Sejarah Revolusi Rusia 1917 - ABHISEVA.ID

Sejarah Revolusi Rusia 1917

Sejarah Revolusi Russia 1917

Revolusi Rusia 1917 - Revolusi Rusia 1917 didorong oleh kegagalan Revolusi Rusia 1905 dalam menggulingkan Tsar dan menghancurkan sistem autokrasi. Kekecewaan terhadap Duma yang diharapkan dapat menjadi alat untuk membatasi wewenang dan kekuasaan Tsar justru berbalik memperkuat posisi Tsar yang didukung mayoritas dari kalangan konservatif Rusia. Kondisi sosial dan ekonomi pasca Manifesto Oktober 1905 hanya sedikit perubahan yang dapat dikatakan berarti, selebihnya sejak tahun 1908 kondisi yang mengenaskan itu harus kembali dialami oleh rakyat Rusia sebagaimana kondisi pra-Manifesto Oktober 1905.

Revolusi Rusia 1917 didorong oleh apa yang terjadi selama Revolusi Rusia 1905 dan oleh karenanya, tuntutan dan keinginan rakyat yang dikabulkan oleh Tsar dengan menandatangani dan mengumumkan Manifesto Oktober 1905 serta pembentukan Duma. Tetapi, yang terjadi adalah itu semua hanya upaya mengelabui rakyat saja. Sebab, tuntutan yang ada di dalam Manifesto Oktober tidak sepenuhnya dilakukan, meskipun dengan pembentukan Konstitusi Rusia pada tahun 1906, hal itu malah diingkari sendiri oleh Tsar.


Begitu pula dengan Duma yang ternyata hanyalah lembaga yang seiring dengan meredanya Revolusi 1905 merupakan lembaga yang alih-alih membatasi kekuasaan dan wewenang Tsar, tetapi malah menguatkannya. Kondisi sosial-ekonomi yang sangat buruk, ancaman kelaparan di seluruh Rusia yang menyebabkan Revolusi harus dilakukan lagi. Di bawah ini akan dijelaskan secara singkat tentang Revolusi Rusia 1917. 


Latar Belakang Revolusi Rusia 1917


Memasuki abad ke-20, ketika negara-negara lain di Eropa telah mengakui hak-hak politik bagi negaranya, Tsar masih saja enggan untuk memberi hak politik yang sungguh-sungguh kepada warga negaranya. Memang betul Duma atau Parlemen/Dewan didirikan dan dibentuk, tetapi pemihannya pun adalah palsu, karena hanya mereka yang pro Tsar saja yang dipilih untuk duduk di dalam Duma. Sehingga Duma merupakan dewan penasihat Tsar dan bukan dewan perwakilan rakyat yang sesungguhnya. Sebab Duma sama sekali tidak membatasi wewenang Tsar sebagaimana yang diharapkan sebelumnya. Sehingga emerintahan Tsar Nicholas II semakin kuat dan bersifat reaksioner.


Struktur pemerintahan tidak disusun secara rasional, tetapi atas dasar favoritisme. Itulah mengapa pemerintahan Tsar dapat dibilang kacau. Tsar tidak memilih orang-orang yang cakap untuk pemerintahannya, tetapi orang-orang yang disukainya. Dalam hal ini Tsar Nicholas II sangat dipengaruhi ole Tsarina Alexandria, istrinya sendiri. Celakanya, Tsarina Alexandria juga berada di bawah pengaruh lagi dari seorang yang menyebut dirinya utusan Tuhan, ia adalah Gregory Rasputin. Alexandria dan Rasputin adalah orang-orang yang sangat kolot dan benci terhadap segala macam faham baru. 


Tidak dapat dipungkiri bahwa Tsar dengan bangsawan-bangsawan hidup mewah dan kaya. Sedangkan rakyat, terutama petani dan buruh, hidup sangat miskin dan sengsara. Bangsawan memiliki semua hak, yang mana rakyat tidak berhak sama sekali atas hak apapun. Meskipun perbudakan secara resmi telah dihapuskan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari bangsawan memandang rakyat tidak lebih daripada budak mereka belaka. Sehingga dapat dikatakan telah terjadi ketimpangan sosial yang sangat mencolok antar kelas sosial di Rusia.


