Sejarah Kerajaan Assyria - ABHISEVA.ID

Sejarah Kerajaan Assyria

Sejarah Kerajaan Assyria

Kerajaan Assyria - Kerajaan Assyria adalah salah satu kekuatan politik di Mesopotamia yang berhasil menjadi kerajaan dan didirikan sekitar 1400 SM. Ibukota Kerajaan Assyria terletak di kota Ashur yang diperkirakan secara bertahap mulai dibentuk sejak 3000 SM oleh bangsa Assyria yang merupakan bagian dari bangsa Semit. Selain kota Ashur, bangsa Assyria juga membangun kota Niniveh.

Berkaitan dengan kemunculan kota Ashur ini juga terdapat pendapat lain yang menyatakan bahwa Kota Ashur dibangun pada 1900 SM apabila merujuk pada reruntuhan yang ditemukan di kota tersebut. Selain oleh reruntuhan, juga terdapat petunjuk yang diberikan dari salah satu prasasti awal dari Kerajaan Assyria yang menyebutkan bahwa raja pertama Kerajaan Assyria adalah Tudiya. 

Meskipun nampak meyakinkan bahwa Kota Ashur telah muncul sejak 1900 SM, namun masih diragukan apakah pada 1900 SM ini Kota Ashur sudah didirikan sebab berdasarkan keterangan di dalam prasasti menyebutkan bahwa Raja Tudiya adalah raja yang tinggal di dalam tenda. Sehingga timbul dugaan bahwa pada periode ini Ashur masih belum berkembang menjadi sebuah kota hanya kumpulan pemukiman saja.

Hal yang penting kiranya sebagai awal mula terbentuknya Kota Ashur, bahwa Ashur adalah pusat perdagangan yang cukup penting sejak 3000 SM. Memasuki tahun 1900 SM memang dapat diyakini awal mula proses terbentuknya Ashur menjadi sebuah kota yang secara bersamaan Raja Erishum I membangun sebuah kuil di Ashur. Berdasarkan keterangan yang didapatkan dari salah satu prasasti mengenai Raja Tudiya dan Raja Erishum I yang membangun sebuah kuil dapat diyakini sebagai awal terbentuknya Kota Ashur. 

Keterbatasan sumber berupa artefak yang ditemukan di situs Ashur membuat pekerjaan menjadi rumit dalam memperkirakan apa yang terjadi di Ashur pada 3000 SM. Ashur sendiri memang sering disebut sebagai bagian dari Kerajaan Akkadia serta Dinasti Ketiga Ur. Catatan tentang Ashur sendiri sebagian besar diperoleh dari para pedagang yang memang singgah dan melewati Ashur sejak 3000 SM terutama adalah para pedagang Kanesh.

Sebuah koloni perdagangan Karum Kanesh (Pelabuhan Kanesh) adalah salah satu pusat perdagangan yang paling menguntungkan di daerah Timur Dekat dan tentunya hal ini menjadi sangat penting bagi pertumbuhan kota Ashur. Para pedagang dari Ashur pergi ke Kanesh untuk mendirikan bisnis, dan kemudian, setelah menempatkan seorang pegawainya yang tepercaya (biasanya anggota keluarga) sebagai penanggung jawab dari bisnisnya. Setelah itu mereka akan kembali ke Ashur dan mengawasi urusan bisnis mereka dari sana. Di Kanesh tempat-tempat bisnis para pedagang Ashur berkembang dengan pesat.

Terbentuknya Kerajaan Assyria

Perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang Ashur di Karum Kanesh telah memberikan banyak keuntungan dan kekayaan sehingga Ashur membutuhkan stabilitas dan keamanan untuk perluasan kota dan dengan demikian menjadi pemicu bagi munculnya kekaisaran. Perdagangan dengan daerah Anatolia juga sangat penting dalam menyediakan bahan mentah kepada orang Asiria yang dapat mereka gunakan untuk menyempurnakan kerajinan besi. Kerajinan besi ini pada akhirnya dapat membuat perlengkapan militer Asyyria menjadi yang paling maju sehingga kampanye militer yang dilakukan oleh Asyyria selalu berhasil menaklukan wilayah-wilayah disekitarnya.

Di Anatolia dan Ashur terdapat suku-suku yang disebut dengan Hurrians dan Hatti di mana keduanya mendominasi di wilayah Anatolia dan hampir diseluruh wilayah utara dari Mesopotamia. Di dekat Ashur, Hatti dan Amori lah yang menjadi batu sandungan pertama untuk perluasan kekuasaan Ashur dan Ashur selalu berada di bawah bayang-bayang mereka. Memasuki tahun 1800 SM Raja Asyyria, Shamashi Adad I (1813-1791 SM) mengusir orang Amori dan berhasil mengamankan perbatasan Asyur, mengklaim Asyur sebagai ibu kota kerajaannya. Meskipun begitu, suku Hatti tetap dominan di wilayah tersebut sampai mereka diserang dan diasimilasi oleh orang Het pada 1700 SM. 

