Pertempuran Bangsa Indonesia Melawan Sekutu - ABHISEVA.ID

Pertempuran Bangsa Indonesia Melawan Sekutu

Pertempuran Bangsa Indonesia Melawan Sekutu


Pertempuran Bangsa Indonesia Melawan Sekutu - Pertempuran bangsa Indonesia melawan Sekutu terjadi setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Kedatangan Sekutu ke wilayah Indonesia disebabkan oleh hasil akhir yang dicapai setelah Perang Dunia II. Selama Perang Dunia II berkecamuk, di front Pasifik, Sekutu membagi wilayah Hindia-Belanda (Indonesia) menjadi dua daerah operasi;


1. Sumatra yang berada dalam operasi South East Asia Command (SEAC) di bawah pimpinan Laksamana Lord Louis Moubattan;

2. Jawa dan Indonesia Timur ke dalam operasi South West Pacific Command (SWPC) di bawah pimpinan Jenderal Mac Arthur.


Setelah Perang Dunia II di front Eropa berakhir dengan menyerahnya Jerman pada Mei 1945, kedua daerah operasi itu berubah. Di dalam konferensi yang dihadiri oleh para kepala staf Sekutu di Postdam pada bulan Juli 1945, di mana seluruh wilayah Hindia-Belanda (Indonesia) dijadikan daerah operasi SEAC. Hal ini dilakukan atas usulan dari Jenderal Mac Arthur yang ingin mengerahkan seluruh kekuatan pasukannya untuk langsung menyerang Kepulauan Jepang. Serah terima secara resmi dua operasi komando utama Sekutu itu baru dilaksanakan pada 15 Agustus 1945 setelah Jepang menyerah.


Setelah serah terima jabatan antara kedua komando resmi, maka daerah Burma (Myanmar), Siam (Thailand), Indo-Cina, dan Semenanjung Tanah Melayu termasuk Hindia-Belanda (Indonesia) berada di bawah komando SEAC. Oleh sebab itulah, untuk wilayah Indonesia dibentuk komando khusus yang diberi nama Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) di bawah komando Letnan Jenderal Sir Philips Christison. Namun, sebelum pasukan ini sempat melancarkan operasi militernya terhadap Jepang di Indonesia, Jepang telah menyerah terlebih dahulu.


Oleh karena Jepang telah menyerah kepada Sekutu, maka tugas AFNEI dialihkan dari tugas militer menjadi tugas administratif. Tugas AFNEI antara lain:

1. Menerima penyerahan dari tangan Jepang;

2. Membebaskan para tawanan perang dan interniran Sekutu;

3. Melucuti dan mengumpulkan orang Jepang untuk kemudian dipulangkan ke negeri asalnya;

4. Menegakkan dan mempertahankan keadaan damai untuk kemudian diserahkan kepada pemerintah sipil;

5. Menghimpun keterangan tentang penjahat perang dan menuntut mereka di depan pengadilan Sekutu.


Pasukan AFNEI tidak cukup banyak untuk menelusuri seluruh wilayah Indonesia, sehingga Indonesia bagian timur diserahkan kepada pasukan Australia. Pasukan AFNEI hanya akan menjalankan tugasnya di Jawa dan Sumatra sebagaimana pembagian daerah operasi selama Perang Dunia II yang telah dialihkan ke dalam operasi SEAC dan kini menjadi tugas dari AFNEI.



Pasukan AFNEI yang mula-mula dikirimkan oleh Laksamana Lord Louis Mubattan hanya satu divisi. Namun, setelah memahami perkembangan situasi yang terjadi di Indonesia, maka diputuskan untuk mengirimkan tiga divisi. Ketiga divisi yang dikirmkan oleh AFNEI ke Indonesia adalah Divisi India ke-26 di bawah pimpinan Mayor Jenderal H.M. Chambers untuk Sumatra, Divisi India ke-23 di bawah pimpinan D. C. Hawthorn untuk Jawa Barat, dan Divisi India ke-5 di bawah pimpinan Mayor Jenderal E. C. Mansergh untuk Jawa Timur. Namun, pengiriman ketiga divisi itu tidak dilakukan secara bersamaan, sebab Sekutu kekurangan kapal pengangkut.


