Sejarah Perang Dunia 1 1914-1918 - ABHISEVA.ID

Sejarah Perang Dunia 1 1914-1918

Perang Dunia 1 (1914-1918)

Perang Dunia 1Perang Dunia 1 (PD 1) adalah peperangan yang terjadi di Eropa pada tanggal 28 Juli 1914 sampai 11 November 1918. Perang ini sering disebut Perang Dunia 1 disebut demikian untuk memberikan garis pemisah yang tegas dengan Perang Dunia Kedua atau Perang Dunia 2 yang terjadi pada tahun 1939-1945. 

Perang Dunia 1 ini telah melibatkan dua aliansi politik yang saling bertentangan, yaitu Blok Sekutu (Triple Entente yang terdiri dari Britania RayaPrancis, dan Rusia) dan Blok Sentral (Triple Alliance yang terdiri dari JermanAustria-Hungaria, dan Italia.


perang dunia 1, perang dunia pertama, perang dunia I, first world war, world war 1

Beberapa faktor yang menyulut atau melatarbelakangi Perang Dunia 1, diantaranya sebagai berikut: aliansi (persekutuan) negara-negara Great Powers Eropa, perebutan pengaruh dan wilayah kekuasaan, persaingan ekonomi, dan persaingan kekuatan militer. Kemudian, dari faktor-faktor tersebut berkaitan dengan beberapa peristiwa menuju pecahnya Perang Dunia 1, di antaranya yakni: Krisis Maroko, Persetujuan Inggris dengan Rusia, Krisis Bosnia, Krisis Agadir, Perang Balkan I, Perang Balkan II, dan pembunuhan Archduke Franz Ferdinand, Putra Mahkota Kekaisaran Austria. 


Di bawah ini akan dijelaskan tentang sejarah Perang Dunia 1. Perang Dunia 1 telah melibatkan sekitar 70 juta tentara, di mana 60 juta diantaranya adalah orang-orang Eropa. Di dalam prosesnya, Perang Dunia 1 telah menyebabkan lebih dari 9 juta prajurit tewas. Dapat dikatakan bahwa Perang Dunia 1 telah menyebabkan terjadinya perubahan politik di beberapa negara yang terlibat. 


Perang Dunia 1 berlangsung di dua front; front barat dan front timur. Akhir Perang Dunia 1 ditandai dengan kekalahan pihak Blok Sentral. Perjanjian Versailles sebagai perdamaian pun dikeluarkan. Berdasarkan perjanjian ini Jerman merupakan pihak yang dinyatakan bersalah dan menanggung banyak kerugian pasca perang. Kemudian untuk membentuk kesatuan dunia yang damai dan menghindari terjadinya perang kembali, atas usul Woodrow Wilson, dibentuklah Liga Bangsa-Bangsa. 



Latar Belakang Perang Dunia 1


Secara Umum, perkembangan dan kemajuan industri sejak Revolusi Industri abad ke-18 ternyata telah menimbulkan permasalahan baru, baik dalam bidang ekonomi, politik, social dan budaya. Kemajuan di bidang industry juga berdampak pada perkembangan militer terutama di bidang persenjataan yang menyebabkan negara-negara di Eropa mulai terlibat dalam perlombaan senjata untuk saling bersaing menentukan siapa yang paling hebat dan kuat dinilai dari persenjataan yang dimiliki.


Kemajuan industry di Eropa juga berdampak pula pada praktik kolonialisme dan imperialism yang menyebabkan bangsa Eropa selain bersaing dalam bidang persenjataan juga bersaing dalam perebutan wilayah di luar Eropa (Amerika, Asia dan Afrika). Sehingga tidak jarang terlibat konflik diantara mereka. Sebagai upaya untuk memenangkan konflik, mulai muncul ide politik mencari kawan. Politik mencari kawan ini menyebabkan terbentuknya aliansi-aliansi politik dan militer yang semakin memperkeruh suasana politik di Eropa.


Perang Dunia 1, yang dimulai di Eropa pada akhir bulan Juli 1914 dapat dikatakan dilatari oleh berbagai konflik berkepanjangan yang terjadi antara negara-negara besar di Eropa seperti Britania Raya, Prancis, Jerman (Prussia), Rusia, Austria-Hungaria dan Italia. Pertentangan antara negara-negara besar itu berkaitan erat dengan beberapa konsep dan kepentingan yang telah menyelimuti iklim Eropa diantaranya adalah kolonialisme dan imperialism, kapitalisme, persaingan senjata, politik aliansi yang saling berketerkaitan antara satu dengan yang lain. 


Akan tetapi, yang menjadi momentum terjadinya Perang Dunia 1 adalah peristiwa yang terjadi pada tahun 1914, terutama berkaitan dengan casus belli yang merupakan pembunuhan Archduke Franz Ferdinand dari Austria dan istrinya oleh Gavrilo Princip, seorang Serbia. Krisis itu terjadi ketika munculnya ketegangan antara negara-negara wilayah Balkan. Kekaisaran Austria-Hungaria bersaing dengan Serbia dan Rusia yang menjunjung tinggi semangat Pan-Slavisme untuk memperebutkan wilayah dan pengaruh di Balkan di mana ketegangan antara mereka telah menyeret seluruh negara-negara besar ke dalam konflik melalui serangkaian aliansi dan perjanjian.


