Sejarah Bangsa Sumeria - ABHISEVA.ID

Sejarah Bangsa Sumeria

Sejarah Bangsa Sumeria

Bangsa Sumeria - Bangsa Sumeria adalah bangsa yang diyakini sebagai bangsa pertama yang membangun Peradaban Mesopotamia. Bangsa Sumeria membangun peradaban kuno di Mesopotamia selatan yang pada masa kini wilayah tersebut terletak di wilayah Irak.  

Latar Belakang Bangsa Sumeria


Peradaban Bangsa Sumeria yang menjadi dasar bagi Peradaban Mesopotamia mulai berkembang selama masa Chalcolithic dan abad perunggu awal. Meskipun Spesimen-spesimen terawal di daerah ini tidak lebih jauh dari sekitaran tahun 2500 SM, sejarawan-sejarawan modern berpendapat bahwa Sumer mulai ditinggali secara permanen dari sekitar tahun 5500-4000 SM oleh orang-orang non-Semit yang berkomunikasi menggunakan bahasa Sumeria. 


Menurut pendapat para cendekiawan modern orang-orang non-Semit ini adalah yang membentuk peradaban yang paling awal. Di mana mereka mengeringkan rawa-rawa untuk keperluan bercocok tanam, mengembangkan perdagangan, dan membangun industri yang dimaksud dengan industri di sini diantaranya adalah beragam kerajinan tenun, kerajinan kulit, besi, pertukangan batu dan kerajinan tembikar.


Meskipun begitu, beberapa peneliti berpendapat, bahwa bahasa Sumeria awalnya, merupakan bahasa para pemburu dan nelayan, yang mana mereka hidup di daerah rawa-rawa dan kawasan pantai Arabia Timur, yang merupakan bagian dari kebudayaan bifasial (pemrosesan batu dikedua sisinya) di Arabia. Bukti-bukti sejarah yang lebih bisa diandalkan muncul jauh setelah masa ini; yang jelas adalah bahwa tidak ada satupun penanggalan di Peradaban Sumeria sebelum masa Enmebaragesi (2600 SM).


Pendapat lainnya meyakini bahwa Bangsa Sumeria menetap disekitar pantai Arabia Timur, yang merupakan teluk Persia, dimasa kini, sebelum tergenang pada akhir zaman es. Mereka telah mengenal bercocok tanam dan sudah memiliki sistem pengairan. Bangunan-bangunan mereka dibuat dari lumpur. Mereka menganut agama polyteisme (menyembah banyak dewa).



Bangsa Sumeria merupakan bangsa yang pertama kali mendiami kawasan Mesopotamia, sehingga Bangsa Sumeria pantas disebut sebagai penduduk asli Mesopotamia. Bangsa Sumeria diperkirakan datang dari kawasan Asia Kecil, sekitar tahun 3500 SM. Pada awalnya, Bangsa Sumeria mengolah lahan pertanian yang subur sebagai mata pencaharian dan sumber pangan utamanya. 


Lambat laun Bangsa Sumeria mulai dapat membangun sistem pengairan (irigasi) yang berfungsi untuk menanggulangi banjir dan menyalurkan air kelahan-lahan pertanian. Dengan semakin meningkatnya kemampuan dalam mengolah tanah dan memaksimalkan fungsi dari aliran sungai, maka berdampak pada hasil pertanian yang melimpah yang berarti telah mengakibatkan surplus pangan yang cukup banyak sehingga berdampak pula pada meningkatnya populasi di mana ini pada gilirannya membentuk sebuah perkotaan beserta dengan perangkatnya. Oleh sebab itu, Bangsa Sumeria sekitar tahun 3000 SM berhasil membangun 12 Kota-kota besar, diantaranya adalah kota Ur, Uruk, Lagash dan Nippur.


