Sejarah Revolusi Beludru Cekoslowakia 1989 - ABHISEVA.ID

Sejarah Revolusi Beludru Cekoslowakia 1989

Sejarah Revolusi Beludru Cekoslowakia 1989


Revolusi Beludru Cekoslwakia 1989 - Revolusi Beludru (Revolusi Velvet) atau Revolusi Tenang (neznz revolucia) adalah suatu transisi kekuasaan tanpa kekerasan yang terjadi di Cekoslowakia. Memasuki akhir tahun 1989 ketika musim dingin mulai berhembus di langit-langit Cekoslowakia di mana udara dingin mulai menghantam tubuh siapapun yang berada di bawah naungan negara itu, di saat itu pula suhu politik mulai memanas. Memanasnya suhu politik ini seolah menghapus rasa dingin yang mulai merasuk ke tulang. 


Ketegangan ini menyebabkan masa transisi di Cekoslowakia yang berlangsung dari tanggal 17 November - 29 Desember 1989. Demonstrasi massal yang menentang pemerintahan satu partai dari Partai Komunis Cekoslowakia telah mempersatukan mahasiswa masyarakat untuk turun ke jalanan menuntut kebebasan. Partai Komunis Cekoslowakia dianggap tidak mampu mengakomodir tuntutan rakyat kebanyakan. Selain itu, Partai Komunis Cekoslowakia dinilai telah melakukan korupsi dan cenderung mempraktikan kekuasaan yang tirani. Sehingga penggulingan rezim komunis adalah suatu hal yang tidak dapat ditawar lagi.


Demonstrasi massal ini mengakhiri kekuasaan satu partai di Cekoslowakia yakni Partai Komunis Cekoslowakia, dan juga penghapusan ekonomi terencana serta peralihan ke sebuah sistem republik parlementer. Revolusi Beludru secara tidak langsung juga dipicu oleh sentimen sosial dan kecemburuan etnis yang ada di Cekoslowakia. Di bawah ini akan dijelaskan tentang Revolusi Beludru yang menyebabkan runtuhnya rezim komunis di Cekoslowakia dan berpisahnya negara Ceko dan Slowakia.


Latar Belakang Revolusi Beludru


Jika ditinjau dari etnis yang menghuni kawasan Cekoslowakia, secara historis mereka memiliki beberapa perbedaan terutama antara orang Ceko yang dibangun dan tumbuh atas dasar peradaban Austria-Jerman dan orang Slowakia yang tumbuh atas dasar peradaban bangsa Magyar/Hungaria. Selain itu, yang menjadi penyebab terjadinya Revolusi Beludru ialah perbedaan agama dikalangan penduduk Cekoslowakia yaitu orang Ceko yang menganut Protestan dan Slowakia yang menganut Katolik.


Sebelum memasuki periode Perang Dunia I, Cekoslowakia berada di bawah wilayah kekuasaan Austria-Hungaria. Setelah Perang Dunia I berakhir, wilayah ini memerdekakan diri dengan nama Republik Cekoslowakia Pertama. Pada tahun 1938-1939 Republik Cekoslowakia Pertama berhasil dikuasai oleh Nazi Jerman dan menjadikan wilayah ini sebagai bagian wilayah Jerman dengan nama Protektorat Bohemia dan Moravia.


Ketika Jerman menguasai Cekoslowakia, Emil Hacha ditunjuk sebagai Presiden Bohemia dan Moravia (Republik Cekoslowakia Kedua). Setelah Perang Dunia II berakhir pada tahun 1945, Protektorat Bohemia dan Moravia merubah namanya menjadi Republik Cekoslowakia Ketiga yang dibentuk untuk pemulihan pengaruh Nazi Jerman. Semenjak berakhirnya Perang Dunia II Cekoslowakia yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Nazi Jerman, kini diambil alih oleh kekuatan komunis Uni Soviet sebagai salah satu pemenang Perang Dunia II. 