Dalam Perang Dunia 1 terdapat beberapa hal yang penting dan harus dipahami, Pertama, sistem internasional yang berjalan sebelum Perang Dunia 1 adalah adanya perimbangan kekuatan (Balance of power) yang diikat melalui perjanjian-perjanjian aliansi antar negara-negara Eropa. Negara yang menjadi pemeran utama dalam perjalanan menuju Perang Dunia 1 adalah Jerman. 


Pasca unifikasi Jerman, di bawah pemerintahan kanselir Otto von Bismarck (1815-1898), Jerman mulai tumbuh dan berkembang sangat pesat, baik dalam perekonomian maupun militer. Namun demikian, Otto van Bismarck sadar akan pentingnya perimbangan kekuasaan agar tidak meletus perang di Eropa. Oleh sebab itulah, Otto van Bismarck mencoba membuat beberapa ikatan aliansi yang bertujuan untuk mengisolasi Prancis. 


Tujuan mengisolasi Prancis oleh Jerman mulai muncuk ketika Jerman berhasil merebut Alsace-Lorraine dari tangan Prancis dan memberikan kepercayaan kepada negara besar lain seperti Rusia bahwa Jerman dapat bersikap kooperatif dan dapat menjaga status quo. Hal ini mulai terbukti dengan adanya ikatan Jerman dalam aliansi dengan beberapa negara Eropa. Ikatan aliansi ini cenderung membuat pergerakan Jerman relatif terkontrol.


Akan tetapi, permasalahan mulai muncul setelah lengsernya Otto van Bismarck. Pemimpin Jerman yang baru Wilhelm II (1859-1941) melepas ikatan-ikatan aliansi yang telah dibangun oleh Otto van Bismarck. Dengan lepasnya ikatan-ikatan aliansi tersebut negara-negara Eropa mulai menaruh kecurigaan kepada Jerman dengan anggapan bahwa Jerman akan mencoba membuat dirinya menjadi kekuatan politik yang dominan di Eropa. 


Kecurigaan negara-negara Eropa mulai terlihat ketika industri angkatan laut Jerman yang berkembang pesat di mana hal ini menyebabkan Inggris menjadi waspada yang pada akhirnya menciptakan perlombaan senjata. Rasa kecurigaan, kekhawatiran dan kewaspadaan tidak dapat lagi dikontrol ketika Jerman mulai terlihat “bermain” terhadap situasi politik yang terjadi di Balkan selatan sebagai alasan untuk mengumumkan perang terhadap Rusia dan Prancis. Keterlibatan Jerman dapat dilihat dari beberapa peristiwa politik yang terjadi menjelang terjadinya Perang Dunia 1, diantaranya adalah Krisis di Maroko, Bosnia dan Krisis Balkan.


Krisis Maroko 1905-1906


Maroko adalah wilayah yang terletak di benua Afrika yang memasuki awal abad ke-20 tidak dikendalikan oleh kekuatan Eropa. Krisis di Maroko yang terjadi antara Maret 1905 – Mei 1906 ini mempersoalkan masalah status Maroko. Berkenaan dengan hal ini, Jerman mengumumkan pada Sultan Maroko untuk mengatur kemerdekaan negaranya dan menuntut konferensi internasional yang mendiskusikan bagaimana langkah-langkah yang mesti diambil selanjutnya. Konferensi ini diadakan di Algeciras, Spanyol selatan pada tahun 1906. 


Krisis di Maroko ini menyebabkan Jerman nampak mendominasi terhadap hal-hal yang bersifat diplomatis baik di Eropa maupun di Afrika yang selama ini lebih sering didominasi oleh Prancis dan Inggris. Konferensi Algericas tahun 1906 ini telah menyebabkan memburuknya hubungan Jerman dengan Inggris dan Prancis tetapi semakin meningkatkan hubungan antara Inggris dan Prancis.


Persetujuan Inggris dengan Rusia


Selama bertahun-tahun, Inggris melihat Rusia sebagai ancaman besar bagi kepentingannya di Timur Jauh dan India. Hal ini ditunjukkan ketika Rusia berupaya dalam pembangunan Trans-Siberia yang membuat Inggris jengkel. Namun, keadaan berubah setelah Rusia kalah dari Jepang dalam Perang Rusia-Jepang tahun 1905. Di lain pihak, Rusia ingin sekali untuk mengakhiri permusuhan panjang dan ingin menarik perhatian investasi Inggris untuk program modernisasi industri mereka. Persetujuan ini bukan tentang aliansi militer dan bukan kepentingan pergerakan anti-Jerman, tapi Jerman berpandangan bahwa dengan kesepakatan antara Inggris dengan Russia ini akan menyebabkan Jerman dikepung oleh Inggris, Prancis, dan Rusia.


