Sejarah Perang Dunia 2 - ABHISEVA.ID

Sejarah Perang Dunia 2

Sejarah Perang Dunia 2


Perang Dunia 2 - Perang Dunia 2 atau yang biasa disingkat menjadi PD II atau PD 2) adalah peperangan yang terjadi pada tahun 1939 sampai tahun 1945. Perang Dunia 2 memiliki cakupan yang lebih luas apabila dibandingkan dengan Perang Dunia 1 yang terjadi sebelumnya. Hal ini cukup beralasan, sebab dapatlah dikatakan bahwa Perang Dunia 2 telah melibatkan seluruh negara-negara di dunia. Perang Dunia 2 terjadi di berbagai front yang tidak hanya sekedar melibatkan Eropa saja sebagai latar utama terjadinya peperangan, melainkan kawasan Asia-Pasifik juga menjadi latar utama terjadinya Perang Dunia 2 ini. Perang Dunia 2 lahir akibat respon terhadap apa yang terjadi setelah Perang Dunia 1. 



Perang Dunia 1 telah mengubah peta politik Eropa setelah kekalahan Blok Sentral (Jerman, Austria-Hungaria, Bulgaria, dan Turki). Perang Dunia 2 telah melibatkan banyak sekali negara di dunia dengan memiliki pola awal yang sama seperti apa yang terjadi pada Perang Dunia 1 yakni dengan terbentuknya dua aliansi militer yang saling bertentangan yakni Blok Sekutu dan Blok Poros. Perang Dunia 2 merupakan perang terluas di dalam sejarah yang telah melibatkan lebih dari 100 juta tentara. 


Perang Dunia 2 telah menyebabkan negara-negara yang terlibat dalam keadaan "perang total". Perang total adalah kondisi di mana negara akan memaksimalkan seluruh kemampuan yang dimilikinya, baik di bidang ekonomi, industri, dan ilmiahnya untuk keperluan perang, sehingga tiada lagi perbedaan antara sumber daya sipil dan militer. Di bawah ini akan dijelaskan tentang sejarah Perang Dunia 2 yang terjadi pada tahun 1939-1945.


Perang Dunia 2 telah menyebabkan kematian bagi sekitar lebih kurang sejumlah 70 juta jiwa baik dari kalangan sipil dan militer dan mungkin ini hanya sekedar angka yang terhitung dan bisa jadi jumlahnya lebih daripada angka ini. Angka kematian ini telah menjadikan Perang Dunia 2 sebagai konflik yang paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia.


Latar Belakang Perang Dunia 2


Keadaan politik internasional khususnya di Eropa menjelang Perang Dunia 2 memiliki kemiripan dengan keadaan politik sebelum terjadinya Perang Dunia 1. Serangkaian aksi balas dendam terhadap apa yang terjadi pada fase Perang Dunia 1 menjadi alasan utama dari munculnya Perang Dunia 2. Selain permasalahan dendam atas kekalahan yang terjadi pada Perang Dunia 1, di sisi lain juga disebabkan oleh terjadinya perubahan-perubahan politik internal dari negara-negara yang sebelumnya terlibat dalam Perang Dunia 1. 


Sebagai kasus contoh di Eropa yakni Rusia yang mengalami Revolusi sebanyak dua kali selama tahun 1917 telah menyebabkan runtuhnya Kekaisaran Rusia dan digantikan oleh sistem pemerintahan komunis. Bubarnya kekaisaran Austria-Hungaria dan terbentuknya negara-negara baru dibekas wilayah itu seperti Cekoslowakia dan Yugoslavia. Serta bubarnya Kekaisaran Jerman melalui Revolusi Jerman 1918-1919 yang membentuk republik demokratis dengan nama Republik Weimar. Sedangkan di Asia-Pasifik, Jepang mulai menunjukkan tanda-tanda keagresifannya.


Berakhirnya Perang Dunia 1 dan terbitnya serangkaian perjanjian telah menyebabkan pukulan dan penderitaan yang mendalam bagi pihak yang kalah perang, terutama bagi Jerman. Sebagai pihak yang kalah, Jerman harus membayar ganti rugi kepada Sekutu dengan dikuatkan dalam Perjanjian Versailles pada tahun 1919. Kekalahan Jerman dengan telak ini dalam Perang Dunia 1 telah menyebabkan ketidakpuasan bagi rakyat Jerman yang harus tertekan dan mengalami hidup dengan penuh penderitaan yang dituntut oleh Perjanjian Versailles. 


Kondisi kehidupan yang sangat berat dan memprihatinkan itulah yang memicu munculnya gerakan-gerakan perubahan di Jerman dan salah satunya yang menonjol adalah gerakan fasisme yang dipimpin oleh Adolf Hitler dengan Partai Nazi sebagai kendaraan politiknya. Sedangkan selain Jerman, gerakan fasisme juga muncul di Italia dan Jepang yang masing-masing memiliki agenda nasionalnya sendiri.


Lahirnya Negara-negara Fasis


Kerugian yang dialami oleh negara-negara yang kalah dalam Perang Dunia 1 akibat dari perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh blok Sekutu dan kehancuran ekonomi membuat keadaan hidup menjadi semakin sulit. Sebagai upaya untuk bangkit dari keterpurukan maka mulai muncul paham ultranasionalisme. Dari paham ultranasionalisme tersebut lahir negara-negara fasis. Negara-negara fasis yang muncul yaitu Jerman, Italia, dan Jepang.


Fasisme di Jerman


Dalam Perang Dunia 1 Jerman mengalami kekalahan dan penderitaan yang hebat dan menyakitkan. Namun, setelah Jerman berada di bawah kepemimpinan Adolf Hitler, Jerman mulai bangkit dari keterpurukannya. Melalui Partai Nazi sebagai kendaraan politiknya, Adolf Hittler mulai membangun Jerman kembali. 


Jerman menganut paham Chauvinisme yaitu paham yang menganggap dirinya lebih unggul dari ras lainnya. Selain itu Jerman juga menganut paham totaliterisme yaitu paham yang melaksanakan prinsip bahwa eksistensi manusia secara orang perorang tidaklah penting, sebaliknya tiap manusia menjalankan perannya untuk mendukung tercapainya kepentingan bersama. Sehingga rakyat tidak memiliki kebebasan dan harus mengikuti kemauan negara.

Berikut ini beberapa tindakan yang dilakukan oleh Adolf Hitler untuk mewujudkan kejayaan Jerman :


1) Menolak isi Perjanjian Versailles.
2) Membangun angkatan perang yang kuat.
3) Mengobarkan semangat anti-Yahudi dengan membunuh dan mengusir orang-orang Yahudi dari Jerman.
4) Membangun hubungan kerja sama politik dan militer dengan Jepang dan Italia (Poros Roberto).
5) Membentuk polisi rahasia yang disebut Gestapo.


Seiring dengan perkembangan yang dialaminya, Jerman mulai berani melakukan politik ekspansi kembali. Jerman melaksanakan politik Lebensraum (ruang untuk hidup) yaitu gagasan perluasan wilayah melalui perang. Misalnya dengan menduduki Austria dan Cekoslowakia.