Pada awalnya, Kota- kota tersebut merupakan kota-kota yang berdiri sendiri, sehingga disebut negara kota (polis). Oleh karena mereka berdiri sendiri dan memiliki sistem pemerintahannya sendiri tak pelak maka mulai timbul persaingan diantara kota-kota itu baik demi kepentingan untuk mempertahankan diri dan juga untuk ekspansi. Kemudian terjadilah peperangan diantara kota-kota tersebut dan yang kalah akan menjadi bawahan kota yang menang yang lama kelamaan memunculkan sistem pemerintahan kerajaan. Bangsa Sumeria mencapai masa kejayaannya saat dipimpin oleh Raja Ur-nammu. Namun, sekitar tahun 2300 SM, Bangsa Sumeria dapat dutaklukan oleh bangsa Akkadia dibawah pimpinan Raja Sargon.


Penduduk dan Masyarakat Sumeria


Daerah-daerah di sekitar Mesopotamia didiami oleh Bangsa-bangsa yang termasuk rumpun bangsa Semit, kehidupanya bersifat semi-nomaden. Aktivitas perdagangan melalui sungai Eufrat dan Sungai Tigris. Sekitar tahun 3000 SM daerah Mesopotamia didiami oleh Bangsa SumeriaBangsa Sumeria lebih banyak bertempat tinggal pada kota-kota besar dan terutama sekali pada ibu kotanya yaitu Uruk (Ur).


Sebelum Bangsa Sumeria, di daerah yang berjuluk “The Fertile Crescent” tersebut sudah terlebih dahulu didiami oleh sebuah Bangsa Ubaid. Bangsa Ubaid ini adalah bangsa pertama yang mendiami daerah tersebut pada tahun 5000 SM dengan ditandai munculnya kota Kish, Eridu, dan Ur. Kedatangan Bangsa Sumeria pada tahun 3000 SM membaur dengan bangsa Ubaid, lalu membangun sebuah kota dengan rumah-rumah yang dibuat dari lumpur.


Perkembangan Peradaban Sumeria Dalam Berbagai bidang


Mesopotamia adalah peradaban besar di zaman kuno yang sangat maju. Di bawah ini adalah beberapa perkembangan yang dicapai oleh Peradaban Sumeria;


Sistem Pemerintahan Bangsa Sumeria


Kehidupan suatu bangsa tidak mungkin berjalan dengan baik tanpa dipimpin oleh pemerintahan yang teratur. Bangsa Sumeria mengembangkan pemerintahan yang berpusat dikota Ur dekat muara Sungai Eufrat. Para penguasa memiliki kekuasaan yang sangat besar selain sebagai kepala pemerintahan, Raja juga sebagai kepala agama sehingga Raja disebut Patesi (pendeta raja). Raja bertanggungjawab terhadap kehidupan masyarakat baik lahir maupun batin. Seorang raja juga harus mampu mengatur kehidupan ekonomi, keamanan atau ketentraman, hukum dan peradilan serta kehidupan keagamaan.


Negara-kota (polis) pada masa Mesopotamia yang paling awal diorganisasikan secara ekonomi dan keagamaan dalam bentuk komunitas-komunitas yang dikepalai oleh seorang pendeta, di mana pendeta inilah yang dianggap mewakili atau melambangkan Dewa penolong atau Dewa-dewa kota. Majelis politik warga negara juga telah dibentuk dan diatur.


Pada abad ke-9 kombinasi dari sistem Teokrasi dan Demokrasi primitif, dikota-kota kekuasaan dipegang oleh seorang Ensi atau Gubernur, dia memegang baik kekuasaan politik atau keagamaan, atau diperintah oleh seorang Raja atau Lughal, suatu sebutan superior yang sering dipakai karna kedaulatannya yang luas. Pada masa Imperium, kekuasaan politik berkembang dalam bentuk monarki yang sangat sentralitik.


Salah seorang Patesi (pendeta-raja) bernama Ur Nanshe ia adalah raja yang membangun kota Lagash sekitar tahun 2500 SM. Tindakan Ur Nanshe diikuti oleh Patesi Gudea yang memerintah kira-kira 2400 SM. Dialah yang menjadikan kota Lagash jadi kota yang paling berarti di Sumeria.