Krisis Bosnia 1908-1909

Krisis di wilayah Balkan terjadi pertama kali pada tahun 1908-1909 yang biasa juga disebut pada periode ini dengan Krisis Bosnia. Krisis Bosnia ini terjadi ketika pada tanggal 6 Oktober 1908, Kekaisaran Austria-Hungaria mengumumkan penguasaan terhadap wilayah Bosnia dan Herzegovina yang sebelumnya merupakan wilayah kekuasaan dari Kesultanan Turki Utsmani. Selain krisis Bosnia, juga dipengaruhi oleh kemerdekaan Bulgaria pada sehari sebelumnya, yakni 5 Oktober 1908 yang menyebabkan serangkaian protes dari negara-negara besar di Eropa, terutama negara-negara yang berbatasan dengan Austria-Hungaria, yakni Serbia dan Montenegro.


Austria mengambil keuntungan dari Revolusi Turki Muda tahun 1908, dengan menganeksasi wilayah Bosnia. Aneksasi Austria terhadap Bosnia merupakan sebuah pukulan bagi Serbia yang juga menginginkan daerah Bosnia.  Hal ini dilakukan Serbia oleh karena di wilayah Bosnia berisi sekitar 3 juta jiwa orang Serbia diantara populasi campuran Serbia, Kroasia dan Muslim Bosnia. 


Dalam upaya menganeksasi Bosnia, Serbia meminta bantuan kepada Rusia. Namun, Rusia yang masih terpukul oleh kekalahan terhadap Jepang dan baru saja menyelesaikan krisis dalam Revolusi Rusia 1905 rupanya tidak berani mengambil risiko untuk menghadapai perang lain tanpa dukungan sekutunya. 


Di sisi lain, Jerman akan membantu Austria dalam perang merebut Bosnia. Dukungan Jerman terhadap Austria membuat posisi Austria semakin kuat. Sebab, Prancis memilih untuk mundur dan tidak mau terlibat dengan apa yang terjadi di Balkan. Sedangkan Inggris ingin menghindari pelanggaran perjanjiannya dengan Jerman. Mundurnya Inggris dan Prancis terhadap situasi di Balkan inilah yang juga menjadi pertimbangan Rusia untuk tidak membantu Serbia. Dengan Rusia, Prancis dan Inggris memilih untuk mundur dalam krisis di Balkan ini berakibat pada tidak ada bantuan untuk Serbia sehingga memudahkan langkah Austria untuk mendapatkan Bosnia.


Pada bulan April 1909, sebagai upaya untuk menyelesaikan krisis ini, Traktat Berlin diamandemen untuk memasukkan fait accompli. Akan tetapi, yang perlu dicatat, bahwa krisis Bosnia ini telah menyebabkan retaknya hubungan antara Austria-Hungaria, Italia, Serbia dan Rusia. Di mana Serbia tetap mengambil sikap bermusuhan dengan Austria-Hungaria yang mana setelah krisis Bosnia ini Rusia pun mulai mempersiapkan diri apabila sewaktu-waktu Serbia meminta bantuan kepada Rusia. Sebab Rusia juga khawatir dengan ekspansi yang dilakukan Austria, apabila Serbia berhasil dikuasai Austria, maka akan mudah bagi Austria untuk menyerang Rusia secara langsung.


Krisis Agadir 


Sesuai konferensi Algeciras (1906), Perancis merasa perlu memantapkan kedudukannya di Maroko. Tetapi kondisi Maroko sendiri menjadi bergolak, karena munculnya berbagai perlawanan rakyat terhadap Perancis. Oleh sebab itu, Jerman masuk kembali ke masalah Maroko dengan mengakui kemerdekaan Maroko tahun 1908. Pemberontakan semakin hebat. Pada tahun 1911, ibukota Maroko, Fez bahkan dapat dikepung kaum pemberontak dan tentara Perancis pun menduduki kota tersebut. Tindakan ini memaksa Jerman mengirimkan kapal-kapal perangnya ke Maroko. Menurut Inggris, tindakan Jerman mengancam perdamaian dunia karena melibatkan tiga negara besar yaitu, Perancis, Jerman dan Inggris. Tetapi kondisi ini dapat diakhiri dengan perjanjian yang intinya Jerman harus meninggalkan Maroko dan mengakui kekuasaan Perancis atas Maroko. Dan sebagai imbalannya, Jerman mendapat sebagian daerah Perancis di Kongo. 

Krisis Wilayah Balkan 1912


Berakhirnya krisis yang terjadi di Bosnia tahun 1908 bukanlah akhir dari segala permasalahan disekitar wilayah Balkan. Pada tahun 1912 krisis di wilayah ini telah menyebabkan konflik antara Serbia, Montenegro, Yunani dan Bulgaria yang tergabung dalam Liga Balkan berperang dengan Turki untuk memperebutkan wilayah Makedonia yang dikuasai oleh Turki yang selanjutnya hal ini dikenal dengan Krisis Balkan I. Penyelesaian konflik ini terjadi ketika Pemerintah Jerman dan Inggris mengatur konferensi perdamaian di London. 


