Pengertian Kausalitas Dalam Eksplanasi Sejarah - ABHISEVA.ID

Pengertian Kausalitas Dalam Eksplanasi Sejarah

Pengertian Kausalitas Dalam Eksplanasi Sejarah

Pengertian Kausalitas Dalam Eksplanasi Sejarah - Kausalitas adalah salah satu model eksplanasi sejarah yang menjelaskan peristiwa sejarah berdasarkan pada prinsip sebab-akibat (cause-effect). Di bawah ini akan dijelaskan tentang pengertian kausalitas dalam eksplanasi sejarah.


1) Sebab-sebab dan keterangan-keterangan


Para peneliti sejarah bertanya mengenai sebab-sebab dan keterangan-keterangan, bila berhadapan dengan proses-proses perubahan. Bahkan juga mereka bertanya, mengaa sebuah proses perubahan bertentangan dengan dugaan umum, maka yang menjadi pokok permasalahan ialah perubahan-perubahan. Maka dari itu, dalam pengkajian sejarah pengertian- pengertian seperti perubahan, sebab, dan keterangan berkaitan erat dengan yang lain. 


Maka dari itu, dapat diduga juga, bahwa pengertian sebab dapat dipahami menurut dua macam arti. Pertama, sebab sebuah peristiwa P ialah sebuah peristiwa lain, O, dan ini demikian rupa, sehingga deskripsi mengenai kedua peristiwa itu dapat dikaitkan pada pola hukum umum pila. Kedua yang menyebabkan suatu peristiwa yaitu intensi atau motif seorang pelaku historis untuk mengakibatkan peristiwa itu.


2) Berbagai Jenis Sebab




Pendirian John Stuart Mill (1806-1873), mengenai kausalitas. Bagi dia, penyebab P ialah keseluruhan peristiwa, keadaan, dan perkembangan dan sebagainya yang mendahului P. ini dapat disebut sebab total bagi P. konsep sebab total ini dari sudut filsafat, mungkin memuaskan, akan tetapi dalam praktek, kita harus melacak sebab-sebab sebuah peristiwa, kita akan dihadapkan pada kesukaran-kesukaran yang tak teratasi. Perbedaan antara syarat yang cukup dan syarat yang mutlak perlu (istilah syarat, kondisi, atau kondisi awal selalu sinonim dengan sebab).

A merupakan syarat yang cukup bagi B bila:

a) B selalu muncul setelah A terjadi.

b) Terdapat syarat-syarat lain pula selain A untuk mengakibatkan B. A merupakan syarat mutlak bagi B bila:

a) A selalu mendahului B.

b) A sendiri saja tidak cukup untuk mengakibatkan B.

 

Berdasarkan simetri antara syarat cukup dan syarat mutlak, kita dapat menyimpulkan, bahwa A merupakan syarat cukup bagi B, maka B merupakan syarat mutlak bagi A, dan sebaliknya. Kedua, kita mencatat bahwa menyebut syarat cukup lebih sukar bagi seorang peneliti sejarah daripada syarat mutlak hanya merupakan satu diantara syarat-syarat yang diperlukan untuk untuk mengakibatkan sesuatu. Syarat cukup sebaliknya meliputi sejumlah besar sebab, sehingga akibatnya pasti terjadi. Akan tetapi, seorang peneliti sejarah hampir tidak pernah menerangkan suatu peristiwa atau perkembangan dari masa silam menurut syarat-syarat yang cukup. Agar peristiwa itu sungguh terjadi, harus dipenuhi juga sejumlah syarat lain yang tidak terinci. Mau tidak mau, seorang sejarawan tidak ada pilihan lain, ia hanya dapat meneruskan pelacakannya, mencari syarat mutlak itu dengan seobjektif dan seteliti mungkin.


3) Abnormalisme


Teori abnormalisme didukung oleh pengalaman kita bersama. Kita baru menanyakan mengenai sebab sesuatu, bila bila terjadi sesuatu yang mencolok, yang mengherankan, yang “”tidak normal”. Demikian juga yang terjadi dalam pengkajian sejarah. Para sejarawan tidak menanyakan mengenai sebab-sebab, selama hegenmoni Eropa tidak diganggu gugat. Baru bila Eropa kehilangan hegemoninya mereka baru bertanya apa sebabnya.


Tidak perlu diterangkan bahwa keterangan-keterangan abnormalis selalu bersifat nisbi. Peristiwa-peristiwa yang ditunjuk sebagai syarat mutlak bagi suatu peristiwa yang harus dijelaskan, selalu dapat dikaitkan dengan pendirian seseorang yang ingin menerangkan peristiwa itu. Dan pendirian-pendirian itu dapat berbeda-beda. Seorang sejarawan terikat akan nilai-nilai yang dianutnya dan menyeleksi syarat-syarat mutlak, hendaknya jangan ditafsirkan, bahwa dengan demikian pernyataan-pernyataan kausal lalu juga digoncangkan dalam objektivitasnya.


4) Keberatan - Keberatan Terhadap Prinsip Kausalitas


a) Jangkauannya


Jangkauan keterangan kausal terbatas. Sebetulnya ini tidak langsung menyerang prinsip kausalitas, hanya menisibkan nilai keterangn kausal bagi pengkajian sejarah.


Dray mengatakan bahwa keterangn-keerangn historis tidak selalu menjawab pertanyaan “mengapa” (apa sebabnya), tetapi sering juga pertanyaan “bagaimana”. Lebih radikal dari pada Dray adalah Oakeshott. Bagi Oakeshott, semua pertanyaan mengenai sebab sebetulnya mengenai pertanyaan “bagaimana”. Pertanyaan itu harus dijawab dengan menyebut beberapa fakta yang melenyapkan rasa heran kita, jadi tidak dengan menyebut bebrapa pola dan sebab

 

hukum umum. Menurut Porter, proses-proses perubahan yang dipelajari seorang sejarawan dan yang ingin diterangkannya, hendaknya kita lihat sebagai perubahan-perubahan dalam bentuk. Masa silam terus menerus mengalami metamorfosa, sama seperti dalam proses evolusi tumbuhan dan hewan yang menapilkan bentuk-bentuk baru.


b) Memisahkan sebab dan akibat

Sebab dan akibat merupakan peristiwa-peristiwa, perkembangan-perkembangan dan sebagainya, di dalam kenyataan jistoris sendiri dengan mempergunakan logat kausal, seolah- olah masa silam tersusun dari sejumlah atom peristiwa. Atom-atom peristiwa itu dipelajari dan diidentifikasikan oleh seorang peneliti sejarah dan akhirnya dia dapat menunjukan suatu hubungan antar atom-atom tersebut. Akan tetapi demikian Mandelbaum, kia membeda- bedakan dalam dan dengan bantuan bahasa. 


Baru setelah kita memahirkan bahasa (sebab akibat), kita membedakan antara sebab dan akibat. Tetapi bahasa dan kenyataan historis merupakan dua hal yang berlainan, oleh sebab itu, pengalihan itu tidak dihalalkan. Oleh karana itu tidak ada sebab untuk mengandaikan, bahwa peristiwa masa silam dapat dipisahkan seperti konsep sebab akibat di dalam bahasa.


c) Sebab dan CLM


Kita telah lihat bahwa dipergunakannya logat kausalitas mengandaikan penerimaan CLM. Keeratan-keberatan yang diajukan terhadap CLM sekaligus dapat dipandang juga sebagai keberatan terhadap keterangan kausal.