Fasisme di Italia


Italia adalah salah satu negara pemenang dalam Perang Dunia 1. Meskipun menang, Italian merasa kecewa sebab tuntutannya dalam Perjanjian Versailles tidak terpenuhi. Karena kekecewaannya tersebut, Italia mulai bangkit di bawah pimpinan Benito Mussolini Italia berkembang menjadi negara fasis. Berikut ini adalah usaha-usaha yang ditempuh oleh Benito Mussolini untuk mengembangkan fasisme di Italia:


1) Mengobarkan semangat Italia Irredenta untuk mempersatukan seluruh bangsa Italia.
2) Memperkuat angkatan perang.
3) Menguasai seluruh Laut Tengah sebagai Mare Nostrum atau Laut Kita.
4) Menduduki Ethiopia dan Albania.


Fasisme di Jepang


Munculnya fasisme Jepang tidak dapat dipisahkan dari apa yang terjadi di Jepang selama Restorasi Meiji. Berkat Restorasi Meiji, Jepang telah berkembang menjadi negara industri yang kuat. Majunya industri tersebut telah membawa Jepang menjadi negara imperialis. Jepang menjadi negara fasis dan menganut prinsip Hakko-I-Chiu. 


Fasisme di Jepang dipelopori oleh Perdana Menteri Tanaka, masa pemerintahan Kaisar Hirohito dan dikembangkan oleh Perdana Menteri Hideki Tojo. Untuk memperkuat kedudukannya sebagai negara fasis, Kaisar Hirohito melakukan beberapa hal berikut:


1) Mengagungkan semangat bushido.
2) Menyingkirkan tokoh-tokoh politik yang anti militer.
3) Melakukan perluasan wilayah ke negara-negara terdekat seperti Korea, Manchuria, dan Cina.
4) Memodernisasi angkatan perang.
5) Mengenalkan ajaran shinto Hakko-I-Chiu yaitu dunia sebagai satu keluarga yang dipimpin oleh Jepang.


Berkembangnya negara-negara fasis seperti Italia, Jerman, dan Jepang membuat situasi politik di kawasan Eropa semakin panas dan mulai diwarnai dengan ketegangan yang mendorong terjadinya Perang Dunia 2.


Sebab-Sebab Umum Terjadinya Perang Dunia 2


Penyebab umum terjadinya Perang Dunia 2 sebagai berikut:


Kegagalan Liga Bangsa-Bangsa (LBB) dalam menciptakan perdamaian dunia


Sebagai upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya perang dikemudian hari, pada tahun 1919 maka dibentuklah Liga Bangsa-Bangsa (LBB) selama terjadinya Konferensi Perdamaian di Paris. Tujuan utama dari organisasi ini adalah untuk mencegah terjadinya konflik bersenjata melalui sistem keamanan kolektif, melakukan pelucutan senjata dan angkatan laut serta menyelesaikan perselisihan internasional melalui negosiasi dan arbitrase.


Memasuki tahun 1930 telah terlihat bahwa LBB bukan lagi alat untuk mencapai tujuan semula yakni menciptakan perdamaian, tetapi menjadi alat politik negara-negara besar untuk mencari keuntungan. Hal ini mulai terbukti ketika LBB tidak dapat berbuat apa-apa ketika negara-negara besar berbuat semaunya, misalnya pada tahun 1935 Italia melakukan serangannya terhadap Ethiopia.


Invasi Italia terhadap Ethiopia atau yang biasa dikenal dengan Perang Italia-Abisinia Kedua adalah perang yang terjadi pada bulan Oktober 1935 – Mei 1936. Perang ini terjadi antara angkatan bersenjata Kerajaan Italia (Regno d'Italia) dan angkatan bersenjata Kekaisaran Ethiopia (Abisinia). Perang ini berakhir dengan pendudukan militer Italia di Ethiopia dan aneksasinya ke koloni baru Italia di Afrika Timur (Africa Orientale Italiana, atau AOI).

 

Penyerangan Italia atas Ethiophia ini menjadi bukti dari kelemahan Liga Bangsa-Bangsa sebagai organisasi perdamaian. Sebab, baik Italia dan Ethiopia adalah negara anggota LBB, tetapi Liga ini tidak berbuat apa-apa ketika Italia telah melanggar keputusan yang telah dibuat dalam LBB yaitu melakukan agresi.


Selain kasus Italia, kelemahan LBB juga tidak mampu mengambil keputusan terhadap apa yang terjadi di Spanyol pada tahun 1936-1939 dengan keterlibatan Jerman dan Italia dalam revolusi yang sedang terjadi di negara itu. Di mana Jerman, Italia dan Uni Soviet terlibat dengan jelas ikut campur dalam permasalahan yang terjadi di negara lain. LBB juga nampak hanya sebagai penonton ketika Jerman dan Italia mulai menunjukkan tanda-tanda keagresifannya.


Pada bulan Maret 1938 Jerman mulai menganeksasi Austria, mengklaim atas wilayah Sudetenland, Cekoslowakia. Jerman juga membagi wilayah Cekoslowakia menjadi Protektorat Bohemia dan Moravia serta membentuk Republik Slovak pada tahun 1939. Selain Jerman, Italia juga mulai menunjukkan keagresifannya dengan menguasai Albania pada bulan April 1939. Berpindah ke Asia, Jepang pun juga menunjukkan tanda keagresifannya dengan berani menginvasi Tiongkok dan Manchuria sepanjang tahun 1937-1938. Berdasarkan kenyataan inilah maka eksistensi LBB sebagai organisasi perdamaian dunia dapat dikatakan telah mencapai kegagalan.


Negara-negara maju saling berlomba memperkuat militer dan persenjataannya

 

Dengan kegagalan LBB sebagai organisasi perdamaian dunia, telah menyebabkan situasi politik di Eropa kembali memanas dan saling mencurigai antara satu dengan yang lain. Terutama Jerman dan Italia mulai mencurigai komunisme Uni Soviet, tetapi kemudian Uni Soviet juga menaruh kecurigaan terhadap fasisme Italia dan nasional-sosialis Jerman. Oleh karena saling mencurigai akhirnya negara-negara tersebut memperkuat militer dan pesenjataannya. Dengan kenyataan bahwa negara fasis dan komunis Uni Soviet mulai memperkuat persenjataannya, hal ini juga menyebabkan kekhawatiran bagi negara-negara besar lainnya di Eropa sehingga menyebabkan kembali terjadinya perlombaan senjata.


Politik Aliansi


Kekhawatiran akan adanya perang besar, maka negara-negara besar mulai menerapkan kembali strategi politik aliansi. Politik aliansi ini kemudian mengarah pada pembentukkan dua blok kekuatan yakni:


1. Blok Fasis terdiri atas Jerman, Italia, dan Jepang

2. Blok Sekutu terdiri atas:


Perlu digarisbawahi bahwa di dalam blok Sekutu juga terjadi perpecahan, yakni terdapat blok demokrasi dan blok komunis.


1) Blok demokrasi yaitu Perancis, Inggris, Amerika Serikat.

2) Blok komunis yaitu Uni Soviet.


