Sejarah Perang Korea - ABHISEVA.ID

Sejarah Perang Korea

Sejarah Perang Korea


Perang Korea – Perang Korea adalah peperangan yang terjadi pada tahun 1950-1953 antara Korea Utara dan Korea Selatan sebagai konsekuensi dari adanya Perang Dingin. Konflik saudara itu telah menyita waktu dan perhatian yang berlarut dan ketegangan diantara keduanya tetap berlanjut hingga hari ini, meskipun Perang Dingin telah berakhir.  



Di bawah ini akan dijelaskan secara singkat tentang terjadinya Perang Korea yang menjadi latar belakang dari menegangnya hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan hingga saat ini. Meskipun, beberapa upaya telah dilakukan untuk meredam panasnya hubungan antara keduanya, akan tetapi nampaknya hal itu tidak menjadi cara untuk mendamaikan keduanya setidaknya itu terlihat dari betapa alotnya pendirian dari masing-masing pihak. 

Latar Belakang Perang Korea 


Berakhirnya Perang Dunia II telah menyebabkan polarisasi kekuatan dunia yang menampilkan persaingan antara dua negara pemenang perang, yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet. Situasi ini lantas dikenal pula dengan istilah Perang DinginPerang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet telah menyebabkan terjadinya pergolakan internasional dipelbagai penjuru dunia yang kemudian menjadi target persaingan ideologi diantara keduanya, salah satunya adalah kawasan Semenanjung Korea yang pada akhirnya memunculkan Perang Korea. 


Ketika Perang Dunia II berada dipenghujung babaknya, Sekutu menyepakati Pperjanjian Yalta pada tahun 1945 yang menyebutkan bahwa, Uni Soviet akan mengumumkan perang kepada Jepang setelah Perang di Eropa selesai. Dimana tentara Uni Soviet akan menyerang Jepang melalui Semenanjung Korea. Setelah Perang Dunia II front Eropa berakhir, pada tanggal 8 Agustus 1945, Uni Soviet mulai melancarkan serangannya terhadap pasukan Jepang lewat Semenanjung Korea hingga mencapai garis batas 38º LU (Lintang Utara). Selama enam hari peperangan Uni Soviet berhasil keluar sebagai pemenang. 


Pada tanggal 14 Agustus 1945 pasukan Jepang menyerah kepada sekutu dengan ketentuan pasukan Jepang yang berada disebelah Utara garis 38º LU menyerah kepada Uni Soviet, sedangkan pasukan Jepang yang berada disebelah selatan garis 38º LU menyerah kepada Amerika Serikat. Hal inilah yang menjadi dasar terbaginya Korea, sehingga garis batas 38º Lintang Utara (LU), menjadi garis batas demarkasi antara dua kedaulatan yakni Korea Utara dan Korea selatan.


Sebab-sebab Umum Perang Korea


1. Adanya persaingan ideologi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.


Salah satu hasil dari berakhirnya Perang Dunia II adalah dengan dimulainya Perang Dingin, yakni pertentangan antara Blok Barat yang beradi di bawah komando Amerika Serikat dan Blok Timur yang berada di bawah komando Uni Soviet. Setelah berakhirnya Perang Dunia II, kawasan Semenanjung Korea terbagi menjadi dua bagian yang terpisah oleh garis demarkasi 38 LU. 


Pemisahan ini telah menciptakan dua wilayah yang masing-masing dipengaruhi oleh dua ideologi pihak pemenang Perang Dunia II; Korea Selatan yang berada dibawah pengaruh Amerika Serikat dengan mengembangkan paham liberal-kapitalis, sedangkan Korea Utara dibawah pengaruh Uni Soviet dengan mengembangkan paham sosialis-komunis. Perbedaan yang sangat mencolok diantara kedua ideologi tersebut dan saling bertentangan serta sarat kepentingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet terhadap Semenanjung Korea menyebabkan hubungan keduanya kian memanas.


