Sejarah Pemberontakan Taiping - ABHISEVA.ID

Sejarah Pemberontakan Taiping

Sejarah Pemberontakan Taiping


Sejarah Pemberontakan Taiping Pemberontakan Taiping adalah pemberontakan melawan pemerintahan Dinasti Qing yang merupakan pemberontakan terdahsyat di sepanjang sejarah Dinasti Qing. Kaisar Xianfeng adalah seorang penguasa Dinasti Qing yang tidak memiliki kemampuan dalam memerintah. Pada masa pemerintahan Kaisar Xianfeng, kaisar selalu menyerahkan permasalahan-permasalahan yang terjadi kepada pejabat-pejabatnya. Hal itu dapat terlihat ketika Dinasti Qing harus menghadapi Pemberontakan Taiping. 



Pemberontakan Taiping dipimpin oleh Hong Xiuquan dan pada saat itu pemberontak berhasil merebut kota Nanjing selama satu dekade. Meskipun berhasil merebut kota Nanjing, namun Pemberontakan Taiping akhirnya gagal di mana Pemberontakan yang berlangsung dari tahun 1850 hingga 1864 telah menghancurkan 17 provinsi dan menyebabkan kematian lebih dari 20 juta orang.


Selain Pemberontakan Taiping rekam jejak kelemahan kaisar juga nampak terlihat dalam Perang Candu II di mana dengan mudahnya mudah bagi Bangsa Barat untuk memaksakan kehendak mereka untuk melakukan penetrasinya ke Cina dan membuat kaisar menandatangani beberapa perjanjian yang jelas sangatlah merugikan bagi bangsa Cina.


Pemberontakan TaipingHong Xiuquan


Hong Xiuquan adalah anak seorang petani yang berasal dari selatan Cina yang beberapa kali telah gagal dalam ujian negara untuk menjadi pejabat kekaisaran. Ketika Hong Xiuquan yang sedang berada di Kanton untuk mengikuti ujian negara, Hong Xiuquan menerima beberap traktat tentang agama Kristen dari para misionaris beserta kutipan-kutipan dari Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.


Ketika saat ujian negara itu mencapai keputusan, Hong Xiuquan kembali gagal diterima sebagai pegawai negeri kekaisaran. Pada tahun 1837 Hong Xiuquan kembali ke rumahnya dan tidak lama sakit keras. Dalam keadaan sakitnya itu, Hong Xiuquan bermimpi dalam perjalanan ke negeri surgawi yang indah berkilauan. Hong Xiuquan lalu dibawa oleh seorang wanita tua ke sebuah sungai dan dimandikan. Kemudian Hong Xiuquan dibimbing memasuki sebuah ruangan yang mana terdapat seorang pria tua yang sedang duduk dan ternyat pria itu adalah ayahnya. Pria itu kemudian memberinya pedang dan segel dari emas.


Oleh pria itu, Hong Xiuquan dibawa ke suatu tempat untuk melihat segala sesuatu yang terjadi diseluruh dunia ini. Disaksikan olehnya berbagai kejahatan yang telah dilakukan oleh umat manusia.  Pria itu kemudian mengungkapkan “…bahwa setan sedang menghancurkan umat manusia.” Di Surga, Hong Xiuquan menerima berbagai ajaran kebenaran dan sangat bergembira akan hal itu. Kemudian Hong Xiuquan diperintahkan oleh pria tua itu untuk kembali ke bumi dan dengan memegang pedang khusus, Hong Xiuquan dengan bantuan saudaranya, melawan iblis dan kejahatan.


Akan tetapi dari sudut pandang keluarganya, Hong Xiuquan hanya berada di tempat tidur selama berhari-hari, dilanda mimpi, demam dan berteriak tentang setan, iblis, mengaku sebagai Kaisar Tiongkok, bernyanyi, dan terkadang melompat dari tempat tidur dan berdiri siap untuk berperang. Ketika Hong Xiuquan akhirnya bangun, dia memberi tahu keluarganya tentang pengalamannya dan menyalin puisi yang dia tulis di surga. Para penduduk desa yakin bahwa Xong Xiuquan sudah gila.


Beberapa waktu kemudian, Hong Xiuquan membaca kembali buku-buku yang diberikan oleh para misionaris agama Kristen yang telah diterimanya di Kanton. Dalam pembacaannya itu, Hong merasa bahwa terdapat penjelasan di dalam kitab-kitab Kristen yang bersesuaian dengan mimpinya. Hong Xiuquan akhirnya memutuskan untuk kembali ke Kanton dan belajar pada seorang pendeta Kristen.