Adanya pertentangan akibat ekspansi yang terjadi menjelang Perang Dunia 2


Ketika Jerman mulai mengumumkan Lebensraum (Jerman Raya) yang meliputi Eropa Tengah; Italia yang menunjukkan keinginannya menciptakan Italia Irredenta (Italia Raya) yang meliputi seluruh Laut Tengah dan Ethiopia; serta Jepang yang mengumumkan Kemakmuran Bersama di Asia Timur Raya di bawah kekuasaan Jepang. Pernyataan-pernyataan ini telah menjadi tantangan terhadap imperialisme Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat.


Kemunculan Faham-Faham Besar


Pertentangan ini terutama terhadap faham-faham yang berkembang pesat dan menjadi kekuatan politik dunia menjelang Perang Dunia 2 yaitu; demokrasi, fasisme dan komunisme.


Politik balas dendam (“Revanche Idea”) 


Politik balas dendam ini amat terlihat terutama bagi Jerman yang menjadi teramat diperhinakan setelah kekalahannya dalam Perang Dunia 1. Jerman menuntut balas dendam terutama terhadap Prancis karena Jerman merasa dihina dan sangat dirugikan dengan adanya Perjanjian Versailles setelah Perang Dunia 1. Sedangkan di sisi lain, Prancis teramat sangat diuntungkan akan adanya Perjanjian Versailles.


Sebab Khusus Terjadinya Perang Dunia 2


Adapun sebab khusus terjadinya Perang Dunia 2 terbagi menjadi dua front, yang pertama adalah untuk kawasan Eropa sedangkan di sisi lain adalah Asia-Pasifik. Keduanya adalah arena terjadinya peperangan.


Sebab Khusus Terjadinya Perang Dunia 2 di Eropa


Di Eropa, sebab khusus terjadinya Perang Dunia 2 adalah serbuan Jerman ke Kota Danzig, Polandia pada tanggal 1 September 1939. Polandia merupakan negara di bawah pengawasan Liga Bangsa-Bangsa. Akan tetapi Adolf Hitler menuntut Danzig karena penduduknya adalah bangsa Jerman, tetapi Polandia menolak tuntutan itu. Pada tanggal 3 September 1939 negara-negara pendukung LBB terutama Inggris dan Prancis mengumumkan perang kepada Jerman, yang mana keputusan Inggris dan Prancis kemudian diikuti oleh sekutu-sekutunya.


Sebab Khusus Terjadinya Perang Dunia 2 di Asia-Pasifik


Sebagai upaya untuk menciptakan Kekaisaran Asia Timur Raya, maka Jepang mulai melancarkan strateginya untuk merealisasikan keinginannya. Langkah awal yang ditempuh Jepang setelah berhasil menginvasi Tiongkok dan Manchuria adalah melakukan penyerangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbour.


Penyerangan Jepang terhadap Pearl Harbour pada 8 Desember 1941 itu adalah langkah antisipasi Jepang untuk mencegah armada Amerika Serikat di Pasifik melakukan tindakan militer terhadap Kekaisaran Jepang yang mulai menginvasi kawasan Asia-Pasifik. 


Kronologi Perang Dunia 2


Pada bagian ini akan diuraikan tentang apa yang terjadi selama Perang Dunia 2 secara kronologis. Perang Dunia 2 secara garis besar terbagi menjadi dua front, yakni front Eropa dan front Asia-Pasifik sebagai latar awal. Akan tetapi, Perang Dunia 2 juga merambah front Afrika sehingga Perang Dunia 2 terbagi menjadi tiga front pertempuran; Eropa, Asia-Pasifik dan Afrika.


Perang Dunia 2: 1939-1940


Pada tanggal 1 September 1939, Jerman memulai pergerakan invasinya ke Danzig, Polandia sebagai awal terjadinya Perang Dunia 2 di front Eropa, kejadian ini membuat Inggris dan Prancis menyatakan perang terhadap Jerman. Pada tanggal 17 September 1939 setelah Uni Soviet menandatangani kesepakatan damai dengan Jepang, Uni Soviet juga mulai menginvasi Polandia. Sehingga Polandia-lah negara yang pertama kali mengalami kerusakan dalam Perang Dunia 2. 


Setelah invasi yang dilakukan oleh Jerman dan Uni Soviet, wilayah Polandia terbagi menjadi dua bagian, di satu sisi di sebelah barat dikuasai oleh Jerman sedangkan di sebelah timur dikuasai oleh Uni Soviet. Meskipun telah dikuasai oleh kedua negara, Polandia tetap tidak ingin menyerah pada keadaan, pemerintah Polandia tetap mengupayakan pasukannya untuk terus berperang bersama Sekutu (Inggris, Prancis dan Amerika Serikat).


Pasukan Polandia berperang bersama dengan Sekutu untuk menghadapi Jerman diluar Polandia dan sekitar 100.000 tentara Polandia mengungsi ke Rumania dan beberapa negara di kawasan Baltik untuk tetap berperang. Setelah keberhasilan menginvasi Polandia, Uni Soviet melakukan penyerangan terhadap Finlandia pada November 1939. Invasi Soviet terhadap Finlandia menyebabkan Uni Soviet dikeluarkan dari LBB dan dianggap oleh Inggris dan Prancis bahwa Uni Soviet berada di kubu Jerman.


Inggris mulai mengirimkan tentaranya untuk menghadapi Jerman di daratan Eropa. Namun, hingga bulan April 1940 tidak ada pertempuran besar yang terjadi antara kedua belah pihak. Inggris berupaya untuk melakukan blokade laut terhadap Jerman dan Uni Soviet. Sedangkan Jerman membuat kesepakatan dagang dengan Uni Soviet sejak bulan Februari 1940 untuk mengatasi blokade yang dilakukan oleh pihak Sekutu.


Oleh karena tidak ada pertempuran besar yang terjadi antara Inggris dan Jerman, maka Jerman memanfaatkan hal ini untuk melakukan invasi atas Denmark dan Norwegia di bulan April 1940 untuk mengamankan rute pengiriman bijih besi yang berasal dari Swedia. Di dalam penyerangan Jerman, Denmark langsung menyerah. Sedangkan Norwegia hanya berhasil bertahan selama dua bulan, melihat tanda-tanda Norwegia juga tidak mampu diselamatkan oleh Sekutu, Inggris mulai menduduki Islandia pada bulan Mei 1940. Jerman berhasil dalam invasinya atas Norwegia sehingga pada bulan Juni 1940 Norwegia berhasil dikuasai oleh Jerman. 


Setelah keberhasilan atas invasi Denmark dan Norwegia, Jerman kemudian melirik ke daerah baratnya dengan melakukan penyerbuan serentak terhadap Prancis, Belgia, Belanda dan Luxemburg pada 10 Mei 1940. Serangan ini menggunakan taktik blitzkrieg (serangan kilat) telah membuat Belanda dan Belgia kewalahan menghadapi Jerman. 


Serangan yang dilakukan oleh Jerman kemudian disusul oleh Italia dengan menyerbu Prancis pada 10 Juni 1940 dan menyatakan perang terhadap Prancis dan Inggris. Serangan Italia dan Jerman telah memaksa Prancis untuk menyerah dan Prancis dibagi menjadi tiga zona pendudukan; zona Italia, zona Jerman dan zona bebas yang masih menjadi kekuasaan Prancis di selatan. 