2. Pembagian wilayah korea menjadi dua bagian


Sengketa terhadap wilayah Semenanjung Korea antara Amerika Serikat dan Uni Soviet mulai nampak ketika beberapa hari sebelum tentara Jepang menyerah di Korea pada tanggal 10 Agustus 1945, Amerika Serikat dan Uni Soviet akan menerima tawanan-tawanan perang Jepang yang berada didaerah Korea. Keputusan ini didasarkan pada Perjanjian Potsdam 1945, yaitu membagi Korea menjadi dua bagian dengan batas wilayah 38º LU, tentara Jepang yang berada Korea di selatan menyerah kepada Amerika Seikat dibawah pimpinan Letnal Jenderal  John R. Hogde. Sedangkan pasukan Jepang yang berada disebelah Utara garis 38º Lintang Utara, menyerah kepada Uni Soviet dibawah pimpinan Jenderal Ivan M. Christyalov.


Sesungguhnya baik pihak Amerika Serikat maupun Uni Soviet sebenarnya tidak menjadikan garis 38 LU tersebut sebagai garis demarkasi antara Korea Utara dan Korea Selatan, melainkan garis tersebut hanya merupakan batas wilayah untuk menerima tawanan-tawanan Jepang pasca Perang Pasifik. Namun, pada akhirnya garis tersebut berubah fungsi menjadi garis demarkasi antara pertahanan militer Amerika Serikat dan Uni Soviet. Berdasarkan dengan kenyataan ini maka wilayah Korea menjadi dua bagian ini menjadi suatu garis pertikaian antara dua kekuatan besar. 


3. Tidak adanya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet tentang pembentukan Korea Utara.


Pada bulan Desember 1945 diadakan konferensi para menteri luar negeri di Moskow, konferensi ini diadakan sebagai tindak lanjut dari Deklarasi Potsdam. Di dalam konferensi tersebut memperoleh atau menghasilkan kesepakatan antara Amerka Serikat, Uni Soviet dan Inggris yang menyatakan akan membentuk pemerintahan Korea yang demokratis. Pemerintahan ini merupakan pemerintahan perwakilan Internasional yang akan berlangsung selama lima tahun, dimana dalam pemerintahan perwakilan tersebut pasukan-pasukan Amerika Serikat maupun Uni Soviet ikut serta didalamnya (joint Commission).


Pelaksanaan pemerintahan perwakilan Internasional ternyata tidak dapat diwujudkan, karena tidak adanya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Masalah Semenanjung Korea kemudian dibawa ke sidang umum PBB. Pada tanggal 14 November 1947, sidang umum PBB memutuskan untuk membentuk komisi yang disebut “United Nations Temporary Commission on Korea” (komisi Sementara PBB untuk Korea). Dari hasil sidang tersebut menyarankan agar selambat-lambatnya pada tanggal 13 Maret 1948, di Korea diadakan pemilihan umum untuk memilih wakil-wakil rakyat Korea. Tugas dari komisi Sementara PBB untuk korea antara lain:


1)   Mengadakan pengawasan keberlangsungan pemilihan umum;


2)   Mengadakan pembicaraan dengan para wakil rakyat hasil pemilihan umum untuk merundingkan umum untuk merundingkan masalah kemerdekaan Korea.


Kemudian setelah wakil Korea terpilih, maka PBB kemudian mengajukan rencana antara lain:

1)   Membentuk dewan Nasional;


2)   Mendirikan pemerintahan Korea yang merdeka.


Setelah pemerintahan Korea berhasil terbentuk maka tentara pendudukan akan ditarik mundur. Korea selatan dan Amerika Serikat dapat menjalankan rencana tersebut, sebab rencana itu pada dasarnya merupakan siasat dari Amerika Serikat sendiri yang mendominasi di dalam PBB. Akan tetapi, Uni Soviet menolak hal tersebut dan mengusulkan, bahwa tentara pendudukan akan ditarik mundur terlebih dahulu, dan baru kemudian mendirikan pemerintahan Korea merdeka. Dengan demikian, Korea menjadi latar dari pertikaian politik dan militer antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Selanjutnya masing-masing pihak baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet akhirnya membentuk pemerintahan baru di Korea, yaitu:


1)   Pada tanggal 15 Agustus 1948 Amerika Serikat membentuk Republik Korea (Korea Selatan) beribu kota di Seoul, dengan Syngman Rhee sebagai Presiden pertama;


2)   Pada tanggal 9 September 1948 Uni Soviet membentuk Republik Demokrasi Rakyat Korea (Korea Utara) beribu kota di Pyongyang, dengan Kim II sung sebagai Presiden pertama.