Ekonomi Bangsa Sumeria


Bangsa Sumeria mengembangkan kehidupannya dengan mengusahakan pertanian. Untuk mengairi tanah pertaniannya dibuatlah saluran air dari kedua sungai itu pengolahan tanah dilakukan dengan membajak menggunakan tenaga hewan yaitu keledai dan lembu. Untuk mengangkut hasil panen dan keperluan yang lain mereka membuat kereta atau gerobak yang diberi roda. Hasil utama pertanian Bangsa Sumeria ini adalah gandum kemudian jemawut dan jelai. Konon Bangsa Sumeria adalah bangsa yang telah mengenal teknologi roda dan menanam gandum yang pertama kali di dunia.


Satu hal yang perlu diketahui bahwa Orang-orang Sumeria yang berhasil menjinakan rawa- belantara ini bukan lah penduduk asli di Mesopotamia, karena sebelum dijinakan rawa liar tersebut tidak bisa ditempati manusia. Sebagian pemukiman masyarakat Sumeria paling awal adalah Ur, Uruk, dan Eridu yang semuanya berada diujung barat daya rawa besar ini yang bersebelahan dengan Jazirah Arab walaupun berdekatan dengan Jazirah Arab, orang-orang Sumeria bukanlah berasal dari Jazirah Arab, karena bahasa mereka tidak memiliki Afinitas dengan Bahasa-bahasa keluarga Semitik mereka berbeda dengan para migran berurutan yang berasal dari Arab kedaerah daerah Asia dan Afrika yang semuanya berbahasa Semitik.


Disamping pertanian, Bangsa Sumeria mengembangkan perdagangan. Hal ini didasarkan pada temuan berupa ribuan materai tanah liat yang antara lain berisi perjanjian dagang, perhitungan pesanan Barang-barang.


Perkembangan Peradaban Sumeria dalam Bidang budaya


Dalam bidang budaya, orang-orang Sumeria sudah mengenal abjad yang berupa huruf paku. Huruf-huruf paku itu antara lain ditemukan pada sebuah prasasti yang berisi tentang hukum dan undang-undang dan peraturan-peraturan hukum itu disebut undang-undang Hammurabi (Codex Hammurabi).


Selain undang-undang Hammurabi, perkembangan budaya Mesopotamia juga terjadi dalam tradisi kesusteraan Epik Gilgamesh, kisah falsafah dan cara hidup masyarakatMesopotamia. Tentang kepahlawanan Gilgamesh, ada sifat dua pertiga Tuhan, satu pertiga manusia, wajah tampan, ada kekuatan dan keberanian. Telah memerintah dan memberi perlindungan kepada kota Uruk. Menceritakan juga kehidupan yang kekal kesaktian.


Orang-orang Sumeria sudah mengenal system penanggalan atau system kalender, yang dimaksudkan untuk mengenal perputaran waktu dan musim. Pengetahuan tentang perputaran waktu dan musim berguna untuk menentukan saat yang tepat dalam melaksanakan aktivitas kehidupanya, baik untuk bercocok tanam, perdagangan dan sebagainya. Sebagai upaya mempermudah memahami pengetahuan tentang perputaran waktu dan musim, Bangsa Sumeria membagi dan mempersingkat waktu ke dalam jam, menit, dan detik. Pembagian waktu terus dikembangkan ke dalam bentuk yang lebih khusus melalui sistem penanggalan di mana 24 jam menjadi 1 hari, 30 hari menjadi 1 bulan, dan 12 bulan menjadi 1 tahun.