Di sisi lain di timur Eropa, Uni Soviet mulai memanfaatkan serangan Jerman dan Italia terhadap Prancis dengan melakukan penyerangan dan aneksasi terhadap wilayah Estonia, Latvia dan Lithuania serta daerah Bessarabia yang dipersoalkan oleh Rumania. Keagresifan yang ditunjukkan oleh Uni Soviet rupa-rupanya tidak luput dari pantauan Jerman dan mulai menganggap Uni Soviet sebagai ancaman bagi Jerman yang menyebabkan terjadinya kebuntuan dan keduanya bersiap untuk saling berperang.


Setelah keberhasilan dalam penyerangan terhadap Prancis, Jerman mulai melirik Inggris dengan target membom daratan Inggris melalui serangan udara. Akan tetapi, serangan Jerman mengalami kegagalan dan upaya itu dihentikan pada bulan September 1940. Dengan menggunakan palabuhan-pelabuhan Prancis di utara yang berhasil dikuasai, Jerman dapat mengimbangi Angkatan Laut Inggris dan dapat memberikan tekanan bagi kapal-kapal Inggris yang berada di kawasan Atlantik.


Kemantapan Jerman di front Eropa Barat membuat Italia memanfaatkan kesempatan ini untuk menginvasi kawasan Mediterania dengan mengepung Malta pada bulan Juni 1940 dan berhasil menguasai Somalia yang berada di bawah kekuasaan Inggris pada bulan Agustus 1940 hingga berhasil masuk ke Mesir pada bulan September 1940. Dengan keberhasilan Jerman dan Italia di front Eropa dan Afrika serta terfokusnya kekuatan blok Sekutu pada medan Eropa, membuat Jepang merasa ini waktu terbaik untuk melancarakan serangannya lebih ke selatan. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan serangan Jepang di Tiongkok dan melakukan pemblokiran serta keberhasilan Jepang dalam merebut sejumlah pangkalan militer di wilayah utara Indocina yang dikuasai oleh Prancis dan berhasil membuat daerah itu terisolasi.


Selama periode ini, Amerika Serikat yang berupaya untuk bersikap netral terpaksa untuk ikut ambil bagian setelah dikuasainya Paris oleh Jerman dan diisolasinya Tiongkok dan Indocina oleh Jepang. Amerika Serikat segera meningkatkan Angkatan lautnya dan melakukan embargo terhadap besi dan baja Jepang sebagai peringatan. Pada bulan September 1940, Amerika Serikat mulai mengirimkan kapal penghancur di pangkalan Inggris. Amerika Serikat mulai terlibat peperangan dengan Jerman ketika kapal-kapalnya yang membantu Inggris harus berhadapan dengan Jerman di Atlantik pada Oktober 1941.


Pada bulan Oktober 1940 Italia mulai menginvasi Yunani namun berhasil digagalkan dan terpaksa mundur ke Albania. Blok Poros yang dihuni oleh tiga kekuatan (Jerman, Italia dan Jepang) mulai memperluas aliansinya dengan masuknya Hungaria, Slowakia dan Rumania. Rumania bergabung dengan Blok Poros oleh karena ingin merebut kembali wilayah yang telah diambil oleh Uni Soviet dan keinginan Ion Antonescu untuk memerangi Komunisme. 


Pada bulan Desember 1940 Inggris mulai melakukan serangan balasan terhadap Italia di Mesir dan Ethiopia serta Somalia. Serangan balasan ini menyebabkan Italia berhasil dipukul mundur hingga Libya pada awal tahun 1941. Winston Churchil, Perdana Menteri Inggris memerintahkan tentara dari Afrika untuk membantu Yunani yang menyebabkan Angkatan Laut Italia mengalami kekalahan.


Melihat kekalahan demi kekalahan yang diderita oleh Italia, Jerman mengambil inisiatif untuk turun tangan. Di dalam upaya membantu Italia, Adolf Hitler mengirimkan tentara Jerman ke Libya pada bulan Ferbuari 1941 dan pada akhir bulan Maret berhasil memukul balik tentara Inggris dan negara-negara persemakmurannya ke Mesir. Pasukan koalisi Inggris berupaya untuk menyerang kembali Jerman dan Italia pada bulan Mei dan Juni 1941, namun serangan itu berhasil dikalahkan oleh kekuatan Jerman dan Italia. 


Setelah kesepakatan aliansi dengan Bulgaria pada November 1940, Jerman mulai menyerang Yunani dan Yugoslavia dimana Jerman berhasil menguasai daerah Yugoslavia, Yunani dan memaksa Sekutu untuk menyingkir dari daerah itu pada akhir Mei 1941. Setelah posisi Blok Poros mantap di Eropa, tetapi di sisi lain ketegangan mulai terjadi antara Jerman dan Uni Soviet yang meningkatkan suhu politik diantara mereka. Uni Soviet yang merasa terancam oleh Jerman mengamati apa yang dilakukan Jepang di Asia Tenggara. Jepang telah berupaya untuk merebut daerah-daerah koloni bangsa Eropa dengan memanfaatkan apa yang terjadi di Eropa. Uni Soviet memanfaatkan “kesibukan” Jepang itu dengan menandatangani perjanjian netralitas dengan Jepang pada bulan April 1941. Sehingga Uni Soviet dapat memfokuskan dirinya apabila sewaktu-waktu harus berkonflik dengan Jerman.


Perang Dunia 2: 1941


Perkiraan Uni Soviet tidak keliru, dalam waktu dekat Jerman mulai mengarahkan tentaranya ke perbatasan Uni Soviet. Pada tanggal 22 Juni 1941, Jerman dan Finlandia mulai melakukan serangan ke Uni Soviet dalam Operasi Barbarossa. Target utama dari operasi ini adalah kawasan Baltik, Moskwa dan Ukraina dan akhir dari operasi ini ditujukan pada penguasaan dekat jalur Arkhangelsk-Astrakhan yang menghubungkan Laut Kaspia dan Laut Putih. 


Adapun maksud dari tujuan Adolf Hitler menyerang Uni Soviet adalah untuk menghancurkannya sebagai kekuatan politik dan militer serta menghapus komunisme serta menciptakan Lebensraum dengan memiskinkan penduduk asli dan menjamin akses ke sumber daya strategis yang diperlukan untuk kepentingan perang Jerman dalam mengalahkan musuh-musuhnya.


Adolf Hitler kemudian menarik sebagian besar pasukannya dari Prancis dan Mediterania ke front timur untuk menghadapi Uni Soviet. Keputusan Hitler ini menyebabkan perubahan strategi militer Inggris. Pada bulan Juli 1941 Inggris kemudian menjalin persekutuan militer dengan Uni Soviet untuk menghadapi Jerman. Hal awal yang dilakukan oleh Inggris dan Uni Soviet adalah berusaha untuk menguasai Iran dan merebut ladang minyak sebagai bagian dari rencana melindungi Iran dari serangan Jerman.