Setelah berakhirnya perang dengan keberhasilan Liga Balkan merebut Makedonia, telah terjadi perselisihan kembali diantara mereka mengenai batas wilayah daerah Makedonia yang telah berhasil mereka rebut dari tangan Turki. Perselisihan inilah yang menyebabkan terjadinya Krisis Balkan II.


Perseteruan antara negara-negara Liga Balkan memuncak seiring kektidaksepakatan terhadap perjanjian antara mereka berkait dengan wilayah Makedonia dan persetujuan damai yang gagal pada 16 Juni 1913. Bulgaria mengharapkan mendapat sebagian wilayah Macedonia yang nyatanya wilayah Macedonia itu diberikan semua kepada Serbia dalam Perjanjian Bucharest. Serbia dan Yunani mulai bersekutu untuk menghancurkan Bulgaria dan mengusir tentara Bulgaria dari wilayah Makedonia. Di dalam pertempuran itu juga melibatkan Rumania terkait dengan sengketa wilayah dengan Bulgaria. 


Melihat situasi ini, Turki mulai mengambil kesempatan untuk merebut kembali Makedonia. Ketika tentara Rumania mencapai, Sofia, ibukota Bulgaria, Bulgaria meminta gencatan senjata yang melahirkan Traktat Bucharest di mana Bulgaria harus menyerahkan sebagian wilayahnya kepada Serbia, Yunani, Rumania dan Turki. Traktat Bucharest ini telah mengakhiri krisis Balkan II.


Setelah Krisis Balkan II, Serbia-lah yang mulai terlihat lebih menonjol dan menunjukkan ambisinya untuk memulai berkonfrontasi dengan Austria. Serbia bertekad memunculkan pergolakan orang Serbia dan Kroasia yang tinggal di wilayah Austria-Hungaria. Melihat situasi ini, Austria berupaya untuk menghentikan ambisi Serbia yang menyebabkan hubungan antara Austria dan Serbia kembali tegang.


Ketegangan antara Serbia dengan Austria memuncak ketika terjadi tragedy di Sarajevo pada 28 Juni 1914. Archduke, keponakan lelaki dan pewaris Kekaisaran Franz Josef, melakukan kunjungan resmi ke Sarajevo. Ketika itu dia dan istrinya ditembak mati oleh teroris Serbia, Gavrilo Princip. Austria menyalahkan pemerintahan Serbia dan mengirimkan ultimatum berat. Serbia menerima sebagian besar poin di dalamnya, tetapi Austria yang mendapatkan janji dukungan dari Jerman, menjadikan peristiwa pembunuhan di Sarajevo itu sebagai alasan untuk melaksanakan perang terhadap Serbia.


Pada 28 Juli 1914, Austria-Hungaria menyatakan perang kepada Serbia. Rusia berkeinginan keras untuk tidak membiarkan Serbia kecewa lagi, Rusia melakukan mobilisasi umum (29 Juli). Pemerintahan Jerman menuntut agar seharusnya hal ini ditunda (31 Juli), dan ketika Rusia gagal memenuhinya, Jerman menyatakan perang pada Rusia (1 Agustus 1914) dan Perancis (4 Agustus 1914). Austria-Hungaria menyatakan perang kepada Rusia pada tanggal 6 Agustus 1914. 


Jalannya Perang Dunia 1


Perang Dunia 1 tahun 1914


Perang Dunia 1 di Front Barat

Pada tanggal 4 Agustus 1914 Jerman menerapkan Schlieffen Plan untuk mengepung Prancis. Strategi ini dimaksudkan agar sayap kanan Jerman bergerak cepat melalui Belgia ke pantai, dan kemudian menyusur ke sepanjang barat dan selatan Paris, hampir mengepung tentara Prancis. Inggris yang mengetahui niatan Jerman segera mengirimkan bantuan kepada Belgia dan Prancis yang menyebabkan rencana Jerman tersebut gagal. Jerman dikalahkan oleh perlawanan kuat Belgia; mereka gagal menguasai pesisir Kanal, dan dapat dipastikan Jerman gagal mengepung tentara Prancis, dan dihentikan pada Pertempuran Marne Pertama. 


Pertempuran Marne adalah pertempuran Perancis-Inggris melawan Jerman yang dipimpin oleh Helmuth von Moltke pada 5-12 September 1914. Serangan Jerman diakhiri ketika serangan balasan Sekutu pada Pertempuran Marne I menggagalkan serangan Jerman, dengan strategi perang parit di Front Barat. Pertempuran ini merupakan peristiwa sangat penting sebab dalam Pertempuran Marne yang berhasil menghancurkan Schlieffen Plan. 


Melalui strategi Schlieffen Plan Jerman berharap bahwa Prancis akan dapat dikalahkan dengan cepat. Namun, nyatanya akibat kegagalan ini Prancis tidak dapat dikalahkan dalam waktu 6 minggu, dan semua harapan Jerman bahwa perang dalam waktu singkat pun sirna. Jerman berencana untuk menaklukan Prancis terlebih dahulu sebelum berhadapan dengan Rusia. 