Posisi Cekoslowakia yang amat berdekatan dengan negara-negara satelit Uni Soviet juga dipengaruhi bahkan berhasil dikuasai oleh kekuatan komunis. Sehingga, pasca Perang Dunia II Cekoslowakia menganut prinsip komunis dengan penerapan sistem partai tunggal, yakni Partai Komunis Cekoslowakia. Semenjak tahun 1948 seiring dengan menguatnya pengaruh Komunis dan Cekoslowakia dijadikan sebagai negara satelit Uni Soviet, maka Republik Cekoslowakia mengubah namanya menjadi Republik Sosialis Cekoslowakia.


Partai Komunis Cekoslowakia berkuasa sejak 25 Februari 1948 yang dipengaruhi oleh intervensi Uni Soviet terhadap wilayah itu. Selama Partai Komunis Cekoslowakia berkuasa, pihak oposisi sama sekali tidak berkutik di mana diberlakukan pula kebijakan yang represif oleh pemerintah Cekoslowakia.


Cekoslowakia sebenaranya adalah negara dengan ekonomi yang maju terutama ketika Cekoslowakia mengembangkan industry besi dan baja sejak dikuasai oleh Nazi Jerman. Akan tetapi, kemajuan itu mulai terasa kemandekannya dan mulai mengalami kemunduran ketika sistem ekonomi terpusat komunis dinilai kurang berhasil dalam membangun perekonomian di Cekoslowakia.


Kemunduran ekonomi ini menyebabkan Alexander Dubcek menuntut adanya reformasi di dalam pemerintah Cekoslowakia. Pada tahun 1968, Alexander Dubcek terpilih sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Cekoslowakia. Selama menjabat, terdapat beberapa kebijakan yang diberlakukan oleh Alexander Dubcek salah satunya adalah pelonggaran pengawasan terhadap media. 


Reformasi yang dilaksanakan oleh Alexander Dubcek ini sering kali disebut dengan Musim Semi Praha (Prague Spring/Prazske Jaro) yang berlangsung tanggal 5 Januari 1968 – 21 Agustus 1968. Nampaknya, apa yang dilakukan oleh Alexander Dubcek ini mengundang respon negative dari Uni Soviet. Sebab dengan reformasi ini, pendukung dari ideology komunis mulai berkurang di Cekoslowakia. Oleh sebab itulah Uni Soviet melancarkan agresi ke Cekoslowakia yang mana dalam agresi itu Uni Soviet juga dibantu oleh negara-negara satelitnya yang tergabung dalam Pakta Warsawa.


Setelah invasi yang dilakukan oleh Uni Soviet, Cekoslowakia kembali berada di bawah langsung dari intervensi Uni Soviet. Hal ini terlihat dari pasukan Uni Soviet yang ditugaskan untuk mengawasi gerak-gerik pemerintahan Cekoslowakia. Alexander Dubcek sebagai kepala negara menjadi terkekang untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan yang bersesuaian dengan pemikirannnya. Pada tahun 1969 Alexander Dubcek mundur dari jabatannya dan digantikan oleh Gustav Husak yang pro-komunis. 


Setelah Gustav Husak naik ke kursi tertinggi Cekoslowakia, sistem administrasi Cekoslowakia dirubah menjadi sistem federal yang terdiri dari dua negara federasi; Republik Sosialis Ceko dan Republik Sosialis Slowakia.


Selama pemerintahan Gustav Husak kebijakan represif kembali diberlakukan di Cekoslowakia. Akan tetapi, kebijakan represif yang diberlakukan oleh Partai Komunis Cekoslowakia selama berkuasa mulai memudar tatkala Mikhail Gorbachev naik ke tampuk tertinggi pemerintahan Uni Soviet. Mikhail Gorbachev dengan pemberlakuan kebijakan glasnost, perestroika pada tahun 1985 telah menyebabkan pemerintahan menjadi agak cenderung terbuka. Di mana hal ini pun juga berdampak pada situasi yang terjadi di Cekoslowakia. 


