Kapal Jong Dan Jung: Transportasi Penting Di Dalam Dunia Kemaritiman - ABHISEVA.ID

Kapal Jong Dan Jung: Transportasi Penting Di Dalam Dunia Kemaritiman

Kapal Jong Dan Jung: Transportasi Penting Di Dalam Dunia Kemaritiman


Kapal Jong dan Jung - Kapal adalah moda transportasi terpenting dalam dunia kemaritiman, tanpa kapal tidaklah mungkin aktivitas kemaritiman dapat terjadi dan terlebih lagi peranan kapal sangat penting dalam aktivitas perdagangan internasional.  Di bawah ini akan dijelaskan tentang kapal Jong dan Jung sebagai transportasi penting di dalam dunia kemaritiman.


Memasuki pertengahan abad pertama Masehi, sebuah buku dari Yunani yang berjudul Periplus of the Erythranean Sea telah menyebutkan terdapat empat jenis kapal yang diganakan dalam aktivitas kemaritiman yang disebut dengan "Kapal India". Keempat jenis kapal itu antara lain trappaga dan kotymba yang berfungsi sebagai kapal pemandu, sedangkan sangara dan kolondiophanta adalah kapal yang berukuran lebih besar.


Kapal jenis kolondiophanta sebenarnya bukanlah kapal milik bangsa India yang dimaksud dalam buku Periplus of the Erythranean Sea. Kata kolondiophanta merupakan transkripsi dari terminologi Cina yakni kun-lun-po a sebuah sebutan yang diberikan oleh orang-orang Cina untuk menyebut Pulau Sumatra dan Pulau Jawa. Jadi, kolondiophanta sebenarnya adalah kapal milik bangsa Indonesia yang melakukan pelayaran dengan menyebrangi Teluk Bengal menuju pantai timur dan pantai barat daya India Selatan.


Kapal jenis sangara pun sebenarnya berasal dari bahasa Portugis yang disebut jangar atau jangada yang artinya rakit. Jadi sangara ini adalah kano dengan konstruksi ganda yang dibuat dengan cara menempatkan papan melintang di bawah kedua kapal tersebut. Sangara dibuat berdasarkan rancangan perahu kembar dari Indonesia, kapal ini adalah jenis yang pernah digunakan untuk mengangkut kayu manis (kassia) ke Laut Tengah.


Memasuki akhir abad ke-6, teknologi perkapalan Cina mulai mengalami perkembangan yang pesat saat berada di bawah pengaruh dari Dinasti Sui (581-617) di mana Dinasti Sui memang menaruh minat dalam perkembangan teknologi perairan. Teknologi perkapalan Cina dapa dikatakan telah mencapai tingkatan yang sangat tinggi. Di mana hal ini ditunjukkan dengan pembuatan kapal perang sebanyak 5 tingkat dengan tinggi lebih dari 100 kaki dan mampu mengangkut hingga 800 orang di dalamnya. Meskipun, demikian, pada abad ke-5 hingga ke-7, sebagian orang-orang Cina berlayar ke Samudera Hindia menggunakan kapal-kapal Kun-lun, daripada menggunakan kapal-kapal mereka sendiri.


Jenis kapal-kapal Kun-lun yang berasal dari Indonesia ini juga digunakan dalam aktivitas perdagangan antara wilayah Persia dan juga Cina. Pada abad ke-7 seorang pengelana Cina, I Ching (I-Tsing) yang pergi ke India juga menggunakan kapal Kun-lun yang disediakan oleh penguasa Indonesia pada saat itu (Kerajaan Sriwijaya, sebab I-Ching sempat tinggal lama di Sriwijaya). Pada abad ke-7 ini para pedagang yang berlayar menuju Pelabuhan Kanton, Cina menggunakan kapal-kapal Kun-lun.


Pada abad ke-8 bangsa Cina telah membangun kapal-kapal dagang dengan tonase yang mencapai 600 ton, di mana ukuran ini lebih besar jika dibandingkan dengan rata-rata kapal Spanyol yang dibuat setelah bergaungnya Renaissans di Eropa kira-kira 800 tahun kemudian. Para pelaut dapat tinggal bersama istri dan anak-anak mereka di atas kapal. Terdapat pula kebun, budak-budak perempuan dan juga pemusik. Kapal-kapal itu umumnya digunakan di sekitar tepian pantai Cina dan India dan tidak digunakan untuk pelayaran jarak jauh.


Pelayaran jarak jauh yang dilakukan oleh bangsa Cina menggunakan kapal-kapal Kun-lun yang mereka sewa. Selain oleh bangsa Cina, kapal Kun-lun juga disewa oleh orang Persia dan juga India. Orang-orang Kun-lun adalah para pelaut yang sangat menguasai jalur laut dari Cina menuju Sumatra, dan dari Sumatra menuju India bagian selatan hingga ke Afrika.