Selain merespon terhadap apa yang dilakukan Jerman dan bersekutu dengan Uni Soviet, pada bulan Juli 1941 Inggris meyakinkan Amerika Serikat dan sekutunya untuk merespon apa yang dilakukan oleh Jepang di Asia-Pasifik terutama setelah Jepang berhasil menancapkan kekuasaannya di Indocina. Sekutu mulai membekukan asset-aset Jepang dan Amerika Serikat melakukan embargo minyak terhadap Jepang.


Embargo minyak yang dilakukan oleh Amerika Serikat telah memaksa Jepang untuk merebut sumber daya alam yang diperlukan demi kepentingan perang, yakni minyak. Para pejabat Jepang menganggap bahwa Embargo minyak yang dilakukan oleh Amerika Serikat dianggap sebagai pernyataan perang secara tidak langsung terhadap Jepang. Jepang kemudian berencana untuk merebut koloni-koloni Eropa di Asia dengan cepat untuk menciptakan garis pertahanan yang membentang hingga daerah Pasifik Tengah yang mana Jepang akan dengan mudah dan bebas mengeksploitasi sumber daya alam dan mampu merepotkan Sekutu dengan siasat perang defensive.


Sebagai upaya untuk mencegah intervensi Amerika Serikat di kawasan Asia-Pasifik, pada tanggal 7 Desember 1941, Jepang secara serentak menyerang daerah-daerah milik Inggris dan Amerika Serikat di Pasifik dan Asia Tenggara, di mana Jepang juga menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbour, melakukan pendaratan di Siam, Malaya dan menyerang Hongkong. Langkah Jepang dengan mendaratkan pasukannya di Siam mendapatkan sambutan dukungan dari Thailand sebagai sekutunya di Asia Tenggara. 


Serangan yang dilakukan oleh Jepang ini menyebabkan Sekutu secara terbuka menyatakan perang terhadap Jepang. Sedangkan Uni Soviet yang tengah sibuk dengan peperangan di front Eropa memilih untuk tetap netral dalam hal ini. Uni Soviet, melalui Joseph Stalin sebenarnya telah mendesak Inggris dan Amerika Serikat untuk mengirimkan pasukannya ke Prancis menyerang Jerman. Akan tetapi, Inggris dan Amerika Serikat nampaknya dengan sengaja mengulur waktu dan membiarkan Uni Soviet berperang dengan Jerman di front Eropa Timur yang menyebabkan Uni Soviet harus berkorban lebih banyak dan memusatkan perhatiannya melawan Jerman dibandingkan sibuk untuk mengurusi tindakan-tindakan Jepang.



Tentara Merah melalui Komando Tertinggi Uni Soviet menadopsi pertahanan strategis dalam menghadapi Operasi Barbarossa. Sepanjang musim panas tahun 1941 tentara Jerman telah berhasil menerobos ke dalam wilayah Uni Soviet yang menyebabkan banyak kerugian bagi Uni Soviet. Pada pertengahan bulan Agustus 1941, Jerman menundan penyerangannya ke Moskwa dan lebih memilih membantu tentara yang melintasi Ukraina Tengah dan Leningrad. 


Pada 7 Agustus – 26 September 1941 Jerman melakukan penyerangan ke Kiev dan berhasil menghancurkan militer Uni Soviet yang memungkinkan tentara Jerman untuk masuk lebih dalam menuju Krimea dan kawasan industry di Ukraina Timur. Akan tetapi, dengan keputusan penyerangan terhadap Kiev ini, Momentum Jerman untuk melakukan penyerangan terhadap Moskwa hilang dan membuat Uni Soviet memiliki waktu untuk memperkuat diri.


Pada bulan Oktober 1941, tujuan Jerman terhadap Ukraina dan kawasan Baltik telah mencapai sasarannya dan dalam usaha pengepungan terhadap Leningrad dan Sevastopol. Selama pengepungan itu, tentara Jerman kembali melakukan serangan besar-besaran terhadap Moskwa, namun tentara Uni Soviet berhasil mempertahankan kota itu. Sehingga fase blitzkrieg Jerman dikawasan Eropa telah berakhir.


Pada bulan November 1941, pasukan Sekutu mengadakan serangan dalam Operasi Crusader di Afrika Utara dan berhasil merebut kembali wilayah yang telah dikuasai oleh Jerman dan Italia.  Akan tetapi, kesuksesan ini tidak bertahan lama karena tentara Jerman dan Italia kembali berhasil memukul mundur tentara di Libya kembali ke Mesir di mana tentara Jerman dihentikan lajunya di El Alamein. Sedangkan di sisi yang lain, di Eropa nampak bahwa Sekutu tidak mampu untuk merebut kemenangan-kemenangan di Eropa daratan.


Pada awal Desember 1941, Uni Soviet memobilisasi pasukan cadangannya untuk menghadapi kekuatan Jerman dengan meyakini bahwa tentara Uni Soviet di timur mampu mencegah ancaman Angkatan Darat Jepang jika sewaktu-waktu memanfaatkan situasi yang tengah terjadi di Uni Soviet. Uni Soviet memulai penyerangan terhadap Jerman pada tanggal 5 Desember 1941 dan berhasil memaksa tentara Jerman untuk mundur sejauh 250 kilometer kembali ke arah barat.


Perang Dunia 2: 1942


Pada akhir April 1942 Jepang yang dibantu oleh Thailand di Asia Tenggara telah berhasil menguasai daerah koloni Eropa mulai dari Burma, Malaya, Hindia Timur Belanda, Singapura dan Rabaul yang telah menyebabkan angka kerugian bagi pihak Sekutu semakin bertambah. Jepang kini mulai mengarahkan perhatiannya kepada Kepulauan Filipina yang masih bertahan namun berhasil ditaklukan pada bulan Mei 1942. Selain itu, Jepang juga berhasil memenangkan pertempuran laut yang terjadi di Laut Cina Selatan, Laut Jawa dan Samudra Hindia serta berhasil membom pangkalan laut Sekutu di Darwin, Australia.


Sepanjang awal tahun 1942 Jerman mulai mengganggu aktivitas pelayaran dari kapal-kapal sekutu di Atlantik dan berhasil mempertahankan wilayah kekuasaannya di daerah Uni Soviet dari serangan Tentara Merah. Jerman juga berhasil mengusir tentara Inggris ke posisinya semula di front Afrika yaitu di Garis Gazala pada awal Februari 1942 dan mulai mempersiapkan serangan-serangan selanjutnya.


Pada awal bulan Mei 1942, Jepang mulai melakukan operasi militer untuk merebut Port Moresby, Papua Nugini dan memutuskan komunikasi dan jalur suplai antara Australia dan Amerika Serikat. Akan tetapi, Sekutu berhasil menggagalkan upaya Jepang pada Pertempuran Laut Koral. Setelah memasuki bulan Juni 1942 Amerika Serikat yang telah berhasil memecahkan kode laut Jepang di bulan Mei 1942 mulai mengetahui dan dapat membaca pergerakan pasukan Jepang di Pasifik yang akhirnya membawa kemenangan telak bagi Sekutu atas Jepang di Midway.