Di sisi lain, Jerman harus menghadapi perang dalam skala penuh pada dua front; front Barat dan front Timur ketika pada bulan September 1914 Rusia mulai menginjakkan kakinya di Prusia yang mana hal ini diluar perhitungan Jerman dan kondisi peperangan di kedua front tentu sangatlah tidak diharapkan Jerman.  Peperangan di front Barat berakhir dengan strategi perang parit yang digunakan sebagai perlindungan, di mana parit-parit yang dibangun ini membentang dari Pegunungan Alpen hingga ke pesisir Kanal. 


Berakhirnya pertempuran di front Barat memberikan keuntungan bagi Prancis dan Belgia di mana mereka dapat bertahan dari serangan Jerman. Di sisi lain keuntungan pun didapatkan oleh Inggris dengan hal ini maka ada waktu bagi Angkatan Laut Inggris untuk melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Jerman. Selain keuntungan bagi Sekutu di front Barat. Di Front Timur Rusia juga berhasil mempertahankan wilayah yang telah berhasil dikuasainya di Prusia oleh sebab terbaginya konsentrasi pasukan Jerman.


Perang Parit yang terjadi di front Barat telah menyebabkan peperangan berjalan pasif yang mana hal ini dimanfaatkan oleh negara-negara yang berperang untuk memperluas jajahannya diluar Eropa. Seperti Inggris dan Prancis yang berhasil mengambil daerah jajahan Jerman di Togo, Kamerun dan Afrika Timur. Sedangkan di Asia Pasifik, Jepang berhasil mengambil daerah jajahan Jerman di Kepulauan Marshall, Mariana dan Karolina.


Perang Dunia 1 di Front Timur


Di front timur, diluar perhitungan Jerman, Rusia telah bergerak lebih cepat yang menyebabkan Austria dan Jerman salah perhitungan menyerang pada saat yang sama (berperang di kedua front). Walaupun berhasil melawan Austria dengan menduduki provinsi Galicia, Jerman pada akhirnya berhasil menguasai Hindenburg dan mengalahkan Rusia dua kali di Tannenburg (Agustus) dan Danau Masurian (September). 


Pertempuran di front timur ini telah menyebabkan Rusia kehilangan peralatan dan amunisi dalam jumlah besar. Meskipun mereka telah mengerahkan sebanyak 250.000 tentara pada akhir tahun 1914, namun sepertiga dari mereka atau sekitar lebih kurang 80.000 diantaranya tanpa dipersenjatai.


Setelah kekalahan dari Jerman, Rusia tidak bangkit dari kekalahannya, sedangkan kepercayaan diri Jerman semakin bertambah di front timur. Hal ini terutama ketika Turki masuk ke dalam perang yang membuat Rusia semakin tertekan. Sedangkan di sisi lain ternyata Serbia secara bertahap mulai berhasil menghentikan invasi yang dilakukan oleh Austria.


Perang Dunia 1 tahun 1915


Perang Dunia 1 di Front Barat


Kebuntuan yang terjadi di front barat akibat perang parit tetap berlanjut, meskipun beberapa upaya dilakukan untuk memecahkan selokan parit. Inggris mencoba menyerang Jerman di Neuve Chapelle dan Loos, dan Prancis melakukan hal yang sama di Champagne; Jerman diserang lagi di Ypres. 


Seluruh peperangan yang terjadi di front Barat tetap mengalami kendala yang sama di mana adanya kawat berduri diantara dua parit berlawanan dan penyerangan harus mencoba dengan pemboman artileri besar. Parit sulit dikepung karena adanya perlindungan dari senapan mesin yang membuat serangan secara frontal adalah sebuah tindakan bunuh diri dan kavaleri berkuda dalam peperangan ini menjadi tidak berguna. Dalam pertempuran di Ypres, Jerman menggunakan gas beracun, tetapi ketika angin berubah arah, malah berhembus kembali pada sendiri dan menimbulkan banyak korban di pihak Jerman akibat penggunaan gas beracun ini.


Perang Dunia 1 di Front Timur


Di front timur, peruntungan Rusia dalam Perang Dunia 1 mulai diragukan. Hal ini disebabkan Rusia sukses melawan Austria, namun mereka dikalahkan oleh Jerman, yang berhasil merebut Warsawa dan seluruh Polandia. Selain itu, kondisi Rusia yang semakin runyam dikarenakan adanya blockade Selat Dardanella oleh Turki juga telah menghambat Rusia, yang juga telah kehabisan senjata dan amunisi. 


Sebagai upaya untuk membantu Rusia keluar dari permasalahan itu, Inggris berupaya untuk membuka jalur suplai untuk Rusia melalui Laut Hitam, maka dilancarkanlah Kampanye Gallipoli. Kampanye ini merupakan ide Winston Churchill untuk menyingkirkan Turki. Sebab menurutnya Turki dianggap memiliki kekuatan paling lemah dalam Blok Sentral.