Perubahan agraria pada tahun 1906 dari Mentri Pyotr Stolypin tidak membawa perubahan yang besar bagi petani-petani Rusia. Sebab pengakuan kepemilikan hak tanah hanya dapat dilakukan oleh beberapa orang saja yang sebagian besar adalah pada bangsawan. Tanah-tanah bangsawan ini kemudian dikerjakan atau digarap oleh petani-petani kecil sebagai pekerja-pekerja. Memasuki tahun 1910 para petani-petani kecil ini mulai menuntut tanah sebagai hak kepemilikan mereka. 


Meskipun Revolusi Rusia 1905 dapat dipadamkan, bukan berarti aliran-aliran pemikiran yang menentang Tsar dapat ditindas dengan mudah. Mereka bergerak secara diam-diam dan mulai mengumpulkan kekuatan mereka kembali sambil menunggu kesempatan untuk bergerak kembali tiba. Adapun aliran-aliran yang menentang Tsar ini adalah; (1) Kaum Liberal (Konstitusi Demokrat) yang menghendaki kerajaan yang berundang-undang dasar, dan; (2) Kaum sosialis yang menghendaki susunan masyarakat yang sosialis dan pemerintah yang modern dan demokratis. 


Kaum sosialis merupakan anasir yang revolusioner dan terbagi atas dua aliran : Mensjewiki/Menshevik (moderat, atau sosial-demokrat) dan Bolsjewiki/Bolshevik (radikal, kelak terkenal sebagai komunis). Pemimpin Menshevik adalah George Plekhanov dan Alexander Kerensky, dan pemimpin Bolshevik adalah Vladimir Ilyich Ulyanov, Leon Trotsky dan Joseph Vissarionovic.


Pada tahun 1914 negara-negara di Eropa khususnya terlibat dalam konflik besar yang disebut dengan Perang Dunia I telah menyebabkan juga Rusia untuk ikut terseret dalam Perang Dunia I. Sebenarnya Rusia tidak mempunyai tujuan dalam perang itu. Sebab Rusia ikut dalam peperangan karena terikat dan terseret oleh perjanjian- perjanjiannya dengan negara-negara lain, terutama oleh Triple Entente. Karena itu keikutsertaan Rusia dalam Perang Dunia I tidak mendapat sambutan yang hangat dari rakyat Rusia. Kekalahan-kekalahan Rusia yang besar dalam Perang Dunia I telah mengecewakan hati rakyat dan lenyaplah kepercayaan rakyat seutuhnya terhadap Tsar Nicholas II. 


Selain terlibat dalam Perang Dunia I, bahaya kelaparan sedang mengancam 15 juta orang yang sedang dipersiapkan untuk dimobilisasi demi kebutuhan perang. Oleh sebab itu, maka muncul kekurangan tenaga kerja baik dalam industri maupun dalam pertanian. Kebutuhan pangan 15 juta tentara harus dijamin secara penuh. Sehingga munculah permasalahan kekurangan bahan pangan di Rusia. Ekonomi negara yang kacau, bahaya kelaparan yang mengancam, lebih kurang sekitar 180 juta rakyat berteriak-teriak meminta makan menyelimuti atmosfer Rusia saat Perang Dunia I. Dengan berbagai fenomena ini maka revolusi telah berada di ambang pintu dan siap kembali menggetarkan langit-langit Rusia yang dalam arti kata lain memasuki babak baru yaitu Revolusi Rusia 1917.


Jalannya Revolusi Rusia 1917


Revolusi Rusia 1917, Revolusi rusia, revolusi februari rusia, revolusi februari 1917, revolusi februari rusia 1917, revolusi rusia februari 1917, kejatuhan tsar nicholas ii

Revolusi Rusia 1917 ini dibagi ke dalam 2 periode Revolusi, yaitu revolusi  Februari ( fase pertama ) dan Revolusi Oktober ( fase kedua ). Dalam artikel ini akan secara khusus menjelaskan secara singkat tentang Revolusi Rusia 1917 di bulan Februari di mana Tsar Nicholas II berhasil dijatuhkan dari kekuasaannya.