Kerajaan Assyria berada di bawah Kekuasaan Kerajaan Babilonia

Namun, setelah penaklukan yang dilakukan oleh Shamashi Adad I, mereka (orang-orang Hatti) tidak lagi menjadi perhatian utama Ashur. Perhatian utama Ashur kini mulai tertuju pada kota di barat daya yang secara perlahan menunjukkan eksistensinya, yaitu Kerajaan Babilonia. Orang Amori yang sempat dikalahkan oleh Shamashi Adad I membangun kekuatan kembali di barat daya Ashur dan berhasil menjadi kekuatan yang berkembang di Babilonia setidaknya selama 100 tahun ketika raja Amori bernama Sin Muballit naik takhta. 

Pada 1792 SM putra Sin Muballit, Hammurabi (1792-1750 SM) naik takhta untuk memerintah dan berhasil menaklukkan tanah Asyur. Sekitar waktu yang sama perdagangan antara Asyur dan Karum Kanesh berakhir, karena Babilonia-lah yang kini menjadi terkenal di wilayah tersebut dan mengambil kendali perdagangan antara Asyur dengan Karum Kanesh. Asyur kini menjadi wilayah bawahan dari Kerajaan Babilonia meskipun tetaplah dipimpin oleh seorang raja namun harus menyatakan kesetiaannya kepada Kerajaan Babilonia.

Kerajaan Assyria Mendapatkan kembali Kemerdekaan

Pada tahun 1400 SM Kerajaan Babilonia mulai menunjukkan tanda-tanda kemundurannya. Hal ini dimanfaatkan oleh Raja Assyria, Ashur-uballit (Ashuruballit) I yang memerintah pada 1365 SM untuk memerdekakan Kerajaan Assyria dari kekuasaan Kerajaan Babilonia. Secara perlahan, Ashur-Uballit I mulai meningkatkan kekuatan Ashur termasuk kekuatan militer dan juga melakukan hubungan diplomasi dengan kekuatan-kekuatan politik besar lainnya, termasuk dengan Mesir.

Setelah berhasil memantapkan kekuatannya, Ashur-Uballit I mulai melakukan agresinya terhadap Kerajaan Babilonia yang dipimpin oleh Burnaburiash dan berhasil menguasai Babilonia yang pada saat itu juga berada dibawah dominasi bangsa Huria. Keberhasilan Ashur-Uballit I dalam menguasai Babilonia pada 1350 SM ini telah menjadikan Kerajaan Assyria kembali muncul sebagai kekuatan politik terkuat di kawasan Mesopotamia yang bercorak militeristik. 

Perkembangan Kerajaan Assyria

Sekitar tahun 932-745 SM, Kerajaan Assyria mulai melancarkan agresinya terhadap kekuatan politik yang ada disekitarnya. Selama tahun 932-859 SM, Kerajaan Assyria berhasil menaklukkan komunitas-komunitas Aramaen yang telah hidup secara mapan di sebelah timur Sungai Eufrat, yang bertepatan dengan batas barat wilayah Kerajaan Assyria. Pada tahun 858-856 SM, Shalmaneser III membawa tentara dari Kerajaan Assyria memasuki Syria dengan menaklukkan Bit Adini, sebuah negara Aramaen yang menguasai tepian barat Sungai Eufrat.



Pada tahun 853 SM, Shalmaneser III menderita kekalahan dari koalisi di Qarqar di Sungai Orontes sebelah utara Hamath (Hamah). Dia kembali menginvansi Syria pada tahun 849 SM, 848 SM, dan 845 SM. Karena lemahnya koalisi anti-Assyria, maka pada 841 SM dapat memukul Damaskus dan memaksa bekas sekutu Damaskus untuk mengakui kekuasaan Kerajaan Assyria. Namun demikian, Shalmaneser III tetap menderita kekalahan 

di Urartu, dan pada tahun 831 SM Shalmasneser III digulingkan oleh sebuah pemberontakan dalam negeri, dan akhirnya meninggal pada tahun 824 SM. Demikian pula, pemberontakan ini melumpuhkan penerusnya. Shamshi-Adad V, sampai tahun 822 SM. Orang-orang Urartu yang telah bersatu dalam sebuah negara yang kuat berhasil menyaingi Kerajaan Assyria selama kekuasaan Raja Argistis I (785-753 SM) yang memerintah Syria utara dan Syiria timur. Pada tahun 745 SM, daerah-daerah penting dan strategis ini berada di bawah kendali orang-orang Urartu, bukan berada di bawah kendali bangsa Assyria.

