Sejarah Pemberontakan Boxer di Cina - ABHISEVA.ID

Sejarah Pemberontakan Boxer di Cina

Sejarah Pemberontakan Boxer

Pemberontakan Boxer - Pada akhir abad ke 19 di Cina yang berada di bawah pemerintahan Dinasti Qing harus menghadapi Pemberontakan Boxer. Setelah kalah dalam Perang Candu I (1840-1842), Cina menandatangani perjanjian Nanjing dengan Inggris dan dipaksa untuk membuka pelabuhan yang nantinya menjadi awal masuknya intervensi asing di Cina. Tindakan ini kemudian diikuti oleh negara-negara lain seperti Jerman, Perancis, Amerika Serikat dan Rusia.

Akibatnya, Cina bebas dimasuki oleh kekuatan asing. Invasi bangsa asing membuat Cina berubah menjadi negara setengah feodal setengah kolonial, banyak bangsa asing yang menuntut agar Cina membuka banyak kota menjadi daerah perdagangan bebas, sehingga menyebabkan kekuatan asing semakin mudah masuk ke Cina, dan melemahkan pengaruh dari pemerintahan Dinasti Qing. Di bawah ini akan dijelaskan tentang Pemberontakan Boxer di Cina yang terjadi pada tahun 1899-1901.


Latar Belakang Pemberontakan Boxer


Pemerintah dinasti Qing sangat membenci bangsa Barat yang telah semena-mena menghina kedaulatannya di Cina, namun kondisi pemerintahan Qing pada saat itu sedang melalui masa-masa yang sangat sulit, banyak serikat rahasia yang muncul dan memberontak. Tuntutan serikat rahasia yang memberontak kurang lebih serupa, yaitu runtuhkan dinasti Qing dan mengembalikan Dinasti Ming yang diperintah oleh orang-orang Han. Tuntutan ini tercermin jelas dalam semboyan serikat rahasia pada akhir abad ke 19, yaitu Fan Qing Fu Ming yang berarti “Hancurkan Qing dan Bangkitkan Ming.”


pemberontakan boxer


Sikap anti-Manchu sering dituangkan dalam bentuk perkumpulan-perkumplan rahasia, seperti Sanhehui (Tiga Kecocokan), Gaolaohui (Usia Lanjut) dan Dadaohui (Golok Besar). Anggota serikat rahasia itu sering mengklaim bahwa mereka memiliki kesaktian serta kebal akan senjata. Yihetuan atau Yihequan (Gerombolan Harmoni Adil atau Tinju Harmoni Adil) adalah perkumpulan-perkumpulan semacam itu, yang karena anggota-anggotanya mahir kungfu, dinamai Boxer (petinju) oleh bangsa Barat.


Pada mulanya tujuan Yihetuan adalah untuk menggulingkan Dinasti Qing serta mengusir kehadiran bangsa Barat di Cina. Namun, Cixi dengan cerdik berusaha mengalihkan permusuhan mereka kepada bangsa Barat saja. Cixi membiarkan gerakan ini berkembang dan meluas di Cina. Oleh karena gerakan itu mendapatkan kesempatan untuk berkembang, dan kekaisaran membiarkan hal itu terjadi, menyebabkan rasa permusuhan terhadap Dinasti Qing menjadi memudar dan lenyap sehingga permusuhan gerakan itu kini adalah tertuju pada bangsa Barat.


Gerakan ini menyasar pada misionaris Kristen yang telah menyeleweng dari tujuannya semula. Para misionaris itu telah banyak melindungi orang-orang Cina yang masuk Kristen, meskipun orang-orang Cina itu telah melakukan kesalahan dan melanggar undang-undang maupun melakukan tindakan kejahatan. Selain itu, misionaris ini juga ikut campur dalam urusan politik. Sehingga dapat dikatakan bahwa misi mereka tidak murni lagi hanya perihal menyebarkan agama. Tindakan ini telah menyebabkan kebencian rakyat terhadap para misionaris Kristen.


Pemberontakan Boxer


Pada tahun 1899, pengikut Yihetuan mulai melakukan pergerakannya di provinsi Shandong dan Zhili. Meletusnya pemberontakan di Provinsi Shandong dilatarbelakangi oleh pemecatan Gubernur Yu Xian sebagai akibat terbunuhnya dua orang pastor Jerman di Shandong. Wakil-wakil negeri asing menuduh Yu Xian tidak becus menjaga ketertiban wilayahnya serta menuntut akan pemecata yang terjadi terhadap dirinya. Pemerintah Dinasti Qing segera memindahtugaskan Yu Xian ke Shanxi. Selain itu, pelabuhan Jiaozhou di Provinsi Shandong telah jatuh pula ke tangan Jerman, sehingga rakyat Cina menyadari akan ancaman bangsa Barat.


Meluasnya gerakan Yihetuan yang menjadi gerakan anti-Barat amatlah menyenangkan bagi Cixi. Cixi kemudian mengundang gerakan ini ke istana dan merasa yakin bahwa para pengikut Yihetuan itu benar-benar memiliki kesaktian. Melalui Li Lianying, seorang kasim kepercayaan Cixi, membujuk Cixi agar memercayakan perjuangan mengusir bangsa asing kepada gerakan Yihetuan meskipun mereka hanya menggunakan senjata tradisional. 