Sistem Kepercayaan Bangsa Sumeria


Kemunculan sistem kepercayaan di Bangsa Sumeria tentu juga dipengaruhi oleh peran sentral iklim yang ada di Mesopotamia dalam kehidupan sehari-hari. Bangsa Sumeria mengetahui akan adanya bahaya kelaparan dan kehancuran yang bisa datang dari banjir secara tiba-tiba, badai, dan juga angin. Bangsa Sumeria mulai memikirkan dan membayangkan bahwa masing-masing kekuatan alam sebagai dewa yang di mana dewa itu dipahami layaknya seperti seorang raja atau ratu dari manusia, yang mana dewa ini haruslah senang dan ditenangkan hatinya. 


Oleh sebab itulah, Bangsa Sumeria mulai percaya bahwa untuk dapat bertahan hidup mereka harus terus-menerus menunjukkan sikap tunduk mereka kepada para dewa yang mana sikap tunduk ini ditunjukkan melalui ritual. Ritual itu sendiri acap kali dipahami bahwa para dewa perlu diberi sesembahan agar selalu senang hatinya dan apabila para dewa senang maka kehidupan Bangsa Sumeria akan nyaman dan tenang serta terhindar dari bahaya apapun. Sesembahan itu sendiri seringkali berbentuk suatu upacara pengorbanan baik berupa hasil panen, hewan ternak bahkan tidak menutup kemungkinan upacara pengorbanan itu juga melibatkan manusia yang dijadikan sebagai bahan sesembahan kepada para dewa.


Diyakini secara umum bahwa pertumbuhan kota-kota Sumeria adalah hasrat untuk memenuhi keinginan dewa-dewa yang diyakini eksistensinya, terutama melalui upacara pengorbanan. Kebutuhan untuk memenuhi kewajiban spiritual semacam itu tentu membutuhkan biaya yang mahal, sehingga menyebabkan Bangsa Sumeria mengembangkan pengaturan ekonomi dan sistem politik yang kompleks di mana kedua sistem inilah yang merupakan keunggulan dari peradaban Sumeria. 


Sistem ekonomi yang kompleks ditunjukkan dengan sebagian besar hasil dari aktivitas perekonomian dari masing-masing kota dikirimkan kepada orang-orang yang menjaga dan memelihara altar-altar pemujaan dan juga adanya bukti kawanan hewan yang hendak dijadikan sebagai kurban. Setiap hari di altar pemujaan ini, para pendeta melakukan sesembahan berupa makanan mewah yang ditujukan untuk patung-patung para dewa. 


Diyakini bahwa dewa akan mengkonsumsi "esensi immaterial" dari sesembahan itu, dan kemudian para pendeta dan petugas kuil akan memakan sisa-sisa makanan yang telah dipersembahkan kepada para dewa. Dengan melakukan ritual yang tepat dan memberikan persembahan yang tepat kepada para dewa, Bangsa Sumeria berharap bahwa dewa akan menjawab doa-doa yang telah mereka lakukan.


Perlu kiranya dipahami bahwa setiap kota Sumeria dilindungi oleh satu dewa atau dewi . Kuil dari dewa dijadikan sebagai pusat kota dan pusat dari kehidupan beragama. Di Uruk , misalnya yaitu Ziggurat didedikasikan untuk Inanna (juga dikenal sebagai Ishtar), dewi cinta dan perang dan sebagai simbol khusus kota. Semua kota Sumeria memiliki kuil serupa yang menjulang tinggi di atas kota, di mana ini bertujuan untuk mengingatkan semua penduduk bahwa dewa ada di mana-mana dan dewa-lah yang menguasai nasib mereka. 

Bangsa Sumeria percaya bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta berasal dari dewa terkuat di mana dari para dewa yang ada mereka meyakini kekuatan ilahi-lah yang membentuk alam semestaBangsa Sumeria beranggapan, bagaimanapun juga, bahwa para dewa menyerupai bentuk manusia. Sedangkan diantara para dewa terdapat Raja dari segalanya yang disebut dengan 'Anu', Anu adalah ayah dari para dewa, di mana ia memerintah dari langit dan sebagai personifikasi dari langit itu sendiri. 