Meskipun semestinya Partai Komunis Cekoslowakia mendukung kebijakan yang diterapkan oleh Mikhail Gorbachev, tetapi hanya sedikit saja perubahan yang berarti. Di sisi lain nampaknya kebijakan represif di Cekoslowakia dinilai telah menguntungkan sebagian kelompok sehingga amat enggan mengubah kebijakan yang telah ada. Sebenarnya, sejak tahun 1980-an telah terjadi penurunan dan mulai melemahnya ekonomi Cekoslowakia. Meskipun rakyat mulai mempertanyakan kinerja pemerintah, akan tetapi pemerintah lebih memilih diam dan tidak peduli.


Ketidakpuasan terhadap standar hidup dan permasalahan ekonomi menyebabkan rakyat menuntut adanya reformasi ekonomi yang menuntut adanya sistem yang lebih terbuka. 


Jalannya Revolusi Beludru


demonstrasi di praha 1989, revolusi beludru, revolusi velvet, revolusi cekoslowakia, cekoslowakia, ceko, slowakia, vaclav havel, partai komunis cekoslowakia

Memasuki tahun 1989 rakyat Cekoslowakia mulai turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutannya mengenai reformasi kebijakan dan ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah Cekoslowakia yang dikuasai oleh Partai Komunis Cekoslowakia. Vaclav Havel sebagai salah satu tokoh oposisi Cekoslowakia ditangkap saat melakukan demonstrasi beserta beberapa demonstran yang tergabung. Pada tahun 1989, rakyat Cekoslowakia menyerukan penghapusan sensor, reformasi pemerintahan dan pembebasan Vaclav Havel.


Selain dorongan dari dalam negeri dan Uni Soviet, dorongan untuk melaksanakan revolusi juga berasal dari negara-negara tetangga Cekoslowakia, terutama Jerman Timur. Pada bulan Agustus 1989, warga Jerman Timur yang tinggal di Cekoslowakia mulai menduduki kantor kedutaan Jerman Barat di Praha dan menuntut adanya reunifikasi Jerman. 


Aksi itu kemudian direspon tidak begitu lama yang menyebabkan Jerman Barat dan Jerman Timur bersatu kembali pada tanggal 9 November 1989. Hal ini juga menjadi pemicu dan penyemangat bagi warga Cekoslowakia turut serta menyuarakaan pendapatnya untuk perubahan.


Pada tanggal 16 November 1989 para pelajar yang berasal dari sekolah menengah dan tingkat universitas menggelar demonstrasi damai di Bratislava. Partai Komunis Slowakia memperkirakan bahwa demonstrasi ini diorganisir dan merupakan sebuah masalah yang rumit. Sehingga angkatan bersenjata mulai disiagakan untuk menyambut demonstrasi. Akan tetapi, demonstrasi berjalan dengan damai dan para pelajar mengirimkan wakilnya ke Kementerian Pendidikan Slowakia untuk menyuarakan tuntutan mereka.


Pergerakan baru yang dipimpin oleh Vaclav Havel mulai muncul dan menyuarakan tuntutan rakyat untuk melakukan restrukturisasi politik. Persatuan Pemuda Sosialis Cekoslowakia yang terdiri dari anggota SSM (Socialistickeho svazu mladeze) atau biasa juga disebut dengan SZM (Socialistickeho zvazu mladeze) mulai melakukan demonstrasi massal pada 17 November 1989.  


Sebagian besar anggota SSM menentang kepemimpinan Partai Komunis Cekoslowakia, namun mereka sebelumnya takut untuk menyuarakannya sebab khawatir tindakan kekerasan yang akan diberikan kepada mereka oleh pemerintah Cekoslowakia. Demonstrasi ini telah menyebabkan 15.000 orang bergabung mereka berdemonstrasi dengan membawa spanduk dan slogan-slogan serta nyanyian anti-komunis dan mulai menuju Praha.


