Aktivitas Pelayaran Dan Perdagangan Pada Masa Kerajaan Hindu-Buddha Di Indonesia - ABHISEVA.ID

Aktivitas Pelayaran Dan Perdagangan Pada Masa Kerajaan Hindu-Buddha Di Indonesia

Aktivitas Pelayaran Dan Perdagangan Pada Masa Kerajaan Hindu-Buddha Di Indonesia


Aktivitas Pelayaran Dan Perdagangan Pada Masa Kerajaan Hindu-Buddha Di Indonesia - Aktivitas pelayaran dan perdagangan pada masa Kerajaan Hindu-Buddha tidak memiliki pola yang teramat berbeda dengan aktivitas pelayaran dan perdagangan pada tahun-tahun pertama Masehi. Faktor dari ditaklukannya Kekaisaran Mesir oleh Kekaisaran Romawi pada tahun 30 SM telah mendorong lebih intensnya aktivitas dalam dunia kemaritiman. Terlebih lagi, hubungan perdagangan yang terjalin antara Kekaisaran Romawi dengan dataran Cina menambah intensitas perdagangan itu.


Seiring dengan meningkatnya ancaman yang ada dalam aktivitas perdagangan melalui Jalur Sutra, maka aktivitas perdagangan antara Kekaisaran Romawi dan Cina mulai beralih dengan mengandalkan jalur laut. Beralihnya aktivitas perdagangan Cina dan Romawi ini telah membuat semakin ramainya aktivitas perdagangan melalui jalur laut yang sebelum periode tarikh Masehi telah dipelopori oleh para pedagang dari Lautan Selatan, India dan juga Persia.



Indianisasi sendiri nampaknya menjadi suatu proses yang cukup penting bagi perubahan kehidupan masyarakat yang ada di Kepulauan Indonesia. Melalui proses Indianisasi itu, telah mendorong terbentuknya kekuatan-kekuatan politik baru dengan konsep Kerajaan yang lebih terorganisir dan secara struktur dan administratif dianggap lebih baik apabila dibandingkan dengan sistem kesukuan. Dengan terbentuknya kekuatan-kekuatan politik baru di Indonesia secara khususnya dan Asia Tenggara secara umumnya telah membuat aktivitas pelayaran dan perdagangan internasional semakin padat. Di bawah ini akan coba diuraikan mengenai aktivitas pelayaran dan perdagangan pada masa Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia.


Aktivitas pelayaran dan perdagangan pada masa Kerajaan Hindu-Buddha : Jaringan Perdagangan Laut


Sejak tahun 500 SM, jaringan perdagangan antara Asia dengan Laut Tengah dilakukan melalui jalur darat terutama sejak Jalur Sutra berhasil dibuka oleh Kekaisaran Dinasti Han dari Cina pada abad ke-2 SM. Rute perdagangan melalui Jalur Sutra ini dilakukan dari Cina melalui Asia Tengah dan Turkestan hingga ke Laut Tengah. Jalur Sutra ini juga dimanfaatkan oleh para pedagangan dari India, baik menuju Laut Tengah maupun ke Dataran Cina. Meskipun sebelumnya, telah ada pula aktivitas perdagangan melalui jalur laut yang dilakukan oleh orang-orang India dan Asia Tenggara.




Berkembanganya teknologi perkapalan dan sistem navigasi laut yang diperoleh oleh peradaban-peradaban besar dan meningkatnya ancaman di Jalur Sutra, aktivitas perdagangan pun mulai beralih ke jalur laut. Rute itu berawal dari kota-kota Pelabuhan di Cina seperti Kanton dan kota-kota pelabuhan yang terdapat di Asia Tenggara termasuk Kepulauan Indonesia melalui Selat Malaka menuju ke India hingga ke Laut Tengah dengan dua pilihan jalur; pertama melalui Teluk Persia ke Syria lalu ke Laut Tengah, kedua melalui Mesir lalu ke Laut Tengah.

Memasuki abad pertama Masehi, aktivitas perdagangan melalui jalur laut pun mulai mengalahkan popularitas Jalur Sutra. Barang-barang yang diperdagangkan melalui jalur ini menuju Laut Tengah antara lain bahan makanan (rempah-rempah), kain, perkakas rumah tangga, bahan-bahan mentah (kamper, kapur barus), pewarna, obat-obatan, budak, dan barang-barang mewah (emas, perak, cula badak, gading gajah, burung merak, dan lain-lain).

Terjadinya perubahan jalur dagang tersebut selain karena menghindari ancaman yang timbul dari Jalur Sutra juga telah menciptakan peluang-peluang baru dalam aktivitas kemaritiman juga dipengaruhi oleh faktor lain, diantaranya;

(1) Permintaan akan barang-barang mewah dari Timur oleh orang-orang kaya di Eropa, khususnya penduduk Romawi sangatlah besar.  Barang-barang mewah yang menjadi daya tarik antara lain pakaian dari India, parfum, mutiara, dan batu mulia. Sedangkan di sisi lain, komoditas seperti sutera, gorden dan kain katun juga dapat dijual dengan harga yang sangat mahal. Memasuki abad ke-3 M harga sutera dapat setara dengan harga emas. 

Selain itu juga diberitakan adanya pengiriman ke Alexandria dari Muchiris (Cochin/Kamboja) kepada seorang pedagang kaya Romawi yang terdiri dari ribuan pon rempah, lebih dari 4.700 pon gading gajah dan hampir 800 pon kain dengan nilai total sekitar 131 talen, yang diperkirakan pada saat itu mampu membeli 2.400 hektare lahan pertanian terbaik yang ada di Mesir.  Apabila barang-barang itu dikirimkan dengan menggunakan kapal bermuatan 500 ton, maka diperlukan sekitar 150 kapal dalam satu kali perjalanan.