Akan tetapi, Kampanye Gallipoli ini harus menemui kegagalan. Percobaan pertama pada bulan Maret, Angkatan Laut koalisi Anglo-French menyerang melalui Selat Dardenella untuk menaklukan Konstantinopel, tetapi ekspedisi ini menemui kegagalan. Kegagalan ini telah merusak apa yang sudah direncanakan sebelumnya, jadi ketika Inggris mencoba untuk mendarat di Semenanjung Galipoli, Turki sudah memperkuat pertahanan mereka. Pada tahun 1915 merupakan tahun yang kurang baik bagi Sekutu; bahkan Inggris harus mengirimkan tentaranya untuk melindungi kepentingan minyak di Mesopotamia karena tentara Turki mulai mendekati Baghdad. Turki mulai melakukan pengepungan di Kut-el-Amara dari Desember 1915 sampai Maret 1916, yang membuat Inggris terpaksa menyerah.


Nasib buruk Sekutu tidak terlalu buruk meskipun mengalami berbagai kesulitan sepanjang tahun 1915. Perpecahan antara anggota Blok Sentral mulai terjadi pada Bulan Mei 1915 ketika Italia menyatakan Perang terhadap Austria-Hungaria. Italia berharap dapat menguasai wilayah Austria yang berbahasa Italia serta wilayah sepanjang pantai timur laut Adriatik. 


Sebuah perjanjian rahasia yang ditandatangani di London yang mana Sekutu menjanjikan Italy Trentino, sebelah selatan Tyrol, Istria, Trieste, bagian Dalmatia, Adalia, beberapa pulau di Laut Aegea dan protektorat Albania. Sekutu berharap bahwa dengan menduduki ribuan tentara Austria, Italia akan mampu mengurangi tekanan pada Rusia. Tetapi apa yang dilakukan oleh Italia hanya membuat sedikit perkembangan dan upaya mereka tidak dapat menghindari kekalahan bagi Rusia.


Perang Dunia 1 tahun 1916 


Pertempuran Verdun 


Pertempuran Verdun adalah pertempuran yang terjadi antara pasukan Jerman dan Prancis di front Barat selama Perang Dunia 1 pada tanggal 21 Februari sampai 18 Desember 1916 di daerah perbukitan utara kota Verdun-sur-Meuse di utara-timur Prancis. Pertempuran Verdun berakhir dengan kemenangan bagi Prancis karena Komando tertinggi Jerman gagal mencapai dua tujuan strategis yang diantaranya adalah; 


(1) Merebut kota Verdun; dan

 

(2) Jerman mengharapkan lebih banyak korban yang jatuh dari pasukan Prancis sehingga memudahkan langkahnya untuk menguasai Prancis.


Secara keseluruhan, Pertempuran Verdun telah menyebabkan lebih dari 250.000 tentara tewas di medan pertempuran dan setidaknya 500.000 tentara terluka. Pertempuran Verdun merupakan pertempuran terpanjang dan paling dahsyat selama Perang Dunia 1.


Pertempuran Laut Jutland 


Pertempuran Jutland adalah pertempuran laut terbesar yang terjadi di Laut Utara lepas pantai Jutland pada 31 Mei – 1 Juni 1916. Angkatan Laut Jerman yang dipimpin oleh Vice Admiral Reinhard Scheer berhadapan dengan Angkatan Laut Inggris yang dipimpin Admiral Sir John Jellicoe. Peperangan ini adalah upaya yang dilakukan oleh Angkatan Laut Jerman untuk menghindari Angkatan Laut Inggris yang berjumlah lebih besar, dengan tujuan meloloskan diri sambil berusaha merusak Angkatan Laut Inggris. 


Pertempuran ini mengalami kebuntuan bagi Jerman. Sebab Jerman kalah jumlah dengan armada Inggris. Sebagai hasilnya Inggris berhasil mempertahankan penguasaan mereka terhadap laut dan menyebabkan sebagian besar armada laut Jerman tetap berada di pelabuhan sepanjang berlangsungnya perang ini. 


Perang Dunia 1 tahun 1917 


Perang Dunia 1 tahun 1917 berlanjut pada Pertempuran Passchendaele terjadi antara bulan Juli dan November 1917. Dalam serangkaian operasi, pasukan Entente yang berada di bawah komando Inggris menyerang Tentara Kekaisaran Jerman. Pertempuran ini terjadi untuk mengendalikan desa Passchendaele yang berdekatan dengan kota Ypres di Flanders Barat, Belgia. Tujuan dari serangan ini adalah untuk menghantam pertahanan tentara Jerman, dan memaksa Jerman untuk menarik diri dari Pelabuhan Channel. Serangan ini juga ditujukan untuk mengalihkan perhatian tentara Jerman dari Perancis yang berada di Aisne.


Pada tahun 1917, Jerman menerapkan peperangan kapal selam tanpa batas, karena sudah memperkirakan bahwa Amerika Serikat akan terjun dalam peperangan ini dan berhadapan dengan mereka. Jerman berusaha menempatkan pertahanannya di alur pendaratan Sekutu sebelum pihak Amerika Serikat mengirimkan tentaranya lewat laut, tetapi hanya mampu untuk mempertahankan dan mengoperasikan sebanyak 5 buah kapal selam jarak jauh. 