Para demonstran yang sedang berjalan ini dihentikan oleh polisi di Jalan Narodni dan polisi memblokir semua rute pelarian dan mulai menyerang para demonstran yang terdiri dari para pelajar ini. Pada hari yang sama, para pelajar dan juga actor teater mulai melakukan aksi pemogokan.


Pada tanggal 18 November 1989 perwakilan dari pelajar mengunjungi Perdana Menteri Ladislav Adamec dan menjelaskan peristiwa yang terjadi di Narodni. Atas usulan para pelajar dari Academy of Performing Arts di Praha, para pelajar di Praha mulai melakukan aksi pemogokan yang mana aksi ini diikuti oleh para pelajar di seluruh Cekoslowakia. 


Actor teater di Praha juga memberikan dukungan mereka bagi aksi tersebut. Para actor teater mulai membacakan seruan kepada para penonton ketika mereka naik panggung yang mana seruan itu mengajak untuk melakukan pemogokan umum pada tanggal 27 November 1989.


Sebagai upaya untuk menyebarluaskan seruan itu, maka mulai dibuat poster-poster dan surat-surat sebab media, baik radio, televisi dan surat kabar dikontrol secara ketat oleh Partai Komunis Cekoslowakia. Pada malam hari tanggal 27 November 1989, seorang pelajar bernama Martin Smid dibunuh oleh polisi ketika melakukan demonstrasi pada tanggal 17 November 1989. 


Meskipun pernyataan tersebut keliru, tetapi berita ini telah meningkatkan keyakinan adanya krisis dan meyakinkan rakyat yang ragu-ragu karena sebelumnya diselimuti oleh ketakutan mereka terhadap pemerintah untuk kemudian bergabung dengan demonstran menyuarakan protes.


Pada tanggal 19 November 1989 teater-teater di Bratislava, Brno, Ostrava dan beberapa kota-kota lainnya di Cekoslowakia mulai melakukan pemogokan. Para anggota dari asosiasi seni dan sastra serta beberapa organisasi dan institusi mulai bergabung untuk melakukan pemogokan.


Sekitar 500 seniman, ilmuwan dan kalangan intelektual di Slowakia bertemu di Forum Seni (Umelecka Beseda) yang terletak di Bratislava. Mereka mengecam serangan yang dilakukan polisi terhadap para pelajar di Praha pada 17 November 1989 dan di bawah kordinasi dari beberapa tokoh, terutama Milan Knazko dan Jan Budaj mereka membentuk sebuah gerakan yang diberi nama Public Against Violence. Gerakan inilah yang menjadi kekuatan utama dibalik gerakan oposisi yang ada di Slowakia.


Menanggapi apa yang terjadi di Bratislava, para actor di teater Praha bersama dengan Vaclav Havel dan beberapa tokoh dari Charter 77 mendirikan Forum Masyarakat yang kira-kira maksudnya sama seperti apa yang dilakukan di Slowakia di mana gerakan ini bertujuan untuk menuntut terjadinya reformasi. Gerakan ini menuntut pemecatan bagi pejabat yang berwenang atas terjadinya tindak kekerasan oleh polisi terhadap demonstran yang terjadi pada tanggal 17 November 1989 dan melakukan penyelidikan terhadap insidan tersebut serta meminta pemerintah untuk membebaskan semua tahanan politik.


Para pelajar kembali melakukan demonstrasi pada 19 November 1989. Meskipun pemerintah telah meminta massa untuk bubar dan menjalani kehidupan yang normal serta telah melakukan wawancara terhadap Martin Smid serta telah disiarkan untuk meyakinkan kepada public bahwa tidak ada yang terbunuh pada tanggal 17 November 1989. 


