Perkembangan Filsafat Pada Masa Dinasti Zhou - ABHISEVA.ID

Perkembangan Filsafat Pada Masa Dinasti Zhou

Perkembangan Filsafat Pada Masa Dinasti Zhou


Perkembangan Filsafat Pada Masa Dinasti Zhou - Selama Dinasti Zhou berkuasa, Dinasti Zhou telah melahirkan berbagai filsuf terkemuka yang antara lain adalah Konfusius, Lao Zi, Kong Zi dan Meng Zi. Selain itu, pada masa berkuasanya Dinasti Zhou juga melahirkan beragam pemikiran filsafat selain dari tokoh-tokoh yang dikemukakan di atas. Banyaknya aliran pemikiran filsafat yang lahir ini maka pada masa Dinasti Zhou juga dikenal dengan masa lahirnya seratus aliran pemikiran filsafat. Di bawah ini akan dijelaskan tentang perkembangan filsafat pada masa Dinasti Zhou.




1. Konfusius (Kong Zi/ Kong Fu Zi)


Konfusius melahirkan atau menerbitkan beberapa kitab yang berkaitan dengan puisi atau yang biasa dikenal juga dengan Kitab Sajak (The Book of Poetry/Odes = Shijing), menggubah musik, dan menyusun tatakrama kuno, termasuk menulis Kitab Sejarah Musim Semi dan Gugur (Spring and Autumn Annals = Chunqiu). Meskipun belum dapat dipastikan apakah kitab-kitab itu memang ditulis oleh Konfusius. Sepanjang hidupnya, Konfusius meskipun pernah menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Komisaris Polisi serta Menteri Kehakiman, ia lebih memilih untuk meluangkan waktunya memberi pengajaran dan pengetahuan kepada murid-muridnya.


Kitab yang diyakini ditulis oleh Konfusius adalah Xiaojing, meskipun murid-muridnya meyakini bahwa kitab-kitab lainnya ditulis oleh Konfusius. Kitab-kitab yang ada sekarang sebenarnya adalah hasil penghimpunan oleh seorang ahli filsafat Konfusius yang bernama Zhu Xi (1130-1200) yang hidup pada masa Dinasti Song.


Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Zhu Xi,berikut adalah kitab-kitab yang mendasari pemikiran Konfusius atau yang kini lebih dikenal dengan Konfusianisme:

1. Zhouyi, berasal dari kitab Yijing dan Yizhuan yang digabung menjadi satu;

2. Shujing atau Shangshu, adalah catatan politik Dinasti Zhou dan zaman sebelumnya;

3. Shijing, catatan nyanyian-nyanyian pada masa Dinasti Zhou;

4. Zhouli, catatan sistem pemerintahan dan organisasi negara pada masa Dinasti Zhou;

5. Yili, adat-istiadat para bangsawan;

6. Cunqiu Zhouzhuan, buku sejarah Negara Bagian Lu yang ditulis oleh Zhuo Qiu Ming;

7. Chunqiu Gongyang Zhuan, kitab yang ditulis oleh orang dari Kerajaan Ji yang bernama Gong Yang Zi;

8. Cunqiu Kailiang Zhuan, kitab yang ditulis oleh murid Zi Xia yang bernama Kai Liang (Zi Xia adalah seorang penganut ajaran Konfusius yang berubah aliran menjadi penganut aliran Fa Jia);

9. Lunyu, awal mulanya disebut Jilun dan Lulun. Lunyu yang diterima saat ini adalah hasil penggubahan kembali oleh Zhang Yi yang didasari pada Jilun dan Lulun;

10. Mengzi, hasil karya Meng Zi seorang penganut Konfusianis;

11. Xiaojing, kitab karya Konfusius (Kongzi) sendiri;

12. Erya, buku-buku syair yang diyakini dibuat oleh Zhou Gong;

13. Liji, membahas mengenai kebajikan dan adat istiadat. Kitab ini diyakini dicatat dan dikumpulkan oleh 70 murid Konfusius.


Ajaran Konfusius sendiri didasarkan pada pendidikan moral masing-masing individu. Konfusius selalu mendorong seseorang untuk berbuat kebaikan. Di dalam kitab Lunyu, Konfusius menekankan ren (kebajikan) yang berarti “kasihilah sesamamu, jangan lakukan perbuatan terhadap orang lain apabila engkau tidak suka diperlakukan demikian”. Konfusius juga membahas mengenai li yang memiliki pengertian “berkorban”, yang kemudian di dalam perkembangannya dimaknai sebagai upacara adat istiadat pengorbanan pada leluhur sebagaimana yang dilakukan oleh para kaisar. Li juga menjelaskan tentang aturan basa-basi dan panduan berperilaku bagi kaum bangsawan terhadap sesama mereka.


Menurut definisi yang diberikan oleh Konfusius, Li diartikan sebagai;


“...Sehubungan dengan masalah upacara, seandainya seorang dalam salah satu aspeknya terpaksa berbuat kesalahan, maka kesalahan itu lebih baik berupa sikap terlalu hemat daripada terlalu boros. Pada upacara pemakaman serta perkabungan, mereka yang berkabung lebih baik benar-benar merasa sedih, daripada terlampau mementingkan segala sesuatunya hingga ke hal-hal yang sekecil-kecilnya.”