Peperangan kapal selam dalam Perang Dunia 1 digambarkan sebagai serangan yang umumnya berlangsung tanpa adanya peringatan. Serangan kapal selam dalam Perang Dunia 1 diawali oleh Jerman yang mengakibatkan penenggelaman kapal penumpang Lusitania. Amerika Serikat melayangkan protesnya terhadap Jerman dan Jerman berjanji untuk tidak menyerang kapal penumpang. Sementara pihak Inggris mulai mempersenjatai kapal dagang mereka.


Ancaman serangan kapal selam Jerman berkurang di tahun 1917, ketika kapal dagang berlayar secara berkonvoi yang dikawal kapal-kapal perusak. Taktik ini mempersulit kapal selam untuk mencari targetnya, yang mana secara signifikan ancaman ini makin berkurang setelah ditemukan hydrophone dan depth charges, yang membuat kapal perusak pengawal konvoi dapat menyerang kapal selam dengan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi. Sistem konvoi melambatkan jalur supply karena kapal dagang harus menunggu untuk berlayar sampai konvoi kapal-kapal berhasil terbentuk. 


Solusi dari adanya hambatan ini adalah usaha pembangunan kapal-kapal dagang secara ekstensif. Kapal pengangkut pasukan mempunyai kecepatan yang jauh lebih cepat daripada kapal selam dan tidak berlayar secara konvoi di Atlantik Utara. Hingga tahun 1917 tercatat bahwa kapal selam Jerman berhasil menenggelamkan hampir 5000 buah kapal Sekutu, dan menderita kerugian 178 buah kapal selam.


Perang Dunia 1 tahun 1918


Perkembangan Perang Dunia 1 tahun 1918 nampak mulai menunjukkan berakhirnya peperangan tersebut. Keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Dunia 1 seolah-olah sebagai pertanda kemunduran Jerman dan sekutunya diberbagai front pertempuran. Sebagai upaya untuk sesegera mungkin menyelesaikan perang, Jerman melakukan penyerangan yang dikenal dengan Serangan Musim Semi Jerman tahun 1918. 


Serangan ini dilakukan oleh Ludendorff sebagai upaya terakhir memenangkan perang sebelum terlalu banyak pasukan Amerika Serikat tiba di berbagai front di Eropa, dan sebelum ketidakpuasan rakyat di Jerman menyebabkan revolusi. Empat serangan Jerman secara terpisah dengan maksud untuk menarik pasukan dari Pelabuhan Channel dan kemudian menyerang kembali pelabuhan tersebut.


Pada tanggal 8 Agustus 1918, di dekat Amiens, Sekutu yang telah dibantu oleh Amerika Serikat dengan ratusan tank mulai menyerang di beberapa titik yang berbeda. Hal ini memaksa Jerman untuk menarik seluruh lini dan membentuk salient. Perlahan tapi pasti tentara Jerman terpaksa kembali, sampai akhir September 1918 Sekutu telah berhasil menembus Hindenburg Line. Meskipun Jerman sendiri belum menyerang, Ludendorff sekarang yakin bahwa ia akan dikalahkan pada musim semi 1919.

 

Akhir Perang Dunia 1 


Sebelumnya, pada awal 1917, Jerman menyerang kapal selam milik Amerika Serikat. Hal ini membuat Amerika Serikat menyatakan perang terhadap Jerman pada bulan April 1917. Sebelumnya pada 1916, hanya ada 130.000 angkatan bersenjata di Amerika Serikat. Pada akhir tahun 1917 sebanyak 3,5 juta tentara telah terdaftar, dan pada tahun 1918 mereka berada di dalam perjalanan menuju Eropa. Intervensi Amerika Serikat dalam Perang Dunia 1 telah menaikkan keseimbangan kekuatan yang sebelumnya terlihat tanda-tanda Jerman akan memenangkan pertempuran. Kehadiran Amerika Serikat pada Perang Dunia 1 telah memaksa Jerman untuk menuntut perdamaian pada bulan November 1918 dan mengakhiri Perang Dunia 1 ini.


Adapun beberapa penyebab kekalahan Blok Sentral antara lain; 


(1) Kegagalan operasi Schlieffen telah menghapus semua harapan kemenangan cepat Jerman. 


(2) Terdapat perpecahan di dalam blok Sentral. Italia yang awalnya berpihak pada blok Sentral berbalik memusuhi blok Sentral oleh karena Italia menginginkan wilayah yang berada di bawah kekuasaan Austria.


(3) Kekuatan laut Sekutu melakukan blokade mematikan yang menyebabkan kekurangan pangan bagi blok sentral dan menyebabkan ekspor lumpuh.


(4) Meskipun berhasil menenggelamkan 5000 kapal, tapi dapat dikatakan kampanye kapal selam Jerman gagal dalam menghadapi konvoi yang dilindungi kapal perusak Inggris, Amerika Serikat dan Jepang.