Sedangkan di bawah Anu terdapat Enlil adalah penguasa dari angin dan udara di mana Enlil inilah yang menjadi dewa utama dari Bangsa Sumeria. Enki adalah penguasa bumi, sungai dan pengetahuan. Inanna adalah dewi cinta, seks, kesuburan , dan peperangan. Ninhursaga , dianggap sebagai dewa yang melahirkan para raja. Bangsa Sumeria juga menyembah dewa-dewa yang jumlahnya hingga ratusan lebih yang statusnya lebih rendah jika dibandingkan dengan dewa-dewa utama. Dewa-dewa yang berjumlah ratusan ini terdapat di rumah-rumah di seluruh kota dan juga di pedesaan.


Peninggalan Bangsa Sumeria


Bangsa Sumeria memiliki ciri fisik berwarna kulit kecoklatan dengan hidung yang mancung. Mereka menggunakan tulisan paku yang kini telah berhasil diterjemahkan, dan bahasa mereka kini pun telah diketahui. Bangsa Sumeria telah berhasil mengolah perunggu dan juga membangun menara seperti kuil- kuil dari batu bata yang dikeringkan dengan memanfaatkan sinar dan panas matahari. Lempung (tanah liat) dinegeri ini sangat bagus. Tanah liat itu mereka gunakan untuk menulis, dan prasasti-prasasti yang mereka buat masih bertahan hingga saat ini. Mereka memelihara sapi, domba dan kambing. Mereka bertempur dengan berjalan kaki, dalam formasi yang rapat, membawa tombak dan perisai yang terbuat dari kulit sedangkan pakaian mereka terbuat dari wol.


Masing- masing kota Sumeria secara umum tampaknya merupakan negara merdeka, dengan dewa dan pemimpinnya sendiri-sendiri. Tetapi, terkadang suatu kota menegakkan kekuasaannya terhadap kota-kota lain dan meminta upeti dari penduduknya. Sebuah prasasti yang sangat kuno di Nippur mencatat imperium (imperium pertama yang tercatat) kota Erech, Sumeria. Dewa dan raja/pemimpinnya mengklaim otoritas kekuasaannya mulai dari Teluk Persia hingga Laut Merah.


Pada mulanya, tulisan hanyalah metode pencatatan berupa gambar yang dipersingkat. Bahkan sebelum zaman Neolitik, manusia sudah mulai menulis. Gambar- gambar yang dibuat manusia di dinding-dinding gua pada era mesolitikum adalah proses dari munculnya tradisi menulis dikemudian hari. Banyak diantaranya mencatat tentang perburuan dan ekspedisi, dan sebagian besar menggambar tokoh-tokoh  manusia ataupun hewan secara sederhana. Di Sumeria tulisan dibuat diatas tanah liat dengan sebuah tongkat yang terbuat dari kayu.


Selain itu Bangsa Sumeria memiliki peninggalan diantaranya adalah sebagai berikut:


Peninggalan Bangunan Bangsa Sumeria


Pada umumnya peninggalan arsitektur dari Bangsa Sumeria adalah berupa kuil untuk pemujaan yang disebut dengan Ziggurat. Ziggurat berasal dari kata Zagaru yang artinya bangunan tinggi seperti gunung karena merupakan menara bertingkat yang makin lama makin kecil. Pada masing-masing puncak Zigurat berdiri kuil atau tempat suci sebagai tempat dewa-dewa kota. 


Para pemimpin tinggal di tempat yang sangat bagus dengan halaman gedung yang luas. Sementara itu, masyarakat pada umumnya tinggal di rumah-rumah berukuran kecil yang rapat satu sama lain dan hanya mempunyai jalan dan lorong-lorong yang sempit. Para tukang batu, pedagang, tukang tenun maupun tukang kayu, tinggal dan bekerja di jalanan yang sama. Jalan-jalan dengan deretan toko inilah yang pada akhirnya membentuk sebuah pasar. 