Sebab-sebab Khusus Perang Korea


Pada bulan desember 1948, sidang umum PBB mengesahkan laporan tentang hasil-hasil pemilihan di Korea Selatan. Sidang menyatakan bahwa pemerintahan Korea Selatan adalah satu-satunya pemerintahan yang sah. Selain itu juga diputuskan terbentuknya komisi baru Korea yakni Commission on Korea (Komisi tentang Korea), tugas dari komisi ini antara lain:


1)   Mengambil alih komisi sementara PBB di Korea;


2)   Mencoba mengadakan penyatuan Korea;


3)   Mengadakan penyelidikan penarikan pasukan pendudukan di Korea.


Dengan adanya keputusan tersebut, Korea Utara semakin membenci Korea Selatan dan Amerika Serikat. Korea Utara merasa hak-haknya tidak diakui PBB. Dengan demikian, Uni Soviet terus mendukung Korea Utara untuk mendapatkan hak-haknya dan mendapatkan wilayah Korea seluruhnya dengan jalan kekerasan atau melalui peperangan. Hal inilah yang menjadi pemicu dimulainya Perang Korea.


Jalannya Perang Korea


Perang Korea (25 Juni 1950—27 Juli 1953) adalah konflik saudara antara Korea Utara dan Korea Selatan. Perang ini juga disebut  dengan istilah proxy war antara Amerika Serikat melawan Republik Rakyat Tiongkok dan Uni Soviet beserta sekutu dari kedua belah pihak.


Sebelum Perang Korea terjadi, sebenarnya telah berbagai cara diupayakan oleh Korea Utara sehingga akhirnya Korea Utara mengambil keputusan dengan cara kekerasan atau peperangan. Pengumuman perang disiarkan ke seluruh kota di Korea Utara melalui radio di Pyongyang. Pada  hari minggu, 25 Juni 1950 pukul 04.00 waktu setempat, Korea Utara mulai melakukan penyerangan terhadap Korea Selatan. Serangan yang dilakukan oleh Korea Utara tersebut sangat mengejutkan Korea Selatan sehingga terlihat Korea Utara berhasil memenangkan perang fase awal Perang Korea ini. Serangan Korea Utara langsung ditujukan ke Ibukota Korea Selatan, Seoul, namun karena cuaca buruk, tentara Korea Utara hanya berhasil menguasai Kota Chuchon, Ongjin dan Kaesong yang sebenarnya pun merupakan kota penting di Korea Selatan.


Setelah berhasil menguasai Chuchon, Ongjin dan Kaesong, tentara Korea Utara baru melakukan penyerangan terhadap Kota Seoul dan baru berhasil dapat diduduki oleh pasukan Korea Utara setelah tiga hari perang berlangsung yaitu pada tanggal 28 Juni 1950. Jatuhnya Seoul ke tangan pasukan Korea Utara, menjadi keberhasilan yang berarti bagi Korea Utara sebab telah berhasil menguasai 50-80 mil2  wilayah teritorial Korea Selatan dalam jangka waktu empat hari di mana terdapat 12 kota dan 5 ribu desa. Oleh karena Seoul berhasil dikuasai oleh pasukan Korea Utara, Presiden Korea Selatan, Syngnam Rhee beserta staf pemerintahannya meninggalkan Seoul dan memindah pemerintahannya ke Taejon.


Perang Korea tidak hanya sebatas peperangan yang terjadi antara Korea Utara dan Korea Selatan. Namun, Perang Korea tersebut juga terdapat sekutu dari masing-masing pihak yang terlibat di dalam jalannya Perang Korea. Amerika Serikat yang menyadari bahwa Uni Soviet mendukung Korea Utara, sehingga Amerika Serikat memutuskan untuk membantu Korea Selatan. Dengan posisi Amerika Serikat yang berada di dalam Dewan Keamanan PBB, Amerika Serikat kemudian mengusulkan kepada DK PBB untuk bersidang membicarakan kembali masalah Korea. PBB mengadakan sidang dan menghasilkan resolusi PBB yang antara lain berisi sebagai berikut;


1)   Mendesak Korea Utara agar segera menghentikan perang dan menarik mundur pasukan-pasukannya sampai garis batas 38° LU;


2)   Memberikan sanksi kepada Korea Utara apabila pihak Korea Utara tidak mengabaikan desakan tersebut, maka PBB dengan para anggotanya akan membantu Korea Selatan.