(5) Jumlah anggota blok Sekutu yang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan blok Sentral ditambah Kehadiran Amerika Serikat telah membawa kekuatan baru di pihak Sekutu. 


(6) Ketegangan terus-menerus yang disebabkan dari kekalahan besar Jerman di berbagai front sejak tahun 1917 mengisyaratkan Jerman bahwa mereka telah banyak kehilangan pasukan terbaik. Pada tahun 1918 kekalahan demi kekalahan tetap diderita oleh Jerman yang ditambah epidemi flu Spanyol memperburuk situasi.


(7) Jerman sangat diandalkan oleh sekutu-sekutunya dan terus-menerus harus membantu Austria dan Bulgaria yang hampir selalu menderita kekalahan. 


Perjanjian yang terbentuk Pasca Perang Dunia 1


1. Perjanjian Versailles, 28 Juni 1918 antara Sekutu dan Jerman


2. Perjanjian St. Germain, 10 November 1919 antara Sekutu dan Austria


3. Perjanjian Neuilly, 27 November 1919 antara Sekutu dan Bulgaria


4. Perjanjian Trianon, 4 Juni 1920 antara Sekutu dan Hungaria


5. Perjanjian Sevres, 20 Agustus 1920 antara Sekutu dan Turki


Akibat Perang Dunia 1


Pihak yang menang berkumpul di Paris pada musim dingin tahun 1919 untuk menyusun perjanjian perdamaian dengan pihak yang kalah. Dalam negoisasi ini terdapat tokoh yang menonjol yaitu Woodrow Wilson, yang menuangkan idenya ke dalam “Empat Belas Poin” berlandaskan prinsip demokrasi, nasionalisme, dan liberalisme. Wilson menyerukan penentuan nasib nasional untuk rakyat dan penentuan ulang perbatasan Eropa. Ia juga meminta sebuah asosiasi umum untuk menyelesaikan sengketa antar negara dan mencegah perang terjadi kembali. Kedua idenya ini menjadi pusat diskusi dalam negoisasi ini.


Meskipun tujuan Wilson idealis, perjanjian perdamaian (Perjanjian Versailles), sangat memberatkan pihak Jerman. Hal penting yang dihasilkan oleh perjanjian ini adalah Jerman menerima tanggung jawab penuh sebagai penyebab peperangan dan melalui aturan dari pasal 231-247, harus melakukan perbaikan pada negara-negara yang tergabung dalam Sekutu.


Gagasan Wilson lainnya adalah, “Asosiasi Umum Bangsa” yang berasal dari pertemuan di Paris yang disebut Liga Bangsa-Bangsa. Liga ini berdasarkan prinsip keamanan kolektif di mana semua negara bertanggung jawab melindungi kedaulatan dan kemerdekaan negara lain. Negara-negara anggota berjanji untuk tidak saling perang dan akan memanfaatkan organisasi ini untuk mendiskusikan dan menyelesaikan sengketa secara damai. Sebagai organisasi yang universal, Liga Bangsa-Bangsa akan menggantikan sistem persekutuan.


Pencetus Liga Bangsa-Bangsa adalah presiden Amerika Serikat, Woodrow Wilson. Namun, Amerika Serikat sendiri tidak tergabung dalam organisasi ini. Negara lain yang tidak bergabung adalah Rezim Komunis Rusia dan Jerman, sebagai bagian dari hukuman perang, dilarang untuk bergabung Liga Bangsa-Bangsa sampai dengan tahun 1926.


Perang Dunia 1 mengakibatkan kerugian sangat besar. Sebanyak kurang lebih delapan juta jiwa tewas dan dua puluh juta jiwa lainnya luka-luka, bahkan banyak di antara mereka cacat atau dimutilasi secara mengerikan. Kerugian ini tersebar di seluruh benua.


Selain itu, perang ini menandai akhir dari kekuasaan monarki absolut di Eropa, suatu proses yang dimulai oleh Revolusi Prancis. Kali ini, setelah Perang Dunia 1 kekuasaan monarki absolut tidak akan muncul kembali. Dari kerajaan-kerajaan tua muncul banyak negara demokratis baru berdasarkan cita-cita abad ke-18; kedaulatan rakyat, dan cita-cita abad ke-19; liberalisme dan nasionalisme.


Banyak negara-negara baru yang lemah, miskin dan tidak terbiasa dengan toleransi demokratis. Beberapa negara, khususnya Jerman sangat menderita di bawah hukuman perdamaian pasca perang. Depresi ekonomi di seluruh dunia sangat berpengaruh terhadap Jerman, ekonomi Jerman yang memang sudah lemah akibat hukuman pembayaran perbaikan-perbaikan setelah perang menjadi semakin hancur akibat depresi ekonomi dunia. Jutaan warga Jerman menjadi pengangguran, kemiskinan merajalela, dan kemunculan perasaan kesal terhadap Perjanjian Versailles. Kemelaratan Jerman pasca Perang Dunia 1 inilah yang menyebabkan terjadinya Perang Dunia 2.