Tulisan Bangsa Sumeria


Pada sekitar tahun 3200 SM Bangsa Sumeria diketahui sudah mengenal tulisan. Tulisan tersebut sering disebut dengan Cuneiform Writing atau tulisan paku. yaitu sistem tulisan yang kira-kira sejaman dengan Hieroglyphics yang merupakan hasil kebudayaan masyarakat Mesir kuno. Orang-orang Sumeria menggunakan alat yang ditunjukkan secara jelas, yang disebut dengan Stylus, untuk menuliskan karakter-karakter yang terbentuk dari penggalan kecil pada lempengan tanah liat yang lembut, yang kemudian diperkeras dengan membakarnya.


Membaca dan menulis tulisan Cuneiform adalah sulit, karena alpabhetnya terdiri dari 550 karakter. Para juru tulis Sumeria harus melalui beberapa tahun pendidikan dengan tekun untuk mendapatkan kemahiran menulis. Meskipun begitu, Cuneiform digunakan secara luas di Timur Tengah selama ratusan tahun.


Pengetahuan dan Sastra Bangsa Sumeria


Bangsa Sumeria memberikan sumbangan yang penting bagi dunia dalam bidang matematika. Mereka mengembangkan hitungan dengan dasar 60 (disebut sixagesimal) Penemuan mereka tentang hitungan lingkaran adalah 360 derajat, satu jam adalah 60 menit, 1 menit adalah 60 detik di mana sistem ini masih digunakan sampai sekarang. 


Pengetahuan di atas menjadi dasar untuk penghitungan waktu untuk satu hari adalah 24 jam, satu bulan adalah 30 hari, satu tahun adalah 12 bulan. Penghitungan waktu disebut dengan sistem penanggalan yang nanti dikembangkan oleh bangsa Babilonia. Penghitungan kalender Babilonia berdasarkan pada peredaran Bulan (disebut sistem lunar atau kalender Komariah).


Di samping itu orang-orang Sumeria juga sudah mengembangkan sastra. Syair Orang-orang Sumeria yang berbentuk cerita, yang sering disebut dengan The Epic of Gilgamesh, adalah satu karya yang tertua dari bentuk sastra di dunia ini. Syair kepahlawanan ini adalah koleksi cerita tentang seorang pahlawan yang disebut Gilgamesh. Gilgamesh inilah yang diyakini oleh Bangsa Sumeria sebagai perintis Peradaban Mesopotamia Kuno.


Bahasa Bangsa Sumeria


Bahasa yang digunakan oleh Bangsa Sumeria adalah bahasa Sumeria. Seperti yang telah diketahui sebelumnya, Sebagian dari pemukiman Bangsa Sumeria yang paling awal adalah Ur, Uruk, dan Eridu yang semuanya berada di daerah wilayah ujung barat daya rawa besar yang bersebelahan dengan Jazirah Arab. Walaupun daerah tersebut begitu berdekatan dengan wilayah Jazirah Arab, Bangsa Sumeria itu sendiri bukanlah bangsa yang berasal dari Jazirah Arab, karena bahasa aktivitas sehari-hari dari Bangsa Sumeria tidak memiliki aktivitas dengan menggunakan bahasa-bahasa keluarga Semitik. Bangsa Sumeria berbeda dengan para pendatang yang berasal dari Jazirah Arab ke daerah-daerah Asia dan Afrika yang semuanya termasuk rumpun bahasa Semitik.


Keruntuhan Peradaban Bangsa Sumeria


Keruntuhan peradaban Sumeria disebabkan oleh adanya ancaman dan beragam ekspedisi militer yang dilakukan oleh bangsa Semit. Memasuki 2000 SM Sargon mendirikan Kerajaan Akkadia di mana sejak periode itulah orang-orang Semit secara besar-besaran mulai menghuni kawasan Mesopotamia dan masuk ke dalam kota-kota Sumeria. Peradaban Sumeria runtuh setelah Sargon menaklukan kota-kota Sumeria dan dengan begitu penguasa di Mesopotamia telah beralih dari Bangsa Sumeria ke tangan Kerajaan Akkadia.