Revolusi Rusia 1917: Revolusi Februari


Revolusi Rusia 1917 di bulan Februari adalah revolusi rakyat bersama Kadet, Menshevik, dan Bolshevik dengan tujuan untuk menggulingkan Tsar Nicholas II. Revolusi ini di mulai dari pemogokan dan demonstrasi di Petrograd pada bulan Februari 1917. Korupsi yang tidak terkendali, seringnya Tsar Nicholas II mengabaikan nasehat Duma, meskipun rakyat telah memahami bahwa Duma kini cenderung menguatkan posisi dan kekuasaan Tsar, tetapi masih ada sedikit harapan Duma mampu memperbaiki situasi yang ada. Tetapi, lain ceritanya kini, Duma sudah benar-benar tidak digubris lagi oleh Tsar Nicholas II yang menyebabkan rakyat Rusia telah hilang kepercayaannya untuk yang kedua kalinya sejak Revolusi 1905 kepada Tsar Nicholas II.


Memasuki bulan September 1915, Tsar Nicholas II memutuskan untuk menggantikan Nikolai Nikolayevich Romanov sebagai panglima tertinggi tentara Rusia yang bertempur di Front Timur. Oleh karena Tsar Nicholas II sendiri yang memimpin tentara Rusia berperang di Front Timur, maka yang bertanggung jawab untuk permasalahan domestik adalah istrinya sendiri, Tsarina Alexandria (Alexandra Fedorovna). 


Tsarina Alexandria menunjuk Grigori Rasputin sebagai penasihatnya. Selama beberapa bulan selanjutnya, Tsarina Alexandria atas nasehat dari Grigori Rasputin mulai memberhentikan para menteri dan dalam surat kepada suaminya, ia menyebut menterinya dengan sebutan “bodoh dan idiot”. Hal ini menunjukkan bahwa penguasa Rusia sebenarnya bukanlah Tsar Nicholas II, melainkan istrinya, Tsarina Alexandria.


Masuknya Rusia ke medan pertempuran Perang Dunia I telah menyebabkan bahaya kelaparan mengintai ke Rusia. Kekalahan-kekalahan yang diderita oleh tentara Rusia selama Perang Dunia I awal berlangsung disebabkan oleh kurangnya senapan dan amunisi dan ratusan ribu nyawa dikorbankan telah dianggap sebagai kegagalan pemerintah.


Pada akhir Desember tahun 1916 di dalam kekaisaran, telah terlihat bagaimana Tsar Nicholas II tidak mampu lagi untuk membenahi birokrasi kekaisaran yang terutama dipengaruhi oleh keinginan-keinginan yang disampaikan oleh Tsarina Alexandria, istrinya sendiri.  Keputusan itu mulai terlihat pada tanggal 27 Desember 1916 Tsar Nicholas II memecat Alexander Trepov dan menggantikannya dengan Nikolai Golitsyn. Selain itu, pada 3 Januari 1917 Tsar Nicholas II mengganti Dimitry Shuvayev dengan Mikhail Belyaev sebagai menteri perang hanya disebabkan Dimitry Shuvayev tidak dapat berbahasa asing.


Berdasarkan beberapa keputusan itu dapat dikatakan bahwa dalam tujuh belas bulan di Rusia beradai di bawah ‘Kekuasaan Tsarina Alexandria” dari September 1915 hingga Februari 1917, Rusia mencapai suatu ‘prestasi’ di mana Rusia selama tujuh belas bulan itu memiliki empat perdana menteri, lima menteri dalam negeri, tiga menteri luar negeri, tiga menteri perang, tiga menteri transportasi, dan empat menteri pertanian. 