Pada 27 Juni 1950, Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman memerintahkan kepada Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk memberi perlindungan kepada pasukan Korea Selatan. Pasukan Amerika Serikat berkosentrasi di Semenanjung Jepang. Strategi militer yang dilakukan oleh Presiden Harry S. Truman membuat bendungan dengan pasukan-pasukan yang cukup kuat. 


Presiden Truman mengerahkan pasukan-pasukan Amerika Serikat yang berada di Timur Jauh yaitu di Jepang, di bawah komando Douglas Mac Arthur diperintahkan untuk melakukan blokade di seluruh Pantai Korea. Pemerintah Cina di Taiwan diminta menghentikan operasinya di daratan Cina, serta bantuan-bantuan militer kepada pemerintah Filipina dan Angkatan Perang Perancis di Indocina ditingkatkan. Meskipun begitu, memasuki bulan Agustus 1950, pihak Korea Utara dapat dikatakan masih tetap unggul, karena hal berikut;


1)   Korea Utara dan Uni Soviet mampu membuat rakyat Korea Selatan bersimpati pada mereka.


2)   Logistik pihak Korea Utara terpencar, sehingga sulit dihancurkan dan lebih lama dapat bertahan.


3)   Pihak Korea Utara melakukan infiltrasi untuk melemahkan pihak Selatan.


Selama tiga bulan (Juni-Agustus 1950) pihak Korea Selatan mengalami kekalahan, maka untuk menghindari agar Semenanjung Korea tidak jatuh secara keseluruhan ke pihak Korea Utara, Korea Selatan membuat strategi baru yang disebut “Pertahanan PBB”. Pertahanan tersebut dipusatkan di Pusan, dan dikenal dengan nama “Pusat Parameter”. Daerah penting lain selain Pusan adalah Taegu.


Memasuki bulan september 1950, Perang Korea nampaknya mulai menunjukkan adanya keunggulan bagi Korea Selatan dengan berhasil direbut kembali Kota Seoul pada 26 September 1950 di bawah pimpinan Jenderal Mac Arthur. Keberhasilan tersebut menjadi dorongan moral bagi Korea Selatan sehingga dapat melampaui garis batas 38° Lintang Utara. Kekalahan Korea Utara tersebut juga merupakan kekalahan Uni Soviet dan membuat Republik Rakyat Cina yang merupakan sekutu Uni Soviet harus turun membantu Korea Utara. 


Setelah berhasil memukul balik tentara Korea Utara dari garis lintang 38, tentara koalisi Amerika Serikat yang berada di bawah payung PBB mendekati Sungai Yalu yang berbatasan dengan Tiongkok. Jenderal Mac Arthur menjanjikan kepada pasukan koalisi untuk merayakan Natal dengan keluarga masing-masing karena perang akan berakhir dan kedua Korea akan bersatu dan menciptakan pemerintahan yang demokratis.


Ketika tentara koalisi sedang melakukan perayaan Natal, Korea Utara kembali melakukan perlawanan. Berbekal dengan bantuan yang didapatkan dari Republik Rakyat Cina, Korea Utara kembali meraih kemenangan. RRC punya persiapan yang matang karena telah terlebih dahulu melakukan pemetaan terhadap Perang Korea sehingga berdampak pada keberhasilan tentara Korea Utara mengusir pasukan PBB dari Pyongyang untuk mendorong mereka kembali ke Selatan. Karena Perang Korea juga merupakan perang antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, maka Amerika Serikat pun tidak tinggal diam dengan ikut campurnya RRC. Sehingga Jenderal Mac Arthur memberikan wewenang kepada Jenderal Matthew B. Ridgway untuk melancarkan operasi-operasi di Korea. 


Jenderal Matthew B. Ridgway juga diserahi menggunakan personel tentara VIII dan Korps X yang berarti meliputi seluruh kekuatan darat PBB. Pasukan PBB yang terdiri dari 15 negara, yakni Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Australia, Selandia Baru, Swedia, Thailand, Belanda, Belgia, Kanada, Turki, Yunani, Afrika Selatan, India dan Filipina. 