Sebelum melakukan pendaratan, Sekutu terlebih dahulu mengirimkan Mayor Greenhalgh untuk mempersiapkan markas besar Sekutu di Jakarta. Mayor Greenhalgh diterjunkan dengan parasut di Lapang Terbang Kemayoran pada 14 September 1945. Pada 29 September 1945, rombongan pasukan Sekutu yang diangkut dengan Kapal Cumberland mendarat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta dipimpin oleh Letnan Jenderal Sir Philip Christison. 


Setelah pendaratan di Jakarta, kemudian disusul oleh pendaratan pasukan Sekutu ditempat lain di tiga kota pelabuhan utama di Jawa (Jakarta, Semarang, dan Surabaya) dan tiga kota pelabuhan utama di Sumatra (Medan, Padang, dan Palembang) pada bulan Oktober 1945.


Setelah pendaratan di kota-kota pelabuhan, pasukan Sekutu mulai masuk ke kota-kota besar di pedalaman, seperti Bandung dan Magelang di Jawa. Tujuan awal mereka adala untuk membebaskan para interniran Sekutu dan menerima penyerahan dari Jepang. Sementara itu, pasukan Australia di Indonesia Timur juga telah mendarat di beberapa tempat. 


Kedatangan pasukan Sekutu awalnya disambut dengan sikap netral oleh bangsa Indonesia. Hal ini juga berdasarkan keterangan Christison dalam pers Singapura yang menyatakan bahwa tugas Sekutu di Indonesia hanyalah untuk membebaskan tawanan peran dan interniran serta melucuti pasukan Jepang. Sekutu tidak akan mencampuri urusan politik dan tidak akan menyingkirkan pemerintah Republik Indonesia, bahkan akan diadakan musyawarah dengan pemimpin Republik Indonesia.




Pernyataan yang dilontarkan oleh Letnan Jenderal Sir Philip Christison ini tentu menghebohkan bagi Pemerintah Kerajaan Belanda. Sebab pernyataan ini dianggap sebagai pengakuan de facto terhadap Republik Indonesia. Terlebih, Letnan Jenderal Sir Philip Christison pada 1 Oktober 1945 menemui Presiden Soekarno. Sehingga tidaklah mengherankan apabila kedatangan pasukan Sekutu diterima oleh para pemimpin dan pejabat-pejabat Republik Indonesia.


Meskipun melalui pernyataan Christison telah menyebabkan Sekutu diterima dengan baik oleh pihak Indonesia, namun di dalam pasukan Sekutu terdapat tentara Belanda dan aparat Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang secara terang-terangan bermaksud menegakkan kembali pemerintah Hindia-Belanda. Dengan adanya tentara Belanda dan NICA yang berada di dalam pasukan Sekutu, maka muncullah kecurigaan dari bangsa Indonesia ditambah tentara Belanda dan NICA menunjukkan sikap bermusuhan.


Situasi keamanan dengan cepat memburuk sebab NICA mempersenjatai kembali anggota Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) yang baru saja dibebaskan dari tawanan Jepang. Di kota-kota di mana terdapat pasukan Sekutu, seperti di Jakarta dan Bandung, anggota KNIL memancing kerusuhan dengan mengadakan provokasi-provokasi bersenjata. Bahkan, di Jakarta mereka berupaya untuk melakukan pembunuhan terhadap Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin.


Selain itu, anggota KNIL juga melakukan aksi teror terhadap penduduk terutama di Jakarta yang mana itu mereka lakukan dengan mengenakan seragam tentara Sekutu. Hal inilah yang menyebabkan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta pada 4 Januari 1946 memutuskan untuk pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Berpindahnya Soekarno dan Moh. Hatta ke Yogyakarta menjadikan Yogyakarta sebagai ibukota Republik Indonesia hingga tahun 1949.


Akibat dari aksi-aksi yang dilancarkan oleh anggota KNIL, pihak Indonesia menganggap bahwa Sekutu berupaya untuk melindungi kepentingan Belanda terhadap Indonesia. Oleh karena itu, akhirnya keberadaan tentara Sekutu ditentang oleh pihak Indonesia yang menyebabkan kontak fisik hingga mengarah pada pertempuran di beberapa tempat di Indonesia. Di bawah ini adalah beberapa Pertempuran bangsa Indonesia melawan Sekutu;


1. Pertempuran Surabaya

2. Pertempuran Ambarawa

3. Pertempuran Medan Area

4. Pertempuran Padang

5. Pertempuran Bandung Lautan Api