Hal ini telah mengacaukan sistem pemerintahan sebab tidak ada satupun diantara mereka yang cukup lama menjabat dan terlebih lagi Tsarina Alexandria memilih orang-orang yang tidak kompeten dibidangnya. Presiden Duma, Mikhail Rodzianko, Marie Pavlovna dan duta besar Inggris, Buchnan menyarankan agar Tsarina Alexandria disingkirkan dalam mempengaruhi kebijakan pemerintahan, namun Tsar Nicholas II menolak saran-saran itu.


Pada bulan Januari 1917, Jenderal Aleksandr Krymov kembali dari Front Timur dan meminta bertemu dengan Presiden Duma, Mikhail Rodzianko. Aleksandr Krymov menyatakan pada Mikhail Rodzianko bahwa para perwira dan orang-orangnya tidak lagi percaya pada Tsar Nicholas II dan tentara bersedia mendukung Duma jika Duma berniat mengambil alih pemerintahan Rusia. Akan tetapi, Duma tidak memutuskan untuk mengikuti saran tersebut dan lebih memilih untuk menyurati Tsar dan memperingatinya bahwa kondisi Rusia kini sedang berada diujung tanduk, revolusi akan segera menggema di Rusia jika Tsar tidak melakukan perubahan-perubahan termasuk yang utama adalah mengeluarkan permaisuri dari lingkaran politik.


Perang Dunia I memiliki dampak destruktif bagi ekonomi Rusia. Persediaan makanan mulai terbatas yang menyebabkan kenaikan harga. Sejak Januari 1917, harga bahan pangan di Petrograd saja telah naik hingga enam kali lipat. Dalam upaya menaikkan upah mereka, para pekerja industri melakukan pemogokan dan turun ke jalanan menuntut bahan pangan. Sejak 11 Februari 1918 mereka mulai berbaris di jalan-jalan Petrograd dan meneriakkan slogan anti-perang. Memasuki bulan Februari 1917 berdasarkan laporan agen polisi rahasia Kekaisaran Rusia tertanggal 14 Februari melaporkan bahwa untuk pertama kalinya perwira-perwira militer berbaur dengan massa yang berdemonstrasi menantang pemerintah di Nevsky Prospekt sejak awal Februari 1917.


Pada tanggal 18-22 Februari 1917 para pekerja Pabrik Putilov melakukan aksi pemogokan untuk melawan pemerintah. Pada tanggal 23 Februari 1917 serangkaian pertemuan dan aksi unjuk rasa diadakan untuk memperingati hari perempuan internasional, yang secara bertahap pertemuan itu mulai mengarah pada pertemuan yang agendanya membahas ekonomi dan politik. Para pekerja mulai memprotes pembatasan jatah pangan yang diterapkan oleh pemerintah.


Ketika pemerintah Kekaisaran Rusia mulai melakukan penjatahan bahan pangan, hal ini terdengar diseluruh penjuru kota Petrograd. Masyarakat Rusia yang diorganisir oleh golongan liberal, sosialis, komunis menuntut bahan makanan, kemudian disusul dengan diadakannya pemogokan-pemogokan di perusahaan-perusahaan. Para pekerja perempuan mulai masuk ke dalam barisan demonstrasi yang diperkirakan jumlah pekerja perempuan yang melakukan pemogokan mencapai 50.000 orang. Para perempuan ini sangat bersemangat dalam menunjukkan ketidakpuasan mereka dengan sistem penjatahan pangan yang diterapkan oleh pemerintah.


Para pekerja mulai membanjiri jalan-jalan di Kota Petrograd dan menuntut untuk diakhirinya Perang Dunia I dan sistem autokrasi Tsar. Memasuki tanggal 24 Februari 1917 sekitar 200.000 demonstran memenuhi jalanan menuntut penggantian Tsar Nicholas II dengan pemimpin politik yang lebih progresif. Massa tetap menuntut bahwa Perang Dunia I bagi Rusia harus diakhiri dan monarki Rusia diruntuhkan.


