Tsar Nicholas II pada 1 Oktober 1905 akan opsi yang dapat dilakukan oleh Tsar. Namun, Sergei Witte menekankan kepada Tsar Nicholas II bahwa setiap kebijakan penindasan akan mengakibatkan “pertumpahan darah massal”. Menurutnya, Tsar Nicholas II harus menawarkan program reformasi politik.


Pada 1 Oktober itu Sergei Witte dan Alexis Obolenskii menulis Manifesto Oktober dan diserahkan kepada Tsar Nichola II. Manifesto ini mengikuti tuntutan Kongres Zemstvo pada bulan September yang berisi tentang, hak-hak dasar sipil, pembentukan partai politik, memperluas hak pilih menjadi hak pilih umum, dan menetapkan Duma sebagai bagan legislatif pusat.


Tsar Nicholas II yang prihatin akan situasi yang melanda Russia, menjawab surat Sergei Witte dan mulai mengadakan pembicaraan dengan Sergei Witte. Pembicaraan keduanya menghasilkan kesepakatan untuk membentuk Duma Negara, yang mana ini akan menjadi konstitusi. Grand Duke, Nikolai Romanov, sepupu Tsar yang merupakan tokoh penting di militer menyetujui jenis reformasi yang ditawarkan oleh Sergei Witte.


Pada 8 Oktober 1905 terjadi pemogokan oleh pekerja kereta api yang kemudian menjadi pemogokan masal di St. Petersburg dan Moskow. Pekerja industri di seluruh Rusia mulai menarik tenaga mereka pada bulan Oktober 1905, para pekerja kereta api melakukan pemogokan yang melumpuhkan seluruh jaringan kereta api Rusia. Setelah 10 Oktober 1905 pemogokan pekerja telah membawa slogan politik yang diawali dari Moskow dan menyebar ke seluruh negeri di mana di banyak kota di Rusia pemogokan itu harus mengalami bentrokan dengan tentara.


Pada 13 Oktober 1905 Leon Trotsky memelopori aksi mogok lebih dari 200 pabrik yang menyebabkan lebih dari 2.000.000 orang melakukan aksi mogok di mana pemogokan ini mengakibatkan hampir tidak ada jalur kereta api yang aktif di seluruh Rusia. Menjelang akhir bulan Oktober, kaum Bolshevik dan kaum Menshevik yang dipimpin oleh Khrustlaev-Nossar mendirikan Soviet (Dewan/Majelis) St. Petersburg. Pada 26 Oktober 1905 merupakan pertemuan pertama Soviet yang berlangsung di Institut Teknologi. Acara ini hanya dihadiri oleh empat puluh delegasi karena sebagian besar pabrik di kota telah memilih perwakilan. Leon Trotsky menerbitkan pernyataan;


“Dalam beberapa hari ke depan, peristiwa-peristiwa yang menentukan akan berlangsung di Rusia, yang akan menentukan selama bertahun-tahun nasib kelas pekerja di Rusia. Kita harus sepenuhnya siap untuk menghadapi peristiwa-peristiwa ini di mana kita dipersatukan melalui Soviet.”


Selama beberapa minggu berikutnya, telah lebih dari 50 soviet dibentuk di seluruh Rusia di mana peristiwa ini dikenal sebagai Revolusi Rusia 1905. Sergei Witte terus menasehati Tsar untuk membuat konsesi. Nikolai Romanov setuju dan mendesak Tsar agar melakukan reformasi sebagaimana yang diusulkan oleh Sergei Witte. Akan tetapi, tiba-tiba Tsar menolak dan menginginkan cara yang ditempuh sebagai diktator militer. Nikolai Romanov kemudian mengancam akan menembak dirinya sendiri jika Tsar Nicholas II tidak mendukung rencana Sergei Witte.


Pada tanggal 17 Oktober 1905, Tsar Nicholas II dengan terpaksa setuju untuk mengumumkan rincian usulan reformasi yang kemudian dikenal dengan Manifesto Oktober yang berisi kebebasan berbicara, bertemu, berserikat dan juga masalah hak rakyat sebagai manusia. Ketika manifesto diumumkan, pemogokan di St. Petersburg segera berakhir dan amnesti politik juga diberikan. Sementara kaum liberal Rusia puas dengan Manifesto Oktober dan bersiap untuk pemilihan Duma, kaum sosialis radikal dan revolusioner mengecam pemilihan tersebut dan menyerukan pemberontakan bersenjata untuk menghancurkan kekaisaran.


Pada 22-24 November 1905 terjadi pemogokan masal yang dilakukan oleh pekerja Rusia. Pemerintah mengirimkan tentara pada 24 November 1905 untuk membubarkan masa. Pada 1 Desember 1905 Resimen Semyonovsky dikerahkan dan menggunakan artileri untuk membubarkan para demonstran dan menembaki mereka. Pada tanggal 5 Desember 1905 sekitar 1000 orang tewas dan sebagian kota hancur dan para demonstran menyerah. Setelah serangan terakhir yang dilakukan di Moskow, pemberontakan berakhir pada akhir Desember 1905. Menurut data yang diberikan oleh Duma pada April 1906 telah lebih dari 14.000 orang dieksekusi dan 75.000 orang dipenjarakan.