Atas usulan yang diberikan oleh Li Lianying, Cixi menyetujui hal itu, meskipun para bangsawan dan pejabat beberapa diantaranya tidak sepakat akan keputusan yang dikeluarkan oleh Cixi. Yong Lu, seorang menteri negara berpendapat bahwa pembunuhan terhadap orang asing tidak akan dapat menyelesaikan masalah, malah kemungkinan akan memicu peperangan yang lebih besar.


Setelah mendapatkan restu Cixi, Pemberontakan Boxer mengadakan serangan secara sporadic terhadap orang asing maupun misionari Kristen, sehingga pada bulan April dan Mei 1900, para duta asing memprotes pemerintah tentang sering terjadinya penyerangan-penyerangan itu. Dengan daih menjaga keamanan mereka, duta-duta besar bangsa asing yang tinggal dalam sector khusus di Beijing berniat mendatangkan tambahan pasukan. Namun, usaha ini tidak berhasil, karena jalan kereta api telah dirusak oleh Pemberontakan Boxer. Tidak berapa lama kemudian, pasukan asing merampas Benteng Dagu dan membuka secara paksa jalan yang menghubungkan Tianjin dan Beijing.


Pada saat yang bersamaan, pasukan tambahan yang dipimpin oleh Admiral Seymour, dari Inggris gagal mencapai Beijing dan memutuskan untuk kembali ke Tianjin. Aka tetapi, karena kawat telegram diputuskan, para duta asing tidak mengetahui hal ini dan tetap menunggu di stasiun. Berbagai wakil kedutaan mengirimkan kendaraan untuk menjemput pasukan yang semestinya tiba pada 12 Juni 1900. Ketika pasukan yang ditunggu tidak juga datang, para duta asing itu kembali ke rumah masing-masing. Pejabat kedutaan Jepang, Suyimura ketika kembali pulang, ia melewati kubu-kubu Pemberontakan Boxer dan dikeroyok hingga tewas.


Pada tanggal 14 Juni 1900, Pemberontakan Boxer memasuki Beijing sehingga keaadan pun menjadi bergejolak. Merasa terancam akan hal ini, duta-duta negara asing memohon untuk bertemu dengan Pangeran Jing, ketua depertemen luar negeri pada tanggal 20 Juni 1900. Oleh karena tidak mendapatkan jawaban, para duta itu tidak jadi datang, kecuali duta Jerman, Baron van Ketteler yang akhirnya tewas ditembak. Kedutaan-kedutaan asing di Beijing mulai dikepung oleh Pemberontakan Boxer. Cixi kemudian mengeluarkan perintah untuk melakukan pembantaian terhadap orang asing yang ada di seluruh kekaisaran.


Pengepungan daerah kedutaan berlangsung selama 20 Juni-14 Agustus di mana para duta asing dan orang-orang Cina yang memeluk agama Kristen dikepung. Para duta asing dan orang-orang Cina Kristen berhasil diselamatkan karena tidak semua pejabat menyetujui tindakan itu. Beberapa pejabat menyatakan bahwa Cina tidak sedang berperang dengan bangsa asing dan beberapa kali membujuk Cixi agar menghentikan tindakan ini. Cixi beberapa kali menghentikan pengepungan, namun Pangeran Tuan yang anti-asing bersikeras agar pengepungan itu dilanjutkan. Di wilayah Cina lainnya beberapa pejabat provinsi tidak setuju akan pembantaian terhadap orang asing itu.


Dalam upaya membebaskan para dutanya dari kepungan Pemberontakan Boxer ini, bangsa Barat; Prancis, Russia, Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Italia, Australia dan Jepang mengirimkan tentaranya ke Beijing. Pasukan koalisi ini berhasil menaklukan Beijing pada tangal 14 Agustus 1900. Pada tanggal 15 Agustus 1900, Cixi melarikan diri ke Xianfu dan membawa Kaisar Guanxu. Pasukan asing ini kemudian melakukan aksi pembalasan dengan melakukan pembantaian terhadap orang-orang Cina dan merusak istana.


Li Hongzang diberi tugas oleh kekaisaran untuk berunding dengan bangsa asing. Perwakilan bangsa asing menyatakan bahwa mereka tidak berperang dengan Cina, melainkan berupaya untuk melindungi warganya dan menindas Pemberontakan Boxer. Selain itu, mereka meminta ganti rugi kepada Cina agar peristiwa permusuhan terhadap orang-orang asing tidak terjadi kembali. 


Pada tanggal 7 September 1901, ditandatangani perjanjian untuk mengakhiri peristiwa itu, di mana Cixi menyatakan penyesalannya dengan menuduh para bangsawan dan pejabat yang mendukung Pemberontakan Boxer. Cina harus membayar kerugian sebesar kurang lebih hampir 500.000.000 mata uang perak kepada bangsa asing. Selain itu, juga diizinkan penempatan tentara untuk melindungi duta asing, izin untuk mendirikan benteng di daerah sekitar kedutaan, sejumlah wilayah diduduki pasukan asing dan pelarangan gerakan anti-asing. Selain itu, Cina harus mengirimkan wakilnya untuk meminta maaf kepada Kaisar Jerman dan Kaisar Jepang atas kematian wakil-wakil dua negara itu selama terjadinya Pemberontakan Boxer.