Pada tahun 1847, Hong Xiuquan menyatakan keinginannya untuk dibaptis, tetapi ditolak karena dianggap pemahamannya tentang agama Kristen masih belum memadai. Hong Xiuquan merasa yakin bahwa Tuhan telah memilihnya untuk membebaskan bangsa Cina dari penyembah berhala. Oleh karena itu, ia mulai menafsirkan ajaran agama Kristen sesuai dengan pemahamannya kepada orang-orang yang berada di desanya.


Di dalam penafsirannya ini, Hong Xiuquan mengangkat dirinya sebagai adik Yesus, yang ditugaskan untuk mendirikan Kerajaan Surga di bumi. Hong Xiuquan kemudian mendirikan suatu perkumpulan keagamaan yang disebut Shangdihui (Kelompok Pemuja Tuhan). Jadi dapatlah dikatakan gerakan awal yang dibentuk oleh Hong Xiuquan adalah gerakan keagamaan. Gerakan yang dilakukan oleh Hong Xiuquan dengan cepat meluas ke berbagai provinsi yang ada di Cina.


Sebagian besar yang bergabung dengan gerakan Hong Xiuquan adalah orang-orang Hakka, yang melarikan diri dari Mongol pada abad ke-13 dan dianggap terpisah dari masyarakat Cina. Mereka terutama adalah para pekerja miskin yang mencari perlindungan dari penindasan. Di dalam setiap kesempatan khotbahnya Hong Xiuquan selalu mengungkapkan janjinya tentang tanah gratis kepada para pengikutnya yang mana hal ini akan segera mendatangkan lebih banyak pengikut dalam gerakan Hong Xiuquan.


Otoritas Dinasti Qing menganggap bahwa gerakan yang dilakukan oleh Hong Xiuquan ini sangat berbahaya sehingga mengambil keputusan untuk melakukan pelarangan bagi gerakan ini. Namun, pelarangan itu ternyata mengakibatkan tumbuhnya rasa nasionalisme di kalangan gerakan Shangdihu.  


Pada tahun 1849, gerakan Shangdihu telah berkembang menjadi empat provinsi di Cina, yang mana menurut Hong Xiuquan dianggap sebagai titik strategis dalam pertempurannya yang akan datang melawan iblis-iblis yang segera diungkapkan Hong Xiuquan di mana iblis-iblis itu adalah Dinasti Qing sendiri. Hong Xiuquan kemudian menyebut dirinya sendiri "Raja Taiping," dia memutuskan pemisahan pria dan wanita, dengan memberlakukan hukuman tegas bagi siapa saja yang menentangnya.


Pelarangan yang dilakukan oleh Dinasti Qing telah menyebabkan gerakan ini berubah menjadi gerakan anti-Manchu dan bersifat militeris. Para pengikut gerakan ini kemudian memotong kuncir yang sebagaimana wajib bagi orang-orang Cina pada masa Dinasti Qing. Kemudian menggantikan kuncir ini dengan mengikat kepala mereka dengan kain merah, serta mulai menyatakan pemberontakan secara terang-terangan. 


Pada tahun 1850, dengan dalih bahwa Yesus telah mendesak Hong Xiuquan untuk "berjuang demi Surga," Hong Xiuquan mulai mempersenjatai para pengikutnya. Segera, Para Penyembah Dewa membeli bubuk mesiu dan persenjataan dalam jumlah besar dan juga segera mengatur organisasi kemiliteran. Gerakan Hong Xiuquan mengikuti tradisi agama Kristen dengan beribadah setiap hari minggu serta mulai memusnahkan patung-patung dewa yang mereka jumpai.


Pemberontakan Taiping : Kerajaan Langit 


Pasukan Qing dan gerakan Shangdihu mulai bentrok pada akhir tahun 1851. Tanpa diduga, pasukan Taiping menang dalam pertempuran pertama ini, tetapi pertempuran berlanjut selama bulan-bulan berikutnya saat Hong Xiuquan memproklamasikan dirinya sebagai Raja Langit dan mendirikan dinasti baru dengan nama Taiping. Tahun 1851 dijadikan sebagai tahun pertama "Kerajaan Taiping.”



Setelah memproklamirkan berdirinya dinasti baru, Hong Xiuquan dan pasukannya, yang sekarang berjumlah 60.000 orang, meninggalkan Gunung Thistle dan merebut kota Yongan dan berhasil mengalahkan pasukan Qing. Di Yongan, Hong Xiuquan melakukan berbagai peratuar kehidupan para pengikutnya dengan menerapkan banyak ajaran agama. Dia juga menciptakan gelar kerajaan untuk keluarganya.


Hong Xiuquan menyatakan bahwa para pengikutnya tidak boleh melakukan perzinahan atau tidak bermoral, merokok opium dan menyanyikan lagu-lagu cabul yang mana apabila ada pelanggaran dihukum dengan pemenggalan kepala. 