Aktivitas perdagangan melalui jalur laut antara India dengan Kekaisaran Romawi mencapai puncaknya ketika Kekaisaran Romawi di bawah kekuasaan kaisar Augustus (27 SM - 14 M). Kekaisaran Romawi mengeluarkan uang dalam jumlah yang sangat banyak hanya untuk mendapatkan barang-barang mewah yang berasal dari timur untuk keinginan perempuan-perempuan mereka. Pola hidup ini, terutama pemakaian kain sutera di kalangan perempuan istana Romawi, membuat Kaisar Augustus mengeluarkan peraturan pelarangan penggunaan sutera dengan alasan moral. Sebab Sutera yang berasal dari India dinilai sangat transparan. Meskipun terdapat pelarangan ini, hubungan maritim antara Romawi dengan dunia Timur tetap berlangsung, terutama impor rempah-rempah.

(2) Permintaan emas oleh bangsa India mulai berpindah ke daerah timur. Siberia yang awalnya merupakan sumber penghasil emas tidak lagi mengirimkan emasnya kepada India, karena jalan-jalan perdagangan harus menghadapi arus migrasi bangsa-bangsa secara besar-besaran yang menyebabkan berkurangnya keamanan di sepanjang jalur ini.

(3) Pelayaran India dan Cina telah berkembang lebih baik, setelah berhasil dioperasikannya angkutan laut berukuran besar yang bernama jung. Kapal ini mampu mengangkut orang sebanyak 600-700 penumpang. Dengan didukung angin muson yang bertiup secara teratur menjadi faktor utama pelayaran yang dilakukan dengan menggunakan Jung

Perkembangan perdagangan laut tidak dapat dipisahkan dari kondisi keamanan yang sudah tidak mendukung kelangsungan perdagangan melalui jalur darat via Jalur Sutera yang seringkali mendapatkan gangguan dari suku-suku nomaden. Selain itu, juga didukung oleh perpindahan orang-orang kaya dan terhormat di Cina dari utara ke selatan Sungai Yangtse juga semakin mendukung ramainya perdagangan melalui jalur laut. Sementara itu, memasuki abad ke-3 M jalur Turkestan tertutup sehingga membuka kesempatan bagi para pedagang untuk menggunakan jalur laut sebagai jalur utama untuk melaksanakan kegiatan perdagangan.

(4) Tersebarnya agama Buddha juga dianggap sebagai salah satu faktor utama melejitnya perdagangan via laut. Sifat egaliter dengan menghilangkan sistem kasta yang terdapat dalam agama Hindu dan prasangka-prasangka yang muncul sebelumnya telah menghalangi pelayaran dengan bangsa asing. Agama Buddha melalui bikkhu selain melakukan perdagangan untuk mendapatkan nilai surplus juga melakukan misi penyebaran ajaran agama.

Jadi kiranya itulah jaringan perdagangan laut yang muncul pada masa awal abad pertama Masehi dan tetap bertahan hingga abad ke-13.

Aktivitas pelayaran dan perdagangan pada masa Kerajaan Hindu-Buddha : Ciri Perdagangan Laut 

Perlu dipahami bahwa pelaku utama dari perdagangan pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia adalah para pemilik modal dan pedagang keliling. Para pemilik modal di sini adalah orang kaya yang umumnya berasal dari kalangan aristokrasi yang memasukan modalnya ke dalam suatu bidang usaha. Mereka acap kali menggunakan kekuasaannya untuk meraup keuntungan, sedangkan para pedagang keliling berada dalam kendalinya. Sehingga para pemilik modal ini dapat memaksakan monopolinya dalam dunia perdagangan. 

Berdasarkan pada monopoli pemilik modal dalam perdagangan, maka tidak ada perdagangan bebas. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa orientasi perdagangan bersifat kapitalisme politik.

Secara kuantitatif jumlah pemilik modal sangatlah sedikit, sedangkan kelompok pedagang keliling sangat banyak, bahkan dapat melebihi jumlah komoditas yang diperdagangkan. Para pedagang keliling berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan komoditas yang diperdagangkan tetaplah sama. Nilai jual komoditas yang diperdagangkan sangat mahal. Selain karena terdiri dari barang-barang mewah seperti logam mulia, emas, perhiasan, senjata dan sutera, juga ditambah dengan metode berdagang yang berpindah-pindah tempat dan pelaku yang berbeda sehingga membuat harga barang melonjak dengan sangat mahal. Jumlah komoditas yang diperdagangkan sedikit. Oleh karena itu, tidak memerlukan tempat yang luas di atas perahu sehingga mudah dikontrol oleh para pedagang.

Salah satu jenis komoditas dari Cina dan India adalah kayu manis. tiga jenis yang diperdagangkan pada saat itu adalah daun kayu manis, kulit kayu manis, dan kuncup bunga kayu manis. Kayu manis ini berfungsi sebagai bumbu, pengharum obat luar dan minuman anggur. Komoditas ini diekspor ke Laut Tengah melalui jalur laut menggunakan kapal-kapal yang berasal dari Romawi. Dari Kepulauan Nusantara sendiri, komoditas perdagangan yang terkenal antara lain adalah remaph-rempah, kayu wangi, kapur barus dan kemenyan yang diekspor ke India dan Kekaisaran Romawi.