Kegagalan Jepang dalam perang di Midway, menyebabkan Jepang memfokuskan diri untuk menyerang Port Moresby melalui jalur darat. Di sisi lain, Amerika Serikat mulai melakukan serangan terhadap daerah-daerah strategis Jepang, yaitu Kepulauan Solomon, terutama Guadalcanal dan berupaya untuk menduduki Rabaul yang menjadi pangkalan utama Jepang di Asia Tenggara. Rencana ini dimulai bulan Juli 1942, namun pertempuran Gudalcanal dapat dimenangkan oleh Jepang.


Setelah keberhasilan dalam Pertempuran Guadalcanal tentara Jepang harus menghadapi koalisi tentara Australia dan Amerika Serikat dalam Pertempuran Buna-Gona. Kedua belah pihak baik Sekutu dan Jepang tetap memfokuskan militernya ke arah Guadalcanal.


Di front timur Eropa, Jerman berhasil membendung serangan Uni Soviet di Semananjung Kerch dan Kharkov, setelah keberhasilan membendung serangan Uni Soviet melancarkan serangan ke selatan wilayah Rusia pada bulan Juni 1942 dengan tujuan untuk menguasai lading minyak yang berada di wilayah Kaukasus dan menduduki Kuban, sementara itu Jerman berupaya untuk mempertahankan posisinya di front utara dan tengah. Jerman membagi tentara Angkatan Daratnya yang berada di front selatan menjadi dua kelompok yang masing-masing menuju Sungai Don dan tenggara Kaukasus menuju Sungai Volga. Dalam kondisi ini Uni Soviet memutuskan untuk bertahan di Stalingrad.


Pada bulan Agustus 1942, Sekutu berhasil menahan gempuran tentara Jerman di El Alamien dan mulai mengirimkan bantuan ke Malta yang sedang dikepung oleh blok Poros. Peperangan di Afrika Utara mulai sengit di mana Jerman menghadapi tentara koalisi Amerika Serikat dan Inggris, namun di dalam pertempuran itu Jerman berhasil dikalahkan dan Afrika Utara kembali menjadi wilayah kekuasaan Sekutu yang menyebabkan Jerman mundur hingga ke Tunisia.


Pada pertengahan bulan November 1942 tentara Jerman hampir berhasil menguasai Stalingrad, namun ketika tentara Jerman berhasil masuk ke dalam kota Stalingrad tentara Uni Soviet berhasil mengepung tentara Jerman. Pada awal bulan Februari 1943 tentara Jerman mengalami kekalahan besar dalam pertempuran di Stalingrad dan dipaksa untuk menyerah. Setelah kekalahan di Stalingrad garis pertahanan Jerman di Uni Soviet mulai mundur dan bertahan di Kota Kursk.


Perang Dunia 2: 1943-1945


Setelah berakhirnya pertempuran sengit di Guadalcanal, tentara Sekutu mulai melancarkan serangannya terhadap Jepang di Pasifik. Pada bulan Mei 1943, pasukan Sekutu mulai melakukan penyerangannya terhadap Jepang di Kepulauan Aleut dan berusaha untuk merebut pulau-pulau di sekitar Rabaul untuk mengisolasi Rabaul yang merupakan pangkalan militer Jepang. 


Di front Eropa, Jerman dan Uni Soviet sedang mempersiapkan diri untuk melakukan serangan besar-besaran di daerah Rusia Tengah. Pada tanggal 4 Juli 1943, Jerman mulai melakukan serangannya terhadap Uni Soviet di daerah Kursk Bulge. Penyerangan Jerman ini mengalami kebuntuan setelah selama tujuh hari harus menghadapi pertahanan Uni Soviet yang sangat kuat. Akibat kebuntuan inilah, Adolf Hitler memerintahkan untuk menunda penyerangan lebih lanjut ke Uni Soviet. Penarikan ini juga berkaitan dengan serangan Sekutu di Eropa Baratpada 9 Juli 1943 dan berkaitan pula dengan kekalahan-kekalahan yang diterima oleh Italia yang berdampak pada lengsernya Benitto Mussolini.


Pada tanggal 12 Juli 1943 Uni Soviet memulai melakukan serangan terhadap Jerman dan berhasil membawa Jerman pada kemundurannya di front Timur Eropa. Kemenangan Soviet di Kursk sebagai pertanda kekalahan Jerman di front Timur Eropa. Uni Soviet memaksimalkan kesempatan ini untuk terus mendorong Jerman keluar wilayahnya dan berhasil menghancurkan pertahanan Jerman di Smolensk dan kedua belah pihak mulai terkonsentrasi pada wilayah Dnieper pada bulan Agustus 1943. Jerman dan Uni Soviet memulai pertempuran di Sungai Dnieper pada 24 Agustus 1943.


Pada awal September 1943, Sekutu mulai melakukan penyerangan terhadap wilayah Italia. Ketika tentara sekutu memulai penyerangannya, Adolf Hitler menyerang pasukan Italia dan mengambil alih kendali atas militer di Italia serta menyelamatkan Benito Musolini yang dilengserkan pada bulan Juli. Adolf Hitler kemudian mendirikan Republik Sosial Italia. Penyerangan Sekutu ke Italia mulai melintasi garis pertahanan utama Jerman di Italia pada pertengahan November 1943 hal ini merupakan langkah awal dari kemajuan Sekutu.


Kemajuan yang ditunjukkan oleh Sekutu juga mulai nampak pada keberhasilan dalam menggalakan operasi Angkatan Laut Jerman di Atlantik yang terlihat pada bulan Mei 1943. Serangan Sekutu terhadap Angkatan Laut Jerman telah menyebabkan banyaknya kerugian bagi Jerman terutama dengan hancur dan rusaknya kapal selam Jerman yang menyebabkan penundaan Jerman melakukan penyerangan terhadap kawasan Atlantik. Pada bulan November 1943 Franklin D. Roosevelt, Presiden Amerika Serikat dan Winston Churchil, Perdana Menteri Inggris bertemu dengan Chiang Kai-shek di Kairo yang membahas tentang pengambilan wilayah Jepang setelah perang usai. 


Setelah itu, keduanya bertemu dengan Joseph Stalin di Teheran yang menghasilkan perjanjian bahwa Sekutu akan menyerbu Eropa pada tahun 1944 dan Uni Soviet akan menyatakan perang terhadap Jepang tiga bulan setelah kekalahan Jerman. Keputusan yang diambil oleh Joseph Stalin menyetujui perjanjian oleh sebab kemenangan Uni Soviet pada pertempuran di Sungai Dnieper pada 24 Agustus – 23 Desember 1943 di mana memasuki bulan November 1943 telah terlihat tanda-tanda kemenangan Uni Soviet atas Jerman.


Memasuki bulan November 1943 Tiongkok memaksa Jepang untuk berperang. Di mana dalam Pertempurang Changde itu sangatlah merugikan bagi kedua belah pihak. Pertempuran ini dilakukan oleh Tiongkok sembari menunggu bantuan yang datang dari Sekutu. Pada bulan Januari 1944, Sekutu mulai melancarkan serangkaian serangan di Italia di Monte Cassino dan berusaha untuk menembus garis pertahanan itu dengan melakukan pendaratan di Anzio. 


