Kebudayaan Megalitikum atau Kebudayaan Batu Besar - ABHISEVA.ID

Kebudayaan Megalitikum atau Kebudayaan Batu Besar

Kebudayaan Megalitikum

Megalitikum - Megalitikum acap kali dianggap sebagai salah satu bagian dari periodesasi masa pra-aksara baik di Indonesia maupun dalam periodesasi pra-aksara dunia. Di dalam artikel ini akan dijelaskan secara singkat tentang apa yang dimaksud dengan Megalitikum.


Pengertian Megalitikum


Megalitikum diartikan sebagai zaman batu besar yang mana masyarakat dengan kebudayaan Megalitikum ini membuat berbagai bangunan yang berukuran besar atau monumental. Kebudayaan Megalitikum amat erat kaitannya dengan pembangunan bangunan suci atau hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas spiritual.


Persebaran Megalitikum 


Meskipun hingga kini masih diperdebatkan menyoal awal-mula munculnya kebudayaan Megalitikum , tetapi yang dapat diyakini adalah bahwa kebudayaan Megalitikum muncul oleh karena dasar kepercayaan manusia terhadap hal-hal yang sakral, dan manifes. Kepercayaan manusia terhadap hal-hal yang sakral ini sebenarnya mulai muncul pada periode akhir dari masa mesolitikum, namun mencapai puncaknya pada periode neolitikum ketika manusia sudah mulai memutuskan untuk menetap dan memproduksi makananannya sendiri. 


Surplus bahan pangan dan tidak semua individu menghabiskan waktunya menggarap lahan, mulai saat itu pula lah manusia lebih banyak berpikir tentang hal-hal yang terjadi disekitar mereka, baik yang dapat diterima oleh akal-logika maupun yang diluar batas kemampuan berpikir manusia itu sendiri (hal-hal yang diluar nalar). Dari sinilah muncul kepercayaan dan pemujaan terhadap roh-roh nenek moyang (animisme) dan juga kepada benda-benda langit (dinamisme) yang mana itu semua dipercaya memiliki kekuatan dan kemampuan yang berada di luar nalar dan kemampuan manusia.


Kiranya barangkali dapat dikatakan bahwa kemunculan sistem kepercayaan di dalam masyarakat neolitikum telah menyebabkan masyarakat menganggap hal-hal yang bersifat di luar nalar itu sebagai sesuatu hal yang sakral dan harus diperlakukan secara khusus dan perlu kiranya juga membangun suatu bangunan sebagai monumen atau objek pemujaan dan penghormatan secara khusus yang mana bangunan yang dibuat sebagai wujud penghormatan terhadap hal-hal yang gaib.


Sebagian besar dan hampir seluruh dari artefak yang dikategorikan ke dalam hasil daripada kebudayaan Megalitikum ini sezaman dengan periode neolitikum . Sehingga dapatlah diambil suatu pemahaman bahwa kebudayaan Megalitikum atau kebudayaan batu besar ini adalah bagian dari periode neolitikum . 


Hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa kebudayaan Megalitikum sebagian besar terjadi diawali pada periode neolitikum , meskipun untuk beberapa temuan diantaranya berasal dari masa mesolitikum seperti di situs Gobekli Tepe (Asia Kecil) dan penemuan batuan monolith yang berada di Sicilia (Italia). Tradisi Megalitikum atau kebudayaan Megalitikum ini sebagian besar di beberapa tempat terjadi pada masa neolitikum dan bukan berarti pula bahwa setiap masyarakat yang mengalami fase neolitikum ini menghasilkan tradisi megalitik atau kebudayaan megalitik. Hal ini disebabkan oleh karena setiap tempat berkembangnya peradaban-peradaban awal memiliki corak dan latar yang berbeda.


Tradisi Megalitikum atau kebudayaan Megalitikum yang mulai muncul sebagian besar pada masa neolitikum tersebar terutama di peradaban-peradaban awal di dunia. Tradisi Megalitikum ini terus bertahan meskipun periode neolitikum ini terus mengalami perkembangan hingga masuk ke dalam periode perundagian dan bahkan eksistensi dari kebudayaan Megalitikum ini tetap bertahan di beberapa tempat di dunia dan masih berfungsi hingga sekarang, salah satunya adalah bangunan-bangunan Megalitikum yang masih berfungsi dan bertahan di Indonesia.