Pada 25 Februari 1917 hampir semua perusahaan berbasis indsutri, komersil dan jasa di Petrograd telah ditutup. Selain pekerja massa yang berasal dari pelajar, pegawai kantoran dan guru mulai bergabung dalam aksi yang dilakukan oleh pekerja itu sehingga diperkirakan jumlah demonstran kini telah mencapai angka 250.000 orang. Presiden Duma, Mikhail Rodzianko meminta ketua Dewan Menteri Nikolai Golitsyn untuk mengundurkan diri sedangkan Menteri Luar Negeri Nikolai Pokrovsky mengusulkan pengunduran diri seluruh pejabat pemerintahan. 


Tsar Nicholas II kemudian mengambil tindakan untuk mengatasi kerusuhan dengan menghubungi Jenderal Sergey Semyonovich Khabalov dari distrik militer Petrograd untuk membubarkan massa dengan senjata api dan untuk menekan demonstrasi ‘ilegal’ secara paksa. Pada tanggal 26 Februari 1917 pusat kota Petrograd ditutup dan pada sore harinya Kompi Keempat Pavlovski Replacement Regiment keluar dari barak setelah mengetahui bahwa terdapat detasemen lain dari resimen itu telah mengalami bentrokan dengan para demonstran di dekat Katedral Kazan. Setelah menembaki polisi, tentara ini kemudian dilucuti oleh Resimen Preobrazhensky. Hal ini menandai kejadian pertama pemberontakan terbuka di garnisun Petrograd.


Di hari yang sama, Nikolao Golitsyn mengumumkan bahwa Tsar Nicholas II menonaktifkan Duma hingga bulan April, yang sesungguhnya Duma akan dibubarkan oleh Tsar Nicholas II. Pada tanggal 27 Februari 1917 Duma membentuk komite sementara di bawah pimpinan Mikhail Rodzianko yang dalam pertemuan pertamanya itu Duma memerintahkan untuk menangkap semua mantan menteri dan para pejabat senior. Duma sendiri menolak untuk memimpin gerakan revolusioner.


Pada saat yang sama, kaum sosialis membentuk Soviet Petrograd. Di istana Mariinsky, Dewan Menteri Kekaisaran Rusia dibantu oleh Mikhail Rodzianko mengadakan pertemuan dan mendesak Alexander Protopopov untuk mengundurkan diri sebagai menteri dalam negeri, namun menolaknya dan ia membubarkan Duma. Tidak lama kemudian apartemen dan kantornya dijarah oleh demonstran dan Alexander Protopopov mengungsi ke Istana Marie. Pada tanggal 28 Februari 1917 Alexander Protopopov menyerahkan diri.


Menjelang malam hari, Jenderal Sergey Semyonovich Khabalov dan pasukannya menghadapi kaum revolusioner yang mulai mengendalikan ibukota Petrograd. Para demonstran di Petrograd mulai membakar dan menjarah gedung pengadilan, markas polisi rahasia dan banyak kantor-kantor polisi yang tidak luput dari pembakaran ini. Mereka (para demonstran) juga mulai menduduki gedung kementerian transportasi, menyita persenjataan dan membebaskan tahanan menuju kota. Para perwira angkatan darat mulai mundur dan berpindah ke Istana Musim Dingin.


Di Petrograd, malam itu sebagian besar garnisun mulai melakukan perlawanan kepada pemerintah diantaranya adalah Resimen Volynsky, Litovsky, Preobrazhensky, dan Moskovsky mulai turun ke jalan dan bergabung dengan demonstran yang mengakibatkan pada pemburuan terhadap polisi dan penyerahan 40.000 senapan kepada para pekerja. Selain resimen-resimen itu, terdapat beberap unit Cossack yang sebelumnya digunakan oleh pemerintah untuk mengendalikan massa demonstran sebagaimana yang pernah terjadi pada Revolusi 1905, kini mulai menunjukkan tanda-tanda dukungan kepada rakyat yang berdemonstrasi, meskipun itu hanya sebagian kecil dari mereka.