Akan tetapi, hal itu tidak dapat meyakinkan public di mana rumor akan terjadinya pembunuhan terhadap salah seorang pelajar pada 17 November 1989 tetap berlanjut. Para tokoh yang mengusung ide-ide demokrasi mengajukan beberapa tuntutan diantaranya adalah pemerintah komunis harus mengundurkan diri 


Pada tanggal 20 November, para pelajar dan actor teater mulai kembali melakukan pemogokan di mana polisi berupaya untuk menghentikan demonstrasi yang mulai mengarah ke Kastil Praha. Perwakilan Forum Masyarakat dari Ceko mulai bernegosiasi dengan Perdana Menteri Cekoslowakia, Ladislav Adamec di mana ia mulai menaruh simpati atas tuntutan yang dilakukan oleh para demonstran. 


Ladislav Adamec kemudian menyarakan tuntutan demonstran dalam kabinet namun, ia kalah suara di mana pemerintah tetap mengambil tindakan represif terhadap para demonstran dan berbagai ide-ide demokrasi. 


Forum Masyarakat mulai menambah tuntutan selain pengunduran diri pemerintah juga penghapusan kekuasaan tak terbatas Partai Komunis Cekoslowakia di dalam konstitusi. Sejak 20 November 1989 itu, surat kabar non-Komunis mulai menerbitkan informasi yang bertentangan dengan interpretasi pemerintah. Demonstrasi massal di tanggal 20 November 1989 terjadi di Praha dan Bratislava yang diperkirakan berjumlah hingga 100.000 demonstran.


Pada tanggal 21 November demonstrasi massa mulai terjadi di Lapangan Wenceslas di pusat kota Praha di mana demonstrasi ini terus berlanjut di hari-hari berikutnya. Para seniman dan pelajar mulai mencari dukungan baik di dalam maupun luar kota Praha. 


Sedangkan di Bratislava demonstrasi massa juga terjadi di Lapangan Hviezdoslav pada tanggal 21 November 1989 yang selanjutnya demonstrasi itu mengarah ke Lapangan Pemberontakan Nasional Slowakia. Para pelajar di Bratislava mulai menyampaikan agenda tuntutannya dan mengajak masyarakat umum untuk mengikuti aksi demonstrasi yang akan dilaksanakan pada 27 November 1989. 


Sementara itu agenda demonstrasi selanjutnya adalah menuntut pembebasan Jan Carnogursky di depan istana kehakiman yang mana tuntutan ini dikabulkan dan Jan Carnogursky dibebaskan pada 23 November 1989.  


Kardinal Frantisek Tomasek, seorang Uskup Agung Katolik Roma di Bohemia, pada tanggal 21 November 1989 menyatakan dukungannya kepada para pelajar dengan mengeluarkan pernyataan yang mengkritik kebijakan pemerintah komunis Cekoslowakia.


Di hari yang sama, tanggal 21 November 1989, Milos Jakes, Ketua Partai Komunis Cekoslowakia memberikan pidato di televisi dalam menanggapi demonstrasi di jalan-jalan Kota Praha yang telah mencapai 200.000 orang. Milos Jakes mengatakan bahwa ketertiban harus dijaga dan bahwa sosialisme adalah satu-satunya ideology yang paling tepat bagi Cekoslowakia. Di mana pernyataan Milos Jakes ini ditujukan bagi para demonstran yang berupaya melakukan protes kepada pemerintah. 


Pada tanggal 22 November 1989, Forum Masyarakat mulai melakukan pengumuman untuk melakukan pemogokan dan demonstrasi pada tanggal 27 November. Para pelajar yang melakukan pemogokan memaksa perwakilan dari pemerintah Slowakia dan Partai Komunis Slowakia untuk berpartisipasi dalam dialog. Para karyawan di stasiun televisi mulai memaksa pemimpin televisi untuk memberikan informasi yang sesungguhnya mengenai peristiwa yang sedang terjadi di Cekoslowakia. Apabila tidak dilakukan, maka seluruh karyawan akan melakukan pemogokan. Oleh sebab itulah, laporan langsung tanpa sensor mulai diberlakukan di Bratislava.