Di bawah ini adalah beberapa situs-situs peninggalan kebudayaan Megalitikum yang tersebar di beberapa wilayah di dunia;


Situs Gobekli Tepe


Penemuan situs Gobekli Tepe yang terletak di tenggara Turki ini adalah situs Megalitikum yang berasal dari masa pra-neolitik sekitar 9600-7000 SM. Diantara artefak yang ditemukan di situs ini yang tertua adalah sebuah lingkaran batu besar yang memiliki diameter hingga mencapai 20 meter dengan posisi berdiri setinggi 7 meter. Hingga saat ini telah berhasil diekskavasi sebanyak 5 buah batu besar yang mana setiap batu tegak itu dihiasi oleh berbagai ukiran relief. Ukiran relief di batu itu antara lain adalah telinga, babi hutan, ular, rubah, kucing, reptil berkaki empat, burung, laba-laba, gazelle, serangga, mamalia berkaki empat, kalajengking dan hewan-hewan lainnya. Selain itu juga ditemukan relief ukiran yang sangat khas dengan manusia seperti ukiran lengan manusia juga ditemukan disalah satu batu ini.



Selain penemuan batu berbentuk lingkaran itu, juga ditemukan batu berbentuk persegi panjang dengan usia yang lebih muda yang diperkirakan memiliki fungsi yang sama. Hal menarik dari penggalian situs Gobekli Tepe ini tidaklah ditemukan satupun peninggalan dari struktur adanya kota maupun desa, jejak-jejak pertanian juga tidak satupun ditemukan di situs ini. Meskipun begitu tulang-belulang dari hewan-hewan liar dan sisa-sisa tanaman liar yang dapat dikonsumsi banyak ditemukan di situs ini bersamaan dengan alat batu penggiling. 


Berdasarkan pada ekskavasi tersebut, dapatlah diperikirakan bahwa struktur pemujaan di situs Gobekli Tepe ini dibangun oleh para pemburu-pengumpul, bukan oleh para petani. Sehingga dapatlah dikatakan kebudayaan Megalitikum di situs Gobekli Tepe ini berasal dari periode mesolitikum.


Peninggalan Kebudayaan Megalitikum di Timur Tengah



Sebuah struktur batu setengah lingkaran dengan ukuran besar di temukan di Atlit Yam, sebuah situs yang kini berada di bawah laut. Situs Atlit Yam di Israel ini diperkirakan berasal dari 7000 SM. Selain situs di Atlit Yam juga ditemukan dolmen di Yordania yang kemungkinan tertua berasal dari Dataran Tinggi Golan, dan Hauran. Sedangkan di daerah yang kini dikenal dengan Saudi Arabia (Arab Saudi) hanya sedikit sekali ditemukan dolmen dan itupun hanya terletak di situs Hijaz. Struktur yang ditemukan di Hijaz ini kemungkinan menyebar ke daerah Yaman dan berkaitan dengan tradisi-tradisi yang berkembang di Somalia dan Ethiophia.




Bangunan Megalitikum yang paling kuno di Timur Tengah adalah Menhir meskipun ukurannya tidak selalu menunjukkan bangunan yang super besar, batu berdiri ini hampir tersebar di setiap tempat dengan ketinggian hingga 5 meter. Tradisi pemujaan terhadap batu berdiri ini terus berlanjut di Timur Tengah bahkan ketika agama Islam mulai menyebar.


Peninggalan Kebudayaan Megalitikum di Eropa


Di Eropa juga terdapat peninggalan-peninggalan Megalitikum dan yang paling banyak ditemukan adalah berupa makam. Namun hingga kini masih diperdebatkan apakah memang fungsi utama dari kumpulan batu tegak yang menyerupai ruangan dengan atap dari batu di atasnya merupakan situs pemakaman atau mungkin merupakan apa yang diidentifikasi dengan dolmen. 