Situasi perang yang tidak memungkinkan mendorong diadakannya perundingan dan gencatan senjata antara kedua belah pihak. Perang Korea yang terjadi sepanjang tahun 1950-1953 ini telah menyebabkan terbunuhnya 1 juta warga Korea, seperempat warga Cina, dan tiga puluh empat ribu warga Amerika Serikat. Selin itu Perang Korea juga telah menyebabkan Amerika Serikat kehilangan 36.914, sementara Korea Selatan 415.005. Korea Utara menurut Departemen Pertahanan Amerika Serikat telah kehilangan 2.000.000 tentara. 


Upaya Penyelesaian Perang Korea


Sebagai upaya untuk menyelesaikan Perang Korea, langkah yang ditempuh selanjutnya  adalah dengan mengadakan sebuah perundingan untuk mencegah meluasnya Perang Korea. Pada 23 Juni 1951 Jacob Malik selaku wakil tetap Uni Soviet di PBB, menyatakan bahwa dirinya bersedia mengadakan perundingan serta akan segera mengirimkan wakil – wakilnya. Di bawah ini adalah perundingan-perundingan yang dilakukan untuk mengakhiri Perang Korea:


a)    Perundingan Kaesong (10 Juni – 22 Agustus 1951)


Perundingan di Kaesong disetujui oleh kedua belah pihak, baik pihak Korea utara maupun Korea selatan. Perundingan yang terjadi di Kaesong sesungguhnya disetujui oleh kedua belah pihak oleh karena disebabkan kedua belah pihak memiliki pendapatnya masing-masing dengan memilih Kaesong yang disetujui sebagai tempat perundingan;


1.    Pihak Korea Utara mempertimbangkan bahwa Kaesong terletak 20 mil di dalam garis pertahanan mereka;


2.    Bagi pihak Korea Selatan dapat menimbulkan kesan bahwa mereka bersedia melaksanakan perundingan.


Perundingan di Kaesong merupakan strategi bagi RRC untuk menghambat gerakan PBB di Kaesong. Kaesong merupakan wilayah yang strategis dalam menentukan kemenangan melalui garis 38o LU, namun perundingan yang berlangsung selama tiga bulan ini mengalami kegagalan, disebabkan kedua belah pihak tidak dapat saling menghormati satu sama lain bahkan saling menuduh satu sama lainnya. Kegagalan ini disebabkan tidak adanya kesepakatan tentang garis demarkasi.


b)   Perundingan di Panmunyom (25 Oktober – 27 Juni 1953)


Perundingan Panmunyom adalah kelanjutan dari kegagalan perundingan di Kaesong. Di dalam perundingan ini masalah garis demarkasi  kembali dibahas dan memanas. Korea Utara mengusulkan garis demarkasi selebar 2 mil, selanjutnya daerah ini dijadikan daerah bebas militer. Tentu saja dengan persetujuan dari pihak Korea Selatan. Korea Selatan menyetujui batas garis demarkasi ini sehingga Perundingan Panmunyom mencapai kesepakatan antara Korea Utara dan Korea Selatan.


Berdasarkan keputusan ini, artinya permasalahan pada Perundingan Kaesong sudah teratasi dan terselesaikan. Dengan keberhasilan dari Perundingan Panmunyom maka selanjutnya adalah pembahasan mengenai perundingan gencatan senjata antara Korea Utara dan Korea Selatan.


c)    Gencatan Senjata Korea Utara dan Korea Selatan


Pada tanggal 27 Juli 1953 diberlakukan gencatan senjata antara Korea Utara dan Korea Selatan. Gencatan senjata antara kedua pihak ini bersesuaian dengan Perjanjian Panmunyom yang telah disepakati sebelumnya, garis demarkasi militer yang memisahkan kedua belah pihak yang telah ditentukan yaitu memanjang dari muara sungai Han. Dengan adanya gencatan senjata ini maka Perang Korea berakhir untuk sementara (sejak 1953 sampai dengan sekarang). 


Gencatan senjata ini secara resmi telah membagi dua Korea menjadi negara yang masing-masing berdaulat yaitu Korea Selatan dan Korea Utara dengan terpisahkan garis LU 38o.  Perang Korea yang berlangsung hingga 27 Juli 1953 memakan korban hampir tiga juta orang tewas baik sipil maupun militer. Pada tanggal 8 Agustus 1953, pakta pertahanan bersama antara Korea Selatan dan Amerika Serikat ditandatangani di Seoul oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Foster Dolies dan Presiden Korea Selatan, Syngman Rhee. Dengan disepakatinya pakta pertahanan militer ini memberikan perlindungan bagi Korea Selatan oleh Amerika Serikat apabila terdapat serangan dari luar, yang terutama tentunya apabila terdapat ancaman dari Korea Utara. 