Pasca Revolusi Rusia 1905


Setelah Revolusi Rusia 1905, Tsar melakukan upaya terakhir untuk menyelamatkan kekuasaannya dengan menawarkan reformasi. Reformasi ini dianggap sebagai pendahulu Konstitusi Rusia 1906 yang menciptakan Duma Kekaisaran. Konstitusi Rusia tahun 1906 juga dikenal sebagai hukum fundamental yang mengatur sistem multi partai dan monarki konstitusional yang terbatas. Kaum revolusioner sementara harus merasa cukup puas dengan reformasi ini, tetapi reformasi ini tidak cukup untuk mencegah terjadinya Revolusi 1917 yang akan menggulingkan Tsar Nicholas II sebagai penguasa di Rusia.


Akibat dari revolusi Rusia1905 adalah perubahan-perubahan agraria dari mentri Petr Stolypin dan pembentukan Duma. Duma adalah dewan perwakilan rakyat yang di pilih oleh rakyat, tetapi hak pilih di dasarkan atas  jabatan dan atas milik, karena itu tidak adil. Pemimpin agama, tentara, mahasiswa, orang nomaden, tidak punya hak pilih. Duma ini di pilih selama 4 tahun sekali.


Manifesto Oktober selain memberikan kebebasan berbicara dan berkumpul juga menyatakan bahwa tidak ada hukum yang akan disahkan tanpa ada pemeriksaan dan persetujuan dari Duma Kekaisaran. Manifesto Oktober juga memperluas hak pilih dalam Duma menjadi lebih universal jika dibandingkan dengan ajuan pada bulan Juli 1905, meskipun begitu berdasarkan undang-undang pemilu pada 11 Desember 1905 perempuan belum mendapatkan hak pilih.


Upaya untuk membatasi kekuasaan legislatif Duma tetap dilakukan. Keputusan 20 Februari 1906 menjadikan Dewan Negara dan badan penasehat kekaisaran memiliki kekuasaan legislatif “yang setara dengan Duma”. Hal ini jelas telah melanggar Manifesto Oktober sebab dapat menghambat kinerja Duma. Pada 24 April 1906 hanya Tsar yang dapat menangkat atau memberhentikan menteri.


Setelah Duma di pilih, terbukti mayoritas dalam Duma itu terdiri dari kaum Liberal. Mereka menentang maksud Tsar untuk menerapkan, bahwa keuangan dan angkatan perang tidak termasuk ke dalam wewenang Duma, dan kekuasaan tertinggi tetap dalam tangan Tsar. Mayoritas anggota Duma mulai mengundurkan diri pada bulan Mei tahun 1906. Pada tahun itu juga Duma dibubarkan oleh Tsar, karena Duma yang dibentuk ini terbukti tidak dapat diperalat oleh Tsar.


Setelah Duma tahun 1906, diadakan pemilihan Duma pada tahun 1907. Terbukti Duma ini diisi mayoritas kaum sosialis yang terang-terangan menentang Tsar. Duma tahun 1907 ini juga di bubarkan oleh Tsar pada tahun itu juga. Berharap untuk dapat menekan Duma Tsar Nicholas II memecat Sergei Witte dan menggantikanya dengan Petr Stolypin. Petr Stolypin melakukan tindakan reformasi agraria yang menguntungkan rezim. Hal ini dapat dilihat ketika revolusi mereda, ia mampu membawa pertumbuhan ekonomi industri rusia ke arah yang lebih baik hingga tahun 1914.


Pada tahun 1908 Duma yang baru kemudian dipilih, yang anggotanya mayoritas berasal dari golongan konservatif. Duma ini merupakan alat belaka dari Tsar untuk mengelabui rakyat dan untuk menindas kaum liberal dan kaum revolusioner. Duma ini tidak dibubarkan oleh Tsar karena sesuai dengan kehendak Tsar. Duma-Duma selanjutnya memiliki sikap dan mayoritas yang sama dengan Duma tahun 1908 yang mana bersesuaian dengan kehendak Tsar hingga Duma tahun 1916.


Meskipun Revolusi Rusia 1905 dapat dipadamkan oleh kekuatan bersenjata. Akan Tetapi, Monarki Autokratik Tsar belum dapat diruntuhkan dengan memanipulasi Duma Kekaisaran yang sebelumnya diharapkan dapat meruntuhkan absolutisme Tsar, kini berbalik menjadi lembaga yang mendukung kekuasaan absolut Tsar. Hal itu disebabkan oleh anggota Duma sejak 1908 hingga 1916 sebagian besar diisi oleh orang-orang yang pro dengan kekuasaan absolutisme Tsar. Di mana Duma tidak lagi menekan Tsar dalam membuat kebijakan, melainkan Duma memperkokoh kedudukan Tsar di Rusia dan menekan kalangan liberal dan sosialis yang berupaya untuk menjatuhkan Tsar.


Kondisi masyarakat Rusia pun mulai kembali lagi ke masa sebelum dikeluarkannya Manifesto Oktober 1905 di mana kehidupan masyarakat berada dalam keterpurukan, teralienasi dan tidak dihargainya hak-hak mereka sebagai manusia. Kebijakan-kebijakan Tsar yang cenderung hanya mementingkan kelompok bangsawan dan majikan mulai diberlakukan kembali dan inilah yang kelak memantik kembali semangat Revolusi pada tahun 1917 di mana Tsar digulingkan dari kekuasaannya.