Memasuki akhir bulan Januari 1944 di front Timur Eropa, pasukan Uni Soviet berhasil mengalahkan Jerman di Leningrad. Kemenangan di Leningrad membuat Soviet mulai maju ke perbatasan Estonia, namun laju dari tentara Uni Soviet harus terhenti oleh karena kuatnya pertahanan tentara Jerman yang dibantu oleh rakyat Estonia. Tertahannya tentara Uni Soviet di Estonia, membuat Uni Soviet mengarahkan perhatiannya ke Krimea yang berhasil direbut pada akhir Mei 1944 dan berhasil masuk ke daerah Rumania, namun laju tentara Uni Soviet di Rumania harus terhenti pula setelah mendapatkan serangan dari pasukan blok Poros. Di sisi lain di Italia, serangan Sekutu telah mencapai keberhasilannya yang ditandai dengan penaklukan Roma pada 4 Juni 1944 dan mundurnya tentara Jerman dari Italia.


Di front Asia, Sekutu juga menuai keberhasilan dengan menghalau serangan Jepang pada bulan Maret 1944 ke Assam, Imphal dan Kohima di India untuk membahayakan posisi Inggris di Asia. Memasuki bulan Mei 1944, pasukan Britania Raya melakukan serangan balasan terhadap Jepang yang mendorong Jepang untuk kembali ke Burma dan mengepungnya di Myitkyina. Lain halnya yang terjadi di Tiongkok, Jepang berhasil menguasai provinsi Henan setelah mengalahkan tentara Tiongkok dan mempersiapkan diri untuk melakukan penyernagan terhadap Changsha.


Dapatlah dikatakan bahwa kepercayaan diri Sekutu di front Eropa telah meningkat setelah beberapa kali menuai keberhasilan dalam serangan-serangan mereka. Kepercayaan diri ini membuat Sekutu semakin yakin bahwa kemenangan telah hampir dapat digenggam. Sekutu mulai melakukan serangan terhadap wilayah Prancis Utara pada tanggal 6 Juni 1944 yang juga dikenal dengan Invasi Normandia atau Operasi Overlord. Selain menyerang Prancis Utara, Sekutu juga melakukan penyerangan terhadap prancis Selatan. Kedua operasi ini berhasil mengusir tentara Jerman dari Prancis.


Pada pertengahan Juni 1944, tentara Jepang di Pasifik mulai mengalami kemunduran secara terus menerus. Keberhasilan Sekutu di Pasifik mulai nampak terlihat dengan keberhasilan dalam penyerangan Kepulauan Mariana dan Palau serta kemenangan besar di Laut Filipina. Rupa-rupanya kekalahan-kekalahan Jepang ini telah memaksa Perdana Menteri Tojo meletakkan jabatannya dan digantikan oleh Perdana Menteri Koiso. Sekutu kemudian melanjutkan serangannya ke Pulau Leyte dan mendapatkan kemenangan atas Jepang dalam Pertempuran Teluk Leyte pada 23-26 Oktober 1944.


Pada tanggal 22 Juni 1944, di Eropa Timur, Uni Soviet melancarkan serangannya ke Belarus yang disebut dengan Operasi Bagration yang menyebabkan kehancuran total pasukan Jerman. Kemenangan di Belarus ini juga dilanjutkan dengan kemenangan Uni Soviet di Ukraina Barat dan Polandia Timur. Di Polandia Uni Soviet berhasil meyakinkan para pemberontak Polandia untuk melakukan serangan terhadap Jerman yang terutama terjadi di Warsawa dan juga pemberontakan Slowakia. Kedua pemberontakan itu karena tidak mendapatkan dukungan dari tentara Uni Soviet, keduanya berhasil dipadamkan oleh tentara Jerman.


Pada awal bulan Juli 1944 tentara Inggris di Asia Tenggara berhasil melepaskan diri dari pengepungan yang dilakukan Jepang di Assam dan memaksa tentara Jepang untuk mundur hingga ke Sungai Chindwin. Di sisi lain, Tiongkok berhasil menguasai Myitkyina. Keberhasilan Tiongkok harus dibayar mahal ketika Jepang berhasil menguasai Changsa pada pertengahan bulan Juni dan Hengyang pada bulan Agustus 1944. Setelah itu, Jepang berhasil mengalahkan Tiongkok beberapa kali seperti di Guilin, Liuzhou dan Guangxi. 


Pada bulan September 1944, tentara Uni Soviet mulai memasuki Yugoslavia yang didukung oleh Josip Broz Tito untuk mengusir tentara Jerman dari wilayah itu. Di Bulgaria, Uni Soviet juga berhasil menghancurkan tentara Jerman dengan dukungan penduduk setempat dan mampu merebut ibu kota Belgrade pada tanggal 20 Oktober 1944. Setelah keberhasilan di Yugoslavia dan Bulgaria, Uni Soviet melanjutkan agresinya hingga ke Hungaria dan berhasil merebut Budapest pada bulan Februari 1945. Namun, invasi Uni Soviet ke Finlandia mengalami kegagalan yang menyebabkan Finlandia berada di pihak Sekutu.


Pada tanggal 16 Desember 1944, Jerman melakukan upayanya yang terakhir dengan melakukan penyerangan di Ardennes dan menguasai Antwerp, namun upaya ini berhasil digagalkan. Kemajuan Sekutu di Italia mengalami kemandekan setelah tetap gagal menembus garis pertahanan terakhir Jerman. Pada pertengahan Januari 1945, Uni Soviet menyerang Polandia dan berhasil menguasai Prusia Timur. 


Keberhasilan Uni Soviet dalam menyerang Polandia dan Prusia Timur menyebabkan para pemimpin dari Britania Raya, Amerika Serikat dan Uni Soviet bertemu dalam Konferensi Yalta yang membahas tentang pendudukan Jerman setelah perang berakhir. Setelah Konferensi Yalta, Uni Soviet segera bergabung dengan Sekutu untuk menghadapi Jepang.


Pada bulan Februari 1945 Uni Soviet menyerbu Silesia dan Pomerania yang dibarengi dengan masuknya tentara Sekutu di Jerman Barat. Memasuki bulan Maret 1945 Sekutu berhasil melintasi Sungai Rhine dan Uni Soviet semakin maju hingga ke Wina. Pada awal April, tentara Sekutu di Italia berhasil menembus pertahanan terakhir Jerman pada 29 April 1945 dan mulai bergerak masuk ke Jerman Barat, sedangkan Uni Soviet menyerbu Berlin pada akhir April 1945. Pasukan Sekutu dan Uni Soviet bertemu di Sungai Elbe pada tanggal 25 April 1945. Pada tanggal 30 April 1945 Reichstag (gedung parlemen Jerman) diduduki yang menjadi pertanda berakhirnya Perang Dunia 2 di front Eropa.