Dampak dari Perang Korea Terhadap Kedua Negara dan Dunia


Perang Korea telah menimbulkan dampak yang cukup luas di dunia internasional. Hal ini dikarenakan oleh berbagai sebab, antara lain:


1.    Korea yang merupakan bekas daerah jajahan Jepang di mana Jepang merupakan negara fasis terbesar di Asia yang menjadi kekuatan super dan mampu menjadi saingan bagi negara-negara imperialis Barat, seperti Inggris, Amerika Serikat dan Uni Soviet Jepang yang berhasil menganeksasi Korea sejak 1910 menjadi sorotan dunia, karena Jepang dikategorikan penjahat perang setelah Jerman. Kekuatan Jepang di Korea merupakan suatu hal penting yang perlu diperhitungkan oleh negara-negara besar di dunia.


2.    Pasca Perang Dunia II yang ditandai dengan kekalahan Jepang, Korea telah jatuh ke tangan Amerika Serikat, Uni Soviet dan RRC. Ketiga negara tersebut adalah negara kuat yang mempunyai pengaruh dan peranan yang cukup besar di dunia, karena negara-negara di dunia pada saat itu mempunyai ketergantungan pada mereka, khususnya kekuatan militer.


3.    Keikutsertaan PBB, telah melibatkan anggotanya untuk menyelesaikan masalah Korea. Ini berarti, Perang Korea telah pula menyeret negara-negara di dunia. Dengan demikian, Perang Korea juga membawa dampak bagi dunia internasional.


Dampak Perang Korea bagi dunia internasional, antara lain sebagai berikut;


1.    Muncunya dua Negara adidaya, yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet


Amerika Serikat dan Uni Soviet adalah Negara besar yang rnendominasi dunia pasca Perang Dunia II. Dengan kedudukannya di Korea telah mendapatkan tempat yang strategis di Asia dalam upaya mencari dukungan di Asia dalam perluasan pengaruhnya.


2.    Munculnya RRC sebagai kekuatan baru


Dalam perkembangan internasional yang sedang mengalami polarisasi kekuatan Barat di bawah komando Amerika Serikat dan kekuatan Timur di bawah pimpinan Uni Soviet, ternyata lebih cenderung untuk menggabungkan diri pada kekuatan Timur. Dalam Perang Korea dengan jelas RRC menyokong Korea Utara dan mengakibatkan perubahan fundamental politik di kawasan Asia Pasifik.


Perang Korea telah menunjukkan kekuatan RRC yang dapat menyaingi kekuatan militer Amerika Serikat. Apabila Uni Soviet tidak mendapat bantuan militer dari RRC, Uni Soviet akan mengalami kekalahan. Dengan adanya partner politik RRC-Uni Soviet sejak Perang Korea, menambah kokohnya pertahanan komunis khususnya di Asia. Sebaliknya, dekatnya hubungan Uni Soviet dan RRC, mengakibatkan putusnya hubungan diplomatik Amerika Serikat-RRC.


RRC muncul sebagai kekuatan baru di Asia, menggantikan kedudukan Jepang yang telah hancur. Didukung oleh jumlah penduduk yang besar, perkembangan industri dan pertanian; RRC berhasil mengembangkan militernya. Keunggulannya dibanding dengan Negara-negara lain di kawasan Asia dan peranannya yang besar dalam Perang Korea, inilah yang mengubah RRC menjadi kekuatan baru di Asia.


Dengan menyadari adanya partnership RRC-Uni Soviet, Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman memutuskan untuk menerapkan politik pembendungan paham komunis. Selain itu, Amerika Serikat mengadakan perubahan secara fundamental terhadap Jepang yang dapat digunakan sebagai benteng utamanya di Asia. Bahkan Jepang diizinkan untuk membentuk pasukan bela diri, dimaksudkan agar dapat menangkal meluasnya pengaruh komunis.