Konfusius beranggapan bahwa li dan ren adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Konfusius menjelaskan;


“Menguasai diri serta mengikuti adat-istiadat artinya adalah berbuat baik. Jika tidak sesuai dengan adat-istiadat jangan didengarkan, jika tidak sesuai dengan adat-istiadat jangan diucapkan, jika tidak sesuai dengan adat-istiadat jangan dilakukan.”


2. Laozi (Lao Tzi/Lao Tzu)


Laozi adalah seorang ahli perpustakaan pada masa pemerintahan Dinasti Zhou, setelah usianya lanjut, ia mengundurkan diri. Ketika ingin meninggalkan ibukota, seorang penjaga gerbang bernama Lin Yixi memintanya untuk menuliskan sebuah kitab. Laozi pun menuruti permintaan itu dengan menuliskan sebuah kitab, setelah itu Laozi pun meninggalkan gerbang ibukota. Kitab yang ditulis oleh Laozi itu diberi nama Daodejing yang menjadi pegangan para penganut Taoisme/Daoisme.


Terdapat perbedaan antara para penganut Daoisme dengan Konfusianisme. Dao menurut Daodejing diartikan secara metafisik, yakni sebagai bahan dasar penyusun segala sesuatu. Dao bersifat sederhana dan tanpa bentuk, tanpa keinginan, tanpa nama, serta tanpa gerakan ataupun daya upaya.Dao ini telah ada sebelum adanya langit dan bumi. Seiring dengan perjalanan waktu, semakin jauh diri manusia dari Dao, semakin berkuranglah kebahagiannya.


Sehingga Dao merupakan sesuatu yang bersifat asali sebelum tercemari oleh pikiran-pikiran yang dibentuk oleh manusia. Karena bersifat asali itulah, Dao bersifat alami pula dan bukan merupakan sesuatu yang dibuat-buat. Dengan demikian, manusia yang menjalankan Dao akan menghindari banyak kepentingan duniawi dan mementingkan kesederhanaan dan kewajaran.


3. Legalisme atau Fajia


Aliran legalisme atau yang juga disebut dengan Fajia adalah aliran yang menitikberatkan pada sistem pemerintahan. Para penganut aliran Fajia banyak yang mengabdikan dirinya pada Kerajaan Qin, seperti Shang Yang, Han Fei Zi dan Li Si yang mengabdi kepada Kaisar Qin Shi Huangdi. Fajia dipopulerkan oleh Xunzi (Xun Qing) dan banyak pula para penganut ajaran Konfusianisme yang beralih menjadi penganut Fajia dikarenakan ajaran ini lebih dianggap cocok untuk mengatur negara. Zi Xia dan Wu Zi adalah beberapa penganut ajaran Konfusianisme yang beralih menjadi penganut ajaran Fajia.


Secara umum, ajaran legalisme atau Fajia membahas tiga faktor pokok dalam seni memerintah;


1. Fa atau hukum (pemberian penghargaan dan hukuman)

2. Shu atau seni/teknik mengawasi

3. Shi atau wewenang/kekuasaan


4. Mozi 


Filsafat yang diajarkan oleh Mozi adalah respon atas peperangan yang tanpa henti pada masa Dinasti Zhou berkuasa. Mozi mengatakan bahwa usaha untuk mencapai kemenangan di dalam perang, pengumpulan kekayaan, pengembangan kekuatan perang, serta peperangan itu sendiri, hanyalah bentuk lain dari perampokan. Untuk mengatasi keadaan yang kacau pada saat itu, Mozi memberikan beberapa cara seperti mengembangkan rasa cukup yang ideal, melaksanakan peraturan dengan disiplin, serta membangkitkan rasa takut atau segan terhadap para dewa. Sehingga Mozi dapat dikatakan adalah orang yang sangat menentang terjadinya peperangan dan menekankan adanya perdamaian.


Mozi menganggap bahwa penyebab terjadinya peperangan tanpa henti pada saat itu bersumber pada sikap mementingkan diri sendiri. Mozi menyarankan sikap alturistik yang terbebas dari pola pikir egoistik. Untuk menghindari perang para pengikut ajaran Mozi berikar untuk hidup dalam pengasingan serta kemiskinan. Peninggalan Mozi adalah sebuah kitab yang berjudulkan namanya sendiri “Mozi”. Di dalam Kitab Mozi berisikan tentang menentang agresi, kehendak Langit, keberadaan para dewa dan lain-lain.


Demikianlah beberapa aliran pemikiran filsafat yang berkembang pada masa Dinasti Zhou. Keempat aliran inilah yang memiliki banyak pengikut pada masanya. Sedangkan lebih daripada itu juga berkembang pelbagai aliran pemikiran filsafat yang sebenarnya lahir akibat daripada situasi peperangan tanpa henti pada masa Dinasti Zhou.