Di front Pasifik, Amerika Serikat mulai mengalami kemajuan yang pesat dalam menghadapi Jepang di Filipina. Setelah menguasai Leyte pada akhir bulan April 1945 dengan bantuan orang-orang Filipina, pada bulan Januari 1945 tentara Amerika Serikat mulai mendarat di Luzon, Mindanao dan wilayah lain di Kepulauan Filipina. Pada bulan Maret 1945 tentara Amerika Serikat mulai mengarahkan perhatiannya kepada wilayah dekat Kepulauan Jepang dan berhasil merebut Iwo Jima.


Pada bulan Mei 1945, tentara Australia mendarat di Pulau Kalimantan dan mulai berhasil merebut kilang-kilang minyak yang dikuasai oleh Jepang. Pasukan koalisi Britania Raya, Amerika Serikat dan Tiongkok berhasil mengalahkan Jepang di Burma Utara pada bulan Maret 1945. Pada tanggal 3 Mei 1945 tentara Britania Raya berhasil mencapai Kota Rangoon. 


Pada tanggal 6 April dan 7 Juni 1945 tentara Tiongkok melakukan penyerangan terhadap Jepang di Hunan Barat. Setelah berhasil menguasai Iwo Jima, Amerika Serikat juga berhasil menguasai Okinawa pada akhir bulan Juni 1945 dan mulai melakukan pengeboman terhadap kota-kota di Jepang. Sedangkan kapal selam Amerika Serikat berhasil memutuskan impor yang mengarah ke Jepang dan membuat Jepang terisolasi.


Pada tanggal 11 Juli 1945, para pemimpin Sekutu melakukan pertemuan di Postdam, Jerman dan melakukan perjanjian awal tentang nasib Jerman pasca kekalahannya pada bulan April 1945. Selain membicarakan tentang Jerman, Sekutu juga melakukan tuntutan penyerahan diri semua pasukan Jepang atau kehancuran Jepang dalam waktu singkat. 


Jepang tidak menanggapi peryaratan yang tertuang di dalam Postdam sehingga memaksa Sekutu untuk tetap melakukan serangannya terhadap Jepang. Sebagai puncaknya Amerika Serikat melakukan pengeboman terhadap Hiroshima dan Nagasaki dengan menggunakan bom atom yang masing-masing terjadi pada tanggal 6 Agustus dan 9 Agustus 1945. Sedangkan Uni Soviet, berdasarkan Konferensi Yalta, melakukan penyerangan terhadap Manchuria yang berada di bawah kekuasaan Jepang dan berhasil mengalahkan Angkatan Darat Kwantung milik Jepang. 


Setelah menguasai Manchuria, tentara Uni Soviet juga berhasil menguasai Pulau Sakhalin dan Kepulauan Kuril. Oleh karena kekalahan telak oleh Uni Soviet dan penderitaan akibat bom atom yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki yang merupakan pusat industry militer Jepang, pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu dan secara resmi menandatangani dokumen penyerahan diri di USS Missouri (kapal perang Amerika Serikat) pada tanggal 2 September 1945. Dengan menyerahnya Jepang maka Perang Dunia 2 di front Asia-Pasifik juga berakhir sekaligus pula menandai berakhirnya Perang Dunia 2 secara keseluruhan.


Perjanjian Pasca Perang Dunia 2


1. Perjanjian Postdam, 7 Mei 1945 antara Sekutu dengan Jerman


2. Perjanjian San Fransisco, 8 September 1951 antara Sekutu dengan Jepang


3. Perjanjian Paris, 10 February 1947 antara Sekutu dengan Italia, Rumania, Hungaria, Bulgaria, dan Finlandia.


Akibat Perang Dunia 2


Setelah Perang Dunia 2 berakhir, Sekutu mulai mendirikan pemerintahan pendudukan di Austria dan Jerman. Jerman dibagi menjadi zona pendudukan barat yang dikuasai oleh Sekutu dan zona pendudukan timur yang dikuasai oleh Uni Soviet. Selain itu, di Jerman juga terjadi proses denazifikasi yang melakukan pengadilan bagi penjahat perang, peruntuhan symbol-simbol Nazi dan memasukkan orang-orang yang terlibat dengan Nazi ke wilayah Jerman Barat.


Setelah Perang Dunia 2 berakhir, Jerman kehilangan seperempat wilayahnya. Wilayah timur seperti daerah Silesia, Neumark dan sebagian besar Pomerania diambil alih oleh Polandia; Prusia Timur dibagi menjadi milik Polandia dan Uni Soviet. Uni Soviet juga menguasai wilayah milik Polandia di timur Curzon, Rumania Timur dan sebagian Finlandia timur, Estonia, Latvia dan Lithuania.


Jerman dibagi secara de facto dan berdirinya dua negara merdeka, yakni Republik Federal Jerman dan Republik Demokratik Jerman. Pembagian ini juga nampak terlihat dalam pengaruh politik yang ada di Eropa di mana Eropa Barat berada di bawah pengaruh Sekutu sedangkan Eropa Timur berada di bawah pengaruh Uni Soviet, terkecuali Yugoslavia yang memilih untuk tidak berada di bawah pengaruh dan kendali Uni Soviet.


Sebagai upaya untuk mempertahankan perdamaian dan untuk mencegah timbul kembali peperangan, Sekutu mendirikan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang resmi didirikan pada tanggal 24 Oktober 1945. Negara-negara pemenang perang menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB; Amerika Serikat, Tiongkok, Uni Soviet, Prancis dan Britania Raya. Namun, setelah PBB terbentuk mulai nampak terlihat memburuknya hubungan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. 


Ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet diperuncing dengan dibentuknya pakta pertahanan militer internasional. NATO yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Pakta Warsawa yang dipimpin oleh Uni Soviet. Ketegangan antara dua negara inilah yang menyebabkan dunia memasuki babak baru yang disebut dengan Perang Dingin di mana dalam periode Perang Dingin ini akan diwarnai dengan konflik ideology, perlombaan senjata dan aktivitas spionase.


Setelah kekalahan Jepang oleh Sekutu, Amerika Serikat yang berkuasa atas kebijakan politik luar negeri Jepang dan menguasai pulau-pulau Jepang di Pasifik Barat. Sedangkan Uni Soviet menguasai Sakhalin dan Kuril yang telah mereka rebut dari Jepang selama perang belum berakhir. Di Semenanjung Korea terjadi pemisahan di mana Korea Utara berada dibawah pengaruh Uni Soviet dan Korea Selatan di bawah pengaruh Amerika Serikat. Ketegangan di Korea ini yang nantinya memunculkan Perang Korea.


Di Tiongkok perang saudara antara nasionalis dan komunis kembali berlanjut pada bulan Juni 1946 yang menyebabkan kemenangan bagi komunis dan mendirikan Republik Rakyat Tiongkok. Sedangkan kaum nasionalis mengungsi ke pulau Formosa (Taiwan) pada tahun 1949. Pergolakan Timur Tengah juga terjadi ketika dimulainya rencana pembagian wilayah Palestina dan pembentukan Israel yang membawa pada konflik Arab-Israel. Sedangkan di sisi lain di seluruh wilayah koloni bangsa Eropa telah memulai proses dekolonisasi yang disebabkan berkurangnya sumber daya setelah Perang Dunia 2 dan semangat nasionalisme yang muncul dan memuncak di Asia, Afrika dan Amerika Latin.