Konflik Internal Budi Utomo - ABHISEVA.ID

Konflik Internal Budi Utomo

Konflik Internal Budi Utomo: Konflik Tjipto Mangoenkoesoemo dan Radjiman Wedyodiningrat di awal terbentuknya Budi Utomo

Konflik internal Budi Utomo Konflik internal Budi Utomo adalah konflik yang terjadi antara para tokoh atau pemeran utama di dalam organisasi Budi Utomo. Konflik internal Budi Utomo terjadi lantaran perbedaan pemikiran dalam arah gerakan organisasi antara tokoh-tokoh awal dari organisasi ini terutama yang terjadi antara Tjipto Mangoenkoesoemo dan Radjiman Wedyodiningrat. Di bawah ini akan diuraikan secara singkat tentang Konflik internal Budi Utomo

Tjipto Mangoenkoesoemo
Tjipto Mangoenkoesoemo

Setelah dr. Wahidin Soedirohoesodo berhasil menggalang para priyayi Jawa untuk tergabung ke dalam organisasi Budi Utomo. Tidak begitu lama Budi Utomo mulai dimasuki oleh golongan-golongan elit Jawa dengan berbagai variasi kedudukannya. Di kalangan aristokrasi, ada tokoh-tokoh yang ikut serta dan memegang pimpinan Budi Utomo, antara lain R. A. Tirtokoesoemo, P. Ario Notodirodjo dan R. A. Soerjo Soeparto. Kedudukan mereka sebelumnya di kalangan elit Jawa memungkinkan memegang peranan penting itu.

Radjiman Wedyodiningrat
Radjiman Wedyodiningrat

Tanpa pengalaman sedikit pun di dalam keorganisasian, Budi Utomo dapat dikatakan pada awalnya merupakan wadah dari unsur-unsur radikal dan bercorak politik. Hal ini seperti yang terlihat di kalangan kaum terpelajar yang bergabung ke dalam organisasi ini juga terdapat perbedaan orientasi dan sikap terhadap modernisasi yaitu; golongan intelektual tradisional dan intelektual progresif. 


Dari kalangan pertama terutama adalah dr. Radjiman Wedyodiningrat, seorang dokter keraton Surakarta sedangkan dari pihak yang lain adalah dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, seorang dokter di Demak yang lahir di Semarang. Keduanya memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda meskipun berprofesi sebagai seorang dokter pribumi.

Di dalam kongres Jong Java di Yogyakarta pada 5 Oktober 1908, terjadi sebuah konfrontasi antara kedua tokoh tersebut yang berujung kepada antagonisme antara konservatisme dan progresivisme ataupun radikalisme mengenai tujuan gerakan, tetapi bahasa yang digunakan pun menonjolkan perbedaan yang tajam. 

Yang pertama menggunakan bahasa Jawa sedangkan yang kedua menggunakan bahasa Melayu sebagai alat komunikasi. Yang pertama menghendaki langkah secara bertahap dalam mencapai kemajuan dengan mengikuti jenjang yang diberikan oleh penguasa, sedangkan yang kedua tidak puas dengan gerakan yang hendak meningkatkan taraf pengajaran kaum pribumi, tetapi mencita-citakan pendobrakan masyarakat kolonial dan tradisional dengan segala kekolotan, statisme, diskriminasi, tradisi yang menekan. 

Untuk mencapai tujuan itu diperlukan gerakan yang lebih bersifat politik radikal. Dalam konteks masa itu sudah sewajarnya dipakai istilah radikal, oleh karena dipandang membahayakan kedudukan penguasa kolonial. Perdebatan antara Radjiman Wedyodiningrat dengan Tjipto Mangoenkoesoemo merupakan salah satu titik puncak kongres Jong Java oleh karena konfrontasi antara kedua pendiri itu mencerminkan orientasi yang berbeda dalam menghadapi Pembaratan. Sehingga muncullah kemudian konflik antara dua sikap kultural yang ditentukan oleh faktor pengalaman dan lokasi sosial tokoh-tokoh itu.

Meskipun pada periode selanjutnya, pada tahun 1909, Radjiman Wedyodiningrat berkunjung ke Belanda untuk lebih mengenal peradaban Barat ke negeri Belanda untuk studi, namun pada 1908 persepsi kulturalnya menunjuk pada kenyataan bahwa pada hakikatnya peradaban Barat dan Timur itu berlainan. Ditegaskannya bahwa nasionalitas Jawa perlu dipertahankan, lagi pula pengetahuan Barat tidak sesuai dengan nasionalitas Jawa serta kebudayaannya sehingga tidak membuahkan hasil. 


Dengan semboyannya “Bangsa Jawa tetap Jawa” itu Radjiman Wedyodiningrat benar-benar menunjukkan identitasnya yang masih Javanosentris, suatu fakta yang dapat dipahami apabila dia ditempatkan kepada sosio-kulturalnya.

Berlainan Tjipto Mangoenkoesoemo dengan latar sosio-kulturnya yang berbeda dengan Radjiman, membantah pernyataan 
 Radjiman Wedyodiningrat dan mengutarakan bahwa bangsa Hindia perlu memanfaatkan pengetahuan Barat dan unsur-unsur kultural lainnya sehingga dapat memperbaiki tingkat kehidupannya. 

Pendirian 
Tjipto Mangoenkoesoemo adalah bahwa sebelum persoalan-persoalan kebudayaan dapat dipecahkan terlebih dulu perlu diselesaikan masalah politik. Kunci untuk mengatasi pelbagai kesuksesan adalah aksi politik. Dalam hubungan ini dibayangkan terciptanya alam demokratis di Hindia. Pernyataan Tjipto Mangoenkoesoemo bagi zamannya, serta konteks sosialnya terasa amat ekstrem, radikal, kalau tidak boleh dikatakan revolusioner. Ide-ide itu menunjukkan rasionalitasnya yang tinggi serta analisis yang tajam, namun persepsi dengan jangkauan jauh ke masa depan itu belum dapat menarik tanggapan yang luas. 

Unsur-unsur di dalam Boedi Oetomo pada umumnya dan pemimpin-pemimpinnya, meskipun mungkin tidak semuanya sekonservatif 
 Radjiman Wedyodiningrat, terlalu terikat pada lokasi sosial serta kebudayaannya. Tidak mengherankan apabila Tjipto Mangoenkoesoemo menduduki tempat terpencil di dalam organisasi sehingga membuatnya meninggalkan Boedi Oetomo. 

Setelah 
Tjipto Mangoenkoesoemo
 mengundurkan diri dari Boedi Oetomo, secara lebih tegas pula bahwa Boedi Oetomo menjadi sebuah organisasi yang dipenuhi dengan ide-ide konservatif yang pada akhirnya juga menentukan sikapnya terhadap pemerintah Hindia-Belanda dengan arah gerakan yang cenderung bekerjasama mengikuti keinginan pemerintah Hindia-Belanda dengan cara tidak berkonsentrasi pada politik, tetapi kepada pendidikan dan kebudayaan.