Kemampuan militer untuk menahan aksi protes tidak mampu lagi menahan gelombang demonstrasi itu. Simbol-simbol rezim Tsar dengan cepat dirobohkan di sekitar kota Petrograd dan otoritas pemerintah ibu kota telah runtuh. Para petinggi militer mulai mendesak Tsar Nicholas II untuk menyerahkan kekuasaan kepada Duma di mana Duma didesak oleh blok progresif untuk membentuk Komite Sementara untuk memulihkan hukum dan ketertiban. Komite Sementara ini menyatakan dirinya sebagai badan pemerintahan Kekaisaran Rusia. Sementara itu, kelompok sosialis yang telah kembali mendirikan Soviet Petrograd sejak Revolusi Rusia 1905 kini mewakili pekerja dan tentara.


Pada tanggal 28 Februari 1905 Tsar Nicholas II meninggalkan Mogilev dan tiba di Pskov pada 1 Maret 1905 di mana tujuannya adalah Tsarskoe Selo. Sementara itu, unit-unit yang menjaga Istana Alexander di Tsarskoe Selo menyatakan netralitasnya untuk pergi ke Petrogard dan meninggalkan keluarga kekaisaran. Nikolai Ruzsky, Vasily Shulgin dan Alexander Guchkov datang untuk memberi saran pada Tsar Nicholas II untuk turun takhta. 


Pada 2 Maret 1905 Tsar Nicholas II mengundurkan diri dari takhta dan mengajukan adiknya, Michael Alexandrovich untuk menggantikan dirinya. Namun, Michael Alexandrovich menolaknya dan akan mau untuk naik takhta apabila dirinya terpilih melalui konsensus yang demokratis oleh Majelis Konstituante Rusia. Dengan peristiwa pengunduran diri ini, maka Dinasti Romanov yang berkuasa selama 300 tahun berakhir. Nicholas II yang kini disebut dengan nama “Nicholas Romanov” dibawa ke Istana Alexander di Tsarskoye Selo pada tanggal 3 Maret 1905 dan bergabung dengan keluarga serta pengikutnya yang setia berada di bawah perlindungan Pemerintah Sementara. 


Pasca Kejatuhan Tsar Nicholas II: Dualisme Pemerintahan 


Pemerintah Sementara di bentuk oleh Komite Sementara Duma. Di mana di sini Kaum kadet memegang pimpinan. Kaum Kadet segera mengusulkan rencana pengembalian hak-hak sipil, hak politik  dan pelantikan Majelis Konstituante Rusia yang terpilih secara demokratis. Akan tetapi rencana ini tidak menyinggung masalah Perang Dunia I dan agraria. Pada saat yang sama, sejak 27 Februari 1917 telah dibentuk Soviet Petrograd yang mana telah menyebabkan dualisme kekuasaan di Rusia. Dualisme ini terjadi sebab Soviet mewakili kaum proletar sedangkan Pemerintah Sementara mewakili kaum borjuasi. 


Jika melihat dalam perimbangan kekuatan massa, Soviet memiliki kekuatan yang lebih kuat karena mengendalikan pekerja dan tentara. Pemerintah Sementara yang kurang mendapat dukungan dari penduduk, dan dalam upaya untuk mempertahankan kekuasaan mereka dan ide-ide demokrasi, mereka menerima partai-partai sosialis untuk bergabung supaya mendapatkan banyak dukungan. 


Ketua eksekutif pertama Soviet adalah orang Menshevik, Mikola Ckheidze, Matvey Skobelev dan Alexander Kerensky. Mereka meyakini bahwa Revolusi Rusia 1917 di bulan Februari (sering disebut dengan Revolusi Februari 1917) adalah “revolusi borjuis” sebab membawa Rusia ke arah kapitalisme, bukan pada sosialisme. 


Pemerintah Sementara awalnya dipimpin oleh seorang bangsawan berpemikiran liberal, Georgy Yevhenyevich Lvov, ia adalah seorang independen yang tidak bergabung dengan partai manapun. Pemerintah Sementara membentuk formasi menteri yang terdiri dari 9 wakil Duma dan 6 dari Partai Kadet di mana mereka mewakili kepentingan profesional, pebisnis dan borjuasi secara umum. Ketika organisasi-organisasi sayap kiri mulai bergerak, Partai Kadet menjadi partai konservatif utama. 