Pada tanggal 23 November 1989 para pekerja pabrik di Praha mulai mencemooh Miroslav Stepan, Sekretaris Partai Komunis di Praha. Militer dan Kementerian Pertahanan mulai melakukan persiapan untuk melawan tindakan yang dilakukan oleh oposisi. Namun, Menteri Pertahanan menyampaikan keterangannya melalui televisi bahwa tentara tidak akan pernah mengambil tindakan apapun terhadap gelombang suara rakyat dan tidak akan menyerukan demonstrasi harus diakhiri.


Pada tanggal 24 November beberapa pimpinan Partai Komunis Cekoslowakia, termasuk Sekretaris Jenderal Milos Jakes mengundurkan diri dan digantikan oleh Karel Urbanek. Sejak saat itu, stasiun televisi mulai menayangkan hal-hal yang terjadi pada tanggal 17 November 1989 dan menampilkan pidato dari Vaclav Havel mengenai pemogokan umum dan demonstrasi yang telah direncanakan.


Stasiun televisi dan radion Cekoslowakia memberikan informasi bahwa mereka (kelompok Vaclav Havel) akan bergabung dengan demonstrasi. Sedangkan di Slowakia juga terjadi diskusi yang dilakukan oleh perwakilan oposisi yang diantaranya adalah Jan Budaj, Fedor Hal, dan Vladimir Ondrus. Sedangkan dari pihak komunis diwakili oleh Stefan Chudoba, Peter Weiss. Diskusi ini disiarkan melalui televisi di Slowakia dan diberitakan dalam surat kabar-surat kabar Slowakia yang menandai bahwa pers Slowakia mulai bergabung dengan pihak oposisi.


Pada tanggal 25 November 1989, Miroslav Stepan mengundurkan diri sebagai Sekretaris Komunis Praha. Sedangkan di jalan dan lapangan di Praha demonstran telah mencapai 800.000 orang. Sedangkan di Bratislava demonstran telah mencapai 100.000 orang. Pada tanggal 26 November 1989 Perdana Menteri Cekoslowakia, Ladislav Adamec bertemu dengan Vaclav Havel dan pada hari yang sama Surat Kabar Pravda Slowakia (surat kabar Partai Komunis Slowakia) menyatakan dukungannya bagi oposisi.


Pada tanggal 27 November 1989 dimulailah pemogokan umum dan demonstrasi besar-besaran yang awal mulanya meminta melakukan reformasi birokrasi dan ekonomi, berubah menjadi tuntutan untuk pembentukan pemerintahan baru. 


Akhir Revolusi Beludru


Mulai runtuhnya Pakta Warsawa menjadi pertanda keberhasilan demonstran di Cekoslowakia. Pada tanggal 28 November 1989 pemerintah Cekoslowakia bersepakat mengikuti kemauan para demonstran untuk meletakkan kekuasaan dari Partai Komunis Cekoslowakia dan menghapus sistem partai tunggal. Pada tanggal 30 November 1989 pemerintah menghapus pelbagai pasal konstitusi yang memberikan wewenang tak terbatas bagi Partai Komunis Cekoslowakia.


Pada tanggal 10 Desember 1989, Presiden Gustav Husak mengundurkan diri dari jabatannya dan menunjuk pemerintah yang terdiri dari orang-orang non-komunis. Sebagai pelaksana pemerintahan sementara, Alexander Dubcek, mantan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Cekoslowakia terpilih sebagai anggota parlemen federal pada tanggal 28 Desember 1989. Pada tanggal 29 Desember Vaclav Havel terpilih sebagai Presiden Cekoslowakia. 


Pada bulan Juni 1990 Cekoslowakia berhasil menyelenggarakan pemilihan umum pertama sejak tahun 1948. Selain melaksanakan pemilu, sistem ekonomi terpusat dihapuskan dan diperbolehkan investor-investor swasta menanamkan modalnya yang menyebabkan perusahaan-perusahaan swasta bermunculan. Media diberikan hak yang luas dalam pemberiataan dan kata “Sosialis” dalam negara dihilangkan sehingga berubahlah nama Republik Sosialis Cekoslowakia menjadi Republik Cekoslowakia.