Selama periode ini Kerajaan Assyria berada dalam instabilitas di mana kota-kota Kerajaan Assyria, Nineveh dan Arbela memberontak bersama dengan beberapa propinsi. Pada 746 SM, ibukota Kalkhu bergolak yang mengakibatkan Raja Asshurnirari V terbunuh, dan takhta ditempati pada tahun 745 SM oleh seseorang yang tidak diketahui asal-usulnya dengan jelas dan berpura-pura bernama Tiglath-Pileser III. Selanjutnya, Shalmaneser V, pengganti Tiglath-Pileser II, telah digantikan oleh seorang raja dari keluarga yang berbeda, yang dikenal dengan nama Sargon II. Pada masa Sargon II inilah Kerajaan Assyria mendapatkan momentum untuk mendapatkan kejayaannya kembali.

Sargon II (722-705 SM) pada tahun 722 SM, dia menaklukkan Kota Samaria, ibukota Kerajaan Israel, dan menahan pembesar-pembesar dari sepuluh bangsa Israel. Para tahanan ini dikenal sebagai “sepuluh tahanan yang hilang”, karena keadaan nasib mereka tidak pernah diketahui lagi. Sennacherib, putra Sargon II, merupakan raja yang cakap di mana ia berhasil menaklukkan Babylonia, menguasai Mesir dan Syria. Ashurbanipal (668-626 SM), sebagai cucu Sargon II, merupakan raja Kerajaan Assyria yang terbesar. Hampir seluruh Asia Barat tunduk pada kekuasaannya. Setelah kematian Ashurbanipal Kerajaan Assyria mengalami penurunan secara drastis.

Keruntuhan Kerajaan Assyria

Bangsa Assyria asli musnah disebabkan oleh perang yang terjadi secara terus-menerus dan karena wajib militer bagi tenaga laki-laki sebagai pekerja di koloni bangsa Assyria dan menjadi pasukan yang ditempatkan di dalam suatu negara yang telah berhasil ditaklukkan. Kekosongan di wilayah tempat tinggal penduduk Kerajaan Assyria dipenuhi oleh pengungsian orang asing yang masuk, sampai jumlah penduduk dari Kerajaan Assyria sebagian besar dihuni oleh orang-orang Armenia. Selain itu, ketegangan sosial yang terjadi memaksakan penduduk Kerajaan Assyria untuk terus menerus berpindah yang disebabkan oleh instabilitas politik dalam negeri. Pada akhirnya di tahun 612 SM Nineveh, ibu kota Kerajaan Assyria diserbu dan ditaklukkan oleh Aryan Medes dari Persia. Ditaklukannya Nineveh oleh Aryan Medes maka berakhirlah kekuasaan Kerajaan Assyria.

Sistem Ekonomi Bangsa Assyria

Pusat ekonomi bangsa Assyria adalah pada aktivitas pertanian oleh karena wilayahnya yang terletak pada tepian Sungai Tigris berada di barat daya Pegunungan Zagros menjadikan wilayah Kerajaan Assyria sebagai wilayah yang subur. Meskipun begitu, Kerajaan Assyria tidak seperti Kush, Babilonia maupun Akkadia yang memanfaatkan sistem irigasi untuk menunjang aktivitas pertaniannya. Bangsa Assyria mengandalkan curah hujan untuk dapat menanami lahan-lahan mereka.

Selain berpusat pada pertanian, bangsa Assyria juga melakukan aktivitas perdagangan yang memang merupakan sumber awal perekonomian mereka sejak 3000 SM. Kerajinan tangan terutama besi menjadi prioritas utama perdagangan yang dikembangkan oleh bangsa Assyria.

Peninggalan Bangsa Assyria

Bangsa Assyria beserta perangkat budayanya sebenarnya banyak dipengaruhi oleh Babilonia. Meskipun begitu, Bangsa Assyria tetaplah memiliki coraknya sendiri yang ditunjukkan pada masa pemerintahan Sennacherib yang telah merubah ibukota Nineveh menjadi kota yang dihiasi oleh beragam seni baik pahat dan juga seni lukis. Bangsa Assyria juga terkenal sebagai bangsa yang terpelajar. 

Sebuah relief dari istana Sennacherib di Nineveh melukiskan dua pelajar Assyria berdiri berdampingan. Bukti dari bangsa Assyria juga merupakan bangsa yang terpelajar sebagaimana yang ditunjukkan pada masa pemerintahan Raja Ashurbanipal yang membentuk dan membangun perpustakaan pertama di daratan Mesopotamia.

Bangsa Assyria memperkenalkan sistem sentralistik dan juga telah membangun jalan-jalan yang menghubungkan wilayah-wilayah kekuasaannya. Selain itu, Bangsa Assyria juga mewarisi alfabet phoeic yang diadopsi sebagai bahasa Armenia. Bansa Assyria menulis pada daun lontar tidak seperti bangsa Sumeria dan Akkadia yang menuliskannya di lembaran tanah liat.