Selain keempat jenis kapal yang telah disebutkan di atas, juga terdapat kapal jong dan jung. Perlu dipahami bahwa kapal jong adalah jenis perahu tertua yang pernah digunakan oleh para pelaut Indonesia sejak awal tarikh Masehi untuk pelayaran dan pengangkutan barang antar-pulau. Bukan hanya itu, kapal jong juga melakukan pelayaran hingga ke Laut Tengah. Sedangkan kapal jung adalah kapal Cina yang juga digunakan dalam aktivitas pelayaran dan perdagangan. Berikut ini adalah perbedaan antara kapal jong dan jung;


Dalam teknik pembuatannya, kapal jong menggunakan papan-papan dengan pasak dari kayu sedangkan jung menggunakan paku-paku besi dan pengapit. Kapal jong memiliki empat kemudi, sedangkan jung dikendalikan dengan kemudi berporos yang ditempatkan di buritan kapal. Selain perbedaan, kedua kapal tersebut memiliki persamaan yakni ketebalan badan kapal yang berkisar antara 4-6 lapis kayu dengan ketebalan 6-8 inci, sehingga lebih berat dan tebal. Konstruksi ini sangat efektif untuk mengarungi luasnya samudra dan ancaman dari kekuatan lain di laut.


Keterangan mengenai kapal jong yang diberikan oleh Portugis menyatakan ketika Gubernur Alfonso d'Albuquerque melakukan kunjungan pertamanya ke Selat Malaka pada awal abad ke-16. Pada saat itu kapal junco mengawali penyerangan terhadap kapal Portugis yang bernama Flor de la Mar. Kapal Portugis kemudian mendekati junco dan menembaki tiang-tiang dan layar kapal sampai rusak berjatuhan. Tembakan ke badan junco tidak mampu menghancurkannya, karena memiliki empat lapis papan yang tebal. 


Meriam Portugis hanya mampu menempus tidak lebih dari dua lapis saja. Setelah dua hari menghadapi pertempuran, Alfonso d'Albuquerque memutuskan untuk mematahkan dua buah dayung yang berada di luar kapal junco, sehingga mempengarhui pergerakannya, hal ini berhasil membuat pasukan yang terdapat dalam kapal junco menyerah.

Kapal jong, perahu jong, perahu asli indonesia

Pada abad ke-13, Jung telah dioperasikan untuk pelayaran jarak jauh dengan empat tiang, mempunyai geladak, dan ruangan kapal yang disekat menjadi ruangan kedap air, memiliki 50-60 buah kabin, dan tempat untuk 200-300 penumpang. Satu jung dapat ditumpangi puluhan dan bahkan ratusan pedagang keliling termasuk-barang-barang dagangannya.

kapal jung, perahu jung, perahu cina

Keterangan yang diberikan oleh Ibnu Battuta dalam catatan perjalanannya dari India ke Cina pada pertengahan abad ke-14 mengatakan bahwa terdapat tiga jenis kapal Cina, yang berukuran paling besar dinamakan junk, yang berukuran sedang bernama zawa dan berukuran kecil bernama kakam. Pada Kapal junk terdapat dua belas layar, sedangkan kakam terdapat tiga layar saja. 


Layar junk terbuat dari potongan dahan kayu khaizaran yang dipasang secara berdempet. Layar tersebut diputar sesuai dengan arah angin yang berhembus. Jika sedang berlabuh, layar tersebut dibiarkan tertiup oleh hembusan angin. Jumlah orang yang berada di atas junk sebanyak 1000 orang; 600 diantaranya bertugas di bagian pelayaran, sedangkan 400 orang sisanya sebagai pasukan pemanah dan perisai.


Cara pembuatan kapal junk adalah dari kayu besar yang dibuat seperti pagar. Kemudian antara keduanya disambung dengan kayu berukuran tebal. Untuk menguatkan sambungannya, digunakan paku besar yang ditancapkan pada sambungan. Ukuran sebuah paku itu sekitar tiga hasta (1 hasta sekitar 44,5 - 52 cm). Setelah itu bagian atasnya dibuat penutup yang menyerupai tenda, sehingga jadilah kapal yang siap digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan pelayaran bagi orang-orang Cina. Pada bagian pinggir kapal terdapat pendayung yang berjumlah 10-15 orang pada setiap sisinya. Mereka mendayung sambil berdiri dengan bertumpu pada kedua kaki mereka.



Di dalam kapal tersebut, sudah tersedia ruangan dan kamar khusus bagi para pedagang yang membawa pelayan atau istri-istrinya. Itulah sebabnya, meskipun mereka berada dalam satu kapal, mereka tidak saling mengetahui antara satu dengan yang lain, kecuali setelah sampai di sebuah pelabuhan. Berdasarkan keterangan Ibnu Battuta; 


"...orang-orang Cina sangatlah kaya, bahkan satu orang Cina dapat memiliki banyak kapal. Sungguh pun di dunia ini tidak ada orang yang lebih kaya daripada penduduk Cina."

 

Baik kapal jong maupun jung memiliki peran yang sangat penting dalam pelayaran dan perdagangan maritim. Selama periode abad ke-1 hingga ke-13, pelayaran antar-pulau dan samudra dilakukan secara musiman yang mengikuti pergantian arah angin yang berhembus teratur sepanjang tahun (angin muson). Pelayaran ke arah timur menggunakan angin muson barat, dan sebaliknya menggunakan angin muson timur. Begitulah deskripsi tentang kapal jong dan jung yang memiliki peran penting dalam aktivitas kemaritiman sejak abad ke-1 hingga abad ke-13.