Sepanjang periode musim semi 1917 organisasi kiri yang mulai bergerak ini, telah berhasil mendirikan 700 soviet di seluruh Rusia mewakili kaum proletar dan kepentingan mereka untuk membawa Rusia ke arah Sosialisme. Tetapi yang jelas situasi di Rusia kini telah berubah. Dualisme kekuasaan di mana Pemerintahan Sementara dibentuk di sisi lain Komite Eksekutif Soviet juga dibentuk. Pemerintah Sementara diberi kewenangan formal dalam mengatur birokrasi dan administrasi, sedangkan Komite Eksekutif Soviet mendapatkan dukungan dari rakyat yang kelak akan mengakibatkan kerusuhan politik sampai akhirnya Bolshevik mengambil alih kekuasaan pada bulan Oktober 1917.


Pada 16 April 1917, Vladimir Ilyich Ulyanov (Lenin) tiba di Petrograd dan mulai mengambil rencana untuk melemahkan Pemerintah Sementara. Lenin menyatakan keinginannya untuk membawa proletar ke dalam perang sebagai bagian dari perang melawan imperialis dan tidak memberikan dukungan kepada Pemerintah Sementara yang sebagian besar terdiri dari kalangan borjuasi (dalam hal ini maksud Lenin berkaitan dengan “Kapital”). Vladimir Ilyich Ulyanov yang selanjutnya sering dikenal dengan nama Lenin berupaya untuk mengambil kendali gerakan Bolshevik dan berusaha untuk mendapatkan dukungan kaum proletariat.


Ketika terjadi peristiwa pada tanggal 3-4 Juli 1917 yang kemudian dikenal dengan Hari-Hari Juli yang diawali dengan pemogokan dan demonstrasi di Petrograd sebagai bentuk protes atas inflasi dan kekurangan bahan pangan. Dalam peristiwa ini terjadi kerusuhan di mana Bolshevik dianggap sebagai kreator demonstrasi, baik oleh Pemerintah Sementara maupun oleh Komite Eksekutif Soviet. Sehingga terjadi penangkapan besar-besaran terhadap anggota Bolshevik, termasuk Lenin, namun Lenin berhasil melarikan diri ke Finlandia.


Perlakuan terhadap Bolshevik telah menyebabkan Pemerintah Sementara kehilangan simpati rakyat.  Sejak berhasil menggulingkan Tsar, Kaum Kadet tidak mengadakan perubahan-perubahan seperti yang dituntut oleh rakyat, karena takut bahwa perubahan-perubahan itu hanya akan akan membuat keadaan semakin kacau di tengah-tengah keadaan yang sudah kacau. Setelah pembantaian dan penangkapan yang terjadi terhadap anggota-anggota Bolshevik,  terjadilah penggulingan kembali kaum kadet di gulingkan oleh kaum Menshevik di bawah pimpinan Alexander Kerensky. 


Kelompok Menshevik kemudian mengambil alih kekuasaan. Dengan membawa program menjunjung kembali kehormatan Rusia kemudian baru mengadakan perubahan-perubahan dalam negeri. Menshevik juga melangsungkan serangan besar-besaran terhadap Jerman sebagai ajang pembalasan tapi semua usaha ini gagal. Rakyat pun yang sudah jemu dengan perang kehilangan kepercayaan kepada kaum Menshevik. Dari sini lah Bolshevik mulai tampil kembali ke permukaan dan menjanjikan kepada rakyat apa yang dibutuhkan rakyat Rusia pada masa itu, terutama bahaya kelaparan yang akan dan sedang melanda Rusia.


Itulah Deskripsi singkat tentang Revolusi Rusia 1917 dalam upaya menggulingkan Tsar Nicholas II dan menghilangkan sistem autokrasi Kekaisaran Rusia. Revolusi Rusia di bulan Februari bukanlah revolusi terakhir yang terjadi di Rusia meskipun Kaum Menshevik berhasil merebut kekuasaan dari Kaum Kadet. Pada gilirannya, Kaum Menshevik harus menerima kenyataan pahit ketika mereka digulingkan pada Revolusi Bolshevik di bulan Oktober 1917.