Formasi batu semacam ini banyak ditemukan di beberapa tempat di Eropa seperti di Prancis, Portugal, Sardinia, Belanda, Jerman, Denmark, Irlandia dan Wales. Akan tetapi, asumsi hingga hari ini masih cenderung memperkirakannya sebagai situs pemakaman sebab beberapa diantaranya berisi tulang-belulang manusia. Hal yang perlu dicatat di sini adalah bahwa batu berdiri atau menhir adalah peninggalan Megalitikum yang paling umum ditemukan di Eropa di mana hampir lebih kurang sebanyak 50.000 menhir telah ditemukan.


Selain sebagai objek pemujaan maupun perdebatan antara fungsi pemakaman dan dolmen, batu berdiri yang ditemukan di beberapa tempat di Eropa dianggap memiliki fungsi astronomis dan berfungsi untuk meramal masa depan. Konstruksi megalitik yang paling umum ditemukan di Eropa adalah formasi lingkaran batu seperti Stonehenge, Avebury, Ring of Brodgar dan Beltany yang menunjukkan fungsi yang berkaitan dengan astronomi.


Peninggalan kebudayaan Megalitikum di Eropa secara umum mulai dibangun pada masa neolitikum hingga zaman tembaga (4500-1500 SM). Struktur bangunan megalitik tertua di Eropa adalah struktur bangunan megalitik yang ditemukan di Malta dan yang paling terkenal adalah Stonehenge di Inggris. Struktur megalitik terbanyak ditemukan di Sardinia, di mana diantaranya adalah dolmen, menhir, peti kubur yang berbentuk melingkar dan masih banyak struktur megalitik yang diperkirakan mencapai 8000 bangunan.


Peninggalan Kebudayaan Megalitikum di Afrika


Peninggalan kebudayaan Megalitikum di Afrika salah satunya adalah situ Nabta Playa yang terletak di barat daya Mesir sekitar 500 mil dari Kairo. Diperkirakan memasuki 5000 SM, Penduduk Nabta Playa telah membuat perangkat astronomi secara akurat menandai kehadiran dan kepergian matahari sebagai pertanda musim panas. Berdasarkan temuan di situs Nabta Playa ini diperkirakan wilayah ini hanya ditempati secara musiman (hanya dalam waktu tertentu). Nabta Playa ini diperkirakan pada saat itu merupakan danau besar sehingga sangatlah cocok untuk penggembalaan hewan ternak ketika musim panas tiba sehingga sangatlah layak untuk ditinggali ketika wilayah lainnya diterpa oleh kekeringan.


Selain penemuan di Nabta Playa, struktur bangunan megalitik lainnya di Afrika juga ditemukan di Namoratunga yang diperkiran berasal dari 300 SM. Situs Namoratunga ini merupakan situs megalitik yang berfungsi sebagai penanggalan yang mengikuti peredaran bulan atau sekitar 354 hari. Selain Namoratunga juga terdapat situs Tiya yang diperkirakan berasal dari abad ke-11 atau 13 M. Situs Tiya terletak di Ethiophia di mana bangunan megalitik ini terdapat banyak ukiran di dalamnya.


Peninggalan Kebudayaan Megalitikum di Asia


Asia merupakan salah satu tempat persebaran kebudayaan Megalitikum yang paling beragam apabila dibandingkan dengan wilayah lainnya. Bangunan megalitik berupa pemakaman paling banyak ditemukan di Semenanjung Korea, meskipun diantaranya juga ditemukan di Liaoning, Shandong, dan Zhejiang di Cina, Pantai Timur Taiwan, Kyushu dan Shikoku di Jepang, Dong Nai di Vietnam dan beberapa tempat di Asia Selatan. Hal yang menarik adalah beberapa tradisi megalitik yang masih hidup hingga saat ini ditemukan di Pulau Sumba dan Nias yang terletak di Indonesia.