Pada tahun 1852, tentara Taiping keluar dari Yongan dan memulai pertempuran-pertempuran yang mengakibatkan mereka menguasai sebagian besar tanah yang berbatasan dengan Sungai Yangzi dan kota Tianjin. Pasukan Hong Xiuquan berhasil merebut Nanjing, di mana saat itu dia memiliki sekitar 2 juta pengikut. Pada 10 Maret 1853 Pemberontakan Taiping menguasai Nanjing pasukan Taiping berupaya untuk menaklukan Beijing, tetapi berhasil dipukul mundur.



Setelah upaya untuk merebut Beijing dipukul mundur, Hong Xiuquan memilih untuk menghentikan penaklukan dan berkonsentrasi membangun pemerintahan di Nanjing. Pemerintahan Hong Xiuquan di Nanjing awal mulanya, para pendeta Kristen sangat tertarik pada gerakan Taiping. Mereka menyangka bahwa bangsa Cina banyak yang telah menganut agama Kristen, bahkan mereka mendesak pemerintahnya agar segera mengakui Kerajaan Taiping yang dipimpin oleh Hong Xiuquan. 


Setelah menguasai Nanjing, Hong Xiuquan mulai hidup dalam kemewahan dan mulai terjadi perpecahan di dalam gerakannya. Masing-masing anggota saling mencurigai dan bersaing. Inilah yang menyebabkan berkurangnya rasa simpatik bangsa Barat terhadap gerakan Taiping.


Perpecahan itu terutama terjadi ketika Yang Xiuqing, seorang menteri negara Taiping, berusaha untuk merebut sebagian besar kekuasaan di Tianwang. Dalam usahanya ini Yang Xiuqing dan ribuan pengikutnya terbunuh oleh seorang jenderal, Wei Changhui yang diutus oleh Hong Xiuquan untuk mengatasi hal ini. Wei Changhui, jenderal yang telah membunuh Yang, kemudian mulai menjadi sombong dan dianggap membahayakan posisi Hong Xiuquan, oleh karena itu Hong Xiuquan akhirnya membunuh Wei Changhui. Jenderal Taiping lainnya, Shi Dakai, mulai khawatir atas keselamatannya dan dia memutuskan untuk meninggalkan Hong Xiuquan dan membawa serta banyak pengikut Taiping.


Penumpasan Pemberontakan Taiping


Pada tahun 1854 Pemerintah Dinasti Qing kemudian mengutus Zeng Guofan, seorang jenderal yang dianggap mampu mengatasi pemberontakan ini dengan berkekuatan 12.000 pasukan. Pasukan Zeng Guofan secara bertahap, lamban namun pasti mulai mengambil alih wilayah-wilayah yang telah dikuasai oleh gerakan Taiping yang pada tahun 1858 menyebabkan gerakan Taiping hanya menyisakan dua kota saja, Nanjing dan Anjing.


Dalam posisi terjepit ini, muncul Perang Candu II sehingga pemerintah Dinasti Qing mengendurkan usahanya untuk memusnahkan gerakan Taiping. Kondisi ini dimanfaatkan oleh Taiping untuk kembali mengkonsolidasikan kekuatan. Beberapa provinsi dapat direbut kembali sepanjang tahun 1858 dan 1862. Setelah Perang Candu II berakhir, barulah Dinasti Qing mengarahkan perhatiannya kepada Pemberontakan Taiping.


Negara-negara Barat pun menyikapi permasalahan ini dan mulai memandang akan lebih menguntungkan apabila mereka memihak Dinasti Qing, yang mana Dinasti Qing akan bersedia mengabulkan persyaratan-persyaratan yang diminta oleh bangsa Barat. Pasukan Qing dibantu oleh seorang perwira Inggris, Charles George Gordon untuk melanjutkan penumpasan terhadap Pemberontakan Taiping.


Sepanjang periode 1862-1864 pasukan Qing yang dibantu oleh Inggris berhasil merebut lima puluh kota dari kekuasaan Pemberontakan Taiping yang menyebabkan kota Nanjing yang merupakan basis kekuatan Pemberontakan Taiping mulai dikepung.  Pada saat pengepungan itu, tanggal 30 Juni 1854 Hong Xiuquan putus asa dan mengakhiri hidupnya dengan meminum racun adapula yang menyatakan bahwa Hong Xiuquan diracun. Meskipun Hong Xiuquan telah meninggal, kota Nanjing baru dapat ditaklukan pada tanggal 19 Juli 1854. Dengan dikuasainya Nanjing dan meninggalnya Hong Xiuquan, maka Pemberontakan Taiping pun berakhir.