Perkembangan ideologi komunis di Asia terutama ditujukan bukan pada sepak terjang Uni Soviet, melainkan RRC. Hal ini dikarenakan RRC adalah negara yang berada di kawasan Asia, sehingga lebih banyak memahami seluk-beluk negara-negara di sekitarnya. Dengan demikian, posisi RRC di Asia dinilai lebih berbahaya dibandingkan Uni Soviet di Eropa.


3.    Munculnya Pakta Pertahanan Bersama



Untuk menjaga keamanan dan pertahanan setelah Perang Korea, dan untuk membendung perkembangan komunis secara intensif, menyadarkan negara-negara di dunia membentuk pertahanan bersama dengan kepentingan yang berbeda. Secara kongkret pertahanan bersama yang muncul setelah Parang Korea adalah South East Asia Treaty Organization (SEATO) yang didirikan pada 1954 dengan anggota Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Australia, Selandia Baru, Filipina, Thailand, Pakistan dan Korea Selatan. Pertahanan bersama ini merupakan satah satu upaya pembendungan ideologi komunisme di Asia .


Berdasarkan deskripsi di atas, Perang Korea baik secara langsung maupun tidak langsung telah membawa dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah menyadarkan seluruh negara di kawasan Asia-Afrika untuk mewujudkan menjadi suatu negara yang merdeka lepas dari campur tangan asing. Sedangkan dampak negatifnya, Perang Korea telah memecah bangsa menjadi dua negara yang berbeda dengan paham yang berbeda pula. Di samping itu, Perang Korea telah memperuncing persaingan  antara Blok Barat dan Blok Timur.


Secara signifikan, dampak adanya Perang Korea ini dapat dibagi ke dalam 3 bagian, yaitu:


1.    Dampak Ekonomi kedua belah pihak (Korea Utara dan Korea Selatan)


Perang yang melibatkan kedua belah pihak ini mengakibatkan hancurnya infrastruktur dan ekonomi negara. Pada tahun 1970 ekonomi kedua belah pihak sempat seimbang, namun orientasi ekonomi Korea Utara lebih memprioritaskan pada kepentingan militer dibanding dengan kebutuhan rakyatnya sendiri. Korea Utara acap kali mengalami kekurangan makanan dan menyebabkan tingginya tingkat kematian penduduk akibat kelaparan. Korea Utara juga beberapa kali meminta bantuan dari luar negeri, tak terkecuali meminta bantuan dari pihak Korea Selatan.


Situasi yang dialami oleh Korea Utara itu lain halnya dengan Korea Selatan. Korea Selatan lebih menekankan pertumbuhan ekonomi dengan liberalisasi pasar dan perdagangan, sehingga perindustrian dan kemajuan ekonomi Korea Selatan lebih maju dengan pesat.


2.    Dampak Politik


Korea Selatan mengadopsi sistem politik yang demokratis, berbeda dengan sistem politik di Korea Utara yang komunis-sentralistik. Dengan sistem demokrasi, maka pihak militer meninggalkan perannya dari arena politik, sedangkan pihak Korea Utara lebih menekankan nilai hierarki struktur keluarga sebagai pemimpin berikutnya.


3.    Dampak Militer dan Keamanan


Berdasarkan penjelasan yang telah dibahas sebelumnya, Korea Utara lebih menekankan ekonomi dalam upayanya meningkatkan kapasitas militer dan nuklirnya. Dengan adanya sikap dan pengaruh dari kepemilikan senjata nuklir ini, maka secara tidak langsung menyebabkan instabilitas kawasan Asia Pasifik, terlebih dengan beberapa percobaan peluncuran nuklir Korea Utara yang menurut data intelijen mampu menjangkau sebagian wilayah Amerika Serikat.


Perang ini berakhir pada 27 Juli 1953 saat Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, dan Korea Utara menandatangani persetujuan gencatan senjata. Presiden Korea Selatan, Syngman Rhee, menolak menandatanganinya namun berjanji menghormati kesepakatan gencatan senjata tersebut. Namun demikian, ketegangan di semenanjung Korea masih terus membekas. Kerugian besar diderita kedua belah pihak ketika perang dihentikan, 27 Juli 1953. Amerika kehilangan 36.914 tentaranya, sementara Korea Selatan 415.005. Korea Utara menurut Departemen Pertahanan AS, kehilangan 2 juta serdadunya jumlah yang sangat besar untuk perang tiga tahun