Kompleks pemakaman yang berasal dari tradisi megalitik paling besar ditemukan di Korea di mana di sana terdapat bangunan megalitik mencapai 100.000 struktur yang berhasil ditemukan, namun 30.000 diantaranya diidentifikasi sebagai dolmen. Meskipun begitu, jumlah 30.000 dolmen ini merupakan sekitar 40% dari jumlah seluruh dolmen yang berhasil ditemukan di seluruh dunia.


Sebagian besar bangunan megalitik yang ditemukan di Asia berusia lebih muda jika dibandingkan dengan tempat-tempat lainnya sekitar 1500 SM. Meskipun ada dugaan struktur bangunan megalitik tertua di dunia yang ditemukan di Indonesia yakni situs Gunung Padang yang terletak di Cianjur. Situs Gunung Padang ini diperkirakan berusia 20.000 SM yang berarti lebih tua jika dibandingkan dengan Situs Gobekli Tepe di Turki. Hingga kini masih diperdebatkan mengenai fungsi dari struktur bangunan di Situs Gunung Padang tersebut.


Peninggalan Kebudayaan Megalitikum Melanesia dan Micronesia


Peninggalan kebudayaan megalitik juga banyak ditemukan di daerah Melanesia dan Micronesia terutama di Fiji dan Vanuatu. Salah satu situs yang telah diketahui usianya yakni berupaka makan yang ditemukan di Kirwina diperkirakan berasal dari 1000 SM. Namun, masih banyak situs-situs yang ditemukan di Melanesia yang masih belum bertarikh hingga saat ini. Meskipun belum seluruhnya bertarikh, bangunan-bangunan megalitik itu diidentifikasi sebagai bagian dari aktivitas spiritual seperti sarana penguburan maupun upacara pengorbanan dan pemujaan terhadap roh-roh leluhur.


Hasil Kebudayaan Megalitikum 


Dolmen

Dolmen adalah struktur batu tegak dengan penutup di atasnya yang mana penutup itu juga terbuat dari batu. Struktur dolmen menyerupai meja batu yang berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan sesaji yang hendak dipersembahkan kepada dewa maupun roh leluhur.


Punden Berundak

Punden berundak adalah sebuah bangunan bertingkat yang menyerupai altar dan juga merupakan prototipe dari gunung. Punden berundak ini berfungsi sebagi pemujaan terhadap dewa maupun roh leluhur.


Waruga

Waruga adalah peti kubur batu yang berbentuk kubus dengan penutup yang menyerupai atap rumah. Uniknya dari waruga adalah jenazah yang diletakkan dalam posisi jongkok meringkuk layaknya janin di dalam kandungan.


Sarkofagus

Sarkofagus adalah peti jenazah yang terbuat dari batu yang berbentuk seperti lesung dengan penutup yang terbuat dari batu. Sarkofagus berfungsi untuk meletakkan jenazah dan pada umumnya peti jenazah (sarkofagus ini tidak dikubur di dalam tanah.


Kubur Batu

Kubur batu adalah sebuah kuburan yang terbuat dari lempengan-lempengan batu di setiap sisinya dan di masukkan ke dalam tanah. Penutup dari kubur batu adalah lempengan batu yang mana lempengan penutup tersebut tidak ditutupi dengan tanah.


Menhir

Menhir adalah batu tegak yang berfungsi sebagai pemujaan terhadap dewa maupun roh leluhur atau nenek moyang.


Arca Batu

Arca batu adalah patung yang terbuat dari batu dan biasanya menyerupai bentuk binatang maupun manusia. Bentuk-bentuk yang dipahatkan menjadi patung biasanya adalah sosok yang dihormati (apabila manusia) umumnya leluhur yang sudah tiada. Sedangkan binatang (hewan) adalah sosok binatang yang dianggap penjelmaan dari leluhur maupun dewa atau juga binatang yang dianggap memiliki jasa-jasa besar bagi manusia, simbol dari hal-hal tertentu, semisal keberanian.


Itulah penjelasan secara singkat tentang pengertian kebudayaan Megalitikum , persebaran kebudayaan Megalitikum dan hasil kebudayaan Megalitikum.